Anda di halaman 1dari 9

Antara Ahok & Lokalisasi Pelacuran

Orang Nomor 1 di Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang dikenal


dengan sapaan Ahok mewacanakan untuk melegalkan lokalisasi
Pekerja Seks Komersial (PSK). Wacana ini mendapat kritikan tajam
dari berbagai kalangan, baik itu tokoh agama, tokoh masyarakat dan
Para Akademisi. Bahkan acara-acara televisi (TV), Media Cetak dan
elektronik Isu ini menjadi Trending Topic.
Mengapa tidak niatan Ahok ini sangat bertolak belakang dengan
usaha Lembaga-lembaga Swadaya, dan organisasi-organisasi yang
berbasis Keagamaan, untuk meminimalisir maraknya kasus
pelacuran pada kota-kota besar di Indonesia termasuk Jakarta.
Wacana ahok Gubernur DKI Jakarta ini juga paradoks dengan
semangat Risma Walikota Surabaya telah berhasil menutup
prostitusi terbesar se-Asia Tenggara, yakni Dolly. Mestinya Ahok
berguru pada semangat Risma yang hanya seorang Walikota, Bukan
seorang Gubernur sekaliber Ahok.
Memang dipahami oleh sebagian kelompok bahwa Lokalisasi dalam
prespektif sosiologi memiliki beberapa dampak positif. Namun
dampak negatif yang ditimbulkan lebih besar dari dampak
positifnya. Katanya pelegalan Prostitusi mempertimbangkan alasan
Biologis, Medis, dan ekonomis (pajaknya jelas).
Namun demikian, Ahok juga menyadari bahwa melegalkan lokalisasi
prostitusi tidak segampang membalik telapak tangan untuk dapat
terealisasi. Ahok hanya ingin menegaskan, bahwa wacana itu hanya
untuk menyindir orang-orang yang merasa diri paling beragama,
membenci prostitusi, padahal mereka pihak-pihak yang merasa
paling beragama itu, mengetahui dan mengenal tempat-tempat
prostitusi tersebut.
Mudah-mudahan Legalisasi Tempat Prostitusi di Jakarta hanyalah
sebatas wacana dan Isu semata. Sebaiknya Pemerintah mencari
jalan keluar bagi Pekerja seks komersial, bukan pelegalan Prostitusi
sebagai Jawabannya. Walikota Surabaya (Risma) telah membuktikan
pada Dunia bahwa Lokalisasi Prostitusi bukan jawaban yang tepat

bagi PSK, namun pembinaan dan pemberdayaan sebagai solusi yang


tepat. Politik kebijakan Koeksistensi dan Proeksistensi bagi
pemberdayaan masyarakat kiranya dapat dipertimbangkan oleh
pemerintah.
http://politik.kompasiana.com/2015/04/19/antara-ahok-lokalisasi-pelacuran-psk719277.html

LEGALISASI PROSTITUSI : DILEMA ANTARA MORALITAS DAN REALITAS ATAS


DASAR PENINGKATAN KUALITAS
Dewasa ini, banyak sekali orang yang mencari sebuah kenikmatan dalam bidang
seksual dan hal ini menyebabkan banyak terjadi seks bebas yang menjamur pada segala
kalangan. Hal ini tentu saja dimanfaatkan pagi para pengelana pencari harta untuk mendapat
selembar uang demi melanjutkan hidup mereka. Ya, mereka yang merupakan pemain kecil
pada kehidupan harus berusaha melanjutkan hidup. Tuntutan dari ketidakadilan hidup, serta
ketidak-berdayaan mereka dalam mencari apa yang layak jelas menuntut adanya ketidaklayakan dalam upaya mereka melanjutkan hidup termasuk menjual diri sendiri. Itulah
prostitusi, kegiatan menyediakan aktivitas seksual dengan hasil berupa imbalan uang adalah
kegiatan yang mereka anggap layak dalam upaya memenuhi tuntutan kehidupan ini.
Kontradiksi dengan upaya tersebut, banyak sekali masyarakat di Indonesia yang
menganggap bahwa prostitusi ini merupakan suatu kegiatan yang tidak layak serta merusak
moral bangsa. Anggapan itu adalah hal yang wajar mengingat masih tabunya hal-hal yang
berbau seks di kalangan masyarakat. Kejar-kejaran yang terjadi antara polisi dan PSK
(Pekerja Seks Komersial sebagai pelaku prostitusi) serta razia petugas merupakan berita yang
dapat kita lihat setiap hari pada media televisi dan lain sebagainya. Agama pun tidak jarang
dijadikan pembenaran bagi mereka yang menolak adanya prostitusi. Sebenarya, ini semua
tergantung dari sudut pandang kita yang melihat hal ini. Tidak ada yang mutlak benar ataupun
yang mutlak salah.
Demi tuntutan dari kalangan mayoritas sebagai pihak penolak dari prostitusi maka
jelaslah pemerintah akan melakukan upaya demi pengurangan prostitusi. Namun, bersumber
pada Liputan 6 petang tanggal 30 November 2009 tentang penggrebekan tempat prostitusi
dan para pemain yang terjaring merupakan pemain lama maka tampaklah jelas bahwa
permainan kejar-kejaran yang telah dilakukan aparat kepolisian dengan para pekerja seks
komersial itu merupakan hal yang sia-sia sebab pada akhirnya masyarakat Indonesia tetap
dapat menemui prostitusi di mana-mana. Ketika upaya-upaya yang telah dilakukan gagal

maka haruslah ada sebuah cara lain (yang mungkin 180 0 berlawanan) untuk menghilangkan
atau setidaknya mengurangi dampak negatif dari seks bebas yang diakibatkan oleh kegiatan
prostitusi secara illegal. Ya, Legalisasi prostitusi adalah jawabannya.
Legalisasi Prostitusi
Legalisasi prostitusi adalah proses pengesahan dan pengakuan prostitusi sebagai
sebuah pekerjaan yang layak yang akan diatur dalam Undang-Undang. Pelegalan yang
dimaksudkan di sini adalah pelegalan secara terkontrol dengan mekanisme yang akan
ditentukan oleh pemerintah sehingga tidak akan menjadi sebuah penjamuran kegiatan
prostitusi. Tujuan dari adanya legalisasi prostitusi ini adalah pengontrolan dan pengurangan
dampak negatif dari prostitusi berkat adanya intervensi pemerintah sebagai pengawas
sekaligus pembuat mekanisme. Mekanisme yang saya anjurkan adalah pemerintah yang akan
membangun tempat lokasi kegiatan serta pengawasan bagi para pelaku maupun pengguna
kegiatan ini.
Biaya yang besar jelas akan menjadi hambatan dari program ini, namun jika melihat
biaya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan pembangunan apartemen mewah bagi para
anggota dewan maka seharusnya tidak ada alasan dari segi biaya apalagi manfaat yang
didapat dari proses pelegalan ini jauh lebih besar dari segi material dan dari segi non-material
(terutama jika dibandingkan dengan apartemen tersebut yang hanya bermanfaat bagi
segelintir orang). Hambatan lain yang akan datang adalah dari kaum mayoritas yang akan
selalu tetap meneriakan stop free sex padahal mereka tidak mengerti bahwa tujuan
legalisasi ini adalah mengontrol seks bebas yang saat ini telah menjadi hal umum di
masyarakat. Kaum mayoritas boleh tetap ber-munafik-ria, namun kenyataan di lapangan
jelas mengindikasikan perlunya perubahan sistemik dalam hal pengontrolan seks bebas demi
penanggulangan resiko penularan penyakit seksual seperti HIV/AIDS. Dengan mekanisme
yang benar, masalah sistemik ini akan dapat ditangani dibandingkan jika semua elemen tetap
terus berusaha memungkiri kenyataan yang ada.
Mekanisme Legalisasi Prostitusi
Mekanisme pada problema kompleks seperti ini ibarat tulang punggung yang akan
menopang keseluruhan dari upaya-upaya yang ada. Mekanisme yang dianjurkan haruslah
sebuah tata cara yang akan dilakukan secara berkesinambungan dalam upaya mengatasi
masalah ini dan menguntungkan semua pihak.
Mekanisme yang akan digunakan adalah seperti berikut : Pemerintah akan
menyediakan tempat prostitusi yang akan dipilih agar jauh dari keramaian, sekolah serta
orang-orang yang tidak berkepentingan di dalamnya dan terlebih dahulu difokuskan pada

daerah yang memiliki tingkat seks bebas yang tinggi; Petugas akan secara aktif mengadakan
razia di tempat-tempat prostitusi illegal dan kemudian para PSK akan melewati uji kesehatan
untuk mengetahui apakah memiliki penyakit menular seksual atau tidak serta apakah ada
yang di bawah umur. Bagi yang di bawah umur akan dibawa ke tempat pembinaan untuk
diberikan pengarahan atau pelatihan, sedangkan yang tetap ingin menjalani profesi sebagai
PSK akan dipindahkan ke tempat prostitusi legal yang dibuat pemerintah; Petugas akan
memisahkan prostitusi untuk penderita HIV/AIDS ataupun PSK yang sehat; Orang yang
ingin mendapatkan prostitusi haruslah menjadi anggota terlebih dahulu dengan salah satu
persyaratan yaituscreening test untuk mengetahui apakah ia mengidap HIV/AIDS atau
tidak; Keanggotaan hanya berlaku 1 bulan sehingga untuk selanjutnya tetap harus
melakukan screening test; Pemerintah juga akan mengenakan pajak pada setiap aktivitas
prostitusi.
Berdasarkan mekanisme yang diajukan di atas, telah jelas bahwa legalisasi prostitusi
akan menekan angka penderita HIV/AIDS serta bermanfaat bagi segenap lapisan masyarakat.
Manfaat Legalisasi Prostitusi
Sebenarnya sangat banyak manfaat yang ada jika pelegalan prostitusi memang benarbenar dilakukan. Semua sektor secara agregat akan mendapat dampak positif dengan adanya
hal ini baik dari kalangan pemerintah, pelaku prostitusi, pengguna prostitusi, pihak
kepolisian, serta masyarakat termasuk kaum mayoritas yang selalu membutakan matanya dari
manfaat ini.
Manfaat legalisasi prostitusi ini bagi pemerintah yang terlihat sangat banyak dirugikan
mengingat menyisihkan anggaran yang cukup besar adalah dari segi penerimaan pajak. Jika
prostitusi ini dikenakan pajak yang cukup tinggi sekitar 20% maka pemerintah akan
mendapat pengembalian yang cukup besar serta mengakibatkan meningkatkan harga
prostitusi agar tidak dapat dinikmati semua kalangan. Kedepannya, uang hasil pajak ini akan
digunakan untuk perluasan lapangan pekerjaan sehingga akan bermanfaat pula bagi
peningkatan taraf hidup setiap orang yang menggantungkan harapannya dengan prostitusi.
Dan, sebagai timbal balik dari mekanisme yang jelas, pengurangan penderita HIV/AIDS akan
meringankan beban tanggungan pemerintah.
Bagi pelaku prostitusi hal ini telah jelas akan menjadi sebuah titik terang karena
mereka akan mendapatkan hak bekerja yang selama ini telah dirampas dan menciptakan rasa
tenang serta adanya jaminan keamanan yang baik. Para PSK juga akan mendapatkan
pelayanan kesehatan sehingga tidak akan tertular HIV/AIDS dan bagi mereka yang memang
telah terjangkit HIV/AIDS juga tidak akan menularkan penyakitnya kepada mereka yang

sehat sehingga ini juga bermanfaat bagi pengguna prostitusi sebagai sebuah jaminan
kesehatan. Dan dengan adanya intervensi dari pemerintah maka akan ada aturan tentang
kebersihan dari tempat tersebut sehingga menjadi sebuah poin positif bagi kesehatan di sana.
Dengan adanya jaminan keamanan serta kejelasan bagi pelaku prostitusi maka tidak
perlu

adaacara

kejar-kejaran serta permainan

petak

umpet antara

aparat

kepolisian dan pelaku prostitusi sehingga kepolisian dapat lebih fokus pada tindakan kriminal
yang lebih serius. Selain itu, efektifitas dari penanganan masalah prostitusi akan lebih tinggi.
Sedangkan bagi masyarakat umum manfaat yang didapat adalah sebuah perasaan
nyaman. Hal ini dikarenakan pemerintah akan menetapkan regulasi yang jelas serta
mempertimbangkan banyak aspek dalam pemilihan lokasi prostitusi. Jadi dengan dibuatnya
sebuah tempat prostitusi yang jauh dari lingkungan publik ataupun sekolah maka jelas tidak
akan ada remaja yang bisa melakukan kegiatan prostitusi. Sistem yang ada juga dibuat
sebagai pengawasan agar tidak ada anak sekolah yang menjadi pelaku ataupun penikmat
prostitusi sehingga para orang tua tidak lagi perlu mencemaskan anak-anak mereka akan
berkeliaran sembarangan dan melakukan tindakan yang tidak diharapkan.
Dengan penjabaran tersebut maka terlihat jelas bahwa ada banyak sekali manfaat dari
adanya legalisasi prostitusi yang tertutup oleh stigma negatif yang telah terlanjur berkembang
di masyarakat. Penghapusan stigma negatif ini merupakan tantangan yang cukup berat karena
selama ini hal yang berbau seks memang dianggap tabu.
Hambatan dan Resiko
Sebuah kebijakan yang belum dianggap lazim akan menimbulkan pro kontra di
masyarakat. Hambatan yang paling berat adalah bagaimana menghilangkan stigma negatif
yang seolah terikat erat dengan hal yang berbau seks. Penekanan pada aspek degradasi moral
dan hal agama yang selalu menjadi titik tumpu argument dari para pengekang memang cukup
beralasan. Namun sikap paranoidserta overprotective dalam hal ini akan menjadi
sebuah garis batas stagnansi dalam kemajuan intelejensia pada masyarakat. Bagaimana tidak,
tanpa adanya terobosan, maka pemikiran masyarakat akan selalu berkutat pada satu sudut
pandang tanpa mempedulikan hal-hal yang lainnya. Hal inilah yang dimaksud dengan
pembutaan mata hati karena hanya melihat dari satu sudut pandang. Dengan adanya
terobosan, serta terbukanya pola pikir masyarakat, maka akan tercipta sebuah harmonisasi
serta peningkatan rasionalitas masyarakat, dalam hal ini tentang seks. Hambatan ini akan
hilang seiring adanya distrukturisasi pola hidup sehingga lambat laun upaya pelegalan
prostitusi akan menyebabkan prostitusi dapat diterima di masyarakat seutuhnya.

Sebuah kebijakan dapat berjalan kearah manapun. Dapat ke arah positif maupun
negatif. Semua selalu ada resikonya. Resiko terbesar dari legalisasi prostitusi ini adalah
sebuah masalah sistemik baru di masyarakat. Masalah sistemik yang dimaksud adalah
penafsiran yang mis-interpersepsi karena perubahan pola hidup. Remaja mungkin akan
menafsirkan Daripada saya melanjutkan pendidikan dengan biaya yang mahal, mengapa
saya tidak bekerja dengan menjual diri saja. Menjual diri itu sah kan?, sehingga banyak
remaja yang putus sekolah kemudian melanjutkan menjadi PSK. Ketika pemikiran ini masuk
dalam diri generasi penerus bangsa, maka kehancuran adalah hal yang harus siap dihadapi.
Pemerintah memegang peranan penting dalam pengawasan pada hal ini mengingat dengan
adanya legalisasi prostitusi maka pemerintah mendapatkan kuasa serta tanggung jawab penuh
atas segala macam tindakan prostitusi. Pengawasan yang dilakukan dengan diiringi
pembentengan moral dari segala aspek seharusnya dapat menangkal semua resiko yang ada
mengingat adanya mekanisme yang nyaris sempurna tanpa celah.
Kotradiksi yang ada dari pihak pengekang seharusnya dapat dijadikan sebagai acuan
dasar untuk peningkatan serta pencegahan kesalahan mengingat kaum oposisi pasti akan
memikirkan dampak negatif yang akan timbul. Untuk itulah sebagai pemerintah harus sejak
awal mengantisipasi hal-hal yang dimaksud demi peningkatan kualitas.
Peningkatan Kualitas
Mengingat banyaknya manfaat dari legalisasi prostitusi serta dampak negatif yang
terjadi dapat diatasi, maka memang selayaknya prostitusi ini dilegalkan. Banyak sekali
peningkatan kualitas yang akan terjadi seperti kualitas kesehatan dan terutama kemajuan dari
pola pikir masyarakat yang akan lebih terbuka dalam hal ini.
Pemerintah memang memiliki banyak pilihan dalam hal ini, namun tidak dengan
rakyat kecil. Ketika ada sebuah tuntutan hidup dan mereka memilih prostitusi sebagai mata
pencaharian, yang kemudian dianggap pemerintah sebagai tindakan kriminal tanpa ada usaha
untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka maka itu sama dengan memberikan
pilihan yang semuanya adalah salah bagi masyarakat kecil. Legalisasi prostitusi merupakan
bentuk tanggung jawab pemerintah serta kepedulian pemerintah bagi kaum tersebut.
Selain itu, fakta yang ada menyebutkan bahwa prostitusi tidak dapat dihilangkan dan
membentuk fenomena iceberg di mana sedikit yang muncul di permukaan namun banyak
yang yang tak terlihat dan tersembunyi di dasar. Hal ini dikarenakan tidak adanya PSK yang
berani mengakui perbuatannya. Tanpa ada hasil, pelarangan prostitusi malah akan
membahayakan mengingat tidak mampunya pemerintah dalam hal pengontrolan. Dua pilihan
yang dapat diambil pemerintah yaitu tetap melarang kegiatan prostitusi sekaligus berarti

membiarkan seks bebas tanpa ada pengawasan atau legalisasi prostitusi sebagai upaya
menciptakan seks bebas yang terkontrol sembari berharap kegiatan ini akan berhenti di
kemudian hari. Untuk itulah legalisasi prostitusi di dalam negara ini akan menjadi titik terang
dari

kabut

masalah

yang

selalu

melanda

sektor

ini.

http://nuranisebuahlogika.blogspot.com/2011/12/normal-0-false-false-false-en-us-xnone.html

Pikiran Iseng: Bagaimana Jika Prostitusi


di Indonesia Dilegalkan
Melegalkan aktifitas prostusi,yang merupakan profesi tertua di bumi, di suatu
negara atau suatu daerah pasti akan menimbulkan dua hal/poros/sisi yang
berbeda. Dua hal/poros/sisi yang berbeda tersebut adalah ada yang setuju dan
ada yang tidak setuju, ada manfaatnya dan ada mudaratnya. Kedua
poros/hal/sisi tersebut akan coba kita ulas (berdasarkan pencatatan ulang
pendapat orang lain ditambah pemikiran iseng penulis) dan kesimpulannya
harap disimpulkan oleh pembaca sendiri. Pertama-tama kita akan coba mengulas
dari sisi yang setuju dan sisi manfaatnya. Melegalkan prostitusi melalui sebuah
kebijakan atau regulasi yang tepat, kuat dan terukur serta di support oleh
regulasi/kebijakan yang lainnya dan juga mengklasifikasikan bahwa prostitusi
adalah jasa hiburan,mungkin akan menghasilkan beberapa manfaat baik bagi
para pelaku, penyedia, masyarakat maupun negara. Manfaat-manfaat tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Dengan legalisasi prostitusi (dengan aturan dan saksi yang ketat serta
diimplementasikan dengan baik) , akan menjadi solusi yang baik untuk
melokalisir tempat-tempat prostitusi yang selama ini menjadi salah satu bagian
keresahan masyarakat (kelompok masyarakat ini mayoritas) yang berada
disekitar tempat-tempat prostitusi. Dengan legalisasi ini juga akan melokalisir
PSK-PSK yang bertebaran di beberapa ruas jalan yang dianggap oleh masyarakat
mayoritas merupakan bagian dari keresahan masyarakat dan mengganggu
keindahan dan kenyaman kota sehingga mampu memperbaiki wajah kota.
2. Dengan legalisasi prostitusi (legalisasi yang dikuti dengan lokalisir tempattempat prostitusi), akan memudahkan para pasangan (baik wanita mapun lakilaki) untuk mencari pasangannya yang selingkuh (PSK sebagai perselingkuhan).
3. Dengan legalisasi prostitusi, akan menjadi solusi baik untuk melokalisir
perbutan-perbuatan yang dianggap tabu dan amoral oleh masyarakat.
4. Dengan legalisasi dan lokalisasi prostitusi (penerapan pajak tinggi sebagai
jasa hiburan), akan meningkatkan penerimaan negara. Melihat kondisi real di
kota-kota besar, cukup besarnya pasar prostitusi dan makin maraknya hotel-

hotel transit mengindikasikan begitu cukup besarnya potensi pennerimaan


yang bisa diterima oleh negara.
5. Dengan legalisasi prostitusi, akan memudahkan aparatur penegak hukum
untuk melakukan pengawasan dan penindakan. Ini akan berhasil apabila
kapasitas dan akuntabilitas aparatur terhadap pelaksanaan peraturan berjalan
dengan baik dan pada rel yang seharusnya (tidak ada kata kompromi). Dengan
begitu (aturan yang ketat dan pelaksana/aparatur yang handal tanpa kompromi)
akan semakin memudahkan penertiban dan penglokalisirian keresahaan
masyarakat akibat praktik prostitusi di sembarang tempat.
6. Dengan legalisasi prosititusi, akan memudahkan aparatur untuk melakukan
penertiban tempat-tempat prostisusi yang berkedok jasa halal seperti panti
pijat, hotel dan diskotik.
Semua manfaat di atas akan bisa terwujud apabila memenuhi beberapa
persyaratan minimal ; i). Peraturan/Undang-Undang yang memayungi legalisasi
prostitusi ini haruslah ketat,kuat,tegas,tepat dan tidak bias, ii).
Pelaksana/Aparatur negara baik pusat maupun daerah haruslah memiliki
komitmen yang kuat dan tanpa kompromi terhadap pelaksanaan aturan dan
sanksi yang telah diatur serta memiliki tanggungjawab yang kuat terhadap
pelaksanaan aturan, iii). Fungsi pengawasan harus dilakukan secara bersamasama antara aparatur negara dan masyarakat, iv). Pengenaan pajak tinggi
terhadap jasa hiburan prostitusi (sama halnya dengan cukai rokok, untuk
mengurangi ekses negatif berlebihan terhadap masyarakat secara keseluruhan,
v). Penindakan tegas bagi siapapun yang melanggar aturan yang sudah
ditetapkan dan pemberian sanksi berat terhadap pelanggar aturan harus
dilaksanakan dengan baik dan tanpa kompromi.
Kalau kita melihat sisi lainnya, sisi penolakan dan mudaratnya, adalah sebagai
berikut :
1. Dengan legalisasi prostitusi, sebagian masyarakat (mayoritas) berpendapat
bahwa kebijakan yang melegalkan prostitusi akan memberikan ruang yang
sangat besar terhadap pelanggaran-pelanggaan ajaran agama (argumen ini
didasarkan kepada pemahaman agama). Semua agama mengharamkan
prostitusi.
2. Dengan legalisasi prostitusi, sebagian masyarakat (mayoritas) menganggap
tindakan pelegalan prostitusi merupakan tindakan amoral.
3. Dengan legalisasi, sebagian masyarakat (mayoritas) merupakan penentangan
terhadap NKRI sebagai negara yang ber Ketuhanan Yang Maha Esa.
4. Legalisasi prostitusi merupakan kebijakan yang mampu melegarkan dan
membiarkan perusakan moral masyarakat.

Argumen-argumen diatas menjadi tidak berarti apabila kita meilhat kondisi


realita yang terjadi, dimana banyaknya tempat-tempat prostitusi yang berada di
sembarang tempat, banyaknya kegiatan prostitusi berkedok jasa halal/legal, dan
tanpa kita sadari lahirnya ide untuk melegalkan prostitusi merupakan cerminan
bahwa bisnis prostitusi (baca : amoral) tersebut ada dan cukup besar. Di sisi
lain legalisasi secara tidak langsung akan bisnis tersebut tanpa disadari
dilakukan oleh beberapa pemerintah daerah (coba kita perhatikan petikan berita
dibawah ini).

MUI JATIM PUJI SATPOL PP RAZIA PSK

Oleh : Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim

Selasa, 29 September 2009

http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/02/23/pikiran-iseng-bagaimana-jikaprostitusi-di-indonesia-dilegalkan-342302.html