Anda di halaman 1dari 28

Pengukuran Level

Pengukuran level cairan merupakn pengukuran yang mempunyai tujuan


untuk mengetahui ketinggian level cairan pada suatu titik atau pada range tertentu.
I. Pengukuran Level Kontinyu dan Titik (Point)
Pengukuran level dibagi menjadi dua bentuk, yaitu level kontinyu dan level
titik (point). Pengukuran level kontinyu merupakan pengukuran level untuk
mengetahui level dari cairan pada rentang (range) tertentu, sedangkan pengukuran
level titik merupakan pengukuran level untuk mengetahui level pada titik tertentu
dipasangnya sensor. Pemilihannya tergantung atas fungsi yang diperlukan dalam
pengukuran.
Beberapa sistem mungkin menggunakan

pengukuran kontinyu dan titik

(point) pada sistem yang sama (misalnya pada tangki atau vessel), dan ini sangat
tergantung pada keperluan/ kekritisan pengukurannya. Dan sistem pengukuran titik
biasanya dirancang sebagai back up pada sistem pengukuran secara kontinyu, yaitu
diwujudkan untuk system alarm atau shutdown.
I.1. Pengukuran Level Titik (Point)
Pengukuran level titik adalah pengukuran level secara diskrit pada titik
tertentu dalam sistem. Sebagai contoh, alarm level rendah dan alarm level tinggi
terpicu jika level dalam tangki mengalami tinggi yang berlebihan atau rendah yang
berlebihan. Demikian juga untuk system shutdownnya, dengan menggunakan
pengukuran level titik digunakan untuk menghentikan/ men-shutdown-kan suatu
system. Pengukuran level titik dapat juga digunakan pada sistem kendali/ kontrol
on/off atau kontrol batch. Oleh karena itu fungsi dari pengukuran level titik adalah
digunakan untuk input system alarm dan shutdown, switching on/off dan indikasi
level titik (point).
I.2. Pengukuran Level Kontinyu
Pengukuran level kontinyu memberikan pengukuran level secara kontinyu
(analog) dalam sistem. Sebuah sensor konstan digunakan untuk mengukur level.

Pada saat level naik atau turun, sensor akan merasakan perubahan level ini dan
menghasilkan output yang sebanding dengan perubahan level tersebut. Dan sinyal
outputnya biasanya dalam bentuk bentuk sinyal standard 3-15 psi atau 4 - 20 mA dc.
Tipe pengukuran ini sangat tepat digunakan untuk sistem pengendalian loop tertutup
(closed loop), dan dimana pengukuran level dalam rentang (range) tertentu
diperlukan.
II. Pengukuran Level Cara Lengsung dengan Cara Tidak Langsung
(Inferential)
Pengukuran secara langsung dimana instrumennya berkontak secara langsung
dengan elemen sensor, dan

sebuah gerakan level diukur secara langsung oleh

instrumen. Sebagai contoh pengukuran level secara langsung adalah sistem


pengukuran level dengan pelampung. Dalam sistem ini pelampung akan mengapung
dibagian atas cairan dalam vesel. Pelampung diikat oleh kabel atau benang, dan
diujung yang lain diikat dengan jarum penunjuk. Perubahan level akan ditunjukkan
oleh skala disebelah luar.
Pengukuran level tidak langsung/ inferensial adalah pengukuran level menggunakan
media. Sebuah tranduser digunakan untuk mentransfer pengukuran level ke
instrumen penunjuk. Contoh pengukuran level secara inferensial ialah differential
pressure level transmitter. Pengukuran level diwakili oleh perubahan beda tekanan
dalam sistem. Transmiter dengan pada sisi tekanan tinggi dihubungkan pada bagian
bawah tangki dan transmiter sisi tekanan rendah dihubungkan ke atmostphir.
Kenaikan level akan menaikkan tekanan bagian bawah dari tangki, dan akibatnya
akan menaikkan output transmiter.
III. PENGUKURAN LEVEL TITIK (POINT)
Beberapa pengukuran level titik (point) adalah sebagai berikut :
1. Switch Pelampung
2. Pelat Kapasitansi
3. Switch Konduktansi
4. Pedal Rotasi
5. Swich Level Magnet
2

3.1. Switch Pelampung


Switch pelampung dapat beraneka bentuk (seperti yang telihat pada Gambar
1) dan semuanya mempunyai prinsip kerja yang sama, ketika level yang diukur lebih
rendah dari pelampung maka switch akan menggantung secara vertikal dan ketika
level naik maka switch akan menyebabkan pelampung akan terdorong secara vertikal
sehingga akan merubah keadaan didalam switch, dan pada dasarnya perubahan level
akan berfungsi untuk merubah posisi switchnya seperti yang terlihat pada Gambar 2.
Dan untuk contoh rangkaiannya dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 1. Contoh Level Switch tipe switch Pelampung

Gambar 2. Prinsip Kerja Level Switch

Gambar 3. Contoh Rangkaian Level Switch

3.2. Kapasitansi
Sebuah kapasitor terdiri dari dua pelat sederhana, dipisahkan oleh jarak,
dengan sebuah isolasi diantara kedua pelat dan dikenal mempunyai konstanta
dielektrik. Dielektrik biasanya mempunyai dua nilai yang berbeda, pertama ketika
tidak ada level diantara kedua pelat, maka hanya udara saja, dan yang kedua ketika
pelat tertutup oleh cairan karena kenaikan dari level cairan.

Alat ukur mungkin terdiri dari probe yang berada didalam tangki atau vesel yang
beraksi sebagai salah satu pelat kapasitor dan dinding vesel beraksi sebagai pelat
yang lain. Dalam banyak hal, mungkin ada dua probe yang terpisah.
Kelemahan switch level tipe kapasitif adalah adanya variasi kapasitansi yang besar
yang disebabkan oleh berubah-ubahnya kontanta dielektrik yang diukur. Untuk
menghindari masalah ini, maka cairan yang diukur harus mempunyai komposisi yang
seragam.
Keunggulannya ialah tidak ada bagian yang bergerak, dan probo dapat didesain
untuk pemakaian temperatur tinggi, tekanan tinggi dan kondisi korosif.
3.3. Konduktansi
Probe konduktan adalah alat ukur level titik (point) yang digunakan untuk
rangkaian terbuka atau tertutup, yang dapat digunakan untuk memberi peringatan
kepada operator pada saat level menunjukkan level rendah atau level tinggi. Dua
elektrode tercelup didalam vesel. Jika cairan yang koduktif tersebut menutup kedua
elektrode, maka rangkaian akan menutup; jika level turun dibawah salah satu
elektrode, maka rangkaian akan membuka. Cairan dalam hal ini beraksi seperti
5

kontak switch. Ada catatan bahwa cairan yang diukur harus mampu menghantarkan
arus listrik beberapa mA.

Gambar 4. Pengukuran Level dengan Konduktansi


3.4. Pedal Rotasi
Alat ukur pedal rotasi biasanya digunakan sebagai switch level rendah atau
switch level tinggi kemudian dihubungkan ke alarm atau untuk kontrol level zat
padat. Pedal dapat terbuat dari tiga atau empat pelat datar atau pedal fleksibel, atau
mungkin dari pedal kawat, seperti pada Gambar 5. Sebuah motor kecil memutar
pedal; ketika level zat padat naik menutupi pedal, pedal berhenti berputar. Karena
ada kenaikan torsi disepanjang batang dari motor ke pedal. Torsi ini akan
menyebabkan arus yang lebih tinggi mengalir pada motor dan arus yang lebih tinggi
tersebut akan digunakan untuk mengubah posisi switch.
Akurasi relatif tinggi, keuntungan lain ialah biaya rendah dan dapat digunakan pada
periode waktu yang lama. Kelemahannya ialah tidak bisa berfungsi dengan baik
untuk temperatur dan tekanan tinggi dan lingkungan yang korosi. Kondisi yang
korosif dan kotor maka pedal tidak bisa berputar, sehingga menyebabkan sinyal
palsu.

Gambar 5. Detektor Pedal Rotasi


3.5. Switch Level Magnet
Switch level magnet adalah variasi dari level pelampung yang menggunakan magnet
permanen didalamnya dengan switch yang peka dengan magnet. Keuntungan dari
alat ini adalah anda dapat mendeteksi lebih dari satu kondisi level, kombinasi switch
dan pelampung lebih dari satu dapat digunakan pada asembli yang sama, bentuk dari
switch level magnet dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Switch Level Magnet

IV. PENGUKURAN LEVEL KONTINYU


4.1. Pengukuran Level dengan Gelas Penduga (Sight Glass)
Gelas penduga (Sight glass) merupakan alat indicator level yang sangat
sederhanadanmurah.Gelaspendugadapatdigunakanuntukbejana(vessel)terbuka
atautertutup.
Pada Gambar 7 adalah contoh dari gelas penduga dan secara skematik dapat
dilihat pada Gambar 8, dengan bagian bawah dipasangkan ke bagian paling bawah
level yang akan diamati, sedangkan bagian atas terbuka ke atmosfer apabila
dipasangkan untuk bejana terbuka atau dipasangkan/ disambungkan ke bagian atas
bejana apabila digunakan untuk tangki tertutup.

Gambar 7. Contoh Gelas Penduga (Sight Glass)


Pada gelas penduga biasanya terdapat valve dibagian bawah (blow down valve) yang
digunakan untuk membuang kotoran yang terdapat pada gelas penduga tersebut.
Secara umum gelas penduga (sight glass) terdiri dari:

Sebuah tabung gelas silinder

Fitting yang digunakan untuk memegang gelas tersebut.

Kelengkapan-kelengkapan: valve-valve, blow down valve.

Skala pengukuran untuk menunjukkan ketinggian level pengukuran.

Gambar 8. Skematik Gelas Penduga (Sight Glass)


4.1.a. Fungsi Bagian-Bagian Gelas Penduga
Bagian-bagian dari gelas penduga mempunyai fungsi sbb:

Gelas merupakan tabung transparan silinder yang dibuat dari bermacam-macam


material transparan bergantung pada aplikasinya. Jika diaplikasikan pada bejana
tekanan tinggi harus tersedia pelindung/ penutup.
9

Valve Isolasi (Isolation Valve) digunakan untuk mengisolasi bejana apabila


dilakukan pelepasan gelas penduga pada saat bejana dalam kondisi operasi.

Blow-down valve digunakan pada saat dilakukan proses pembuangan kotoran


yang ada pada gelas penduga. Dengan membuka blow down valve maka akan
dapat membuang endapan-endapan atau kotoran dalam gelas.penduga.

Skala biasanya menempel pada gelas penduga yang akan menunjukkan level
cairan dari bejana tersebut.

4.1.b. Instalasi Gelas Penduga


Gelas penduga dapat diinstalasi untuk bejana atau tangki terbuka (Gambar 9) ataupun
tertutup (Gambar 10).

Gambar 9. Instalasi pada Tangki Terbuka

Gambar 10. Instalasi pada Tangki Tertutup

10

Jika level yang akan ditinjau melebihi panjang dari gelas penduga, maka dapat
dilakukan pemasangan membentuk overlap seperti pada Gambar 11.

Gambar 11. Pemasangan Multi gelas penduga


4.1.c. Instalasi Gelas Penduga pada Boiler
Boiler merupakan peralatan yang digunakan untuk membuat uap (steam). Boiler
selalu mempunyai gelas penduga untuk melihat level air dalam bejananya, yang
berfungsi untuk meyakinkan operator bahwa boiler masih beroperasi pada kondisi
normal. Level dalam bejana harus cukup supaya mencegah terjadinya overheating
dan apabila kekurangan air juga akan menyebabkan produksi steam akan kurang.
Pada boiler blow down harus dilakukan setiap hari untuk menghindari kebutuan pada
pipanya dan untuk membuang kotoran yang ada. Instalasi dari gelas penduga pada
boiler dapat dilihat pada Gambar 12.
Selama boiler kondisi normal operasi pembacaan level digelas penduga akan
mempunyai kesalahan (error) apabila dibandingkan dengan level nyata, dan yang
terjadi penunjukan level pada gelas penduga biasanya lebih rendah dari level nyata
pada boiler drum, hal ini karena air dalam gelas penduga mempunyai temperature
lebih rendah dibandingkan dengan temperature dalam boiler drum.

11

Gambar 12. Instalasi Gelas Penduga pada Boiler


4.1.d. Gelas Penduga Tekanan Tinggi
Gelas penduga berbentuk silinder tidak direkomendari untuk tekanan diatas 2800
kPa. Untuk tekanan lebih tinggi digunakan gelas penduka tipe flat, dengan
pemasangan seperti pada Gambar 13.

Gambar 13. Instalasi Gelas Penduga pada Tekanan tinggi.


12

Disamping pengukuran dengan sight glass yang konvensional yang sudah


dibicarakan, sight glass dapat juga berupa indikator yang digerakkan dengan
menggunakan magnet yang diletakkan pada pelampung yang terletak dalam tabung ,
seperti pada Gambar 14. Dengan metode ini pengukuran lebih jelas karena
indikatornya selalu bersih, tidak seperti sight glass yang konvensional.

Gambar 14. Magnetic Liquid Level Gauge


4.2. Pengukuran Level Tipe Pelampung (Floater)
Pengukur level cairan tipe pelampung silinder digunakan untuk vesel yang terbuka.
Alat ukur ini terdiri dari sebuah pelampung yang berada diatas cairan, sebuah tali
(tape), sebuah pulley dan pemberat penghitung yang terpasang diujung tali, seperti
ditunjukkan pada Gambar 15. Sangat sering, alat ukur ini mempunyai skala indikasi
vertikal yang dipasang disebelah luar dinding tangki dan pembeat penghitung beralsi

13

sebagai indikator level. Pemberat penghitung akan mempertahankan tegangan tali


ketika pelampung naik maupun turun.

Gambar 15. Alat Ukur Pelampung dan Indikator Level


Pelampung hanya sebagian saja yang tercelup didalam cairan. Masa pemberat
penghitung disetel untuk memepertahankan pelampung tercelup pada setengahnya
saja sehingga diperoleh gaya apung (buoyancy) maksimum. Tipe pelampung jenis ini
disebut tipe perubahan (displacement) konstan.
Pada Gambar 16 adalah alat ukur level dengan indikator yang digerakkan oleh
pelampung yang dapat digunakan untuk tangki bertekanan. Sebuah alat bacaan
dipasang pada bagian atas tangki. Pegas spiral datar dipasang pada pulley dan juga
pada pemberat penghitung untuk mempertahankan agar tensi tali konstan.
Sistem gear diletakkan diantara tali dan alat penghitung. Skala penghitung dibungkus
dalam pengukur ketinggian sehingga tidak ada tekanan yang keluar dari tangki.
Flow rate yang tinggi dapat menyebabkan turbulensi permukaan cairan, dan akan
mempengaruhi posisi pelampung. Untuk mengatasi hal ini, pelampung diselubungi
oleh stilling well (tabung penyelubung), yang bisa terletak disebelah dalam atau
disebelah luar tangki.

14

Gambar 16. Alat Ukur Level Tipe Pelampung dan Tali untuk Tangki Bertekanan
4.3. Pengukuran Level dengan Displacer
Pengukuran level dengan menggunakan displacer merupakan salah satu contoh
pengukuran level tidak langsung karena pada pengukuran ini yang diukur adalah
perubahan berat benda yang setara dengan perubahan level. Dan dalam masa
sekarang banyak digunakan pengukuran level secara tidak langsung, seperti
pengukuran level dengan menggunakan differential pressure, ultrasonic, radioaktif,
dll.
Pengukuran level dengan displacer menggunakan prinsip Hukum Archimedes, yaitu:
Benda yang tercelup dalam zat cair (Fw) akan mempunyai daya dorong keatas sebesar
zat cair yang dipindahkannya (FB), seperti pada Gambar 17.

15

Gambar 17. Prinsip Hukum Archimedes


Contoh 1:
Sebuah silinder tegak mempunyai diameter 10 cm, panjang 30 cm, dan massa 2 kg.
Jika silinder tersebut dicelupkan, berapa panjang silinder yang tercelup dalam air?
Penyelesaian:
Gaya ke bawah dari silinder adalah:
Massa air yang dipindahkan akan sama dengan massa dari silinder tegaknya. Oleh
karena itu gaya dari silinder adalah:
F = massa x percepatan gravitasi
F = 2 kg 9.81 m/s 2
= 19,62 N
Apabila dalam kondisi setimbang maka, gaya ke bawah = gaya ke atas, sehingga
gaya keatasnya juga sebesar = 19,62 N. Gaya tersebut adalah:
F

= Volume * density air * percepatan gravitasi

F = Vg
sehingga:
V = F
g

16

19.62 N

= 1000 kg/m 3 9.81 m/s 2


= 0.002 m3
Volume tersebut merupakan volume silinder yang tercelup dalam air. Dengan
menggunakan perhitungan volume silinder:
V = (/4)* (diameter)2 * tinggi
V = 0.7854d2h
Sehingga:
h =
=

V
0.7845d 2
0.002 m 3
0.7854 (0.1 m) 2

= 0,255 m
= 25,5 cm
Sehingga jika diaplikasikan silinder tersebut akan tercelip sepanjang 25,5 cm.
Contoh 2:

h1

F1
A

h2

DISPLACER

h=h2 - h1

F2

Gambar 18. Daya dorong benda yang tercelum dalam cairan

17

Sebuah silinder tegak (displacer) mempunyai luas A, panjang h tercelup semuanya


kedalam cairan yang mempunyai density seperti terlihat pada Gambar 18. Berapa
daya dorong ke atas dari benda yang tercelup tersebut?
Penyelesaian:
Jika density dari fluida adalah , dan luas dari silinder adalah A, maka tekanan dari
atas silinder adalah:
P1 = gh1
Sehingga gaya kebawahnya adalah:
F1 = P1A
= gh1A
Tekanan keatas dari bawah silinder adalah:
P2 = gh2
Sehingga gaya keatasnya adalah:
F2 = P2A
= gh2A
Gaya total pada silinder adalah:
FB = F2 F1
= gA (h2 - h1)
= gAh, dimana h adalah tinggi silinder.
= gV, dimana V adalah volume silinder & V adalah massa dari
liquid yang mendorong keatas.
Contoh dari pemasangan displacer dilapangan dapat dilihat pada Gambar 19.

18

Displacer

Gambar 19. Displacer


4.4. Pengukuran Level dengan Perbedaan Tekanan (Differential Pressure)
Pengukuran level dengan menggunakan perbedaan tekanan (differential
pressure) adalah menggunakan prinsip tekanan hidrostatis. Tekanan Hidrostatis
adalah tekanan dari cairan berdasarkan pada berat jenis cairan, dan ketinggian cairan
di atas point pengukuran. Hal ini dapat digambarkan dengan rumus:
P=xgxh
dimana:

P = Tekanan Hidrostatis
= Density Cairan
g = Konstanta percepatan gravitasi
h = Ketinggian cairan diatas point pengukuran

Catatan: Specific Gravity (SG) dapat menggantikan jika dibandingkan terhadap


density air. Sehingga menghasilkan rumus sbb:
P = S.G. x g x h

19

= density of liquid

Gambar 20. Tekanan Hidrostatis


Transmitter Tekanan Differential (Differential Pressure (d/p))
Transmitter (d/p) Tekanan Differential adalah instrument yang digunakan untuk
mengukur level dalam suatu tempat, tangki dsb dan mengirimkan (men-transmite)
signal tersebut pada jarak yang cukup jauh sesuai dengan standart signal yang
digunakannya. Pengukuran level dengan d/p adalah pengukuran secara tidak
langsung karena perubahan level direpresentasikan dengan perubahan perbedaan
tekanan.
Tekanan Differential
Tekanan differential adalah perbedaan antara tekanan tinggi dan tekanan rendah
dalam sistem pengukuran tekanan differential. Hal ini dapat digambarkan dengan
rumus dibawah ini:
Tekanan Differential (d/p) = Tekanan Tinggi Tekanan Rendah
Transmittertekanandifferentialdapatdipasangpadaduasituasi,yaitupadasistem
tangkiterbukaatausistemtangkitertutup.
Pada sistem tangki terbuka, untuk tapping tekanan tinggi dari transmitter d/p
dipasang pada point level nol dan tapping tekanan rendah terbuka ke atmosfir,
seperti pada Gambar 21. Susunan ini menjadikan perhitungannya mudah dalam
menghitung tekanan differential-nya, karena tekanan differential-nya sama dengan
tekanan pada tapping tekanan yang tingginya, yaitu:
Tekanan Differential (d/p) = Tekanan Tinggi Tekanan Rendah
= ( x g x h + Patm) Patm

20

=xgxh

Gambar 21. Instalasi transmitter d/p untuk tangki terbuka


Pada sistem tangki tertutup, tapping tekanan tinggi dari transmitter d/p
disambungkan point level nol dan tapping tekanan rendah dipasangkan diatas level
cairan yang paling tinggi. Tekanan tertutup ini menekan ke bawah cairan yang
menambah tekanan total hidrostatis pada point level nol. Oleh karena itu, tekanan
ini dikurangi dari nilai tapping tekanan rendahnya. Instalasi transmitter d/p pada
bejana tertutup dapat dilihat pada Gambar 22.
Pgas

Gambar 22. Instalasi transmitter d/p untuk tangki tertutup.


Sehingga perhitungannya adalah sbb:
Tekanan Differential (d/p) = Tekanan Tinggi Tekanan Rendah
= ( x g x h + Pgas) Pgas
=xgxh

21

Instalasi D/P Transmitter di lapangan untuk Tangki tertutup

Gambar 23. Instalasi D/P Transmitter di Lapangan


Instalasi dari D/P Transmitter di lapangan untuk Tangki tertutup dapat dilihat pada
Gambar 23, dengan perhitungan tekanan minimum dan maksimum sbb:
Tekanan Minimum: PMin = (SGp x a) - (SGf x d)
Tekanan Maksimum: PMax = (SGp x b) - (SGf x d)

22

dimana:
Output transmitter pada minimum level = 4mA
Output transmitter pada maksimum level = 20 mA
a = jarak antara bottom tap and minimum level
b = jarak antara bottom tap dan maximum level
d = jarak antar tap
SGf = Specific Gravity dari fluida pada pipa kapiler.
SGp = Specific Gravity dari fluida proses
4.5. Pengukur Level Sistem Pipa Gelembung (Continuous Purge) untuk Tangki
Terbuka
Sistem pengukuran level pipa bergelembung, tekanan udara atau gas yang lain
diperlukan untuk mengatasi tekanan head cairan yang proporsional dengan level.
Pada Gambar 24 menunjukkan sistem gelembung sederhana. Needle valve atau
pressure regulator digunakan sebagai sumber tekanan udara atau tekanan gas yang
disalurkan ke pipa gelembung yang tercelup pada kedalaman tetap didalam cairan.
Bagian bawah pipa gelembung terletak pada garis datum atau garis zero didalam
tangki. Tekanan udara yang cukup disuplaikan melalui needle valve atau pressure
regulator dan gelembung dialirkan dengan pelan tetapi stabil ketika level didalam
tangki pada nilai

maksimum. Rotameter dapat digunakan untuk menentukan

flowrate.
Perubahan level yang diukur menyebabkan tekanan didalam pipa gelembung
bervariasi sedemikian rupa sehingga udara yang berlebihan mengalir ketika level
dalam keadaan menurun dan sebaliknya. Peralatan instrumen ini yang men-sensor
tekanan dan perubahan tekanan akan sebanding dengan perubahan level cairan.

23

Gambar 24. Sistem Gelembung Sederhana


Variasi level yang besar akan menyebabkan fluktuasi aliran udara yang besar juga
sehingga mengakibatkan pengukuran yang sangat tidak akurat. Differential pressure
regulator dapat dipasang seperti Gambar 24 (b), untuk mempertahankan penurunan
tekanan konstan pada rotameter sehingga aliran gelembung yang keluar lebih
seragam.
Akurasi pengukuran level dipengaruhi oleh perubahan density cairan. Dengan
density yang konstan, akurasi dapat berkisar + 1 sampai 2%. Direkomendasikan jarak
antara bagian bawah tangki dengan pipe gelembung tidak lebih kecil dari 75 mm
untuk menghindari tesumbatnya pipa karena endapan-endapan yang terkumpul.
Sistem pipa gelembung yang lebih komplek digunakan untuk mengukur level pada
tangki yang bertekanan atau sistem tertutup.
4.6. Pengukur Level dengan Detektor Level Kotak Diaphragma
Diaphragma dapat digunakan sebagai elemen sensor level baik untuk tangki
terbuka tau tertutup. Salah satu metode pengukuran level dengan tangki terbuka
seperti pada Gambar 25.

24

Gambar 25. Sensor Level Kotak Diaphragma


Hal ini ada kotak diaphragma yang terdiri dari dua sisi, masing-masing
diaphragmanya fleksibel. Level cairan yang diukur kontak dengan salah satu sisi
diaphragma, sedang sisi yang lain kontak dengan instrumen level melalui tabung
kapiler. Kotak diaphragma dipasang pada titik tetap, biasanya pada level paling
minimum. Kadang-kadang kotak diaphragma disangga oleh pipa atau tabung yang
tidak mudah berubah dan kotak diaphragmanya tercelup didalam cairan.
Ketika level tangki naik, diaphragma terdistorsi (bentuknya berubah) pada saat
tekanan yang lebih besar dikenakan oleh cairan disebelah diaphragma. Defleksi
diapraghma yang lebih besar akan menyebabkan cairan yang ada dalam tabung
kapiler tertekan sampai tekanannya sama dengan ketinggian cairan dalam tangki.
Tekanan ini digunakan oleh elemen sensing untuk mentranmisikan gerakan yang
proporsional dengan pen pada jarum indikator, atau asembli flapper-nozzle dalam
transmiter. Sensor ini baik untuk cairan yang mengandung zat padat tersuspensi dan
untuk sluri dengan patikel-partikel halus.

25

4.7. Pengukur Level dengan Kapasitansi Listrik


Kapasitor terdiri dari dua pelat sederhana, yang dipisahkan dengan jarak tertentu,
dengan zat isolasi diantara keduanya yang mempunyai konstanta dielektrik yang
diketahui. Kebanyakan gas mempunyai konstanta dielektrik 1, sedang zat padat dan
cairan mempunyai konstantan dielektrik yang lebih besar. Kapasitor akan
menyimpan energi listrik dan melepaskan pada waktu tertentu. Pergeseran phase, jika
menggunakan tenaga ac, atau banyaknya potensial listrik yang tersimpan dapat
diukur. Kedua pengukuran tersebut akan menunjukkan konstantan dielektrik suatu
material. Hal ini adalah praktis jika digunakan untuk pengukuran level kontinyu
dengan mengukur potensial tegangan yang tersimpan (atau pergeseran phase) pada
saat level naik dan berada diantara dua pelat kapasitor tersebut.
Alat ukurnya terdiri dari probe yang ditempatkan pada tangki dengan probe yang
beraksi sebagai salah satu pelat kapasitor dan dinding tangki beraksi sebagai pelat
kapasitor yang lain. Dalam beberapa hal, mungkin menggunakan dua probe yang
terpisah, atau satu probe didalam probe yang kedua, seperti Gambar 26.

Gambar 26. Elemen Probe Kapasitansi


4.8. Pengukur Level dengan Ultrasonik
Alat ukur level ultrasonik menggunakan perubahan kecepatan suara melalui suara
yang berbeda. Untuk mengukur level zat padat, generator dan receiver harus
ditempatkan dibagian atas tangki; untuk mengukur level cairan dapat juga transmiter
26

dan receiver diletakkan dibagian atas dan bawah tangki. Receiver akan mencatat
lamanya waktu pada saat suara berjalan dari generator ke permukaan level cairan
(atau zat padat) dan kembali ke receiver. Apabila kecepatan sinyal suara melewati
material sudah diketahui, maka levelnya dapat ditentukan. Alat ukur tersebut harus
ada kompensasi temperatur untuk mengkompensasi perubahan temperatur, karena
kecepatan suara pada semua zat akan berubah dengan berubahnya temperatur.
Skematik pengukuran level dengan ultrasonik dapat dilihat pada Gambar 27.

Gambar 27. Pengukuran Level dengan prinsip Ultrasonik


4.9. Pengukur Level dengan Laser, Microwave dan Radar
Semua alat tersebut dapat digunakan untuk pengukuran level kontinyu dengan
mengukur waktu selama sinyal ditranmisikan dari dan ke bagian atas tangki, dimana
sinyal tersebut bergerak ke permukaan zat padat atau cairan dan kembali lagi ke
receiver. Prinsip ini sama dengan transmiter ultrasonik.
Sebagai contoh diuraikan langkah operasinya level transmitter dengan menggunakan
guided wave radar, dan gambar skematiknya dapat dilihat pada Gambar 28, langkahlangkahnya tersebut adalah:
1. Sinyal/ pulsa yang sangat singkat dalam bentuk gelombang mikro (microwave)
dikeluarkan dari coupler ke probe

27

2. Pulsa berjalan sepanjang dari probe, dan ketika melewati suatu cairan yang
mempunyai konstanta dielektrik yang berbeda, maka pulsa tersebut akan
memantul dan berjalan balik.
3. Dan ketika pulsa tersebut sampai ke coupler, yang merupakan sensor elektronik,
maka waktu dari pulsa itu dikirim sampai pulsa itu kembali lagi diukur,
4. Dan dengan memperhitungkan kecepatan pulsa melewati media yang digunakan
dan posisi pemasangan transmitter maka dilakukan perhitungan dari transmitter
tersebut maka akan didapatkan level dari cairan tersebut.
5. Dikirim hasil pengukuran tersebut dalam bentuk sinyal standart (4 20 mA dc) ke
indicator, recorder, atau ke pengendali/ controller.

Gambar 28. Pengukuran level dengan guided wave radar

28