Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN

MIkrobiologi Tanah dan Siklus


Sulfur
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Mikrobiologi Lingkungan

Oleh:
Kelompok 1
Anis Susilawati

140410130021

Seta Situ Ringgit

140410130045

Rhena Ridhanty L.

140410130053

Marsya Diah I.

140410130089

Muhammad Taufik

140410110000

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN

2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah
SWT,

karena

atas

petunjuk

dan

rahmat-Nya

penulis

dapat

menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Makalah dengan judul


Bakteri Sulfur ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
penilaian pada mata kuliah Mikrobiologi Lingkungan semester 4.
Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen Mata
Kuliah Mikrobiologi Lingkungan, yang telah membimbing penulis
dalam penyusunan makalah ini, sehingga hal tersebut dapat
menjadikan sebuah wawasan baru bagi penulis. Teman-temanku
seperjuangan dan sepenanggungan serta pihak-pihak lainnya yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini, baik dengan
materil

maupun

non

materil.

Penulis

sadar

bahwa

dalam

penyusunan makalah ini, masih terdapat kekurangan dan mungkin


jauh dari kesempunaan, penulis pun sadar bahwa kesempurnaan
hanyalah milik Allah SWT. Namun sebagai manusia, kita pun harus
berusaha mempersembahkan yang terbaik dalam hal apapun.
Untuk itu, penulis sangat terbuka dalam menerima segala kritik
maupun saran sebagai pembangun agar penulis dapat menyusun
makalah dengan lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap
makalah ini agar dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan
juga bermanfaat bagi para pembacanya. Semoga Allah mencatat
amal kita untuk memperoleh ilmu pengetahuan sebagai amal
shaleh.
Jatinangor, 4 Mei 2015
Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Belerang merupakan elemen penting bagi semua kehidupan,
dan secara luas digunakan dalam proses biokimia. Dalam reaksi
6ronchiol, senyawa sulfur berfungsi sebagai bahan bakar baik dan
pernafasan

(oksigen-menggantikan)

bahan

untuk

organisme

sederhana. Sulfur dalam bentuk 6ronchi hadir di biotin vitamin dan


tiamin, yang terakhir yang bernama untuk kata Yunani untuk
belerang. Belerang merupakan bagian penting dari banyak enzim
dan juga dalam molekul antioksidan seperti glutathione dan
thioredoxin. Belerang 6ronchi terikat adalah komponen dari semua
protein, sebagai asam amino sistein dan metionin. Ikatan 6ronchiol
sebagian besar bertanggung jawab untuk kekuatan mekanik dan
terpecahkannya keratin protein, yang ditemukan di kulit terluarnya,
rambut, dan bulu,
Di alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni dan
6ronchi dan mineral sulfat. Kristal elemen sulfur biasanya dicari oleh
kolektor mineral untuk bentuk cerah mereka polyhedron berwarna.
Menjadi berlimpah dalam bentuk asli, belerang dikenal di zaman
dahulu, disebutkan untuk penggunaan di Yunani kuno, Cina dan
Mesir. Asap belerang digunakan sebagai fumigants, dan belerang
yang mengandung campuran obat yang digunakan sebagai 6ronch

dan antiparasitics. Sulfur dirujuk dalam Alkitab sebagai belerang


dalam bahasa Inggris, dengan nama ini masih digunakan dalam
istilah non-ilmiah beberapa. Belerang dianggap cukup penting
untuk menerima 6ronch sendiri alkemis nya.. Hal itu diperlukan
untuk membuat kualitas terbaik dari mesiu hitam, dan bubuk
kuning

cerah

itu

dihipotesiskan

oleh

para

alkimiawan

yang

mengandung beberapa sifat emas, yang mereka berusaha untuk


mensintesis dari itu. Pada 1777, Antoine Lavoisier membantu
meyakinkan masyarakat ilmiah bahwa belerang unsur dasar, bukan
senyawa.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu bakteri sulfur?
2. Apa saja jenis-jenis bakteri sulfur yang ada di tanah?
3. Apa itu siklus sulfur dan bagaimana mekanisme terjadinya?
4. Apa manfaat dan kerugian adanya bakteri sulfur di tanah?
1.3 Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh, manfaat, defisiensi serta sifat
Sulfur terhadap tanaman. Agar bisa memahami bagaimana cara
mengatasi tanaman yang mengalami gangguan fisiologis karena
defisiensi maupun kelebihan unsur sulfur ini.

BAB II
ISI
1. Definisi Sulfur
Belerang atau sulfur adalah unsur kimia dalam 6ronc 6ronchio
yang memiliki 6ronchi S dan nomor atom 16. Bentuknya adalah
non-metal yang tak berasa, tak berbau dan multivalent. Belerang,
dalam bentuk aslinya, adalah sebuah zat padat kristalin kuning. Di
alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai
mineral- mineral sulfide dan sulfate. Ia adalah unsur penting untuk
kehidupan dan ditemukan dalam bentuk senyawa asam amino unit
kecil dari protein. Protein ini penting pertumbuhan .
Sulfur

terdapat

dalam

bentuk

sulfur

anorganik,

sulfur

direduksi oleh bakteri menjadi 6ronchi dan kadang-kadang terdapat


dalam bentuk sulfur dioksida atau 6ronchio 6ronchi. Hidrogen
6ronchi ini seringkali mematikan mahluk diperairan dan pada
umumnya dihasilkan dari penguraian bahan 6ronchi yang mati.
Tumbuhan menyerap sulfur dalam bentuk sulfat (SO 4). Perpindahan
sulfat terjadi melalui proses rantai makanan, lalu semua mahluk
hidup mati dan akan diuraikan komponen organiknya oleh bakteri.
Beberapa jenis bakteri terlibat dalam daur sulfur, antara lain
Desulfomaculum dan Desulfibrio yang akan mereduksi sulfat
menjadi sulfide dalam bentuk hydrogen sulfide (H2S) kemudian H2S
digunakan bakteri fotoautotrof anaerob seperti Chromatium dan
melepaskan sulfur dan oksigen. Sulfur dioksida menjadi sulfat oleh
bakteri kemolitotrop seperti Thiobacillus.

Belerang atau sulfur merupakan unsur penyusun protein.


Tumbuhan mendapat sulfur dari dalam tanah dalam bentuk sulfat
(SO4 ). Kemudian tumbuhan tersebut dimakan hewan sehingga
sulfur berpindah ke hewan. Lalu hewan dan tumbuhan mati
diuraikan menjadi gas H2S atau menjadi sulfat lagi. Secara alami,
belerang terkandung dalam tanah dalam bentuk mineral tanah. Ada
juga yang gunung berapi dan sisa pembakaran minyak bumi dan
batubara.
Daur tipe sedimen cenderung untuk lebih kurang sempurna
dan lebih

mudah diganggu

oleh

gangguan

setempat

sebab

sebagian besar bahan terdapat dalam tempat dan 6ronchio tidak


aktif dan tidak bergerak di dalam kulit bumi. Akibatnya, beberapa
bagian dari bahan yang dapat dipertukarkan cenderung hilang
untuk waktu yang lama apabila gerakan menurunnya jauh lebih
cepat dari pada gerakan naik kembali. Setiap daur melibatkan
unsur organisme untuk membantu menguraikan senyawa-senyawa
menjadi unsur-unsur.
2. Pengertian Bakteri Sulfur
Bakteri sulfur adalah bakteri yang menggunakan sulfur
sebagai bahan utama metabolismenya atau ikut mengubah sulfur
dalam metabolismenya. Bakteri sufur menggunakan 6ronch yang
diperolehnya dari senyawa kimia seperti 6ronchio 6ronchi (H2S) dan
juga CO2 untuk dapat membentuk karbohidrat. Bakteri tersebut
menguraikan (memecah) senyawa H2S menjadi atom 6ronchio dan
sulfur. Selanjutnya, pada reaksi gelap, atom-atom 6ronchio tersebut
digunakan untuk mereduksi CO2 dan pada akhirnya CO2 ini

digunakan untuk membentuk gula atau karbohidrat. Proses ini tidak


melepaskan (menghasilkan) oksigen, namun menghasilkan sulfur.
Persamaan reaksinya sebagai berikut :
CO2 + 2H2S (CH2O) + H2O + 2S
Bakteri sulfur ditemukan di kedalaman laut. Koloni bakteri ini
pertama kali ditemukan di sekitar Kepulauan Galapgos di sepanjang
ventilasi hidrotermal laut dalam. Pada area ini, banyak terdapat
senyawa 6ronchio 6ronchi yang berasal dari ventilasi vulkanik,
sehingga para ilmuwan berhipotesis bahwa area ini merupakan
suatu lingkungan yang nyaris mustahil untuk berlangsungnya
kehidupan (tidak layak huni). Namun, di luar perkiraan, ada salah
satu bakteri yang sanggup hidup di dalam area tersebut yaitu
bakteri sulfur. Bakteri ini mampu mengubah 6ronchio 6ronchi
menjadi elemen sulfur, bahkan pada saat yang bersamaan ia juga
mampu memproduksi molekul 6ronchi yang selanjutnya digunakan
sebagai nutrisi.
Bakteri sulfur ungu adalah kelompok Proteobaktri yang
mampu berfotosintesis , secara kolektif disebut sebagai bakteri
ungu . Mereka bersifat anaerob atau mikroaerofilik, dan sering
ditemukan di air panas atau air yang tergenang . Tidak seperti
tumbuhan, alga, dan cyanobakteri, mereka tidak menggunakan air
sebagai reduktor mereka dan tidak

menghasilkan

oksigen .

Sebaliknya mereka menggunakan hirdogen sulfide, yang teroksidasi


untuk menghasilkan butiran dari unsur

sulfur. Hal ini pada

gilirannya dapat teroksidasi untuk membentuk asam sulfat.


Bakteri sulfur ungu dibagi menjadi dua keluarga, yang
Chromatiaceae dan Ectothiorhodospiraceae, yang masing-masing
menghasilkan

butiran

sulfur

internal

dan

eksternal,

dan

menunjukkan perbedaan dalam struktur 6ronchio internal mereka.

Mereka membuat urutan Chromatiales, termasuk dalam pembagian


gamma dari Proteobacteria. Genus Halothiobacillus juga termasuk
dalam

Chromatiales,

dalam

keluarga

sendiri,

tetapi

tidak

berfotosintesis.
Bakteri sulfur ungu umumnya ditemukan di zona terang
anoxic dari danau dan habitat perairan lain di mana 6ronchio
6ronchi terakumulasi dan juga di mata air belerang di mana
geokimia atau biologis yang dihasilkan 6ronchio 6ronchi dapat
memicu pembentukan mekar bakteri sulfur ungu. Kondisi anoxic
yang

diperlukan

untuk

fotosintesis;

bakteri

ini

tidak

dapat

berkembang dalam lingkungan beroksigen.


Bakteri sulfur hijau adalah kelompok bakteri anaerob obligat
fotoautotropik. Bakteri ini nonmotil, berbentuk batang atau spiral.
Fotosintesis dicapai dengan menggunakan tipe 2 Reaksi Centre
menggunakan bacteriochlorophyll (BChl) dan di klorosom yang
mempekerjakan c BChl, d, atau e; selain klorofil a juga hadir. Mereka
menggunakan ion sulfide, hydrogen, atau besi sebagai donor
elektron dan proses dimediasi oleh tipe I pusat reaksi dan kompleks
Fenna-Matthew-Olson. Elemental sulfur disimpan di luar sel dapat
lebih mudah teroksidasi. Sebaliknya, fotosintesis pada tumbuhan
menggunakan air sebagai donor 6ronchio dan menghasilkan
oksigen.
Bakteri pereduksi sulfat atau Sulfate reduction bacteria (SRB)
adalah

sekelompok

bakteri

sejati

(eubacteria)

yang

secara

morfologi berbeda-beda, anaerob obligat, dan berdifat Gram


Negatif, yang menggunakan sulfat atau senyawa sulfur-teroksidasi
yang

lain

sebgaai

penerima

electron

terakhir

dalam

proses

metabolismenya. Bakteri ini mendapatkan 6ronch mereka dengan


mengurangi unsur sulfur untuk hidrogen sulfida . Mereka beberapa

reaksi ini dengan oksidasi asetat , suksinat atau lainnya senyawa


organik . Beberapa jenis bakteri dan banyak non metanogen
archaea dapat mengurangi belerang.
Beberapa bakteri seperti Proteus

Pseudomonas

kemampuan

dan

Salmonella

memiliki

Campylobacter

untuk

mengurangi belerang, tetapi juga dapat menggunakan oksigen dan


akseptor

6ronchio

terminal

lainnya.

Lainnya,

seperti

Desulfuromonas, hanya menggunakan belerang. Bakteri ini dapat


digunakan dalam proses 6ronchio untuk menghasilkan hidrogen
sulfida

untuk

pengendapan

logam.

Beberapa

bakteri

dapat

menggunakan kedua unsur sulfur dan sulfat sebagai akseptor .

3. Pengertian dan Proses Siklus Sulfur


Siklus sulfur atau daur belerang adalah perubahan sulfur dari
6sulfur elemental menjadi sulfur dioksida lalu menjadi sulfat dan
kembali menjadi 6sulfur elemental lagi. Sulfur di alam ditemukan
dalam berbagai bentuk. Dalam tanah ditemukan dalam bentuk
mineral, diudara dalam bentuk gas sulfur dioksida, dan dalam tubuh
organisme sebagai penyusun protein.
Siklus sulfur didahului oleh pembentukan sulfur dari kerak
bumi dan atmosfer. Secara alami, sulfur terkandung di dalam tanah
dalam bentuk mineral tanah. Dimana kerak bumi umumnya
mengandung sekitar 0,06% belerang. Sulfida-sulfida logam terdapat
dalam bebatuan plutonik, yaitu batuan yang membeku di dalam
kerak bumi dan tidak mencapai ke permukaan bumi. Bebatuan

plutonik ini apabila hancur dan mengalami pelapukan akan


membebaskan 6ronchi ini melalui reaksi oksidasi dan menghasilkan
sulfat (SO4-2) yang kemudian mengalami presipitasi (pengendapan)
dalam bentuk garam-garam sulfat yang larut atau tidak
Di atmosfer, terdapat hampir 0,05 ppm belerang dalam
bentuk gas belerang dioksida (SO 2) yang merupakan hasil emisi
pembakaran bahan bakar berbelerang seperti minyak bumi dan
batubara yang banyak dihasilkan oleh asap kendaraan dan pabrik
atau gas belerang dari gunung berapi semisal gunung arjuno di
Jawa Timur. Gas SO2 tersebut kemudian terkena uap air hujan
sehingga gas tersebut berubah menjadi sulfat yang jatuh di tanah,
sungai dan lautan. Dimana tanah yang mengandung banyak
belerang adalah tanah-tanah berpasir dan tanah-tanah yang tinggi
kandungan oksida Fe dan Al seperti mineral Pirit (FeS) dan rendah
kandungan bahan 6ronchi. Sedangkan produksi sulfat melalui
dekomposisi bahan 6ronchi berupa protein dan senyawa 6ronchi
lainnya yang akan menghasilkan senyawa-senyawa sederhana
berupa H2S dan 6ronchi (S2) yang jika teroksidasi akan menjadi
sulfat (SO4-2).
Tumbuhan

kemudian

menyerap

sulfat

(SO 4-2)

yang

mengendap pada tanah, sungai, dan lautan. Di dalam tubuh


tumbuhan, sulfur digunakan sebagai bahan penyusun protein.
Hewan dan manusia mendapatkan sulfur dengan jalan memakan
tumbuhan yang juga dimanfaatkan sebagai 6ronch cadangan
berupa protein. Jika tumbuhan dan hewan mati, jasad renik
(6ronchiole) akan menguraikannya menjadi gas berbau busuk yakni
H2S dan 6ronchi (S2).

Siklus sulfur di mulai dari dalam tanah, yaitu ketika ion-ion


sulfat diserap oleh akar dan di metabolisme menjadi penyusun
protein dalam tubuh tumbuhan, ketika hewan dan manusia
memakan tumbuhan, protein tersebut akan berpindah ke tubuh
manusia. Dari dalam tubuh manusia senyawa sulfur mengalami
metabolisme yang sisa-sisa hasil metabolisme tersebut diuraikan
oleh bakteri dalam lambung berupa gas dan dikeluarkan melalui
kentut. Semakin besar kandungan sulfur dalam kentut maka kentut
akan semakin bau.
Hidrogen 6ronchi (H2S) berasal dari penguraian hewan dan
tumbuhan yang mati oleh mikroorganisme seperti bakteri dan
jamur. Hidrogen 6ronchi hasil penguraian sebagian tetap berada
dalam tanah dan sebagian lagi dilepaskan di udara dalam bentuk
gas 6ronchio 6ronchi. Gas 6ronchio 6ronchi di udara kemudian
bersenyawa

dengan

oksigen

membentuk

sulfur

dioksida.

Sedangkan 6ronchio 6ronchi yang tertinggal di dalam tanah dengan


bantuan bakteri akan diubah menjadi ion sulfat dan senyawa sulfur
oksida. Ion sulfat akan diserap kembali oleh tanaman sedangkan
sulfur dioksida akan bereaksi dengan oksigen dan air membentuk
asam sulfat (H2SO4) yang kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk
hujan asam. Hujan asam juga dapat disebabkan oelh polusi udara
seperti asap-asap pabrik, pembakaran kendaraan bermotor, dll.
Hujan asam dapat menjadi

penyebab korosi batu-batuan dan

logam. H2SO4 yang jatuh kedalam tanah oleh bakteri dipecah lagi
menjadi ion sulfat yang kembali diserap oleh tumbuhan, tumbuhan
di makan oleh hewan dan manusia, makhluk hidup mati diuraikan
oleh bakteri menghasilkan sulfur kembali. Begitu seterusnya. Siklus
sulfur atau daur belerang tidak akan pernah terhenti selama salah

satu komponen penting seperti tumbuhan masih ada di permukaan


bumi ini.
Dalam daur sulfur atau daur belerang, untuk merubah sulfur
menjadi senyawa belerang lainnya setidaknya ada dua jenis proses
yang terjadi. Yaitu melalui reaksi antara sulfur, oksigen, dan air
serta oleh aktivitas mikroorganisme. Beberapa mikroorganisme
yang berperan dalam siklus sulfur antara lain adalah bakteri
Desulfomaculum dan bakteri Desulfibrio yang akan mereduksi sulfat
menjadi 6ronchi dalam bentuk 6ronchio 6ronchi (H 2S). Kemudian
H2S digunakan oleh bakteri fotoautotrof anaerob (Chromatium) dan
melepaskan sulfur serta oksigen. Kemudian sulfur dioksidasi yang
terbentuk

diubah

menjadi

sulfat

oleh

bakteri

kemolititrof

(Thiobacillus).
Dalam daur belerang mikroorganisme yang bertanggung jawab
pada setiap proses transformasi adalah sebagai berikut.
1.

H2S -> S -> SO4 oleh bakteri sulfur tak berwarna, hijau, dan

ungu.
2.

SO4 -> H2S

oleh bakteri Desulfovibrio dalam reaksi reduksi

sulfat 6ronchiol.
3.

H2S -> SO4 oleh bakeri Thiobacillus dalam proses reaksi

oksidasi sulfide 6ronchi.


4.

Sulfur organic -> SO4 + H2S oleh mikroorganisme heterotrofik

6ronchi dan 6ronchiol.


Proses rantai

makanan disebut-sebut

sebagai

proses

perpindahan sulfat, yang selanjutnya ketika semua mahluk hidup

mati dan nanti akan diuraikan oleh komponen organiknya yakni


bakteri. Beberapa bakteri yang terlibat dalam proses daur belerang
(sulfur) adalah Desulfibrio dan Desulfomaculum yang nantinya akan
berperan mereduksi sulfat menjadi 6ronchi dalam bentuk (H 2S) atau
6ronchio 6ronchi. Sulfida sendiri nantinya akan dimanfaatkan oleh
bakteri Fotoautotrof anaerob seperti halnya Chromatium dan
melepaskan sulfur serta oksigen. Bakteri kemolitotrof seperti halnya
Thiobacillus yang akhirnya akan mengoksidasi menjadi bentuk
sulfat.
Pada aliran 6ronch lebih ditekankan pada perputaran 6ronch
yang terjadi diantara komponen ekosistem. Siklus 6ronch ini diawali
dari 6ronch matahari yang ditangkap oleh produsen, kemudian
terus berputar tiada henti pada konsumen dan semua komponen
ekosistem yang. Hal ini karena menurut 6ronc termodinamika
bahwa 6ronch dapat berubah bentuk, tidak dapat dimusnahkan
serta diciptakan. Perubahan bentuk 6ronch ini dikenal dengan istilah
transformasi 6ronch. Aliran 6ronch di alam atau ekosistem tunduk
kepada 6ronc-hukum termodinamika tersebut.
Dengan proses fotosintesis 6ronch cahaya matahari ditangkap
oleh tumbuhan, dan diubah menjadi 6ronch kimia atau makanan
yang disimpan di dalam tubuh tumbuhan. Proses aliran 6ronch
berlangsung dengan adanya proses rantai makanan. Tumbuhan
dimakan oleh 6ronchiol, dengan demikian 6ronch makanan dari
tumbuhan mengalir masuk ke tubuh 6ronchiol. Herbivora dimakan
oleh karnivora, sehingga 6ronch makanan dari 6ronchiol masuk ke
tubuh karnivora.

Sulfur berperan dalam penyimpanan dan pembebasan 6ronch


karena sulfur merupakan komponen penting asam-asam amino
esensial

penyusun

protein

tanaman

maupun

hewan,

seperti

6ronchiole, sistein, dan sistin, juga dalam pembentukan polipeptida.


Meskipun sulfur tidak berperan langsung dalam pembentukan
6ronch (ATP) seperti 6ronchio, namun sulfur berperan dalam sintesis
protein.

Dimana

protein

nantinya

akan

dirombak

menjadi

karbonhidrat jika zat makanan penghasil 6ronch utama tidak


mencukupi. Itu sebabnya mengapa protein berperan sebagai
penghasil 6ronch. Ketika hewan dan tumbuhan mati, 6ronchiole
seperti bakteri akan menguraikan tubuh makhluk hidup tersebut
menjadi gas H2S.
Beberapa bakteri anaerob melakukan kemosintesis. Dimana
kemosintesis merupakan proses pembentukan senyawa bahan
6ronchi dari zat-zat anorganik dengan menggunakan 6ronch yang
berasal dari reaksi-reaksi kimia. Pada kemosintesis 6ronchio donor
berasal

dari

bahan

anorganik

sedehana,

misalnya

6ronchio,

6ronchio, besi dan sulfur. Selama kemosintesis, 6ronchio dilepaskan


dari bahan anorganik sehingga menjadi molekul yang tereduksi.
Substansi terduksi ini akan menimbulkan 6ronch kimia, dan
digunakan untuk produksi ATP serta NADPH. Selanjutnya, ATP dan
NADPH menyediakan 6ronch untuk sintesis karbohidrat.
Proses biologi terjadi ketika pembentukan sulfat melibatkan
berbagai jenis mikroorganisme yang berperan sebagai 6ronchiole.
Berikut adalah bakteri yang berperan dalam pembentukan sulfat.
1. H2S S SO4-2; bakteri fotoautotrof tak berwarna, hijau dan
ungu.

2. SO4-2 H2S (reduksi sulfat 6ronchiol); bakteri Desulfovibrio


dan Desulfomaculum.
3. H2S SO4-2 (Pengoksidasi

sulfide

kemolitotrof : bakteri Thiobacilli.


4. Senyawa
Organik

SO4-2

6ronchi);

H2S,

bakteri

masing-masing

mikroorganisme 6ronchiole6 6ronchi dan 6ronchiol

Proses kimia terjadi ketika sulfat mengendap di dalam


permukaan tanah hasil dari pengoksidasian mineral 6ronchi (batuan
plutonik), berikut adalah contoh persamaan reaksi pembentukan
sulfat melalui oksidasi mineral 6ronchi, misalnya mineral besi
6ronchi.
2 FeS2 + 7 O2 + 2 H2O 2 Fe2+ + 4 SO42 + 4 H+
Proses kimia juga terjadi ketika gas SO2 terbentuk melalui
pembakaran hasil emisi pembakaran gas belerang atau aktivitas
gunung berapi. Persamaan reaksinya:
S (s) + O2 (g) SO2 (g)
Proses kimia juga terjadi ketika gas H2S terbentuk melalui
aktivitas biologis ketika bakteri mengurai bahan 6ronchi dalam
keadaan tanpa oksigen (aktivitas 6ronchiol), seperti di rawa, dan
saluran pembuangan kotoran. Gas ini juga muncul pada gas yang
timbul dari aktivitas gunung berapi dan gas alam. Persamaan
reaksinya:
1S -2(s) + 2H+ (g) H2S (g)

Proses kimia dan biologi juga terjadi ketika 6ronchi (S2),


belerang dioksida (SO2) dan (H2S) berubah menjadi SO4 atau
sebaliknya dengan bantuan dari 6ronchiole. Dimana didalam
proses-proses tersebut juga terdapat reaksi-reaksi kimia.
2. H2S S SO4-2
3. SO4-2 H2S
4. H2S SO4-2
5. Senyawa Organik SO4-2 + H2S
Siklus sulfur-iodin merupakan sederet proses termokimia yang
digunakan untuk mendapatkan 6ronchio. Ia terdiri dari tiga reaksi
kimia yang keseluruhan reaktannya adalah air dan keseluruhan
produknya adalah 6ronchio dan oksigen.
2 H2SO4 2 SO2 + 2 H2O + O2
I2 + SO2 + 2 H2O 2 HI + H2SO4
2 HI I2 + H2
Senyawa sulfur dan iodin didaur dan digunakan ulang. Proses
ini bersifat endotermik dan haruslah terjadi pada suhu yang tinggi.
Siklus sulfur iodin sekarang ini sedang diteliti sebagai metode yang
praktis untuk mendapatkan 6ronchio. Namun karena penggunaan
asam korosif yang pekat pada suhu yang tinggi, ia dapat
menimbulkan risiko bahaya keselamatan yang besar apabila proses
ini dibangun dalam skala besar.
Dalam siklus Biogeokimia ini ada 3 hal pokok yaitu :

1.

Terjadi daur aliran zat kimia dari Bio ke Geo atau dari Mahkluk

hidup ke Bumi ( penguraian , zat sisa ekskresi.fotosintesis , respirasi


dll yang ditujukan kebumi dari mahkluk hidup)
2.

Terjadi daur aliran zat kimia dari Geo ke Bio yang tidak lain

adalah pemanfaatan zat kimia entah dalam bentuk 6ronchi maupun


anorganik, biasanya oleh tumbuhan lewat akarnya, ataupun segala
yang ada di bumi yang dimanfaatkan untuk survivalnya entah itu
respirasi,fotosintesis)
3.

Terjadi daur aliran zat kimia dari Geo ke Geo maksudnya

senyawa kimia di udara bisa pindah ke darat misalnya lewat hujan


darat ke udara darat ke air air ke darat dll karena pelapukan,
erosi, pengendapan . Yang tentu semua itu pasti untuk suatu
keseimbangan.
4.

Sulfur

terdapat

dalam

bentuk

sulfat anorganik.

Sulfur

direduksi oleh bakteri menjadi 6ronchi dan kadang-kadang terdapat


dalam bentuk sulfur dioksida atau 6ronchio 6ronchi. Hidrogen
6ronchi ini seringkali mematikan mahluk hidup di perairan dan pada
umumnya dihasilkan dari penguraian bahan 6ronchi yang mati.

6. Manfaat dan Kerugian Bakteri Sulfur


Dalam kehidupan, sulfur atau belerang berperan dalam:
a. Menstabilkan struktur protein. Ikatan 6ronchi sangat penting
artinya untuk membentuk protein stabil.
b. Berperan dalam mengaktifkan enzim, karena berbagai enzim
membutuhkangugus sulfurhidril (-SH) yang bebas, untuk

melakukan

aktivasinya.

Dengandemikian

sulfur

berperan

dalam proses oksidasi-reduksi atau pernafasan jaringan.


c. Berperan
dalam
metabolisme
6ronch
dengan
cara
membentuk senyawa denganko-enzim A.
d. Sulfur berfungsi sebagai peredam racun. Gugus sulfur yang
aktif bersenyawadengan racun itu sehingga menjadi senyawa
yang tidak berbahaya, kemudian dikeluarkan melalui urin.
e. Membantu pembentukan butir hijau daun sehingga daun menj
adi lebih hijau
f. Menambah kandungan protein dan vitamin hasil panen.
g. Meningakatkan jumlah anakan yang di
hasilkan (pada tanaman padi).
h. Berperan penting pada proses pembulatan zat gula.
i. Memperbaiki warna,aroma, dan kelenturan daun tembakau (k
husus pada tembakau omprongan).
j. Memperbaiki aroma, mengurangi penyusutan selama
penyimpangan, memperbesar umbi & bawang merah
k. Sulfur sangat berperan dalam pembentukan klorofil dan
meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan jamur.
Sulfur juga membentuk senyawa minyak yang menghasilkan
aroma seperti pada jenis bawang dan cabe. Pada tanaman
kacang sulfur merangsang pembentukan bintil akar didalam
tanah, sulfur berperan untuk menurunkan PH tanah alkali.

Manusia juga berperan dalam siklus sulfur. Hasil pembakaran


pabrik yang merupakan aktifitas manusia membawa sulfur ke
atmosfer. Ketika hujan terjadi, turunlah hujan asam yang membawa
H2SO4 kembali ke tanah. Hal ini dapat menyebabkan perusakan
batuan juga tanaman.

Hujan asam diartikan sebagai segala macam hujan dengan pH


di bawah 5,6. Hujan asam disebabkan oleh belerang (sulfur) yang
merupakan pengotor dalam bahan bakar fosil serta nitrogen di
udara yang bereaksi dengan oksigen membentuk sulfur dioksida
dan nitrogen oksida. Zat-zat ini berdifusi ke atmosfer dan bereaksi
dengan air untuk membentuk asam sulfat dan asam nitrat yang
mudah larut sehingga jatuh bersama air hujan. Air hujan yang asam
tersebut

akan

meningkatkan

kadarkeasaman

tanah

dan

air

permukaan yang terbukti berbahaya bagi kehidupan ikan dan


tanaman.
Air hujan yang asam tersebut akan meningkatkan kadar
keasaman tanah dan air permukaan yang terbukti berbahaya bagi
kehidupan ikan dan tanaman. Secara alami hujan asam dapat
terjadi akibat semburan dari gunung berapi dan dari proses biologis
di tanah, rawa, dan laut. Akan tetapi, mayoritas hujan asam
disebabkan oleh aktivitas manusia seperti 6ronchio, pembangkit
tenaga

listrik,

kendaraan

bermotor

dan

pabrik

pengolahan

pertanian (terutama 6ronchi). Gas-gas yang dihasilkan oleh proses


ini dapat terbawa 6ronch hingga ratusan kilometer di atmosfer
sebelum berubah menjadi asam dan terdeposit ke tanah.
Hujan asam dapat terbentuk dari proses reaksi gas yang
mengandung sulfat. Sulfat dioksida (SO 2) yang bereaksi dengan
Oksigen (O2) dengan bantuan dari sinar ultraviolet yang berasal dari
sinar matahari.
Udara yang tercemar sulfur oksida (SO x) menyebabkan
manusia akan mengalami gangguan pada 6ronch pernafasannya.
Hal ini karena gas SOx yang mudah menjadi asam tersebut

menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan, dan saluran


nafas yang lain sampai ke paru-paru. Serangan gas SO x tersebut
menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena.
Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi
6ronch pernafasan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi
tenggorokan terjadi pada konsentrasi SO2 sebesar 5 ppm atau lebih,
bahkan pada beberapa individu yang sensitive iritasi terjadai pada
konsentrasi 1-2 ppm. SO2 dianggap polutan yang berbahaya bagi
kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang
mengalami

penyakit

kronis

pada

6ronch

pernafasan

dan

kardiovaskular.
Sulfur dioksida (SO2) bersifat iritan kuat pada kulit dan lendir,
pada konsentrasi 6-12 ppm mudah diserap oleh selaput lendir
saluran pernafasan bagian atas, dan pada kadar rendah dapat
menimbulkan spesme tergores otot-otot polos pada 6ronchiole,
speme ini dapat menjadi hebat pada keadaan dingin dan pada
konsentrasi yang lebih besar terjadi produksi lendir di saluran
pernafasan bagian atas, dan apabila kadarnya bertambah besar
maka akan terjadi reaksi peradangan yang hebat pada selaput
lendir disertai dengan paralycis cilia, dan apabila pemaparan ini
terjadi berulang kali, maka iritasi yang berulang-ulang dapat
menyebabkan terjadi hyper plasia dan meta plasia sel-sel epitel dan
dicurigai dapat menjadi kanker.
Sulfur dioxide (SO2) memiliki cakupan-cakupan yang sangat
mengganggu. Bila kita menghirup SO2 hanya menembus sejauh
hidung dan tenggorokan maka sejumlah kecil konsentrasi SO2 akan
mencapai paru-paru. Akan tetapi jika menghirup secara berat dalam

artian ada di lokasi gas belerang dalam waktu yang lama, maka
bernapaslah hanya melalui mulut atau konsentrasi dari SO2 akan
menjadi tinggi. Efek dari gas belerang terhadap manusia sangatlah
bervariasi. Dimana dengan konsentrasi rendah pada 1ppm yang
telah dihirup manusia akan mengalami pengurangan fungsi paruparu. Meskipun pada penelitian terhadap 7 sukarelawan hanya 1
orang yang mengalami efek tidak baik pada 1 ppm. Jika selama 10
hingga 30 menit kedapatan konsentrasi mencapai 5 ppm akan
mengakibatkan sesak napas pada cabang tenggorokan kita. Bila
kedapatan selama 20 menit mencapai konsentrasi 8 ppm akan
memerahkan tenggorokan, gangguan pada hidung, dan iritasi pada
tenggorokan. Sekitar 20 ppm merupakan titik kritis dari iritasi
konsentrasi SO2, meskipun ada beberapa laporan bahwa ada orangorang

yang

bekerja

pada

konsentrasi

melampaui

20

ppm.

Konsentrasi sebesar 500 ppm sangat tidak dianjurkan untuk dihirup


oleh manusia.
Pada beberapa kasus dimana terdapat konsentrasi SO2 yang
sangat

tinggi

pada

ruangan

tertutup,

dapat

mengakibatkan

gangguan saluran udara, hypoxemia (kekurangan oksigen pada


darah), dan kematian dalam hitungan menit. Efek dari pulmonary
edema(gangguan pada paru-paru) meliputi batuk dan napas
pendek yang dialami selama berjam-jam atau berhari-hari setelah
kedapatan

menghirup

konsentrasi

SO2.

Gejala-gejala

ini

menyakitkan hati dan menguras tenaga. Hasil dari kedapatan


menghirup konsentrasi dalam waktu yang sering, akan melukai
paru-paru secara permanen. Selain itu, Belerang dioksida adalah
zat berbahaya di atmosfer, sebagai pencemar udara.

BAB III
PENUTUP

Bakteri sulfur adalah bakteri yang menggunakan sulfur


sebagai bahan utama metabolismenya atau ikut mengubah sulfur
dalam metabolismenya. Bakteri sufur menggunakan 6ronch yang
diperolehnya dari senyawa kimia seperti 6ronchio 6ronchi (H2S) dan
juga CO2 untuk dapat membentuk karbohidrat. Bakteri tersebut
menguraikan (memecah) senyawa H2S menjadi atom 6ronchio dan
sulfur. Selanjutnya, pada reaksi gelap, atom-atom 6ronchio tersebut
digunakan untuk mereduksi CO2 dan pada akhirnya CO2 ini
digunakan untuk membentuk gula atau karbohidrat. Proses ini tidak
melepaskan (menghasilkan) oksigen, namun menghasilkan sulfur.
Siklus sulfur atau daur belerang adalah perubahan sulfur dari
6sulfur elemental menjadi sulfur dioksida lalu menjadi sulfat dan
kembali menjadi 6sulfur elemental lagi. Sulfur di alam ditemukan
dalam berbagai bentuk. Dalam tanah ditemukan dalam bentuk
mineral, diudara dalam bentuk gas sulfur dioksida, dan dalam tubuh
organisme sebagai penyusun protein.
Proses biologi terjadi ketika pembentukan sulfat melibatkan
berbagai jenis mikroorganisme yang berperan sebagai 6ronchiole.
Berikut adalah bakteri yang berperan dalam pembentukan sulfat.
1. H2S S SO4-2; bakteri fotoautotrof tak berwarna, hijau dan
ungu.

2. SO4-2 H2S (reduksi sulfat 6ronchiol); bakteri Desulfovibrio


dan Desulfomaculum.
3. H2S SO4-2 (Pengoksidasi

sulfide

kemolitotrof : bakteri Thiobacilli.


4. Senyawa
Organik

SO4-2

6ronchi);

H2S,

bakteri

masing-masing

mikroorganisme 6ronchiole6 6ronchi dan 6ronchiol

Manusia juga berperan dalam siklus sulfur. Hasil pembakaran


pabrik yang merupakan aktifitas manusia membawa sulfur ke
atmosfer. Ketika hujan terjadi, turunlah hujan asam yang membawa
H2SO4 kembali ke tanah. Hal ini dapat menyebabkan perusakan
batuan juga tanaman.
Udara yang tercemar sulfur oksida (SO x) menyebabkan
manusia akan mengalami gangguan pada 6ronch pernafasannya.
Hal ini karena gas SOx yang mudah menjadi asam tersebut
menyerang selaput lendir pada hidung, tenggorokan, dan saluran
nafas yang lain sampai ke paru-paru. Serangan gas SO x tersebut
menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terkena.

DAFTAR PUSTAKA
Buchari,

dkk.

2001.

Kimia

Lingkungan.

Direktorat

Jenderal

Pendidikan Tinggi, Jakarta.


Douds D.D and Patricia D Millner. 1999. Biodiversity Of Arbuscular
Mycorrhizal Fungi In Agroecosystems. Agriculture, Ecosystems and
Environment. Vol 74. Hal 77-93.
Fardiaz. 1992. Polusi Air dan Udara. Gramedia: Jakarta
Jumin, H.B. 2002. Agroekologi Suatu Pendekatan Fisiologis. PT. Raja
Grafindo Persada : Jakarta.
Kristanto, Philip. 2004. Ekologi Industri. Penerbit ANDI: Yogyakarta.
Iqbal Ali, 2008. Peran Mikroorganisme Dalam Kehidupan. Penerbit
Angkasa Bandung: Bandung
Irianto, Koes. 2012. Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid I. Penerbit
Yrama Widya. Bandung
Soemirat.2002. Epidemiologi Lingkungan. Gramedia:Jakarta.
Vidyalakshmi, R et al. 2009. Sulphur Oxidizing Bacteria and Pulse
Nutrition. World Journal Of Agricultural Sciences 5 (3): 270-278.