Anda di halaman 1dari 4

Penyakit kulit yang ditemukan pada infeksi HIV fase lanjut

Lebih dari 90% pasien dengan infeksi HIV akan menunjukan gejala penyakit kulit
sejalan dengan perjalanan penyakitnya (103). Gejala ini muncul dengan menurunnya fungsi
imun tubuh. Penyakit kulit spesifik yang berkorelasi dengan jumlah sel T CD4+ < 300 / L
terdiri dari:
1. Dermatosis inflamasi Eosinophilic folliculitis dan papular pruritic eruption of HIV
2. Keganasan oportunistik Sarkoma kaposi
3. Infeksi oportunistik Infeksi mikobakterium, candidiasis orofaringeal, moluskum
kontagiosum dan infeksi jamur profunda
Pada referat ini akan dibahas terbatas pada infeksi jamur.
A. Candidiasis
Koloni jamur candida pada orofaring sering terjadi pada pasien HIV dan telah
dilaporkan lebih dari 90% pasien pada fase lanjut (120). Candidiasis orofaring memiliki
empat tipe klinis yang berbeda beda yaitu:
1.
2.
3.
4.

Pseudomembran ( thrush )
Hiperplasia
Eritematous ( atrophic )
Keilits angularis

Candidiasis pseudomembran biasanya terdapat pada lidah dengan tampilan plak


kuning keputihan yang dapat terlepas bila dikeruk. Hiperplastik kandidiasis biasanya terdapat
pada mukosa bukal dengan ciri plak putih yang tidak terlepas bila dikeruk. Kandidiasis
eritematous memiliki ciri patch eritematous pada palatum dan dorsal lidah disertai depapilasi.
Keilitis angularis terdapat pada sudut bibir dengan ciri eritema dan fisura yang nyeri.
Beberapa studi telah menggambarkan tingginya insiden kandidiasis vulvovagina pada
pasien yang terinfeksi HIV terutama pada fase lanjut. Studi prospektif pada wanita dengan
jumlah sel T CD4+ <200 / L memiliki resiko empat kali lipat terjadinya kandidiasis
vulvovagina yang simtomatik dibanding dengan wanita yang imunokompeten. Studi pada
200 wanita yang terinfeksi HIV di Amerika Utara yang menderita kandidiasis vagina rekuren
menunjukan infeksi klinis inisial HIV pada 37% subjek. Anak anak dengan infeksi HIV
sering mengalami kandidiasis oral, kandidiasis popok dan di lipatan aksila serta leher.
B. Infeksi Dermatofita

Sama halnya infeksi dermatofita pada pasien imunokompeten, Trichophyton rubrum


dan Trichophyton mentagrophytes adalah dermatofita yang paling sering pada pasien HIV.
Pada penyakit HIV, infeksi dermatofita pada epidermis akibat T. rubrum memiliki klinis yang
luas dan sering asimtomatik. Infeksi diseminata kadang kadang menunjukan klinik atipikal,
sebagai contoh T. Rubrum diseminata memiliki klinis seperti sarkoma kaposi. Infeksi pada
kuku juga sering terjadi pada pasien HIV. Sama seperti pasien imunokompeten, T. Rubrum
sering menyebabkan onikomikosis subungual distal dan lateral namun onikomikosis
subungual proksimal lebih spesifik pada pasien HIV sehingga pasien dengan onikomikosis
subungual proksimal disarankan untuk tes HIV. Bila status imun pasien tidak diperbaiki
( restorasi ), infeksi dermatofita sering kronis dan rekuren. ART sangat mengurangi insiden
infeksi ini dan efek simpang obat akibat interkasi ART dan antifungal tidak signifikan seperti
diyakini sebelumnya.
C. Infeksi Fungal Invasif
Infeksi fungal diseminata pada HIV fase lanjut meningkat akibat:
1. Invasi lokal dari kulit atau mukosa dengan penyebaran limfatik atau hematogen
2. Reaktivasi dari infeksi laten paru paru.
Temuan klinis pada kulit sering menyerupai lesi moluskum kontagiosum multipel dan
sering menyerang wajah dan batang tubuh bagian atas. Berikut infeksi jamur profunda yang
sering terjadi pada pasien HIV:
1.
2.
3.
4.
5.

Cryptococcosis
Coccidioidomycosis
Histoplasmosis
Aspergilosis
Penicilliosis
Cryptococcosis, infeksi diseminata ini akibat yeast Cryptococcus neoformans yang

merupakan fungal yang paling sering mengancam jiwa pada pasien HIV. Penyebaran jamur
ini mencakup otak, ginjal, prostate, tulang dan perikardium. Infeksi cryptococcus diseminata
sering terjadi pada pasien dengan jumlah sel T CD4+ < 50 / L. Manifestasi klinis paling
sering pada kulit adalah papul atau nodul sewarna kulit dengan umbilikasi menyerupai
moluskum kontagiosum. Manifestasi klinis yang jarang adalah nodul subkutan, selulitis,
ulkus herpetiformis, pupura yang teraba dan plak violaseus yang menyerupai sarkoma kaposi

dan pioderma ganggrenosum like lesions. Lesi kulit dapat berkembang dari beberapa
minggu atau sebelum muncul gejala sistemik.
Coccidioidomikosis, Coccidioides immitis merupakan jamur dimorfik yang endemik
pada Amerika barat daya, meksiko dan amerika bagian tengah dan selatan. Lesi kulit pada
infeksi diseminata coccidioidomikosis biasanya asimtomatik dan biasanya dimulai dari papul
lalu berkembang menjadi pustul, plak atau nodul dengan eritema yang minimal di sekitarnya.
Lesi terkadang menyerupai moluskum kontagiosum. Seiring dengan berjalannya waktu, lesi
membesar dan berkonfluen disertai pembentukan abses, sinus drainase, ulkus, selulitis, plak
verukosa dan nodul granulomatosa. Tidak seperti histoplasmosis dan cryptococcosis,
membran yang terdapat pada mukosa oral biasanya tidak mudah lepas.
Histoplasmosis, Histoplasma capsulatum adalah fungus dimorfik dan geofilik. Area
endemis fungus ini adalah lembah sungai tengah dan tenggara Amerika Serikat, bagian
tenggara amerika selatan, bagian selatan dan timur Afrika. Histoplasmosis diseminata sering
terjadi pada pasien HIV dengan jumlah sel T CD4+ < 50 / L dan disertai demam, penurunan
berat badan, gejala gangguan pernapasan, limfadenopati, hepatosplenomegali dan ruam kulit
kemerahan. Temuan klinis pada kulit terdiri dari papul eritematous, papul nekrotik dengan
umbilikasi dan nodul yang menyerupai moluskum, folikulitis, erupsi akneiformis, erupsi yang
menyerupai rosasea, ulkus, plak vegetatif dan lesi yang menyerupai pioderma ganggrenosum.
Lesi sering terjadi pada wajah, ekstrimitas dan batang tubuh. Mukosa oral dapat terinfeksi,
nodul dan ulserasi dapat terjadi pada palatum mole, orofaring, epiglotis dan vestibulum nasi.
Pasien HIV yang sedang dalam pengobatan antifungal sistemik kemungkinan akan terjadi
eksantema luas namun tidak kentara atau erupsi psoriasiformis.
Aspergilosis, invasif aspergilosis jarang terjadi pada penyakit HIV namun biasanya
terjadi pada pasien dengan jumlah sel T CD4+ < 50 / L. Infeksi primer kulit aspergilosis
terjadi akibat inokulasi langsung dan kadang kadang terjadi pada lokasi kateter intravena.
Infeksi sekunder kulit aspergilosis sering diakibatkan karena penyebaran hematogen atau
penyebaran ke kulit dari fokus infeksi paru paru. Faktor resiko terjadinya aspergilosis
invasif pada pasien HIV adalah kondisi netropenia, pemakaian kortikosteroid dan
penggunaan obat melalui jalur intravena. Lesi kulit yang terjadi adalah papul dan nodul
berwarna pink hingga menyerupai warna kulit yang berumbilikasi menyerupai moluskum
kontagiosum, papul dengan fluktuasi, pustul dengan dasar yang dalam ( deep-seated
pustules ) plak vesikopustular dan ulkus yang sulit sembuh. Angka kematian akibat

aspergilosis invasif meski sudah mendapatkan pengobatan yang adekuat. Terapi dengan
vorikonazol dilaporkan dapat meningkatkan harapan hidup dan efek samping yang lebih
minimal dibandingkan amfoterisin B.
Penisilinosis, Penicillium marneffei adalah fungus dimorfik yang menempati urutan
ketiga infeksi oportunistik tersering pada pasien HIV di Asia tenggara dan endemis di daerah
India bagian timur laut, Vietnam, Thailand, Indonesia dan Cina bagian selatan. Manifestasi
klinis penisilinosis bervariasi, sering disertai demam, penurunan berat badan, anemia dan
limfadenopati pada pasien HIV dengan jumlah sel T CD4+ < 50 / L. Lesi kulit timbul pada
70% pasien dan sering seperti papul berumbilikasi mengenai daerah wajah, cuping telinga,
batang tubuh bagian atas dan lengan. Pustul, nodul subkutan dan lesi yang menyerupai akne
pernah dilaporkan. Terapi dengan amfoterisin atau itrakonazol sering efektif walaupun
kekambuhan sering terjadi. Profilaksis sekunder dengan itrakonzaol pada pasien dianjurkan
hingga terjadi imun rekonstitusi akibat pemberian ART.