Anda di halaman 1dari 9

Pencemaran Laut Indonesia Memprihatinkan

Tingkat pencemaran lingkungan laut Indonesia masih tinggi, ditandai antar lain dengan
terjadinya eutrofikasi atau meningkatnya jumlah nutrisi disebabkan oleh polutan. Nutrisi
yang berlebihan tersebut, umumnya berasal dari limbah industri, limbah domestik seperti
deterjen, maupun aktivitas budidaya pertanian di daerah aliran sungai yang masuk ke
laut, kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan
(Pusdatin KKP), Soen`an H. Poernomo.
Pencemaran di laut bisa pula ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan fitoplankton
atau algae yang berlebihan dan cenderung cepat membusuk. Kasus-kasus pencemaran di
lingkungan laut, yang disebut red tide itu, antara lain terjadi di muara-muara sungai,
seperti di Teluk Jakarta tahun 1992, 1994, 1997, 2004, 2005, 2006.
Di Ambon terjadi pada tahun 1994 dan 1997, di perairan Cirebon-Indramayu tahun 2006
dan 2007, Selat Bali dan muara sungai di perairan pantai Bali Timur tahun 1994, 1998,
2003, 2007, dan di Nusa Tenggara Timur tahun 1983, 1985, 1989. Meski kerap terjadi,
inventarisasi terjadinya red tide di Indonesia sampai saat ini masih belum terdata dengan
baik, termasuk kerugian yang dialami. Mungkin kurangnya pendataan red tide ini
disebabkan oleh kejadiannya yang hanya dalam waktu singkat, katanya. Karena itu
untuk menanggulangi red tide sebagai bencana, beberapa lembaga Pemerintah dan
institusi pendidikan telah melakukan penelitian meskipun masih dilakukan secara
sporadis.
Secara umum, kerugian secara ekonomi akibat dari red tide ini, adalah tangkapan nelayan
yang menurun drastis, gagal panen para petambak udang dan bandeng, serta
berkurangnya wisatawan karena pantai menjadi kotor dan bau oleh bangkai ikan. Efek
terjadinya red tide juga ditunjukkan penurunan kadar oksigen serta meningkatnya kadar
toksin yang menyebabkan matinya biota laut, penurunan kualitas air, serta tentunya
menganggu kestabilan populasi organisme laut.
Akibat lautan tertutup dengan algae pada saat berlimpah, maka matahari sulit untuk
menempuh ke dasar laut dan pada akhirnya menyebabkan berkurangnya kadar oksigen
dalam laut, katanya. Selain itu, sebagian algae juga mengandung toksin atau racun yang
dapat menyebabkan matinya ikan dan mengancam kesehatan manusia bahkan
menyebabkan kematian apabila mengkonsumsi ikan yang mati tersebut. Tanpa adanya
limbah, sebagai fenomena alam sesungguhnya meningkatnya pertumbuhan algae ini
sangat jarang terjadi, katanya.
Sementara Slamet Daryoni dari Walhi Jakarta mengatakan bahwa pencemaran berat
terutama di kawasan laut dekat muara sungai dan kota-kota besar. Selain karena polusi
yang berasal dari limbah industri yang berlebihan, pencemaran laut juga disebabkan oleh
ekploitasi minyak dan gas bumi di lautan. Namun yang paling penting adalah akibat
kebijakan dan perhatian pemerintah yang sangat kurang terhadap kelautan di Indonesia.

Selanjutnya Slamet Daryoni menjelaskan bahwa di sisi lain, tingkat pencemaran di


beberapa kota termasuk di Jakarta sudah sangat memprihatinkan, sebagai contoh, adalah
karena ada kaitan dengan kebijakan yang tidak berpihak kepada lingkungan. Di perairan
Teluk Jakarta saja, kondisi cemar beratnya sudah mencapai 62 pesen. Padahal ini terjadi
di Jakarta, pusat pemerintahan, pusat kebijakan. Terlebih lagi ketika pemerintah membuat
kebijakan mengenai hal ini di tahun 2007. Lalu mengenai sungai, DKI Jakarta memiliki
tiga sungai. Pencemaran dalam konteks cemar beratnya kini mencapai 94 persen.
Slamet Daryoni juga menjelaskan mengenai kegiatan ekplorasi gas dan minyak yang
berdekatan dengan laut. Sisa pembuangannya dibuang di lautan. Misalnya kita lihat
kembali kasus Minahasa yang mengakibatkan warga mengalami sakit yang luar biasa
akibat arsen, mercuri dan zat kimia lainnya.

Penyakit Huntington
Penyakit Huntington (korea Huntingto) nadalah suatu penyakit keturunan
dimanasentakan atau kejang dan hilangnya sel-sel otak secara bertahap mulai timbul pada
usiapertengahan dan berkembang menjadi Koreaatetosis
serta kemunduran mental.Penyakit Huntington adalah kelainan otak degeneratif. Ini
merupakan penyakit warisandan menghasilkan fisik, mental dan emosional perubahan.
Ini menghasilkan gerakan tersentak-sentak tak sadar sebagai penyakit berkembang.
Gangguan ini diberi nama setelah dokterAmerika George Huntington yang
menggambarkannya pada 1872.
Gejala penyakit ini dapat dimulai pada usia berapa pun tetapi usia rata-rata
onsetpenyakit adalah 35-44 tahun usia. Sebelumnya, mereka sehat dan tidak terdeteksi
adanyakelainan pada diri mereka. Penyakit ini mempengaruhi tubuh, pikiran dan
emosi.Pada stadium awal penyakit ini, gerakan abnormal bercampur dengan gerakan
yangsedang dilakukan oleh penderita sehingga gerakan abnormal tersebut hampir
tidakdiperhatikan. Tetapi lama-lama gerakan abnormal ini semakin jelas.Pada akhirnya
gerakan abnormal yang terjadi akan mempengaruhi seluruh tubuhsehingga hampir tidak
mungkin penderita melakukan kegiatan makan, berpakaian dan bahkanduduk
terdiam.Perubahan mental pada awalnya samar-samar. Penderita secara bertahap
menjadimudah tersinggung dan mudah gembira, mereka bisa kehilangan minat terhadap
aktivitassehari-harinya. Selanjutnya penderita menjadi tidak bertanggungjawab dan
seringkalibepergian tanpa tujuan yang pasti.Penderita kehilangan kendali terhadap
hasratnya dan menjadi promiskuitas (melakukanhubungan seksual dengan siapa
saja.Bertahun-tahun kemudian, penderita akan kehilangan ingatannya dan
kehilangankemampuannya untuk berfikir secara rasional. Lalu, biasanya penderita
mengalami depresiberat dan melakukan usaha bunuh diri.
Pada stadium lanjut, hampir semua fungsi penderita mengalami gangguan
danpenderita memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan fungsinya. Kematian
seringkalidipicu oleh pneumonia atau karena terjatuh, yang biasanya terjadi 13-15 tahun
setelahtimbulnya gejala pertama.Penyakit ini diwariskan dominan maka anak memiliki
risiko 50 persen mewarisi itu. Tidakada obat untuk penyakit ini tetapi perawatan yang
tersedia untuk menyediakan beberapa lega.Komplikasi yang mengembangkan dengan
penyakit mengurangi harapan hidup sampai 20tahun setelah diagnosis.
Sebuah huntingtin mutan protein yang diproduksi dan ini menyebabkan perubahan dalam
otak.Proses ini irreversibel. Hampir 7 orang dalam populasi 100.000 yang dapat
dipengaruhi oleh penyakitini.
Penyakit Huntington disebabkan oleh kelainan genetik. Nama gen yang
menyebabkanpenyakit Huntington adalah Huntingtin (HTT), Huntingtin diekspresikan di
semua sel manusiadan mamalia, tepatnya di otak dan testis.
Fungsi protein HTT sendiri belum diketahui dengan jelas,tetapi berperan dalam
transkripsi, dan transport intraseuler. Mekanismenya protein HTT(Huntingtin)berinteraksi
dengan 100 protein yang lainnya, dan hal tersebut dapat menyebabkan kerusakan
danmenyebabkan mutasi HTT. Mutasi HTT ini menjadi racun untuk beberapa sel,
khususnya sel otak.Kerusakan biasanya terjadi di bagian striatum, tetapi akan menyebar
ke seluruh daerah otak. Ketikamulai menyebar, akan muncul gejal-gejala Penyakit
Huntington.

Perilaku Induk Ayam


1. Mandi debu
Ayam betina akan mencari daerah yang berdebu (seperti sampah atau tanah halus)
dan membuat partikel-partikel itu masuk ke dalam bulunya dengan menaikkan bulu-bulu
tersebut, berjongkok di tanah lalu melempar-lempar, menggosok-gosok dan menggetargetarkan tubuh, sayap, dan kakinya. Perilaku ini sangat penting untuk kesejahteraan fisik
dan mental ayam, dan mereka bisa menghabiskan banyak waktu untuk melakukan hal ini
setiap harinya. Hal ini membantu ayam untuk menghilangkan parasit, menjaga kulit dan
bulu mereka tetap dalam kondisi baik, dan menjaga suhu tubuh mereka tetap nyaman.
2. Bertengger
Ayam suka bertengger di dahan-dahan pohon pada malam hari teman-teman
kelompoknya. Di alam liar, perilaku ini melindungi mereka dari predator dan juga
membantu untuk menjaga panas tubuh.
3. Rasa ingin tahu atau investigasi
Ayam adalah binatang yang ingin tahu dan ingin menjelajahi lingkungan mereka dengan
cara, misalnya, mematuki benda-benda yang menarik dan menggaruk-garuk di tanah.
4. Bersarang
Ayam adalah binatang yang ingin tahu dan ingin menjelajahi lingkungan mereka
dengan cara, misalnya, mematuki benda-benda yang menarik dan menggaruk-garuk di
tanah.
5. Perilaku yang berkaitan dengan kenyamanan dan perawatan
Perilaku ini termasuk mengacak-acak bulu, menggaruk-garuk kepala, menggetargetarkan tubuh, peregangan dan mengepakkan sayap. Ketika ayam betina tidak
mendapatkan kemudahan atas sesuatu yang mereka butuhkan, seperti tempat bersarang
atau bahan yang tepat untuk mandi debu, mereka sering mengeluarkan suara-suara yang
terdengar frustrasi.
Perilaku perilaku induk ayam terhadap anak ayam diantaranya adalah:
1.

Induk ayam tidak hanya mencari makanan untuk dirinya sendiri,tapi juga mencari
makanan untuk anaknya. Hal ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab dari induk
terhadap anaknya saat masih kecil, karena anak ayam yang masih kecil belum terlalu bias
mencari makanan sendiri,selain itu bahaya atau resiko yang akan dihadapi anak ayam
yang mencari makanan sendiri cukup besar.

2. Induk ayam sangat menjaga dan melindungi anaknya. Hal ini dapat kita amati ketika ada
individu lain yang mendekati atau mengganggu anaknya, maka secara spontan induk
ayam akan melebarkan atau memekarkan bulu tan tubuhnya. Dengan agresif induk ayam
menerka individu yang mengganggu anaknya.
Perilaku individu yang sangat protektif itu dirangsang oleh respon teriakan dari
anaknya. Respon induk mengenai situasi bahaya yang sedang terjadi.

Selain perilaku-perilaku induk ayam terhadap anak ayam, juga perilaku anak
ayam terhadap induknya, yaitu:
1. Anak ayam selalu mengikuti kemanapun induknya pergi, perilaku dilakukan agar anak
ayam terlindungi dari ancaman predator (pengganggu) dari ancaman dan terjamin
kehidupannya.
2.

Anak ayam berlindung di bawah sayap induknya ketika menemui ancaman. Jika anak
ayam merasa terancam keamanannya maka akan segera berlindung dala dekapan atau
jangkauan sayap dan bulu-bulu induknya.

3. Dalam kondisi dingin atau hujan maka anak ayam akan masuk dalam dekapan induknya
(bulu-bulu induknya).
Pola perilaku ayam saat mencari makan yaitu dengan cakar yang menggaruk
tanah untuk mencari makanan yang terdapat di tanah, lalu mematuk sesuatu yang kiranya
dianggap makanan. Hal ini disebabkan karena adanya perilaku belajar, dimana sang
induk dituntut untuk memodifikasi proses belajar untuk menemukan remah-remah
makanan atau biji-bijian yang tersebar di tanah dan yang tertimbun di dalam tanah.
Perilaku induk ayam terhadap anaknya itu kemungkinan juga merupakan hasil
perilaku belajar yaitu pengkondisian,dimana pengkondisian melibatkan pasangan
stimulus yang primer ilmiah yang membangkitkan suatu respon otomatis, Seiring
berjalannya waktu, hewan menjadi terkondisi dengan stimulus sekunder (otomatis) dan
merespon terhadapnya seolah-olah stimulus alamiah. Respon-respon bawaan dengan
stimuli pertanda yang baru memperluas kemampuan suatu organism untuk bereaksi
dengan tepat terhadap perubahan lingkungan, sebab proses pengkondisian menghasilkan
ketergantungan terhadap suatu jenis symbol pemicu aksi. Sedangkan pada anak ayam,
timbul adanya perilaku belajar yang ditandai oleh proses perekaman (imprinting) yaitu
belajar terbatas dimana anak ayam belajar untuk berlindung kepada induknya begitu
melihat dan mendengar adanya ancaman bahaya.

KENDALA PENGAWASAN DAN PEMANFAATAN


SUMBER DAYA ALAM LAUT DI ZEEI
(Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia)
Sebagai negara kepulauan, Indonesia boleh berbangsa dengan pengakuan dunia
terhadap klaim Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Sebab dengan adanya
pengakuan tersebut wilayah yurisdiksi Indonesia semakin luas, dan diharapkan
bermanfaat Bagi kesejahteraan rakyat. Namun ironisnya, tampaknya belum berhasil
memanfaatkan peluang yang ada. Bahkan mengalami kesulitan mengamankan wilayah
perairannya.
Kenyataan tak terbantah, pencurian ikan di perairan Indonesia oleh nelayan asing
kian merajalela. Dengan bantuan peralatan modern mereka bebas menguras kekayaan
laut Indonesia, baik diperairan teritorial, terlebih di Kawasan Zona Ekonomi Eksklusif
Indonesia (ZEEI). Sedangkan nelayan Indonesia yang terbesar adalah nelayan tradisional
hanya bisa gigit jari.
Lantas, dimana letak kesalahannya ?. Tulisan ini mencoba mengupas kelemahan
Indonesia mengawasi dan memanfaatkan sumber daya alam di ZEEI.
Pengertian ZEEI
Sebagai terminologi yuridis, pengakuan internasional atas ZEEI didasarkan pada
Hukum Laut Internasional yang ditetapkan oleh Konvensi Hukum Laut III di Montego
Bay, Yamaika, 10 Desember 1982. Dalam konvensi itu disebutkan beberapa ketentuan
tentang Regim Laut berlain-lainan. Untuk Indonesia ditetapkan beberapa klasifikasi
wilayah perairan, yaitu: Perairan Teritorial, Perairan Nusantara, Zona Tambahan, Landas
Kontinen, Zona Ekonomi Eksklusif dan Laut Bebas Internasional.
Konvensi ini juga menegaskan pengertian ZEE yakni lajur laut yang
bergandengan dengan laut wilayah satu negara yang berstatus dan memiliki makna
tertentu. Disepakati pula, lajur tersebut seluas maksimal 200 mil laut diukur dari garis
pantai pada daratan terluar wilayah suatu negara (Pasal 57). Bagi Indonesia, penetapan
ZEEI mempunyai makna penting dan strategis. Sebab pada pasal-pasal lain, ditegaskan
soal pelimpahan hak kepada satu negara pantai untuk menetapkan ZEE bagi lajur laut
yang bergandengan dengan perairan teritorialnya. Meski hal ini tidak mengurangi makna
Kawasan ZEE sebagai regim hukum khusus (specific legal regime) yang memiliki aturan
tersendiri.
Pada bagian lain diatur pula hak-hak dan kewajiban setiap negara yang ikut
memanfaatkan ZEE. Sebagai tindak lanjut keikut-sertaannya dalam Konvensi Hukum
Laut III, Indonesia telah meratifikasi ketentuan tersebut dalam perundang-undangan
nasional, yakni dengan terbitnya Peraturan Pemerintah pada 25 Maret 1980, yang
kemudian ditingkatkan menjadi UU No.5 Tahun. 1983 tentang ZEE Indonesia (ZEEI).

Dalam konteks itu patut diperhatikan adalah ketentuan Pasal 2 UU No.5 Tahun.
1983 yang menyatakan: .ZEE Indonesia adalah jalur di luar dan berbatasan dengan
laut wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan berdasarkan undang-undang yang
berlaku tentang perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah dibawahnya, dan air
diatasnya dengan batas terluar 200 mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah
Indonesia...
Implikasi ketentuan ini dan memperhatikan mozaik geografi Indonesia, maka
terbentuklah Kawasan ZEEI sebagai satu rentangan jalur yang melingkari seluruh
Nusantara dengan panjang sekitar 2,7 juta kilometer.
Kedaulatan dan Yurisdiksi
Berdasarkan ketentuan dalam konvensi internasional dan perundang-undangan
nasional, Indonesia jelas memiliki kedaulatan dan yurisdiksi atas wilayah ZEEI. Yaitu
hak eksplorasi dan eksploitasi terhadap sumber daya alam hayati mau pun non-hayati
yang ada di wilayah ini. Dengan kata lain Indonesia berhak mengelola dan memanfaatkan
semua yang ada di ZEEI untuk kepentingan nasionalnya.
Selain itu, Indonesia mempunyai yurisdiksi berkaitan dengan pembuatan instalasi,
bangunan, serta kegiatan penelitian ilmiah, dan pelestarian lingkungan. Namun
sebaliknya Indonesia pun wajib memenuhi ketentuan internasional antara lain tentang
keharusan menjaga kebebasan internasional menggunakan kawasan ini untuk
kepentingan pelayaran dan penerbangan, pemasangan kabel dan pipa dibawah laut, dan
kegiatan lainnya.
Dalam ketentuan UU No.5/1983, orang asing memang dibenarkan ikut
memanfaatkan sumber daya hayati di ZEEI atas ijin pemerintah Indonesia, khususnya
untuk jenis tangkapan tertentu. Selain itu ada kewajiban yang patut ditaati, seperti,
penanggulangan pencemaran lingkungan, dan pelestarian sumber daya alam.
Kendala Indonesia
Menurut UU No.5/1983 sumber daya alam laut dibagi atas dua kelompok, yakni
sumber daya alam hayati dan non-hayati. Ikan adalah sumber daya alam hayati yang
paling dominan di ZEEI. Disamping banyak pula ragam kekayaan alam hayati lain yang
dapat dimanfaatkan untuk konsumsi dalam negeri mau pun untuk ekspor.
Sayangnya tingkat pemanfaatan Indonesia masih sangat terbatas. Bahkan bila
melihat angka ekspor tergolong rendah dibanding dengan negara ASEAN lainnya
memiliki sedikit wilayah perairan laut.
Dimana letak kesalahannya ?.
Sessungguhnya terdapat dua aspek yang jadi kendala bagi Indonesia, yakni:

a. Aspek Kultural dan ini yang merupakan kendala utama, yakni tercermin pada
rendahnya perhatian masyarakat terhadap dunia maritim (kelautan). Adalah kenyataan
sebagian besar masyarakat Indonesia hingga kini masih kuat terbelenggu budaya agraris
yang berorientasi daratan. Sedangkan reorientasi ke kawasan maritim sangat lamban.
Disinilah letak ironi Indonesia sebagai bangsa yang mendiami negara kepulauan.
Memang pengelolaan ZEEI jelas tak akan efektif jika hanya mengandalkan armada
nelayan tradisional dan teknologi seadanya. Karena itu Indonesia perlu membangun
armada laut nasional yang kuat dan modern agar mampu menjangkau semua sudut
wilayah ZEEI secara efektif. Artinya perlu kesiapan modal dan teknologi tinggi.
Keterbatasan armada laut, serta berbagai sarana penunjang operasional lainnya
merupakan kendala serius bagi Indonesia baik dalam konteks pemanfaatan, maupun
dalam kerangka pengawasan sumber daya alam laut di kawasan ZEEI.
Menyadari keterbatasan modal dan teknologi, pemerintah dengan memperhatikan
UU No.5/1983, akhirnya memberikan kesempatan bagi swasta nasional mau pun asing
untuk ikut menggarap kekayaan dikawasan tersebut. Namun masalahnya, akibat
lemahnya pengawasan, sering terjadi penyimpangan dan pengingkaran terhadap
ketentuan perundang-undangan yang ada. Fakta lapangan menunjukkan, betapa banyak
armada nelayan asing beroperasi di ZEEI tanpa seijin pemerintah RI. Bahkan sebagian
diantaranya berani memasuki wilayah perairan teritorial dan mengganggu nelayan
tradisional kita seperti terjadi di Aceh, Pekalongan, Sulawesi Utara, Maluku dan
sebagainya.
Meski sebagian kasus pelanggaran berhasil ditindak melalui operasi penegakkan
hukum diperairan laut, namun tampaknya belum menunjukkan hasil maksimal. Sebab
selain keterbatasan kapal, tingginya biaya operasional, juga minimnya sumber daya
manusia penegak hukum yang secara khusus menangani kawasan perairan laut.
b. Lemahnya penegakan hukum Tak dapat disangkal salah satu tantangan serius bagi
Indonesia saat ini adalah masalah penegakan hukum di laut. Baik dalam hal kemampuan
tenaga aparat hukumnya, mau pun aspek sarana operasionalnya. Ketentuan perundangundangan menegaskan bahwa Aparat Penyidik atas pelanggaran hukum di kawasan
ZEEI adalah Perwira TNI-AL yang ditunjuk Panglima TNI.
Ini berarti untuk kepentingan penegakkan hukum di laut, Indonesia memerlukan
ribuan personil perwira Angkatan Laut yang berkemampuan melakukan tugas
penyidikan. Dan hal ini tampak masih sulit dipenuhi. Padahal disisi lain untuk efektivitas
penegakan hukum para perwira penyidik tersebut seyogyanya disebar diberbagai pulau.
Terutama di kawasan yang potensial bagi kasus pelanggaran, misalnya, Kawasan Timur
Indonesia. Menyiapkan ribuan perwira penyidik, selain membutuhkan pendidikan dan
pelatihan khusus, juga membutuhkan waktu relatif lama. Selain itu perlu diatur
penempatannya dengan dukungan fasilitas kerja yang memadai. Dan hal ini juga tidak
mudah

Dengan kata lain, jika Indonesia memang benar-benar menjadikan laut sebagai
sumber penghidupan nasional dan sektor unggulan bagi pendapatan negara, maka perlu
kebijakan politik strategi mengatasi berbagai kendala tersebut.
Patut dipahami kemampuan mengawasi dan memanfaatkan ZEEI memiliki makna
penting, baik bagi Indonesia sendiri maupun bagi dunia internasional. Pasalnya, ZEEI
sebagai specific legal regime senantiasa berkaitan erat dengan ketentuan internasional
dalam bidang kelautan. Artinya ketentuan internasional tentang ZEEI tidak hanya
mengatur hak kedaulatan dan yurisdiksi suatu negara pada kawasan tersebut, tetapi juga
tentang kewajiban yang berhubungan dengan pelestarian alam, kebersihan lingkungan
dan penelitian ilmiah.
Mengawasi dan mengendalikan kawasan ZEEI yang mencakup beragam aspek
dan dimensi tadi jelas satu tantangan yang serius bagi Indonesia, sebab secara riil
kemampuan Indonesia masih sangat terbatas, termasuk jumlah tenaga ahli kelautan yang
sangat langka. Akibatnya, banyak pelanggaran hukum dilaut terutama di ZEEI tidak
tertangani dengan baik.
Harapan di masa mendatang
Masa depan adalah era kehidupan bahari. Ini antara lain ditandai dengan
menguatnya dinamika di kawasan Pasific. Karena itu sudah saatnya Indonesia
memperhatikan pembangunan disektor kelautan secara sungguh sungguh. Pada tahap
pertama, sasaran pembangunan ditujukan kepada aspek pemecahan pelbagai kendala
keterbatasan yang ada.
Sementara untuk jangka panjang, pembangunan harus mampu mengembalikan
orientasi basis kehidupan masyarakat Indonesia sesuai dengan fitrahnya sebagai bangsa
bahari yang tumbuh dan berkembang seirama dengan ritme globalisasi. Orientasi
kelautan ini penting sebab di masa mendatang, sektor kelautan semakin vital dan penting
bagi kehidupan ummat manusia.
Dimasa mendatang bagi bangsa Indonesia laut akan berfungsi sebagai, sebagai
faktor integrasi wilayah nasional; sebagai tempat sumber daya alam dominan; sebagai
faktor transportasi massal dan murah; sebagai elemen Strategis dalam Pertahanan dan
Keamanan Negara. Mengingat berbagai aspek vital dan strategis itu, maka sudah saatnya
kita membangun bangsa dan negara ini dalam sosok citra sebagai bangsa bahari.