Anda di halaman 1dari 22

Aditya Septiani,S.E.,M.

Si,Akt
Jurusan Akuntansi FE UNDIP

KONSEP DASAR TEORI BARIS DAN DERET


SERTA PENGGUNAANNYA DALAM BISNIS DAN
EKONOMI
TIU
Memberikan

gambaran dan dasar-dasar


pengertian serta pola pikir yang logis
sehubungan dengan baris dan deret bilangan
yang
tersusun
secara
teratur
dengan
perubahan-perubahannya yang tertentu .
memberikan tuntunan dalam menggunakan
rumus-rumus yang telah diperoleh untuk
menghitung nilai-nilai yang ingin diketahui
dari baris dan deret yang ada

TIK
Menerapkan pengetahuan tentang baris dan deret

tersebut dalam menghitung permasalahanpermasalahan bisnis dan ekonomi di antaranya


masalah perkembangan usaha sejauh mana
pertumbuhannya yang konstan dari waktu ke
waktu, masalah nilai uang dalam hal pinjammeminjam, investasi jangka panjang yang
dihubungkan dengan tingkat suku bunga yang
diasumsikan tetap dari waktu ke waktu, dan
menghitung pertumbuhan penduduk di suatu
daerah serta jumlah penduduknya pada suatu
waktu tertentu.

A. TEORI BARIS DAN DERET


1. Pengertian Baris
Baris yang dimaksud adalah bilangan yang tersusun
secara teratur dengan suatu pola perubahan
tertentu dari satu suku ke suku berikutnya.
Penggolongan baris dapat didasarkan pada : Jumlah
suku yang membentuknya, dibedakan menjadi :
1. Baris berhingga
2. Baris tak berhingga
Pola perubahannya, sehingga dibedakan menjadi
1. Baris Hitung
2. Baris Ukur
3. Baris Harmoni

Baris Hitung Baris hitung yaitu baris bilangan

di mana pola perubahan dari satu suku ke suku


berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan
tersebut dapat diperoleh dari selisih antara
satu suku ke suku sebelumnya.
Contoh : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ......................Sn
S1 (suku pertama) = 2 S1 = a = 2
S2 (suku kedua) = 4 S2 = a + b = 2 + 2 = 4
S3 (suku ketiga) = 6 S3 = a + 2b = 2 + (2)2 = 6
S4 (suku keempat) = 8 S4 = a + 3b = 2 + (3)2 =
8
Sn (suku ke n) Maka untuk suku ke n di
peroleh rumus : Sn = a + ( n 1 ) b. Dimana a =
suku pertama, b = pembeda dan n = suku ke n

Contoh soal : Diketahui suku ke tiga dan

suku ke tujuh masing-masing sebesar 150 dan


170. Carilah suku ke sepuluhnya dari baris
hitung tersebut. 2
S3 = a + ( n 1 ) b 150 = a + 2b
S7 = a + (n 1 ) b 170 = a + 6b

- 20 = - 4b

b= -20 / -4 = 5
150 = a + 2b ;; 150 = a + 2.5 ;; 150 = a + 10
a = 150 10
a = 140
S10 = a + (n 1) b = 140 + (10 -1) 5
140 + 45 = 185

3. Deret Hitung
Deret hitung yaitu deretan bilangan yang

tersusun dengan aturan dimana suku


pertamanya sama dengan suku pertama baris
hitungnya, suku keduanya merupakan
penjumlahan dua suku pertama baris
hitungnya, suku ketiganya merupakan
penjumlahan tiga suku pertama baris
hitungnya, dan seterusnya.
Contoh : (dari contoh baris hitung di atas)
Baris hitung : 2, 4, 6, 8, 10, 12 .....
Maka Deret hitung : 2, 6, 12, 20, 30, 42, ...
Dn = n/2 ( a + Sn ) atau Dn = n/2 { 2a + ( n
1 ) b}

Contoh Soal : Sebuah baris hitung

mempunyai suku pertama yang bernilai 140.


Beda antar suku 5. Hitunglah suku ke-10nya ?
Berapakah Jumlah lima suku pertamanya ?.
a = 140, b = 5
S10 = 140 + ( 10 1 ) 5 = 140 + 45 = 185
D5 = 5/2 ( 2.140 + ( 5 1 ) 5 )

= 5/2 ( 280 + 20 )

= 5/2 ( 300 ) = 750

4. Baris Ukur Baris ukur yaitu baris

bilangan di mana pola perubahan dari satu


suku ke suku berikutnya besarnya tetap
dan pola perubahan tersebut dapat
diperoleh dari perbandingan antara satu
suku sengan suku sebelumnya
Contoh : 2, 6, 18, 54, 162, ...... Sn
S1 (suku pertama) = 2
S2 (suku kedua) = 6
S3 (suku ketiga) = 18
S4 (suku keempat) = 54
S5 (suku kelima) = 162
Sn (suku ke n) = dst.

Pola perubahan dari satu suku ke suku

berikutnya dilambangkan dengan r (rasio) dan


perbesarannya adalah perbandingan atara dua
suku yang berurutan dengan suku berikutnya,
sehingga r = 6/2 = 18/6 = 54/18 = 162/54.
maka r = 3.
S1 (suku pertama) = a =
2 S2 (suku kedua) = ar = 2.3 = 6
S3 (suku ketiga) = ar2 = 2.32 = 2.9 = 18
S4 (suku keempat) = ar3 = 2.33 = 2.27 = 54
S5 (suku kelima) = ar4 = 2.34 = 2.81 = 162
Sn (suku ke n) Untuk menentukan suku ke n
diperoleh rumus Sn = ar n-1

5. Deret Ukur
Deret Ukur yaitu deretan bilangan yang

tersusun dengan aturan di mana suku


pertamanya sama dengan suku pertama baris
ukurnya, suku keduanya merupakan
penjumlahan dua suku pertama baris ukurnya,
suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga
suku pertama baris ukurnya, dan seterusnya.
Contoh : (dari contoh baris ukur di atas)
Baris Ukur : 2, 6, 18, 54, 162, .......
maka Deret Ukur : 2, 8, 26, 80, 242, .....
D1 = 2 D2 = 2 + 6 = 8 D3 = 2 + 6 + 18 = 26
Dst.

B. PENERAPAN TEORI BARIS DAN DERET


DALAM EKONOMI
1. Perkembangan Usaha
Perkembangan usaha yang dimaksud adalah sejauh mana

usaha-usaha yang pertumbuhannya konstan dari waktu ke


waktu mengikuti perubahan baris hitung.
Contoh Soal
1. Perusahaan keramik menghasilkan 5.000 buah keramik pada
bulan pertama produksinya. Dengan adanya penambahan
tenaga kerja, maka jumlah produk yang dihasilkan juga
ditingkatkan.
Akibatnya,
perusahaan
tersebut
mampu
menambah produksinya sebanyak 300 buah setiap bulannya.
Jika perkembangan produksinya konstan setiap bulan, berapa
jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12 ?. Berapa
buah jumlah keramik yang dihasilkannya selama tahun pertama
produksinya ?

Jawab : Jumlah keramik yang dihasilkannya

pada bulan ke 12.


S12 = a + (n 1) b = 5.000 + (12 1) 300
= 5.000 + (11) 300 = 5.000 + 3.300 = 8.300
Jadi pada bulan ke 12 perusahaan tersebut
dapat menghasilkan 8.300 buah keramik.
Jumlah keramik yang dihasilkan dalam satu
tahun pertama.
D12 = n/2 (a + s12) = 12/2 (5.000 + 8.300)
= 6 (13.300) = 79.800

2. Teori Nilai Uang (bunga Majemuk)


Perluasan deret ukur digunakan dalam masalah bunga

berbunga, masalah pinjam meminjam serta masalah


investasi yang dihubungkan dengan tingkat suku
bunga dalam jangka waktu tertentu yang besarnya
diasumsikan tetap dari waktu ke waktu.
Pn = po ( 1 + r )n , atau Pn = po ( 1 + r /m)n.m

Pn = Modal pada tahun ke-n (di masa yang akan

datang)
Po = Modal saat sekarang n= tahun ke m = periode

per-tahun

Seorang

nasabah
merencanakan
mendepositokan uangnya di Bank sebanyak
Rp. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun.
Pembungaan depositonya setahun sekali
dengan tingkat bunga yang diasumsikan
konstan sebesar 11% per-tahun. Bantulah
nasabah itu untuk menghitung berapa
jumlah uang yang akan diterima pada akhir
tahun ke-5 ?
Pn = P0 ( 1 + r )n = 10.000.000 ( 1 + 0,11 )
5 = 10.000.000 ( 1,11 ) 5 = 10.000.000
(1,685058155) = 16.850.581,55

3. Pertumbuhan Penduduk
Penerapan deret ukur yang paling konvensional

di bidang ekonomi adalah dalam hal perhitungan


pertumbuhan penduduk, sebagaimana pernah
dinyatakan oleh Malthus, penduduk dunia
tumbuh mengikuti pola deret ukur.
Yang drumuskan : Pn = P0.( 1 + i )n
Di mana Po = populasi penduduk pada tahun
basis (tahun ke-1)
Pn = populasi penduduk pada tahun ke- n
i = persentase pertumbuhan penduduk per
tahun &
n = jumlah tahun

Contoh soal : Penduduk suatu kota

berjumlah 100.000 jiwa pada tahun 2000,


tingkat pertumbuhannya 4 persen per tahun.
Hitunglah jumlah penduduk kota tersebut
pada tahun 2010. Periode waktu : 2000 - 2010
= 10 tahun
Pn = Pn = P0.( 1 + i ) n = 100.000 ( 1 + 0,04 )
10

= 100.000 ( 1,04 ) 10 = 100.000 ( 1,48024)


= 148.024

Latihan Soal
Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama bernilai 210.
Beda antar suku 15. Hitunglah suku ke 10 nya ! Berapakah
jumlah lima suku pertamanya ?
Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya
di Bank sebanyak Rp. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun.
Pembungaan depositonya dengan tingkat bunga yang
diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun Berapa jumlah
uang yang diterimanya pada akhir tahun kelima jika
didepositokan dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali ? dan
Berapa jumlah uang yang diterimanya jika didepositokan
dengan pembungaan tiap tiga bulan.
Penduduk suatu kota metropolitan tercatat 3,25 juta jiwa
pada tahun 2008, diperkirakan menjadi 4,5 juta jiwa pada
tahun 2013. Jika tahun 2008 dianggap tahun dasar, berapa
persen pertumbuhannya ? Berapa Jumlah penduduknya
pada tahun 2015 ?

Jawaban latihan soal.


jumlah uang dengan pembungaan tiap 6

bulan sekali
Pn = P0 (1 + r/m) n.m
= 10.000.000 (1 + 0,11/2) n.m
= 10.000.000 (1 + 0,055) 10
= 10.000.000 (1,708144)
= 17.081.444,58
Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah
tersebut yang dibungakan setiap enam bulan
sekali menjadi Rp. 17.081.444,58.

jumlah uang dengan pembungaan tiap 3

bulan sekali
Pn = P0 (1 + r/m) n.m
= 10.000.000 (1 + 0,11/4) n.m
= 10.000.000 (1 + 0,0275) 20
= 10.000.000 (1,720428431)
= 17.204.284,31
Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah
tersebut yang dibungakan setiap tiga bulan
sekali menjadi Rp. 17.204.284,3

Jawab persentase pertumbuhan penduduk :


Pn = P0 (1 + i) n
4,5 = 3,25 (1 + i)2013-2008
4,5 = 3,25 (1 + i)5
4,5/3,25 = (1 + i)5
1,38461/5 = (1 + i)
i= 1,38461/5- 1
i = 0,0673 ;; i = 6,73 %
Jadi persentase pertumbuhan penduduknya 6,73 %
Jumlah penduduk pada tahun 2015.
P2015 = P2008 (1 + i)2015-2008
= 3,25 (1 + 6,73%)7 = 3,25 (1,577632) = 5,13
Jadi jumlah penduduk kota metropolitan pada tahun

2015 sebanyak 5,13 juta.

PR
Jika diketahui suku kedua besarnya 275 dan suku keenam

besarnya 375. Berapa suku pertama baris hitung tersebut ?


Berapakah nilai suku kesepuluhnya ? Berapa jumlah sepuluh suku
pertamanya.
Pabrik rokok KIREI menghasilkan sejuta bungkus rokok pada
tahun pertama berdirinya, dan 1,6 juta bungkus pada tahun
ketujuh. a) Andaikata perkembangan produksinya konstan,
berapa tambahan produksinya per tahun ? b) Berapa produksinya
pada tahun kesebelas ? c) Pada tahun ke berapa produksinya 2,5
juta bungkus rokok ? d) Berapa bungkus rokok yang telah ia
hasilkan sampai dengan tahun ke 16 ?.
Pabrik kecap KITARO memproduksi 24.000 botol kecap pada
tahun ke-6 operasinya. Karena persaingan keras dari kecap-kecap
merek lain, produksinya terus menurus secara konstan sehingga
pada tahun ke-10 hanya memproduksi 18.000 botol. a) Berapa
botol penurunan produksinya per tahun ? b) Pada tahun ke berapa
pabrik kecap tersebut tidak berproduksi (tutup) c) Berapa botol
kecap yang ia hasilkan selama operasinya ? .