Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Semakin banyak orang yang melakukan olahraga rekreasional dapat
mendorong dirinya sendiri diluar batas kondisi fisiknya dan terjadi lah cedera
olahraga. Cedera terhadap sistem mukoluskletal dapat bersifat akut (sprain,
strain, dislokasi, fraktur) atau sebagai akibat penggunaan berlebihan secara
bertahap (kondromalasia, tendinitis, fraktur sterss). Atlet profesional juga
rentan terhadap cedera, meskipun latihan mereka disupervisi ketat untuk
meminimalkan terjadinya cedera. Namun sering kali atlet tersebut juga dapat
mengalami cedera muskoluskletal, salah satunya adalah sprain.
Sprain atau keseleo merupakan cedera umum yang dapat menyerang
siapa saja, tetapi lebih mungkin terjadi pada individu yang terlibat dengan
olahraga, aktivitas berulang, dan kegiatan dengan resiko tinggi untuk
kecelakaan. Ketika terluka ligamen, otot atau tendon mungkin rusak, atau
terkilir yang mengacu pada ligamen yang cedera, ligamen adalah pita sedikit
elastis jaringan yang menghubungkan tulang pada sendi, menjaga tulang
ditempat sementara memungkinkan gerakan. Dalam kondisi ini, satu atau
lebih ligamen yang diregangkan atau robek. Gejalanya meliputi nyeri,
bengkak, memar, dan tidak mampu bergerak.
Olahraga bola voli adalah salah satu olahraga yang banyak dimainkan
didunia. Olahraga ini merupakan olahraga tanpa kontak fisik langsung antar
lawan bermain karena kedua tim dipisahkan oleh net. Walaupun olahraga ini
tidak berkontak fisik langsung, cedera pada olahraga bola voli menempati
urutan ke 8 dari olahraga Olympic lainnya dengan rata - rata usia cedera pada
pemainnya berkisar antara 14 - 20 tahun. Dari data epidemiologi didapatkan
insiden cedera pada pemain bola voli terjadi 3,5 kejadian /1000 jam saat
pertandingan dan 1,5 kejadian /1000 jam saat latihan. National Collegiate
Athletic Asssociation's (NCAA) Injury Surveillance System (ISS) menyatakan
cedera pergelangan kaki akut merupakan cedera terbanyak yang mengenai
pemain bola voli indoor wanita diikuti dengan cedera lutut, bahu dan
pinggang. Sedangkan pada penelitian lain didapatkan persentase cedera pada
pemain bola voli terbanyak mengenai pergelangan kaki (23,03%), lutut
(21,91%),

bahu

(11,79%),

punggung

(10,67%)

Hamstring

(9,55%),

selangkangan (6,74%), jari (6,17%), tangan (3,93%) dan lain-lain (5,61%).

Penelitian yang dilakukan Dini Widyati di Surabaya menyebutkan


cedera kaki merupakan cedera kedua terbanyak pada pemain bolavoli wanita
dengan persentase cedera berdasarkan lokasinya yaitu lutut (30%), kaki
(26%), jari (24%) dan bahu (20%). Di Kota Semarang olahraga bola voli
termasuk olahraga yang banyak diminati, terbukti dengan terdapatnya 15 klub
bola voli. Pada penelitian pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di klub
bola voli putri Taruna Merah Putih, didapatkan bahwa dari 14 pemain voli
yang berusia 11-18 tahun 12 orang pernah mengalami sprain pergelangan kaki
atau biasa disebut juga sebagai keseleo. Angka kejadian sprain pergelangan
kaki yang cukup tinggi tersebut mendorong penulis untuk melakukan asuhan
keperawatan mengenai sprain.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana anatomi dan fisiologi sprain?
b. Apa penyebab terjadinya sprain?
c. Apa tanda dan gejala sprain?
d. Menjelaskan klasifikasi sprain?
e. Menjelaskan patofisiologi sprain?
f. Menjelaskan manifestasi klinis sprain?
g. Menjelaskan pemeriksaan penunjang sprain?
h. Menjelaskan penatalaksanaan sprain?
i. Menjelaskan komplikasi sprain?
j. Menjelaskan pencegahan sprain?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan Umum
Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan trauma musculoskeletal
khususnya sprain
Tujuan Khusus
Untuk mengidentifikasi pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi,
klasifikasi, komplikasi, penatalaksanaan, pencegahan, dan pemeriksaan
penunjang tentang sprain.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Anatomi
Ligamen adalah jaringan ikat yang berbentuk pita mempertemukan
kedua ujung tulang pada sendi. Ligamen membungkus tulang dengan tulang
yang diikat oleh sendi. Beberapa tipe ligamen :

a. Ligamen Tipis Ligamen pembungkus tulang dan kartilago. Merupakan


ligament kolateral yang ada di siku dan lutut. Ligamen ini
memungkinkan terjadinya pergerakan.
b. Ligamen jaringan elastik kuning.Merupakan ligamen yang dipererat
oleh jaringan yang membungkus danmemperkuat sendi, seperti pada
tulang bahu dengan tulang lengan atas.
Ligamen berfungsi untuk menyangga dan menguatkan sendi. Sendi
adalah tempat dua tulang atau lebih yang saling berhubungan, dapat terjadi
pergerakan atau tidak (Drs.H.Syaifuddin,AMK dalam anatomi fisiologi edisi 4
hal 112).

Sendi adalah hubungan antara dua tulang yang memungkinkan


pergerakan (Smeltzer,2002).
Sendi adalah hubungan atau pertemuan dua buah tulang atau lebih
yang memungkinkan pergerakan satu sama lain maupun yang tidak dapat
bergerak satu sama lain (Lukman Nurna Ningsih dalam askep musculoskeletal
hal 5). Klasifikasi :
a. Menurut permukaannya
Sendi pelana. Sendi ini permukaannya hamper datar yang

memungkinkan tulang saling bergeser


Sendi engsel. Mirip engsel pintu sehingga memungkinkan gerakan

fleksi dan ekstensi


Sendi kondiloid. Permukaan sendi berbentuk konveks yang nyata
dan bersendi dengan permukaan yang konkaf, seperti sendi engsel

tapi bergerak dengan 2 bidang dan 4 arah


Sendi ellipsoid. Permukaan sendi berbentuk konveks elips
Sendi peluru. Kepala sendi berbentuk bola, pada salah satu tulang
cocok dengan lekuk sendi yang berbentuk seperti soket.

Sendi pasak. Pada sendi ini terdapat pasak dikelilingi cincin

ligamentum bertulang.
Sendi pelanan. Berbentuk pelanan kuda, dapat melakukan gerakan

yang dapat memberikan banyak kebebasan untuk bergerak.


b. Menurut pergerakannya
Sendi fibrus (sinartrosis) adalah sendi yang tidak bergerak sama

sekali.
Sendi amfiartrosis adalah suatu sendi pergerakannya sedikit sekali
karena komponen sendi tidak cukup dan permukaan dilapisi oleh

bahan yang memungkinkan pergerakan sendi sedikit.


Sendi diartrosis (sendi synovial) adalah sendi dengan pergerakan

bebas.
c. Menurut tempatnya
Persendian tungkai bawah. Persendian antara tibia dan fibula :

Artikulasio tibia-fibula proksimal yaitu sendi yang terdapat antara


fascies artikularis kapitulum fibula ossis pada kondilus dengan
fascies artikularis fibularis ossis pada kondilus tibia, ikat sendi

ligamentum tibia fibularis proksimal.


Sindesmosis tibia fibularis yaitu persendian fascies artikularis tibia

ossis fibulae dan insisura fibularis ossis tibialis.


Hubungan antara Krista interosea fibula dan trista interosea tibia,
terbentang melalui membrane interrosa kruris yang terbentang
dari proksimalis dibawah kolum fibulae ke distal sampai batas 1/3
distal os tibia dan fibula. Arah serabut membrane unterosa kruris
dari medial atas ostibia kerateral bawah menuju os fibula.
2.2 Definisi
Sprain atau keseleo merupakan keadaan ruptura total atau parsial pada
ligamen penyangga yang mengelilingi sebuah sendi. Biasanya kondisi ini
terjadi sesudah gerakan memuntuir yang tajam (Kowalak, 2011).
Sprain adalah cedera struktur ligamen di sekitar sendi, akibat gerakan
menjepit atau memutar.(Brunner & Suddarth. 2001. KMB. Edisi 8. Vol3.hal
2355. Jakarta:EGC)

Sprainadalah teregangnya atau robeknya ligamen (yaitu jaringan ikat


yang menghubungkan dua atau lebih tulang dalam sebuah sendi). Sprain dapat
disebabkan oleh jatuh, terpelintir, atau tekanan pada tubuh yang menyebabkan
tulang pada sendi bergeser sehingga menyebabkan ligamen teregang atau
bahkan robek. Biasanya, sprain terjadi pada keadaan seperti saat orang terjatuh
dengan bertumpu pada tangan. (kapita selekta kedokteran 2000.)
Sprain adalah cedera pada sendi, dengan terjadinya robekan pada
ligamentum, hal ini terjadi karena stress berlebihan yang mendadak atau
penggunaan berlebihan yang berulang-ulang dari sendi. (Giam & Teh, 1993)
Dari keempat pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa sprain adalah
cedera struktural ligamen akibat tenaga yang di berikan ke sendi abnormal,
yang juga merupakan keadaan ruptura total atau parsial pada ligamen.

2.3 Etiologi
Beberapa faktor sebagai penyebab sprain :
1. Umur
Faktor umur sangat menentukan karena mempengaruhi kekuatan serta
kekenyalan jaringan. Misalnya pada umur tiga puluh sampai empat puluh
tahun kekuatan otot akan relative menurun. Elastisitas tendon dan ligamen
menurun pada usia tiga puluh tahun.
2. Terjatuh atau kecelakan

Sprain dapat terjadi apabila terjadi kecelakan atau terjatuh sehingga


jaringan ligamen mengalami sprain.
3. Pukulan
Sprain dapat terjadi apabila mendapat pukulan pada bagian sendi dan
menyebabkan sprain.
4. Tidak melakukan pemanasan
Pada atlet olahraga sering terjadi sprain karena kurangnya pemanasan.
Dengan melakukan pemanasan otot-otot akan menjadi lebih lentur.
Menurut Kowalak (2011), etiologi keseleo meliputi :
1. Pemuntiran mendadak dengan tenaga yang lebih kuat daripada kekuatan
ligamen dengan menimbulkan gerakan sendi diluar kisaran gerak (RPS)
normal
2. Fraktur atau dislokasi yang terjadi secara bersamaan
3. Faktor Risiko
Riwayat keseleo sebelumnya (faktor risiko yang paling sering)
Gangguan pada jaringan ikat
Kaki Cavovarus
2.4 Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala mungkin timbul karena sprain meliputi :
a. Nyeri lokal (khususnya pada saat menggerakkan sendi)
b. Pembengkakan dan rasa hangat akibat inflamasi
c. Gangguan mobilitas akibat rasa nyeri (yang baru terjadi beberapa jam
setelah cedera)
d. Perubahan warna kulit akibat ekstravasasi darah ke dalam jaringan
e.
f.
g.
h.

sekitarnya.
Sama dengan strain (kram) tetapi lebih parah
Edema, perdarahan dan perubahan warna yang lebih nyata.
Ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot dan tendon.
Tidak dapat menyangga beban, nyeri lebih hebat dan konstan.

2.5 Klasifikasi
Menurut Marilynn. J & Lee. J. 2011. Seri Panduan Praktis
Keperawatan Klinis. Hal 124. Jakarta : Erlangga
a. Sprain derajat I (kerusakan minimal)

Nyeri tanpa pembengkakan, tidak ada memar, kisaran pembengkakan aktif


dan pasif, menimbulkan nyeri, prognosis baik tanpa adanya kemungkinan
instabilitas atau gangguan fungsi.
b. Sprain derajat II (kerusakan sedang)
Pembengkakan sedang dan memar, sangat nyeri, dengan nyeri tekan yang
lebih menyebar dibandingkan derajat I. Kisaran pergerakan sangat nyeri
dan tertahan, sendi mungkin tidak stabil, dan mungkin menimbulkan
gangguan fungsi.
c. Sprain derajat III (kerusakan kompit pada ligamen)
Pembengkakan

hebat

dan

memar,

instabilitas

stuktural

dengan

peningkatan kirasan gerak yang abnormal (akibat putusnya ligamen), nyeri


pada kisaran pergerakan pasif mungkin kurang dibandingkan derajat yang
lebihh rendah (serabut saraf sudah benar-benar rusak). Hilangnya fungsi
yang signifikan yang mungkin membutuhkan pembedahan untuk
mengembalikan fungsinya.

2.6 Patofisiologi
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung
(impact) atau tidak langsung (overloading). Cedera ini terjadi akibat otot
tertarik pada arah yang salah,kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi
kontraksi ,otot belum siap,terjadi pada bagian groin muscles (otot pada kunci
paha),hamstring (otot paha bagian bawah),dan otot guadriceps. Fleksibilitas
otot yang baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera memar dan
membengkak.
Moscule strain atau tarikan otot atau robekan otot yang dapat
menyebabkan kerusakan otot atau tendo bisa disebabkan aktivitas harian,
Wujud kerusakan otot dapat berupa robekan sebagian atau keseluruhan otot
atau tendo serta kerusakan pada pembuluh darah kecil,akan menyebabkan
perdarahan lokal(memar)dan rasa nyeri akibat ujung saraf di lokasi trauma

2.7 Proses penyembuhan Luka


Pada saat tubuh mengalami kerusakan jaringan atau luka maka akan
terjadi peradangan yang ditandai dengan nyeri, bengkak, panas kemerahan dan
gangguan fungsi. Hal ini perlu diuraikan sehubungan dengan patofisiologi dan
penggunaan ultrasound.

Adapun fase-fase penyembuhan luka secara

fisiologis adalah sebagai berikut:


1. Fase Perdarahan
Fase perdarahan adalah fase yang terjadi antara 20 - 30 menit infiltrasi
fibrin mengubah perdarahan menjadi hematoma setelah terjadi trauma.
Pada fase tahap ini perdarahan berhenti setelah dikeluarkan fibrin untuk
menutupi luka. Pada fase ini ditandai dengan keluarnya hematoma dan
keluarnya zat - zat iritan.
2. Fase Peradangan
Fase peradangan adalah fase yang terjadi antara 24 - 36 jam setelah
trauma. Fase peradangan aktif ditandai dengan radang tinggi dengan gejala

10

- gejala panas, merah dan bengkak pada daerah trauma. Pada fase ini
terjadi aktualitas nyeri yang tinggi dimana fase ini sebagai awal dari
proses penyembuhan luka.
3. Fase Regenerasi
Pada fase ini terdiri dari tiga fase :
a. Fase proliferasi (2 - 4) hari
Pada fase ini ditandai dengan menurunnya rasa nyeri, jumlah protein
pertahanan tubuh banyak dan jumlah fibroblast meningkat. Pada fase
ini juga terjadi rekonstruksi jaringan pembentukan jaringan permukaan
dan memberikan kekuatan pada daerah trauma. Sel - sel lain
peningkatan, juga terjadi peningkatan sel - sel macrophage dan sel - sel
endothelia untuk membentuk pembuluh - pembuluh darah baru yang
terkenal dengan proses angiogenesis.
b. Fase produksi (4 hari - 3 minggu)
Pada fase ini ditandai dengan penurunan proses pertahanan tubuh,
diikuti dengan peningkatan fibroblast dan monosit yang tinggi, telah
terjadi pelekatan kolagen dan jaringan granulasi baru serta peningkatan
oksigenisasi pada daerah cidera. Beberapa fibroblast terbentuk menjadi
myofibroblast yang memberikan efek wound contraction.
c. Fase remodeling (3 minggu - 3 bulan)
2.8 Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi pada kondisi ini meliputi:
a. Dislokasi berulang akibat ligamen yang ruptur tersebut tidak sembuh
dengan

sempurna

sehingga

diperlukan

pembedahan

untuk

memperbaikinya (kadang-kadang).
b. Gangguan fungsi ligamen (jika terjadi tarikan otot yang kuat sebelum
sembuh dan tarikan tersebut menyebabkan regangan pada ligamen yang
ruptur, maka ligamen ini dapat sembuh dengan bentuk memanjang, yang
disertai pembentukan jaringan parut secara berlebihan).
c. Strain yang berulang
d. Tendonitis
2.9 Pemeriksaan Penunjang

11

a. Foto rontgen/ radiologi.


yaitu pemeriksaan diagnostik noninvasif untuk membantu menegakkan
diagnosa. Hasil pemeriksaan di temukan kerusakan pada ligamen dan
sendi.
b. MRI ( Magnetic Resonance Imaging)
Yaitu pemeriksaan dengan menggunakan gelombang magnet dan
gelombang frekuensi radio, tanpa menggunakan sinar x atau bahan radio
aktif, sehingga dapat diperoleh gambaran tubuh yang lebih detail. Hasil
yang diperoleh gambaran ligamen yang luka.
c. Stress radiography untuk memfisualisasi cedera ketika bagian tersebut
digerakkan
d. Artrografi
e. Artroskopy
f. Laboraturium
Pemeriksaan lanjutan bila terdapat infeksi
2.10 Penatalaksanaan Sprain
a. RICE (Rice, Ice, Compression, Elevation)
Prinsip utama penatalaksanaan sprain adalah mengurangi pembengkakan
dan

nyeri

yang

terjadi.

Langkah

yang

paling

tepat

sebagai

penatalaksanaan tahap awal (24-48 jam) adalah prinsip RICE (rest, ice,
compression, elevation), yaitu :
1. Rest (istirahat)
Kurangi aktifitas sehari-hari sebisa mungkin. Jangan menaruh beban
pada tempat yang cedera selama 48 jam. Dapat digunakan alat bantu
seperti crutch (penopang/penyangga tubuh yang terbuat dari kayu atau
besi) untuk mengurangi beban pada tempat yang cedera.
2. Ice (es)
Letakkan es yang sudah dihancurkan kedalam kantung plastik atau
semacamnya. Kemudian letakkan pada tempat yang cedera selama
maksimal 2 menit guna menghindari cedera karena dingin.
3. Compression (penekanan)
Untuk mengurangi terjadinya pembengkakan lebih lanjut, dapat
dilakukan penekanan pada daerah yang cedera. Penekanan dapat

12

dilakukan dengan perban elastik. Balutan dilakukan dengan arah dari


daerah yang paling jauh dari jantung ke arah jantung.
4. Elevation (peninggian)
Jika memungkinkan, pertahankan agar daerah yang cedera berada
lebih tinggi daripada jantung. Sebagai contoh jika daerah pergelangan
keki yang terkena, dapat diletakkan bantal atau guling dibawahnya
supaya pergelangan kaki lebih tinggi daripada jantung. Tujuan
daripada tindakan ini adalah agar pembengkakan yang terjadi dapat
dikurangi.
b. Penanganan sprain menurut klasifikasi
1. Sprain tingkat satu (first degree)
Tidak perlu pertolongan/ pengobatan, cedera pada tingkat ini cukup
diberikan istirahat saja karena akan sembuh dengan sendirinya.
2. Sprain tingkat dua (Second degree).
a.

Pemberian pertolongan dengan metode RICE

b. Tindakan imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan agar bagian


yang cedera tidak dapat digerakan) dengan cara balut tekan,
spalk maupun gibs. Biasanya istirahat selama 3-6 minggu.
3. Sprain tingkat tiga (Third degree).
a.

Pemberian pertolongan dengan metode RICE

b.

Dikirim kerumah sakit untuk dijahit/ disambung kembali

2.11 Pencegahan
a. Saat melakukan aktivitas olahraga memakai peralatan yang sesuai seperti
sepatu yang sesuai, misalnya sepatu yang bisa melindungi pergelangan
kaki selama aktivitas
b. Selalu melakukan pemanasan atau stretching sebelum melakukan aktivitas
atletik, serta latihan yang tidak berlebihan.
c. Cedera olahraga terutama dapat dicegah dengan pemanasan dan
pemakaian perlengkapan olahraga yang sesuai.
2.12

Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pembedahan

13

Mungkin diperlukan agar sendi dapat berfungsi sepenuhnya;


pengurangan-pengurangan perbaikan terbuka terhadap jaringan yang
terkoyak.
2. Farmakologi
Analgesik yang digunakan biasanya sebagai berikut:
Aspirin:
Aspirin (100-300 mg setiap 4 jam) untuk meredakan nyeri dan
peradangan. Kadang diperlukan Narkotik (codeine 30-60 mg
peroral setiap 4 jam) untuk nyeri hebat
Kandungan : Asetosal 500mg ; Indikasi : nyeri otot ; Dosis dewasa
1tablet atau 3tablet perhari,anak > 5tahun setengah sampai

1tablet,maksimum 1 sampai 3tablet perhari.


Bimastan :
Kandungan : Asam Mefenamat 250 mg perkapsul, 500mg
perkaplet ; Indikasi : nyeri persendian, nyeri otot ; Kontra indikasi :
hipersensitif, tungkak lambung, asma, dan ginjal ; efeksamping :
mual muntah, agranulositosis, aeukopenia ; Dosis: dewasa awal

500 mg lalu 250 mg tiap 6 jam.


Analsik :
Kandungan : Metampiron 500mg, Diazepam 2mg ; Indikasi : nyeri
otot dan sendi ; Kontra indikasi : hipersensitif ; Efek samping :
agranulositosis ; Dosis : sesudah makan (dewasa 3xsehari 1 kaplet,

anak 3xsehari 1/2kaplet).


Pemberian kodein atau obat analgetik lain (jika cedera berat)
Pemasangan pembalut elastis atau gips, atau jika keseleo berat,

pemasangan gips lunak atau bidai untuk imobilisasi sendi


3. Elektromekanis
a. Dengan kantong es 24 derajat Celcius Penerapan dingin
b. Pembalutan / wrapping eksternal.
Dengan pembalutan, cast atau pengendongan (sung).
c. Posisi ditinggikan.
Jika yang sakit adalah bagian ekstremitas.
d. Latihan ROM.
Tidak dilakukan latihan pada saat terjadi nyeri hebat dan
perdarahan. Latihan pelan-pelan dimulai setelah 7-10 hari
tergantung jaringan yang sakit.
e. Penyangga beban.

14

Menghentikan penyangga beban dengan penggunaan kruk


selama 7 hari atau lebih tergantung jaringan yang sakit.
f. Penggunaan gips
g. Imobilisasi sendi yang cedera untuk mempercepat penyembuhan
h. Elevasi sendi di atas ketinggian jantung selama 48 hingga 72 jam
(yang segera dilakukan sesudah cedera)
i. Penggunaan kruk dan pelatihan cara berjalan (pada keseleo
pergelangan kaki)
j. Kompres es secara intermiten selama 12 hingga 48 jam untuk
mengendalikan pembengkakan (letakkan handuk kecil diantara
kantung es dan kulit untuk mencegah cedera karena hawa dingin).
4. Penatalaksanaan Terapi Masase Untuk Mengobati Sprain pada Lutut
a. Masase Terapi pada Rehabilitasi Cedera Lutut
Masase terapi yang dilakukan pada rehabilitasi cidera lutut yaitu
menggunakan teknik masase (manipulasi masase) dengan cara
menggabungkan teknik gerusan (friction) dengan teknik gosokan
(effleurage) yang menggunakan ibu jari untuk merilekkan atau
menghilangkan ketegangan otot. Setelah itu dilakukan penarikan
(traksi) dan pengembalian (reposisi) sendi lutut pada tempatnya
(Ali:2004)
b. Posisi Tidur Terlentang
Lakukan teknik masase (manipulasi masase) dengan cara
menggabungkan

teknik

gerusan

(friction)

dan

gosokan

(effluarage). Pada otot quadriceps femoris ke arah atas.Lakukan


teknik masase (manipulasi masase) dengan cara menggabungkan
teknik gerusan (friction) dan gosokan (effleurage), pada samping
lutut/ligamen lutut pada bagian dalam dan luar. Lakukan teknik
masase (manipulasi masase) dengan cara menggabungkan teknik
terusan

(friction)

dan

gosokan

(effleurage),

pada

otot-

ototfleksor/otot fastrocnenius bagian depan ke arah atas.


c. Posisi Tidur Telungkup

15

Lakukan teknik masase (manipulasi masase) dengan cara


menggabungkan

teknik

terusan

(friction)

dan

gosokan

(effleurage), pada otot hamstring ke arah atas.


Lakukan teknik masase (manipulasi masase) dengan cara
menggabungkan

teknik

gerusan

(friction)

dan

gosokan

(effleurage), pada ligamen sendi lutut bagian belakang ke arah


atas. Lakukan teknik masase (manipulasi masase) dengan cara
menggabungkan

teknik

gerusan

(friction)

dan

gosokan

(effleurage), pada otot gastrocnemius ke arah atas.


d. Posisi Traksi dan Reposisi pada Lutut dengan Posisi Tidur
Terlentang
Lakukan traksi dengan posisi kedua tangan memegang satu
pergelangan kaki. Kemudian traksi/tarik ke arah bawah secara
pelan-pelan dan putar tangkai setengah lingkaran ke arah samping
dalam dan samping luar dengan kondisi tangkai dalam keadaan
tertarik.
5. Masase Terapi pada Rehabilitasi Cedera Pergelangan Kaki (Engkel)
Masase terapi yang dilakukan pada rehabilitasi sendi pergelangan kaki
(engkel) yaitu menggunakan teknik masase (manipulasi masase)
dengan cara menggabungkan teknik gerusan (friction) dengan teknik
gosokan (effleurage) yang menggunakan ibu jari untuk merilekkan
atau menghilangkan ketegangan otot. Setelah itu dilakukan penarikan
(traksi) dan pengembalian (reposisi) sendi pergelangan kaki (engkel)
pada tempatnya.
a. Posisi Tidur Terlentang
Lakukan teknik masase (manipulasi masase) dengan cara
menggabungkan

teknik

gerusan

(friction)

dan

gosokan

(effluarage), pada otot-otot fleksor/otot gastrocnemius bagian


depan ke arah atas. Lakukan teknik masase (manipulasi masase)
dengan cara menggabungkan teknik gerusan (friction) dan gosokan
(effluarage), pada otot punggung kaki atau otot fleksor pada kaki
bagian muka kearah atas. Lakukan teknik masase (manipulasi

16

masase) dengan cara menggabungkan teknik gerusan (friction) dan


gosokan (effluarage), pada ligament sendi pergelangan kaki ke arah
atas.
b. Posisi Tidur Telungkup
Lakukan teknik masase (manipulasi masase) dengan cara
menggabungkan

teknik

gerusan

(friction)

dan

gosokan

(effluarage), pada otot gastrocnemius ke arah atas.


Lakukan teknik masase (manipulasi masase) dengan cara
menggabungkan

teknik

gerusan

(friction)

dan

gosokan

(effluarage), pada otot di belakang mata kaki atau tendo achilles ke


arah atas.
c. Posisi Traksi dan Reposisi pada Pergelangan Kaki dengan Posisi
Badan Tidur Terlentang.
Lakukan traksi dengan posisi satu tangan memegang tumit dan satu
tangan yang lain memegang punggung kaki. Kemudian traksi/tarik
kearah bawah secara pelan-pelan dan putarkan kaki (engkel)
dengan kondisi pergelangan kaki dalam keadaan tertarik.

17

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian Gawat Darurat
3.1.2 Pengkajian primer
1. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan
sekret akibat kelemahan reflek batuk.
Menilai jalan nafas:
a. LIHAT - LOOK
Gerak dada & perut
Tanda distres nafas
Warna mukosa, kulit
Kesadaran
b. DENGAR - LISTEN
Gerak udara nafas dengan telinga
c. RABA - FEEL
Gerak udara nafas dengan pipi
2. Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya
pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi
/aspirasi.
3. Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut,
takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan
membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut.
3.1.2

Pengkajian sekunder
1. Aktivitas/istirahat
a. kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
b. Keterbatasan mobilitas
2. Sirkulasi
a. Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
b. Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
c. Tachikardi
d. Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
e. Capilary refil melambat

18

f. Pucat pada bagian yang terkena


g. Masa hematoma pada sisi cedera
3. Neurosensori
a. Kesemutan
b. Kelemahan
c. Deformitas lokal, agulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi
(bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan / hilang fungsi.
d. Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / anxietas
4. Kenyamanan
a. Nyeri hebat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada
area jaringan / kerusakan tulang, dapat berkurang deengan
imobilisasi) tak ada nyeri akibat keruisakan syaraf.
b. Spasme / kram otot (setelah immobilisasi).
5. Keamanan
a. laserasi kulit
b. perdarahan
c. perubahan warna
d. pembengkakan local
3.1.3

Focus assesment
1. P (penyebab) : faktor yang menyebabkan nyeri itu datang.
a. Apa penyebab nyeri
b. Faktor yang meringankan nyeri
c. Faktir yang memperlambat nyeri
d. Obat_obatan yang diminum
2. Q (Quality) : menggambarkan nyeri yang dirasakan, klien
mendiskripsikan apa yang dirasakan sesuai dengan kata-katanya
sendiri. Perawat boleh memberikan deskripsi pada klien, bila klien
tidak mampu menggambarkan nyeri yang dirasakan. Bagaimana rasa
nyerinya : terbakar, ditusuk-tusuk, di gigit, di iris-iris, di pukul-pukul
dan lain-lain
3. R(region/tempat) : meminta klien untuk menunjukkan dimana nyeri
terasa, menetap atau terasa pada menyebar.
a. Lokasi nyeri
b. Penyebaran nyeri
c. Penyebaran ini apakah sama intensitasnya dengan lokasi
sebenarnya.

19

4. S (skala) : untuk mengukur tingkat nyeri klien di suruh untuk


menunjukan tingkat nyeri tersebut dengan menggunakan skala nyeri
yang di beri oleh perawat.
a. Brapa sberkurang.kala nyeri
b. Apakah nyeri mengganggu aktivitasnya : gangguan motorik,
gangguan kesadaran.
c. Apakah nyeri semakin bertambah atau
5. T (Time/waktu) : kapan nyeri itu tersa atau datag dan lama nyeri
tersebut.
a. Kapan terasa nyari : pagi, siang, sore, malam.
b. Berapa kali serangannya dalam sehari.
c. Serangan tiba-tiba atau perlahan-lahan.
3.2 Pengkajian Secara Umum
1. Identitas pasien.
Identitas Meliputi
:
Nama pasien

Umur

Jenis kelamin

Suku bangsa

Pekerjaan

Pendidikan

Alamat

Tgl MRS

Diagnosa medis

2. Keluhan Utama : nyeri, kelemahan, mati rasa, edema, perdarahan,


perubahan mobilitas / ketidakmampuan untuk menggunakan sendi, otot
dan tendon.
3. Riwayat Kesehatan.
a. Riwayat Penyakit Sekarang.
Dikarenakan nyeri merupakan pengalaman interpersonal, perawat
harus menanyakannya secara langsung kepada pasien dengan teknik P,
Q, R, S, T.

Provoking (penyebab)

: apa yang menimbulkan nyeri (aktivitas,

spontan, stress setelah makan dll)?

20

Quality (kualitas)

permukaan dll?
Apakah pernah merasakan nyeri seperti itu sebelumnya?
Region (daerah)
: dimana letak nyeri?
Severity (intensitas)
: jelaskan skala nyeri dan frekuensi,

: apakah tumpul, tajam, tertekan, dalam,

apakah di sertai dengan gejala seperti (mual, muntah, pusing,


diaphoresis, pucat, nafas pendek, sesak, tanda vital yang abnormal

dll)?
Timing (waktu)

: kapan mulai nyeri? Bagaimana lamanya?

Tiba-tiba atau bertahap? Apakah mulai setelah anda makan?


Frekuensi?
b. Riwayat Penyakit Dahulu.
Apakah klien sebelumnya pernah mengalami sakit seperti ini atau
mengalami trauma pada sistem muskuloskeletal lainnya.
c. Riwayat Penyakit Keluarga.
Apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.
4. Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
a. Data Biologis
Gerak dan Aktivitas
Kaji kemampuan aktifitas dan mobilitas kehidupan klien seharihari.

Kebersihan Diri
Kaji apakah ada kesulitan dalam memelihara dirinya.

b. Data Psikologis
Rasa Aman
Kaji kemampuan pasien dalam melakukan keamanan dan
pencegahan pada saat melaksanakan akitivitas hidup sehari-hari,
termasuk

faktor

lingkungan,

faktor

sensori,

serta

faktor

psikososial.

Rasa Nyaman
Kaji apakah pasien mengalami mual dan nyeri (PQRST).

c. Data Sosial
Sosial

21

Melalui komunikasi antar perawat, pasien, dan keluarga dapat


dikaji mengenai pola komunikasi dan interaksi sosial pasien
dengan

cara

mengidentifikasi

kemampuan

pasien

dalam

berkomunikasi.

Prestasi
Kaji tentang latar belakang pendidikan pasien.

Bermain dan Rekreasi


Kaji kemampuan aktifitas rekreasi dan relaksasi (jenis kegiatan
dan frekuensinya)

Belajar
Kaji apakah pasien sudah mengerti tentang penyakitnya dan
tindakan pengobatan yang akan dilakukan. Kaji bagaimana cara
klien mempelajari sesuatu yang baru.

d. Data Spiritual
Ibadah
Kaji bagaimana klien memenuhi kebutuhan spiritualnya sebelum
dan ketika sakit.
5. Pemeriksaan Fisik
Status lokalis : pemeriksaan dilakukan secara sistematis : Inspeksi (Lihat/
Look), Palpasi (Raba/ Feel), Kekuatan otot (Power), Pergerakan (Move).
a. Inspeksi (look) :
Raut muka pasien, cara berjalan/duduk/tidur.
Lihat kulit, jar lunak, tulang dan sendi.
b. Palpasi (Feel) :
Suhu kulit panas atau dingin, denyutan arteri teraba/tdk, adakah
spasme otot.
Nyeri tekan atau nyeri kiriman (refered pain)
c. Kekuatan otot (Power) :
Grade 0,1,2,3,4,5 (Lumpuh s/d normal)
d. Pergerakan (Move) :
ROM (Range of Joint Movement)
Pergerakan sendi : abduksi, adduksi, ekstensi, fleksi dll
6. Pemeriksaan Penunjang.
Pada sprain untuk diagnosis perlu dilaksanakan rontgen untuk
membedakan dengan patah tulang.

22

3.3 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri b/d spasme otot
2. Hambatan mobilitas fisik b/d nyeri
3. Resiko infeksi b/d inflamasi
4. Gangguan integritas jaringan b/d cidera
3.4 Intervensi Keperawatan
No
1.

Diagnosa
NOC
Nyeri berhubungan dengan spasme otot NOC :
Pain level,
Pain control,
Comfort level

NIC
NIC :
Pain Management
Lakukan pengkajian nyeri
secara komprehensif

Kriteria hasil :

termasuk lokasi,

Mampu

karakteristik,

mengontrol nyeri
(tahu penyebab
nyeri, mampu
menggunakan
tehnik

durasi,frekuensi, kualitas
dan faktor presipitasi
Observasi reaksinonverbal
dari ketidaknyamanan
Gunakan teknik

nonfarmokologi

komunikasi terapeutik

untuk mengurangi

untuk mengetahui

nyeri, mencari
bantuan)
Melaporkan

pengalaman nyeri pasien


Kaji kultur yang
mempengaruhi respon

bahwa nyeri

nyeri
berkurang dengan Evaluasi pengalaman nyeri
masa lampau
menggunakan
Evaluasi bersama pasien
manajemen nyeri
dan tim kesehatan lain
Mampu
mengenali nyeri

tentang ketidakefektifan

(skala intensitas,

control nyeri masa

frekuensi dan
tanda nyeri)
Menyatakan rasa
nyaman setelah

lampau
Bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan
menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang
23

nyeri berkurang

dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan
dan kebisingan
Kurangi faktor presipitasi
nyeri
Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi, non
farmakologi dan inter
personal)
Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan
intervensi
Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak
berhasil
Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri
Analgesic Administrasion

Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas
dan derajat nyeri

sebelum pemberian obat


Cek intruksi dokter
tentang jenis obat, dosis,
dan frekuensi
24

Cek riwayat alergi


Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari

Satu
Tentukan pilihan
analgesik tergantung

tipe dan beratnya nyeri


Tentukan analgesik
pilihan, rute pembarian,

dan dosis optimal


Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri secara

teratur
Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik

pertama kali
Berikan analgesik tepat
waktu terutama saat

nyeri hebat
Evaluasi

efektivitas

analgesik, tanda dan gejala


(efek samping)
2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan
dengan nyeri

NOC :
Join Movement
:active
Mobility Level
Selft care : ADLs
Transfer
performance
Kriterian Hasil :

Exercise therapy :
ambulation
Monitoring vilat sign
sebelum/sesudah latihan
dan lihat respon pasien
saat latihan
Kaji kemampuan pasien

25

Klien meningkat
dalam aktivitas fisik
Mengerti tujuan dari

dalam mobilitas
Latih pasien dalam
pemenuhan kebutuhan
ADLs scara mandiri

peningkatan
mobilitas
Memverbalilasikan

sesuai kemampuan
Konsultasikan dengan

perasaan dalam

terapi fisik tentang

meningkatkan

rencana ambulasi sesuai

kekuatan dan
kemampuan
berpindah
Memperagakan

dengan kebutuhan
Berikan alat bantu jika
klien memerlukan
Ajarkan pasien bagaimana
merubah posisi dan

penggunaan alat bantu


untuk mobilisasi
(walker)

berikan bantuan jika


diperlukan
Damping pasien dan bantu
pasien saat mobilitas dan

3. Resiko infeksi berhubungan dengan


inflamasi

NOC

peduhi kebutuhna ADLs


NIC

immune Status
knowledge :

Infection Control

Infection control
Risk control

(control infeksi)
Bersihkan lingkungan
setelah di pakai pasien

Kriteria hasil :

lain
Pertahankan teknik

infeksi
Mendeskripsikan

isolasi
Batasi pengunjung bila

proses penularan

perlu
Instruksikan pada

pengunjung bila perlu


Instruksikan pada

Klien bebas dari


tanda dan gejala

penyakit, factor
yang
mempengaruhi

pengunjung untuk

penularan serta

mencuci tangan saat

penatalaksanaann

berkunjung
meninggalkan pasien
26

ya
Menunjukkan

antimikroba untuk cuci

kemampuan
untuk mencegah

timbulnya infeksi
Jumlah leukosit
dalam batas

tangan
Cuci tangan setiap
sebelum dan sesudah

normal
Menunjukkan perilaku
hidup sehat

Gunakan sabun

tindakan keperawatn
Gunakan baju, sarung
tangan sebagai alat

pelindung
Pertahankan
lingkungan aseptic
selama pemasangan

alat
Ganti letak IV perifer
dan line central dan
dressing sesuai dengan

petunjuk umum
Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi

kandung kencing
Tingkatkan intake

nutrisi
Berikan terapi
antibiotic bila perlu
infection protection
(proteksi terhadap

infeksi)
Monitor tanda dan
gejala infeksi sistemik

dan local
Monitor hitung

granulosit,WBC
Monitor kerentanan
terhadap infeksi
27

Batasi pengunjung
Sering pengunjung
terhadap penyakit

menular
Pertahankan teknik
aspesis pada pasien

yang beresiko
Pertahankan teknik

isolasi k/p
Berikan perawatan

kulit pada area edema


Inspeksi kulit dan
membrane mukosa
terhadap kemerahan,

panas, drainase
Inspeksi kondisi

luka/insisi bedah
Dorong masukkan

nutrisi yang cukup


Dorong masukkan

cairan
Dorong istirahat
Instruksikan pasien
untuk minum antibiotic

sesuai resep
Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan

4. Kerusakan integritas jaringan


berhubungan dengan cidera

NOC:

gejala infeksi
Ajarkan cara

menghindari infeksi
Laporkan kecurigaan

infeksi
Laporkan kultur positif
NIC :

Tissue integrity : Pressure ulcer prevention


skin and mucous Wound care

28

membranes
Wound healing :

menggunakan pakaian

primary and secondary

yang longgar
Jaga kulit agar tetap

jaringan

bersih dan kering


Mobilisasi
pasien

intention
Kriteria hasil:
Perfusi

(ubah

normal
Tidak ada tanda-

jaringan

adanya kemerahan
Oleskan lotion atau

dan

minyak/baby oil pada

pemahaman dalam
perbaikan

kulit

dan

mencegah
terjadinya

cidera

berulang
Menunjukkan
terjadinya

pasien)

normal
Menunjukkan
proses

posisi

setiap dua jam sekali


Monitor kulit akan

tanda infeksi
Ketebalan
tekstur

Anjurkan pasien untuk

proses

daerah yang tertekan


Monitor aktivitas dan

mobilisasi pasien
Monitor status nutrisi

pasien
Memandikan

pasien

dengan sabun dan air

hangat
Kaji lingkungan dan
peralatan

penyembuhan luka

yang

menyebabkan tekanan
Observasi luka : lokasi,
dimensi,

kedalaman

luka,
karakteristik,warna
cairan,

granulasi,

jaringan

nekrotik,

tanda-tanda

lokal, formasi traktus


Ajarkan pada keluarga
tentang

infeksi

luka

perawatan luka
Kolaborasi ahli

29

dan
gizi

pemberian diet TKTP,

vitamin
Cegah

feses dan urin


Lakukan

kontaminasi
tehnik

perawatan luka dengan

steril
Berikan

posisi

mengurangi

yang

tekanan

pada luka
Hindari kerutan pada
tempat tidur

3.5 Implementasi Keperawatan


1. Berikan lingkungan tenang dan nyaman
2. Ajarkan teknik ditraksi dan relaksasi
3. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi
4. Kaji skala nyeri
5. Pantau TTV pasien
6. Ciptakan lingkungan yang tenang
7. Berikan tindakan yang membuat pasien merasa nyaman seperti massage
8. Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas
9. Pantau tanda vital dan catat nadi baik istirahat maupun saat aktivitas.
10. Inspeksi seluruh lapisan kulit
11. Lakukan perubahan posisi
12. Berikan terapi kinetik sesuai kebutuhan
3.6 Evaluasi
Untuk memudahkan perawat mengevaluasi atau memantau perkembangan
klien, digunakan komponen SOAP / SOAPIE / SOAPIER. Penggunaannya
tergantung dari kebijakan setempat.
( Rohmah, N dan Walid, S, 2009 ).
1. S : Data Subyektif
Perawat menuliskan keluhan pasien yang masih dirasakan setelah
dilakukan tindakan keperawatan. Pasien mengatakan nyeri berkurang

30

Memperlihatkan pengendalian nyeri

Mempertahankan tingkat nyeri pada skala 2 dari 1-10 skala nyeri


yang diberikan

Pasien tidak tampak kesakitan dan meringis lagi


Pasien mampu melakukan ROM aktif dan ambulasi dengan
perlahan

Berjalan dengan menggunakan langkah-langkah yang benar sejauh


2 m.

2. O : Data Obyektif
Yaitu data berdasarkan hasil pengukuran atau

observasi perawat

secara langsung kepada klien, dan dirasakan klien setelah tindakan


keperawatan
3. A : Analisis
Interpretasi dari data subyektif dan data obyektif. Merupakan suatu
masalah atau diagnosis keperawatan yang masih terjadi, atau juga
dapat dituliskan masalah/diagnosis baru yang terjadi akibat perubahan
status kesehatan klien yang telah teridentifikasi datanya dalam data
subyektif dan obyektif.
4. P : Planning
Perencanaan

keperawatan

yang

akan

dilanjutkan,

dihentikan,

modifikasi, atau ditambahkan dari rencana tindakan keperawatan yang


telah ditentukan sebelumnya.
5. I : Implementasi

31

Adalah tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan instruksi


yang telah teridentifikasi dalam komponen P (Perencanaan ). Jangan
lupa menuliskan tanggal dan jam pelaksanaan.
6. E : Evaluasi
Adalah respons klien setelah dilakukan tindakan keperawatan.
7. R : Reassesment
Adalah pengkajian ulang yang dilakukan terhadap perencanaan setelah
diketahui hasil evaluasi, apakah dari rencana tindakan perlu
dilanjutkan, dimodifikasi, atau dihentikan.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sprain adalah cedera struktur ligamen di sekitar sendi, akibat gerakan
menjepit atau memutar (keseleo). Sprain terjadi karena adanya benturan dari
benda tumpul atau benda tajam yang terjadi pada ligamen. Ligamen akan
mengalami robek dan ligamen yang robek akan kehilangan kemampuan
stabilitasnya. Penyebab terjadinya sprain adalah pemuntiran mendadak dengan
tenaga yang lebih kuat daripada kekuatan ligamen dengan menimbulkan
gerakan sendi di luar kisaran gerak normal.
4.2 Saran
32

Dengan diberikannya tugas ini penulis dapat lebih memahami dan


mengerti tentang bagaimana penyakit sprain dan dapat melakukan perawatan
yang baik dan tepat serta menegakkan asuhan keperawatan yang baik. Dengan
adanya hasil tugas ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bacaan untuk
menambah wawasan dari ilmu yang telah didapatkan dan lebih baik lagi dari
sebelumnya.

Daftar Pustaka
Smeler, Suzanne. C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikat Bedah Brunner Dan
Suddarth. Edisi 8. Jakarta : EGC.
NANDA, intrervensi NIC, kiteria hasil NOC. Jakarta : EGC
Kowalak, Jennifer P. 2011. Buka Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC
Ali satia Graha. (2009). Terapi Masase Frirage Penatalaksanaan Masase dan
Cedera Olahraga Pada Lutut dan Engkel. Yogyakarta: Klinik Terapi Fisik
UNY
Paula krisyanty, santa manurung, dkk. (2009). Asuhan keperawatan gawat
darurat. CV.trans info medika : jakarta timur

33

Anonymus.2009.CederaMuskuloskeletal.http://arsip2.lkc.or.id/kesehatan/detail/82
diakses tanggal 26 April 2015 pukul 14.00
Anonymus.2012.PengertianSprainhttp://fourseasonnews.blogspot.com/2012/05/p
engertian-sprain-keseleo.html diakses tanggal 26 april 2015 pukul 12.15
Baraik.2012.PertolonganSaatTerkiliratauKeseleo.http://rqbaraik.blogspot.com/22/
09/pertolongan-saat-terkilir-atau-keseleo.html diaksestanggal26April2015
pukul 14.15
Jatiarso,Eko.2012.MakalahAskepStrain.http://jatiarsoeko.blogspot.com/2012/04/
makalah-askep-strain.html diakses tanggal 26 April 2015 pukul 14.30
http://www.scribd.com/doc/106915170/Makalah-Dislokasi-Sprain-Strain diakses
tanggal 26 April 2015 pukul 22.15

34