Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Syariat islam

menganjurkan

belajar

ilmu

kedokteran

dan

mempraktekannya karena bertujuan untuk kemaslahatan manusia, dan


bermanfaat bagi mereka dan kesehatan tubuh mereka. Salah satu praktek
kedokteran yang selalu dilakukan oleh kalangan medis adalah operasi.
Menurut para ulama, memperbaiki dan memulihkan kembali fungsi organ
yang rusak, baik bawaan sejak lahir maupun karena adanya eksiden, dan halhal sejenis itu dibenarkan dalam islam, karena niat dan motivasi utamanya
adalah penyempurnaan fungsi sebagai bentuk pengobatan. Dalil pembolehan
terhadap bentuk operasi medis, antara lain dinyatakan dalam QS. Al-Maidat
(5):32
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa :
Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu
(membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka
bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan
barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolaholah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.
Berdasarkan ayat ini, Allah menghargai setiap upaya mempertahankan
kehidupan manusia, menjauhkan diri dari hal yang dapat membinasakannya,
seperti halnya operasi medis. Banyak jenis penyakit yang pengobatannya
hanya dengan operasi saja penyakit tersebut bisa disembuhkan.
Pada zaman Nabi, berbekam (al-hijamat) yang dapat dianggap sebagai
salah satu bentuk operasi masa itu yang telah dipraktekkan dan dianjurkan
Nabi, sebagaimana telah dinyatakan dalam hadist Nabi : Bahwa Rasuluallah
saw pernah berbekam di kepalanya. (HR. al-Bukhari, Muslim, al-Nasai, Ibn
Majah, dan Ahmad). Dalam hadist lain Nabi saw menyatakan : bahwa
dalam berbekam itu terdapat penyembuhan. (HR. al Bukhari dan Muslim).
Pembolehan operasi juga tercakup dalam perintah Nabi untuk berobat
yang secara teknis pelaksanaannya diserahkan kepada ahlinya untuk
menggunakan cara pengobatan yang tepat dan dibutuhkan, kecuali yang
diharamkan oleh Allah. Hadist tersebut berbunyi : Dari Abi al-Darda ia
berkata, Rasuluallah bersabda : Bahwa Allah telah menurunkan penyakit
1

dan obatnya, dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah,
dan janganlah berobat dengan yang haram. (HR. Abu Dawud).
Namun seiring terjadinya arus perkembangan ilmu pengetahuan yang
tidak terhenti membuat kemajuan dan kecanggihan semakin tidak terjangkau.
Jika dulu hanya sebuah mimpi maka kini segala sesuatu yang dulu tidak
masuk akal akan menjadi nyata. Adanya kemajuan teknologi dalam
kedokteran menjadikan permasalahan menjadi fenomena ketika ditemukan
penemuan baru dalam bidang kedokteran tentang operasi plastik. Penemuan
tersebut menarik banyak perhatian orang terutama kalangan muda. Berbagai
bentuk operasi pun bisa dilakukan, di antaranya adalah menarik kulit yang
sudah keriput, merubah warna kulit, memancungkan hidung, mempercantik
wajah, membesarkan bagian tertantu pada tubuh atau mengecilkan,
menghilangkan tambahan pada tubuh, atau menambahkan yang kurang pada
orang cacat, dan lain-lain. Permasalahan ini kemudian menjadi fenomena
umum dalam masyarakat. Berbagai masyarakat mengutarakan pendapatnya
tentang hal ini, baik yang pro maupun kontra.
Oleh karena itu permasalahan ini perlu dibahas menurut pandangan islam,
sehingga masyarakat dapat mengetahui mana yang boleh dilakukan dan mana
yang tidak boleh dilakukan.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan operasi plastik ?
1.2.2 Apa saja jenis-jenis dan hukum dari operasi plastik ?
1.2.3 Apa saja efek negatif dari operasi plastik ?
1.2.4 Bagaimana pendapat ulama mengenai operasi plastik ?
1.2.5 Apa solusi yang diberikan oleh ulama mengenai operasi plastik ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan operasi plastik
1.3.2 Untuk mengetahui jenis-jenis dan hukum operasi plastik
1.3.3 Untuk mengetahui apa saja efek negatif dari operasi plastik
1.3.4 Untuk mengetahui apa pendapat ulama mengenai operasi plastik
1.3.5 Untuk mengetahui solusi yang diberikan ulama dari masalah operasi
plastik

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Operasi Plastik
Bedah plastik berasal dari kata Yunani Platikos yang berarti
membentuk. Operasi plastik adalah suatu cabang ilmu kedokteran yang
bertujuan untuk merekonstruksi atau memperbaiki bagian tubuh manusia
melalui operasi kedokteran. Operasi plastik atau dikenal dengan Plastic
Surgery adalah bedah/operasi yang dilakukan untuk mempercantik atau
memperbaiki satu bagian didalam anggota badan, baik yang nampak atau
tidak, dengan cara ditambah, dikurangi atau dibuang, bertujuan untuk
memperbaiki fungsi dan estetika (seni) tubuh. (Al Mausuah at-Thibbiyah alHaditsah Li Majmuah minal at-Thibba, juz 3, hal. 454, cet. Lajnah an-Nasyr
al-Ilmi). Dalam istilah kedokteran operasi plastik berarti proses pembedahan
yang dilakukan untuk memperbaiki penampilan luar salah satu dari anggota
tubuh seseorang. Sedangkan dalam fikih modern operasi plastik atau disebut
al-Jiharat (Amaliyyat) al-Tajmiliyyat, yaitu bedah yang dilakukan untuk
memperbaiki organ badan terutama kulit yang rusak atau cacat, atau untuk
mempercantik diri.

2.2 Jenis Jenis Operasi Plastik


Secara umum, operasi plastik dapat dibagi dalam 2 (dua) bentuk, yaitu :
1. Operasi yang tidak dikehendaki (Ghairu Ikhtiyariyah)
Adalah operasi terhadap bagian tubuh (biasanya yang tampak) karena
mengalami gangguan fungsional dengan tujuan menghilangkan penyakit
atau cacat pada tubuh. Baik penyakit atau cacat itu ada sejak lahir atau
datang kemudian karena kecelakaan dan lain-lain, seperti bibir yang
sumbing sejak lahir atau karena kecelakaan, wajah yang rusak karena
kebakaran, lubang hidung sangat kecil, dan sebagainya. Operasi jenis ini
hanya bertujuan untuk mengobati penyakit dan pada nantinya akan
menghasilkan keindahan pada orang yang telah diobati. Dan keindahan itu
hanya sebagai efek dari operasi dan ini dibolehkan di dalam syariat.
Operasi jenis ini juga disebut operasi konstruksi (operasi plastik
konstruksi), hukumnya diperbolehkan dan disamakan dengan hukum
berobat.
Operasi jenis ini pernah dilakukan pada masa Rasuluallah saw,
berdasarkan pada riwayat al-Turmudzi, Sahabat Nabi yang bernama
Arfajah bin Asad hidungnya telah tak berfungsi karena patah di masa
Jahiliah, lalu diganti dengan hidung palsu terbuat dari perak, namun hal itu
menimbulkan bau tidak sedap, maka Rasuluallah saw mengijinkannya
menggunakan hidung buatan dari emas. Masudnya, ia menambal hidung
yang terputus itu dengan emas yang ditempa mirip hidung agar tampang
mukanya tidak jelek. Tindakan ini dianggap dan dikategorikan dalam
pengertian berobat yang diperbolehkan dan bahkan dianjurkan dalam
Islam.
2. Operasi yang sengaja dilakukan (Ikhtiyariyah)
Adalah operasi terhadap bagian tubuh yang tak mengalami gangguan
fungsional hanya bentuknya kurang sempurna atau ingin diperindah,
seperti mempercantik wajah dengan menarik kulit yang sudah keriput,
memancungkan hidung agar kelihatan lebih cantik, merubah warna kulit
dari yang seharusnya, dan sebagainya. Operasi jenis ini dikenal dengan
dengan operasi estetika. Hukumya diharamkan, karena termasuk merubah
ciptaan Allah. Jenis operasi ini terbagi kepada dua bagian yaitu, bagian
yang merubah bentuk dan bagian yang mengawetkan umur.
4

Operasi yang merubah bentuk misalnya :


a. Memperindah hidung, seperti membuatnya lebih mancung.
b. Memperindah dagu, dengan meruncingkannya.
c. Memperindah payudara dengan mengecilkannya jika terlalu besar
atau membesarkannya dengan suntik silicon atau dengan
menambah hormon.
d. Memperindah telinga.
e. Memperindah perut dengan menghilangkan lemak atau bagian
yang lebih dari tubuh.

Operasi yang mengawetkan umur misalnya :


a. Memperindah wajah dengan menghilangkan kerutan yang ada
dengan skaler atau alat lainnya.
b. Memperindah kulit dengan mengangkat lemak yang ada dan
membentuk wajah dengan apa yang dikehendaki.
c. Memperindah lengan bawah sehingga tidak kelihatan bongkok
dengan berbagai cara.
d. Memperindah kulit tangan dengan menghilangkan kerut seolah
kulit masih padat dan muda.
e. Memperindah alis baik dengan mencukurnya agar tampak lebih
muda.

2.3 Efek Negatif Operasi Plastik


Operasi plastik lebih banyak beresiko negatif daripada keuntungannya, efek
tersebut antara lain :
Efek Secara Fisik
a. Rasa sakit pasca operasi, rasa sakit tersebut pasti akan terasa setelah
melakukan operasi plastik. Walaupun bisa diatasi dengan obat
penghilang rasa sakit, namun tidak dapat menghilangkan rasa sakit

seratus persen. Rasa pusing, nyeri pada bekas luka dan mual pasti akan
dirasakan setelah proses operasi.
b. Meninggalkan bekas jahitan
c. Menimbulkan resiko gangguan organ dalam pasca operasi, dalam kurun
waktu tertentu pasien harus mengkonsumsi obat-obatan kimia untuk
menghilangkan rasa nyeri atau mencegah terjadinya alergi dan infeksi.
Dalam kondisi tertentu, obat-obat ini dapat mengganggu fungsi organ
dalam seperti ginjal dan hati.
d. Kesalahan operasi plastik pada wajah, kesalahan ini akan menyebabkan
kelumpuhan otot wajah. Hal ini akan berpengaruh terhadap indera
penglihatan, penciuman dan indera perasa.
Efek Secara Psikologis
a. Turunnya kepercayaan diri dan trauma psikologis, sebagai akibat dari
perubahan fisik yang terjadi secara drastis. Rasa sakit pasca operasi
juga bisa menimbulkan rasa trauma.
b. Jika operasi ternyata gagal atau tidak sesuai harapan, bisa memicu
terjadinya depresi berkepanjangan.
c. Menimbulkan efek adiktif bagi pelakunya. Rasa kurang puas terhadap
operasi plastik yang telah dilakukan, mendorong mereka untuk
melakukan operasi ulang untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Padahal pada kenyataannya, operasi plastik tidak dapat menciptakan
kecantikan yang alami.
2.4 Pendapat Ulama
Dengan adanya fenomena mengenai operasi plastik ini, para ulama
kemudian memberikan berbagai pendapat dengan adanya masalah ini. Para
ulama kemudian berbeda pendapat tentang hukum operasi plastik yang
dilakukan untuk mengobati penyakit atau cacat yang dialami oleh seseorang
atau disebabkan karena kemudharatan yang dialami oleh seseorang baik
secara fisik atau secara mental. Pendapat ulama yang berkembang dan
berpotensi untuk muncul dalam masalah operasi plastik antara lain :
Pendapat yang melarang secara mutlak, pendapat ini disampaikan oleh
sebagian ulama fiqih.
QS. Al-Nisa : 119

dan

aku

benar-benar

akan

menyesatkan

mereka,

dan

akan

membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh


mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang
ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh
mereka

(merubah

ciptaan

Allah),

lalu

benar-benar

mereka

merubahnya. Siapa saja yang menjadikan syaitan menjadi pelindung


selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.
(QS al-Nisa : 119)
Ijtihad dari ayat : operasi plastik bagaimanapun bentuknya
termasuk merubah ciptaan Allah. Berarti termasuk mengikuti

syaitan. Dan kita dilarang untuk mengikuti syaitan .


HR. Bukhari dan Muslim
Allah melaknat wanita yang membuat tato dan wanita yang meminta
untuk membuatnya, dan wanita yang menghilangkan bulu wajah, dan
wanita yang merenggangkan gigi agar keliahatan lebih cantik, dan
wanita yang merubah ciptaan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Ijtihad dari hadits : operasi plastik bagaimanapun bentuknya
adalah dilarang karena termasuk pada perbuatan yang dilaknat
Allah.

Dalam kaidah fiqhiyyat


Apa yang mendorong terlaksananya keharaman maka hukumnya
haram.
Ijtihad : larangan merubah ciptaan Allah tersebut juga berlaku
bagi orang-orang yang membantu pelaksanaannya, ahli bedah dan

pasien sama-sama menempuh jalan syaitan.


Riwayat Ashabis Sunan.
Dari Asmaa, bahwa ada seorang perempuan yang mendatangi
Rasulullah Saw. dan berkata, Wahai Rasululllah, dua orang anak
perempuan ku akan menjadi pengantin, akan tetapi ia mengadu
kepadaku bahwa rambutnya rontok, apakah berdosa jika aku sambung
rambutnya?, maka Rasulullah pun menjawab, Sesungguhnya Allah

melaknat perempuan yang menyambung atau minta disambungkan


(rambutnya).
Ijtihad : haram hukumnya bagi orang yang menyambung
rambutnya atau sekarang dikenal dengan konde atau wig dan jauh
dari rahmat Allah SWT.
Dari dalil-dalil diatas, sebagian ulama berpendapat bahwa operasi
plastik itu diharamkan, dengan keinginan untuk mempercantik dan
memperindah diri, dengan kesimpulan sebagai berikut :
1. Operasi plastik merubah ciptaan Allah SWT
2. Adanya unsur pemalsuan dan penipuan
3. Sisi negatifnya lebih banyak daripada manfaatnya, karena bahaya
yang akan terjadi sangat besar apabila operasi itu gagal, bisa
menyebabkan kerusakan anggota badan bahkan kematian.
Pendapat yang membolehkan dengan syarat dan aturan tertentu, pendapat
ini diusung oleh jumhur ulama kontemporer.
HR. Abu Dawud
Dari Abi al-Darda ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Bahwa Allah
telah menurunkan penyakit dan obatnya, maka berobatlah, dan

janganlah berobat dengan yang haram. (HR. Abu Dawud)


HR. Ahmad, al-Turmudzi, Abu Dawud, dan Ibn Majah
Dari Usamat Bin Syarik. Rasulullah saw. Bersabda : Berobatlah wahai
hamba Allah karena sesungguhnya Allah azza wa jalla tidak
menurunkan suatu penyakit kecuali ia turunkan juga obatnya, kecuali
mati dan pikun, atau dalam berbagai riwayat kecuali satu penyakit,
sahabat bertanya : ya Rasulullah, penyakit apa itu? Nabi berkata :
penyakit tua (pikun). (HR. Ahmad, al-Turmudzi, Abu Dawud, dan Ibn
Majah)
Ijtihad dari hadits : bila operasi dilakukan untuk menghilangkan
penyakit seperti luka bakar atau kecelakaan, maka itu dibolehkan,
karena itu termasuk berobat.

Dari qaidah fiqhiyyah


Setiap masalah hukumnya tergantung kepada maksudnya.
Ijtihad dari dalil: operasi plastik tergantung pada tujuannya. jika
tujuannya bukan untuk merubah ciptaan Allah maka tidak
dilarang, seperti mengobati cacat di wajah atau di bibir yang
8

membuat dia mendapatkan masyaqqah atau kemudharatan dalam


berinteraksi dengan masyarakat. Tapi jika tujuannya adalah
merubah ciptaan Allah atau sekedar mempercantik saja bukan
karena penyebab yang mengharuskan, seperti mempercantik
wajah dari rupa asli yang normal, atau memancungkan hidung,
maka tidak dibolehkan.

QS. Al-Baqarah : 195

Dan nafkahkanlah harta hartamu dijalan Allah; janganlah kamu


campakkan dirimu kedalam kebinasaan dan berbuat ihsanlah kamu;
sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.
Ijtihad dari ayat : Allah melarang kita mengerjakan pekerjaan
yang membawa kepada kebinasaan.
Dari dalil-dalil di atas, sebagian ulama berpendapat bahwa operasi ini
tidak bisa dikatakan mengubah ciptaan Allah dengan sengaja, karena
operasi ini untuk pengobatan, walaupun pada akhirnya bertambah
cantik atau indah pada dirinya. Adapun kalau ternyata orang tersebut
mempunyai cacat yang mungkin menjijikkan pandangan, misalnya
karena ada daging tambah yang boleh menimbulkan sakit jiwa dan
perasaan, maka tidak berdosa bagi orang itu untuk berobat selagi
dengan tujuan menghilangkan kecacatan atau kesakitan yang boleh
mengancam hidupnya. Karena Allah tidak menjadikan agama buat kita
ini dengan penuh kesukaran. (Syeikh Dr Yusuf Al-Qaradawi)
2.5 Solusi yang Diberikan
Kebolehan melakukan bedah konstruksi ini ulama mempersyaratkan dengan
hal-hal berikut :
a. Bahan yang dipergunakan untuk menambal atau menutupi cacat, seperti
kulit, tulang atau organ lainnya, harus berasal dari tubuhnya sendiri atau
dari seseorang yang telah meninggal dunia. Batasan kebolehan

mengambil organ atau jaringan orang yang baru wafat ini merupakan
hasil analogi (qiyas) dari pendapat Jumhur Ulama yang membolehkan
makan daging mayat dalam keadaan darurat. Namun jika diambil dari
orang yang masih hidup maka tidak dapat dibenarkan. Alasannya,
berdasarkan kaidah fiqih dharurat tidak boleh dihilangkan dengan
dharurat yang lain. Jadi, menghindari dharar dari seseorang tidak boleh
menimbulkan dharar pada orang lain. Dalam hal ini jika kulit, tulang, atau
anggota tubuh lainnya diambil dari orang hidup untuk bedah plastik
berarti memberi mudarat kepada orang lain.
b. Dokter yang menangani pembedahan itu harus merasa yakin bahwa
tindakannya akan berhasil dilakukan tanpa risiko, bahaya dan mudarat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Operasi plastik atau disebut al-Jiharat (Amaliyyat) al-Tajmiliyyat adalah
suatu cabang ilmu kedokteran yang dilakukan untuk memperbaiki suatu
bagian dalam atau luar anggota tubuh yang bertujuan untuk mempercantik
diri.
10

Secara umum, ada 2 jenis operasi plastik yaitu :


1. Operasi yang tidak dikehendaki (Ghairu Ikhtiyariyah)
2. Operasi yang sengaja dilakukan (Ikhtiyariyah)
Operasi plastik dapat menimbulkan efek negatif, yaitu :
a. Efek negatif secara fisik
b. Efek negatif secara psikologis
Ulama memiliki berbagai pendapat tentang fenomena operasi plastik :
1. Pendapat yang melarang secara mutlak, karena tujuannya untuk
mempercantik diri dan mengubah ciptaan Allah
2. Pendapat yang membolehkan dengan syarat dan aturan tertentu, karena
tujuannya untuk berobat.
Solusi yang diberikan antara lain :
a. Bahan yang digunakan untuk menutupi cacat harus berasal dari tubuhnya
sendiri
b. Dokter harus yakin bahwa tindakannya akan berhasil
3.2 Saran
Operasi plastik bukan merupakan suatu trend yang harus diikuti. Operasi
tersebut seharusnya hanya dilakukan untuk seseorang yang memang
memerlukan. Operasi yang hanya bertujuan untuk mempercantik diri dan
mengubah ciptaan Allah sebaiknya tidak dilakukan karena Allah tidak
menyukai hal tersebut.

11