Anda di halaman 1dari 3

Pengolahan limbah Padat

Limbah padat secara fisik berbentuk padat,sering disebut sampah.


Bentuk, jenis dan komposisi sampah tergantung sumbernya. Secara garis
besar sampah diklarifikasikan sbb :

Sampah domestik (domestic waste), yaitu limbah padat yang


berasal dari rumah tangga

Sampah industri (industrial waste), berasal dari buangan


industri. Jenis buangan industri tergantung pada proses
industri. Pada pabrik sepeda motor, banyak limbah logam

Sampah pertanian berasal dari kegiatan pertanian yang


meliputi perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan
Sampah komersial, berasal dari lingkungan perdagangan
Masalah limba padat dapat dipisahkan menjadi 3 langkah, yaitu :
Pengumpulan dan transportasi limbah padat
Recovery reaksi yang beragam dari bahan ini
Disposal residu ke dalam lingkungan
Reuse, Recycling dan Recovery Bahan (maksimal) dari sampah
Pemisahan bahan bahan dilakukan pada sumber limbah. Pemisahan
minyak jenis jenis bahan yang berbeda dan pengumpulan yang
selanjutnya dikembalikan ke sektor publik disebut Recycling.
Pemisahan sumber merupakan langkah awal recycling yang meliputi
pengumpulan, transport dan
akhirnya
dijual
ke
industri
yang
menggunakan bahan. Contoh : botol gelas dapat dipisahkan dari
sampah, dikumpulkan dan diproduksi kembali menjadi botol gelas yang
baru. Pada recycling produk dapat digunakan kembali. Pada recovery
bahan, bahan diproses menjadi produk yang sederhana dan murah.
Pengolahan Gas Buang ;
Sorpsi
Penyaringan
Baghouse Filter
Umumnya digunakan untuk menangkap partikel sebelum dibuang melalui
cerobong ke atmosfer. Baghouse filter digunakan untuk mengolah gas
buangan ke atmosfer

Limbah Bahan Berbahya Dan Beracun (B3)


Adalah jenis limbah buatan manusia (tidak terjadi secara alamiah) umumnya
merupakan hasil samping suatu industry. Karakteristik limbah B3 ini adalah
mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif (mudah bereaksi),
beracun, menyebabkan infeksi dan bersifat korosif. Limbah B3 dapat berupa
padat, cair, atau gas. Pengolahan yang salah terhadap limbah B3 seperti
menimbun atau mengbur dalam tanah, membakar tanpa kendali ataupun
membuang langsung ke badan air, akan berdampak negative terhadap
lingkungan maupun kesehatan
Dampak Pembakaran Limbah B3 Yang Tidak Terkendali
Produk samping hasil pembakaran limbah B3 adalah gas beracun. Limbah
B3 yang dibakar pada suhu yang tidak sesuai dengan titik hancurnya
(destruction temperature) dapat menjadi senyawa lain yang lebih beracun.
Contoh : Limbah minyak trafo dan tfansformator yang mengandung PCB
(Poli Chlorinated Bipheryl). Pembakaran PCB dibawah suhu 1200C tidak
memusnahkan menjadi H2O, CO2 dan HCl melainkan akan membentuk
dioksin yang lebih beracun dan sangat mematikan.
Dampak Penimbunan Limbah B3 Yang Tidak Terkendali
Polutan-polutan beracun yang terkdang dalam limbah B3 yang ditimbun
cepat ataupun lambat akan tercuci oleh air tanah ataupun air hujan.
Polutan beracun yang terbawa air tanah ini akan menyebar didalam tanah,
sehingga akan meracuni sumber air bawah tanah serta sumur-sumur
penduduk sekitar. Akibat pencemaran limbah industry yang hanya dibuang
dan ditimbun yang mengakibatkan penyakit yang berbahaya adalah
didaerah love canal, Amerika Serikat. Pembuangan didaerah ini tahun
1930-1947.
Dampak Pembuangan Limbah B3 Ke Perairan
Beberapa jenis limbah industry ada yang dibuang ke perairan seperti
sungai, danau, karena limbah tidak dapat dibakar maupun ditimbun karena
terbatasnya lahan. Dampak yang timbul dapat spontan terjadi perubahan
fisik/kimia dari perairan yang tercemar, dan dapat pula bersifat kronis /

jangka panjang. Contoh pencemaran yang bersifat kronis adalah


pencemaran mercuri (Hg) di teluk Minamoto, Jepang. Contoh diatas
merupakan damak penanganan limbah B3 yang tidak sebagaimana
mestinya mulai terasa beberapa tahun kemudian.
Upaya Pencegahan Pencemaran Limbah B3
Pengolahan limbah B3 harus dilakukan secara baik dan benar untuk
mencegah terjadinya turunnya kualitas suatu lingkungan.
Upaya Penghasil Limbah
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pihak industriuntuk meniadakan
atau mengurangi dampak negative limbah B3 adalah dengan cara
minimalisir Limbah (waste minimization) langkah ini dikenal dengan 3R,
yaitu
Reduce (pengurangan jumlah limbah yang dihasilkan)
Reuse (penggunaan ulang limbah)
Recycle ( daur ulang limbah)
Jika Upaya 3R ini dilakukan dan limbah masih tetap dihasilkan maka upaya
terakhir adalah pengolahan dan pembuangan limbah. Pengolahan dan
pembuangan limbah diatur oleh Peraturan Pemerintah dan keputusan
BAPEDAL
Penimbunan / Pembuangan Residu Pengolahan
Penimbunan
dalam
Penimbunan ke
Pembuangan
ke
tanah
badan air
Udara
KepKepKep04/BAPEDAL/09/1995
03/MENKLH/1995
03/BAPEDAL/09/1995
Pengolahan Limbah B3 secara resifikasi kimia (Pengendapan)
Resifikasi kimia adalah proses dimana polutan terlarut dikonversikan menjadi
senyawa tidak larut baik dengan reaksi kimia ataupun dengan merubah
komposisi pelarut sehingga mengurangi daya larut polutan tersebut
Pengolahan Secara Evaporasi
Teknologi evaporasi saat ini banyak digunakan untuk mengolah limbah B3
yang berpa cairan. Untuk industry yang menghasilkan limbah cair engan
jumlah besar namun konsentrasinya rendah. Teknik ini biasa digunakan
untuk memekatkan polutan yangn akan diolah lebih lanjut. Teknologi ini
umumnya relative lebih mahal disbanding dengan teknologi IPAL biasa.
IPAL= Teknologi Pengolahan Limbah.
Proses Peleburan Gelas banyak digunakan dan dijual secara komersial
untuk mobilisasi limbah B3 proses ini dapat memusnahkan polutan beracun
dalam limbah B3 yang terkungkung dalam gelas. Proses peleburan gelas ini
dioperasikan engan pemanas Joule yang menggunakan electrode untuk
mengahantarkan arus listrik ke dalam lelehan gelas. Oksida-oksida yang
berasal dari limbah cair akan terkungkung dalam gelas secara permanen
dan stabil.
Teknologi Penyimpanan Limbah B3
Proses pengolahan limbah secara fisika, kimia, ataupun termal untuk
mengkonversi limbah B3 menjadi limbah yang tidak/kurang beracun. Produk
pengolahan limbah B3 yang berupa gas harus memenuhi baku mutu emisi
udara sebelum dibuang kelingkungan. Baku mutu untuk emisi gas dari
ingenerasi (pembakaran) diatur oleh keputusan kepala Bapedal
No.Kep.03/BAPEDAL/09/1995.
Produk Pengolahan B3 berupa cair harus memenuhi baku mutu air sebelum
residu pengolahan Limbah berupa cair tersebut dibuang kebadan air seperti
sungai, danau, laut. Baku mutu limbah cair tersebut diatur oleh keputusan
menteri kependudukan dan lngkungan hidup No Kep.13/MENKLH/1993
limbah B3 berupa padat atau lumpur. Produk pengolahan diatur oleh
keputusan
kepala
badan
pengendalian
dampak
lingkungan
No.Kep.04/BAPEDAL/09/1995.
Produk pengolahan limbah B3 ini harus ditimbun dalam suatu secure
Landfill dimana sebelum penimbunan limbah tersebut harus memenuhi
kriteria laju penelitian unsur2.
Pemilihan Lokasi Landfill
Penimbunan limbah B3 harus dilakukan disuatu lokasi yang tepat dan benar
serta memenuhi persyaratan lingkungan. Persyaratan lokasi tempat
penimbunan dan pembuangan limbah B3 adalah lokasi landfill 1 lokasi
landfill harus suatu daerah yang bekas banjir yang selama seratus tahunan.
Geologi Lingkungan
Lokasi Landfill tidak bioleh mempunyai potensi bencana alam seperti
longsor, letusan gunung api, gempa bumi dan patahan aktif. Tanah ini harus
bersifat kedap air.
Hidrologi
Lokasi landfill sedapat mungkin tidak berada diatas lapisan tanah.
Lokasi landfill bukan daerah genangan air jarak minimum 500m dari
lingkungan aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun.
Curah hujan diutamakan kecil/ daerah kering.
Kecepatan angin tidak mengarah ke daerah penduduk landfill tidak
menggunakan tanah pertanian yang subur.
Pengolahan Limbah Radioaktif
Limbah radioaktif mengandung unsur-unsur yang tidak stabil dan
memencarkan sinar radioaktif (, , ). Sinar bahaya jika masuk kedalam
tubuh -> Capek. Gaya ronisasi yang besar -> jangkauan pendek. Lama
kelamaan unsur radioaktif itu berubah menjadi unsur stabil (tidak radioaktif).
Waktu perubahan bervariasi tergantung umur paruh dari unsur radioaktif.
Senyawa atau bahan beracun akan tetap beracun selamanya. Sifat racun
akan hilang jika senyawa tersebut diubah menjadi senyawa lain. Secara fisik
limbah radioaktif dapat berupa padat, cair, dan gas. Limbah radioaktif padat
dapat diolah insenerator. Limbah Radioaktif gas diolah dengan filter dan
scrubber (penyerap dengan air).

Pengolahan Limbah Radioaktif berdasarkan tas tujuan disposal maka


digolongkan menjadi :
1.Limbah aktifitas rendah yang mengandung sedikit radio nuklida / bahan
radioaktif pemancar & dan sedikit atau tidak mengandung pemancar .
2.Limbah aktifitas tinggi yang banyak mengandung radionuklida pemancar
& dan sedikit pemancar .
3.Limbah transuranium : banyak mengandung pemancar , tanpa & .
Proses Imobilisasi / Solidifikasi
Adalah proses pencampuran limbah hasil olahan dengan bahan
matriks tertentu sehingga diperoleh bentuk produk yang mengandung
unsur unsur limbah. Jika hasil imobilisasi tersebut kena air, maka
unsur unsur tersebut akan tertindih (terlucut) oleh air dan terlepas
ke lingkungan. Unsur unsur yang telah di mobilisasi dalam bahan matriks,
sukar terbuat dari air.
Dampak hasil olahan antara lain :
Folk / lumpur hasil pengolahan secara kimia.
Konsentrat evaporator.
Resin bekas dan zeolit bekas.
Abu hasil insenerasi (pembakaran)
Bahan matriks yang digunakan untuk imobilisasi :
Semen
Bitumen / aspal
Polimen
Gelas / keramik
Untuk limbah industri biasanya digunakan semen karena murah.
Alternatif yang lain adalah polimen eksotermis (polimer yang jika
direaksikan menghasilkan panas). Proses tersebut pembuatannya
sederhana dan tahan terhadap air. Sedangkan kekurangan semen
adalah jangka lama (300 tahun) akan mengalami degradasi /
kerusakan.
Aspal lebih tahan lama dibanding semen, tetapi lebih mahal dan
pembuatannya perlu panas. Jadi semen lebih banyak digunakan.
Proses pengolahan sebelum imobilisasi (pengolahan secara kimia,
penukar ion, evaporasi, dan insenerasi) disebut reduksi volume, karena
memngurangi volume limbah
Ekosistem
Kegiatan industri mengakibatkan adanya polusi yang berpengaruh terhadap
masalah lingkungan.
Beberapa masalah lingkungan yaitu :
1. Efek Rumah Kaca
Adanya karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan oleh pembakaran bahan
bakar fossil meliputi minyak bumi, batubara. Jika kadar CO2 tinggi, maka
akan terjadi CO2 di udara sangat banyak. Gas CO2 ini merupakan
penyerap panas, sehingga terjadi kenaikan suhu di atmosfer. Kenaikan
suhu global ini yang disebut efek rumah kaca. Efek rumah kaca juga
meningkatkan suhu air sampai 4,5 C dan kenaikan permukaan air laut
sampai + 4,5 cm.
2. Hujam Asam
Hujan asam merupakan hujan yang mengandung asam sulfate (H2SO4),
asam klorida (HCl), HNO3
Dalam pembakaran bahan bakar fossil dihasilkan belerang oksida (SOx)
gas HCl dan nitrogen oksida (NOx)
Belerang oksida diantaranya :
* Belerang dioksida (SO2)
* Belerang trioksida (SO3), jika bereaksi dengan air akan menghasilkan
asam sulfat
Sedangkan nitrogen dioksida jika bereaksi dengan air akan menghasilkan
asam nitrat (HNO3) Gas gas tersebut dibawa air hujan akan menjdi asam
yang jatuh di tanah. Hujan asam ini
mengakibatkan korosi konstruksi,dan mematikan organisme air.
3. Pengikisan Lapisan Ozon
Ozon ini dihasilkan dari reaksi hydrocarbon dan NO2 yang berasal dari
pembakaran bahan bakar fossil dengan bantuan sinar matahari.
Hydrocarbon merupakn senyawa C dan H sedangkan karbohidrat adalah C
H dan O. Reaksi nitrogen oksida dan Hydrocarbon menghasilkan ozon dan
peroxyacil nitrat (PAN). Ozon dan PAN merupakan komponen utama kabut.
Gas polutan lain yang berdampak negatif terhadap atmosfer adalah
Chloroflurocarbon (CFC). Bahan CFC ini digunakan sebagai bahan
refrigerant, pembuat plastik busa dan bahan isolator. Bahan CFC juga
mengakibatkan penipisan lapisan ozon di atmosfer bumi. Pada lapisan
atmosfer terendah ozon mengganggu kesehatan, sedangkan pada lapisan
atmosfer atas ozon melindungi makhluk hidup dari radiasi si ar ultraviolet.
Oleh karena reaksi ozon
CFC yang berbahaya maka produksi CFC di dunia dihentikan.
Globalisasi Masalah Lingkungan
Adalah adanya keterkaitan masalah lingkungan dengan pembangunan
dunia. Pembangunan seharusnya dilakukan untuk menyelesaikan
masalah lingkungan, namun pada negara berkembang pembangunan
menimbulkan masalah lingkungan. Ini disebabkan pada negara
berkembang, pembangunan dilakukan dengan mengeksploitasi sumber
daya alam secara berlebihan untuk menutupi biaya pembangunan dan

pembayaran hutang.
Aliran Energi dan Bahan dalam Ekosistem
Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup
dengan lingkungannya. Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang
terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungannya. Ekologi dapat dikatakan sebagai ekonomi alam dalam
bentuk materi dan energi. Agar kesatuan dalam ekosistem teratur,
dibutuhkan arus materi dan energi yang terkendali. Keteraturan ekosistem
dicapai bila ekosistem berada dalam kondisi kesetimbangan dinamis.
Bahan / Materi sebagai Penyusun Tubuh Mnusia, Hewan dan Tumbuh
Tumbuhan (C, H, O, N, P)
Unsur unsur tersebut menyusun air (H2O), glukosa (C6 H12 O6), gula (C12
H22 O11) karbohidrat, lemak, dan protein. Materi tidak ada habisnya. Dari
siklus rantai makanan, materi mengalir dari tubuh makhluk hidup yang satu
ke yang lain.
Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Energi tidak dapat
dilihat, yang dapat dilihat adalah perubahan karena energi.
Contoh : benda didorong oleh manusia, makan benda tersebut bergerak /
berpindah tempat Energi ini berubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain.
Semua kehidupan berasal dari energi matahari. Bahan makanan, tumbuh
tumbuhan diantranya H2O pada proses fotosintesis
terjadi reaksi sbb :
Bahan makanan + CO2 + E (energi makanan) molekul energi tinggi + O2
(karbohidrat, lemak, protein)
Dalam kondisi tertentu tanaman dan hewan mati tidak membusuk, dalam
jangka lama akan menjadi bahan bakar fossil (batubara dan miyak bumi).
Makhluk hidup ini perlu energi untuk melakukan aktifitasnya (pembiakan,
pertumbuhan, gerakan). Energi ini diambil dari molekul energi tinggi. Bahan
baku dibakar menghasilkan energi pembakaran dalam sel yg disebut
Respirasi sbb :
Molekul energi tinggi + O2 CO2 + bahan makanan + energi
Tanaman karena memproduksi energi tinggi, disebut produsen. Binatang
menggunakan molekul energi tinggi disebut konsumen. Tanaman dan
hewan menghasilkan limbah dan akhirnya mati membentuk bahan organik
yang masih mengandung energi. Di dalam ekosistem, organisme yang
menggunakan bahan organik / energi sisa disebut Dekomposen.
Energi mengalir satu arah dan tidak mengalami siklus, sedangkan bahan
mkann mengalmi siklus.
Pengaruh Manusia Pada Ekosistem
Penggunaan DTT untuk mematikan hama yang merusak tanaman. DTT
sangat sukar terurai disimpan dalam jaringan lemak binatang yang siap
dipindahkan dari satu organisme ke organisme lain melalui rantai makanan.
Jenis gangguan yang ditimbulkan oleh DTT pada manusia adalah
keracunan dengan gejala pening, nafsu makan berkurang, gangguan fungsi
hati hiper aktifitas.
Limbah
Merupakan hasil kegiatan yang tidak digunakan lagi. Limbah dikelompokn
menjadi :
1. Limbah Domestik. Buangan dari kamar mandi, dapur, apotek, RS, rumah
makan dibuang kesaluran dan berakhir ke sungai. Pembakaran pada limbah
padat menimbulkan adap sehingga menurunkan kualitas udara.
2. Limbah Non Domestik. Industri, pertambangan, pertanian, peternakan,
perikanan dan transportasi termasuk limbah non domestik. Pencemaran
karena limbah industri mengndung bahan berbahya dan beracun (B3)
Sumber Polusi
Yaitu fasilitas / instalasi yang menghasilkan polutan. Contoh : Pembangkit
tenaga listrik yang menggunakan bahan bakar fossil menghasilkan polutan
berupa SO3 (bereaksi dengan air hujan membentuk H2SO4. Mengakibatkan
hujan asam.
Polutan yaitu unsur atau bahan kimia yang berada dalam lingkungan
(tanah, air, udara) yang melewati batas unsur / bahan kimia secara alami.
Batas batas berbagai unsur dlam air tanah atau udara sudah tertentu. Jika
melebihi batas tersebut maka disebut polutan (pencemar). Air, tanah, udara
yang mengandung polutan sering disebut terkena polusi. Bentuk polutan
perlu diketahui karena berpengaruh terhadap metode pengolahannya.
Contoh : Buangan plastik mengakibatkan polusi tanah. Untuk
menghindarinya dilakukan daur ulang. Pencegahan polutan dapat dilakukan
dengan berbagai cara. Cara yang paling disukai yaitu reduksi pada
sumbernya. Reduksi dilakukan dengan modifikasi proses, pengurangan
jumlah bahan baku, perbaikan bahan, kualitas bahan, menaikkan efisiensi.
Tingkat pencegahan polusi dari yang paling kekurang diinginkan yaitu
reduksi sumber, recycling, pemekatan dan pemisahan limbah, pertukaran
limbah, rekorefikaan, disfusel (penyimpanan dalam tanah)
4. Nitrogen
Nitrogen adalah unsur yang penting dalam reaksi biologi. Nitrogen dapat
diikat dalam senyawa energi tinggi seperti asam amino, dan amina dan
dalam bentuk nitrogen yang dikenal dengan nitrogen organik. Satu dari
senyawa intermediate yang dibentuk selama metabolisme biologi adalah
nitrogen amonia. Bersama dengan nitrogen orgnik, amonia dianggap
sebagai indikator polusi. Dua bentuk nitrogen ini sering dikombinasi ke
dalam satu ukuran yang dikenal sebagai nitrogen Kjeldahl.
Dekomposisi aerobik menghasilkan nitrite (NO2) dan akhirnya bentuk

nitrogen nitrate (NO3). Semua bentuk nitrogen dapat diukur secara


analysis dengan teknik Kolorimetri.
Dasar kolorimetri adalah ion dalam larutan bergabung dengan beberapa
senyawa dan membentuk warna. Senyawa dalam keadaan berlebihan
sehingga intensitas warna sebanding dengan konsentrasi ion yang
diukur.
5. Pengukuran Bakteri
Dari kesehatan masyarakat, kualitas bakteri air adalah sama penting
dengan kualitas kimia. Pengukur dapat dipindahkan oleh air yaitu tifus
dan kolera. Oleh karena itu air harus tidak terkontaminasi pathogen
(penyakit yang disebabkan organisme). Untuk mengukur kualitas bakteri
digunakan konsep organisme indikator. Indikator yang paling sering
digunakan adalah group mikroba yang disebut koliform. Metode yang
paling sederhana untuk mengukur koliform adalah menyaring contoh
melalui filter steril, yang banyak menangkap koliform.
Filter kemudian diletakkan dalam piringan yang mengandung agar agar
steril yang membasahi filter dan mengembangkan pertumbuhan koliform.
Banyaknya kilauan titik biru hijau gelap, menunjukkan kolom koliform
yang kemudian dihitung.
PARAMETER PENCEMARAN AIR
Zat atau bahan pencemaran adalah zat atau bahan dalam bentuk cair,
gas, atau partikel tersuspensi dalam kadar tertentu di lingkungan yang
dapat menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuh
tumbuhan dan atau benda. Parameter pencemaran air meliputi :
1. Fisika yang meliputi suhu, warna, bau, rasa, kekeruhan, zat padat
tersuspensi.
2.
Kimia yang meliputi pH, bahan organik termasuk minyak, bahan
anorganik yang dibedakan menjadi logam dan bukan logam.
3. Bakteriologi.
4. Radioaktivitas.
5. Pestisida.
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
Pada awal proses pengolahan partikel partikel besar dalam air disaring
dengan saringan
saringan pasir untuk menahan zat padat atau kotoran kotoran sehingga
tidak merusak
peralatan pada proses berikutnya. Selanjutnya ion ion atau partikel
partikel yang larut diolah dengan cara :
1.
Pengolahan secara kimia (koagulasi flokulasi). Air buangan
ditambah koagulan, kemudian diaduk dengan cepat maka akan
terbentuk butir butir halus. Dengan pengadukan yang lambat, maka butir
butir halus akan bersatu membentuk butir besar yang disebut flok
sludge. Flok ini mengikat partikel partikel atau logam yang larut
sehingga air menjadi jernih. Flok (lumpur hasil pengolahan secara kimia)
dipisahkan dari air bersih. Jenis koagulan yang ditambahkan tergantung
jenis logam yang terlarut. Contoh koagulan : tawas, natriumbisulfit (untuk
logam berat). Sedimentasi merupakan menurunnya flok ke dasar
Clarifier yang merupakan alat pengolahan secara kimia. Desinfektasi
dilakukan dengan menambah klor untuk mematikan bakteri. (gambar
sama david)
2. Pengolahan Secara Sorpsi. (Resin Penukar Ipn). Air kotor dilewatkan
kolom yang mengandung resin penukar ion (zeolit), maka ion ion akan
terikat pasir / zeolit dan air yang keluar kolom menjadi bersih. Zeolit
merupakan bahan alami yang mempunyai sifat sebagai penyaring logam
berat. Zeolit dapat diubah sebagai penukar anion yang akan mengikat
ion ion negatif (anion). Lama kelamaan kemampuan zeolit untuk
mengikat logam berat atau kation (ion yang bermuatan positif akan
berkurang sehingga akhirnya tidak mampu lagi. Oleh karena itu zeolit
yang digunakan harus diganti secara berkala.
(gambar sama david)
3.
Pengolahan Secara Evaporator. Limbah cair dialihkan ke dalam
evaporator. Di dalam evaporator terdapat pemanas yang akan
memanaskan air menjadi uap. Air pekat (konsentrat) akan menetap di
dasar evaporator, sedangkan uap air mengalir keluar evaporator melalui
kondensor menjadi air bersih.
Flok / Sludge (kumfour), resin / zeolit bekas, atau konsentrat (larutan
pekat) dari proses sebelumnya, kemudian melalui proses imobilisasi /
solidifikasi (dengan semen, bitumen, polimer, atau gelas). Setelah itu
dilakukan proses disposal (penyimpanan dalam tanah). Selanjutnya
untuk mencegah terjadinya pencemaran lebih lanjut, dilakukan
pemantauan lingkungan terhadap air lingkungan (air sumir, air sungai, air
laut) di sekitar daerah disposal.
(gambar sama david)

SOAL UAS:

1.

Apa yang disposal dan apa persyaratan lokasi untuk disposal?


Jawab :
Disposal Adalah tempat/lokasi yang dirancang/direncanakan untuk
menampung material buangan overburden / pembuangan akhir limbah B3.
Persyaratan lokasi disposal adalah lokasi landfill harus suatu daerah
yang bekas banjir yang selama seratus tahunan.Lokasi Landfill tidak
boleh mempunyai potensi bencana alam seperti longsor, letusan gunung
api, gempa bumi dan patahan aktif. Tanah ini harus bersifat kedap air.
Lokasi landfill sedapat mungkin tidak berada diatas lapisan tanah.
Lokasi landfill bukan daerah genangan air jarak minimum 500m dari
lingkungan aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun.
Curah hujan diutamakan kecil/ daerah kering.
Kecepatan angin tidak mengarah ke daerah penduduk landfill tidak
menggunakan tanah pertanian yang subur.
2. Apa beda limbah B3 dan Limbah Radioaktif?
Jawab:
Limbah B3 Adalah jenis limbah buatan manusia (tidak terjadi secara
alamiah) umumnya merupakan hasil samping suatu industry.
Sedangkan Limbah Radioaktif adalah jenis limbah yang mengandung
atau terkontaminasi radionuklida pada konsentrasi atau aktivitas yang
melebihi batas yang diijinkan (Clearance level) yang ditetapkan oleh
Badan Pengawas Tenaga Nuklir serta sudah tidak dapat dimanfaatkan
lagi.
3. Jelaskan Pengolahan Limbah yang anda ketahui?
Jawab:
Pengolahan Limbah B3 secara resifikasi kimia (Pengendapan)
Resifikasi kimia adalah proses dimana polutan terlarut dikonversikan
menjadi senyawa tidak larut baik dengan reaksi kimia ataupun dengan
merubah komposisi pelarut sehingga mengurangi daya larut polutan
tersebut.
4. Apa yang dimaksut reuse & recycle, dalam pengolahan limbah B3
dan beri contohnya?
Jawab:
Reuse adalah penggunaan kembali limbah B3 dengan tujuan yang
sama tanpa melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi,
dan/atau secara termal. Contoh : Ampas tahu yang bisa langsung
digunakan untuk pakan ternak, kertas yang digunakan bolak-balik
akan mengurangi limbah kertas, gunakan wadah/kantong yang dapat
digunakan berulang-ulang, gunakan baterai yang dapat di- charge
kembali.
Recycle adalah mendaur ulang komponen-komponen yang
bermanfaat melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi,
dan/atau secara termal yang menghasilkan produk yang sama
ataupun produk yang berbeda. Contoh : botol air mineral yang
dijadikan hiasan ruangan, Koran bekas yang dijadikan pembungkus
nasi.