Anda di halaman 1dari 17

TBC USUS

Oleh:
Charles Hasudungan Siregar
Pembimbing:
Dr Suryadi Soedarmo Sp.B

BAB I
PENDAHULUAN

Terima kasih saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatnya
saya dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Terima kasih juga kepada dr Suryadi
Soedarmo sebagai pembimbing referat saya yang telah dengan susah payaj mengarahkan saya
untuk mengetahui lebih dalam mengenai ilmu bedah. Saya berharap laporan ini dapat berguna
untuk saya dan teman-teman saya kedepannya.
Saya mengetahui bahwa masih ba yak kekurangan dalam laporan ini, jika ada sesuatu
yang tidak berkenan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhir kata saya ucapkan
terima kasih.

Penulis

BAB II
ANATOMI FISIOLOGI
Peritoneum
Peritoneum ialah membran serosa rangkap yang terbesar di dalam
tubuh. Peritoneum terdiri artas dua bagianutama, yaitu peritoneum
parietal, yang melapisi dinding rongga abdominal, dan peritoneum
visceral, yang melapisi semua organ yang berada di dalam rongga
abdomen.
Ruang yang berada diantara dua lapisan ini disebut ruang
peritonial atau kantong peritoneum. Banyak lipatan atau kantong
terdapat di dalam peritoneum; sebuah lipatan besar atau omentum
mayor yang kaya akan lemak, bergantungan di sebelah depan
lambung, lipatan kecil (omentum minor) berjalan dari porta hepatica
setelah menyelaputi hati ke bawah, ke kurvatura minor lambung dan
disini bercabang untuk menyelaputi lambung ini. Kolon juga terbungkus
oleh peritoneum ini, kemudian berjalan ke atas dan berbelok ke
belakang sebagai meso-kolon kea rah dinding posterior abdomen.
Sebagian dari dari peritoneum ini membentuk mesentrium usus halus.
Omentum besar dan kecil, mesentrium usus halus dan mesokolon,
semua memuat penyaluran darah vaskuler dan limfe dari organ-organ
yang diselaputinya.
Fungsi peritoneum adalah menutupi sebagian besar dari organorgan abdomen dan pelvis, membentuk perbatasan halus yang
memungkinkan organ saling bergeseran tanpa ada pergesekan. Organorgan digabungkan bersama dan menjaga kedudukan organ-organ
tersebut tetap, dan mempertahankan hubungan perbandingan organorgan terhadap dinding posterior abdomen. Sejumlah besar kelenjar
limfe dan pembuluh darah yang termuat dalam peritoneum, membantu
melindunginya terhadap infeksi.

Rongga abdomen
Abdomen ialah rongga terbesar di dalam tubuh. Bentuknya
lonjong dan meluas dari atas diafragma sampai pelvis di bawah.
Rongga abdomen dibagi menjadi dua bagian, yaitu rongga sebelah
atas yang lebih besar, dan pelvis yaitu rongga sebelah bawah dan lebih
kecil.
Batas-batas abdomen diatas diafragma. Di bawah pintu rongga
masuk panggul, dari panggul besar di depan dan di kedua sisi, otototot abdominae, tulang- tulang aliaka da iga-iga sebelah bawah. Di
belakang tulang punggung dan otot psoas dan kuadratus lumborum.
Isi abdomen sebagian besar dari saluran pencernaan yaitu
lambung, usus halus dan usus besar.
Pembuluh limfe dan kelenjar, urat saraf, peritoneum dan lemak
juga di jumpai di dalam rongga ini.
1) Lambung
Fungsi lambung adalah :
a) menerima makanan dan bekerja sebagai sebagai penampung
untuk jangka waktu pendek
b) semua makanan dicairkan dan dicampurkan dengan asam
hidroklorida. Dan dengan cara ini disiapkan untuk dicernakan
oleh usus
c) protein diubah menjadi peptone
d) susu dibekukan dan kasein dikeluarkan
e) pencernaan lemak dimulai di dalam lambung
f) khime, yaitu isi lambung yang cair disalurkan masuk duodenum.
2) Usus halus
Usus halus adalah bagian saluran pencernaan diantara
lambung dan usus besar. Usus halus panjang, tube yang berliku-liku

yang memenuhi sebagian besar rongga abdomen. Usus halus terdiri


dari : duodenum, yeyunum dan ileum.
a) Duodenum
Duodenum adalah tube yang berbentuk C, dengan panjang kirakira 25 cm, pada bagian belakang abdomen, melengkung
melingkari pancreas.
b) Yeyunum dan ileum
Yeyunum merupakan bagian pertama dan illem merupakan
bagian kedua dari saluran usus halus. Semua bagian usus
tersebut mempunyai panjang yang bervariasi mulai dari 300 cm
sampai dengan 900 cm.
Usus halus mempunyai dua fungsi utama yaitu pencernaan
dan absorpsi bahan-bahan nutrisi dan air. Proses pencernaan
dimulai dari dalam mulut dan lambung oleh kerja ptyalin, asam
klorida

dan

pepsin

terhadap

makanan

yang

masuk.

Proses

dilanjutkan dalam duodenum terutama oleh enzim-enzim pancreas


yang menghidrolisis karbohidrat meliputi glukosa, maltosa dan
galaktosa, lemak menjadi asam dan gliserol (dengan bantuan
garam empedu pada keluaran empedu ke dalam duodenum oleh
kontraksi kelenjar empedu) serta protein menjadi asam amino.
Proses pencernaan disempurnakan oleh beberapa enzim
dalam getah usus (sukus enterikus). Enzim-enzim ini terdapat pada
brush bovaer vili dan mencernakan zat-zat makanan sambil
diabsorpsi.

PERITONITIS TUBERKULOSIS
(TBC USUS)
Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan utama di negara berkembang, disebabkan
oleh

paparan

terhadap

Mycobacterium

tuberculosis

(Mtb).Ekstra

paru

tuberkulosis (TBEP) telah membuat kontribusi yang besar bagi beban TB, terutama sejak
munculnya human immunodeficiency virus (HIV), dan TB limfadenitis (TBL) adalah bentuk
yang paling umum dari suatu Ekstra paru tuberkulosis (TBEP). Studi menunjukkan bahwa
infeksi dengan Mycobacterium bovis (Mb) terutama menyebabkan TBEP, terutama TBL,
sementara konsumsi susu mentah memainkan peran utama dalam Mb infeksi pada manusia.
Menurut laporan WHO, Ethiopia berada di peringkat 7 di antara 22 negara di seluruh dunia
dengan beban TB yang tinggi, dan 3 dalam hal jumlah kasus TBEP.
Di indonesisa tuberkulosis (TB) merupakan masalah utama kesehatan masyarakat di
Indonesia. Jumlah penderita TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak setelah negara India
dan Cina dengan jumlah sekitar 10% dari total jumlah penderita Tb di dunia. Diperkirakan
setiap tahun terdapat 539.000 kasus baru dengan jumlah kematian sekitar 100.000. insiden
kasus TB basil tahan asam (BTA) positif sekitar 110 dari 100.000 penduduk. Munculnya
pandemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) / Acquired Immunodeficiency Virus (AIDS)
didunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi HIV dengan TB akan meningkatkan resiko
kejadian TB secara signifikan.
Tuberculosis peritoneal merupakan suatu peradangan peritoneum parietal atau
visceral yang disebabkan oleh kuma Mycobacterium tuberculosis, dan terlihat penyakit ini
juga sering mengenai seluruh peritoneum, alat-alat system gastrointestinal, mesenterium dan
organ genital interna. Penyakit ini jarang berdiri sendiri dan biasanya merupakan kelanjutan

proses tuberkulosa dari tempat lain terutama dari tuberkulosa paru, namun sering ditemukan
bahawa pada waktu diagnose ditegakkan proses tuberkulosa di paru sudah tidak kelihatan
lagi. Hal ini bisa terjadi keranan proses tuberkulosa di paru mungkin sudah menyembuh
terlebih dahulu sedangkan penyebarannya masih berlangsung di tempat lain.
Di negara yang sedang berkembang peritonitis tuberkulosis masih sering dijumpai termasuk
di Indonesia, sedangkan di Amerika dan negara Barat lainnya walaupun sudah jarang ada
kecenderungan meningkat dengan meningkatnya jumlah penderita AIDS dan Imigran. Kerana
perjalanan penyakitnya yang berlangsung perlahan-lahan dan sering tanpa keluhan atau
gejala yang jelas maka diagnose sering tidak terdiagnosa atau terlambat ditegakkan. 3 Tidak
jarang penyakit ini mempunyai keluhan menyerupai penyakit lain seperti sirosis hati atau
neoplasma dengan gejala asites yang tidak terlalu menonjol.

Definisi
Peritonitis tuberculosis adalah peradangan peritoneum yang disebabkan oleh kuman
mycobacterium tuberculosis. Biasanya merupakan kelanjutan proses tiuberculosis di tempat
lain, terutama paru-paru (Soeparwan, 1990: 662). Penyakit ini merupakan tuberculosis yang
jarang, namun demikian merupakan salah satu penyebab peritonitis yang penting. Karena
perjalanan penyakitnya perlahan-lahan, serta gejalanya yang tidak jelas, sering kali penyakit
ini dikira sebagai neoplasma atau asites karena sirosis hati. Secara primer dapat terjadi karena
penyebaran dari focus di paru, intestin atau saluran kemih.

Etiologi
Penyebab dari Peritonitis Tuberculosis adalah mycobacterium tuberculosis. Pada
umumnya peritonitis tuberculosis merupakan keadaan akibat adanya proses tuberculosis di
tempat lain, terutama paru-paru. Namun demikian, sering juga dilaporkan bahwa sewaktu
diagnosis peritonitis tuberculosis ditegakkan ternyata proses tuberculosis di paru sudah
menyembuh atau tidak ada lagi. Hal ini mungkin terjadi oleh karena proses tuberculosis di
paru dapat menyembuh dengan sendirinya walaupun sebenarnya di tempat lain masih
terdapat penyebaran.
Pada kebanyakan kasus peritonitis tuberculosis, penyebarannya tidak secara langsung
berlanjut (kontinu) dari alat sekitarnya, tetapi lebih sering disebabkan karena reaktivitas
proses laten yang terdapat di peritoneum yang diperoleh sewaktu terjadi penyebaran

hematogen dari proses primer terdahulu. Oleh karena itu pulalah banyak kasus peritonitis
tuberculosis tanpa ditemui ada kelainan di paru-paru Sebaliknya bisa juga terjadi peritonitis
tuberculosis pada kejadian penyebaran hematogen atau proses tuberculosis milier. Pada
sebagian kecil selain terjadi melalui penyebaran hematogen dapat juga melalui penyebaran
langsung tuberculosis usus, tuberculosis alat genitalia interna atau akibat pecahnya kelenjar
linfe mesentrium yang mengalami perkijauan.

Epidemiologi
Peritonitis tuberkulosis lebih sering dijumpai pada wanita dibanding pria dengan
perbandingan 1.5:1 dan lebih sering pada decade ke 3 dan 4. Peritonitis tuberkulosis dijumpai
2% dari seluruh tuberculosis paru dan 59.8% dari tuberculosis abdominal. 5 Di Amerika
Serikat penyakit ini adalah ke-6 terbanyak di antara penyakit TB extra-paru sedangkan
penelitian lain menemukan hanya 5-20% dari penderita tuberculosis peritoneal yang
mempunyai TB paru yang aktif. Pada saat ini dilaporkan bahawa kasus tuberculosis
peritoneal di negara maju semakin meningkat dan peningkatan ini sesuai dengan
meningkatnya insiden AIDS di negara maju.
Di Asia dan Afrika yang dimana kasus tuberculosis masih merupakan suatu masalah
masyarakat dan sangat banyak dijumpai, peritonitis tuberculosis masih merupakan masalah
yang penting. Daldiono dengan cara laparoskopi menemukan sebanyak 15 kasus di RSCM
Jakarta selama periode 1968-1972 sedangkan di Medan Zain Lh melaporkan ada 8 kasus
selama periode 1993-1995.

Patogenesis
Peritoneum dapat dikenai oleh tuberculosis melalui beberapa cara:
1. Melalui penyebaran hematogen terutama dari paru-paru
2. Melalui sputum TB aktif yang tertelan
3. Melalui dinding usus yang terinfeksi
4. Dari kelenjar limfe ynag terinfeksi
5. Melalui tuba falopi yang terinfeksi

Peritonitis tuberkulosa terjadi bukan sebagai akibat penyebaran perkontinuitatum tapi sering
kerana reaktifasi proses laten yang terjadi pada peritoneum yang diperoleh melalui
penyebaran hematogen preses primer terdahulu ( infeksi laten Dorman infection). Seperti
diketahui lesi tuberkulosa biasa mengalami supressi dan menyembuh. Infeksi masih dalam
fase laten selama hidup namun infeksi tadi bisa berkembang menjadi tuberkulosa pada setiap
saat, jika organism intarselluler tadi mulai bermutiplikasi secara cepat.

Patologi
Terdapat 3 bentuk peritonitis tuberkulosa.
1. Bentuk eksudatif
Bentuk ini dikenal juga sebagai bentuk yang basah atau bentuk asites yang banyak, gejala
yang menonjol adalah perut membesar dan berisi cairan (asites). Pada bentuk ini
perlengketan tidak banyak dijumpai. Tuberkel sering dijumpai kecil-kecil berwarna putih
kekuningan milier, Nampak tersebar di peritoneum atau pada alat-alat tubuh yang berada di
rongga peritoneum. Disampaing partikel yang kecil-kecil yang dijumpai tuberkel lebih besar
sampai sebesar kacang tanah. Disekitar tuberkel terdapat reaksi jariangan peritoneum berupa
kongesti pembuluh darah. Eksudat dapat terbentuk cukup banyak, menutupi tuberkel dan
peritoneum sehingga merubah dinding perut menjadi tegang. Cairan asites kadang-kadang
bercampur darah dan kelihatan kemerahan sehingga mencurigakan kemungkinan adanaya
keganasan. Omentum dapat terkena sehingga terjadi penebalan dan teraba seperti benjolan
tumor.
2. Bentuk adhesif
Disebut juga sebagai bentuk kering atau plastic dimana cairan tidak banyak dibentuk. Pada
jenis ini lebih banyak terjadi perlengketan. Perlengketan yang luas antara usus dan
peritoneum sering memberikan gambaran seperti tumor, kadang-kadang terbentuk fistel. Hai
ini disebabkan kerna perlengketan dinding usus dan peritoneum parietal yang kemudiannya
timbul proses nekrosis. Bentuk ini sering menimbulkan keadaan ileus obstruksi. Turberkeltuberkel biasanya lebih besar.
3. Bentuk campuran

Bentuk ini kadang-kadang disebut juga kista, pembengkakan kista terjadi melalui proses
eksudasi bersama-sama dengan adhesi sehingga terbentuk cairan dalam kantong-kantong
perlengketan tersebut.
Beberapa penulis menggangap bahawa pembahagiaan ini lebih bersifat untuk melihat tingkat
penyakit, dimana pada mulanya terjadi bentuk eksudatif dan kemudian bentuk adhesive.
Pemberian histopatologi jaringan bipsi peritoneum akan memperlihatkan jaringan granulasi
tuberkulosa yang terdiri dari sel-sel epitel dan sel datia Langerhans, dan pengkejuan
umumnya ditemukan.

Gejala klinis
Gejala klinis bervariasi, pada umumnya keluhan dan gejala timbul perlahan-lahan
sampai berbulan-bulan, sering pendrita tidak menyadari keadaan ini. Pada penelitian yang
dilakukan di RSCM lama keluhan berkisar dari 2 minggu s/d 2 tahun dengan rata-rata lebih
dari 16 minggu. Keluhan terjadi secara perlahan-lahan sampai berbulan-bulan disertai nyeri
perut, pembengkakan perut, disusul tidak nafsu makan, batuk dan demam. Pada tipe plastic
sakit perit lebih terasa dan muncul manifestasi seperti obstruksi.
Tabel 1. Keluhan pasien peritonitis tuberkulosis menurut beberapa penulis
Keluhan

Sulaiman A

Sandikci

Manohar dkk

30 pasien

135 pasien

45 pasien

Sakit perut

%
57

%
82

%
35.9

Pembengkakan perut

50

96

73.1

Batuk

40

Demam

30

69

53.9

Keringat malam

26

Anoreksia

30

73

46.9

Berat badan menurun

23

80

44.1

Mencret

20

Pada pemeriksaan fisik gejala yang sering dijumpai adalah asites, demam,
pembengkakan perut, nyeri perut, pucat dan kelelahan, tergantung lamanya keluhan. Keadaan
umum pasien bisa masih cukup baik sampai keadaan kurus dan kahexia, pada wanita sering
dijumpai peritonitis tuberkulosis disertai oleh proses tuberculosis pada ovarium atau tuba,
sehingga pada alat genital bisa ditemukan tanda-tanda peradangan yang sering sukar
dibedakan dengan kista ovari.

Tabel 2 : pemeriksaan jasmani pada 30 penderita peritonitis tuberkulosa di rumah


sakit Dr.Cipto mangunkusumo Jakarta
Gejala
Pembengkakan perut dan nyeri
Asites
Hepatomegali
Ronchi pada paru (kanan)
Pleura efusi
Splenomegali
Tumor intra abdomen
Fenomena papan catur
Limfadenopati
Terlibatnya pleura dan paru

Persentase %
51
43
43
33
27
30
20
13
13
63 ( atas dasar foto thorax)

Diagnosis
Diagnosa peritonitis tuberkulosis ditegakkan sama halnya seperti penegakkan
diagnosa penyakit-penyakit yang lain yaitu harus meliputi dari temuan dalam anamnesa,
pemeriksaan fisik, dan dibantu oleh beberapa hasil dari pemeriksaan penunjang.
Paustian in 1964 menyatakan untuk menegakkan diagnosa peritonitis tuberkulosis
satu atau lebih dari empat criteria ini harus terpenuhi: (i) adanya bukti histologi tuberkel
dengan nekrosis caseation; (ii) hasil biopsi yang bagus dari kelenjar getah bening mesenterika
menunjukkan adanya tuberculosis; (iii) kultur atau biakan pada binatang percobaan
menemukan pertumbuhan M. tuberculosis; (iv) hasil pemeriksaan histology menemukan
bateri tahan asam pada lesi.
Pemeriksaan penunjang

Laboratorium
Pemeriksaan darah tepi sering dijumpai adanya anemia penyakit kronis, leukositosis
ringan ataupun leucopenia, trombositosis, gangguan faak hati dan sering dijumpai laju endap
darah (LED) yang meningkat, sedangkan pada pemeriksaan tes tuberculin hasilnya sering
negatif.2,10 Pada pemeriksaan analisa cairan asites umumnya memperlihatkan eksudat dengan
protein > 3 gr/dl jumlah sel diatas 100-300 sel/ml. Biasanya lebih dari 90% adanya
peningkatan limfosit LDH.9,11 Cairan asites yang perulen dapat ditemukan begitu juga cairan
asites yang bercampur darah ( serosanguinous). Pemeriksaan basil tahan asam (BTA) didapati
hasilnya kurang dari 5% yang positif dan dengan kultur cairan ditemukan kurang dari 20%
hasilnya positif.
Ada beberapa peneliti yang mendapatkan hampir 66% kultur BTAnya positif dan akan
lebih meningkat lagi sampai 83% bila menggunakan kultur cairan asites yang telah
disentrifugekan dengan jumlah cairan lebih dari 1 liter. Dan hasil kultur cairan asites ini dapat
diperoleh dalam waktu 4-8 minggu.3,11 Perbandingan glukosa cairan asites dengan darah pada
peritonitis tuberculosis < 0.96 sedangkan pada asites dengan penyebab lain rationya >0.96.1
Perbandingan serum asites albumin (SAAG) pada peritonitis tuberculosis ditemukan
rationya <1.1 gr/dl namun hal ini juga bisa terjadi pada keadaan keganasan, sindroma

nefrotik, penyakit pancreas, kandung empedu atau jaringan iakt sedangkan bila ditemukan
>1.1 gr/dl ini merupakan cairan asites akibat hipertensi portal. Penurunan pH cairan asites
dan peningkatan kadar laktat dapat dijumpai pada peritonitis tuberculosis dan berbeda dengan
cairan asites pada sirosis hepatis yang steril, namun pemeriksaan pH dan kadar laktat cairan
acites ini kurang spesifik dan belum merupakan suatu kepastian jerna hal ini juga dijumpai
pada kasus asites oleh kerna keganasan atau spontaneous bacterial peritonitis.
Pemeriksaan lain adalah pemeriksaan CA-125. CA-125 ( cancer antigen 125)
termasuk tumor associates glycoprotein dan terdapat pada permukaan sel. CA-125
merupakan antigen yang terkait dengan karsinoma ovarium, antigen ini tidak ditemukan pada
ovarium orang dewasa normal, namun CA-125 ini dilaporkan juga meningkat pada keadaan
benigna dan maligna, dimana kira-kira 80% meningkat pada wanita dengan keganasan
ovarium, 26% pada trimester pertama kehamilan, menstruasi, endometriosis dll juga pada
kondisi bukan keganasan seperti gagal ginjal kronik, penyakit autoimun, sirosis hepatis,
peradangan peritoneum seperti tuberc\kulosis, pericardium dan pleura. Zain LH di Medan
pada tahun 1996 menemukan dari 8 kasus peritonitis tuberculosis dijumpai kadar CA-125
meninggi dengan kadar rata-rata 370.7 u/ml dan menyimpulkan bila dijumpai peninggian
serum CA-125 disertai dengan cairan asites yang eksudat, jumlah sel >350/m3, limfosit yang
dominan maka peritonitis tuberculosis dapat dipertimbangkan sebagai diagnosa.
Pemeriksaan Rongten
Tampak gambaran tuberculosis paru pada foto x-ray dada dapat mendukung diagnosa
namun foto x-ray dada normal tidak dapat menyingkirkan kemungkinan diagnosa peritonitis
tuberculosis. Sharma dkk melakukan kajian terhadap 70 kasus peritonitis tuberculosis
mendapatkan terdapat sebanyak 22 kasus (46%) penderita mempunyai aktif lesi atau bekas
lesi tuberculosis pada rontgen dadanya. Pemeriksaan rongten pada sistem pencernaan
mungkin dapat membantu jika didapat kelainan usus kecil atau usus besar seperti terlihatnya
gambaran obstruksi.
Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaaan USG dapat dilihat adanya cairan dalam rongga peritoneum yang
bebas atau terfiksasi ( dalam bentuk kantong-kantong) menurut Rama & Walter B, gambaran
USG tuberculosis yang sering dijumpai antara lain cairan yang bebas atau terlokalisasi dalam
rongga abdomen, abses dalam rongga abdomen, massa di daerah ileosaecal dan pembesaran

kelenjar limfe retroperitoneal, adanya penebalan mesentrium, perlengketan lumen usus dan
penebalan omentum, mungkin bisa dilihat dan harus diperiksa dengan seksama.
CT Scan
Pemeriksaan CT Scan untuk peritonitis tuberculosis tidak ada ditemui suatu gambaran
yang khas, namun secara umum ditemui adanya gambaran peritoneum yang berpasir dan
untuk pembuktiannya perlu dijumpai bersamaan dengan adanya gejala klinis dari peritonitis
tuberculosis. Rodriguez E dkk yang melakukan suatu penellitian ang membandingkan
peritonitis tuberculosis dengan peritoneal karsinoma dengan melihat gambaran CT Scan
terhadap peritoneum parietalis mendapatkan, adanya gambaran peritoneum yang licin dengan
penebala yang minimal dan pembesaran yng jelas menunjukkan suatu peritonitis tuberculosis
sedangkan adanya nodul yang tertanam dan penebalan peritoneum yang teraktur
menunjukkan peritoneal karsinoma.
Peritonoskopi ( Laparoskopi)
Laparoskopi merupakan cara yang relative aman, mudah dan terbaik untuk
mendiagnosa peritonitis tuberculosis terutama bila ada cairan asites dan sangat berguna untuk
mendapatkan diagnosa pada pasien-pasien muda dengan symptom sakit perut yang tidak jelas
penyebabnya dan cara ini dapat mendiagnosa peritonitis tuberculosis 85% sampai 95% dan
dengan bantuan biopsy terarah dapt dilakukan pemeriksaan histology dan bisa menemukan
adanya gambaran granuloma sebesar 85% sampai 90% dari seluruh kasus dan bila dilakukan
kultur bisa ditemukan BTA hamper 75%. Hasil histology ynag lebih penting lagi adalah bila
didapat granuloma yang lebih spesifik yaitu granuloma dengan pengkejuaan.
Gambaran yang dapat dilihat pada peritonitis tuberculosis:
1. Tuberkel kecil ataupun besar dengan ukuran yang bervariasi yang dijumpai tersebar
luas pada dinding peritoneum, usus dan dapat juga dijumpai di permukaan hepar atau
alat lain.
2. Perlengketan yang dapat bervariasi dari yang sedikit sampai luas diantara alat-alat di
dalam rongga peritoneum. Sering keadaan ini merubah letak anatomi normal.
Permukaan hepar dapat melengket pada dinding peritoneum da n sulit dikenali.
Perlengketan diantara usus, mesenterium dan peritoneum dapat sangat ekstensif.
3. Peritoneum sering mengalami perubahan dengan permukaan yang sangat kasar yang
kadang-kadang berubah gambarannya menyerupai nodul.

4. Cairan asites sering dijumpai berwarna kuning jernih, kadang-kadang cairan tidak
jernih lagi tetapi menjadi keruh, cairan yang hemoragis juga dapatdijumpai.
Biopsi dapat ditujukan pada turberkel-tuberkel secara terarah atau pada jaringan lain yang
tersangka mengalami kelainan dengan menggunakan alat biopsi khusus sekaligus cairan
dapat dikeluarkan. Walaupun pada umumnya gambaran laparoskopi peritonitis tuberculosis
dapat dikenal dengan mudah, namun gambarannya bisa menyerupai penyakitlain seperti
peritonitis karsinoma, kerna itu biopsi harus selalu diusahakan dan pengobatan sebaiknya
diberikan jika hasil pemeriksaan patologi anatomi menyokong suatu peritonitis tuberculosis.
Laparoskopi tidak selalu mudah dikerjakan dan dari 30 kasus, 4 kasus tidak dilakukan
laparoskopi kerana secara teknis dianggap mengandung bahaya dan sukar dikerjakan. Adanya
jaringan perlengketan yang luas akan merupakan hambatan dan kesulitan dalam memasukkan
trokar dan lebih lanjut ruangan yang sempit di dalam rongga abdomen juga menyulitkan
pemeriksaan dan tidak jarang alat laparoskopi terperangkap di dalam suatu rongga yang
penuh dengan perlengketan, sehingga sulit untuk mengenal gambaran anatomi alat-alat yang
normal dan dalam keadaan demikian maka sebaiknya dilakukan laparotomi diagnistik.
Laparatomi
Dahulu laparatomi eksplorasi merupakan tindakan diagnosa yang sering dilakukan,
namun saat ini banyak penulis menganggap pembedahan hanya dilakukan jika dengan cara
yang lebih sederhana tidak memberikan kepastian diagnosa atau jika dijumpai indikasi yang
mendesak seperti obstruksi usus, perforasi, adanya cairan asites yang bernanah.
Penatalaksanaan
Pada dasarnya pengobatannya sama dengan pengobatan tuberculosis paru, obat-obat
seperti streptomisin, INH, Etambutol, Rifampisin, dan Pirazinamid memberikan hasil yang
baik, dan perbaikan akan terlihat setelah 2 bulan pengobatan dan lamanya pengobatan
biasanaya mencapai 9 sampai 18 bulan atau lebih. 1 Beberapa penulis berpendapat bahawa
kortikosteroid dapat mengurangi perlengketan peradangan dan mengurangi terjadinya asites.
Terbukti juga penggunaan kortikosteriod dapat mengurangi kesakitan dan kematian, namun
pemberian kortikosteroid ini harus dicegah pada daerah endemis dimana terjadi resistensi
terhadap M. tuberculosis. Alrajhi dkk yang mengadakan penelitian secara retrospektif
terhadap 35 pasien dengan peritoneal tuberkulosis mendapatkan bahawa pemberian
kortikosteroid sebagai obat tambahan terbukti dapat mengurangi insidensi sakit perut dan
sumbatan pada usus. Pada kasus-kasus yang dilakukan peritonoskopi sesudah pengobatan

terlihat bahawa partikel menghilang namun di beberapa tempat masih terlihat adanya
perlengketan.
Prognosis
Peritonitis tuberkulosa jika dapat segera ditegakkan dan mendapat pengobatan
umumnya akan menyembuh dengan pengobatan yang adequate.
Kesimpulan
1. Peritonitis tuberkulosis biasanya merupakan proses kelanjutan tuberkulosa di tempat
lain.
2. Gejala klinis bervariasi dan timbulnya perlahan-lahan sering terlambat didiagnosa.
3. Dengan pemeriksaaan diagnostic, laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya
dapat membantu menegakkan diagnosa.
4. Dengan penegakkan diagnosa yang tepat, dini dan pengobatan yang adequate
biasanya pasien akan sembuh.

DAFTAR PUSTAKA
1. Zain LH. Tuberkulosis peritoneal. Dalam : Noer S ed. Buku ajar ilmu penyakit dalam
Jakarta Balai penerbit FKUI, 1996: 403-6
2. Sulaiman A. Peritonitis tuberkulosa. Dalam : Sulaiman A, Daldiyono, Akbar N, dkk
Buku ajar gastroenterology hepatologi Jakarta: informatika 1990: 456-61
3. Ahmad M. Tuberkulosis peritonitis : Fatality associated with delayed diagnosis. South
Med J 1999: 92: 406-408
4. Sandikci MU, Colacoglus, Ergun Y. Presentation and role of peritonoscopy and
diagnosis of tuberculosis peritonitis . J Gastroenterol hepato 1992:7:298-301
5. Manohar A dkk. Symptoms and investigative findings in year period. Gut, 1990;
31:1130-2
6. Marshall JB. Tuberculosis of gastroinstestinal tract and peritoneum, AMJ
Gastroenterol 1993;88:989-99
7. Sibuea WH dkk. Peritonitis tuberculosa di RS DGI Tjikini KOPAPDI IV Medan;
1978:131
8. Zain LH. Peran analisa cairan asites dan serum CA-125 dalam mendiagnosa TBC
peritoneum: Acang N, Nelwan RHH, Syamsuru W ed. Padang : KOPAPDI X,
1996:95
9. Sulaiman A. peritonitis tuberculosa dalam: Hadi S dkk . Endoskopi dalam bidang
Gastroentero Hepatologi Jakarta: PEGI 1980: 265-70
10. Small Pm, Seller UM. Abdominal tuberculosis in : Strickland GT ed Hunters tropical
medicine and emerging infection disease. 8th Philadepia: WB Sounders Company
2000: 503-4.