Anda di halaman 1dari 33

The Pursuit of the Conceptual Framework

The Pursuit 1

of the Conceptual
Framework

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

BAB II
PENCARIAN KERANGKA DASAR AKUNTANSI

Proyek pencarian kerangka dasar (Conceptual Framework Project) adalah


usaha yang dilakukan oleh FASB untuk mengembangkan konsep yang berguna
untuk menjadi pedoman bagi dewan dalam menyusun standar dan memberikan
kerangka dasar dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi.
Pada bab II ini menjelaskan bahwa praktik akuntansi dikembangkan dalam
menghadapi perubahan kondisi ekonomi yang sebelumnya tidak dilakukan
dalam mencari sebuah ‘teori akuntansi’ sebelum abad ke-20.

The Early Theorists


Debat mengenai isu-isu akuntansi dan kebutuhan untuk mengembangkan
kerangka dasar teori mulai muncul sekitar awal tahun 1900-an. Tokoh-tokoh ahli
teori yang ikut mengembangkan teori akuntansi antara lain :
1. William A. Paton
Paton, berdasarkan disertasi doktoralnya, merupakan orang yang pertama
menyatakan pandangan sebagai berikut :
• Bahwa semua perubahan dari nilai asset dan kewajiban harus
tercermin dalam laporan keuangan dan perubahan tersebut diukur
menggunakan current value basis.
• Pengembalian kepada investor baik berupa dividen maupun bunga
dibagikan sebagai pendapatan.
• Meyakini adanya asumsi dasar sebagai acuan proses akuntansi.
• Mendukung konsep entitas daripada konsep kepemilikan.

1. John B. Canning
Canning menyarankan konsep dasar penilaian dan pengukuran aset
berdasarkan ekspektasi masa depan seperti model penyandingan pendapatan
dan biaya

2. DR . Scott

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

3. Menyatakan kerangka dasarnya dalam “The Basic for Accounting Principles” :


1
• Bahwa diperlukannya teori akuntansi yang normatif
• Teori akuntansi bukan kemajuan dari ide statis tetapi proses yang
beradaptasi dengan lingkungannya secara terus menerus.
• Menilai pandangan AAA terhadap akuntansi terlalu sempit jika hanya
sebatas memperhatikan fungsi transaksi dalam akuntansi karena
akuntansi jugamengarahkan fungsi-fungsi penting lainnya.
• Perlunya pengembangan pelaporan keuangan demi kepentingan
investor dalam masa revolusi industri
• Mengemukakan kerangka dasar yang terdiri dari :
✔ Orientation Postulate (Dalil Orientasi).
✔ The Pervasive Principle of justice (Prinsip Keadilan).
✔ The Principles of Truth and Fairness (Prinsip Kebenaran dan
Kewajaran).
✔ The Principles of Adaptability and Consistency (Prinsip penyesuaian
diri dan konsistensi).

Early Authorative and Semiauthorative Organizational Attempt to


Develop the Conceptual Framework of Accounting
Sekitar pertengahan tahun 1930-an, organisasi-organisasi profesi mulai
mengembangkan konsep teori akuntansi,antara lain :
1. American Accounting Association (AAA)
Pada tahun 1936 AAA mengeluarkan statement yang diberi judul : “A
Tentative Statement of Accounting Principles Affecting Annual Corporate
Reports” sebagai panduan bagi SEC. Banyak dikritik karena terlalu mengarah
pada modelhistoric cost dan kaidah konservatisme
Pada tahun 1940 AAA mengeluarkan studi tolok ukur Paton dan A.C Littleton,
“An Intriduction to Corporate Accounting Standards”. Sebuah pengembangan
model historical cost yang dihubungkan dengan konsep Entitas. Selain itu,
dijelaskan pula sebuah konsep penyandingan dimana prestasi majanemen
(revenue) dan usaha (expense) dapat dievaluasi oleh investor.
2. American Institute of Accountant (AICPA)
Pada tahun 1938 AICPA mengeluarkan “A Statement of Accounting
Principles” sebagai panduan bagi SEC untuk praktik akuntansi tetapi studi ini
tidak tepat sasaran karena dianggap sebagai upaya mempertahankan praktik
akuntansi pada masa itu, bukan sebagai pengembangan teori akuntansi.

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

Committee on Accounting Procedure (CAP) juga sudah mengembangkan


2
standar akuntansi, tetapi berhenti karena SEC tidak sabar untuk menunggu
proses tersebut dan akan membuat standar sendiri. Ketidakcocokan antara
CAP dan SEC sering terjadi karena inkonsistensi CAP dalam mengeluarkan
standar akuntansi untuk beberapa kasus dibanding dengan teori akuntansi
secara umum.
Tahun 1958, AICPA membentuk komite khusus untuk meneliti dan membantu
AICPA dalam pengembangan teori akuntansi. Hasilnya adalah pembentukan
Accounting Principle Board (APB) menggantikan CAP dan mengidentifikasi 4
kisaran yang harus dituju yaitu : dalil asumsi-asumsi dasar, prinsip yang
mendasari kegiatan, aturan penerapan prinsip ke kondisi tertentu, dan
riset. Pada tahun 1959 APB kemudian diresmikan.
Tahun 1961 APB mengeluarkan “Basic Postulates of Accounting”. yang terdiri
atas hirarki dalil meliputi lingkungan, akuntansi dan hal-hal penting lainnya
yang meliputi:
– Grup A, Dalil Lingkungan Ekonomi dan Politik
Dalil ini berdasarkan pada lingkungan ekonomi dan politik dimana
akuntansi itu timbul. Aspek-aspek yang relevan ialah:
• A-1. Quantitas
Data kuantitatif membantu akuntan dalam membuat keputusan
ekonomi yang rasional diantara alternatif-alternatif yang mungkin
muncul.
• A-2. Pertukaran
Hampir sebagian besar barang dan jasa didistribusikan melalui
pertukaran, tidak langsug dari produsen ke konsumen akhir.
• A-3. Entitas
Aktivitas ekonomi dijalankan oleh beberapa entitas spesifik. Semua itu
harus dijelaskan di dalam laporan keuangan.
• A-4 Periode Waktu
Aktivitas ekonomi berlangsung melewati beberapa periode waktu
dimana nantinya di dalam laporan keuangan harus dicantumkan
dengan pasti cut off dari periode waktu tersebut.
• A-5 Alat ukur
Alat ukur yang umum digunakan adalah uang. Pada laporan keuangan
harus dijelaskan mata uang apa yang digunakan didalamnya.
– Grup B, Dalil Akuntansi

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

• B-1. Laporan Keuangan


1
Adalah merupakan hasil dari proses akuntasi yang menyatakan
hubungan laporan keuangan yang mendasar pada masing masing
laporan dan mempunyai sandaran yang sama dengan data yang
disajikan dasar.
• B-2. Harga Pasar
Data akuntansi didasarkan pada harga umum lampau, sekarang dan
akan datang yang dapt menggantikan harga secara aktual atau yang
diharapkan.
• B-3. Entitas
Merupakan hasil dari proses akuntasi yang menyatakan hubungan
dari unit tertentu atau entities
• B-4. Tentativeness
Hasil dari operasi untuk periode relative pendek adalah sebuah
percobaan yang mana alokasi prinsip akuntansi antara periode lalu,
sekarang dan akan datang dipergunakan pasa saat diperlukan.
– Grup C, Dalil Imperative (Penting dan harus dilaksanakan)
• C-1. Kontinuitas
Entitas harus dilihat sebagai unit yang akan berlangsung selamanya /
terus-menerus (going concern).
• C-2. Objektivitas
Aset dan kewajiban baru diakui ketika telah dapat diukur secara
objektif.
• C-3. Konsistensi
Prosedur dan pengukuran akuntansi harus diterapkan secara konsisten
dari waktu ke waktu.

• C-4. Unit Stabil


Pelaporan akuntansi harus menggunakan alat ukur yang stabil.
• C-5. Pengungkapan
Pelaporan akuntansi harus diungkapkan menyeluruh agar pihak yang
menggunakan laporan tersebut tidak merasa dibohongi.
Akibatnya, APB menghadapi masalah yang sama yang dihadapi pendahulunya
(CAP) yaitu memberikan solusi atas kasus-kasus tanpa pemahaman mendalam
atas dasar pemikirannya. Kemudian pada pertengahan 1960-an APB
menggunakan usaha lain untuk mengembangkan suatu teori akuntansi. Sebuah

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

komite dibentuk dimana tugasnya adalah untuk menyebutkan satu per satu dan
2
menjelaskan konsep dasar untuk menjelaskan seperti apa prinsip-prinsip
akuntansi seharusnya diorientasikan, dan untuk menetapkan prinsip-prinsip
akuntansi untuk digunakan dalam praktik dan prosedur yang sesuai. Pernyataan
yang dipublikasikan, Basic Concept And Accounting Principles Underlying
Financial Statements Of Business Enterprises, dimulai dengan baik dengan
menganjurkan pendekatan pengguna yang diusulkan oleh produk AAA
“Statement Of Basic Accounting Theory” dan mendefinisikan akuntansi sebagai
“suatu aktivitas jasa. Fungsinya adalah untuk menyediakan informasi kualitatif;
terutama mengenai keuangan entitas ekonomi yang diharapkan bermanfaat
dalam membuat keputusan ekonomis.”
APB Statement No.4 juga ditujukan untuk isu-isu baru, pengalaman
pengguna. Hal ini menyimpulkan bahwa “ pengguna laporan keuangan
seharusnya memiliki pengetahuan dan mengerti karakteristik dan batasan-
batasan laporan keuangan”. Sayangnya, definisi tersebut disediakan untuk
elemen laporan keuangan yang lagi-lagi didasarkan atas praktik berlaku yang
disetujui yang menyatakan bahwa aset dan kewajiban didefinisikan sebagai
“diakui dan diukur dengan kesesuaian dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
diterima umum”.
Sebagai hasilnya, komite bekerja selama 5 tahun sebelum sekali lagi
muncul dengan apa yang menjadi deskripsi dasar dari praktik yang ada. Sebagai
tambahan, laporan APB dipublikasikan sebagai suatu pernyataan dibandingkan
sebagai suatu opini; konsekuensinya, rekomendasinya tidak mencakup GAAP
dan dapat diragukan tanpa melanggar Rule 203 dari Kode Etik AICPA, yang
mensyaratkan ketaatan dengan prinsip akuntansi yang disebarluaskan oleh
lembaga otoritatif.
Anggota CAP dan APB utamanya adalah praktisi akuntansi yang rupanya
memiliki sedikit ketertarikan dalam mengembangkan suatu teori normatif
akuntansi. Dalam upaya untuk mengisi kekosongan ini, AAA mempublikasikan A
Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT) di tahun 1966.
Dua ide baru muncul dengan adanya definis akuntansi dari ASOBAT.
Anggota komite ini utamanya adalah akademisi, sehingga mereka melihat
akuntansi sebagai suatu sistem informasi. Oleh karena itu, mereka melihat
komunikasi sebagai suatu bagian integral dari proses akuntansi. Komite juga
mencakup konsep entitas dengan mengindikasikan bahwa tujuan akuntansi
adalah untuk membantu pengguna dalam mengambil keputusan. Sebagai

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

konsekuensinya, komite mengadopsi suatu pendekatan keputusan-bermanfaat


3
dan mengidentifikasi 4 standar untuk digunakan dalam mengevaluasi informasi
akuntansi: relevansi, verifiabilitas, bebas dari bias, dan dapat dikuantisir.
ASOBAT melihat adanya konflik bawaan antara relevansi dan verifiabilitas
dalam pembuatan suatu rekomendasi akhir. Risalah ditarik kembali karena
pelaporan 2 hal biaya historis dan pengukuran biaya sekarang dalam laporan
keuangan. Pengukuran biaya sekarang yang digunakan termasuk biaya
penggantian dan penyesuaian tingkat harga.
Publikasi dari ASOBAT menghasilkan opini yang bermacam-macam. Robert
Morrison, praktisi satu-satunya dalam komite, mengusulkan menerbitkan risalah
tetapi meminta untuk perhatiannya tersebut dipublikasikan sebagai suatu
komentar pada akhir dokumen. Morisson mengindikasikan bahwa ASOBAT tidak
sepenuhnya memenuhi tugas karena ASOBAT menawarkan sedikit jalan teori
akuntansi dasar sebagai pondasi untuk prinsip-prinsip akuntansi. Dia juga tidak
setuju dengan pelaporan informasi biaya sekarang (current cost) dengan dasar
bahwa akan mengurangi verifiabilitas.
Pada sisi lain, anggota komite lainnya, George Sorter, menentang
pendekatan kebutuhan pengguna yang mengasumsikan bahwa kebutuhan
pengguna dapat dengan mudah diketahui dan dapat ditetapkan sehingga
informasi dapat disediakan untuk memenuhi kebutuhan ini. Akhirnya, salah satu
pemimpin teoris pada saat itu, Robert Sterling menyatakan bahwa ASOBAT
mengandung sedikit hal baru. Dia juga menyatakan bahwa ASOBAT dianggap
tidak konsisten dan tidak logis. Sebagai contoh, dia mempertanyakan dasar
pemikiran komite untuk current cost selayaknya bahwa historical cost tidak
sempurna. Dia mempertanyakan, jika biaya historis tidak cukup memadai,
mengapa melaporkannya semua?
Kritik dari APB menyebabkan adanya usaha lain untuk mengembangkan
kerangka konseptual akuntansi. Dalam keadaan yang serupa dengan ASOBAT,
komite Trueblood melaporkan tujuan laporan keuangan yang mencakup kriteria
manfaat untuk keputusan sebagai dasar utama dalam penyiapan dan penyajian
informasi keuangan. Komite ini ditugaskan oleh AICPA dengan mengusulkan
tujuan fundamental laporan keuangan untuk memandu peningkatan pelaporan
keuangan. Yang digunakan untuk menjawab 4 pertanyaan:
1. Siapa yang membutuhkan laporan keuangan?
2. Informasi seperti apa yang mereka butuhkan?

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

3. Seberapa banyak informasi yang dibutuhkan yang dapat disediakan oleh


1
akuntan?
4. Kerangka seperti apa yang dibutuhkan untuk menyediakan informasi yang
dibutuhkan?
Sebagai hasilnya, Komite secara spesifik melaporkan 4 informasi yang
dibutuhkan oleh pengguna:
1. Membuat keputusan dengan memperhatikan penggunaan sumber daya
yang terbatas
2. Efektivitas pengarahan dan pengendalian organisasi
3. Mengurus dan melaporakan penjagaan sumber daya
4. Memfasilitasi fungsi sosial dan pengendalian

Seperti para pendahulunya, Komite Trueblood kesulitan dalam menyetujui


jawaban untuk pertanyaan yang diajukan oleh AICPA. Laporan final Komite
Trueblood dianggap sebagai langkah pertama dalam proses yang
menggambarkan tujuan untuk pelaporan keuangan berikut ini:
1. Tujuan dasar laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang
bermanfaat dalam membuat keputusan ekonomi
2. Sebuah tujuan laporan keuangan adalah untuk membantu pemakai utama
yang memiliki wewenang, kemampuan, atau sumber daya yang terbatas
untuk memperoleh informasi dan orang-orang yang mengandalkan
laporan keuangan sebagai sumber informasi utama mengenai aktivitas
ekonomi suatu perusahaan
3. Sebuah tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi
yang bermanfaat untuk para investor dan kreditor untuk membuat
prediksi, membandingkan, dan mengevaluasi jumlah, waktu dan
hubungannya dengan ketidak pastian arus kas potensial.
4. Sebuah tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi
bagi pemakai yang digunakan dalam membuat prediksi, membandingkan,
dan mengevaluasi kemampuan earning perusahaan
5. Sebuah tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi
yang bermanfaat dengan mempertimbangkan kemampuan manajemen
untuk menggunakan sumber daya perusahaan secara efektif dalam
mencapai tujuan utama perusahaan.
6. Sebuah tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi
yang faktual dan interpretatif mengenai transaksi dan kejadian lainnya

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

yang bermanfaat untuk memprediksi, membandingkan, dan mengevaluasi


2
kemampuan earning perusahaan. Asumsi dasar yang mendasarinya
berkenaan dengan keadaan subyek yang diinterpretasikan, dievaluasi,
prediksi, atau estimasi seharusnya diungkapkan.
7. Sebuah tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan suatu
laporan posisi keuangan yang berguna untuk prediksi, perbandingan, dan
evaluasi kemampuan earning perusahaan.
8. Sebuah tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan laporan
earning periodik yang berguna untuk prediksi, perbandingan, dan evaluasi
kemampuan earning perusahaan.
9. Tujuan lainnya adalah untuk menyediakan laporan aktivitas keuangan
yang berguna untuk prediksi, perbandingan, dan evaluasi kemampuan
earning perusahaan. Laporan ini seharusnya melaporkan terutama aspek
faktual transaksi perusahaan yang terjadi atau yang diharapkan terjadi
yang memiliki konsekuensi kas yang signifikan. Laporan ini seharusnya
melaporkan data minimal seperti yang disyaratkan dan interpretasinya
oleh yang menyiapkan laporan.
10.Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang
berguna untuk proses prediksi. Peramalan keuangan seharusnya
disediakan ketika hal ini bisa meningkatkan keandalan prediksi user.
11.Tujuan laporan keuangan untuk pemerintah dan untuk organisasi nirlaba
adalah untuk menyediakan informasi yang berguna untuk evaluasi
efektifitas sumber daya manajemen dalam mencapai tujuan organisasi.
Ukuran kinerja seharusnya dikuantifikasi dalam bentuk tujuan yang
diidentifikasi.
12.Tujuan laporan keuangan adalah untuk melaporkan aktivitas perusahaan
yang mempengaruhi masyarakat yang dapat ditentukan dan dijelaskan
atau diukur dan merupakan peran yang penting dari perusahaan dalam
lingkungan sosial.

Statement on Accounting Theory and Theory Acceptance (SATTA)


Pada tahun 1973, Komite AAA untuk Konsep dan Standar Laporan
Keuangan untuk Eksternal bertugas untuk memperbaharui ASOBAT agar sesuai
dengan perubahan akuntansi yang terjadi pada awal ASOBAT sampai dengan
tahun tersebut. Laporan ini Statement on Accounting Theory and Theory
Acceptance (SATTA) tidak ditujukan untuk memperbarui ASOBAT, akan tetapi

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

lebih sebagai suatu review status teori akuntansi dan tanggapan atas teori
2
tersebut.
SATTA pertama memulai dengan melakukan review terhadap teori
akuntansi dan menemukan bahwa sejumlah teori menjelaskan akuntansi dalam
lingkup yang sempit. Komite mencatat bahwa ketika ada persetuuan secara
umum dimana tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan data
ekonomis mengenai entitas akuntansi, teori yang berbeda-beda muncul karena
perbedaan cara para teoris dalam menetapkan pengguna data akuntansi dan
lingkungan. Pendekatan yang bermacam-macam untuk teori akuntansi dapat
diringkas menjadi (1) klasik, (2) keputusan bermanfaat, (3) dan informasi
ekonomis.

Pendekatan Klasikal
Studi ini meliputi periode dari 1922 sampai dengan 1962, dengan
perkecualian satu risalah dari tahun 1975. SATTA mengungkapkan bahwa semua
hasil kerja tersebut bersifat deduktif dan mengkritiknya sebagai sesuatu yang
secara umum tidak berhubungan dalam hal tidak ditujukan atau dibangun
berdasar hasil kerja sebelumnya. Sebagai catatan bahwa banyak pengarang dari
hasil kerja ini dilatih dalam dunia ekonomi yang dipengaruhi oleh teori ekonomi
neoklasikal perusahaan, dimana meragukan biaya historis dan secara umum
menganjurkan penggunaan nilai sekarang.
SATTA membuat subklasifikasi studi dalam kelompok ini menjadi sekolah
deduktif (pendapatan sebenarnya) dan sekolah induktif. Teori sekolah deduktif
mempertahankan bahwa pendapatan diukur dengan basis penilaian tunggal
akan memenuhi kebutuhan semua pengguna. Studi sekolah induktif dipandang
oleh SATTA sebagai usaha untuk merasionalkan atau membenarkan praktek
akuntansi yang ada.

Pendekatan Keputusan Bermanfaat


Studi keputusan bermanfaat berfokus pada pengakuan yang bermanfaat
adalah suatu tujuan dasar akuntansi. Pendekatan ini menekankan pada
penggunaan model keputusan. Sekali model keputusan terpisah telah dipilih,
informasi yang relevan dengan model ditetapkan dan alternatif akuntansi
dibandingkan dengan data penting untuk implementasi model. Sebagai contoh,
laporan Trueblood menyatakan bahwa tujuan dasar laporan keuangan adalah
menyediakan informasi yang bermanfaat untuk membuat keputusan ekonomis.

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

2
Informasi Ekonomis
Studi menggunakan pendekatan ini dengan menggunakan teori ekonomi
untuk menetapkan informasi yang penting untuk membuat keputusan ekonomi.
Mereka memperlakukan informasi sebagai suatu komunitas yang memiliki biaya
dan harga dan memeriksa apakah peraturan pelaporan keuangan eksternal
diinginkan. SATTA secara jelas meliputi kategori ini seperti munculnya metode
pengembangan teori akuntansi; akan tetapi, informasi ekonomi tidak memiliki
keuntungan menonjol yang diantisipasi oleh SATTA.

Kritik atas Approaches to Theory


SATTA kemudian membahas mengapa tidak satupun approaches to theory
tidak dapat diterima secara umum. SATTA menyebutkan 6 masalah:
a. Permasalahan dalam menghubungkan teori dan praktek.
b. Permasalahan alokasi.
c. Kesulitan dalam standar normatif.
d. Kesulitan dalam menginterpretasikan penelitian perilaku harga sekuritas.
e. Permasalahan teori biaya vs keuntungan.
f. Keterbatasan dalam pengembangan data

Bagian berikutnya dari SATTA mencatat bahwa walaupun pandangan


evolusioner akuntansi dapat dipertimbangkan menarik, bukti-bukti mengesankan
bahwa literasi akuntansi yang ada tidak konsisten dengan pandangan ini. Kuhn
menyarankan kemajuan ilmiah mengalami urutan di bawah ini:
1. Diterimanya paradigma1
2. Pelaksanaan atas paradigma tersebut
3. Ketidakpuasan atas paradigma
4. Mencari paradigma baru
5. Menerima paradigma baru
SATTA berpendapat bahwa teori akuntansi sedang berada di urutan ketiga
pada saat itu karena sejumlah teoris merasa tidak puas dengan pendekatan
matching untuk mengkhususkan isi laporan keuangan.

Evaluasi atas SATTA

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

SATTA fokus pada filosofi ilmu pengetahuan bukan dengan pengurangnya.


2
Peasnell (1978) menyimpulkan bahwa Teori Pendekatan SATTA tidak sesuai
dengan paradigma, karena suatu paradigma lebih dari satu set hipotesis. Dia
juga mengkritik pembedaan SATTA antara pendekatan klasikal dan pendekatan
keputusan bermanfaat hanya dibuat-buat. Akhirnya, dia mengesankan bahwa
ketidakampuan SATTA mencapai konsensus dipengaruhi oleh fakta bahwa
komite yang menulis SATTA terdiri atas beberapa anggota yang memiliki posisi
advokasi yang kuat dalam beberapa pendekatan untuk mengembangkan teori
akuntansi.

Proyek Kerangka Konseptual oleh FASB (The FASB’s Conceptual


Framework Project)

Conceptual Framework Project (CFP) pertama berusaha untuk


mengembangkan prinsip atau standar kualitatif yang luas untuk menerangkan
cara pengambilan pilihan secara rational dan sistematis dari beberapa metode
alternatif pelaporan keuangan. Sebagai hasilnya, CFP adalah suatu jembatan
yang menghubungan antara tujuan (objective) dan basis/dasar (fundamental).
Objective didefinisikan sebagai tujuan dan sasaran akuntansi keuangan,
sedangkan fundamental diartikan sebagai konsep yang membatu dalam
mencapai tujuan tersebut. Konsep tersebut didesain untuk menyediakan
panduan dalam:

– Memilih transaksi (transaction), peristiwa (event) dan atau keadaan


(circumstances) yang akan diperhitungkan
– Menentukan bagaimana rangkaian transaksi, peristiwa dan keadaan
tersebut diukur
– Menentukan bagaimana meringkas (summarize) dan melaporkan hasil
dari transaksi, peristiwa, dan keadaaan tersebut.

CFP telah menghasilkan 7 pernyataan SFAC : SFAC No.1 “Objective of


Financial Reporting of Business Entity”, SFAC No.2 “Qualitative Characteristics of
Accounting Information”, SFAC No.3 “Elements Of Financial Statements of
Business Enterprises” , SFAC No.4 “Objective of Financial Reporting by Non-
Business Organization”, SFAC No.5 “Recognition and Measurement in Financial
Statements of Business Enterprises”, SFAC No.6 “Elements of Financial
Statements”, SFAC No.7 “Using Cash Flow Information and Present Value in
Accounting Measurement”.

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

CFP tidak secara langsung mempengaruhi praktik yang ada, dan SFAC
2
tidak dimaksudkan untuk meminta pengaplikasian Rule 203 atau 204 Kode Etik
Profesional, yang mana secara khusus penyimpangan apa saja dari GAAP harus
diungkapkan. SFAC mempengaruhi praktik hanya pada artian mempengaruhi
pengembangan standar akuntansi baru.
SFAC menyediakan bagi dewan suatu pondasi untuk pengaturan standar
dan alat yang digunakan untuk memutuskan akuntansi dan pertanyaan
pelaporan. Meskipun CFP tidak menyediakan semua jawaban, CFP
mempersempit alternatif-alternatif dan menghilangkan hal-hal yang tidak
konsisten dengannya.CFP juga digunakan untuk memandu pengembangan
standar yang netral, yang akan membantu dalam alokasi sumber daya yang
langka dan efisiensi fungsi dari pasar modal.

SFAC No 1: “Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises”


(Tujuan Pelaporan Keuangan oleh Perusahaan Bisnis)
Dasar untuk SFAC No 1 adalah hasil kerja Komite Trueblood mengenai
tujuan laporan keuangan; konsekuensinya, merupakan usaha untuk membentuk
teori akuntansi normative. SFAC No. 1 mengindikasikan bahwa tujuan
keseluruhan pelaporan keuangan adalah memberikan basis dalam memilih
diantara alternative-alternatif yang ada dalam mengalokasikan sumber daya
yang bersifat terbatas. Pelaporan keuangan yang efektif haruslah memenuhi
beberapa tujuan yang luas. Tujuan ini harus memungkinkan investor yang ada
saat ini dan yang potensial, kreditor, dan pengguna laporan keuangan lainnya
untuk:
1. Mengambil keputusan berinvestasi dan atau memberikan kredit.
2. Mengakses prospek arus kas perusahaan.
3. Melaporkan sumber daya perusahaan, klaim dan perubahan atas sumber
daya tersebut.
4. Melaporkan sumber daya ekonomi, kewajiban dan kepemilikan (owner’s
equity).
5. Melaporkan kinerja dan laba (earnings) perusahaan.
6. Mengevaluasi likuiditas, solvency dan aliran dana.
7. Mengevaluasi pekerjaan dan kinerja manajemen.
8. Menjelaskan dan menginterpretasikan informasi keuangan.

SFACs No 2: “Qualitative Characteristic of Accounting Information”


(Karakteristik Kualitatif dari Informasi Akuntansi)

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

Peryataan ini merupakan jembatan antara SFAC No 1 dengan pernyataan-


1
pernyataan selanjutnya yang menyajikan elemen dari laporan keuangan, dan
menyediakan panduan dalam pengakuan, pengukuran dan pengungkapan.
SFAC No. 2 mencatat bahwa pilihan akuntansi dibuat paling sedikit dalam
2 level. Pertama, FASB atau badan lainnya seperti SEC memiliki kekuatan untuk
mensyaratkan entitas bisnis untuk melaporkan dalam beberapa cara terpisah
atau untuk melarang suatu metode yang tidak diinginkan. Kedua, pelaporan
perusahaan membuat pilihan akuntansi diantara alternatif-alternatif yang dapat
diterima.

Gambar 2.1 mengilustrasikan Hierarki Kualitas Akuntansi, yang


didiskusikan SFAS No. 2 dalam mereview karakteristik informasi akuntansi. Dari
gambar 2.1 kita dapat melihat bahwa karakteristik informasi yang membuatnya
sesuatu yang diinginkan, dipandang dalam suatu hierarki kualitas, dimana
manfaat untuk pembuatan keputusan menjadi kualitas yang paling penting.
Akan tetapi hierarki tidak membedakan antara kualitas utama dengan kualitas
lainnya, ataupun memberikan prioritas diantara kualitas-kualitas yang ada.

Gambar 2.1 Hierarki Kualitas Akuntansi

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

Pemakai Informasi
Akuntansi
Pembuat
keputusan dan
1
karakteristiknya

Batasan Pervasif Manfaat vs Biaya

Kualitas Spesifik Pemakai D apat dipahami

Keputusan Bermanfaat

Kualitas Spesifik
Keputusan utama Relevansi Keandalan

Kandungan Kualitas N ilai U mpan Penyajian


Nilai Prediktif Tepat Waktu Veriabilitas Tepat
Neutrality
waktu
Utama balik Jujur

Kualitas kedua dan Dapat D ibandingkan


interaktif (ter masuk konsistensi
)

Gerbang pengakuan Materialitas

Pembuat Keputusan dan Karakteristiknya

Setiap pengambil keputusan menentukan informasi akuntansi apa yang


berguna dan penetuan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keputusan
yang akan dibuat, metode pembuatan keputusan yang digunakan, informasi
yang sudah dimiliki yang berasal dari sumber lain, serta kapasitas dari
pengambil keputusan sendiri untuk memproses informasi tersebut.

Keseimbangan antara BIaya dan Manfaat

Secara umum, kecuali manfaat yang akan diperoleh dari suatu komoditas
atau jasa melebihi biaya untuk memperolehnya, komoditas atau jasa ini tidak
akan dicari. Akan tetapi informasi keuangan berbeda dengan komoditas
tersebut, dimana biaya untuk mempersiapkan laporan keuangan tergantung
pihak yang mempersiapkan (perusahaan), sedangkan manfaatnya belum bisa

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

ditentukan karena tertangguhkan oleh pihak yang mempersiapkan dan


2
pengguna.

Dapat Dipahami (Understandability)

Dapat dipahami merupakan kombinasi dari karakteristik pengguna dan


karakteristik bawaan dalam informasi. Karakteristik ini menyediakan suatu
hubungan antara pembuat keputusan dengan informasi akuntansi. Agar kriteria
dalam SFAS No. 1 berguna, pembuat keputusan harus secara eksplisit
memahami informasi. Dapat dipahami dapat diklasifikasikan sebagai suatu yang
berhubungan khusus dengan pembuat keputusan (apakah pembuat keputusan
berbicara dengan bahasa ini?). Atau berhubungan dengan kelas pembuat
keputusan (apakah pengungkapan dapat dipahami oleh audience yang dituju?).

Kegunaan Keputusan (Decision Usefullness)

SFAS No.1 mengindikasikan bahwa informasi keuangan diharapkan dapat


bermanfaat untuk pengambilan keputusan. SFAS No. 1 juga menetapkan bahwa
relevansi dan keandalan adalah 2 kualitas utama yang mebuat informasi
akuntansi bermanfaat dalam pengambilan keputusan. Subjek untuk menentukan
batasan biaya-manfaat, peningkatan relevansi, peningkatan keandalan adalah
karakteristik yang membuat informasi menjadi suatu komoditas yang lebih
diinginkan-salah satunya bermanfaat dalam pengambilan keputusan.

Relevan (Relevance)

Informasi akuntansi yang relevan dapat membuat suatu perbedaan dalam


suatu keputusan dengan membantu pemakai untuk membuat prediksi mengenai
hasil kejadian di masa lalu, saat ini, dan di masa depan atau untuk memperkuat
atau mengoreksi ekspektasi sebelumnya. Informasi yang relevan memiliki nilai
prediksi, nilai umpan balik, dan ketepatan waktu.

Nilai Prediksi (Predictive Value) dan Nilai Umpan Balik (Feedback Value)

Suatu informasi dapat membuata suatu perbedaan dalam memuutuskan


dengan meningkatkan kapasitas pembuat keputusan untuk memprediksi atau
dengan memperkuat atau mengoreksi ekspekstasi awalnya. Biasanya, informasi
melakuka kedua-duanya sekaligus karena pengetahuan mengenai hasil dari
tindakan yang telah diambil secara umum akan meningkatkan kemampuan

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

pembuat keputusan untuk memprediksikan hasil dari tindakan yang sejenis di


2
masa yang akan datang.

Tepat Waktu (Timeliness)

Mendapatkan atau memiliki informasi yang tersedia sebelum informasi


tersebut kehilangan kapasitas atau kegunaannya dalam mempengaruhi
keputusan merupakan aspek yang penting dalam karakteristik relevansi. Jika
informasi tidak tersedia ketika dibutuhkan atau jika tersedia begitu lama setelah
kejadian pelaporan yang menyebabkan informasi tidak memiliki nilai untuk
tindakan di masa depan, akan mengurangi relevansinya dan sedikit bahkan tidak
digunakan. Meskipun tepat waktu sendiri tidak dapat membuat informasi
relevan, suatu kekurangan dalam ketepatan waktu dapat menyebabkan
hilangnya relevansi dari informasi yang mungkin pada sisi lain dimiliki.

Keandalan (Reliability)

Reliabilitas dari pengukuran terletak pada kejujuran/kebenaran dari yang


diwakilkan, maksud dari penyajiannya dirangkaikan dengan keyakinan dari
pengguna yang mempunyai kualitas keterwakilan. Agar berguna, informasi
haruslah relevan dan reliabilitas. Tingkat reliabilitas haruslah diakui. Hal ini
jarang sekali suatu pertanyaan mengenai hitam atau putih, akan tetapi lebih
pada lebih andal atau kurang andal. Reliabilitas bersandar pada suatu tingkat
dimana suatu deskripsi akuntansi atau pengukuran dapat diverifikasi dan
disajikan secara jujur. Netralitas informasi juga berhubungan dengan 2
komponen relibilitas tersebut untuk mempengaruhi manfaat infomasi.

Verifiabilitas and Penyajian Jujur

Verifiabilitas dapat ditunjukkan dengan derajat kesepakatan yang tinggi


dari berbagai pengukuran yang independent dengan menggunakan metode yang
sama. Sedangkan penyajian jujur mencerminkan keterkaitan dan kecocokan
antara angka-angka dalam akuntansi dengan sumber atau kejadian yang
diwakilkan oleh angka-angka tersebut. Suatu derajat kesepakatan yang tinggi,
akan tetapi, tidak menjamin bahwa suatu pengukuran akuntansi akan relevan
dengan kebutuhan pengguna jika sumber atau kejadian yang disajikan oleh
pengukuran tidak sesuai dengan tujuannya. Para sarjana sosial mendefinisikan
konsep ini sebagai validitas.

Netralitas

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

Dalam formulasi dan implementasi standar, perhatian utama adalah


1
keandalan dan relevansi yang dihasilkan, bukan pada akibat yang disebabkan
oleh peraturan baru terhadap hal-hal tertentu. Pilihan netral diantara alternatif-
alternatif akuntansi adalah bebas dari bias terhadap hasil yang diperkirakan
sebelumnya. Tujuan dari laporan keuangan adalah melayani banyak pengguna
informasi yang berbeda-beda, yang memiliki kepentingan yang berbeda, dan
tidak ada satu pun hasil yang ditentukan sebelumnya akan sesuai dengan
berbagai kepentingan tersebut.

Komparabalitas dan Konsistensi

Kegunaan suatu informasi mengenai perusahaan tertentu akan meningkat


dengan tajam bila dapat dibandingkan dengan informasi serupa dari perusahaan
lain dan dengan informasi serupa dari perusahaan yang sama untuk periode
yang berbeda atau pada suatu waktu. Komparabilitas antar perusahaan dan
konsistensi dalam penerapan metode akan meningkatkan nilai informasional dari
perbandingan kinerja atau kesempatan ekonomi relatif dari waktu ke waktu.
Keunggulan informasi, khususnya informasi kuantitaif, bergantung pada luasnya
tingkat kemampuan pengguna untuk menghubungkannya dengan beberapa
tolok ukur.

Hambatan Materialitas

Materialitas adalah konsep menyeluruh yang menghubungkan dengan


karakteristik kualitatif CFP, khususnya keandalan dan relevansi. Materialitas dan
relevansi keduanya didefinisikan dalam istilah yang memengaruhi dan membuat
perbedaan bagi pembuat keputusan, tetapi kedua istilah tersebut dapat
dibedakan. Keputusan dapat dibuat untuk tidak mengungkapkan informasi
tertentu, katakanlah, karena investor tidak memerlukan informasi semacam itu
(tidak relevan) atau karena jumlahnya terlalu kecil untuk menimbulkan
perbedaan (mereka tidak material). ........, tanpa memperhatikan hakikat dari
item tersebut dan keadaan dimana penilaian harus dibuat, pada dasarnya tidak
cukup menjadi basis untuk sebuah penilaian materialitas. Pendapat FASB pada
saat ini adalah tidak ada standar umum mengenai materialitas yang dapat
diformulasikan untuk menjelaskan semua pertimbangan yang masuk ke dalam
penilaian seorang manusia yang berpengalaman. Kriteria materialitas kuantitatif
mungkin dapat diberikan oleh Dewan dalam bentuk standar yang lebih spesifik

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

di masa yang akan datang, seperti pada masa yang lalu, sebagaimana
2
mestinya.

SFAC No.5: “Recoqnition and Measurement in Financial Statements of


Business Enterprises“ (Pengakuan dan Pengukuran dalam Laporan
Keuangan Perusahaan Bisnis)

Dalam SFAC No.5, FASB berusaha untuk memperluas lingkup pengukuran


hasil dari operasi perusahaan bisnis dengan memperkenalkan definisi dari
comprehensive income sebagai berikut:
Comprehensive income adalah perubahan dalam ekuitas (aset bersih) dari
sebuah entitas selama satu periode dari transaksi dan kejadian dan keadaan
yang berasal dari sumber non-pemilik. Mencakup semua perubahan dalam
ekuitas selama satu periode kecuali semua yang berasal dari investasi oleh
pemilik dan distribusi kepada pemilik.
Pendekatan ini mewakili usaha FASB untuk mempersatukan pendekatan
pemeliharaan modal dan pendekatan transaksi akuntansi tradisional untuk
mengukur pendapatan. Dengan pendekatan pemeliharaan modal, pendapatan
bersih didefinisikan sebagai jumlah maksimum dari sumber daya perusahaan
yang dapat didistribusikan kepada pemilik selama periode tertentu (di luar
investasi dari pemilik baru) dan dengan tetap meninggalkan perusahaan bisnis
pada akhir periode sebaik pada awal periode.
SFAC No.5 menyarankan agar laporan arus kas menggantikan laporan
atas perubahan posisi keuangan dan memberikan dorongan untuk mewajibkan
laporan arus kas Menurut SFAC No.5 sebuah set lengkap dari laporan keuangan
dalam satu periode harus menggambarkan:

1. Posisi keuangan pada akhir periode.


2. Penerimaan selama suatu periode.
3. Comprehensive income untuk periode tersebut.
4. Arus kas selama periode tersebut.
5. Investasi oleh dan distribusi kepada pemilik selama periode tersebut.

Laporan atas posisi keuangan harus menyediakan informasi mengenai


aset, kewajiban, dan ekuitas sebuah entitas dan hubungan mereka dengan satu
sama lain untuk suatu waktu. Laporan ini juga harus menggambarkan struktur
sumber daya yang dimiliki entitas-kelompok besar dan jumlah aset-dan struktur
pembiayaannya-kelompok besar dan jumlah kewajiban serta ekuitasnya.

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

Penerimaan adalah ukuran kinerja entitas selama satu periode.


2
Penerimaan mengukur tingkat dimana aliran masuk dari aset (pendapatan dan
untung) melebihi aset yang keluar. Konsep penerimaan yang ada dalam SFAC
No.5 serupa dengan pendapatan bersih untuk satu periode yang ditentukan
dengan pendekatan transaksi. Diharapkan bahwa konsep penerimaan akan
berlanjut menjadi subjek untuk proses perubahan gradual yang telah
terkarakterisasi dalam pengembangannya.
SFAC No. 5 mendefinisikan comprehensive income sebagai sebuah ukuran
yang luas dari efek transaksi dan kejadian lain pada sebuah entitas. Hal ini terdiri
dari seluruh perubahan ekuitas yang diakui dari sebuah entitas selama satu
periode dari transaksi kecuali yang berasal dari investasi oleh pemilik dan
distribusi kepada pemilik. Di bawah definisi SFAC No.5, hubungan antara
perolehan dan comprehensive income diilustrasikan sebagai berikut:

Pendapatan Perolehan
Dikurangi:beban Tambah atau kurang penyesuaian akuntansi kumulatif
Ditambah:keuntungan Tambah atau kurang perubahan ekuitas non
pemilik lainnya
Dikurangi:kerugian
= Perolehan = Comprehensive Income
Laporan arus kas harus merefleksikan baik secara langsung maupun tidak
langsung penerimaan kas sebuah entitas, diklasifikasikan berdasar sumber
utama dan pembayaran kasnya yang diklasifikasikan berdasar penggunaan
utamanya selama suatu periode. Laporan tersebut harus memasukkan informasi
aliran kas mengenai operasi, pembiayaan, dan aktivitas investasi.
Laporan mengenai investasi oleh dan distribusi kepada pemilik
mencerminkan transaski modal sebuah entitas selama satu periode. Yaitu,
mencerminkan dimana dan dengan cara apa ekuitas dari entitas meningkat atau
menurun dari transaksi dengan pemilik.
Sebagai tambahan atas permasalahan comprehensive income, SFAC No.5
menunjuk pada permasalahan pengukuran tertentu yang berhubungan erat
dengan pengakuan. Menurut SFAC No.5, sebuah item dan informasi mengenai
hal tersebut harus memenuhi empat kriteria pengakuan dan harus diakui ketika
kriteria tersebut terpenuhi (subjek atas biaya-manfaat dan hambatan
materialitas).

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

1. Definisi. Item harus memenuhi definisi sebuah elemen yang terkandung


1
dalam SFAC No.6.
2. Keterukuran. Harus memiliki ciri yang relevan, dapat diukur dengan
keandalan yang cukup.
3. Relevan. Informasi mengenai item tersebut dapat membuat perbedaan bagi
keputusan pengguna.
4. Keterandalan. Informasi tersebut bersifat jujur, dapat diverifikasi, dan netral.

Kriteria pengakuan ini konsisten dengan dan secara nyata berasal dari
SFAC No.1, 2, dan 6. SFAC No.5 menyediakan pedoman dalam mengaplikasikan
kriteria pengakuan dalam kasus tersebut ketika penerimaan perusahaan
dipengaruhi oleh keputusan pengakuan. Pedoman ini konsisten dengan doktrin
mengenai konservatisme. Dengan kata lain, pengakuan atas pendapatan dan
keuntungan didasarkan pada uji tambahan mengenai (1) direalisasi atau dapat
direalisasi dan (2) diperoleh sebelum diakui sebagai pendapatan. Pedoman untuk
mengakui beban dan kerugian tergantung baik pada konsumsi atas keuntungan
atau kerugian atas keuntungan di masa yang akan datang.
Salah satu jurang besar dalam SFAC No.5 adalah kegagalannya dalam
mendefinisikan istilah pendapatan. Lebih jauh lagi, SFAC No.5 tidak
memecahkan perdebatan antara nilai sekarang/nilai historis. Kegagalan ini
tampaknya disebabkan oleh posisi yang diambil Dewan dengan menerima
kegunaan bagi pembuatan keputusan sebagai tujuan yang berlebihan dari
laporan keuangan.
Pengembangan teori akuntansi di masa mendatang akan menggunakan
konsep yang didefinisikan dalam SFAC No.5 sebagai pedoman operasional.
Mereka harus menjadi batasan yang luas dalam pengembangan respon terhadap
masalah akuntansi yang kontroversial.

Statement of Financial Accounting Concepts No.6: “Elemen Laporan


Keuangan dari Perusahaan Bisnis”

SFAC No.6 (dibahas lebih mendalam pada Bab 5 dan 6) mendefinisikan


sepuluh elemen dari laporan keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja
dan posisi keuangan dari entitas ekonomi. Sepuluh elemen ini adalah aset,
kewajiban, ekuitas, investasi oleh pemilik, distribusi kepada pemilik, pendapatan
komprehensif, pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian-mewakili unsur-

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

unsur yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan. Definisi elemen-


2
elemen dapat digunakan untuk menentukan kandungan dari laporan keuangan.

Statement of Financial Accounting Concepts No.7: “Menggunakan


Informasi Arus Kas dan Pengukuran Akuntansi dengan Nilai Saat Ini.”

SFAC No.7 menyediakan kerangka untuk menggunakan arus kas di masa


yang akan datang sebagai dasar untuk pengukuran akuntansi pada saat
pengakuan awal aset atau fresh-start measurement dan metode bunga untuk
amortisasi. Sebagai tambahan, SFAC No.7 memberikan prinsip-prinsip umum
yang mengatur penggunaan present value, khususnya ketika jumlah arus kas di
masa mendatang, waktu, atau keduanya tidak pasti dan adanya pemahaman
umum dari tujuan present value dalam pengukuran akuntansi. SFAC No.7 tidak
mengatur permasalahan mengenai pengakuan atau menentukan kapan
pengukuran fresh-start dapat dilakukan. Kejadian dan keadaan yang
menyebabkan fresh-start measurement dipandang sebagai sesuatu yang
berbeda antara satu situasi dengan situasi yang lain. FASB berharap untuk
memutuskan apakah situasi tertentu memerlukan fresh-start measurement
dengan menggunakan dasar dari proyek ke proyek.

Pengukuran akuntansi merupakan topik yang sangat luas. Akibatnya,


FASB memfokuskan pada rangkaian pertanyaan yang relevan dengan
pengukuran dan konvensi amortisasi yang menggunakan teknik present value.
Pertanyaan diantaranya adalah:

1. Apakah tujuan dari penggunaan present value dalam pengakuan awal atas
aset dan kewajiban? Dan, apakah tujuan ini berbeda dengan pengukuran
fresh-start berikutnya atas aset dan kewajiban?
2. Apakah pengukuran kewajiban dengan present value berbeda dari
pengukuran atas aset?
3. Bagaimana seharusnya perkiraan arus kas dan tingkat bunga
dikembangkan?
4. Apakah tujuan dari present value ketika digunakan bersamaan dengan
amortisasi atas aset dan kewajiban?
5. Bagaimana seharusnya amortisasi present value digunakan ketika
perkiraan arus kas berubah?
FASB mengindikasikan bahwa tujuan dari pengukuran present value
adalah untuk menangkap perbedaan ekonomis diantara berbagai kemungkinan

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

arus kas di masa yang akan datang. Sebagai contoh, masing-masing aset berikut
2
dengan arus kas mendatang sebesar $25.000 memiliki sebuah perbedaan
ekonomis:
a. Sebuah aset dengan arus kas kontrak tetap dan tertentu jatuh tempo
dalam satu hari sebesar $25.000.
b. Sebuah aset dengan arus kas kontrak dan tertentu jatuh tempo dalam
sepuluh tahun sebesar $25.000.
c. Sebuah aset dengan arus kas kontrak tetap dan tertentu jatuh tempo
dalam satu hari sebesar $25.000. Jumlah aktual yang diterima mungkin
lebih kecil tetapi tidak lebih dari $25.000.
d. Sebuah aset dengan arus kas kontrak tetap dan tertentu jatuh tempo
dalam sepuluh tahun sebesar $25.000. Jumlah aktual yang diterima
mungkin lebih kecil tetapi tidak lebih dari $25.000.
e. Sebuah aset dengan arus kas yang diharapkan sebesar $25.000 dalam
sepuluh tahun dengan jangkauan antara $20.000 sampai $30.000.
Aset-aset ini dibedakan satu sama lain oleh waktu dan ketidakpastian atas
arus kas di masa yang akan datang. Pengukuran berdasarkan arus kas yang
tidak didiskonto akan menghasilkan pencatatan atas masing-masing aset
dengan jumlah yang sama. Karena secara ekonomis mereka berbeda, present
value yang diharapkan akan berbeda. Pengukuran present value yang secara
menyeluruh menangkap perbedaan ekonomis diantara kelima aset harus
mengandung elemen-elemen berikut:
a. Perkiraan atas arus kas di masa mendatang.
b. Harapan atas variasi waktu untuk arus kas-arus kas tersebut.
c. Nilai waktu uang yang diwakili oleh tingkat bunga bebas risiko.
d. Harga untuk menanggung ketidakpastian.
e. Lainnya, terkadang faktor-faktor termasuk likuiditas dan
ketidaksempurnaan pasar yang tidak dapat diidentifikasi.

Dua pendekatan atas present value dibahas dalam SFAC No.7:

– Tradisional. Arus kas single dan tingkat bunga single seperti pada
obligasi 12% yang jatuh tempo dalam sepuluh tahun. Kasus a dan b
diatas adalah contoh penggunaan pendekatan tradisional.
– Arus kas yang diharapkan. Jangkauan arus kas yang mungkin dengan
jangkauan kemungkinan. Kasus c,d, dan e di atas adalah contoh dari
pendekatan arus kas yang diharapkan.

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

1
Untuk memberi ilustrasi lebih jauh tentang pendekatan arus kas yang
diharapkan, anggaplah bahwa sebuah bisnis berhadapan dengan kewajiban yang
harus diukur. Tidak ada pasar yang menyediakan informasi tentang harga untuk
kewajiban yang dapat diperbandingkan. Pembayaran yang paling mungkin
sebesar $2 juta dalam sepuluh tahun. Tetapi, dengan “skenario paling baik”
kewajiban dapat diselesaikan dengan $1 juta dalam lima tahun dan dengan
“skenario paling buruk” perusahaan mungkin harus membayar $50 juta dalam
25 tahun. Asumsi bahwa tingkat diskonto bebas risiko sebesar 5% dan kurva
hasil rata, penghitungan present value dengan probabilitas yang tidak diketahui
adalah:

Tahu
n Jumlah PV

Kasus terbaik 5 $ 1.000.000 $ 783.526


Paling mungkin 10 $ 2.000.000 $ 1.227.826
Kasus terburuk 25 $ 50.000.000 $ 2.953.028
$ 4.964.380
Dibagi 3 $ 1.654.794

Bagaimanapun, fakta bahwa tiga kasus tersebut memiliki kemungkinan


yang sama adalah berlawanan dengan intuisi. Asumsi bahwa manajemen telah
memperkirakan bahwa kasus yang paling mungkin sebesar dua kalinya adalah
kasus dengan skenario terbaik dan kasus dengan skenario terburuk hanyalah
sepertiga dari skenario terbaik. Perkiraan ini menghasilkan probabilitas sebesar
30, 60, dan 10 persen, secara berurutan, untuk yang paling baik, yang paling
mungkin, dan paling buruk. Dengan memasukkan probabilitas ini ke dalam
analisis menghasilkan present value yang diharapkan:

Tahu
n PV P Ekstensi

5 $ 783.526 0,3 $ 235.058


10 $ 1.227.826 0,6 $ 736.696
25 $ 2.953.028 0,1 $ 295.303
Pesent value yang diharapkan $ 1.267.057

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

3
Harus ditekankan bahwa probabilitas hasil secara signifikan
mempengaruhi present value yang diharapkan, dan mengalokasikan probabilitas
yang berbeda pada tiga hasil yang mungkin akan menghasilkan present value
diharapkan yang berbeda-beda. Dalam contoh sebelumnya, bila kita mengubah
probabilitas menjadi 35 persen, 45 persen, dan 20 persen, akan dihasilkan
present value diharapkan sebesar $1.060.567.

Tujuannya adalah untuk mengestimasi nilai aset yang diperlukan saat ini
untuk menyelesaikan kewajiban pada pemegang atau memindahkan kewajiban
kepada sebuah entitas yang memiliki posisi kredit yang dapat dibandingkan.
Untuk mengestimasi nilai wajar dari note payable atau obligasi, diperlukan
estimasi harga dimana entitas lain akan bersedia mengambil alih kewajiban
tersebut menjadi asetnya. Contohnya, kemajuan dari pinjaman adalah harga
yang dibayar oleh seorang pemberi pinjaman untuk memperoleh arus kas
mendatang dari aset yang dijanjikan oleh peminjam, atau nilai dari obligasi
adalah harga sekuritas yang diperdagangkan di pasar. Di lain pihak, beberapa
kewajiban merupakan hutang kepada individu-individu yang tidak terbiasa
menjual hak mereka seperti mereka menjual asetnya. Contohnya, entitas
mungkin menjual produk dengan dilengkapi jaminan. Dalam mengestimasi nilai
wajar dari kewajiban semacam itu, diperlukan estimasi atas harga dimana
perusahaan bersedia membayar pihak ketiga untuk mengambil alih kewajiban.
(perhatikan bahwa hal ini akan mencakup syarat-syarat dari keuntungan.)

Ukuran yang paling relevan dari kewajiban harus memasukkan posisi


kredit yang wajib dibayar oleh entitas. Ketika kewajiban terjadi dalam pertukaran
dengan kas, peran dari posisi kredit mudah untuk ditentukan,sehingga sebuah
perusahaan dengan posisi kredit yang kuat akan menerima lebih banyak kas
dibandingkan dengan entitas dengan posisi kredit yang lemah. Contohnya, jika
dua buah entitas berjanji untuk membayar $500 dalam lima tahun, entitas
dengan posisi kredit kuat akan memperoleh $374 (asumsi tingkat bunga sebesar
6 persen), sementara entitas dengan posisi kredit lemah hanya akan
memperoleh sekitar $284 (asumsi tingkat bunga 12 persen). Efek dari posisi
kredit dalam pengukuran kewajiban entitas biasanya tertangkap dalam
penyesuaian tingkat bunga, yang mirip dengan pendekatan tradisional yang
memasukkan risiko dan ketidakpastian dalam pengukuran arus kas. Pendekatan
ini sesuai dengan kewajiban arus kas kontraktual, tetapi pendekatan arus kas

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

yang diharapkan mungkin lebih efektif ketika mengukur efek dari posisi kredit
2
pada kewajiban lain. Contohnya, kewajiban mungkin memberi entitas dengan
jangkauan kemungkinan arus kas keluar mulai dari yang paling rendah sampai
dengan jumlah tertinggi. Hanya ada sedikit kemungkinan gagal bayar apabila
jumlahnya rendah, tetapi kemungkinan tinggi bila jumlahnya juga tinggi. Dalam
situasi demikian akibat dari posisi kredit mungkin lebih efektif dimasukan
kedalam perhitungan arus kas diharapkan.

FASB mencatat bahwa tujuan dari semua alokasi akuntansi adalah untuk
melaporkan perubahan dalam nilai, penggunaan, atau substansi dari aset dan
kewajiban dari waktu ke waktu. Alokasi akuntansi berusaha untuk
menghubungkan perubahan dari nilai aset atau kewajiban yang dicatat dengan
beberapa fenomena dunia nyata yang dapat diobservasi. Contohnya, depresiasi
garis lurus menghubungkan perubahan tersebut dengan masa manfaat yang
diestimasi atas suatu aset. Alokasi dengan metode bunga mengasosiasikan
perubahan jumlah yang dicatat dengan perubahan present value dari set arus
kas masuk atau keluar di masa yang akan datang. Di bawah GAAP saat ini,
alokasi metode bunga dianggap lebih relevan dibanding metode lain ketika
diterapkan pada aset yang mengandung satu atau lebih karakteristik sebagai
berikut:

a. Transaksi yang memberikan kenaikan pada aset atau kewajiban


melibatkan peminjaman atau pemberian pinjaman.
b. Set tertentu dari perkiraan arus kas di masa mendatang berhubungan erat
dengan aset atau kewajiban.
c. Pengukuran pada pengakuan awal didasarkan pada present value.

Perubahan perkiraan awal dari arus kas, baik untuk waktu maupun jumlah,
dapat dikomodasikan dalam skema amortisasi bunga atau dimasukkan ke dalam
pengukuran fresh-start atas aset atau kewajiban. Bila jumlah atau waktu
perkiraan arus kas berubah dan item tersebut tidak dihitung ulang, skema
amortisasi bunga harus dimodifikasi untuk mengintegrasikan perkiraan arus kas
baru. FASB mencatat bahwa metode berikut telah digunakan untuk memasukkan
perubahan atas perkiraan arus kas:
– Prospective. Menghitung tingkat bunga efektif yang baru berdasar
pada arus kas masa medatang.

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

– Catch-up. Menyesuaikan jumlah bawaan menjadi present value dari


1
arus kas yang diperbarui.
– Retrospective. Menghitung tingkat bunga yang baru berdasar arus kas
pada tanggal tersebut dan arus kas diharapkan.

FASB menyatakan preferensinya terhadap metode catch-up ketika


mencatat perubahan atas perkiraan arus kas masa yang akan datang karena hal
tersebut konsisten dengan pendekatan present value. Bila kondisi berubah,
perubahan dalam estimasi akan dicatat dan informasi baru akan dimasukkan.

Standar Akuntansi Berdasar Prinsip Versus Berdasar Peraturan

Pada awal 2000an, FASB mencatat adanya ekspresi keprihatinan


mengenai kualitas dan transparansi informasi akuntansi. Salah satu perhatian
utama adalah meningkatnya kompleksitas dari standar FASB. Dewan
menyimpulkan bahwa banyak detil dan kompleksitas diasosiasikan dengan
standar akuntansi adalah hasil dari pedoman implementasi yang diarahkan oleh
peraturan, yang membiarkan “ rekayasa akuntansi “ keluar dari peraturan.
Contohnya, SFAS No.13, “Akuntansi untuk Lease,” mengidentifikasikan empat
kriteria yang tidak boleh dilanggar bila lease akan dicatat sebagai sebuah lease
operasi. Akibatnya, perusahaan leasing dan lessee prospektif berusaha untuk
membuat kontrak lease sedemikian rupa sehingga tidak akan melanggar
kriteria-kriteria tersebut. FASB memberikan banyak karakteristik kompleksitas
untuk pengecualian sampai bentuk-bentuk prinsip dalam standar serta pedoman
interpretasi dan implementasi.

Sebagai tambahan, FASB mencatat bahwa Kerangka Kerja Konseptualnya


belum menyediakan semua alat-alat penting untuk memecahkan masalah
akuntansi. Kekurangan ini melekat pada fakta bahwa aspek-aspek tertentu dari
Kerangka Kerja Konseptual secara internal tidak konsisten dan tidak lengkap.
Hasilnya, Dewan mempertimbangkan keperluan untuk mengembangkan sebuah
kerangka kerja pelaporan yang menyeluruh serupa dengan International
Accounting Standard No.1 (Dibahas pada Bab 3). Kerangka kerja semacam itu
akan menyediakan pedoman bagi masalah-masalah seperti pertimbangan
mengenai materialitas, keberlanjutan, penilaian professional, konsistensi, dan
komparabilitas. Kerangka tersebut juga membiarkan sedikit, bila ada,
pengecualian dan pedoman implementasi yang lebih sedikit.

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

Untuk menggambarkan perbedaan antara standar berdasar peraturan dan


2
standar berdasar prinsip, proses penetapan standar dapat dipandang sebagai
jangkauan variasi mulai dari standar yang paling kaku di satu ujung sampai pada
definisi umum dari konsep berdasar ekonomis di ujung yang lain. Contohnya,
mengenai goodwill sebagai aset tidak nyata. Contoh dari variasi yang paling
kaku adalah praktik yang sebelumnya dapat diterima yaitu:

Goodwill diamortisasi selama 40 tahun sampai teramortisasi


secara penuh.

Persyaratan ini tidak meninggalkan ruang untuk penilaian atau


ketidaksetujuan jumlah beban amortisasi yang harus diakui. Komparabilitas dan
konsistensi antar perusahaan dan waktu dipastikan secara jujur di bawah
peraturan semacam itu. Tetapi, persyaratan tersebut mengurangi relevansi
karena hal tersebut tidak merefleksikan sifat ekonomis yang mendasari entitas
pelaporan, dimana hal tersebut dapat berbeda di antara perusahaan-perusahaan
dan waktu.

Pada ujung berlawanan dari variasi tersebut adalah aturan baru FASB
yaitu:

Goodwill tidak diamortisasi. Semua goodwill yang dicatat harus


diuji atas impairment dan bila impair, harus dicatat berdasarkan nilai
sekarang dengan dasar tahunan.

Persyaratan ini memerlukan aplikasi penilaian dan keahlian dari


manajemen dan auditor. Tujuannya adalah untuk mencatat penurunan nilai aset,
yaitu goodwill.

Komite mendaftar karakterisitik yang harus dimiliki standar berdasar


konsep:
1. Dalam standar berdasar konsep, substansi ekonomi, bukan bentuknya,
dari semua transaksi harus mengarahkan laporan keuangannya
2. Standar berdasar konsep harus mencakup deskripsi atas transaksi
tertentu yang merupakan subjek dari standar.
3. Standar berdasar konsep harus mencakup sebuah diskusi umum
mengenai pemetaan antara sifat ekonomis transaksi dan laporan
keuangan dengan menggunakan Kerangka Kerja Konseptual

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

4. Standar berdasar konsep mungkin mengandung pedoman implementasi,


1
kebanyakan dalam bentuk contoh-contoh yang mengilustrasikan aplikasi
dari prinsip umum standar sampai transaksi yang umum tercakup dalam
standar.
5. Dalam konsep berdasar standar, Dewan harus berhati-hati untuk
membuat sebuah “nama” untuk konsep, walaupun “nama” tersebut
meningkatkan kemudahan standar untuk dibaca.
6. Standar berdasar konsep harus memasukkan persyaratan pengungkapan
yang berhubungan dengan deskripsi ekonomi dari transaksi yang
dilaporkan, asumsi yang dibuat untuk pelaporan, dan informasi
pendukung yang akan memfasilitasi pemahaman baik ekonomis maupun
pelaporannya.
Diluar kekuatan argumen ini, tidak semua akuntan setuju bahwa standar
FASB secara ekstrim didasarkan pada peraturan. Sebagai contoh, Katherine
Schipper, seorang profesor akuntansi dan anggota FASB pada saat itu,
menyatakan: “Standar laporan keuangan AS secara umum berdasar pada
prinsip, yang berasal dari Kerangka Kerja Konseptual FASB, tetapi mereka juga
mengandung elemen-elemen-seperti lingkup dan pengecualian perlakuan dan
pedoman implementasi mendetil-yang membuat mereka juga tampak seperti
berdasarkan peraturan”
Pada 2003, staf SEC menyerahkan kepada kongres sebuah studi yang
menyangkut masalah ini, termasuk rekomendasi kepada FASB sebagai berikut:
1. FASB harus menerbitkan standar yang berorientasi tujuan.
2. FASB harus menangani kekurangan-kekurangan dalam kerangka kerja
konseptual.
3. FASB harus menjadi satu-satunya organisasi yang menetapkan
pedoman akuntansi otoritatif di Amerika Serikat.
4. FASB harus meneruskan usaha konvergensinya.
5. FASB harus berusaha untuk mendefinisikan kembali hirarki pada GAAP.
6. FASB harus meningkatkan akses pada literatur yang dapat diandalkan.
7. FASB harus melakukan review menyeluruh terhadap literatur-
literaturnya untuk mengidentifikasi standar yang lebih berdasar
peraturan dan mengadopsi rencana transisi untuk mengubah standar-
standar tersebut.

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

Pada Juli 2004 FASB memberikan respon terhadap rekomendasi yang ada
1
dalam studi dan mencatat bahwa beberapa rekomendasinya telah diterapkan
dan bahwa Dewan telah mendiskusikan komentar-komentar dan mamutuskan
untuk memberikan respon spesifik yang diringkas dalam paragraf berikut:
a. Menerbitkan Standar Berorientasi Tujuan
Dewan menyimpulkan bahwa perlu dilakukan perbaikan atas kerangka
kerja konseptualnya. Dewan juga bersepakat dengan SEC bahwa tujuan
dari standar-standarnya harus didefinisikan dengan lebih jelas,
pedoman implementasi perlu diperbaiki, pengecualian ruang lingkup
harus dikurangi, dan pendekatan aset-kewajiban pada penetapan
standar harus dipertahankan
b. Kerangka Kerja Konseptual
Dewan mencatat bahwa terdapat beberapa proyek yang sedang
berjalan dalam agendanya dan memfokuskan bagaimana pertukaran
antara relevansi, keandalan, dan komparabilitas harus dilaksanakan.
Proyek ini juga memfokuskan pada inkonsistensi antara proses
penerimaan seperti ditemukan pada SFAC No.5 dan definisi elemen-
elemen dalam laporan keuangan seperti yang ditemukan pada SFAC
No.6
c. Satu Penentu Standar AS
FASB telah bertindak menjadi satu-satunya yang ditunjuk sebagai
penentu standar di Amerika Serikat melalui persetujuan yang dicapai
dengan AICPA untuk memberikan FASB kendali langsung atas proses
penetapan standar. FASB juga bertindak untuk mewajibkan semua
keputusan EITF agar diratifikasi terlebih dahulu oleh FASB sebelum
menjadi efektif

Principle Based versus Rules-Based Accounting Standards


Sejak awal tahun 2000-an FASB mencatat adanya perhatian yang lebih
pada kualitas dan transaparansi informasi akuntansi. salah satunya mengenai
makin kompleksnya standard FASB. Hal ini merupakan hasil dari penyimpangan
implementasi pedoman yang memperbolehkan terjadinya “rekayasa akuntansi
(accounting engineering) sehingga perusahaan mengelak dari maksud awal
ditetapkannya standar.
Sebagai tambahan, FASB menganggap bahwa kerangka dasar tidak
menyediakan semua alat yang digunakan untuk mengatasi masalah ini,

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

penurunan ini membuktikan bahwa kerangka dasar tidak konsisten dan tidak
2
komplet secara internal. Untuk itu, dewan mempertimbangkan lagi
pengembangan konsep dasar sebagai pedoman.
Komite dari AAA telah mengidentifikasi karakteristik dari concepts-based
standard sebagai berikut:
1. Dalam concepts-based standard, subtansi ekonomi, bukan bentuk, dari suatu
transaksi harus menjadi pedoman dalam pelaporan keuangan.
2. A concepts-based standard harus menyertakan deskripsi dari transaksi yang
menjadi subjek standard.
3. A concepts-based standard harus menyertakan diskusi umum tentang
pemetaan antara transaksi ekonomi dengan pelaporan keuangan.
4. A concepts-based standard harus menyertakan pedoman implementasinya.
5. A concepts-based standard harus berhati-hati dalam pemberian nama
standard
6. A concepts-based standard harus menyertakan pengungkapan yang
diperlukan dalam hubungannya dengan deskripsi ekonomi dari transaksi
yang dilaporkan.
International Convergence
Sejak tahun 2002 FASB dan IASB telah berkomitmen untuk
mengembangkan standar akuntansi yang berkualitas tinggi dan kompatibel
sehingga dapat digunakan di dalam negeri dan di negara lain. Kesepakatan
pertama adalah membuat laporan keuangan yang telah ada kompatibel dan
dapat digunakan secepatnya serta yang kedua adalah menjaga supaya tetap
kompatibel.
Dewan membagi proyek tersebut dalam 8 fase yaitu :
1. Objective and Qualitiative characteristic (sasaran dan karakteristik kualitatif)
2. Element and Recognition (unsur dan pengakuan)
3. Measurement (pengukuran)
4. Reporting entity (entitas pelaporan)
5. Presentation and disclosure (penyajian dan pengungkapan)
6. Framework purpose (tujuan kerangka)
7. Applicability to the not-for-profit sector (kemampuan untuk dipakai dalam
organisasi nirlaba)
8. Remaining.

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

The FASB-IASB Financial Statement Presentation Project (Proyek


1
Penyajian Laporan Keuangan FASB-IASB)
Pada tahun 2004 FASB dan IASB memutuskan untuk mengkombinasikan
proyek pelaporan dan pengklasifikasian atas revenue, expense, gains dan
losses. Proyek ini dilaksanakan peningkatan standard dalam penyajian informasi
laporan keuangan, termasuk dalam klasifikasi, penyajian item-item, dan
penyatuan item-item pada subtotal dan total. Tujuannya adalah untuk
meningkatkan kemampuan investor, kreditor dan pengguna lainnya untuk:
1. Pemahaman atas posisi keuangan entitas di masa sekarang dan masa
lampau.
2. Pemahaman ata operasi, pembiayaan dan aktivitas lainnya di masa lalu yang
mengakibatkan perubahan posisi keuangan.
3. Penggunaan informasi dalam laporan keuangan bersama-sama dengan
sumber informasi lainnya.
Proyek ini terbagi dalam 3 fase:

Fase A
Dalam fase ini dibahas terdiri dari bagian apa saja sebuah laporan
keuangan yang komplit serta persyaratan yang diperlukan untuk menyajikan
informasi yang dapat dibandingkan. IASB telah menerbitkan Draft Pembukaan
pada Maret 2006 berkaitan dengan fase A ini yang antara lain menarik
kesimpulan bahwa laporan keuangan yang komplit terdiri dari laporan posisi
keuangan pada awal dan akhir periode; laporan laba dan comprehensive income;
laporan arus kas; dan laporan perubahan ekuitas.

Fase B
Fase ini lebih menitikberatkan isu penyajian laporan keuangan pada
bagian muka atau bentuk laporan keuangan meliputi penyatuan atau pemisahan
informasi laporan keuangan; pendefinisian total dan
subtotal;mempertimbangkan kembali atas SFAS no 95 tentang laporan arus kas.
Dalam fase ini setiap laporan keuangan akan terklasifikasi dalam 2 fungsi
primer yaitu:
1. Business, yang selanjutnya dibagi menjadi fungsi operasi dan investasi
2. Financing (pembiayaan) yang selanjutnya dibagi menjadi financing
(pembiayaan), treasury dan equity.

Bab 2 Teori Akuntansi


The Pursuit of the Conceptual Framework

Pengklasifikasian ini merupakan suatu upaya untuk membantu pengguna


2
laporan keuangan untuk membedakan entity’s value creating dan aktivitas
pembiayaan
Fase C
Fase ini menitikberatkan pada penyajian laporan keuangan interim yang
meliputi laporan keuangan yang mana yang akan disajikan dalam laporan
keuangan interim; apakah penyajiannya dapat disajikan dalam bentuk ringkas;
periode komparatif yang mana yang akan dimasukkan dalam laporan keuangan
interim serta apakah terdapat perbedaan pedoman antara perusahaan publik
maupun perusahaan non publik.

Bab 2 Teori Akuntansi