Anda di halaman 1dari 22

Karakteristik Pelecehan Seksual pada Anak

dan Remaja Mempengaruhi Perilaku Seksual


Beresiko pada Dewasa
Theresa E. Senn Michael P.Carey
Coury-Doniger Marguerite Urban

Peter A. Vanable

Patricia

Abstrak Pelecehan seksual pada anak dan remaja telah dihubungkan dengan
perilaku seksual beresiko ketika dewasa, namun efek-efek dari kekuatan dan tipe
dari

pelecehan

seksual

masih

sedikit

diketahui.

Penelitian

terakhir

menginvestigasi hubungan antara karakteristik pelecehan seksual dan perilaku


seksual beresiko selanjutnya, dan mengeksplorasi apakah jenis kelamin dari
anak atau remaja berpengaruh terhadap hubungan ini. Pasien yang datang ke
Klinik Penyakit Menular Seksual (PMS) mengisi survey yang menilai riwayat
pelecehan seksual serta riwayat perilaku seksual sebelumnya. Partisipan
dianggap mengalami pelecehan seksual bila mereka menceritakan pengalaman
seksual yang (1) sebelum usia 13 dengan seseorang yang berusia 5 tahun lebih
tua atau lebih, (2) saat berusia 13 tahun dan 16 tahun dengan seseorang yang
berusia 10 tahun lebih tua atau lebih, atau (3) sebelum usia 17 yang disertai
paksaan atau kekerasan. Partisipan yang mengalami pelecehan seksual lebih
lanjut dikategorikan berdasarkan 2 karakteristik, sesuai namanya, yaitu adanya
penetrasi dan kekerasan. Analisis melibatkan 1177 partisipan (n = 534 wanita, n
= 643 pria). Partisipan yang mengalami pelecehan seksual dengan melibatkan
penetrasi dan atau kekerasan dilaporkan lebih banyak memiliki perilaku seksual
beresiko, termasuk jumlah pasangan sebelumnya dan terdiagnosis menderita
PMS sebelumnya, daripada partisipan yang mengalami pelecehan seksual tanpa
kekerasan dan penetrasi. Tidak ada perbedaan signifikan perilaku seks beresiko
antara partisipan yang tidak mengalami pelecehan seksual dan partisipan yang
mengalami pelecehan seksual; tanpa kekerasan dan tanpa penterasi. Jenis
kelamin dari anak atau remaja berpengaruh terhadap hubungan karakteristik
pelecehan seksual dan perilaku seksual beresiko. Untuk pria, pelecehan seksual
disertai dengan paksaan dan penetrasi dihubungkan dengan jumlah yang besar
dari perdagangan sex, selain itu pada wanita, yang mengalami pelecehan
seksual disertai dengan penetrasi, tanpa memperhatikan apabila pelecehan
seksual tersebut melibatkan paksaan, dilaporkan dengan kejadian perdagangan

seks yang paling besar. Penemuan ini mengindikasikan bahwa semakin parah
kejadian pelecehan seksual yang dialami berhubungan dengan perilaku seks
dewasa yang semakin beresiko.
Kata Kunci: Pelecehan Seksual pada Anak/Remaja Penyakit Menular Seksual
HIV Perilaku Seksual
Pendahuluan
Pelecehan seksual pada anak dan remaja berhubungan dengan
berbagai gangguan kesehatan fisik dan mental. Penelitian juga menyebutkan
bahwa semakin tinggi tingkat keparahan dari pelecehan seksual, maka akibatnya
adalah semakin buruk gangguan kesehatan yang dialami. Sehingga, terjadi lebih
banyak pelecehan seksual (yaitu pelecehan seksual yang meilbatkan paksaan,
aktivitas-aktivitas seksual yang lebih intim, atau pelecehan seksual secara
berulang) berhubungan dengan adaptasi sosial yang buruk, kepuasan hidup
yang kurang, dan gejala-gejala psikologis yang semakin parah (Callahan, Price,
& Hilsenroth, 2003; Carlson, McNutt, & Choi, 2003; Fassler, Amodeo, Griffin,
Clay, & Ellis, 2005; Feinauer, Mitchell, Harper, & Dane, 1996). Pada meta-analisis
mengenai efek-efek pelecehan seksual, Rind, Tromovitch, and Bauserman
(1998) menemukan bahwa berhubungan seksual secara paksa berhubungan
dengan lebih banyak reaksi negatif namun tidak berhungan dengan gejala-gejala
psikologis dikemudian hari, sedangkan berhubungan seksual dengan penetrasi
tidak berhubungan dengan gejala tersebut.
Tingkat keparahan pelecehan seksual juga telah dihubungkan dengan
perilaku seksual yang beresiko di kemudian hari, termasuk mempunyai
pasangan seksual lebih banyak (Merril, Guimond, Thomsen, & Milner, 2003) dan
kemungkinan melakukan hubungan seksual dengan orang yang baru ditemui
menjadi lebih besar, melakukan hubungan seksual pada usia yang lebih muda,
dan meningkatnya frekuensi PMS (Walser & Kern, 1996). Walaupun penelitianpenelitian

ini

menyebutkan

bahwa

semakin

parah

pelecehan

seksual

berhubungan dengan perilaku seksual yang semakin beresiko, penelitian


tersebut hanya menyediakan informasi yang terbatas terkait dengan aspek
spesifik dari prediksi pelecehan tersebut, seperti akibat yang ditimbulkan.
Dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut untuk menentukan apakah karakteristik
dari pengalaman pelecehan (misalnya apakah terjadi paksaan secara fisik saat

kejadian pelecehan tersebut dan tipe dari perbuatan seksual yang dilakukan)
berkaitan dengan kesehatan seksual.
Dua penelitian telah mempelajari hubungan antara pelecehan seksual
secara paksa dan perilaku seksual yang beresiko di kemudian hari. Cinq, Mars,
Wright, Cyr, dan McDuff (2003) menemukan bahwa remaja perempuan yang
mengalami pelecehan seksual secara paksa baik saat anak-anak maupun saat
remaja kemungkinan besar akan melakukan hubungan seksual secara sukarela
kedepannya; sedangkan perempuan yang mengalami pelecehan seksual tanpa
paksaan, kemungkinan besar akan memiliki lebih dari satu pasangan seksual per
tahun serta lebih besar kemungkinannya untuk hamil. Sebagai contoh seorang
lelaki yang berhubungan seksual dengan sesama jenis (MSM), Jinich et al.
(1998) menyebutkan bahwa pelecehan seksual secara paksa derajat sedang
atau berat dihubungkan dengan frekuensi dari seks anal yang tidak terproteksi
dan prevalensi HIV yang meningkat, hal ini berhubungan dengan MSM yang
mengalami pelecehan seksual dengan sukarela atau dengan paksaan yang
ringan. Sehingga, di dua penelitian ini, pelecehan seksual yang melibatkan
kekerasan atau paksaan berkaitan dengan perilaku seksual yang lebih beresiko.
Sebaliknya, pada meta analisis, Arriola, Louden, Doldren, and
Fortenberry (2005) menemukan bahwa besarnya efek relasi antara pelecehan
seksual dan perilaku seksual di kemudian hari (misalnya, seks yang tidak aman,
seks dengan banyak pasangan, dan pekerja seks) tidak berbeda dari penelitianpenelitian yang telah dilakukan, penelitian termasuk pelecehan non kontak,
penelitian yang hanya memasukkan pelecehan secara kontak, dan penelitian
yang memasukkan hanya pelecehan ketika penetrasi; hasil dari penelitian
tersebut yaitu tipe dari aktivitas seksual selama pelecehan seksual tidak
berkaitan dengan perilaku seksual masa mendatang. Bagaimanapun juga,
beberapa dari kategori ini hanya terdiri dari sangat sedikit penelitian (contohnya,
terdapat hanya tiga penelitian yang termasuk dalam kategori pelecehan saat
penetrasi). Lagi pula, akibat yang ditimbulkan mungkin telah dimanipulasi bila
penelitian-penelitian dengan definisi pelecehan seksual yang kurang spesifik
termasuk banyaknya jumlah partisipan yang mengalami pelecehan seksual
(secara kontak atau penetrasi) yang lebih parah.
Bila disimpulkan, bukti dari penelitian yang jumlahnya sedikit tersebut
menyebutkan bahwa hubungan seksual secara paksa dan hubungan seksual

dengan penetrasi mungkin berhubungan dengan perilaku beresiko ketika


dewasa. Pembatasan dari penelitian sebelumnya yang penting adalah sedikit
penelitian telah menginvestigasi perbedaan efek dari pelecehan seksual untuk
pria dan wanita. Karena wanita yang sedang berada dalam suatu hubungan
heteroseksual sering memiliki kontrol atau kekuatan yang kurang terhadap
hubungan seks dibandingkan dengan pria (lihat Teori Mengenai Jenis Kelamin
dan Kekuatan, Connell, 1987, untuk penjelasan dari ketimpangan kekuatan
antara pria dan wanita), hal ini penting untuk mempelajari hubungan jenis
kelamin dengan perilaku seksual. Selain itu, penelitian yang terbatas pada topik
ini menyebutkan bahwa hubungan antara pelecehan seksual dan perilaku
seksual saat dewasa berbeda sesuai jenis kelamin (sebagai contoh, Futterman,
Hein, Reuben, Dell, & Shaffer, 1993, Mason, Zimmerman, & Evans, 1998, Zierler
et al., 1991). Hal ini memungkinkan bahwa jenis kelamin berpengaruh terhadap
karakteristik pelecehan seksual yang membawa akibat yang berbeda pada pria
dan wanita, sebuah teori yang didukung oleh penelitian pada trauma psikologis
akibat pelecehan seksual. Sebagai contoh, dalam meta analisis, Rind et al.
(1998) menemukan bahwa apabila pelecehan seksual yang terjadi atas dasar
persetujuan kedua belah pihak dihubungkan dengan penyesuaian psikologis
pada pria, bukan wanita.
hubungan

jenis

keseluruhan,

kelamin

Beberapa penelitian telah menginvestigasi efek


dengan

penelitian-penelitian

karakteristik
sebelumnya

perilaku

seksual.

menginivestigasi

Secara

hubungan

antara karakteristik pelecehan dan perilaku seksual setelahnya, cenderung


menggunakan sampel yang sedikit, atau termasuk hanya pria atau hanya wanita,
sehingga menghalangi perbandingan antar jenis kelamin.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah
berhubungan seksual secara paksa dan jenis tindakan seksual dikaitkan dengan
perilaku seksual berisiko pada kelompok pasien rawat jalan dari klinik penyakit
menular seksual (PMS). Berdasarkan penelitian sebelumnya, terdapat hipotesis
bahwa: (1) berhubungan seksual secara paksa; dan (2) pelecehan seksual yang
melibatkan penetrasi akan dikaitkan dengan perilaku seksual berisiko lebih besar.
Tujuan kedua dari penelitian ini adalah untuk menentukan apakah efek
karakteristik pelecehan terhadap perilaku seksual dewasa berbeda berdasarkan
jenis kelamin.

Metode
Peserta
Peserta penelitian ini adalah pria dan wanita yang hadir di klinik umum
Penyakit Menular Seksual (PMS) di New York. Semua telah diperiksa untuk
kemungkinan inklusi dalam uji coba terkontrol secara acak (RCT) yang
mengevaluasi beberapa program pengurangan risiko seksual yang berbeda.
Kriteria inklusi untuk RCT ialah: usia 18 atau lebih; tidak HIV positif; dan perilaku
seksual (misalnya, hubungan seks tanpa kondom, seks dengan beberapa
pasangan) yang menempatkan mereka pada risiko untuk tertular PMS di 3 bulan
terakhir. Penelitian ini menggunakan data awal dari RCT, sebelum menerima
pengobatan. Data awal yang tersedia dari 1.265 peserta yang memenuhi syarat.
Data dari peserta yang menolak untuk menjawab pertanyaan pelecehan seksual
(n = 12) atau demografi (n = 1), tidak konsisten dalam pelaporan perilaku seksual
mereka (n = 5), adalah deviasi dari rata-rata pada perilaku seksual (n = 30;
didefinisikan

sebagai

memiliki

sebuah penghapusan secara studentized

residual> 4), atau termasuk dalam kesalahan (n = 1) telah dihilangkan. Deviasi


rata-rata pada data perilaku seksual termasuk kriteria eksklusi karena orangorang ini mungkin adalah anggota dari populasi yang berisiko sangat tinggi yang
menghilangkan manfaat pengobatan. (Wegener & Fabrigar, 2000).
Secara keseluruhan, jumlah sampel adalah 46% perempuan (n = 557),
65% Afrika Amerika (n = 785), dan 24% Kaukasia (n = 294). Mayoritas peserta
tidak bekerja (n = 620; 51%), memiliki pendidikan sekolah tinggi atau kurang (n =
762; 63%), dan memiliki pendapatan rumah tangga kurang dari $ 15.000 per
tahun (n = 686; 57%). Sebagian besar peserta adalah single (tidak pernah
menikah; n = 958; 79%); 75 peserta (6%) menikah, dan 183 (15%) bercerai
berpisah, atau janda. Peserta rata-rata 29,2 tahun (SD = 9,7). Di antara
perempuan, 504 (90%) melaporkan berhubungan seks dengan laki-laki hanya
dalam 3 bulan terakhir; 53 (10%) melaporkan berhubungan seks dengan laki-laki
dan perempuan. Di antara pria, 612 (93%) melaporkan berhubungan seks
dengan perempuan hanya dalam 3 bulan terakhir; 31 (5%) melaporkan
berhubungan

seks

hanya

dengan

laki-laki;

dan

15

(2%)

melaporkan

berhubungan seks dengan laki-laki dan perempuan dalam 3 bulan terakhir.

Prosedur
Pasien yang terdaftar untuk kunjungan klinik diundang ke ruang
pemeriksaan pribadi oleh seorang asisten peneliti terlatih (RA), dan diminta untuk
menjawab serangkaian pertanyaan skrining singkat. RA menjelaskan penelitian
untuk pasien yang memenuhi kriteria kelayakan dan memperoleh persetujuan.
Peserta kemudian menyelesaikannya dalam 45 menit, Audio Computer-Assisted
Self Interview (ACASI) yang mencakup langkah-langkah dari karakteristik
demografi, perilaku kesehatan dan keyakinan, dan fungsi psikososial, serta
pertanyaan tentang masa pengalaman seksual dan perilaku seksual saat ini.
ACASI digunakan karena mengoptimalkan privasi peserta (meningkatkan
kualitas data) sementara memungkinkan orang yang tidak bisa membaca atau
menulis untuk berpartisipasi (Schroder, Carey, & Vanable, 2003). Untuk
penelitian ini, kami menggunakan data dari tindakan pelecehan seksual masa
kanak-kanak / remaja dan perilaku seksual. Setelah pemeriksaan klinik dan
konseling, peserta diberikan $20 sebagai kompensasi mereka untuk waktu
mereka. Semua prosedur telah disetujui oleh IRBs dari lembaga yang
berpartisipasi.
Pengukuran
Pelecehan seksual pada masa anak-anak dan remaja
Tiga hal, diadaptasi dari Finkelhor (1979) yang mengadakan survei yang
lebih lama pada pengalaman seksual masa kanak-kanak, yang digunakan untuk
menilai pelecehan seksual (lihat Lampiran A).1 Peserta yang melaporkan kontak
pengalaman seksual (termasuk berciuman, belaian, memberikan seks oral,
menerima oral seks, seks vaginal, atau seks anal) (1) sebelum usia 13 dengan
seseorang 5 tahun atau lebih tua atau (2) antara usia 13 dan 16 dengan
seseorang 10 tahun atau lebih tua, dan mereka yang terlapor (3) kontak
pengalaman seksual sebelum usia 17 melibatkan kekerasan atau paksaan,
diklasifikasikan sebagai pelecehan seksual; semua peserta lain diklasifikasikan
sebagai tidak dilecehkan secara seksual. Mereka yang mengalami pelecehan
seksual yang lebih dikategorikan berdasarkan apakah pelecehan seksual secara
paksa dan / atau pelecehan seksual dengan penetrasi. Peserta yang melaporkan
pengalaman seksual sebelum usia 17 tahun yang melibatkan kekerasan atau
paksaan dianggap telah mengalami pelecehan seksual secara paksa. Peserta

yang mengalami pelecehan melaporkan adanya oral, vagina, atau anal seks
dianggap telah mengalami pelecehan seksual dengan penetrasi. Sebuah
variabel yang tunggal, yang dibagi menjadi empat tingkat kategori diciptakan
untuk menguji dampak dari karakteristik pelecehan berbeda pada perilaku
seksual berisiko: (1) tidak ada pelecehan seksual; (2) pelecehan seksual tanpa
paksaan atau penetrasi; (3) pelecehan seksual dengan penetrasi tetapi tanpa
paksaan; dan (4) pelecehan seksual dengan baik secara paksa dan dengan
penetrasi. Terlalu sedikit peserta melaporkan pelecehan seksual secara paksa
dan tanpa penetrasi (n = 39, 5%) untuk dapat disertakan hanya dalam kategori
pelecehan seksual secara paksa.
Perilaku seksual saat ini
Perilaku

seksual

berisiko

dikembangkan

dan

diuji

dalam

studi

sebelumnya (Carey et al., 1997, 2000, 2004). Peserta diminta untuk melaporkan:
jumlah pasangan seksual pria dan wanita yang mereka miliki dalam hidup
mereka dan dalam 3 bulan terakhir; berapa kali mereka bertukar hubungan seks
dengan uang atau obat (seumur hidup); dan berapa kali mereka telah dirawat
karena PMS (seumur hidup).
Frekuensi berhubungan seksual tanpa kondom juga diselidiki. Peserta
diminta untuk melaporkan jumlah frekuensi hubungan seks dalam 3 bulan
terakhir bahwa mereka melakukan hubungan seks vaginal dan anal dengan dan
tanpa kondom dengan mereka: (1) pasangan tetap; (2) laki-laki lain; dan (3)
pasangan wanita lainnya. Tanggapan untuk hal ini digunakan untuk menghitung
jumlah mutlak dan proporsi (jumlah episode hubungan seks tidak aman / jumlah
episode hubungan seks dengan kondom dan tanpa kondom) episode hubungan
seks tanpa kondom dalam 3 bulan terakhir.

Meskipun pertanyaan untuk menilai pelecehan seksual termasuk kata-kata yang kompleks,

sebagian besar peserta (n = 719, 61%) mencetak 61 atau di atas (dari kemungkinan 66) dari
Perkiraan Cepat Keaksaraan Orang Dewasa di Bidang Medis (REALM; Davis et al ., 1993). Skor
61 atau di atas konsisten dengan tingkat membaca SMA. Rata-rata di REALM adalah 57,9 (SD =
11,7), yang konsisten dengan ketujuh tingkat membaca kelas delapan.

Table 1 Karakteristik Pelecehan Seksual menurut Jenis Kelamin


Pria (n = 643)

Wanita (n = 534)

Total (n = 1177)

Tidak
mengalami
pelecehan
seksual
Pelecehan seksual tanpa paksaan
dan tanpa penetrasi
Pelecehan seksual hanya dengan
penetrasi
Pelecehan seksual secara paksa
dan dengan penetrasi

227

35

182

34

409

35

100

16

59

11

159

14

208

32

105

20

313

27

108

17

188

35

296

25

Analisis Statistik
Analisis varians (ANOVA) digunakan untuk menentukan apakah empat
kategori pelecehan seksual (tidak ada pelecehan seksual, pelecehan seksual
tanpa paksaan atau penetrasi, pelecehan seksual dengan penetrasi, dan
pelecehan seksual dengan kedua kekuatan dan penetrasi) dikaitkan dengan
perilaku seksual berisiko selanjutnya. Jika ada efek signifikan keseluruhan dari
pelecehan seksual, tes Tukey dilakukan untuk menentukan secara spesifik untuk
membedakan kelompok. Variabel demografis yang berbeda antara kelompok
dikendalikan dalam analisis ini. Dengan demikian, ANOVA termasuk: (1) kovariat
demografi dan (2) efek utama pelecehan seksual. Variabel hasil yang
berkelanjutan yang tidak terdistribusi normal (yaitu, jumlah pasangan selama
hidup, jumlah pasangan dalam 3 bulan terakhir, jumlah episode hubungan seks
tanpa kondom dalam 3 bulan terakhir, berapa kali peserta bertukar seks dengan
uang atau obat, dan jumlah diagnosis PMS sebelumnya) ditransformasikan
menggunakan log10 dari (x + 1) transformasi (Tabachnick & Fidell, 2001).
Kecuali dinyatakan lain, analisis terkait dengan variabel-variabel ini digunakan
transformasi log. Analisis eksplorasi dilakukan untuk menyelidiki apakah jenis
kelamin memoderasi hubungan antara karakteristik pelecehan seksual dan
perilaku seksual pada kemudian hari. ANOVA dilakukan termasuk kovariat
demografi, efek utama pelecehan, dan interaksi kekerasan dan jenis kelamin.
Hasil
Dari 1216 pasien yang menyelesaikan survei, 66% melaporkan
pelecehan seksual saat masa kanak-kanak atau remaja (n = 807). Dari jumlah
807 peserta yang memenuhi kriteria untuk pelecehan seksual, 159 (20%)
melaporkan pelecehan seksual tanpa paksaan dan tanpa penetrasi, 313 (39%)
melaporkan pelecehan seksual dengan penetrasi, 39 (5%) melaporkan
pelecehan seksual secara paksa dan tanpa penetrasi, dan 296 (37%)
melaporkan pelecehan seksual dengan baik paksaan dan penetrasi. Karena

beberapa peserta melaporkan pelecehan seksual secara paksa tetapi tanpa


penetrasi, para peserta dikeluarkan dari analisis, sehingga total sampel akhir n =
1177. Karakteristik pelecehan seksual berdasarkan jenis kelamin dilaporkan pada
Tabel 1.
Perbedaan demografis
Analisis awal diperiksa apakah ada variabel demografis dikaitkan dengan
karakteristik pelecehan seksual (lihat Tabel 2). Pelecehan seksual secara
bermakna dikaitkan dengan jenis kelamin, ras, pendidikan, dan usia saat ini.
Jadi, misalnya, peserta melaporkan riwayat pelecehan seksual lebih cenderung
terjadi pada pendidikan yang kurang dan lebih mungkin berasal dari ras minoritas
dibandingkan peserta yang tidak mengalami pelecehan. Yang penting, pelecehan
seksual secara paksa dan dengan penetrasi lebih banyak dilaporkan oleh
perempuan dibandingkan laki-laki. Semua perbandingan berpasangan untuk
karakteristik demografi disajikan pada Tabel 2. Karena asosiasi ini, jenis kelamin,
ras, pendidikan, dan usia saat ini digunakan sebagai kovariat dalam analisis
selanjutnya.
Tabel 2 Karakteristik demografis dari pelecehan seksual yang digolongkan
berdasar
Tidak Mengalami
Pelecehan Seksual a
(n = 409)
Jenis
Kelamin
(pria)
Ras
(minoritas)
Pendidikan
(SMA atau
lebih tinggi)
Umur
(dalam
tahun)

Pelecehan Seksual
(tanpa paksaan atau
penetrasi) b
(n = 159)

Pelecehan Seksual
(penetrasi) c
(n = 313)

Pelecehan Seksual
(paksaan dan
penetrasi) d (n = 296)

227 c,d

56

100 d

63

208 a,d

66

108 a,b,c

36

269 b,c,d

66

120 a,c

75

279 a,b,d

89

228 a,c

77

212 b.c.d
M

52
SD

100 a,c
M

63
SD

244 a,b,d
M

78
SD

191 a,c
M

65
SD

28,4 d

9,6

28,7

9,5

29,2

9,8

30,5 a

9,7

p <.05, dibandingkan dengan Tidak Mengalami Pelecehan Seksual

p <.05, dibandingkan dengan Pelecehan Seksual, Tanpa Paksaan atau Penetrasi

p <.05, dibandingkan dengan Pelecehan Seksual Tanpa Paksaan, Penetrasi

p <..05, dibandingkan dengan Pelecehan Seksual, Paksaan, Penetrasi

Hubungan antara karakteristik pelecehan seksual dan perilaku seksual


Setelah mengontrol kovariat demografis yang relevan, pelecehan seksual
secara bermakna dikaitkan dengan jumlah pasangan selama hidup, F (3, 1160) =

21,08, p <.0001, jumlah episode hubungan seksual tanpa kondom dalam 3 bulan
terakhir, F (3,1169) = 3,97, p <.01, jumlah pasangan 3 bulan lalu, F (3, 1169) =
7.28, p <.0001, berapa kali perdagangan seks, F (3, 1153) = 14.23, p <.0001,
dan jumlah diagnosis PMS sebelumnya, F (3, 1169) = 8.01, p <.0001 (lihat Tabel
3). Pelecehan seksual tidak terkait secara signifikan dengan proporsi episode
hubungan seks tanpa kondom selama 3 bulan lalu.
Tindak lanjut tes Tukey menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan
mereka yang mengalami pelecehan seksual dengan penetrasi, mereka yang
tidak mengalami pelecehan seksual telah secara signifikan lebih sedikit: (1)
pasangan seksual selama hidup (Cohen d = 0,40); (2) pasangan selama 3 bulan
terakhir (d = .23); (3) episode hubungan seks tanpa kondom di bulan terakhir (d =
.19); (4) episode perdagangan seks (d = 0,31); dan (5) diagnosis PMS
sebelumnya (d = 0,22; semua ps <.05). Demikian pula, dibandingkan dengan
mereka yang mengalami pelecehan seksual secara paksa dan dengan penetrasi,
mereka yang tidak mengalami pelecehan seksual memiliki lebih sedikit: (1)
pasangan seksual seumur hidup (d = .49); (2) pasangan dalam 3 bulan terakhir
(d = .29); (3) episode seks tanpa kondom dalam 3 bulan terakhir (d = 0,21); (4)
episode perdagangan seks (d = 0,46); dan (5) diagnosa PMS sebelumnya (d =
0,34; semua ps <.05).
Selain itu, dibandingkan dengan mereka yang mengalami pelecehan
seksual dengan penetrasi, mereka yang mengalami pelecehan seksual tanpa
paksaan dan tanpa penetrasi secara signifikan memiliki lebih sedikit pasangan
seksual selama hidup (d = .32) dan lebih sedikit ter diagnosis PMS sedikit
sebelumnya (d = .17, baik ps <.05). Demikian pula, dibandingkan dengan mereka
yang mengalami pelecehan seksual secara paksa dan dengan penetrasi, mereka
yang mengalami pelecehan seksual tanpa paksaan dan tanpa penetrasi secara
signifikan memiliki lebih sedikit: (1) pasangan seksual selama hidup (d = 0,34);
(2) episode perdagangan seks (d = .29); dan (3) diagnosis PMS sebelumnya (d =
0,30; semua ps <.05). Akhirnya, mereka yang mengalami pelecehan seksual
secara

paksa dan

dengan

penetrasi melaporkan lebih

banyak

terjadi

perdagangan seks daripada mereka yang mengalami pelecehan seksual dengan


penetrasi (d = .29; p <.05).
Karena perdagangan seks cenderung mengarah ke lebih banyak
pasangan seksual, episode hubungan seks tanpa kondom, dan diagnosis STD,

tindak lanjut analisis dilakukan untuk menentukan apakah pelecehan seksual


dengan penetrasi masih berhubungan dengan hasil-hasil perilaku seksual
setelah mengendalikan perdagangan seks. Semua efek tetap signifikan setelah
mengendalikan perdagangan seks (semua ps <.05).
Jenis kelamin sebagai moderator hubungan antara karakteristik pelecehan
sekseual dan perilaku seksual
Untuk menentukan apakah jenis kelamin memoderasi hubungan antara
karakteristik pelecehan seksual dan perilaku seksual,

interaksi pelecehan

seksual menurut jenis kelamin termasuk dalam ANOVA. Kovariat demografi yang
relevan dimasukkan.
Interaksi pelecehan seksual menurut jenis kelaminsecara bermakna
dikaitkan dengan jumlah episode perdagangan seks, F (3,1150) = 3,56, p <.05.
Analisis efek utama yang sederhana mengungkapkan, untuk perempuan dan
laki-laki, mereka yang mengalami pelecehan seksual secara paksa dan dengan
penetrasi melaporkan secara signifikan lebih banyak terjadi dari perdagangan
seks daripada mereka yang tidak mengalami pelecehan seksual, atau dari
mereka yang disiksa untuk berhubungan seksual tanpa paksaan dan tanpa
penetrasi. Namun, untuk perempuan saja, mereka yang mengalami pelecehan
seksual dengan penetrasi dilaporkan secara signifikan lebih banyak mengalami
perdagangan seks daripada perempuan yang tidak mengalami pelecehan
seksual (semua ps <.05; Lihat Gambar 1).

Tabel 3 Perilaku seksual beresiko pada partisipan yang melaporkan pelecehan


seksual secara paksa, pelecehan seksual tanpa paksaan, dan tanpa pelecehan
seksual (data mentah)
Tidak Mengalami
Pelecehan
Seksual a
(n = 409)

Pelecehan Seksual
(tanpa paksaan
atau penetrasi) b
(n = 159)

Pelecehan
Seksual
(penetrasi) c
(n = 313)

Pelecehan Seksual
(paksaan dan
penetrasi) d
(n = 296)

Pasangan seksual
(jumlah, seumur
hidup)
Pasangan seksual
(jumlah, 3 bulan
terakhir)
Seks tidak aman
(jumlah kejadian, 3
bulan terakhir)
Seks tidak aman
(proporsi, 3 bulan
terakhir
Seks untuk
mendapatkan uang
atau narkoba (jumlah,
seumur hidup)
Diagnosis PMS
(jumlah, seumur
hidup)

SD

SD

SD

SD

31,7 c,d

80,9

27,6 c,d

28,2

60,1 a,d

211,5

64,2 a,b

172,4

2,5 c,d

2,1

2,7

2,2

3,2 a

2,7

3,5 a

4.0

15,3 c.d

24,3

17.0

26.8

30.1

22.8 a,

38.2

0.68

0.32

0.64

0.33

0.70

0.30

0.67

0.33

4,9 c,d

55,9

5,6 d

42,0

6,5 a,d

42,4

17,6 a,b,c,d

89,6

2,4 c,d

3,0

2,6 c,d

3,2

3,4 a,b

3,6

4,0 a,b

4,1

20.7 a,

p <.05, dibandingkan dengan Tidak Mengalami Pelecehan Seksual

p <.05, dibandingkan dengan Pelecehan Seksual, Tanpa Paksaan atau Penetrasi

p <.05, dibandingkan dengan Pelecehan Seksual Tanpa Paksaan, Penetrasi

p <..05, dibandingkan dengan Pelecehan Seksual, Paksaan, Penetrasi

wanita
pria
log 10
(jumlah
terjadinya
perdagangan
seks

Tidak ada
pelecehan

Pelecehan
tanpa paksaan
atau penetrasi

Pelecehan
tanpa paksaan,
dengan
penetrasi

Pelecehan
dengan
paksaan dan
penetrasi

Gambar 1. Efek interaksi jenis kelamin dan status pelecehan seksual pada
kejadian perdagangan seks
Diskusi
Penelitian ini meneliti apakah karakteristik pelecehan seksual masa
kanak-kanak dan remaja (yaitu, jenis dan paksaan aktivitas seksual) yang
berkaitan dengan perilaku seksual berisiko dewasa, dan apakah asosiasi ini
berbeda berdasarkan jenis kelamin. Penelitian ini mengambil keuntungan dari
beberapa metodologi. Sebagai contoh, kami mengambil sampel sekelompok
besar pria dan wanita yang melaporkan pelecehan seksual; sampel besar dan
beragam ini memungkinkan eksplorasi dua karakteristik pelecehan seksual dan
perbedaan jenis kelamin. Kami juga menggunakan langkah-langkah suara
psikometrik dan survei dengan komputer, diketahui hasil di tingkat yang lebih
tinggi, dan mungkin lebih jujur, perilaku stigma sosial dan sensitif (Schroder et al.,
2003). Kekuatan ini meningkatkan kepercayaan validitas dan generalisasi hasil.
Satu kunci dari hasilnya adalah bahwa (1) pelecehan seksual dengan
penetrasi serta (2) pelecehan seksual secara paksa dan denganpenetrasi terkait
dengan tingkat yang lebih tinggi dari perilaku seksual orang dewasa
dibandingkan dengan (3) pelecehan seksual tanpa paksaan dan tanpa penetrasi
dan (4) tidak ada pelecehan seksual. Pola temuan ini menguatkan hasil dari
penelitian yang menyelidiki gangguan kesehatan mental pada pelecehan
seksual, yang menunjukkan bahwa hubungan seksual secara paksa (misalnya,
pada Bulik, Prescott, & Kendler, 2001; Rind et al, 1998;. Rodriguez, Ryan, Kemp,
& Foy, 1997) dan dengan penetrasi (misalnya, Briere & Elliott 2003 ;. Bulik et al,
2001) yang dikaitkan dengan kondisi psikologis yang lebih buruk; penelitian saat
ini juga menambah badan penelitian yang terbatas menunjukkan berhubungan
seksual antara secara paksa dan dengan penetrasi, dan perilaku seksual
kemudian harinya (misalnya, Cinq-Mars et al, 2003;.. Fergusson et al, 1997).
Besarnya efek asosiasi

antara pelecehan seksual dan perilaku seksual

selanjutnya adalah kecil ke menengah, menunjukkan bahwa variabel lain selain


jumlah pelecehan seksual untuk sebagian besar dari varians dalam perilaku
seksual orang dewasa. Temuan terakhir ini konsisten dengan gagasan bahwa
perilaku seksual orang dewasa dipengaruhi oleh beberapa lingkungan serta
faktor individu. (Smith & Subramanian, 2006).

Berhubungan seksual secara penetrasi dengan sukarela (yaitu, tanpa


paksaan) dan penetrasi yang berkombinasi secara paksa dikaitkan dengan
peningkatan perilaku seksual berisiko dibandingkan dengan mereka yang
mengalami pelecehan seksual tanpa paksaan dan tanpa penetrasi, dan orangorang yang tidak mengalami pelecehan. Satu-satunya perbedaan antara
hubungan seksual dengan penetrasi saja dan hubungan seksual dengan
penetrasi dan dilakukan secara paksa pada kelompok yang terlibat perdagangan
seks, di mana orang-orang yang mengalami pelecehan seksual secara paksa
dan dengan penetrasi dilaporkan terlibat dalam frekuensi yang lebih besar untuk
melakukan perdagangan seks, dibandingkan dengan mereka yang mengalami
pelecehan seksual dengan penetrasi dan tidak ada paksaan. Namun, temuan ini
memenuhi syarat dengan pelecehan seksual sesuai dengan jenis kelamin secara
signifikan. Karena jumlah peserta yang sangat kecil yang dilaporkan pelecehan
seksual secara paksa tetapi tanpa penetrasi (misalnya: dipaksa untuk berciuman
atau bermanja-manja).
Temuan yang agak tak terduga adalah kelompok yang melaporkan
pelecehan seksual tanpa paksaan dan tanpa penetrasi tidak berbeda secara
signifikan dari kelompok yang tidak dilecehkan pada salah satu hasil perilaku
seksual. Penyelidikan selanjutnya hubungan antara pelecehan seksual dan
perilaku seksual orang dewasa mungkin akan bermanfaat untuk menilai lebih
detail dari pengalaman seksual yang hanya melibatkan perbedaan usia yang
besar untuk menentukan bagaimana pengalaman ini dirasakan oleh laki-laki dan
perempuan, dan apakah pengalaman tersebut mempengaruhi perilaku seksual
berikutnya.
Mungkin tampak kontra-intuitif bahwa orang yang mengalami pelecehan
seksual yang lebih berat (misalnya, pelecehan seksual dengan paksaan atau
penetrasi) akan terlibat dalam pengalaman seksual yang lebih, daripada mereka
yang mengalami pelecehan seksual yang lebih ringan; yaitu, kemungkinan terjadi
pada orang yang mengalami pelecehan seksual yang berat untuk menghindari
seks karena konsekuensi negatif. Namun, hal ini tergantung terhadap individu
yang mengalami pelecehan seksual lebih ringan, orang yang mengalami
pelecehan seksual yang lebih berat dapat menggunakan strategi yang berbeda
untuk mengatasi pengalaman pelecehan seksual mereka. Dengan demikian,
bagi laki-laki dan perempuan, orang-orang yang mengalami pelecehan seksual

yang lebih berat mungkin terlibat penggunaan alkohol atau obat-obatan untuk
mengatasi pelecehan seksual, yang, pada saatnya, dapat menyebabkan
pertukaran berhubungan seksual dengan uang atau obat-obatan, dan / atau
mempunyai pasangan seksual yang lebih banyak dan melakukan episode
hubungan seksual tanpa kondom. Selain itu, alkohol dan penggunaan narkoba
lainnya dapat menyebabkan seseorang memiliki pasangan seksual yang lebih
banyak dan melakukan episode hubungan seks tanpa kondom karena
kemampuan untuk khawatir akan kesehatannya menurun, seperti tertular PMS
saat mabuk atau sakau (alkohol myopia; Steele & Josephs, 1990). Memang,
kami telah melaporkan sebelumnya bahwa penggunaan zat merupakan mediator
penting dari hubungan antara pelecehan seksual dan perilaku seksual berisiko
(Senn, Carey, Vanable, Coury-Doniger, & Urban, 2006); penelitian di masa depan
harus menyelidiki apakah penggunaan narkoba dan mediator potensial lainnya
beroperasi secara berbeda pada mereka yang mengalami tingkat keparahan
yang berbeda dari pelecehan seksual.
Penjelasan lainnya untuk hubungan antara pelecehan seksual yang lebih
berat dan perilaku seksual berisiko ketika dewasa yang lebih besar adalah Model
Dinamika Traumagenik Finkelhor dan Browne (1985). Model ini mengusulkan
bahwa salah satu konsekuensi dari pelecehan seksual adalah seksualisasi
traumatis, di mana anak mengembangkan skrip maladaptif untuk perilaku
seksual, ketika dihargai untuk berperilaku seksual dengan kasih sayang.
Pelecehan seksual yang lebih parah, seperti pelecehan seksual secara paksa
atau dengan penetrasi, dapat menyebabkan seksualisasi traumatis yang lebih
besar. Sebagai orang dewasa, mereka yang mengalami seksualisasi traumatis
percaya hubungan seksual diperlukan untuk mendapatkan kasih sayang dari
orang lain. Dengan demikian, seksualisasi traumatis dapat menyebabkan,
misalnya, seks konsensual awal atau lebih banyak pasangan seksual (misalnya,
Cinq-Mars et al, 2003;. Fergusson et al, 1997.).
Konsekuensi lain dari pelecehan seksual, menurut Finkelhor dan Browne
(1985), adalah ketidakberdayaan, di mana seorang anak belajar bahwa
kebutuhan atau permintaan nya diabaikan oleh orang lain; anak kemudian gagal
untuk mengembangkan kepercayaan dirinya untuk menghentikan kemajuan
seksual yang tidak diinginkan. Pelecehan seksual yang lebih parah, pelecehan
seksual terutama yang dilakukan secara paksa atau dengan penetrasi, mungkin

menyebabkan perasaan yang lebih tidak berdaya. Mungkin karena mereka tidak
memiliki keterampilan interpersonal atau kepercayaan diri untuk menghentikan
perbuatan seksual yang tidak diinginkan, orang-orang mungkin kurang
memungkinkan untuk menolak hubungan dengan pasangan yang menetap,
sehingga lebih banyak pasangan seksual. Ketidakberdayaan bisa membantu
menjelaskan temuan yang menghubungkan pelecehan seksual yang lebih parah
dengan perilaku seksual berisiko pada dewasa (misalnya, Cinq-Mars et al, 2003;.
Fergussion et al., 1997). Dalam hal ini, Kallstrom-Fuqua, Weston, dan Marshall
(2004) menemukan bahwa keparahan pelecehan seksual memiliki efek tidak
langsung pada hubungan maladaptif, dimediasi melalui ketidakberdayaan;
dengan demikian, memiliki banyak pasangan seksual bisa menjadi konsekuensi
dari kesulitan membentuk hubungan yang erat. Penelitian lebih lanjut diperlukan
untuk menguji apakah karakteristik pelecehan seksual diselidiki dalam penelitian
ini terkait dengan Finkelhor dan Browne dinamika traumagenik (1985).
Temuan lain yang dihasilkan oleh penelitian ini adalah bahwa karakteristik
pelecehan dikaitkan dengan hasil yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Untuk pria, hanya dengan pelecehan seksual secara paksa maupun dengan
penetrasi dikaitkan dengan frekuensi perdagangan seks yang lebih besar,
sedangkan untuk perempuan, pelecehan seksual dengan penetrasi, terlepas dari
apakah secara paksa atau tidak secara paksa, dikaitkan dengan perdagangan
seks yang lebih banyak. Dalam konteks budaya saat ini, laki-laki muda dapat
memandang seks dengan wanita yang lebih tua sebagai maskulin dan dewasa,
bukan kasar. Laki-laki, oleh karena itu, mungkin cenderung untuk melihat hanya
pengalaman yang melibatkan kekerasan atau paksaan sebagai pelecehan.
Perempuan, di sisi lain, mungkin lebih cenderung untuk melihat hubungan
dengan seseorang yang lebih tua sebagai penyimpangan, terlepas dari apakah
memaksa atau tidak memaksa terlibat. Ide ini didukung oleh meta analisis,
temuan yang menyebutkan reaksi anak laki-laki terhadap pelecehan seksual
kurang negatif daripada reaksi para perempuan (Rind et al., 1998). Persepsi
yang berbeda dari apakah pengalaman itu kasar atau tidak dapat menyebabkan
penggunaan strategi penanggulangan yang berbeda.
Hasil ini harus ditafsirkan dengan segala keterbatasan penelitian. Salah
satu keterbatasannya adalah penilaian pelecehan seksual dalam waktu singkat.
Penggunaan survei singkat memungkinkan kita untuk mendapatkan sampel yang

besar dan beragam, namun terbatas keragaman data yang dikumpulkan. Survei
tidak menilai aspek-aspek lain dari pelecehan seksual, seperti durasi, frekuensi,
dan hubungan dengan pelaku, yang mungkin berkorelasi penting dari hasil
kemudian (misalnya, Banyard & Williams, 1996; Briere & Elliott, 2003). Selain itu,
pertanyaan-pertanyaan singkat tidak memungkinkan untuk penilaian reaksi
terhadap pengalaman seksual; banyak peserta, terutama mereka yang tidak
melaporkan kekerasan atau paksaan, mungkin tidak menganggap diri mereka
dilecehkan

secara

seksual,

tetapi

mungkin

telah

melihat

pengalaman-

pengalaman seksual yang kacau atau bahkan konsensual. Penelitian di masa


depan, yang melibatkan campuran metode kualitatif dan kuantitatif, mungkin
membantu untuk menjelaskan hubungan empiris yang diamati dalam sampel
saat ini.
Keterbatasan kedua melibatkan sifat korelasional data. Jelas, data
tersebut membatasi kesimpulan kausal, meskipun mengingat urutan temporal
pelecehan seksual masa kanak-kanak / remaja dan perilaku seksual orang
dewasa, batas-batas tersebut mungkin kurang mengena dalam konteks ini.
Meskipun demikian, kami mengakui bahwa variabel yang belum dijelajahi yang
terkait dengan kedua pelecehan seksual dan perilaku seksual berisiko lebih
besar (misalnya, pengalaman masa kecil yang lebih buruk; Dong, Andari, Dube,
Giles, & Felitti, 2003) harus dimasukkan dalam penelitian pelecehan seksual dan
hubungan seks yang beresiko di masa depan.
Merupakan hal yang penting untuk mengetahui bahwa peserta dalam
penelitian ini diambil dari sebuah klinik penyakit menular seksual, dan mereka
dimasukkan karena mereka saat ini terlibat dalam perilaku seksual yang memiliki
risiko untuk tertular PMS. Tingkat pelecehan seksual yang dilaporkan dalam
sampel ini jauh lebih tinggi (yaitu, 15% untuk pria dan 30% untuk wanita)
daripada tingkat dilaporkan dalam sampel nasional (Briere & Elliott, 2003;
Finkelhor, Hotaling, Lewis, & Smith, 1990; Vogeltanz et al ., 1999). Selain terlibat
dalam perilaku seksual berisiko, pasien yang datang ke klinik PMS mungkin
berbeda dari masyarakat umum dengan cara penting lainnya juga; misalnya,
pasien yang datang ke klinik PMS sering melaporkaan tingkat penggunaan
alcohol dan narkoba yang sangat tinggi (Masak et al., 2006). Karena sifat dari
sampel, hasil dari penelitian ini mungkin tidakmenjadi generalisasi untuk populasi
lain.

Hasil ini memiliki implikasi bagi praktek dan penelitian. Mengenai


kesehatan masyarakat dan praktek klinis, mereka menunjukkan bahwa penilaian
kesehatan seksual menyeluruh harus mencakup pertanyaan tentang sifat
pelecehan seksual, terutama apakah paksaan yang terlibat dan apa jenis
tindakan seksual terjadi. Mengingat dampak yang mungkin pelecehan seksual
terhadap perilaku seksual berisiko (serta hasil kesehatan lainnya), kami sarankan
pendekatan yang lebih komprehensif untuk penilaian seksual kesehatan,
pendidikan, konseling, dan / atau terapi. Memang, temuan ini menyoroti
kebutuhan

untuk

mengembangkan

intervensi

yang

disesuaikan

dengan

kebutuhan yang unik dari orang dengan riwayat pelecehan seksual untuk
memningkatkan (dan memulihkan) kesehatan seksual dan mengurangi risiko
seksual. Sehubungan dengan penelitian, temuan ini menimbulkan banyak
pertanyaan

tentang

kondisi

di

mana

pelecehan

seksual

mengganggu

perkembangan seksual yang sehat dan ekspresi, dan tentang mekanisme yang
pelecehan seksual mempengaruhi perkembangan seksual, perilaku, dan
penyesuaian. Pekerjaan ini akan membutuhkan metode canggih dan analisis
untuk mengatasi keterbatasan yang secara inheren retrospektif dan penelitian
korelasional.
Lampiran A
Pelecehan Seksual Pertanyaan Anak / Remaja
Sebelum Anda 13, jenis aktivitas seksual apa yang anda miliki dengan siapa pun
yang 5 tahun atau lebih tua dari anda? Tandai semua yang pernah dilakukan :
(a) berciuman
(b) bercumbuan
(c) menerima seks oral
(d) memberikan seks oral
(e) hubungan seks vaginal
(f) anal seks
(g) tidak ada di atas

Antara usia 13 dan 16, jenis kegiatan seksual yang Anda lakukan dengan orang
yang 10 tahun atau lebih
lebih tua dari Anda? Tandai semua yang pernah dilakukan :
(a) berciuman
(b) bercumbuan
(c) menerima seks oral
(d) memberikan seks oral
(e) hubungan seks vaginal
(f) anal seks
(g) tidak ada di atas
Sebelum Anda 17, apa Anda pernah dipaksa untuk melakukan salah satu jenis
berikut aktivitas seksual? Tandai semua yang dilakukan
(a) berciuman
(b) bercumbu
(c) menerima seks oral
(d) memberikan seks oral
(e) hubungan seks vaginal
(f) anal seks
(g) tidak ada di atas

Ucapan Terima Kasih


Kami berterima kasih kepada pasien untuk partisipasi mereka serta staf di STD
Clinic Monroe County dan Tim Proyek Peningkatan Kesehatan atas kontribusi
mereka untuk pekerjaan ini didukung oleh hibah R01-MH54929 dari National
Institute of Mental Health.

Referensi
Arriola, K. R. J., Louden, T., Doldren, M. A., & Fortenberry, R. M. (2005). A metaanalysis of the relationship of child sexual abuse to HIV risk behavior among
women. Child Abuse and Neglect, 29, 725746.
Banyard, V. L., & Williams, L. M. (1996). Characteristics of child sexual abuse as
correlates of womens adjustment: A prospective study. Journal of Marriage
and the Family, 58, 853865.
Briere, J., & Elliott, D. M. (2003). Prevalence and psychological sequelae of selfreported childhood physical and sexual abuse in a general population
sample of men and women. Child Abuse and Neglect, 27, 12051222.
Bulik, C. M., Prescott, C. A., & Kendler, K. S. (2001). Features of childhood
sexual abuse and the development of psychiatric and substance use
disorders. British Journal of Psychiatry, 179, 444449.
Callahan, K. L., Price, J. L., & Hilsenroth, M. J. (2003). Psychological assessment
of adult survivors of childhood sexual abuse within a naturalistic clinical
sample. Journal of Personality Assessment, 80, 173184.
Carey, M. P., Braaten, L. S., Maisto, S. A., Gleason, J. R., Forsyth, A. D., &
Durant, L. E. (2000). Using information, motivational enhancement, and skills
training to reduce the risk of HIV infection for low-income urban women: A
second randomized clinical trial. Health Psychology, 19, 311.
Carey, M. P., Carey, K. B., Maisto, S. A., Gordon, C. M., Schroder, K.
E.,&Vanable, P. A. (2004).ReducingHIV-risk behavior among adults receiving
outpatient psychiatric treatment: Results from a randomized controlled trial.
Journal of Consulting and Clinical Psychology, 72, 252268.
Carey, M. P., Maisto, S. A., Kalichman, S. C., Forsyth, A. D., Wright, E. M., &
Johnson, B. T. (1997). Enhancing motivation to reduce the risk of HIV
infection for economically disadvantaged urban women. Journal of
Consulting and Clinical Psychology, 65, 531541.
Carlson, B. E., McNutt, L., & Choi, D. Y. (2003). Childhood and adult abuse
among women in primary health care: Effects on mental health. Journal of
Interpersonal Violence, 18, 924941.
Cinq-Mars, C., Wright, J., Cyr, M., & McDuff, P. (2003). Sexual at-risk behaviors
of sexually abused adolescent girls. Journal of Child Sexual Abuse, 12, 118.
Connell, R. W. (1987). Gender and power: Society, the person, and sexual
politics. Stanford, CA: Stanford University Press.
Cook, R. L., Comer, D.M.,Wiesenfeld, H. C., Chang, C. C., Tarter, R., Lave,
J.R.,&Clark,D.B. (2006).Alcohol and drug use and related disorders: An
underrecognized health issue among adolescents and young adults
attending sexually transmitted disease clinics. Sexually Transmitted
Diseases, 33, 565570.
Davis, T. C., Long, S.W., Jackson, R. H.,Mayeaux, E. J., George, R. B., Murphy,
P. W., et al. (1993). Rapid Estimate of Adult Literacy in Medicine: A shortened
screening instrument. Family Medicine, 25, 391395.
Dong, M., Anda, R. F., Dube, S. R., Giles, W. H., & Felitti, V. J. (2003). The
relationship of exposure to childhood sexual abuse to other forms of abuse,

neglect, and household dysfunction during childhood. Child Abuse and


Neglect, 27, 625639.
Fassler, I. R., Amodeo, M., Griffin, M. L., Clay, C. M., & Ellis, M. A. (2005).
Predicting long-term outcomes for women sexually abused in childhood:
Contributions of abuse severity versus family environment. Child Abuse and
Neglect, 29, 269284.
Feinauer, L. L., Mitchell, J., Harper, J. M., & Dane, S. (1996). The impact of
hardiness and severity of childhood sexual abuse on adult adjustment.
American Journal of Family Therapy, 24, 206214.
Fergusson, D. M., Horwood, L. J., & Lynskey, M. T. (1997). Childhood sexual
abuse, adolescent sexual behaviors and sexual revictimization. Child Abuse
and Neglect, 21, 789803.
Finkelhor, D. (1979). Sexually victimized children. NewYork: The Free Press.
Finkelhor, D., & Browne, A. (1985). The traumatic impact of child sexual abuse: A
conceptualization. American Journal of Orthopsychiatry, 55, 530541.
Finkelhor, D., Hotaling, G., Lewis, I. A., & Smith, C. (1990). Sexual abuse in a
national survey of adult men and women: Prevalence, characteristics, and
risk factors. Child Abuse and Neglect, 14, 1928.
Futterman, D., Hein, K., Reuben, N., Dell, R., & Shaffer, N. (1993). Human
immunodeficiency virus-infected adolescents: The first 50 patients in a New
York City program. Pediatrics, 91, 730735.
Jinich, S., Paul, J. P., Stall, R., Acree, M., Kegeles, S., Hoff, C., et al. (1998).
Childhood sexual abuse and HIV risk-taking behavior among gay and
bisexual men. AIDS and Behavior, 2, 4151.
Kallstrom-Fuqua, A. C., Weston, R., & Marshall, L. L. (2004). Childhood and
adolescent sexual abuse of communitywomen: Mediated effects on
psychological distress and social relationships. Journal of Consulting and
Clinical Psychology, 72, 980992.
Mason, W. A., Zimmerman, L., & Evans, W. (1998). Sexual and physical abuse
among incarcerated youth: Implications for sexual behavior, contraceptive
use, and teenage pregnancy. Child Abuse and Neglect, 22, 987995.
Merrill, L. L., Guimond, J. M., Thomsen, C. J., & Milner, J. S. (2003). Child sexual
abuse and number of sexual partners in youngwomen: The role of abuse
severity, coping style, and sexual functioning. Journal of Consulting and
Clinical Psychology, 71, 987996.
Rind, B., Tromovitch, P., & Bauserman, R. (1998). A meta-analytic examination of
assumed properties of child sexual abuse using college samples.
Psychological Bulletin, 124, 2253.
Rodriguez, N.,Ryan, S.W.,Kemp, H.V.,&Foy, D.W. (1997). Posttraumatic stress
disorder in adult female survivors of childhood sexual abuse: A comparison
study. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 65, 5359.
Schroder, K. E. E., Carey,M. P., & Vanable, P. A. (2003). Methodological
challenges in research on sexual risk behavior: II. Accuracy of self-reports.
Annals of Behavioral Medicine, 26, 104123.
Senn, T. E., Carey, M. P., Vanable, P. A., Coury-Doniger, P., & Urban, M. A.
(2006). Childhood sexual abuse and sexual risk behavior among men and

women attending a sexually transmitted disease clinic. Journal of Consulting


and Clinical Psychology, 74, 720731.
Smith, A. M. A., & Subramanian, S. V. (2006). Population contextual associations
with heterosexual partner numbers: A multilevel analysis. Sexually
Transmitted Infections, 82, 250254.
Steele, C. M., & Josephs, R. A. (1990). Alcohol myopia: Its prized and dangerous
effects. American Psychologist, 45, 921933.
Tabachnick, B. G., & Fidell, L. S. (2001). Using multivariate statistics (4th ed.).
Boston: Allyn and Bacon.
Vogeltanz, N. D., Wilsnack, S. C., Harris, T. R., Wilsnack, R. W., Wonderlich, S.
A., & Kristjanson, A. F. (1999). Prevalence and risk factors for childhood
sexual abuse in women: National survey findings. Child Abuse and Neglect,
23, 579592.
Walser, R. D., & Kern, J. M. (1996). Relationships among childhood sexual
abuse, sex guilt, and sexual behavior in adult clinical samples. Journal of
Sex Research, 33, 321326.
Wegener, D. T., & Fabrigar, L. R. (2000). Analysis and design for
nonexperimental data: Addressing causal and noncausal hypotheses. In H.
T. Reis & C.M. Judd (Eds.), Handbook of research methods in social and
personality psychology (pp. 412450). New York: Cambridge University
Press.
Zierler, S., Feingold, L., Laufer, D., Velentgas, P., Kantrowitz-Gordon, I., & Mayer,
K. (1991). Adult survivors of childhood sexual abuse and subsequent risk of
HIV infection. American Journal of Public Health, 81, 572575.

Beri Nilai