Anda di halaman 1dari 18

Negara Indonesia sebagai organisasi besar mempunyai visi, dan misi, adapun visi

Indonesia adalah Visi Bangsa Indonesia 2025. Mengapa dinamakan demikian, karena visi
ini diarahkan sampai tahun tahun 2025 atau yang kita sebut sebagai Rencana Jangka Panjang
Nasional 2025.
Rencana Jangka Panjang Nasional adalah Negara Indonesia yang mandiri, maju, adil dan
makmur. Mandiri, artinya mampu mewujudkan kehidupan sejajar dan sederajat bangsa lain
dengan mengandalkan kemampuan dan kekuatan sendiri. Maju, diiukur dari kualitas sumber
daya manusia (SDM), tingkat kemakmuran, kemantapan siystem, kelembagaan politik dan
hukum. Adil berarti tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun, baik antar individu, gender,
maupun wilayah. Dan visi terakhir adalah makmur, diukur dari tingkat pemenuhan seluruh
kebutuhan hidup.
Sedangkan misinya adalah misi pembangunan, yaitu :
1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan
beradab berdasarkan falsafah Pancasila
2. Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing
3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum
4. Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu
5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan
6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari
7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan
berbasiskan kepentingan nasional
8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional
Untuk mewujudkan visi Indonesia tahun 2025 tersebut, maka ditetapkan :
A. Arah Pembangunan I Pembangunan Masyarakat,
B. Arah Pembangunan II Pembangunan Daya Saing Bangsa,
C. Arah Pembangunan III Pembangunan Politik dan Hukum,

D. Arah Pembangunan IV Pembangunan Keamanan,


E. Arah Pembangunan V Pembangunan Wilayah,
F. Arah Pembangunan VI Pembangunan Lingkungan Hidup, dan
G. Arah Pembangunan VII Pembangunan Negara Kepulauan.

Arah Pembangunan
I.

Pembangunan Masyarakat
a. Kehidupan Beragama

Memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan etika

Meningkatkan kerukunan hidup umat beragama

b. Jatidiri Bangsa

Mewujudkan karakter bangsa dan sistem sosial yang berakar, unik, modern,
dan unggul.

c. Budaya Inovatif

II.

Meningkatkan penghargaan masyarakat terhadap iptek

Mendorong berbagai bentuk pengungkapan kreativitas

Transformasi masyarakat dari budaya konsumtif menuju budaya produktif

Pembangunan Daya Saing Bangsa


a. Sumber Daya Manusia yang Berkualitas

Peningkatan kualitas SDM yang dicermainkan oleh:


1. Meningkatnya indeks pembangunan manusia (IPM),
2. Meningkatnya indeks pembangunan gender (IPG),
3. Angka reproduksi netto (NRR) = 1, dan
4. Angka kelahiran total (TFR) = 2,1.

Pengendalian jumlah dan laju pertumbuhan penduduk

Pembangunan pendidikan merupakan investasi dalam meningkatkan pertumbuhan


ekonomi dan menurunkan tingkat kemiskinan dan pengangguran

Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mewujudkan derajat kesehatan


masyarakat setinggi-tingginya

b. Perekonomian Domestik dengan Orientasi dan Berdayasaing Global

Transformasi bertahap dari perekonomian berbasis keunggulan komparatif ke


perekonomian berbasis keunggulan kompetitif.

Berlandaskan prinsip demokrasi ekonomi sehingga terjamin kesempatan berusaha


dan bekerja bagi seluruh masyarakat

Kelembagaan ekonomi dikembangkan dengan menerapkan prinsip-prinsip tata


kelola pemerintahan yang baik.

Peran pemerintah sebagai fasilitator, regulator, sekaligus sebagai katalisator


pembangunan untuk terjaganya keberlangsungan mekanisme pasar

Struktur perekonomian diperkuat dengan mendudukkan sektor industri sebagai


motor penggerak

Efisiensi, modernisasi, dan nilai tambah sektor primer ditingkatkan untuk


memperkuat basis produksi secara nasional.

Pembangunan industri diarahkan untuk mewujudkan industri yang berdaya saing


dengan struktur yang sehat / kuat dan berkeadilan.

Perdagangan dalam negeri diarahkan untuk memperkokoh sistem distribusi


nasional yang efisien dan efektif.

c. Penguasaan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Iptek

Untuk mendukung pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan yang dilakukan


melalui:
1. Penerapan iptek secara luas dalam sistem produksi barang dan jasa

2. Pembangunan pusat-pusat keunggulan iptek


3. Pengembangan lembaga penelitian yang handal
4. Pengakuan terhadap hasil temuan dan hak atas kekayaan intelektual

Diarahkan untuk:
1. Menciptakan dan menguasai iptek (ilmu dasar, terapan, sosial, dan humaniora)
untuk menghasilkan teknologi.
2. Memanfaatkan teknologi hasil penelitian, pengembangan, dan perekayasaan
(litbang-rek)
3. Mendukung pemenuhan kebutuhan di semua bidang kehidupan

d. Sarana dan Prasarana yang Memadai dan Maju

Peran pemerintah difokuskan pada perumusan kebijakan dimana peran swasta


semakin ditingkatkan terutama untuk sarana dan prasarana yang sudah layak
secara komersial

Pembangunan sarana dan prasarana sumber daya air untuk mewujudkan fungsi air
sebagai sumber daya sosial dan sumber daya ekonomi yang seimbang

Pembangunan transportasi dilaksanakan dengan pendekatan pengembangan


wilayah untuk mendukung kegiatan ekonomi, membentuk dan memperkukuh
kesatuan nasional, dan memantapkan pertahanan dan keamanan

Pembangunan pos dan telematika untuk mendorong terciptanya masyarakat


berbasis informasi

Pembangunan sarana dan prasarana energi dan ketenagalistrikan adalah untuk


meningkatkan akses dan pelayanan konsumen terhadap energi.

Memenuhi kebutuhan hunian dan mewujudkan kota tanpa permukiman kumuh

Pembangunan dan penyediaan air minum dan sanitasi diarahkan untuk


mewujudkan terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat dan kebutuhan sektor lain.

e. Reformasi Hukum dan Birokrasi

Pembangunan hukum diarahkan untuk mendukung terwujudnya pertumbuhan


ekonomi yang berkelanjutan dengan :
1. Mengatur permasalahan yang berkaitan dengan ekonomi terutama untuk dunia
usaha dan dunia industri
2. Menciptakan kepastian investasi

Menghilangkan kemungkinan terjadinya tindak pidana korupsi, kolusi, dan


nepotisme (KKN)

Reformasi birokrasi diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme aparatur


negara dan untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik.

III.

Pembangunan Politik dan Hukum


a. Penyempurnaan struktur politik yang dititkberatkan pada proses pelembagaan
demokrasi
b. Penataan peran negarawan dan masyarakat diarahkan pada pembentukan kemandirian
dan kedewasaan masyarakat dan pembentukan masyarakat madani yang kuat
c. Penataan proses politik dititikberatkan pada pengalokasian representasi kekuasaan
d. Pengembangan budaya politik dititikberatkan pada penanaman nilai-nilai demokrastis
e. Pembangunan infromasi dan komunikasi ditekankan pada pencerdasan masyarakat
dalam kehidupan politik
f. Pembangunan hukum diarahkan untuk mewujudkan sistem hukum nasional yang
mantap bersumber pada Pancasila, UUD 45 yang disertai dengan pembangunan
materi hukum, pembangunan struktur hukum, penerapan dan penegakan hukum dan
HAM, peningkatan kesadaran hukum dalam masyarakat, dan penanggulangan
penyalahgunaan kewenangan aparatur negara.

IV.

Pembangunan Keamanan
a. Keamanan nasional diwujudkan melalui
keamanan dalam negeri, dan keamanan sosial

keterpaduan pembangunan pertahanan,

b. Pembangunan pertahanan mencakup sistem dan strategi pertahanan, postur dan


struktur pertahaanan, profesionalisme TNI, pengembangan teknologi pertahanan
dalam mendukung ketersediaan alutsista, komponen cadangan, dan pendukung
pertahanan.
c. Pembangunan pertahanan diarahkan untuk mewujudkan kemampuan yang melampaui
kekuatan pertahanan minimal, serta memiliki efek penggentar yang disegani.
d. Pembangunan keamanan diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme Polri.
e. Peningkatan profesionalisme lembaga intelijen dan kontra intelijen.
V.

Pembangunan Wilayah
a. Pengembangan wilayah ditujukan untuk peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan
masyarakat serta pemerataannya, dengan:

Mempercepat pembangunan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh,


wilayah tertinggal dan terpencil, dan wilayah perbatasan.

Menyeimbangkan pertumbuhan kota-kota metropolitan, besar, dan kecil

Meningkatkan keterkaitan kegiatan ekonomi antara wilayah perkotaan dan


perdesaan

Menerapkan rencana tata ruang sebagai acuan kebijakan spasial untuk semua
sektor

Menerapkan sistem pengelolaan pertahanan yang efisien dan efektif

Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan kerjasama antar daerah

b. Pembangunan kesejahteraan sosial difokuskan pada kelompok masyarakat yang


kurang beruntung.
c. Penyempurnaan sistem jaminan sosial (SJSN), sistem perlindungan sosial (SPSN)
yang terintegrasi dengan sistem nomor induk kependudukan (NIK)
d. Pemenuhan perumahan beserta prasarana dan sarana pendukungnya disertai dengan
pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat akan air minum dan sanitasi.

e. Penanggulangan kemiskinan diarahkan pada penghormatan, perlindungan, dan


pemenuhan hak-hak dasar rakyat secara bertahap.
VI.

Pembangunan Lingkungan Hidup


a. Mendayagunakan sumber daya alam (SDA) yang terbarukan
b. Mengelola SDA yang tidak terbarukan
c. Menjaga keamanan ketersediaan energi
d. Menjaga dan melestarikan sumber daya air
e. Mengembangkan potensi sumber daya kelautan
f. Meningkatkan nilai tambah atas SDA tropis yang unik dan khas
g. Memperhatikan dan menglola keragaman jenis SDA yang ada di tiap wilayah
h. Mitigasi bencana sesuai dengan kondisi geologi Indonesia
i. Mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan
j. Meningkatkan kapasitas pengelolaan SDA dan lingkungan hidup (LH)
k. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai LH

VII.

Pembangunan Negara Kepulauan


a. Membangkitkan wawasan dan budaya bahari
b. Meningkatkan dan menguatkan peranan SDM kelautan
c. Menetapkan wilayah NKRI, aset-aset, dan hal-hal yang terkait didalamnya, yang telah
digariskan oleh hukum laut UNCLOS 1982
d. Melakukan upaya pengamanan wilayah kedaulatan yurisdiksi dan aset NKRI
e. Mengembangkan industri kelautan
f. Mengurangi dampak bencana pesisir dan pencemaran laut
g. Meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin di kawasan pesisir

Tantangan
1. Tantangan Multikultural
Multikultural, berasal dari kata multi yang artinya banyak, kultural artinya
kebudayaan. Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa
macam komunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan
konsepsi mengenai dunia, suatu sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat
serta kebiasaan (Mengangkat fenomena yang ada dalam masyarakat Indonesia dengan
multikultural/budaya yang jamak), memiliki beragam suku, agama, dan ras. Namun masih
banyak menghadapi masalah dengan kejamakan budaya yang dimilikinya ini.
Pemahaman bahwa ada yang berbeda dan ada yang lain yang menjadi dasar bagi
multikulturalisme belum menjadi sebuah keumuman dalam masyarakat Indonesia. Hal ini
tentunya perlu pemahaman mendasar akan multikulturalisme dalam lingkup masyarakat
Indonesia.
Multikultualisme bisa dimaknai sebagai sebuah keyakinan bahwa individu-individu
dari berbagai kebudayaan secara tetap hidup berdampingan (living together) dengan
individu-individu lainnya yang memiliki perilaku, kebiasaan, kepercayaan dan
penampakan fisik yang benar-benar berbeda.
Namun, masyarakat multikultural bukannya tidak menemui masalah tersembunyi,
dikarenakan bisa terjadi disparitas dalam kebudayaan dan sumber daya yang akan
melahirkan ketidakpuasan dan konflik sosial. Di samping itu, potensi untuk berbenturan
semakin besar ketika perbedaan nasionalitas, etnisitas, dan ras timbul bersamaan dengan
perbedaan agama, posisi sosial, dan ekonomi.
Berkaca dari permasalahan tersebut, maka multikulturalisme menekankan
pentingnya belajar dan memahami kebudayaan lain secara simpatik. Dari pemahaman ini
diharapkan dapat tumbuh suatu apresiasi terhadap budaya yang berbeda tersebut, dalam
artian penilaian secara positif. Dengan apresiasi positif ini, maka kemudahan akses
terhadap sistem pengetahuan dan budaya baru dapat terjadi.
Tentunya

perlu

ada

sebuah

paradigma

mendasar

dalam

menghadapi

multikulturalisme, yang mana kita akan saling mengajak untuk menghargai kebudayaankebudayaan orang lain, namun tetap setia pada kebudayaan kita sendiri. Dalam artian kita

tidak hendak melakukan pencampurbauran budaya namun kita masih tetap loyal pada
budaya masing-masing dengan tetap menghargai kebudayaan lain.
2. Tantangan Militer dan Nonmiliter
2.1 Tantangan Militer
Globalisasi telah melahirkan perubahan hakekat ancaman yang semakin komplek,
tidak hanya ancaman konvensional/tradisional/militer semata, melainkan juga
ancaman non konvensional/non tradisional/non militer. Di era globalisasi saat ini,
setiap negara akan mengalami dan merasakan adanya dampak globalisasi berupa
lahirnya isu baru, yakni demokrasi, HAM dan perspektif ancaman baru yang muncul,
tanpa terkecuali Indonesia.
Sebagai negara yang memiliki posisi strategis dari sisi geografis, geopolitis dan
geo ekonomi, Indonesia menjadi incaran dari berbagai negara yang mempunyai
kepentingan terhadap sumber kekayaan alam yang melimpah, khususnya semenjak
era reformasi. Berbagai kelemahan Bangsa Indonesia telah dimanfaatkan pihak-pihak
tertentu. Persoalan politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan yang
marak setelah krisis ekonomi sangat mengancam eksistensi keutuhan Bangsa
Indonesia.
Menghadapi ancaman dan persoalan yang dihadapi bangsa dan negara, Tentara
Nasional Indonesia (TNI) dituntut mengembangkan kepemimpinan handal, kredibel
dan responsif terhadap tantangan tugas yang semakin berat. Dalam TNI dibutuhkan
kepemimpinan yang mampu menghadapi tantangan tugas di era globalisasi dimana
ancaman terhadap bangsa dan negara semakin komplek meliputi ancaman militer
maupun non militer.
Kepemimpinan yang dimaksud adalah:
a) Tipe kepemimpinan TNI ke depan harus memiliki sifat, karakter dan model
kepemimpinan yang disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis,
kondisi, situasi dan permasalahan yang dihadapinya, khususnya terkait dengan
tantangan tugas masa depan, yakni permasalahan menghadapi tuntutan dan
tantangan arus globalisasi.

b) Tidak ada satu pun tipe kepemimpinan TNI yang dapat mengatasi semua
hakekat ancaman yang sangat komplek dan muti dimensi, sehingga
mengancam keutuhan NKRI. Setiap tipe kepemimpinan TNI memiliki
kekuatan dan kelemahan. Oleh karena itu, kombinasi dan modifikasi dari
seluruh tipe kemimpinan TNI sudah selayaknya dimiliki oleh setiap pemimpin
TNI di masa mendatang.
c) Sedangkan tipe kepemimpinan TNI yang paling cocok untuk mengatasi
tantangan tugas TNI di masa depan adalah kombinasi dan modifikasi
kepemimpinan militeristis, demokrasi dan kolaboratif. Sehingga perlu
kesadaran dan pemahaman dari berbagai pihak bahwa jabatan dalam
pimpinan TNI adalah jabatan karier dan bukan jabatan politis sehingga
jangan sampai penempatan jabatan pada pimpinan TNI diintervensi oleh
kepentingan politik kelompok tertentu, khususnya DPR dan Partai Politik,
serta dipolitisir yang akhirnya merugikan citra dan integritas
.
2.2 Tantangan Non Militer
Tantangan dinamika kehidupan bangsa menuju tujuan nasional di era global
menghadapi berbagai kepentingan dan persaingan yang semakin luas dan terbuka,
karena lingkupnya tidak saja regional tetapi juga global. Tantangan ini jelas bukanlah
ancaman yang bersifat konvensional, persaingan dan tantangan global itu merupakan
ancaman nonmiliter yang tidak dapat dihadapi dengan kekuatan militer. Ancaman
nonmiliter adalah ancaman tidak menggunakan kekuatan bersenjata, yang dapat
melemahkan nilai-nilai, sendi-sendi dan tata kehidupan nasional dan/atau dinilai
memiliki kemampuan membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara,
dan keselamatan bangsa dalam mencapai tujuan nasional.
Untuk itu bangsa Indonesia dalam dinamika kehidupannya harus membangun
kekuatan di luar kekuatan militer, yang berada pada profesionalisme warga negara
dalam dinamika kehidupan, memanfaatkan sumber daya nasional yang mampu
menjamin tercapainya tujuan nasional. Kekuatan itu adalah kedudukan setiap warga
negara sebagai unsur kekuatan bangsa lainnya, yang dalam kedudukan dan profesi
terjiwai oleh jati diri dan moral bangsa. Unsur kekuatan bangsa adalah segenap
kemampuan yang dimiliki bangsa yang dapat didayagunakan untuk menghadapi

ancaman nonmiliter termasuk ancaman transnasional baik langsung maupun tidak


langsung.
Ancaman non militer ini terjadi khususnya di wilayah-wilayah perbatasan,
ancaman itu bisa berbentuk ideologi, politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Karena
itulah, TNI terus membangun kekuatan untuk menangkal dan akan membangun
kekuatan untuk suatu operasi militer dan nonmiliter.
Kekuatan itu antara lain dikeluarkannya arah kebijakan sistem pertahanan
negara yang pro kesejahteraan. Pertama, mengoptimalkan perhatian kepada
perumusan dan implementasi berbagai regulasi dan kebijakan pertahanan Negara.
Kedua, Dephan akan mengintensifkan peran industri pertahanan sebagai bagian
kekuatan ekonomi nasional untuk mendukung kebutuhan TNI dan instansi pemerintah
lainnya serta mampu memasok pasar luar negeri. Arah kebijakan lainnya
memantapkan soliditas dan kerjasama antara Kementerian Pertahanan dengan TNI
dan mengembangkan jaringan kerjasama lintas Kementerian, nonkementerian dan
simpul eksternal untuk tercapainya misi pertahanan negara dan mengembangkan pola
pengelolaan wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar.
Selain upaya-upaya yang dilakukan diatas, tidak kalah penting untuk menangkal
tantangan non militer yaitu melalui Pendidikan Kewarganegaraan. Kekuatan
Pendidikan kewarganegaraan bukanlah hanya mata pelajaran, tetapi adalah upaya
sadar terhadap warga negara agar dalam kedudukan dan profesionalismenya
berlandaskan pola pikir, sikap dan tindak yang dijiwai jati diri dan moral bangsa
menjadi kekuatan mewujudkan tujuan nasional. Dengan profesionalisme warga
negara yang dilandasi sikap dan moral kebangsaan serta dilandasi pemahaman politik
kebangsaan menjadikan warga negara sebagai unsur kekuatan bangsa karena tampilan
profesionalisme dilandasi jiwa patriotisme, cinta tanah air.
Dengan kerangka pemikiran demikian itu pendidikan kewarganegaraan dalam usia
dini dan berkelanjutan adalah upaya bersifat strategis dalam menjaga kelangsungan
hidup dan kejayaan bangsa Indonesia. Pendidikan kewarganegaraan dimaksud adalah
pendidikan kewarganegaraan dalam arti luas, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
dengan menumbuhkan kesadaran hak dan kewajiban warga negara dalam bela negara
yang dilandasi jati diri dan moral bangsa, demi kelangsungan kehidupan dan kejayaan
bangsa dan negara. Landasan sinergi itu diamanatkan Pasal 31 Ayat (3) UUD 1945

yang menyatakan bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu


sistem pendidkan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak
mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undangundang.
Pendidikan kewarganegaraan dalam sistem pertahanan negara dilaksanakan dalam
segenap aspek kehidupan melalui pendidikan formal, nonformal dan pendidikan
informal, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, dan pendidikan layanan
khusus. Pendidikan kewarganegaraanyang dilaksanakan dalam pendidikan formal
adalah bagian dari upaya pemerintah untuk secara dini mempersiapkan sistem
pertahanan negara bersifat semesta sehingga ia merupakan tahap awal pendidikan
kewarganegaraan, dan pendidikan kewarganegaraan di luar pendidikan formal
merupakan tahap lanjut pendidikan kewarganegaraan.
3. Tantangan Euforia Reformasi
Setelah kejatuhan pemerintahan Orde Baru (Orba) tahun 1998, muncul harapan kuat
akan timbulnya sebuah pemerintahan dengan tata kelola yang baik. Namun, kekecewaan
terhadap kenyataan yang terjadi, setelah reformasi berlangsung sembilan tahun,
memunculkan pertanyaan apakah ekspektasi rakyat memang terlalu tinggi atau memang
terjadi kesalahan mendasar dalam sistem pemerintahan kita. Ada kebenaran menyakitkan
(inconvenient truth) di era pascareformasi, yaitu kenyataan bahwa perekonomian
Indonesia tumbuh secara cepat dan konsisten selama tiga dekade pemerintahan Orba.
Justru tidak demikian halnya setelah Orba, apa yang salah dengan proses reformasi di
Indonesia?
Dalam bukunya, McLeod mengatakan, tantangan bagi masyarakat adalah
bagaimana mendesain sistem pemerintahan yang bisa menjamin kepentingan seluruh
masyarakat bisa didahulukan secara efektif, sedangkan interes pribadi pihak-pihak yang
berada dalam pemerintahan bisa diawasi. Esensi dari tata kelola pemerintahan yang baik
(good governance); yaitu terbangun sebuah mekanisme sampai ke level terbawah, di
mana mereka yang diberi otoritas bisa menjalankan mandat dari pihak yang telah
memberinya kepercayaan.
Sebagaimana diketahui bahwa di pasca reformasi, setiap orang/tokoh mengklaim
dirinya reformis dan siapapun tokoh yang anti reformasi akan tergusur atau dipeti-eskan

karier dan kesempatan politiknya. Bermunculanlah para reformis di belantara politik


negeri ini, euforia reformasi kala itu begitu gempita hingga hampir tak terbatas.
Kebebasan dalam berpendapat menjadi senjata untuk bermain-main dalam suasana
ketidak-pastian ranah politik,
Eforia Reformasi yang menjanjikan perbaikan dari rezim Orba dengan
pemberantasan KKN dan kebebasan berpendapat ternyata mulai berada titik klimaks
(perilaku korup masih tetap ada menyebar hingga ke daerah-daerah), gaung demokrasi
juga cuma dipenuhi oleh orang-orang tamak kekuasaan, bergaya pembela rakyat tetapi
sesungguhnya pembela ambisi-ambisi pribadi dan kelompoknya.
Reformasi yang seharusnya menjadi sarana peningkatan taraf hidup rakyat yang
berkeadilan sosial dengan menjunjung supremasi hukum ternyata hanya retorika belaka,
proses demokrasi lewat pemilu dan berbagai pilkada di daerah hanya untuk legitimasi
kekuasaan atas nama rakyat yang justru banyak mengabaikan kepentingan rakyat.
deklarasi pendirian partai politik yang bagai kacang goreng hingga beberapa daerah yang
mencoba-coba berteriak merdeka karena ada oknum tokoh asal daerahnya
terpinggirkan dari arena politik nasional itu telah terjadi.
Masih banyak ketidak-adilan hukum membelenggu rakyat, hukum hanya berlaku
untuk rakyat kecil. Perbaikan taraf hidup dengan pemekaran cuma dinikmati kelompokkelompok tertentu. Pendidikan bermutu masih tetap milik kaum berpunya, fasilitas
kesehatan yang baik cuma untuk mereka yang bisa membayar. Konspirasi demi
konspirasi tetap berjalan dengan modus, model dan gaya berbeda dari rezim sebelumnya.
Kebebasan berpendapat yang bergaun demokrasi juga telah menenggelamkan hati nurani,
ketika simbol-simbol tokoh pemimpin yang harusnya dihormati dijadikan bahan parodi
bak di negeri mimpi. Tiada lagi kewibawaan seorang pemimpin, tiada lagi nurani
kemanusiaan ketika seorang lemah harus duduk menjadi terdakwa di pengadilan
(Pengadilan seorang nenek tersangka pencurian, rekayasa hukum pemulung dll).
Eforia reformasi seperti disebutkan diatas menjadi motivasi bagi semua pihak
bahwa harus ada yang dilakukan oleh semua pihak. Hal te tersebut kita sebut sebagai
tantangan eforia reformasi, diantaranya adalah:

a.

Reformasi birokrasi
Salah satu unsur penting dalam menciptakan good governance adalah
dengan mereformasi birokrasi. Terdapat dua faktor kunci memperbaiki kinerja
birokrasi,

yaitu

dengan

meningkatkan

transparansi

dan

memperkuat

akuntabilitas Dan kaitannya dengan akuntabilitas, hal yang disorot pertama


adalah tradisi di Indonesia yang memisahkan antara penyusunan kebijakan
(policy making) dan penyusunan anggaran (budgeting). Seringkali perubahan
kebijakan, standar kinerja, pengeluaran, diatur melalui jalur administratif, tanpa
terkait dengan anggaran, sehingga implementasi kebijakan sering tak sesuai
dengan perencanaan.
b.

Sistem politik yang demokratis


Selain birokrasi, partai politik juga memegang peranan sangat penting dalam
sistem politik yang demokratis. Untuk mencegah munculnya perpecahan
kelompok etnis ataupun regional di masyarakat, sebuah partai diharuskan
memiliki perwakilan yang layak di seluruh Indonesia. Hanya saja perlu kehatihatian, karena bila kelompok-kelompok etnis atau agama, tak mampu bersaing
melalui cara-cara demokratis, dikhawatirkan mereka akan mencari jalan lain
untuk mencapai tujuannya.

c.

Upaya pemberantasan korupsi


Upaya ini membutuhkan komitmen politik dari rakyat dan pemerintah.
Korupsi harus dihadapi semua warga negara dan didukung reformasi birokrasi
yang terus menerus. Namun, dalam upaya pemberantasan korupsi itu, ekspektasi
masyarakat kerap berlebihan sehingga menjadi kontraproduktif, misalnya apa
yang dilakukan organisasi pemberantasan korupsi dianggap tidak pernah cukup.
Padahal sikap berlebihan yang cenderung menyudutkan langkah-langkah
pemberantasan korupsi di sisi lain justru membuka ruang para koruptor untuk
menyerang balik.

d.

Desentralisasi
Semangat desentralisasi hakekatnya adalah meningkatkan partisipasi dan
peran serta masyarakat dalam pembangunan dan lebih mendekatkan kepada
sentra pelayanan masyarakat. Kenyataannya, otonomi daerah seolah disikapi
sebagai pelimpahan kesewenang-wenangan oleh pusat kepada daerah., sehingga

muncul eforia baru dalam mengimplementasikan desentralisasi. Di beberapa


daerah, pelaksanaan otonomi memunculkan eforia antara lain berupa korupsi
masal, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan tanpa memperhatikan
keseimbangan ekosistem. Kejahatan Illegal logging, illegal mining, illegal
fishing semakin marak, semakin meningkatkan kompleksitas tantangan tugas
POLRI.
Meskipun terdapat pandangan bahwa kemajuan berjalan lambat di
Indonesia, namun Sejumlah kemajuan positif telah terjadi selama sembilan
tahun reformasi: tingkat korupsi turun, pelayanan publik membaik, kebebasan
berekspresi terjamin. Artinya, sebagian kecil hal yang dijanjikan pada awal
reformasi telah terlaksana meskipun masih terlihat kelemahan di sana-sini. Dan
Indonesia masih dalam proses belajar untuk beradaptasi dengan persoalan
akuntabilitas dan transparansi.
4. Tantangan Globalisasi
Globalisasi merupakan fakta yang tidak bisa terbendung dan ini bukan gejala baru.
Fenomena ini memang semakin terasa beberapa dekade terakhir, berkat semakin majunya
teknologi transportasi dan komunikasi Argumen-argumen pro dan kontra globalisasi telah
habis dikupas namun yang pasti ancaman globalisasi terhadap kepentingan nasional
memang begitu menakutkan hingga beberapa negara saat ini, seperti Korea Utara dan
Kuba, secara efektif mengisolasi diri. Bahkan di negara-negara industri maju pun, banyak
segmen masyarakat yang khawatir terhadap ancaman globalisasi perekonomian terhadap
kepentingan mereka. Di Amerika Serikat, lobi industri pertanian sangat kuat untuk
melakukan proteksi, mungkin belajar dari pengalaman penduduk asli, kaum Indian, yang
punah menjadi korban pertama dari gelombang globalisasi.
Di Indonesia perdebatan mengenai dampak negatif dari globalisasi serta pengaruh
dan dominasi asing semakin menghangat, terutama mengenai pengaruh IMF dalam krisis
ekonomi, dan dominasi perusahaan-perusahaan asing pada industri-industri strategis
seperti perbankan, telekomunikasi, pertambangan serta minyak dan gas bumi.
Namun demikian, suka atau tidak suka, globalisasi adalah fakta yang harus
dihadapi. Belum pernah dalam sejarah terdapat suatu negara yang mampu secara
konsisten menghadapi globalisasi dengan menutup diri. Isolasi hanya mengakibatkan
terhambatnya pertukaran gagasan dan teknologi yang mengakibatkan kemunduran. Cina

merupakan contoh paling klasik. Politik isolasi China dimulai ketika teknologi navigasi
kelautan dipandang mulai memberikan ancaman sebagai sumber masuknya pengaruh
asing. Namun pada akhir abad ke-19 China yang lemah dalam hal teknologi dan ekonomi
tidak mampu menahan penggerogotan yang dilakukan kekuatan-kekuatan asing.
Jepang menutup diri setelah misi dagang Eropa dipandang mulai melakukan
aktifitas-aktiftas yang mengancam kepentingan nasional, namun 200 tahun kemudian
pada pertengahan abad ke-19 sekelompok kecil kapal Angkatan Laut Amerika Serikat
berhasil memaksa Jepang yang ketinggalan jaman untuk membuka diri terhadap
perdagangan global. Secara alamiah masyarakat memiliki kebutuhan untuk berinteraksi,
dan berkompetisi. Politik isolasi menghambat proses alamiah tersebut.
Jadi kunci sebenarnya bukanlah menghindari globalisasi namun mengelola
tantangan yang dibawa oleh globalisasi. Namun memang demikian yang terjadi. Jelas
terdapat banyak negara dan masyarakat yang hancur dan terbelenggu oleh dominasi asing
yang dibawa oleh globalisasi, namun banyak juga yang dengan cerdik mengambil
manfaat dan berhasil berjuang menghadapinya. Jepang, Korea Selatan, Singapura dan
Taiwan, misalnya, adalah negara-negara yang dikuasai dan dimanfaatkan, kalau tidak
bisa disebut sebagai sekutu oleh Amerika Serikat dan kekuatan barat lainnya. Namun
negara-negara ini mampu memanfaatkan kedekatan mereka dengan Amerika Serikat
untuk membangun fondasi ekonomi dan teknologi yang solid untuk kepentingan mereka
sendiri. Bandingkan dengan Indonesia, Pakistan dan Filipina misalnya, yang juga
merupakan sekutu Amerika Serikat dalam perang dingin, namun tetap mengalami
kebangkrutan. Dominasi dan intervensi asing dalam berbagai aspek kehidupan di
berbagai negara merupakan sesuatu yang secara alamiah pasti terjadi. Dan di banyak
negara bentuk-bentuk intervensi tersebut bahkan mungkin jauh lebih tinggi intensitasnya.
Jepang merupakan contoh yang sangat tepat. Menjadi musuh Amerika Serikat dalam
Perang Dunia kedua, kalah, dijajah selama enam tahun, Jepang mampu menjadi
superpower ekonomi dalam waktu cukup singkat. Pada tahun 1985 ketika Amerika
Serikat merasa produk-produk otomotif Jepang mulai mengancam industrinya, Jepang
dipaksa menerima Plaza Accord yang menaikkan nilai tukar Yen, dan mengakibatkan
harga produk-produk Jepang menjadi luar biasa mahal. Industri otomotif Jepang bereaksi
dengan memindahkan pabrikasi mereka ke negara-negara lain (termasuk ke Amerika
Serikat) dan memperkuat integrasi regional untuk menghindari biaya tinggi. Tidak sampai

satu dekade kemudian Jepang justru berhasil mendominasi perekonomian Amerika,


bahkan juga menguasai sektor-sektor yang strategis dan prestigius seperti properti, media
dan hiburan.
Contoh lain adalah China dan India. China tetap merupakan musuh ideologis
Amerika Serikat, namun tidak menghalanginya untuk membangun diri menjadi
superpower ekonomi yang baru. Sebagai sekutu dekat Uni Sovyet selama perang dingin,
India jelas mengalami pembalasan dendam setelah berakhirnya perang dingin yang
dimenangkan Amerika Serikat. Namun hal tersebut tidak menghalangi India untuk
mengembangkan industri teknologi informasi yang menjadi motor penggerak
pertumbuhan ekonominya.
Pada industri minyak dan gas yang seringkali disebut sebagai contoh yang sangat
relevan dalam hal penguasaan asing juga terdapat beberapa contoh di mana negara-negara
berkembang mampu mengembangkan industri dan perusahaan nasionalnya di tengah
tekanan globalisasi. Malaysia, Brazil dan Norwegia merupakan beberapa contoh negara
yang mampu mempertahankan penguasaan mereka dalam industri minyak, dan gas
nasional, bahkan mengembangkan perusahaan-perusahaan nasional mereka ke skala
global, dengan berupaya mengatasi tantangan-tantangan pasar bebas yang dipaksakan
oleh proses globalisasi.
Globalisasi dan pengaruh asing sudah menjadi kekuatan alamiah yang
mempengaruhi semua masyarakat di muka bumi, sesuatu yang tidak mungkin dihindari.
Pilihan yang tersedia hanyalah menghadapinya dengan cermat. Pengaruh asing dapat
dianalogikan sebagai virus yang menakutkan, namun selama ketahanan nasional sebagai
sistem kekebalan tubuh cukup kuat, virus tersebut seharusnya tidak menjadi kekuatan
yang mengancam. Polemik dan retorika tidak membantu menciptakan daya saing yang
diperlukan untuk terwujudnya Kebangkitan Nasional.
Tidak perlu paranoid dan rendah diri, Indonesia beberapa kali pernah menelurkan
gagasan-gagasan besar sebagai jawaban atas tantangan globalisasi. Indonesia merupakan
negara pertama yang memproklamasikan kemerdekaannya, setelah Perang Dunia kedua
berakhir dan merupakan penggagas berdirinya Gerakan Non Blok pada masa perang
dingin. Indonesia juga merupakan penggagas sistem bagi hasil dalam industri minyak dan
gas sebagai alternatif terhadap sistem konsesi, yang dianggap sebagai bentuk
kolonialisme baru. Kelemahan-kelemahan yang terjadi dalam implementasi gagasan-

gagasan besar tersebut seharusnya dapat menjadi pemacu semangat dalam melakukan
perencanaan strategi, dan konsolidasi yang lebih baik dalam peningkatan kemampuan
untuk menghadapi tantangan globalisasi.
Globalisasi tidak dapat dihindari mau tidak mau suka tidak suka, semua negara
mengalaminya, termasuk Indonesia. Lalu apa yang harus diupayakan oleh negeri ini, dua
hal besar yang bisa dilakukan disebut sebagai Tantangan Globalisasi:
1)

Perkembangan ekonomi regional di kawasan Asia Timur dan Asia Selatan


yang pesat dengan tumbuhnya raksasa ekonomi global di masa depan, seperti
Cina

dan

India,

merupakan

salah

satu

fokus

utama

yang

perlu

dipertimbangkan secara cermat di dalam menyusun pengembangan struktur


dan daya saing perekonomian nasional.
2)

Dengan demikian, integrasi perekonomian nasional ke dalam proses


globalisasi dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dan sekaligus dapat
meminimalkan dampak negatif yang muncul.