Anda di halaman 1dari 10

Impetigo Krustosa

Ansarti Dalien Yigibalom (102013230)


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Krida Wacana
Fakultas Kedokteran UKRIDA, Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat
Alamat Korespondensi : sarryyigibalom@gmail.com

Pendahuluan
Impetigo adalah penyakit kulit superfisial yang di sebabkan infeksi piogenik oleh bakteri
gram positif.Impetigo lebih sering terjadi pada usia anak-anak walaupun pada orang dewasa
dapat terjadi. Infeksi sering kali menyebar dengan cepat di sekolah,tempat penitipan anak
atau pada tempat dengan hygiene buruk atau juga tempat tinggal padat penduduk. 1,2,3
Impetigo krustosa merupakan jenis infeksi piogenik yang paling banyak di temukan di dunia
(70% dari kasus impetigo).2,3,4 Impetigo krustosa harus di obati secara cepat dan tepat karena
dapat menyebabkan beberapa komplikasi terutama glomerulonefritis akut.5 Terapi antibitik
topikal merupakan pilihan pertama impetigo terutama bila lesi yang terbatas,tanpa gejala
sistemik atau komplikasi sementara terapi sistemik di pertimbangkan.

Etiologi
impetigo krustosa merupakan penyakit infeksi piogenik kulit superfisialis yang di sebabkan
oleh Staphylococco aureus,Streptococcus group A beta hemolitikus (GABHS),atau kombinasi
keduanya dan di gambarkan dengan perubahan vesikel berdinding tipis,diskret,menjadi pustul
dan ruptur sert mengering membentuk krutsa Honey-colored dengan tepi yang mudah di
lepaskan.1,5
Pada negara maju,impetigo krustosa banyak di sebabkan oleh staphylococcus aureus dan
sedikit oleh Streptococcus group A beta-hemolitikus (streptococcus pyogenes).Banyak
penilitian yang menemuka 50-60% kasus impetigo krustosa adalah staphylococcus aureus
dan 20-45% kasus merupakan kombinasi Staphylococcus aureus dengan streptococcus
pyogenes.Namun di negara berkembang,yang menjadi penyebab impetigo krustosa adalah
streptococcus pyogenes.4,5,6 Staphylococcus aureus banyak terdapat pada faring,hidung,aksila
dan perineal merupakan tempat berkembangnya penyakit impetigo krustosa.2

Epidemiologi
Terjadinya penyakit impetigo krustosa di seluruh dunia tergolong relatif sering.Penyakit ini
banyak terjadi pada anak-anak kisaran usia 2-5 tahun dengan rasio yang sama antara laki-laki
dan perempuan.Di Amerika,impetigo merupakan 10% dari penyakit kulit anak yang menjadi
penyakit infeksi kulit bakteri utama dan penyakit kulit peringkat tiga terbesar pada anak.Di
inggris kejadian impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2,8% pertahun dan 1,6%
pada usia 5-15 tahun.1,3,4,6
Impetigo krustosa banyak terjadi pada musim panas dan daerah lembab,seperti Amerika
selatan yang merupakan daerah endemik dan predominan dengan puncak insiden di akhir
musim panas.Anak-anak prasekolah dan sekolag paling sering terinfeksi.Pada usia
dewasa,laki-laki lebih banyak di banding perempuan.2 Di samping itu,ada beberapa faktor
yang dapat mendukung terjadinya impetigo krustosa seperti :

Hunian padat
Higiene buruk
Hewan peliharaan
Keadaan yang mengganggu integritas epidermis kulit seperti gigitan serangga,herpes
simpleks,varisela,abrasi,atau luka bakar.

Patogenesis
Impetigo krustosa di mulai ketika trauma kecil terjadi pada kulit normal sebagai portal of
entry yang terpapar oleh kuman melalui kontak langsung dengan pasien atau dengan
seseorang yang menjadi carrier.Kuman tersebut berkembang biak di kulit dan akan
menyebabkan terbentuknya lesi dalam satu sampai dua minggu.6
Cara infeksi impetigo krustosa ada 2,yaitu infeksi primer dan infeksi sekunder.
Infeksi Primer
Infeksi primer biasanya terjadi pada anak-anak.Awalnya,kuman menyebar dari
hidung ke kulit normal (kira-kira 11 hari),kemudian berkembang menjadi lesi
pada kulit.Lesi biasanya timbul di atas kulit wajah (terutama sekitar lubang
hidung) atau ekstremitas setelah trauma.4
Infeksi sekunder
Infeksi sekunder terjadi bila telah ada penyakit kulit lain sebelumnya
(impetiginasi) seperti dermatitis atopik,dermatitis statis,psoriasis vulgaris,SLE
kronik,pioderma gangrenosum,herpes simplek,varisela,herpes
zoster,pedikulosis,skabies,infeksi jamur dermofita,gigitan serangga,luka lecet,luka
goresan,dan luka bakar,dapat terjadi pada semua umur.2,7
Impetigo krustosa biasanya terjadi akibat trauma superfisialis dan robekan pada
epidermis,akibatnya kulit yang mengalami trauma tersebut menghasilkan suatu protein

yang mengakibatkan bakteri dapat melekat dan membentuk infeksi impetigo


krustosa,keluhan biasanya gatal dan nyeri.2

Histopatologi
Teerjadinya inflamasi superfisialis pada folikel pilosebaseus bagian atas.Terdapat
vesikopustul di subkorneum yang berisi cocos serta debris beruba leukosit dan sel
epidermis.Pada dermis terjadi inflamasi ringan yang di tandai dengan dilatasi pembuluh
darah,edema,dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.5 Seringkali terjadi spongiosis yang
mendasari pustula,pada lesi terdapat kokus gram positif.

Manifestasi klinik
Impetigo krustosa dapat terjadi di mana saja pada tubuh,tetapi biasanya pada tubuh yang
sering terpapar luar misalnya wajah,leher,dan ekstremitas.Impetigo krustosa di awali dengan
munculnya eritema berukuran kurang lebih 2 mm yang dengan cepat membentuk vesikel,bula
atau pustul berdinding tipis.Kemudian vesikel,bula atau pustul tersebut ruptur menjadi erosi
kemudian eksudat seropurulen dan mengering dan menjadi krusta yang berwarna kuning
keemasan (honer-colored) dan dapat meluas lebih dari 2cm.Lesi biasanya berkelompok dan
sering konfluen meluas secara irreguler.Pada kulit dengan banyak pigmen,lesi dapat di sertai
hipopigmentasi atau hiperpigmentasi.Krusta pada akhirnya mengering dan lepas dari dasar
yang eritema tanpa pembentukan jaringan scar.1,4,5,8
Lesi dapat membesar dan meluas mengenai lokasi baru dalam waktu beberapa minggu
apabila tidak diobati.Pada beberapa orang lesi dapat remisi spontan 2-3 minggu atau lebih
lama terutama bila terdapat penyakit akibat parasit atau pada iklim panas dan lembab,namun
lesi juga dapat meluas ke dermis membentuk ulkus (ektima).1,4
Kelenjar limfe regional dapat mengalami pembesaran pada 90% pasien tanpa
pengobatan terutama infeksi streptococcus dan dapat di sertai demam.Membran mukosa juga
jarang terlibat.1,4,5

Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan penunjang untuk menetapkan diagnosis dilakukan biakan
bakteriologis eksudat lesi, biakan secret dalam media agar darah, dilanjutkan dengan tes
resistens. Selain itu kultur dilakukan untuk mengetahui kuman penyebabnya. Baik
staphylococcus maupun streptococcus mudah berkembang pada media aerob, contohnya
blood agar. Pemeriksaan histopatologi kulit pada infeksi yang sangat superficial yaitu diatas
lapisan epidermis. Pemeriksaan gram dilakukan pada stratum korneum dan lapisan diatas
granuler. Hal tersebut berhubungan dengan akantolisis jaringan sub corneal epidermis. Hanya
sedikit infitrat yang tampak.

Pada pemeriksaan lokalisasi dan efloresensi dari penyakit ini diperoleh bahwa lesi penyakit
ini biasanya terdapat pada daerah yang terpajan, terutama wajah, tangan, leher dan
ekstremitas. Sementara efloresensi / sifat-sifatnya berupa macula eritematosa miliar sampai
lentikular, krusta kuning kecoklatan, berlapis-lapis, mudah diangkat.

Diagnosis
Diagnosis impetigo krustosa di tegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan
mengidentifikasi tanda dan gejala yang ada dan dapat di bantu dengan pemeriksaan
penunjang seperti pewarnaan Gram,biakan kuman dan tes serologi serta histopatologi.
Pada pulasan gram ,di temukan coccus Gram positif yang lebih terlihat bila pemeriksaan di
lakukan saat lesi masih berupa vesikel.Biasanya di perlukan pemeriksaan biakan biakan
kuman dan sensitivitas bila terapi tidakmenghasilkan respon baik yang menunjukan sudah
terjadi resisten kuman.Pada pemeriksaan serologi di dapatkan ASO titer positif lemah pada
pioderma streptococcus.Leukosit di temukan pada sebagian penderita impetigo krustosa.2,8

Diagnosis banding
Dignosis banding Impetigo krustosa terdiri dari :
1. Impetigo bullosa
Kelainan kulit berupa benjolan kecil yang dengan cepat membesar menjadi benjolan besar
berisi cairan (bula). Pada awalanya cairan berwarna jernih, kemudian menjadi keabu-abuan
dan akhirnya menjadi kuning gelap seperti nanah (bula hipopion). Permukaan benjolan ini
datar dan di sekitarnya tidak terdapat kemerahan, umumnya berukuran kurang dari 3 cm.
umumnya ditemukan di daerah lipatan kulit, seperti di leher, ketiak, dan lipat paha. Kelainan
kulit dapat menyebar ke daerah kulit lain akibat garukan penderita.
2.

Dermatitis atopi

Lesi gatal yang bersifat kronik dan berulang, kering; pada orang dewasa dapat ditemukan
likenifikasi pada daerah fleksor ekstremitas. Sedangkan pada anak sering berlokasi pada
daerah wajah dan ekstremitas ekstensor.
3.

Dermatofitosis

Lesi kemerahan dan bersisik dengan bagian tepi yang aktif agak meninggi; dapat berbentuk
vesikel, terutama berlokasi di kaki.
4.

Ektima

Lesi berkrusta yang menutupi ulkus, jarang berupa erosi; lesi menetap berminggu-minggu
dan dapat sembuh dengan meyisakan jaringan perut jika infeksi meluas hingga ke dermis.

5.

Skabies

Lesi terdiri dari terowongan dan vesikel yang kecil; gatal pada daerah lesi saat malam hari
merupakan gejala yang khas.

6.

Varisela

Vesikel berdinding tipis, ukuran kecil, pada daerah dasar yang eritem yang awalnya
berlokasi di badan dan menyebar ke wajah dan ekstremitas; vesikel pecah dan
membentuk krusta; lesi dengan tingkatan berbeda dapat muncul pada saat yang sama.

Komplikasi
1.Ektima
Impetigo yang tidak di obati dapat meluas lebih dalam dan penetrasi ke epidermis menjadi
ektima.Ektima merupakan pioderma pada jaringan kutan yang di tandai dengan adanya ulkus
dan krusta tebal.4,5
2.Selulitis dan Erisepelas
Impetigo krustosa dapat menjadi infeksi invasif menyebab terjadinya selulitis dan
erisepelas,meskipun jarang terjadi.Selulitis merupak peradangan akut kulit yang mengenai
jarang mengenai subkutan yang di tandai dengan eritema setempat,ketegangan kulit di sertai
malaise,menggigil dan demam.Sedangkan erisepelas merupakan peradangan kulit yang
melibatkan pembuluh limfe superfisial di tandai dengan eritema dan tepi
meninggi,panas,bengkak,dan biasanya di sertai gejala prodomal.1,4,5
3.Glomerulonefritis post streptococal
Komplikasi utama dan serius dari impetigo krutosa yang umumnya di sebabkan oleh
Streptococcus group A beta-hemolitikus ini yaitu glomerunefritis akut (2%-5%).Penyakit ini
lebih terjadi pada anak-anak usia kurang 6 tahun.Tidak ada bukti yang menyatakan
glomerulonefritis terjadi pada impetigo yang di sebabkan oleh Staphylococcus.
Insiden glomerunefritis berbeda pada setiap individu,tergantung dari strain potensial yang
menginfeksi nefritogenik.Faktor yang berperan penting atas terjadinya GNAPS yaitu serotipe
strain 49,55,57 dan 60 serta strain M-tipe 2.Periode laten berkembangnya nefritis setelah
pioderma streptococcal sekitar 18-21 hari.Kriteria diagnosis GNAPS ini terdiri dari hematuria
makroskopik atau mikroskopik,edema yang di awali dari wajah dan hipertensi.1,5

4.Rheumatic Fever
Sebuah kelainan inflamasi yang dapat terjadi karena komplikasi infeksi streptococcus yang
tidak di obati strep thoat atau scarlet fever.Kondisi tersebut dapat mempengaruhi
otak,kulit,jantung dan sendi tulang.

5.Pneumonia
Pneumonia merupakan penyakit yang banyak di temui setiap tahun,penyakit ini biasanya
terjadi pada perokok dan seseorang yang menggunakan obat yang menekan sistem
imunitas.1,3

6.Infeksi Methicilin resistant staphylococcus auerus (MRSA)


MRSA adalah sebuah strain bakteri staphylococcus yang resisten terhadap sejumlah
antibiotik.MRSA dapat menyebabkan infeksi serius pada kulit yang sangat sulit di
obati.Infeksi kulit dapat di mulai dengan sebuah eritem,papul,atau abses yang mengeluarkan
pus.MRSA juga dapat menyebabkan pneumonia dan bakterimia.

7.Osteomielitis
Sebuah inflamasi pada tulang yang di sebakan bakteri.Inflamasi biasanya berasal dari bagian
tubuh yang lain yang berpindah ke tulang melalui darah.

8.Meningitis
Sebuah inflamasi pada membran dan cairan serebrospinal yang melingkupi otak dan medula
spinalis.Meningitis merupakan sebuah penyakit serius yang dapat mempengaruhi kehidupan
dan menghasilkan komplikasi permanen seperti koma,syok,dan kematian.

Penatalaksanaan
Umum

Menjaga kebersihan agar tetap sehat dan terhindar dari infeksi kulit
Menindak lanjuti luka akibat gigitan serangga dengan mencuci area kulit yang terkena
untuk mencegah infeksi
Menguragi kontak dengan penderita
Bila di antara anggota keluarga ada yang mengalami impetigo di harapkan dapat
melakukan pencegahan berupa :

E - Mencuci bersih area lesi dengan sabun dan air mengalir serta membalut lesi
- Mencuci pakaian,kain,atau handuk penderita setiap hari dan tidak menggunakan
peralatan harian bersama-sama
- Menggunakan sarung tangan ketika mengolesi obat topikal dan setelah itu
mencuci tangan sampai bersih
- Memotong kuku untuk menghindari penggarukan yang memperberat lesi
- Memotivasi penderita untuk sering mencuci tangan.
E
Khusus
1.Terapi sistemik
Pemberian antibiotik sistemik pada impetigo krutosa diindikasi bila terdapat lesi yang luas
atau berat,lemfadenopati,atau gejala sistemik.1
a. Pilihan pertama (golongan beta laktam)
Golongan Penicilin (bakterisid
o Amoksilin+ Asam klavulanat
Dosis 2x 250-500 mg/hari (25 mg/kgBB) selama 10 hari.3
Golongan sefalosporin generasi ke 1 (bakterisid)
o Sefaleksin
Dosis 4x 250-500 mg/hari (40-50 mg/kgBB/hari) selama 10 hari.3
o Kloksasilin
Dosis 4x 250-500 mg/hari selama 10 hari.3
b. Pilihan Kedua
Golongan makrolida (bakteriostatik)
o Eritromisin
Dosis 30-50mg/kgBB/hari
o Azitromisin
Dosis 500 mg/hari untuk ke-1 dan dosis 250 mg/hari untuk hari ke-2 sampai
hari ke-4.4

2.Terapi Topikal
Penderita di berikan antibiotik topikal bila lesi terbatas,terutama pada wajah dan penderita
sehat secara fisik.Pemberian obat topikal ini dapat sebagai profilaksis terhadap penularan
infeksi pada saat anak melakukan aktifitas sekolah atau tempat lainnya.Antibiotik topikal di
berikan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari.5,6
o Mupirocin
Mupirocin (pseudomonic acid) merupakan antibiotik yang berasal dari
pseudomonas fluorescent.Mekanisme kerja mupirocin yaitu menghambat
sintesis protein (asam amino)dengan mengikat isoleusil tRNA sintesa sehingga
menghambat aktifitas coccus gram positif seperti staphylococcus dan sebagian

besar Streptococcus.Salep mupirocin 2% diindikasi untuk pengobatan


impetigo yang di sebabkan Staphylococcus dan Streptococcus pyogenes.10
o Asam fusidat
Asam fusidat merupakan antibiotik yang berasal dari Fusidium
coccineum.Mekanisme kerja asam fusidat yaitu menghambat sintesis
protein.Salep atau krim asam Fusidat 2% aktif melawan kuman gram positif
dan telah teruji sama efektif dengan mupirocin topikal.
o Bacitracin
Bacitracin merupakan antibiotik polipeptida siklik yang berasal dari Strain
bacillus Subtilis.Mekanisme kerja bacitracin yaitu menghambat sintesis
dinding sel bakteri dengan menghambat defosforilasi ikatan membran lipid
pirofosfat sehingga aktif melawan coccus gram positif seperti staphylococcus
dan streptococcus.Bacitracin topikal efektif untuk pengobatan infeksi bakteri
superfisial kulit seperti impetigo.
o Retapamulin
Retapamulin bekerja menghambat sintesis protein dengan berikatan dengan
subunit 50s ribosom pada protein L3 dekan dengan peptidil transferase.Salep
retapamulin 1% telah di terima oleh Food and Drug Administraion (FDA)
pada tahun 2007 sebagai terapi impetigo pada remaja dan anak-anak di atas 9
bulan dan telah menunjukan aktivitasnya melawan kuman yang resisten
terhadap beberapa obat seperti metisilin,eritromisin,asam
fusidat,mupirosin,azitromisin.6
Prognosis
Pada beberapa kasus individu,bila tidak ada penyakit lain sebelumnya impetigo krustosa
dapat membaik spontan dalam 2-3 minggu.Namun,bila tidak di obati impetigo krutosa dapat
bertahan dan menyebabkan lesi pada tempat baru serta menyebabkan komplikasi berupa
ektima,dan dapat menjadi erisepelas,selulitis,atau bakteriemi.4,7 Dapat pula terjadi
Staphylococcal Scakled Skin Syndrome (SSSS) pada bayi dan dewasa yang mengalami
immunocompromised atau gangguan fungsi ginjal.Bila terjadi komplikasiGlomerulonefritis
akut,prognosis anak-anak lebih baik dari pada dewasa.
Pencegahan
Kebersihan sederhana dan perhatian terhadap kecil dapat mencegah timbulnya impetigo.
Seseorang yang sudah terkena impetigo atau gejala-gejala infeksi/peradangan Streptococcus
beta hemolyticus grup A (GABHS) perlu mencari perawatan medik dan jika perlu dimulai
dengan pemberian antibiotik secepat mungkin untuk mencegah menyebarnya infeksi ini ke
orang lain. Penderita impetigo harus diisolasi, dan dicegah agar tidak terjadi kontak dengan
orang lain minimal dalam 24 jam setelah pemberian antibiotik. Pemakaian barang-barang
atau alat pribadi seperti handuk, pakaian, sarung bantal dan seprai harus dipisahkan dengan
orang-orang sehat. Pada umumnya akhir periode penularan adalah setelah dua hari permulaan
pengobatan, jika impetigo tidak menyembuh dalam satu minggu, maka harus dievaluasi. 3,4,5,6

Kesimpulan
Impetigo krutosa merupakan penyakit infeksi kulit terbatas pada lapisan episermis
(superfisial) yang umumnya di sebabkan oleh Staphylococcus aureus dan Streptococcus
group A beta-hemolitikus.Lebih sering terjadi pada anak-anak baik laki-laki maupun
perempuan,predileksi Impetigo krustosa terdid dari wajah,leher atau ektremitas.Gambaran
klinis yang dapat di temukan berupa vesikel yang menjadi pustul dan ruptur membentuk
krusta khas berwarna kuning keemasan (Honey colored).Jika tidak di obati akan menjadi
komplikasi.Terapi impetigo dapat di lakukan dengan kompres basah,antibiotik topikal serta
antibiotik sistemik bila di perlukan.

Daftar Pustaka

1. Hay R.J,B.M Adriaans.Bacterial Infection.In: Burns T,Bretnach S,Cox N,Griffiths C


(eds).Rooks text Book of Dermatology.7th ed.Turin :Blackwell.2004.p.27.13-15.
2. Heyman W.R Halpern V.Bacterial Infection.Bolognia JL,Jorizzo JL,Rapini RP
(eds).Dermatology.2nd ed.Spain : Mosby Elsevier.2008.p.1075-77
3. Mostwaledi M H. 2011. Impetigo in Children: A Clinical Guide and Treatment
Options. S Afr Fam Pract. Volume 53(1): 44-46
4. Cole C, Gazewood J. 2007. Diagnosis and Treatment of Impetigo. American Family
Physician. Volume 75(6): 859-864
5. Sladden M J, Johnston G A. 2004. Clinical Riview: Common Skin Infections in
Children. BMJ. Volume 329: 95-99
6. Schellack N. 2011. Skin Rashes in Children. S Afr Pharm J. Volume 78(1): 13-22
7. Stulberg D L, Penrod M A, Blatny R A. 2002. Common Bacterial Skin Infections.
American Family Physician. Volume 66(1): 119-124
8. Kocinaj A, Kocinaj D, Berisha M. 2009. Skin Diseases Among Preschool Children. J
Bacteriol Res. Volume 1(2): 25-29