Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH MATA KULIAH MPKT B

TRANSPORTASI DI DKI JAKARTA

Kelompok HG-2 :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Abdi Mustaqim
Alexander Kevin Utomo
Anggoro Wiseso
Fadli Bakhtiar Aji
Maulana Rasis
Randy Putra Y.
Shabrina Nadhila

Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Depok
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Jakarta merupakan kota terbesar di Indonesia. Sebagai ibukota negara,
Jakarta memegang posisi sangat penting dalam hal politik, ekonomi, dan
perdagangan. Oleh karena itu, mobilitas penduduk yang terjadi sangatlah ramai.
Lalu lintas di Jakarta tidak dapat terhindar dari kemacetan, terutama pada titiktitik persimpangan baik di jalan-jalan protokol hingga di jalan lingkungan. Selain
kemacetan, banyak sekali hal-hal negatif lain seperti banjir, kecelakaan dan lainlain yang terjadi akibat ekosistem di Jakarta yang kurang baik, polusi yang
mewabah, populasi yang tak terkontrol, perencanaan pembangunan yang tidak
berjalan dengan semestinya, kurangnya penerapan teknologi ramah lingkungan,
kesalahan dalam pemilihan teknologi, dan traffic management system yang
kurang maksimal.
Busway yang ada di Jakarta merupakan solusi pemerintah dalam
mengatasi kemacetan dan penurunan kendaraan, tetapi ada efek negatif dari
adanya busway, yaitu jalan raya semakin menyempit karena seperempatnya
digunakan oleh jalur busway. Hal tersebut bukan solusi yang tepat dalam
mengatasi masalah kemacetan, justru merupakan masalah baru yang ada dalam
masalah transportasi.
Perkembangan kendaraan mobil pribadi dan motor pun terus bertambah,
sebagian warga Jakarta lebih banyak menggunakan mobil atau motor daripada
menggunakan kendaraan umum. Padahal, jika 90% warga Jakarta menggunakan
kendaraan umum, kemacetan pasti akan berkurang.
Pencegahan dan penanggulangan masalah-masalah tersebut dapat diatasi
perlahan-lahan sesuai dengan faktor-faktor yang menyebabkannya. Dan tindakantindakan tersebut tidak akan terlaksana dengan baik jika hanya pemerintah atau
masyarakat saja yang bergerak. Diperlukan keseimbangan antara kerja sama
pemerintah dengan kontribusi masyarakat.

B. Tujuan dan Manfaat


Penulisan ini memiliki tujuan untuk:

Menyalurkan ide dan aspirasi untuk menyelesaikan masalah


transportasi Jakarta.

Mengembangkan dan menambah wawasan tentang perkembangan


sistem transportasi Jakarta.

Mengetahui langkah-langkah strategis apa yang bisa dilakukan untuk


membuat transportasi di DKI Jakarta yang lebih baik.

Adapun manfaat yang dapat dicapai dari penulisan ini adalah:

Memberikan masukan kepada Pemerintah Kota Jakarta untuk


mengelola transportasi di DKI Jakarta secara lebih tepat.

Menyadarkan masyarakat agar mengetahui kondisi transportasi di


DKI Jakarta dan ikut berperan dalam memperbaikinya.

BAB II
PEMBAHASAN

Jakarta merupakan kota vital di Indonesia, yaitu kota pemerintahan


sekaligus kota pusat perekonomian yang cukup maju. Ditambah dengan populasi
yang sangat padat, mobilitas penduduk menjadi sangat tinggi. Hal tersebut
menjadi masalah ketika transportasi di DKI Jakarta tidak dikelola dengan baik,
terutama transportasi umumnya. Teknologi juga sangat berpengaruh dalam
masalah transportasi dan juga lingkungan. Untuk itu, perlu ditelaah lebih lanjut
mengenai kondisi dan solusi bagi transportasi di DKI Jakarta.
Hal-hal yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Ekosistem di DKI Jakarta


Dampak polusi udara bagi kesehatan manusia dan lingkungan
Kondisi dan pengaruh populasi terhadap transportasi
Perencanaan pembangunan di DKI Jakarta
Teknologi ramah lingkungan sebagai salah satu solusi
Pemilihan teknologi untuk penyelesaian masalah
Traffic Management System

A. Ekosistem di DKI Jakarta


Ekosistem memiliki kaitan dengan masalah transportasi di Indonesia
khusunya Jakarta. Masalah yang dijumpai beragam, mulai dari masalah udara,
banjir, maupun pengguna jalan itu sendiri. Pada bagian ekosistem ini kami akan
membahas masalah ekosistem pohon dan saluran air beserta teknologi untuk
memecahkan masalah tersebut.
1. Ekosistem Pepohonan
Pepohonan sangat dibutuhkan untuk membersihkan udara, terutama
pepohonan di jalan raya. Asap-asap yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor
tentu sangat mengganggu bagi pengguna jalan. Disinilah letak manfaat pohon
tersebut, pohon dapat merubah udara kotor menjadi bersih. Pohon juga diambil
manfaatnya dalam mengurangi debu.

2. Ekosistem Sungai/ Saluran Air


Sungai juga mengambil peran dalam hal kemacetan Jakarta, mungkin kita
semua berpikir bahwa kendaraan berjalan di jalan dan sungai memiliki jalurnya
sendiri, jadi apa hubungannya? Baik buruknya ekosistem sungai akan berdampak
kepada pengguna jalan apabila tibanya hujan atau air sungai yang meluap.
Buruknya ekosistem seperti banyaknya eceng gondok, membuang sampah di
sungai, buruknya tata ruang sungai, dll. Kemacetan yang sudah parah akan
bertambah parah apabila jalanan mulai tergenang air. Untuk membangun sistem
drainase yang baik, kita harus memperhatikan tata letak dan penjagaan agar
drainase tersebut berjalan normal. Hubungan yang sinergis antara keduanya akan
membuat kinerja drainase menjadi maksimal. Pemerintahan Jakarta telah mencoba
untuk bekerja sama dengan perusahaan Cina yang menawarkan teknologi berupa
bakteri pembersih air. Ini cukup membantu disamping masalah air yang kotor dan
dipenuhi sampah pada kali-kali di Jakarta.

B. Dampak Polusi Udara bagi Kesehatan Manusia dan Lingkungan


1. Gangguan Kesehatan Karena Polusi
Kualitas udara yang layak harus tersedia untuk mendukung terciptanya
kesehatan masyarakat. Standar tentang batas-batas pencemar udara secara
kuantitatif diatur dalam baku mutu udara ambient dan baku mutu emisi. Berbagai
polutan udara dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi manusia dan makhluk
hidup lain antara lain:
a. Karbon Monoksida
Gas CO yang terhirup dapat bereaksi dengan hemoglobin pada sel darah
merah seningga menghalangi pengangkutan oksigen yang sangat dibutuhkan
tubuh. Efek yang ditimbulkan diantaranya adalah pusing, sakit kepala, rasa mual,
ketidaksadaran (pingsan), kerusakan otak, dan kematian. Gas CO yang terhirup
dapat pula berdampak pada kulit dan menyebabkan masalah jangka panjang pada
penglihatan

Konsentrasi CO di
udara (ppm)
3
5
10
20
40
60
80
100

Konsentrasi COHb
dalam darah (%)
0,98
1,30
2,10
3,70
6,90
10,10
13,30
16,50

Gangguan pada tubuh


Tidak ada
Belum begitu terasa
Gangguan sistem saraf sentral
Gangguan panca indra
Gangguan fungsi jantung
Sakit kepala
Sulit bernafas
Pingsan - kematian

b. Sulfur Oksida, Nitrogen Oksida, dan Ozon


Gas sulfur oksida, nitrogen oksida, dan ozon pada konsentrasi rendah
dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan. Menghirup ketiga gas
tersebut dalam waktu cukup lama dapat menyebabkan gangguan pernapasan
kronis seperti bronkitis, amfisema, dan asma. Penyakit-penyakit ini umumnya
ditandai dengan kesulitan bernapas (sesak) akibat kerusakan organ pernapasan.
Gas-gas ini juga dapat memperparah gagguan pernapasan yang sedang diderita
seseorang. Sulfur oksida dan ozon dapat membahayakan kehidupan tumbuhan
karena bersifat racun bagi tumbuhan.
c. Materi partikulat
Materi-materi partikulat yang banyak terdapat di area pabrik, konstruksi
bangunan, dan pertambangan seperti serbuk batu bara, serbuk kapas, serbuk
kuarsa, dan serat asbes, dapat menyebabkan penyakit paru-paru. Tingkat
keparahan penyakit dapat beragam, mulai dari peradangan sampai pembentukan
tumor paru-paru.
Pada umumnya udara yang telah tercemar oleh partikel dapat
menimbulkan bebagai macam penyakit saluran pernapasan atau pneumoconiosis.
Pneumoconiosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh adanya
partikel (debu) yang masuk atau mengendap di dalam paru-paru. Beberapa jenis
penyakit pneumoconiosis yang banyak dijumpai di daerah kegiata indutri dan
teknologi antara lain: Silikosis, Asbestosis, Bisinosis, Antrakosis, danBeriliosis

d. Asap rokok
Asap rokok mengandung berbagai zat berbahaya seperti benzo--pyrene
dan formaldehid yang berpotensi menimbulkan bermacam-macam penyakit
seperti ganggua pernapasan, penyakit jantung dan kanker paru-paru.
e. Zat-zat penyebab kanker
Zat-zat penyebab kanker antara lain kloroform, para-diklorobenzena,
tetrakloroetilen, trikloroetan, dan radioaktif (misalnya radon). Zat-zat tersebut
umumnya merupakan jenis polutan udara di dalam ruangan (indoor air pollutans).

2. Solusi Mengatasi Penyakit Akibat Polusi


a. Perkecil Paparan Polusi
Sebisa mungkin, jangan terlalu lama berada di luar ruang pada saat jam
polusi. Kalau memang polusi tidak bisa dihindari, setidaknya Anda bisa
memperkecil paparannya. Caranya tergantung jenis dan sumber polusi. Jika
sumber polusi adalah debu dan asap kendaraan bermotor di jalan raya, jangan
malu untuk menutupi hidung dengan masker.
b. Tingkatkan Daya Tahan Tubuh
Ini barangkali mungkin tips yang terlalu sering diulang-ulang. Memang
seperti itulah mekanisme pertahanan tubuh terhadap penyakit. Sekalipun kita
terpapar polusi, tapi jika daya tahan tubuh cukup kuat, kita bisa tetap sehat. Untuk
meningkatkan daya tahan tubuh, konsumsi makanan dengan gizi seimbang,
olahraga teratur, istirahat yang cukup, dan hindari stres.

C. Kondisi dan Pengaruh Populasi Terhadap Transportasi


1. Statistik Daerah Provinsi DKI Jakarta 2012

Tabel 1. Statistik Penduduk DKI Jakarta 2012. Sumber: jakarta.bps.go.id

2. Pengaruh Populasi bagi Masalah Transportasi di DKI Jakarta


Kepadatan penduduk berpengaruh terhadap banyak aspek aktifitas
manusia yang berdampak kepada masalah transportasi di DKI Jakarta. Alat
angkutan (kendaraan) jelas diperlukan bagi mobilitas manusia untuk berbagai
kegiatan. Urgensinya semakin mutlak untuk efektifitas dan efisiensi kegiatan
kehidupan yang kompleks. Akan tetapi, efisiensi fasilitas alat angkutan (mobil)
yang tersedia tersebut dengan kaitannya dengan mobilitas manusia perlu
diperhatikan.
Jumlah penduduk Jakarta pada siang hari melonjak dari 9,7 juta menjadi
11,2 juta, sedangkan seluruh koridor busway yang sudah beroperasi hanya mampu
mengangkut 240 ribu orang per hari. Pemakai jasa angkutan umum di Jakarta.
Harus disadari dan dipahami bahwa untuk mengatasi masalah kemacetan
di Jakarta tidak bisa seperti membalikan telapak tangan, tidak bisa diselelesaikan
dalam jangka pendek, karena butuh waktu serta keseriusan dari semua pihak.
D. Perencanaan Pembangunan di DKI Jakarta
1. Proyek Monorel

Monorel Jakarta adalah sebuah sistem MassTransit dengan kereta rel


tunggal (monorel) dengan jakur elevated, yang kini sedang akan dalam
pembangunan di Jakarta, Indonesia. Dua jalur sedang dibangun: jalur hijau
melayani Semanggi-Casablanca-Kuningan-Semanggi dan jalur biru melayani
Kampung Melayu-Casablanca-Tanah Abang-Roxy.
a. Rencana Pengembangan
Projek ini direncakan 3 fase, dengan mengutamakan penumpang
Bekasi/Cikarang dan Tangerang/Karawaci yang menuju Pusat CBD Jakarta
(Penumpang Bogor dan Depok telah dilayani dengan KRL, namun akan
memanfaatkan monorel ke Pusat CBD Jakarta)

2. Mass Rapid Transit (MRT)


MRT adalah singkatan dari Mass Rapid Transit yang secara harafiah
berarti angkutan yang dapat mengangkut penumpang dalam jumlah besar secara
cepat. Beberapa bentuk dari MRT antara lain:

Berdasarkan jenis fisik : BRT (Bus Rapid Transit), Light Rail Transit
(LRT) yaitu kereta api rel listrik, yang dioperasikan menggunakan
kereta (gerbong) pendek seperti monorel dan Heavy Rail Transit yang
memiliki kapasitas besar seperti kereta Jabodetabek yang ada saat ini

Berdasarkan Area Pelayanan : Metro yaitu heavy rail transit dalam


kota dan Commuter Rail yang merupakan jenis MRT untuk
mengangkut penumpang dari daerah pinggir kota ke dalam kota dan
mengantarkannya kembali ke daerah penyangga (sub-urban). Jenis
yang akan dibangun oleh PT MRT Jakarta adalah MRT berbasis rel
jenis Heavy Rail Transit.

a. Manfaat
Manfaat langsung dioperasikannya sistem MRT ini adalah mampu
mengurangi kepadatan kendaraan di jalan karena dengan adanya MRT diharapkan

dapat mengalihkan masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi ke


transportasi massal.
Selain

itu, MRT juga memberikan kontribusi dalam meningkatan

kapasitas transportasi publik. Kapasitas angkut MRT (Lebak Bulus ke Bundaran


HI) diharapkan mencapai sekitar 412 ribu penumpang per hari (tahun ketiga
operasi dengan TOD dan TDM).
b. Perbedaan dengan Monorel
Berbeda dengan proyek monorel yang dikerjakan oleh pihak swasta
(business to business), MRT Jakarta adalah proyek yang dibiayai oleh pemerintah
melalui pinjaman pinjaman luar negeri Jepang/Japan International Cooperation
Agency/JICA (Government to Government). Pemerintah Republik Indonesia dan
Pemerintah

Provinsi

DKI

Jakarta

menjamin

ketersediaan

dana

dan

kesinambungan operasional sistem MRT ini. Selain itu MRT Jakarta juga
memiliki jalur dan kualifikasi yang berbeda dibanding monorel.

E. Teknologi Ramah Lingkungan sebagai Solusi


Pada zaman sekarang ini dimana kondisi bumi sudah semakin
memprihatinkan, semua orang berusaha untuk seramah mungkin dengan
lingkungan dalam kehidupan sehari-harinya. Begitu pula dengan alat-alat
pendukung kehidupan berteknologi tinggi yang satu per satu diciptakan oleh
manusia itu sendiri. Berbagai alat tersebut dibuat agar dapat tidak mencemari
lingkungan.
Sama halnya dengan kendaraan yang biasa kita gunakan sehari-hari. Untuk
mewujudkan kendaraan yang ramah lingkungan, berbagai produsen mobil dan
lembaga berlomba-lomba untuk mengembangkan kendaraan ramah lingkungan
mereka.
1. Teknologi pada Kendaraan Ramah Lingkungan

Berikut adalah beberapa teknologi yang sudah diterapkan produsen kepada


kendaraan mereka untuk mewujudkan kendaraan yang ramah lingkungan:
a. Mobil Hybrid
Mesin Hybrid ini menggabungkan mesin listrik dan mesin bensin yang
bekerja secara berkesinambungan. Yaitu saat kecepatan mobil rendah, yang
bekerja adalah adalah mesin listrik sedangkan pada kecepatan tinggi yang bekerja
adalah mesin bensin. Dengan ini, konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang dari
mesin hybrid dapat diminimalisir menjadi sangat rendah.
b. Mobil Listrik
Mesin listrik ini 100% menggunakan listrik yang berasal dari baterai
sebagai tenaga penggerak mobil sehingga dapat dikatakan konsumsi bahan bakar
dan emisi gas buangnya 0%.
c. Standar Euro
Emisi gas buang yang dikeluarkan kendaraan memiliki standar hitungan
sendiri yaitu standar euro. Semakin rendah kadar emisi suatu kendaraan semakin
tinggi tingkatan euronya. Saat ini standar euro yang sudah ditetapkan di Eropa
(negara asal pencetus standar euro) sudah mencapai euro 5 sedangkan yang
mampu diterapkan di Indonesia baru mencapai euro 3. Maka dari itu tiap
produsen berusaha membuat kendaraan yang ramah lingkungan untuk meraih
standar euro semaksimal mungkin.
2. Kaitan dengan Penanggulangan Kemacetan
Dengan penggunaan kendaraan yang ramah lingkungan, udara pada
wilayah perkotaan yang padat oleh kendaraan akan semakin bersih tanpa ada
polutan berat yang mencemarinya. Oleh karena udara yang segar itu, masyarakat
yang awalnya kerap menggunakan kendaran bermotor sebagai alat transportasi
utamanya tidak akan enggan untuk menggunakan alternatif-alternatif lain seperti
sepeda, berjalan kaki, atau mungkin skateboard maupun rollerblade bagi remaja.

Alternatif tersebut tidak akan nyaman untuk dipilih apabila kondisi udara kotor
dan penuh dengan polusi dari kendaraan bermotor.

F. Pemilihan Teknologi untuk Penyelesaian Masalah


Untuk mengembangkan kualitas sistem transportasi dan lalu lintas di DKI
Jakarta, diperlukannya pemilihan teknologi yang teliti dan selektif sesuai dengan
keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan

oleh teknologi tersebut. Namun,

kadang kala pemilihan teknologi yang dilakukan kurang tepat dan tidak berjalan
sesuai dengan yang diharapkan. Pemilihan teknologi yang sudah diterapkan
sepenuhnya di DKI Jakarta adalah pencanangan teknologi busway dan KRL,
sedangkan yang belum diterapkan sepenuhnya adalah monorel dan waterway.
1. Bus Trans Jakarta
Sejak tahun 2004, Pemerintah Daerah DKI Jakarta telah menghadirkan
layanan transportasi umum yang dikenal dengan TransJakarta atau teknologi
busway. Layanan ini menggunakan bus AC dan halte yang berada di jalur khusus.
Teknologi busway memiliki banyak kelebihan tetapi juga mempunyai banyak
kekurangan. Kelebihan yang dimiliki busway adalah menarik perhatian penduduk
untuk menggunakan transportasi umum busway yang memilik jalan bebas
hambatan, tidak perlu bermacet macetan karena punya jalur khusus.
Namun, dengan segala kelebihan yang dimiliki busway, penerapan
teknologi tranpsortasi busway mengalami kendala dan kegagalan. Padahal secara
teori mestinya tidak ada yang salah dengan busway ini.
2. Kereta Rel Listrik (KRL)
Selain bus Trans Jakarta, teknologi yang sudah diterapkan untuk
masyarakat Jakarta adalah kereta rel listrik atau yang biasa dikenal dengan KRL
Jabotabek. Kereta listrik ini beroperasi dari pagi hari hingga malam hari, melayani
masyarakat penglaju yang bertempat tinggal di seputaran Jabodetabek. KRL ini
banyak menguntungkan masyarakat Jabotabek yaitu KRL merupakan transportasi

yang cukup nyaman dan cepat, bisa menampung banyak penumpan dan mudah
dijangkau karena banyak stasiunnya.
Dengan segala keuntungan yang didapat, KRL juga memiliki kekurangan
seperti dengan kapasitas penumpang yang terbilang banyak, ternyata kapasitas
tersebut masih kurang bisa menampung penumpang di Jakarta dan juga terjadinya
kenaikan harga tarif KRL yang membuat harga tersebut terbilang relatif mahal.
3. Waterways
Angkutan Sungai, atau lebih populer dengan sebutan Waterways, adalah
sebuah sistem transportasi alterntif melalui sungai di Jakarta yang masih belum
diterapkan sepenuhnya. Sistem transportasi ini diresmikan penggunaannya oleh
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada tanggal 6 Juni 2007.
Sayangnya karena banyak faktor seperti sampah dan limbah yang
menumpuk di sungai Jakarta, perawatan kapal yang minim dan lain-lain,
penerapan waterway ini tidak dilanjutkan dan dimaksimalkan untuk kedepannya.
Padahal waterway dapat digunakan sebagai transportasi bebas dari kemacetan
dengan waktu tempuh yang relatif lebih cepat, sebagai potensi pariwisata dan
sebagai sarana edukasi.
G. Traffic Management System
1. Kondisi Lalu Lintas Jakarta
Tahun 2010, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta mencapai 6,7 juta unit,
dengan komposisi kendaraan roda dua mencapai 4,3 juta unit dan roda empat
mencapai 2,4 juta unit. Angka pertumbuhan kendaraan bermotor mencapai 0,7% 0,8% perbulan atau 11% per tahun. Setiap hari Dirlantas Polda Metro Jaya ratarata mengeluarkan 138 STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) baru. Artinya, ada
tambahan 138 kendaraan per hari di atas jalanan Jakarta. Dengan jarak satu
kendaraan dengan kendaraan lain masing-masing setengah meter saja ke muka
dan belakang, maka dibutuhkan ruang (jalan) enam meter per unit.

Rasio jumlah kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum adalah


98% berbanding 2%. Jumlah kendaraan pribadi yang hampir mencapai 100%
tersebut mengangkut 49,7% perpindahan manusia per hari.
Dengan pertumbuhan kendaraan bermotor yang sedemikian tinggi,
kecepatan rata-rata lalu lintas di Jakarta hanya 20 km/jam. Kurang lebih 60% total
waktu perjalanan dihabiskan di tengah kemacetan, dan hanya 40% total waktu
tersebut yang digunakan untuk bergerak. Bila dihitung, kerugian ekonomi akibat
kemacetan mencapai Rp 27,76 trilyun (USAID, 2008).
Kondisi ini masih diperparah dengan kehadiran lalu lalang 600.000 unit
kendaraan yang mengangkut sekitar 1,2 juta orang dari wilayah Bogor, Depok,
Tangerang, Bekasi memasuki Jakarta. Jumlah ini terus mengalami pertumbuhan.
Jika persentase pertumbuhan kendaraan bertambah seperti garis lurus, dan
sebaliknya pembangunan jalan mengalami perlambatan juga seperti garis lurus,
maka dipastikan pada titik di tahun 2014 Jakarta macet total.
2. Solusi yang Telah Diterapkan di DKI Jakarta
Berbagai solusi telah dilakukan Pemerintah DKI untuk mengatasi
permasalahan transportasi perkotaan di kota Jakarta. Akan tetapi upaya-upaya
tersebut belum mampu untuk memberikan hasil yang diharapkan, seperti :
a. Area Traffic Control System (ATCS)
ATCS dimaksudkan untuk mengurangi waktu hambatan di persimpangan
dengan mengoptimalkan sistem persimpangan dengan lampu lalu lintas, sehingga
akan diperoleh gelombang hijau (green wave) antara satu persimpangan dengan
persimpangan yang lain. Dengan green wave maka apabila pengguna jalan
mendapatkan lampu hijau pada satu persimpangan dan pengguna jalan tersebut
mengikuti batas kecepatan yang ditentukan, maka akan mendapat lampu hijau
pada persimpangan berikutnya.
Solusi ini belum memberikan hasil yang diharapkan karena beban volume
lalu lintas yang tinggi, banyaknya hambatan samping pada ruas jalan dan
persimpangan, dan kondisi teknis infrastruktur ATCS yang kurang mamadai.

b. Aturan 3 in 1
Aturan ini mewajibkan semua kendaraan pribadi yang akan melewati jalan
Sudirman dan Thamrin, berpenumpang 3 orang atau lebih termasuk pengemudi
yang diterapkan pada jam sibuk pagi dan sore. Skema ini sedikit banyak telah
mampu menekan penggunaan kendaraan pribadi pada koridor utama tersebut,
akan tetapi hal ini tidak berpengaruh banyak terhadap keseluruhan sistem
transportasi perkotaan di Jakarta.
Kelemahan dari skema ini antara lain: Tidak adanya manajemen atau aturan yang
melarang pengunaan jalan-jalan lokal, beroperasinya penyedia jasa ilegal yang
berperan sebagai penumpang (jockey) dengan imbalan sejumlah uang, daerah
cakupan aturan ini terbatas pada satu koridor dan tidak didukung dengan skema
manajamen permintaan yang lain (seperti manajemen parkir) serta alternatif
sistem angkutan umum yang baik.
c. Pengembangan Bus Rapid Transit (BRT)
Bus Rapid Transit (BRT) dikembangkan di Jakarta dengan membangun
Bus Only Lane (Busway) di beberapa koridor utama di Jakarta. Busway
dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan angkutan umum dan mampu
menarik pengguna kendaraan pribadi untuk menggunakan angkutan umum ini
(Busway) sehingga akan mengurangi kemacetan. Solusi ini juga belum
memberikan hasil yang optimal, Busway belum bisa berbuat banyak untuk
menarik minat pengguna kendaraan pribadi. Hal ini dimungkinkan terjadi karena
opportunity cost dan standard kebutuhan kenyamanan pengguna kendaraan
pribadi relatif tinggi dimana hal ini belum mampu dipenuhi oleh Busway, serta
daerah pelayanan yang terbatas dan belum menjangkau daerah pinggiran Jakarta.
d. Penertiban Parkir dan Pedagang Kaki Lima
Penggunaan ruas jalan untuk parkir (on-street parking) dan pedagang kaki
lima (juga di trotoir) akan mengurangi kapasitas jalan. Untuk mengatasi hal ini,
Pemerintah DKI Jakarta telah melakukan upaya penertiban dengan melarang dan

merazia pedagang kaki lima serta penggembokan terhadap kendaraan-kendaraan


yang parkir pada ruas jalan yang tidak disediakan untuk parkir.
Upaya ini belum begitu efektif dan tidak terlihat dampaknya terhadap
perbaikan lalu lintas. Hal ini dimungkinkan karena tidak adanya konsistensi
kebijakan, penegakan aturan yang kurang maksimal, dan masih banyaknya area
on-street parking yang diijinkan.
e. Pembangunan Ruas Jalan Toll Dalam Kota
Dalam beberapa tahun terakhir, telah dibangun beberapa ruas jalan toll di
kota Jakarta sebagai upaya untuk menambah kapasitas jaringan jalan di Jakarta.
Pembangunan ruas jalan toll di Jakarta belum mampu mengatasi kemacetan di
Jakarta. Terdapat kecenderungan, peningkatan kapasitas jalan justru menjadi salah
satu variabel yang mendorong penggunaan kendaraan pribadi.
3. Solusi yang Ditawarkan
a. Electronic Road Pricing (ERP)
Electronic Road Pricing (ERP) adalah pengenaan biaya secara langsung
terhadap pengguna jalan karena melewati satu area atau koridor yang macet pada
periode waktu tertentu.Tujuan dari sistem ini adalah untuk mengurangi
kemacetan, menambah sumber pendapatan daerah atau negara, mengurangi polusi
udara dari kendaraan, dan mendorong masyarakat untuk menggunakan angkutan
umum massal.
b. Electronic Toll Collection (ETC)
Sistem penarikan tarif jalan tol yang lebih cepat dan efisien dari sistem
manual pada gerbang tol karena kendaraan yang melewati gerbang tol tidak perlu
melambat ataupun berhenti untuk membayar tarif tol. Tarif tol akan otomatis
terbayarkan melalui debet langsung ke rekening pengguna kendaraan.

BAB III
PENUTUPAN

A.

KESIMPULAN DAN USULAN


1. Kesimpulan
Dari hal yang telah dipaparkan diatas, mulai dari kondisi saat ini hingga

solusi yang perlu diberlakukan, kita dapat menilai seberapa besar kemajuan
transportasi di DKI Jakarta ini. Saat ini kondisi yang ada masih sangat
memprihatinkan baik dari segi pengelolaan maupun teknologi. Untuk itu
kedepannya perlu adanya pengembangan sesuai dengan lingkup yang telah
dibahas. Baik dari manusianya, alat transportasinya, hingga metodenya perlu
diperbaiki.
2. Usulan
Sesuai dengan hal yang telah dibahas, perlu adanya tindakan perubahan
untuk menuju transportasi DKI Jakarta yang lebih baik. Usulan ini bertujuan
kepada pihak pemerintah selaku pengelola transportasi di Jakarta ini, dan juga
kepada masyarakat sebagai pengguna yang juga bertanggung jawab atas lancarnya
pengembangan ini. Diharapkan, aturan-aturan maupun metode yang telah
disampaikan dalam makalah ini, seperti ERP, ETC, dan juga teknologi ramah
lingkungan, dapat diaplikasikan di dalam pengembangan moda transportasi di
DKI Jakarta. Pemerintah bisa mengambil langkah konkrit dengan dibuatnya badan
khusus ataupun dibuat kerja sama dengan pihak yang bisa mengembangkan
usulan yang telah disampaikan. Bagi masyarakat, penggunaan kendaraan umum
haruslah mengikuti prosedur yang ada sehingga tercipta ketertiban dan
kenyamanan dalam berkendara. Selain itu, juga harus mematuhi aturan-aturan
yang akan dibuat demi terwujudnya tujuan dari dibuatnya aturan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Ibukota yang Tak Punya Rencana: http://dtk-jakarta.or.id/v3/en/slideview/ibukota-negara-yang-tak-punya-rencana/


Menata Kembali Transportasi Jakarta: http://www.ylki.or.id/menata-kembalitransportasi-jakarta.html http://www.jakartamrt.com/

Sungai di Condet Meluap, Cililitan Macet:


http://www.merdeka.com/jakarta/sungai-di-condet-meluap-cililitanmacet.html
Cairan Pengurang Debu: http://blog.indojunkers.com/2010/11/canggihlondon-punya-cairan-pengurang-debu/
Udara Bersih Jakarta, Hanya 27 Hari Setahun:
http://metro.news.viva.co.id/news/read/239275-udara-bersih-jakarta-hanya27-hari-setahun
Kemacetan Jakarta Akibat Buruknya Penataan Ruang:
http://www.bisnis.com/articles/kemacetan-jakarta-akibat-buruknyapenataan-ruang
Konsep Pemerintah: http://bebasbanjir2025.wordpress.com/konseppemerintah/dinas-pu-dki-jakarta-2/
ERP: http://www.kpbb.org/news/tdm-erp-factsheet-280111-screen.pdf
ERP ETC:
http://bulletin.penataanruang.net/upload/data_artikel/ELECTRONIC
%20ROAD%20PRICING%20 UNTUK%20JAKARTA%20REV.pdf
Transportasi Jakarta: http://library.binus.ac.id/eColls/eThesis/Bab2/Bab
%202_08-56.pdf