Anda di halaman 1dari 24

PENGOPERASIAN UNIT PLTU

MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air

1. Kriteria Air.
Kriteria air atau kualitas air yang digunakan pada Pusat Listrik Tenaga Uap,
sangat mempengaruhi umur Unit PLTU dan keandalan Unit PLTU. Di bawah ini
akan ditunjukan akaibat tidak memenuhi persyaratan kualitas air.
Tabel I . Butir analisa air akibat tidak memenuhi persyartan kualitas Air.
DILUAR RENTANG STANDART
TERLAU RENDAH
TERLALU TINGGI

NO.

BUTIR ANALISA

I.

Silica S i O 2 dalam air uap.

Baik

Cary over pengerakan


di sudu turbin tekanan
menengah dan rendah.

Silica S i O 2 dalam
ketel.
Silica -S;02 dalam
Mentah

air

Baik.

Pengerahan pipa ketel.

air

Baik

2.

Phosphate dalam air ketel

Korosi pH rendah
Korosi

Foaming,pengerakan
Carry Over

3.

pH dalam air pengisi,


kondensat, ketel

Baik

Foaming,pengerakan
Carry Over.

4.

Fe dalam air kondensat.

Baik

Telah terjadi korosi

5.

Cu dalam air kondensat.

Baik .

Telah terjadi korosi


pada Pipa penukar
kalor.

6.

Oxygen dalam air pengisi

Baik

Korosi oksigen.

7.

Carbon dioxida.

Baik

Korosi karbon dioksida.

8.

Conduktivity air
dan Kondensat.

TOTO/UNJ/ hr/06

pengisi

Korosi pH rendah
(tidak terdapat sisa
hidrasin ).

o
o
o

Pengerakan.
Foaming.
Kebocoran
condensor.

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air

Conduktitiviy air ketel

Korosi pH rendah
(tidak terdapat sisa
phosphate )

o
o
o

Pengerakan
Foaming
Carry over

Conduktitiviy air uap

Baik

o
o

Carry Over
Pergerakan disisi
Super Heater.

9.

Kesadahan air ketel

Baik ( harus nol ).

o
o
o
o

Korosi chlorida.
Pengerakan.
Foaming.
Carry over.

10.

Hydrazin dalam air pengisi

Korosi oksigen.

11.

Amoniak
condensat

12.

Chlorida

dalam

air pH rendah untuk


PLTU-PLTU yang
pengaturan pH-nya
dengan amoniak
Baik

Amonia attack pada pipa


Yang
terbuat
dari
tembaga.
Pemakaian
tinggi.

o
o

amoniak

Korosi chlorida
Indikasi kebocoran
kondensor

Air yang digunakan di PLTU harus memenuhi persyaratan. Adapun sampel air yang
diperiksa di laboratorium PLTU berupa :
o
o
o
o

Air kondensat.
Air ketel.
Air pengisi ketel.
Air penambah.

Persyaratan kualitas air tergantung dari tekanan kerja ketel, makin tinggi tekanan kerja
ketel makin ketat persyaratan kualitas air .

TOTO/UNJ/ hr/06

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air

1.1

Standard Air Kondensate.


a. Untuk ketel bertekanan 170 kg / cm2

Air Kondensate:

pH

= 9,2 - 9,5

Conductivity, SC = < 10 mho / cm


Conductivity, CC = < 0,3 mho / cm

1.2

Silica ( SiOZ )

= < 0,02 ppm

Oksigen terlarut

= < 0,015 ppm

Tembaga ( Cu )

= 0,01

Besi ( Fe )

= < 0,02

Standard Air Penambah.


a. Untuk ketel bertekanan

Air Penambah :

1.3

170 kg / cm2

pH

=7

Conductivity

= < 0,3 p, mho / cm

Silica

= < 0,02

Standard Air Pengisi Ketel.


a. Untuk ketel dengan tekanan 40, 60, dan 80 atm. Air pengisi ketel :
Air Pengisi Ketel
Tekanan Kerja ( atm )

60 atm

80 atm

Oksigen terlarut

(ppm )

< 0,02

< 0,02

< 0,02

Total besi
Total tembaga
pH pada 25 o C

( ppm )
( ppm )
( ppm )

< 0,05

< 0,05

< 0,001

< 0,01
8-9

< 0,01
8-9

< 0,005
8-9

Silika

( ppm )

< 0,02

< 0,02

< 0,02

Conductivity

( p, s / cm )

< 1,0

< 0,5

< 0,3

Chlorida

( C1 - )

0,01 - 0,03

0,01 - 0,03

0,01 - 0,03

Hydrazin ( N2H4 ) PPM

TOTO/UNJ/ hr/06

40 atm

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air

b. Untuk ketel dengan tekan 170 kg/cm2.


Air pengisi ketel : pH

= 9,2 -9,5

Conductivity, SC = < 10
Silica ( Si0 2 )

mho / cm

= < 0,02 ppm

Oksigen terlarut = < 0,007


Hidrazin ( N z H 4 ) = 0,03 - 0,05
1.4

Standard Air Ketel.


a. Untuk ketel tekanan 40, 60, dan 80,
Air Ketel :
Tekanan Kerja ( atm )

40 atm

60 atm

80 atm

< 10

<4

< 10

< 10

<3

9 - 10

< 2500
9 - 10

< 1150
9 - 10

Silika ( ppm )
Phospat ( ppm )
Conduktivity ( ~ s / cm )
pH

b. Untuk ketel dengan tekanan 170 kg /cm2


Air ketel :

pH

= 9,2 - 9,5

Conductivity, SC = < 20
Silica ( SiO Z )

= < 0,185

Phosphat ( PO 4 ) = < 0,007

Main Steam .

Chlorida ( C1 )

= < 0,5

pH

= 9,2 - 9,5

Conductivity, SC = < 10
Silica ( SiO z )

TOTO/UNJ/ hr/06

= < 0,015

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

2. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Air.

2.1

Mineral / Organik.
Mineral dan zat organik yang terlarut dalam air pengisi ketel , merupakan zat
padat yang tidak diharapkan. Zat padat tersebut akan menambah impurities
( kotoran ) dalam air ketel yang menambah laju korosi dan deposit pada ketel
dan turbin. Sumber-sumber zat padat ( mineral ) yang terbawa dalam ketel
berasal dari :
a. Kebocoran kondensor.
b. Pencemaran air penambah yang disebabkan oleh carry over dalam
evaorator atau kesalahan pada saat proses penghilangan mineral.
c. Pencemaran air di dalam sistem clean-drains recovery.
d. Hasil korosi dari sistem injeksi pengolahan yang tidak benar ( beberapa
korosi sering tetap muncul meskipun tindakan pencegahan telah diambil ).

2.2

Kesalahan Operasi.
Kesalahan operasi dalam melakukan injeksi kimia pada siklus PLTU dapat
mempengaruhi kualitas air. Injeksi kimia yang terlalu banyak atau terlalu sedikit
dapat menyebabkan air pengisi ketel atau air ketel tidak memenuhi syarat,
yang mana akibatnya menambah laju korosi dan pembentukan deposit.
Bahan kimia yang digunakan untuk bahan injeksi kimia pada internal treatment
(pengolahan air) adalah amonia, Hidrazin dan Sodium phospat.

2.3

Problem Pengolahan Air.


Problem utama pengolahan air ( internal treatment ) adalah bila terjadi
kebocoran kondensor. Kebocoran kondensor menyebabkan kerusakan yang
patal pada Boiler maupun Turbin, bila tidak segera diatasi. Jika terjadi
kebocoran kondensor pada suatu unit, maka ada tiga macam resiko :
1. Adanya chlorin di dalam air boiler menyebabkan resiko korosi pada sisi air
pipa-pipa uap didalam ketel.

TOTO/UNJ/ hr/06

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

2. Penggunaan air pengisi yang dicemari chlorin, ke dalam Desuperheater


tipe sepray dapat menimbulkan korosi stress pada sistem setelah
desuperheater.
3. Akan terjadi kenaikan konduktivitas air boiler yang menyebabkan carry
over. Carry over adalah terbawanya garam - garam pada air boiler dalam
aliran uap, sehingga garam - garam tersebut dapat membentuk deposit
( kerak ) pada superheater dan sudu-sudu turbin.
Secara umum bilamana terjadi kebocoran kondensor dan diketahui bahwa
terdapat kontaminasi chlor pada air pengisi, maka spray desuperheater harus
segera dihentikan. Untuk ini perlu untuk menurunkan beban. Selanjutnya
langkah yang akan diambil untuk megatasi kebocoran kondensor harus
ditentukan.
Sebagai contoh, tindakan yang direkomendasikan adalah sebagai berikut :
a. Konduktivitas air ketel setelah
penukar panas.

Pengolahan air ketel dengan coustic soda

Kurang dari 5 microsiemen

Belum perlu ada tindakan

10 microsiemen

Termasuk situasi bahaya Kurangi beban


dan hentikan aliran spray desuperheater
dan reaheater. Unit hanya boleh terus
dioperasikan apabial kebocoran dapat
dilokalisir dan diperbaiki.

Diatas
80
microsiemen Unit harus segera dihentikan.
konduktivitas airketel sebelum
penukar cation = 30 mikrosiemen

TOTO/UNJ/ hr/06

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

b.

Untuk metode zero solid dimana hanya digunakan Hidrasin.

Konduktivitas kondensat
Setelah penukar kation

Kurang dari I microsiemen

TINDAKAN YANG DIAMBIL

Belum perlu ada tindakan

1 microsiemen.

9 Injeksi soda caustic 0,05 ppm ekivalen


NaOH yang dihitung berdasarkan
volume.
9 Buka saluran blow down dan bila
mungkin stop unit.

5 microsiemen.

Stop unit saat itu juga

TOTO/UNJ/ hr/06

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

3. Akibat Ketidakmurnian Air.


Ketidak murnian air akan mengakibatkan korosi, deposit dan erosi. Dalam pengolahan
air yang perlu dijaga adalah terbentuknya lapisan Magnetik Film pada permukaan pipa
yang dapat melindungi dari korosi.
Dibawah ini akan dijelaskan mengenai korosi, deposit, erosi dan magnetik film.
3.1

Korosi.
Korosi adalah proses kerusakan logam yang disebabkan oleh proses reaksi
kimia atau proses reaksi elektro kimia dengan lingkungan yang memungkinkan
terjadinya proses tersebut. Kerusakan karena penyebab phisik tidak dapat
disebut korosi, tetapi dinyatakan sebagai erosi atau keausan.
Dalam bebrapa kasus, logam dapat mengalami kerusakan yang disebabkan oleh
kombinasi kedua hal tersebut diatas, sehingga proses kerusakannya disebut
proses erosi korosi ( Corrosion Erosion ), korosi karena lelah (Corrotion fatique ),
korosi karena stress ( Stress corrosion ) dan lain-lain.
Pengkaratan ( Rusting ) adalah istilah yang lazim digunakan untuk menyatakan
korosi pada besi dan campurannya yang membentuk oksida besi terhidrasi
( hidrated iron oxide ) yang disebut karat.
Secara umum korosi dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

Korosi Elektrokimia

Korosi suhu tinggi, yang terjadi diruang bakar.

Pada materi palajaran ini yang kita bahas hanya mengenai korosi Elektrokimia.
Prose korosi Eiektrokimia merupakan kejadian yang paling banyak menyerang
logam karena, terjadi pada suhu ruang atau temperatur yang relatif rendah.
Korosi elektrokimia disebabkan oleh reaksi logam dengan Air, Larutan garam ,
Asam dan Besi.
Syarat terjadinya Elektrokimia adalah bila terdapat tiga komponen, yaitu ;
Anoda.
Katoda.
Elektrolit.
Pada proses korosi elektrokimia terdapat dua macam reaksi, yaitu ;
Reaksi katoda merupakan reaksi reduksi yang tidak merusak logam
Reaksi anoda merupakan reaksi oksidasi yang merusak logam

TOTO/UNJ/ hr/06

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air

Di bawah ini dapat dilihat contoh - contoh terbentuknya anoda dan katoda :
NO.

KONDISI

ANODA

KATODA

1.

Cu & Fe
Fe & Zn

Fe
Zn

Cu
Fe

2.

ButiranUkuran butiran

Batas krista Halus

Tengah Kasar

3.

Tegangan

Tegang

Rileks

4.

Temperatur

Panas

Dingin

5.

Konsentrasi OZ

Rendah

Tinggi

6.

Adanya kotoran

Tengah

Pinggir

PROSES KOROSI ELEKTROKIMIA.

TOTO/UNJ/ hr/06

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air

3.1.1

Korosi Pada Sistem Air Pengisi Ketel.

Sistem air pengisi ketel terdiri dari beberapa komponen, seperti : pipa-pipa
saluran, pemanas awal air pengisi, katup-katup dan lain sebagainya yang
semuanya terbuat dari logam. Logam-logam yang dipakai dalam sistem air
pengisi terutama adalah : besi, nikel, tembaga, aluminium, seng dan titanium.
Bila dalam sistem air pengisi terjadi korosi , maka kerak yang timbul sebagai
akibat dari proses korosi tersebut akan terbawa bersama air pengisi ke ketel.
Dalam hal yang ekstrim kejadian ini dapat menyebabkan terbentuknya depositdeposit yang akan mempengaruhi proses perpindahan panas. disamping itu
kerak yang ditimbulkan oleh proses korosi juga dapat membantu proses
pengkaratan pada saat ada beban.

3.1.2

Korosi Karena Chlorida.

Chlorida ( Cl ) yang terlarut dalam air dapat menimbulkan laju korosi yang
sangat cepat. Chlorida, khususnya yang berasal dari Magnesium Chlorida ( Mg
CI

) di dalam Boiler dapat dirubah secara reaksi kimia yang disebut hidrolisa

menjadi asam chlorida.


Mg CI2 + H2O
Magnesium Air
Chlorida

2HCL
Asam
Chlorida

Fe + 2 HCl
Besi
Asam
Chlorida

Fe Cl2
Besi
Chlorida

Mg (OH )2
Magnesium
Hidroksida

2H+
Ion
Hidrogen

Asam-asam jelas merupakan hal yang tidak diinginkan di dalam air boiler,
sebab asam-asam tersebut cendrung menyerang permukaan logam dari boiler.
Untuk alasan inilah orang labor biasanya menambahkan Sodium Hidroksida
( NaOH ) ke dalam air boiler agar dapat mendapatkan pH kira-kira 10,0. Alkali
ini akan menetralkan asam-asam yang dihasilkan oleh proses Hidrolisa
Chlorida.

TOTO/UNJ/ hr/06

10

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

3.2

Deposit.
Deposit ( kerak ) terjadi bilamana dalam air pengisi ketel terdapat zat-zat padat
terlarut. Zat padat terlarut dapat berupa Calsium, Magnesium atau Silika. Kerak
pada pipa boiler akan mempengaruhi secara serius terhadap perambatan
panas, dan kemudian bisa menyebabkan pecahnya pipa boiler.
Selain zat-zat padat yang terlarut dalam air ketel dapat mengakibatkan
masalah sebagi berikut :

Kerusakan Turbin
Bila air yang mengandung kotoran dididihkan, timbullah uap dan sisanya
kotoran padat. Jika air dipanskan diatas titik didih normalnya, maka dihasilkan
uap panas lanjut dan kotoran padat tersebut akan terlarut dalam uap. Zat-zat
padat ini terutama silika dapt terbawa dan menempel ( deposit ) pada sudusudu turbin.
Deposit pada sudu-sudu turbin ini akan menyebabkan getaran pada turbin yang
akan meyebakan getaran pada turbin yang akan menyebabkan kerusakan di
sudu-sudu dan akhirnya menyebabkan kerusakan pada bearing-bearing.
Makin tinggi tekanan pada boiler yang beroperasi, makin besar kotoran-kotoran
yang akan terbawa, karena kelarutannya naik dengan adanya kenaikan
temperatur. Oleh karena itu, pada tekanan tinggi perlu diperhatikan bahwa
konsentrasi zat padat terlarut dari air boiler harus serendah mungkin.
Sebaiklnya, untuk boiler tekanan rendah pada unit yang sangat tua dapat
menggunakan air lunak atau Soft Water.

Boiler Friming (Carry - Over)


Jika konsentrasi zat padat yang terlarut di dalam air boiler sangat tinggi, Priming
atau terbawanya air secara mekanis, dari boiler bersama uap kedalam pemanas
lanjut dan bahkan dilanjutkan ke turbin.
Air dapat terbawa ke dalam uap dan zat padat yang terlarut akan membentuk
deposit di dalam pemanas lanjut dan pada sudu-sudu turbin. Di dalam pipa
pemanas lanjut, deposit padat akan mempunyai akibat yang sama seperti kerak
pada pipa boiler.

TOTO/UNJ/ hr/06

11

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

3.3

Erosi.
Erosi adalah proses pengikisan ( Abrasi ) pada permukaan benda ( logam ) yang
disebabkan oleh zat-zat padat yang bergerak cepat. Erosi dapat terjadi pada
pipa-pipa Superheater dan sudu-sudu turbin.
Erosi disebabkan oleh Carry over , yaitu terbawanya garam-garam ( zat padat )
bersama uap menuju ke Superheater dan turbin. Zat padat yang terlarut dalam
uap tersebut dapat mengikis permukaan logam yang dilalui.

3.4

Magnetit Film.
Korosi dapat dikurangi dengan menempatkan lapisan pelindung magnetite
( Fe304 ) diantara logam dengan media korosi ( air atau uap ) . Baja lunak ( mild
steel ) yang dipergunakan di dalam boiler termasuk logam yang tidak tahan
korosi. Bila baja tersebut dikenakan terhadap air panas atau uap dengan atau
tanpa oksigen, korosi akan terjadi dan besi oksida akan terbentuk dengan cepat.
Macam-macam oksida atau Hidroksida terbentuk dalam jumlah yang berbedabeda, bergantung pada kondisi tertentu. Kebanyakan hasil korosi menjadi
terlepas dan tersapu keluar sehingga terbuka logam aslinya dan tidak mencegah
air menuju metal.
Dalam hal ini korosi tidak dapat dihindari dan berjalan terus. Oksida yang dapat
digunakan hanyalah magnetite dengan rumus Fe3O4. Magnetit yang dihasilkan
dengan cara yang benar dapat menjadi padat, keras, dan merupakan lapisan
yang melekat secara terus-menerus serta sangat kuat diantara baja dengan
lingkungan yang korosif.
Magnetit terbentuk dari reaksi air panas atau uap pada besi panas, Reaksi
pembentukan magnetit biasanya digambarkan sebagai :
3 Fe + 4 H20

Fe 304

4 H2

Dari reaksi pembentukan magnetit dapat dilihat bahwa tidak ada gas atau
oksigen terlarut yang diperlukan untuk reaksi diatas dan hidrogen terbentuk
bebas.

TOTO/UNJ/ hr/06

12

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

Dari pengamatan nampak bahwa, dua bentuk ion berdifusi ketika terbentuk
magnetit pada logam di bawah kondisi tempertaur tinggi. Oksigen dari larutan
masuk ke dalam melalui kisi-kisi magnetit yang baru pada permukaan sebelah
dalam logam / oksidanya.
Magnetit yang terbentuk menjadi padat dan keras, dan selama terbentuknya
magnetit dari logam, hal ini akan baik terhadap logam. Pada saat yang sama, ion
besi ( kation ) tersebar keluar melalui magnetit, dan magnetit yang baru
terbentuk pada permukaan oksida air. Magnetit yang terbentuk ini berbentuk
butiran-butiran kecil dan hanya menempel dengan longgar pada magnetit yang
keras.
Sekarang dua magnetit dihasilkan, tetapi hanya lapisan dalam yang bersifat
melindungi. Bahwa volume dari magnetit bagian dalam volumenya hampir sama
dengan volume total dari besi yang diperlukan untuk pembentukan dua lapisan
tersebut. Dalm kondisi ini film yang bersifat pelindung terbentuk dengan tekanan
mekanis minimum. Di dalam boiler biasanya magnetit bagian luar terbawa keluar
oleh aliran air.
Karena ketebalan dari lapisan magnetit bertambah, maka difusi dari ion-ion yang
melaluinya menjadi lebih lambat dan berangsur-angsur reaksi antara logam
dengan air menjadi terhenti. Peristiwa yang terjadi di dalam boiler inilah yang
selalu diharapkan dan dijaga oleh orang laboratorium. Magnetik pelindung hanya
akan melekat dengan baik bila permukaan - permukaan logam bersih. Inilah
sebabnya kerak dan rontokan-rontokan lainnya dihilangkan denga Acid Cleaning
sebelum boiler dikomisioning.
Tingkat pembentukan magnetit bertambah dengan adanya temperatur dan
konsentrasi hidroksida. Agar supaya daerah magnetit yang rusak dapat cepat
diperbaiki, maka perlu dijaga agar konsentrasi Sodium Hidroksida ( Coustic
Soda ) di dalam air boiler kecil.
Pertumbuhan dari lapisan lindung Fe304 dapat difihat di bawah ini.

TOTO/UNJ/ hr/06

13

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

Gambar 1. Pertumbuhan Lapisan Lindung Fe3O4.

Gambar 2. Pertumbuhan Lapisan Lindung Fe3O4 Secara Grafik.

TOTO/UNJ/ hr/06

14

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air

4. Methode Pengendalian Air.


Untuk mengendalikan kualitas air uap pada siklus PLTU maka petugas laboratorium
kimia harus selalu memonitor secara terus menerus kondisi dari air kondensat, air
ketel dan uap. Kondisi air dan uap tersebut diatas harus memenuhi batas persyaratan
yang diinginkan yang sesuai dengan unit pembangkit setempat. Bilamana terjadi
penyimpangan-penyimpangan pada kualitas air tersebut maka petugas laboratorium
bersama

operator

PLTU

yang

bertugas

harus

dengan

segera

mengatasi

permasalahan tersebut.
Peyimpangan-penyimpangan tersebut dapat berupa :

Terjadi kebocoran kondensor

Injeksi kimia yang tidak tepat

Sistem Demineralizes Plant yang gagal

Untuk mengatasi penyimpangan-penyimpangan tersebut, maka dapat dilakukan


metode pengendalian air sebagai berikut :

4.1

Kondenser Polisher.
Condensate Plisher adalah peralatan pengolahan air ( internal treatment ) yang
dipasang setelah Condensate Pump. Condensate Polisher didesain untuk PLTU
yang mempunyai tekanan ketel diatas 160 Kg / cm2 atau untuk boiler tekanan
sub kritikal dan kritikal. Biasanya kapasitas PLTU yang mempunyai unit
Condensate Polisher adalah diatas 400 MW.
Condensate Plisher berupa tangki yang di dalamnya berisi resin kation dan resin
anion . Fungsi dari kondensate polisher adalah menangkap impurities ( kotoran )
yang terkandung pada air Condensate. Impurities pada air condensate bisa
berasal dari pangsa korosi yang berasal dari sirkuit air uap PLTU dan bisa juga
berasal dari kebocoran kondensor. Bilamana konduktivitas dari air kondensat
naik melebihi batas yang diijinkan maka condensate polisher perlu dioperasikan
untuk menurunkan konduktivitas air kondensat.

TOTO/UNJ/ hr/06

15

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air

4.2

Injeksi Kimia.
Injeksi kimia yang dilakukan pada siklus air uap PLTU, berfungsi untuk
mengontrol kwalitas air dan uap PLTU.
Tujuan dari injeksi kimia tersebut adalah :
a. Pencegalian korosi didalam boiler, sistem uap dan sistern pengisi.
b. Pencegahan pembentukan kerak dan endapan pada permukaan yang
panas.
c. Menjaga kermunian uap tetap tinggi.
Untuk alasan keuangan, boiler terbuat dari baja, baja mempunyai banyak
sifat yang baik yaitu : dapat ditempa, dicetak, dilas, mudah di pergunakan,
dan lain-lain. Tetapi baja mempunyai satu kejelekan yaitu mudah korosi. Hal
yang menguntungkan dari kejadian reaksi kimia adalah terbentuknya
magnetit hitam, ini terjadi dalam kondisi larutan sedikit basa (pH sekitar 10).
Dalam kondisi mendekati netral magnetit hanya sedikit terlarut , dan
magnetit ini mengendap saling melekat serta menjadi kuat, yang dapat
menghalangi saluran air menuju lugom dibawah lapisan tersebut. Kecepatan
pembentukan

lapiasan

film

oksida

menurun

sebagaimana

kenaikan

ketebalan lapisan film oksida, dan pengukuran ketebalan lapisan film hanya
beberapa micron setelah 10 3 jam penguapan. Dalam kondisi asam dan basa
yang lebih, sifat fisik dari magnetit berubah, menjadi kropos dan berkurang
sifat pelindungnya.
Pada akhirnya lapisan film menjadi tidak bersifat melindungi dan kecepatan
korosi menjadi tinggi. Oleh karena itu, suatu boiler perlu diperhatikan
kesetabilan lapisan film oksida, yang ditunjang oleh kondisi logam boiler,
kimia boiler dan pemeliharaan bentuk film oksida yang stabil sehingga dapat
mengurangi laju korosinya.

Bahan Kimia Yang Dipergunakan Untuk Mengolah Air Pengisi Besaran


Agar supaya dapat menaikan pH dari 7 sampai 9, diperlukan kenaikan ion
hidorksida OH, oleh karena itu diperggunakan bahan kimia yang bisa
menaikan pH, yaitu yang mempunyai sumber ion hidroksisda.

TOTO/UNJ/ hr/06

16

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

a.

Coustic soda (Sodium Hidroksida / Na OH).


sumber ion hidrolsida ( OH- ) diambil dari Sodium Hidroksida . Zat ini
relatif murah dan dapat dibeli seperti zat padat dan larutan lain, dan
mudah diperoleh dalam bentuk murni.
Untuk pengolahan kondisi air pengisi pada unit tekanan tinggi adalah
tidak cocok, karena zat ini secara fisik bentuknya padat. Zat tersebut
akan membentuk deposit di dalam pipa desuperheater dan pipa
superheater, dan pada temperatur tinggi endapan ini menimbulkan
masalah korosi yang menyebabkan terjadinya keretakan, dan untuk
inilah maka digunakan zat kimia yang mudah menguap.

b.

Amonia ( NH 3 ).
Amonia berupa gas dan merupakan gas yang paling mudah larut dari
semua gas. Pada temperatur ruang, satu unit volume air dapat di
larutkan kira - kira 1.400 unit volume amonia.
NH 3

NH 4 OH

H2O

NH 4 OH
NH 4 + OH

secara praktis 0, 2 - 0,5 ppm NH 4+ ( kurang lebih 0,2 ppm ) cukup dapat
memberikan pH yang diinginkan. Amonia ditambahkan pada pelepasan
pompa ekstrasi atau pada keluaran deareator (lebih disukai ) dengan cara
injeksi menggunkan variabel stroke closing pump, dimana amonia tersebut
dalam bentuk larutan dalam air yang bebas mineral.
Konsentrasi amonia yang tinggi dapat menyebabkan korosi, lubanglubang dan retek ( keadaan akan retak ) khususnya pada tembaga alloy di
bagian lewatnya udara ekstrasi, dari kondesor dan untuk mengatasi ini
harus dilakukan pengontrolan konsentrasi amonia. Pengecekan secara
reguler di daerah kuning pada logam secara tetap adalah perlu, dan
pengambilan contoh pipa kondensor untuk pengecekan metalurgi.

TOTO/UNJ/ hr/06

17

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air

c.

Hidrazin. N 2 H 4
Hidrazin yang murni adalah tidak stabil dan mudah meletup. Hidrazin yang
diperlukan adalah 35 % larutan ( Zero % ). Hidrazin adalah suatu zat
penghilang oksidasi dan dalam keadaan murni menghasilkan gas - gas :
N2 H4
3N 2 H 4

+
+

O2

2H 2 O + N 2
4 NH 3 + N 2

Hidrazin ditambahkan kepada pelepas pompa ekstrasi sama caranya


dengan penambahan amonia, begitu juga konsentrasi hidrazin yang
dimasukan pada sisi masuk ekonomiser kira-kira 0. 02 ppm, tentu kira- kira
5 kali konsentrasi oksigen pada tempat ini. Ada hubungan antara
konsentrasi hidrazin dengan konsentrasi tembaga, besi, dan nikel di dalam
air pengisi.
Perbandingan yang tepat bervariasi antara tempat yang satu dengan
tempat lain, tetapi kira- kira 0, 02 - 0, OS ppm N2H4. Menurut teori pada
konsentrasi tersebut di atas, hidrazine menghasilkan pelindung oksida
magnetik yang lebih baik di dalam ekonomiser / boiler. Hal yang sama,
beberapa sumber mengatakan bahwa kadar oksigen terlarut praktis no
( Ca.Mg) < 0. 005 ppm 02 ) dan ini menguntungkan sekali.

d.

Sodium Phosohat ( Na 3 PO 4 )
Larutan sodium phospat sedikit basa, sehingga bila diinjeksikan ke dalam
air ketel akan menaikan pH air ketel. Fungsi injeksi phospat ( Na3P04 )
adalah mengontrol / menaikan pH air boiler, sehingga pH air boiler dijaga
sekitar 10,0. Selain itu injeksi phospat bertujuan untuk mencegah
pengerakan yang diakibatkan olah kesadahan air ( Ca, Mg ). Bila
diinjeksikan phospat maka akan terbentuk endapan lumpur yang bisa
dibuang lewat blow dwon.
Reaksinya adalah sebagai berikut :
3Ca 2+ H 4 + 2Na 3 PO 4

TOTO/UNJ/ hr/06

Ca 3 (PO 2 ) 4 + 6Na +
( Endapan Lumpur )

18

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

4.3

Degaser.
Ketidak murnian air dapat disebabkan oleh adanya gas-gas yang terlarut dalam
air. Adanya gas yang terlarut dalam air pengisi, terutama gas oksigen akan
meyebabkan laju korosi bertambah. Maka untuk itu, kandungan oksigen yang
terlarut dalam air pengisi harus dihilangkan dengan melakukan Degasser.
Degasser untuk menghilangkan/mengurangi gas oksigen terlarut dapat
dilakukan dengan 2 cara, yaitu : cara mekanik dan cara kimia.

Menghilangkan oksigen secara mekanis


Oksigen dan karbon dioksida serta gas-gas lain yang tak terkondensasi
dihilangkan dari dalam air pengisi secara mekanis di dalam kondensor dan
deaerator.

a. Pemisah udara dalam kondensor.


Air penambah biasanya diisikan dalam bentuk spray langsung di atas
permukaan air kondensor. Vacum di dalam kondensor menyebabkan gas
akan terpisah dan keluar dari air. Tujuan spray adalah mengurangi air
menjadi butiran-butiran air yang kecil serta membuat permukaan yang luas
di dalam kondensor, sehingga pemisah udara dari air lebih effisien. Dengan
cara seperti ini, air kondensat akan mempunyai kandungan oksigen terlarut
lebih kecil dari 0,015 ppm.
Apabila terjadi kebocoran di dalam kondensor atau pipa kondensat atau di
perapat (gland ) pompa kondensat nilai 0,015 ppm akan naik karena
masuknya udara ke dalam sistem. Karena itu perlu dijaga agar saluran
sistem air pengisi selalu dalam kondisi rapat terhadap udara. Perlu
diketahui bahwa perapat pornpa kondensat akan lebih efektif bila dibantu
dengan air perapat.

b. Pemisahan Udara Dalam Deaerator.


Uap dihembuskan ke dalam deaerator bersamaan dengan air pengisi yang
disemprotkan. Uap akan membantu memisahkan gas dari air pengisi untuk
kemudian gas-gas tersebut bergerak dengan cepat kebagian atas

TOTO/UNJ/ hr/06

19

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

deaerator dan serlanj'utnya dibuang ke atmosfir. Air pengisi yang telah


mengalami deaerasi ( deaerated feed water 0 mengumpul dibagian bawah).
Disamping

mengeluarkan

gas-gas

dari

air

pengisi,

uap

juga

mememanaskan air dan dengan demikian deaeraator berfungsi sebagai


pemanas kontak langsung untuk air pengisi. Deaerator yang efsien dapat
mengurangi konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air pengisi hingga
lebih kecil dart 0,005 ppm O.

Pemisah Udara Secara Kimia


Pemisah udara secara mekanis tidak dapat mempertahankan konsentrasi
oksigen atau karbon dioksida pada harga yang bisa diterima di dalam sistem air
pengisi maupun di dalam instalasi boiler. Walaupun kondenor atau deaearator
dapat menurunkan konsentrasi gas yang terlarut sampai level-level yang sangat
rendah, korosi masih bisa terjadi apabila terdapat kebocoran sehingga udara
masuk ke dalam sistem dimana tidak ditanggulangi dengan cara apapun.
Pusat pembangkit dengan 2 Shift ( jam kerja ) yang tidak beroperasi
( shut down ) pada malam hari, akan cendrung terserang korosi karena oksigen
yang terlarut dan karbon dioksida. Pada saat unit pembangkit tidak beroperasi,
air pada sistem menjadi dingin dan cendrung untuk menyerap udara. Pemanaspemanas awal air pengisi juga cendrung berisi udara ketika turbin dan
kondensor tidak vakum lagi.
Akibatnya, pada saat unit distart, air pengisi ( feed water ) mempunyai konsentrsi
oksigen terlarut dan karbon dioksida yang tinggi dimana ini merupakan kondisi
yang ideal bag[ terjadinya proses korosi. Pemanas awal yan terbuat dart pipa
cupro - nikel 70 / 30 pada pusat pembangkit dengan pola operasi 2 Shift.
cendrung korosi khusunya korosi karena oksigen. Hal ini ditandai dengan
pengelupasan karena pengaruh korosi pada pipa-pipa yang membentuk lapisan
tipis oksida dan akan hancur pada saat temperatur berubah. Proses ini akan
jauh berkurang jika digunakan pipa cupro nikel 90 / 10.
Membilas sistem dengan menggunakan nitrogen, ( tidak berbahya dan tidak
bersifat korosif ) dapat mencegah masuknya udara ketika kondensor tidak lagi
vakum. Cara ini memerlukan biaya besar untuk nitrogen. Oleh sebab itu

TOTO/UNJ/ hr/06

20

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

beberapa pusat pembangkit hanya melakukan pengisian nitrogen ke pemanas


awal air per.gisi tekanan tinggi dimana diperkirakan korosi terjadi lebih serius.
Korosi oleh oksigen dan karbon dioksida pada saluran air pengisi serta
ekonomizer dapat menyebabkan sejumlah kecil kerak akibat korosi terbawa ke
dalam boiler dan mengendap. Pada boiler endapan - endapan tersebut akan
menyebabkan korosi lebih lanjut.
Petugas laboratorium pada pusat pembangkit biasnya menambah bahan-bahan
kimia tertentu ke air pengisi. Hal ini dilakukan tidak hanya untuk menghilangkan
atau menetralisir gas-gas yang lolos pada proses pemisahan secara mekanis,
tetapi juga untuk mengatasi gas-gas yang masuk ke sistem melalui kebocorankebocoran atau akibat operasi kondensor atau deaerator yang jelek.

Pengeluaran Oksigen Secar Kimia


Prinsipnya oksigen dikeluarkan dari air pengisi dengan menambahkan sodium
sulphite ( Na2SO3 ) yang berbentuk kristal-kristal putih atau bentuk putih.
Tetapi bahan kimia ini tidak dapat digunakan lagi kecuali pada instalasi yang
lebih tua, karena selain mengikat oksigen, disamping akan membentuk sulfat
sebagaimana ditunjukan dalam persamaan reaksi berikut, sodium sulfat
( Na2S03 ), juga akan menaikan konsentrasi zat padat terlarut dalam air
( TDS ).
Reaksi sodium sulfat dengan oksigen adalah sebagai berikut :
2 Na2 S03

Sodium

O2

2Na2S04

Oksigen

Sodium

Sulphate

Sulphate

Memang zat padat terlaurut dapat dibuang melalui saluran blow down ketel,
tetapi ini sekaligus juga berarti pembuangan baik panas maupun air. Pada
PLTU yang menggunakan De superheater dengan air pencar, zat padat terlarut
dalam

air

pengisi

tidak

dapat

ditolerir,

karena

akan

mengakibatkan

terbentuknya endapan-endapan di dalam superheater.

TOTO/UNJ/ hr/06

21

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air

Pada pusat-pusat pembangkit yang modern , digunakan bahan kimia lain untuk
mengeluarkan oksigen dari air pengisi dan air boiler. Bahan kimia ini disebut
Hydrazine (N2H4 ) dan reaksinya adalah sebagai berikut :
N2 H4

O2

N2

+ 2HO2

Hydrazine Oksigen

Nitrogen

( cair )

( gas )

( gas )

Air
( cair )

Dari persamaan kimia diatas, kita dapat melihat bahwa tidak ada benda-benda
padat yang diproduksi, sedangkan nirogen dan air tidak merusak. Karena itu
Hydrazine adalah bahan kimia yang idial untuk menghilangkan oksigen, sebab
kerugiannya hanya karena hydrazine relatif mahal. Dalam menangani hidrazin
dibutuhkan kewaspadaan karena hydrazine dapat merusak kulit dan pakaian.
Operator yang bijaksana akan memakai pelindung muka, kaus tangan dan
semacam baju pelindung (apron) pada saat menuangkan larutan Hydrazine.
Keuntungan yang lain dari penggunaan hidrazin didalam pengolahan air adalah
jika terjadi kelebihan hidrazin, maka hydrazine akan terurai membentuk amonia
( gas alkaline ) dan nitrogen.
3N2H4
Hydrazine
( cair )

4N2
Amonia
( gas )

N2
Nitrogen
( Gas )

Konsentrasi maksimum oksigen terlarut di dalam air yang direkomendasikan


adalah sebagai berikut :

4.4

Pada sisi tekan pompa kondensat

: 0,015 ppm oksigen.

Pada sisi masuk ekonomizer

: 0,005 pptm oksigen.

Blowdown.
Pembukaan katup blow down tergantung dari kandungan silika dan Chlorida
dalam air ketel. Silika yang terlarut dalam air boiler harus dikontrol dengan

TOTO/UNJ/ hr/06

22

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

Pengendalian Kualitas Air


pengoperasian blow down untuk menjaga agar konsentrasi silika yang terlarut
dalam air boiler lebih kecil dari besaran sebagai berikut :
5,00

ppm

Si02

pada

62 bar

1,5

ppm

SiO2

pada

103 bar

5,00

ppm

SiO2

pada

163 bar

Hal ini harus menunjukan, bahwa besaran diatas menjadi pedoman batas
konsentrasi untuk silika di dalam air boiler. Batasan konsentrasi silika untuk
tekanan adalah 0,02 ppm SiO, didalam uap dan konsentrasi di dalam air boiler di
atas

memegang

peranan trehadap

harga batas

silika

di

dalam

uap.

Kemungkinan lain yaitu jika dapat dibuktikan dengan percobaan, bahwa


mengoperasikan dengan konsentrasi silika tinggi di dalam air boiler tanpa
memgakibatkan silika melebihi batas di dalam uap, maka hal ini diijinkan pula
untuk dilaksanakan.
Konsentrasi silika di dalam air boiler harus dikontrol dengan Blow down dan
tujuan pengambilan harus untuk mencegah konsentrasi silika di dalam uap
mencapai batas target dan kemudian tindakan blow down, bila batas konsentrasi
dilewati. Kandungan Chlorida di dalam air ketel juga harus dikontrol dengan
mengoperasikan blow down. Dalam keadaan operasi normal katup continous
blow down diatur pembukaannya dengan rumus sebagai berikut :
C1 - dalam air pengisi ketel
% Blow Down =

x 100 %
Cl - dalam air ketel

Di bawah ini dapat dilihat siklus PLTU beserta pengambilan sampel dan injeksi
kimia, pada gambar 3.

TOTO/UNJ/ hr/06

23

PT PLN (PERSERO) PUSDIKLAT


UNIT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
SURALAYA

PENGOPERASIAN UNIT PLTU


MODUL 3 / OP
Pengendalian Kualitas Air

Gambar 3. Siklus PLTU dan Pengambilan Sampel Air Serta Injeksi Kimia

TOTO/UNJ/ hr/06

24

Anda mungkin juga menyukai