Anda di halaman 1dari 5

Nama: Zara Hana Neswari

NPM: 1206323161
ANATOMI OVUM DAN SPERMATOZOA, PROSES FERTILASI SERTA
PERKEMBANGAN EMBRIO DAN JANIN
A. Anatomi Ovum
Ovum atau sel telur adalah suatu sel terbesar dalam tubuh manusia. Ukuran ovum sekitar
0,2 mm dan tertutup dalam folikel telur dari indung telur. Ovum dilingkari oleh zona
pellusida dan dilapisi oleh korona radiata. Pertumbuhan ovum (oogenesis) dimulai dengan
oogonia, oosit primer (primary oocyte), primary ovarian follicle, liquar folliculi,
pematangan pertama ovum dan pematangan kedua ovum pada sperma membuahi ovum.
Pada masa pubertas, oosit primer mengadakan pembelahan meiosis I menghasilkan satu sel
oosit sekunder yang besar dan satu sel badan kutub pertama (polar body primer) yang lebih
kecil. Perbedaan bentuk ini disebabkan sel oosit sekunder mengandung hampir semua
sitoplasma dan kuning telur, sedangkan sel badan kutub pertama hanya terdiri dari nucleus
saja. Oosit sekunder ini mempunyai kromosom setengah kromosom oosit primer yaitu 23
kromosom (haploid). Pembelahan meiosis II, oosit sekunder membelah diri menghasilkan
satu sel ootid yang besar dan satu badan kutub kedua (polar body sekunder). Ootid yang
besar tersebut mengandung hampir semua kuning telur dan sitoplasma. Pada saat yang
sama, badan kutub pertama membelah diri menjadi dua kutub. Selanjutnya ootid tumbuh
menjadi sel telur (ovum) yang mempunyai 23 kromosom (haploid). Sedangkan ketiga
badan kutub kecil hancur sehingga setiap oosit primer hanya menghasilkan satu sel telur
yang fungsional. Sel telur (ovum) yang besar itu mengandung sumber persediaan makanan,
ribosom, RNA, dan komponen komponen sitoplasma lain yang berperan dalam
perkembangan embrio. Sel telur yang matang diselubungi oleh membrane corona radiate
dan zona pellusida. Oogenesis hanya berlangsung hingga seseorang usia 40 sampai 50
tahun. Setelah wanita tidak mengalami menstruasi lagi (menopause) sel telur tidak
diproduksi lagi.

B. Anatomi Spermatozoa
Spermatozoa merupakan sel seks atau gamet pada pria. Spermatozoa ini diproduksi di testis
(spermatogenesis) dan mengalami proses pematangan di epididimis. Seluruh proses
pembentukan sperma ini membutuhkan waktu 64-72 hari. Spermatozoa memiliki panjang
60 m dan merupakan bagian generative dari semen. Spermatozoa terdiri atas 23
kromosom haploid. Sel sperma terdiri atas tiga bagian, yaitu:
a. Kepala yang terdiri atas nucleus dengan gulungan benang-benang kromatin yang rapat,
dikelilingi oleh sebuah acrosome (tutup kepala) yang mengandung enzim-enzim yang
digunakan untuk menembus ovum atau sel telur wanita.
b. Badan yang memiiki suatu inti filamentousdengan banyak mitokondria
mengelilinginya, digunakan dalam produksi ATP untuk perjalanansepanjang serviks
wanita, uterus, dan saluran uterus.
c. Ekor sperma atau disebut juga dengan flagellum yang mengakibatkan motilitas
sperma sehingga sperma dapat berenang dengan mudah dalam cairan

C. Proses Fertilisasi

Fertilasi berlangsung di ampula (sepertiga bagian luar) tuba uterina. Apabila sperma
berhasil menembus membran yang melindungi ovum, baik sperma maupun ovum akan
berada di dalam membran dan membran tidak lagi dapat ditembus oleh sperma lain. Hal ini
disebut dengan reaksi zona. Pembelahan meiosis kedua oosit selesai dan nukleus ovom
menjadi pronukleus ovum. Kepala sperma membesar dan menjadi pronukleus pria,
sedangkan ekornya berdegrenerasi. Nukleus-nukelus akan menyatu dan kromosom akan
bergabung, sehingga dicapai jumlah yang diploid. Dengan demikian kontrasepsi
berlangsung dan terbentuklah zigot (sel pertama individu baru).
Replikasi sel mitosis, yang disebut pembelahan, dimulai saat zigot berjalan di sepanjang
tuba uterenia menuju uterus. Perjalanan ini membutuhkan waktu tiga sampai empat hari.
Karena telur yang difertilasi membelah dengan cepat, sedangkan ukurannya tidak
bertambah, terbentuk sel kecil-kecil yang disebut dengan blastomer, terbentuk pada setiap
pembelahan. Morula terdiri atas 16 sel, berupa satu bola padat yang dihasilkan dalam tiga
hari. Morula masih dikelilingi dengan lapisan pelindung zona pelusida. Perkembangan
selanjutnya terjadi sewaktu morula mengapung bebas di dalam uterus. Cairan masuk ke
dalam zona pelusida dan menyusup ke dalam ruang interselular di antara blastomer.
Selanjutnya, terbentuk ruangan di dalam massa sel karena ruang-ruang interselular itu
menyatu dan terbentuknya struktur yang disebut dengan blastosis. Pembentukan blastosis
menandai diferensiasi utama pertama embrio. Masa padat sel bagian dalam berkembang,
menjadi embrio dan membran embrio yang disebut dengan amnion. Lapisan sel luar yang
mengelilingi rongga disebut tropoblas, akan berkembang menjadi membran embrio lain
yaitu korion bagian embrionik plasenta.
Proses Fertilisasi

D. Perkembangan Embrio dan Janin


1. Perkembangan Embrio

Tahap embrio berlangsung dari hari ke 15 sampai sekitar 8 minggu setelah konsepsi atau
sampai ukuran embrio sekitar 3 cm, dari puncak kepala sampai bokong. Tahap ini
merupakan massa yang paling krisis dalam perkembangan sistem organ dan penampilan
luar utama janin. Daerah yang bekembang dan mengalami pembelahan sel yang cepat
sangat rentan terhadap malformasi akibat teratogen lingkungan. Pada akhir minggu ke 8
semua sistem organ dan struktur eksterna terbentuk dan embrio tidak diragukan lagi
telah menjadi manusia.

Embrio memiliki plasenta yang berfungsi sebagai kelrnjar

endokrin yang memproduksi empat hormon yang diperlukan untuk mempertahankan


kehamilan dan menunjang embrio janin. Fungsi metabolik plasenta sebagai respirasi,
nutrisi, ekskresi dan penyimpanan. Oksigen berdifusi dari darah ibu melalui membran
plasenta kedalam janin sedangkan CO2 berdisfusi arah yang berlawanan. Dengan
demikian plasenta berfungsi sebagi paru-paru janin. Air, garam anorganik, karbohidrat,
protein, lemak dan vitamin berpindah dari suplai darah ibu melalui membran plasenta ke
dalam darah janin untuk menyediakan nutrisi.
Janin mempunyai cairan amnion untuk embrio yang berfungsi sebagai bantalan bagi
janin terhadap trauma, yakni dengan menumpulkan dan menyebarkan kekuatannya.
Cairan ini memungkinkan muskuloskeletal janin bergerak bebas selama janin
berkembang. Cairan ini juga menjaga embrio supaya tidak terbelit membran dan
membantu supaya pertumbuhan janin simetris. Amnion diperoleh dari darah ibu melalui
proses difusi. Jumlah cairan amnion meningkat setiap minggu, sehingga pada aterm
antara 800 sampai 1200 ml cairan bening agak kekuningan. Janin menelan dan cairan
dan cairan mengalir masuk dan keluar paru janin.
Plasenta Dan Embrio

2. Perkembangan Janin
Pada tahapan ini berlangsung sejak minggu ke-9 sampai akhir masa hamil. Perubahan
pada periode janin tidak sedramatis perubahan padda masa embrio karena pada tahap

ini hanya terjadi peristiwa pematangan struktur dan fungsi. Kemampuan janin untuk
bertahan hidup diluar uterus disebut dengan viabilitas. Ada tiga karakteristik khusus
yang memampukan janin memperoleh oksigen cukup dari darah ibu yaitu:
1. Hemoglobin janin membawa 20% sampai 30% oksigen lebih besar dari pada
hemoglobin ibu
2. Konsentrasi hemoglobin janin sekitar 50% lebih besar dari pada hemoglobin ibu.
3. Denyut janin (FHR 120 sampai 160 denyut permenit, membuat curah jantung janin
perunit berat badan lebih besar dari pada curah jantung orang dewasa.
Bagan perkembangan janin

Daftar Pustaka:
Bobak, Lowedermilk.2004. Ahli bahasa: Maria A. Buku ajar keperawatan
marternitas. Jakarta: EGC
Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi-Obstetri Patologi. Edisi 2.
Jakarta: EGC
Sincliar, Constance. 2009. Ahli bahasa: Renata Komalasari Buku saku kebidanan.
Jakarta: EGC
Sloane, Ethel. 2003. Ahli bahasa: James Veldman Anatomi dan fisiologi untuk
pemula. Jakarta:EGC