Anda di halaman 1dari 2

Satu lagi sumberdaya alam yang terus menerus diambil : TERIPANG

sumber pendapatan nelayan yang harus diselamatkan dari kelangkaan.

Teripang pasir yang tersebar di perairan Indonesia pernah menjadi komoditi unggul untuk
dieksport, baik dalam hal jenisnya maupun jumlahnya. Ini terjadi pada tahun delapan puluhan
hingga awal sembilan puluhan. Dalam sepuluh tahun terakhir, teripang semakin sulit diperoleh.
Yang terjadi sebenarnya adalah tidak berimbangnya kecepatan tumbuh populasi dan kecepatan
pengurangannya:
ketika jumlah teripang dewasa terus berkurang, kemampuan berbiak populasinya akan
menurun karena sel-sel kelamin yang dikeluarkan oleh individu jantan dan betina tidak
cukup banyak untuk bertemu di masa air, yang mengakibatkab gagalnya fertilisasi,
ketika pengambilan teripang terjadi tanpa henti, teripang tidak lagi memiliki waktu untuk
tumbuh besar mencapai kedewasaan
ketika kerusakan habitat terjadi karena berbagai hal, teripang muda dan dewasa tidak lagi
leluasa untuk hidup.

Mengenal daur hidup teripang akan menumbuhkan kesadaran untuk memanfaatkan sumberdaya
ini dengan bijaksana.
Daur hidup teripang pasir
Individu jantan dan betina teripang pasir tidak menampilkan ciri kelamin masing-masing.
Keduanya hanya bisa dibedakan dengan membedah tubuh teripang dan melihat kelenjar
kelaminnya. Selama hidupnya, teripang berada di dalam air laut. Setelah terjadi perkawinan
antara sel telur dan sperma di dalam massa air, telur teripang akan menjadai larva dan hidup
melayang. Larva teripang berbentuk sangat berbeda dengan teripang dewasa, dan berukuran
sangat kecil. Masa larva teripang akan dijalani selama 6-8 minggu. Selama hidup sebagai larva,
teripang berada pada masa kritis karena kemungkinan dimangsa, atau terbawa arus ke luar
habitatnya.
Menjelang berubah menjadi bayi teripang (burayak), larvanya mengendap dan menempel pada
substrat perairan yang dangkal. Pertumbuhan teripang selanjutnya relatif sangat lambat. Untuk
mencapai berat 200-300 gram, teripang pasir membutuhkan waktu 2-3 tahun. Bisa dibayangkan
bagaimana lambatnya pertumbuhan populasi teripang, jika dibandingkan dengan kecepatan
teripang dikeluarkan dari tempat hidupnya.
Misalkan di area seluas 10.000 m2, memiliki teripang 10 ekor per m2. Sehingga jumlah teripang
di daerah itu mencapai 100.000 ekor. Jika Setiap bulannya diambil 100 ekor saja, teripang di
daerah itu akan habis dalam waktu 100 bulan atau 8,3 tahun saja. Tentu, sebelum masa itu habis,
teripang akan berbiak menghasilkan anakan. Generasi pertama saat pengambilan pertama akan
mencapai ukuran jual (400 gram berat tubuh) setelah 6-8 tahun, sama dengan masa habisnya stok
pertama teripang. Namun harus diingat, bahwa teripang, dan ini berlaku untuk semua organisme,
akan mampu berbiak hanya jika jumlah minimal individunya yang dibutuhkan di daerah itu
tercapai. Jika tidak, maka pembuahan tidak akan terjadi karena sel-telur dan sperma akan amat
sulit bertemu di massa air karena jumlahnya sedikit. Akibatnya, anak teripang tidak akan
dihasilkan. Dan inilah yang sedang dialami teripang di alam dewasa ini.
Apa yang bisa dilakukan kemudian ?

- mengerem pengambilan dengan pertimbangan memberi kesempatan teripang untuk tumbuh.


- menjaga jumlah minimal induk teripang di setiap area. Ini untuk menjaga berlangsungnya
regenerasi teripang.
- memperbaiki sistem pengolahan teripang sesuai permintaan pasar, sehingga menaikkan nilai
jualnya. Jika ini
terjadi, maka kita tidak perlu menguras habis semua stok teripang untuk mengejar target uang
yang bisa kita
hasilkan dari menjual teripang.
- menjaga tempat hidup teripang.
- mengusahakan budidaya teripang untuk mengembalikan populasi yang telah terkuras, dan
menaikkan jumlah
teripang untuk tujuan komersial.
Teripang
Teripang merupakan satu diantara komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Harga jual teripang olahan antara Rp. 5.000,- - Rp 55.000/kg. Oleh karena mempunyai nilai
ekonomis tinggi maka teripang banyak diburu secara besar-besaran. Kelestarian sumberdaya
teripang terancam akibat lebih tangkap yang didorong oleh harga tinggi.
Penelitian pemijahan induk teripang pasir, Holothuria scabra dengan rangsangan KCl telah
dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan injeksi 3 mL larutan KCl, induk teripang
dapat memijah dengan jumlah telur 926.000 butir, fertilitas 74%, dan daya tetas 70%.
Perkembangan gonad teripang pasir juga dapat dipacu dengan pengkayaan minyak ikan sebesar
10% ataupun dengan protein sebesar 2% pada pakan yang diberikan. Larva hasil penetasan
dipelihara dengan diberi pakan berupa plankton Chaetoceros sp dan Isochrysis sp. Penelitian
pembesaran teripang secara monokultur maupun polikultur dengan rumput laut Gracilaria sp dan
Eucheuma sp, ataupun udang telah dilakukan dan