Anda di halaman 1dari 21

BAB

III

TRAUMA SENDI

1. Pendahuluan

2. Instabilitas Sendi

3. Trauma pada Kapsul Sendi

4. Beberapa Dislokasi pada Sendi :

a. Dislokasi Sendi Bahu

b. Dislokasi Sendi Panggut

c. Dislokasi Sendi Lutut

d. Dislokasi Sendi Siku

5. Efusi

6. Diagnosis Trauma Sendi

7. Proses Penyembuhan Ruptur Ligamen, Otot, dan Tendo

8. Manajemen Trauma Sendi

9. Terminologi / Sinerai

10. Soal-Soal

SATUAN ACARA PENGAJARAN - 3

(SAP-3)

Mata Kuliah Pertemuan ke Waktu Pertemuan Nomer Kode / SKS

: Trauma Muskuloskeletal : Tiga : Satu jam :

A. Tujuan Instruksional

1. Umum : Pada akhir pertemuan, disku si, mahasiswa diharapkan dapat memahami dan penatalaksanaan pada penderita

trauma sendi

secara

efektif

dan

efisien

dalam

meningkatan

pelayanan

kesehatan

dan

pencegahan 2. Khusus : Memahami penyebab trauma sendi, stabilitasnya, Trauma jaringan lunak disekitarnya dan membuat

diagnosis klinis dan radiologis serta pelaksanaannya dan secepatnya atau sementara maupun komplikasi yang akan terjadi.

B. PokokBahasan

: Trauma sendi

C. Sub Pokok Bahasan :

1. Deskripsi pada trauma sendi

2. Trauma jaringan lunak sendi dan penyembuhannya

3. Diagnosis klinis dan radiotogis

4. Penatalaksanaan atau tindakan sementara pada trauma sendi

5. Komplikasi dan pencegahannya

D. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

Tahap

 

Kegiatan Pengajaran

Kegiatan

Media

1

2

Mahasiswa

 

3

Pendahuluan

Menjelaskan dan diskusi masalah trauma sendi dengan TIU dan TIK

Memahami dan

Multimedia

menanggapi

Penyajian 1

Membicarakan dan diskusi beberapa deskripsi trauma sendi

Memperhatikan dan menanggapi

Multimedia

Penyajian 2

Menjelaskan dan menanggapi diskusi trauma jaringan lunak sendi dan penyembuhannya

Memahami dan

Multimedia

menanggapi

Penyajian 3

Menjelaskan dan diskusi cara membuat diagnosis klinis dan radiologis trauma sendi

Memperhatikan dan menanggapi

Multimedia

Penyajian 4

Membicarakan dan diskusi penatalaksanaan sederhana atau tindakan sementara pada trauma sendi

Memahami dan

Multimedia

menanggapi

dan

peragaan

Penyajian 5

Menjelaskan dan diskusi masalah komplikasi dan pencegahan trauma sendi

Memahami dan

Multimedia

menanggapi

Penutup

Dengan penjelasan di atas mahasiswa diharapkan dapat merangkum dan

Membuat rangkuman

 
memecahkan masalah trauma sendi dengan penatalaksanaan sederhana atau sementara serta pencegahannya

memecahkan masalah trauma sendi dengan penatalaksanaan sederhana atau sementara serta pencegahannya

memecahkan masalah trauma sendi dengan penatalaksanaan sederhana atau sementara serta pencegahannya
memecahkan masalah trauma sendi dengan penatalaksanaan sederhana atau sementara serta pencegahannya

TRAUMA SENDI

Objektif: Mahasiswa kedokteran diharapkan dapat :

1. Mengetahui stabilitas sendi

2. Memahami beberapa deskripsi trauma sendi.

Pendahuluan Secara anatomis stabilitas sendi tersebut meliputi stabilitas tulang (bone stability) yaitu tulang yang membentuk sendi dan stabilitas jaringan lunak (soft tissue stability) yang berupa kapsul sendi dan ligamentum serta tendo / otot- otot di dekat sendi itu. Apabila terjadi kerusakan dari struktur tersebut diatas maka sendi tersebut menjadi tidak stabil dengan kata lain disebut instabilitas sendi (joint instability). Perlu Anda ketahui bahwa stabilitas sendi sangat bervariasi seperti sendi panggul yang termasuk dalam golongan ball and socket joint dengan permukaan asetabulum seperti mangkok yang dalam akan memberikan stabilitas lebih baik bila dibanding dengan sendi lutut yang termasuk grup hinge joint dimana faktor jaringan lunak memegang peranan pada stabilitas sendi. Demikian juga untuk sendi bahu, jaringan lunak di sekitar sendi memegang peranan untuk stabilitasnya. Trauma langsung akan mengakibatkan sendi mengalami kontusi, dan bila trauma tersebut lebih berat lagi dapat menimbulkan subluksasi atau dislokasi bahkan fraktur intraartikular. Pada trauma tidak langsung (indirect injury) maka jaringan lunak seperti ligamentum akan teregang atau ruptur parsial yang disebut dengan nama sprain dan berdasarkan pergeseran sendi seta pemeriksaan klinis dan mikroskopik dibagi menjadi : sprain grade I hanya mengeluh kesakitan tanpa instabilitas sendi. Sprain grade II terjadi ruptur sebagian serabutnya saja sehingga terjadi instabilitas sendi minimal. Pada Sprain grade III karena energi trauma cukup besar dapat terjadi ruptur komplit atau avulsi sehingga terjadi instabilitas sendi.

3. Menjelaskan macam-macam instabilitas sendi

Instabilitas Sendi

Ada tiga macam instabilitas sendi yaitu:

1. Instabilitas sendi tersembunyi ( occult joint instability ) seperti trauma pada sendi pergelangan kaki akibat gaya trauma inversi. Penderita mengeluh nyeri, edema, dan nyeri tekan pada lokasi dari lesi

sendi itu. Pada radiograph sendi pergelangan kaki itu terlihat dalam batas normal, tapi pada pemeriksaan dengan penekanan ke arah inversi atau eversi (stress X-ray examination) pada sisi bagian bawah sendi yang mengalami nyeri itu, Anda akan melihat pelebaran rongga sendi pada sisi yang mengalami lesi.

2. Subluksasi yaitu sebagian kontak sendi tidak ada sama sekali seperti pada fraktur malleolus medialis sering disertai subluksasi sendi pergelangan kaki, demikian juga fraktur malleolus lateralis. Artinya bila Anda perhatikan ada sebagian permukaan sendi yang masih berhubungan satu sama lain (Gb.23)

sendi yang masih berhubungan satu sama lain (Gb.23) 3. Dislokasi ( luxation ) Kontak tulang-tulang yang

3. Dislokasi (luxation) Kontak tulang-tulang yang membentuk sentuk sendi tersebut hilang secara komplit (Gb. 28).Bila kedudukan tulang tersebut kembali seperti semula maka pada radiograph Anda tidak akan melihat kelainan tersebut. Tetapi bila dislokasi tersebut disertai dengan fraktur intraartikular atau fraktur ekstraartikular maka disebut fraktur-dislokasi (Gb.24). Sendi yang rawan terhadap kelainan ini adalah sendi bahu, siku, interphalanx( IP), panggul dan pergelangan kaki.

4. Memahami dislokasi intra dan ekstraartikular serta dislokasi buttonhole dan subluksasi residual Trauma Pada Kapsul

4. Memahami dislokasi intra dan ekstraartikular serta dislokasi buttonhole dan subluksasi residual Trauma Pada Kapsul Sendi Trauma dapat meregangkan kapsul atau kapsul tersebut mengalami avulsi dari perlengketannya sehingga rongga sendi melebar dan dapat menimbulkan dislokasi yang disebut dislokasi intra-kapsular, tapi bisa juga kapsul tersebut menjadi robek akibatnya salah satu tulang yang membentuk sendi keluar melalui robekan rtu yang disebut dislokasi ekstra-kapsular. Apabila tulang tersebut terjerat oleh kapsul yang robek tersebut akibatnya Anda akan mengalami kesukaran mereposisi sendi itu akibat terkunci seperti kancing baju dan fenomena ini disebut dislokasi buttonhole. Jika sewaktu reposisi kapsul sendi yang menjerat itu masuk kedalam sendi maka akan mengganjel sehingga pengambalian tidak sempurna dan akan berakhir sebagai subluksasi residual

5. Memahami stabilitas sendi bahu dan terjadinya instabilitas sendi tersebut Beberapa dislokasi pada sendi

1. Dislokasi Sendi bahu ( shoulder dislocation) Sendi bahu secara anatomis terdiri dari kaput humerus yang besar dengan kedangkalan kavitas glenoidalis sehingga stabilitas sendi itu tergantung dari kekuatan otot-otot rotator (otot supra spinatus, infra supinatus, teresminor dan sub skapularis), kapsul sendi dan ligamen (gleno humeralis, korako humeralis dan labrurn yang memperdalam kavitas glenoidalis) daiam mempertahankan kedudukannya (Gb. 25).

Karena itu sangat mudah terjadi dislok asi terutama ke arah anterior (80 - 90%) dengan

Karena itu sangat mudah terjadi dislokasi terutama ke arah anterior (80 - 90%) dengan karakteristik teriihat lengan atas dalam posisi rotasi ekstemal parsial dan abduksi (Gb.26), adapun ke arah posterior sangat jarang dengan karakteristik lengan atas dalam posisi adduksi dan rotasi internal dan biasanya disebabkan oleh kontraksi otot pada penderita epilepsi mengalami kejang-kejang dan otot-ototnya tidak seimbang maka terjadi dislokasi ke arah tersebut. Dapat juga dislokasi bahu ke arah inferior (luksasio erecta) atau superior. Dua kondisi terakhir ini sangat jarang.

Dapat juga dislokasi bahu ke arah inferior (luksasio erecta) atau superior. Dua kondisi terakhir ini sangat

Dislokasi dapat terjadi kerusakan otot-otot dan kapsul yang menstabilkan sendi tersebut sehingga dengan mudah terjadi disiokasi kembali (recurrent dislocation) bila hal ini menjadi terbiasa maka disebut habitual dislocation. Oleh karena itu, instabilitas sendi kronis dapat terjadi dari kejadian disiokasi.

Setiap disiokasi sendi ini dapat mengganggu saraf di sekitar sendi yaitu axillary nerve palsy oleh sebab itu Anda jangan lupa memeriksa fungsi saraf itu sedangkan gangguan vaskuler sangat jarang tapi sering tejadi pada usia lanjut Kejadian fraktur labrum pada dislokasi sendi bahu yang diperkirakan sebanyak 20 % yang mengakibatkan instabilitas sendi itu. Sobeknya otot-otot rotator (14-63 %) dapat terjadi dan kejadian ini meningkat pada usia lanjut. Tapi bila disertai fraktur dapat menimbulkan osteonekrosis.

Pemeriksaan radiograph untuk melihat posisi kaput humerus pada proyeksi oblik. Sedapat mungkin mencari lesi Hill Sacks pada bagian interior, adapun lesi Bankart mudah terlihat dengan pemeriksaan MRI.

6. Melakukan penanganan sederhana dan secepatnya pada disiokasi sendi Bahu

7. Melakukan dan mengetahui cara mereposisi sendi bahu dan imobilisasi

Manajemen disiokasi sendi bahu dapat dilakukan secara tarikan dan kontra tarikan (traction I countertraction) seperti metode Hippocratic, Stimson dengan cara penderita tidur tertelungkup (prone) dan bahu yang mengalami lesi itu berada di tepi tempat tidur periksa sehinga lengan jatuh ke bawah, atau metode Milch. dengan cara lengan atas sedikit abduksi dan rotasi ekstema dan

sedikit traksi bersamaan siku dibawa ke medial diatas dada dan rotasi interna, maka kaput humerus akan tereduksi. Imobilisasi dengan Velpeau bandage selama 2 - 6 minggu dan kemudian dilakukan rehabilitasi. Pembedahan dilakukan untuk yang gagal pada tindakan reposisi, reccurrent (Traumatic Unilateral, Bankart tession), disiokasi posterior lebih dari 3 minggu.

8. Menjelaskan perbedaan stabilitas sendi panggul dengan sendi bahu

2. Dislokasi Sendi Panggul (hip dislocation) Sendi panggul lebih stabil dibanding sendi bahu karena mangkok asetabulum sangat dalam disamping adanya ligamentum (Gb.27). Untuk terjadinya dislokasi sendi panggul membutuhkan energi trauma yang berat seperti MVA (Motor Vehicle Accident), contoh dislokasi posterior terjadi pada posisi sendi panggul dan lutut fleksi seperti trauma dashboard (dashboard injury). Ligamentum anterior lebih kuat daripada ligamentum posterior akibatnya kejadian dislokasi posterior lebih tinggi dibanding ke anterior (> 85% ) (Gb.28).

lebih tinggi dibanding ke anterior (> 85% ) (Gb.28). Pada pemeriksaan fisik penderita dislokasi posterior

Pada pemeriksaan fisik penderita dislokasi posterior terlihat seperti putri malu (adduksi rotasi intema dan fleksi sendi panggul dan lutut bila dibanding dengan sisi yang sehat serta pemendekan Gb.28)

Anda jangan lupa memeriksa saraf skiatik dengan angka kejadian diperkirakn 8-19 %. Pemeriksaan x-ray guna

Anda jangan lupa memeriksa saraf skiatik dengan angka kejadian diperkirakn 8-19 %. Pemeriksaan x-ray guna menentukan posisi kaput femoris dan mencari iesi pada asetabulum, femur seperti fraktur kaput atau kolum femoris atau fraktur femoris diafisis serta fraktur patela.

Dislokasi ini akan mengakibatkan keaisakan medial femoral circumflex artery ( MFCA ) yang menghidupi kaput femoris sehingga menimbulkan osteonekrosis dengan angka kejadian 2-17 % pada dislokasi posterior. Jaringan lain yang periu Anda pikirkan yaitu trauma pada labrum asetabulum, kapsul sendi, dan otot. Pemeriksaan arteri femoralis pada kejadian dislokasi anterior periu dilakukan. Untuk itu mereposisi secepatnya merupakan indikasi yang tepat. Reposisi tertutup dapat dilakukan secara Stimson atau manuver Allis maupun Bigelow (Gb29 )

9. Mengetahui cara reposisi dislokasi sendi panggul dan akibat bila tindakan tersebut tertunda Reposisi dislokasi

9. Mengetahui cara reposisi dislokasi sendi panggul dan akibat bila tindakan tersebut tertunda Reposisi dislokasi panggul anterior sedikit sukar karena karekteristik berbeda yaitu tungkai dalam posisi rotasi ekstemai dan abduksi. Traksi dimulai dalam posisi fleksi kemudian dicoba pemutaran intema dan ekstema dan dilanjutkan dengan penekanan kaput femoris ke arah sendi. Setelah reposisi haais dilakukan tes stabilitas sendi dengan C-arm meliputi pemeriksaan stabiltas posterior dengan cara sendi panggul fleksi 90 derajat, sementara dipertahankan posisi rotasi dan abduksi netral kemudian dorongan

femur ke posterior. Bila sendi panggul mengalami subluksasi maka sendi tersebut tidak stabil. Adapun pemeriksaan stabilitas anterior, sendi panggul dalam posisi abduksi, fleksi dan rotasi ekstema. Bila dengan gaya gravitasi terjadi dislokasi sendi panggul maka sendi itu tidak stabil Reposisi terbuka dilakukan bila reposisi tertutup tidak berhasil atau instabilitas sendi.

3. Dislokasi Sendi Lutut Dislokasi sendi lutut (anterior, posterior, lateral, medial atau rotasi, Gb.30) sangat jarang karena ligamen di sekitar sendi sangat kuat dan bila terjadi dislokasi membutuhkan energi besar maka ligamentum dan jaringan lunak sekitar sendi akan terputus, demikian juga kerusakan sendi itu sendiri (Gb.31).

terputus, demikian juga kerusakan sendi itu sendiri (Gb.31). 10. Menjelaskan stabilitas sendi lutut dan permasalahannya

10. Menjelaskan stabilitas sendi lutut dan permasalahannya bila terjadi dislokasi sendi tersebut Arteri poplitea yang berada di belakang sendi akan terjadi kerusakan terutama tunika intima sehingga memudahkan terjadinya trombus oleh sebab itu perlu dipikirkan pembenan anti trombin. Hilangnya distribusi darah ke perifer, resiko amputasi tidak dapat dielakkan. Dislokasi sendi ini juga akan mengakibatkan teregang atau rusaknya saraf peroneus disamping terjadinya

sindrom kompartemen.

sindrom kompartemen. Pemeriksaan fisik sendi terlihat efusi dan terasa nyeri. Perlu Anda periksa neurovaskuler bagian

Pemeriksaan fisik sendi terlihat efusi dan terasa nyeri. Perlu Anda periksa neurovaskuler bagian distal sendi secara berkala (serial neurovascular examination). Pemeriksaan x-ray dengan proyeksi konvensional cukup memadai dan pemeriksaan stabilitas sendi lutut seperti lateral dan medial stress test:

untuk menentukan kondisi ligamentum kolateral lateral dan medial serta anterior dan posterior Drawer test guna menentukan keadaan ligamentum krusiatum anterior dan posterior. Dislokasi harus segera dilakukan reposisi sendi. Setelah reposisi, pemeriksaan nadi, saraf dan sendi mutlak dikerjakan. Pemeriksaan X-ray pre - pasca tindakan harus dilakukan guna menilai fraktur dan kelurusan sendi (alignment). Imobilisasi pasca reposisi tertutup dengan gip selama 6-8 minggu bila tidak disertai robekan ligamen. Reposisi terbuka dilakukan bila ada trauma vaskuler atau tindakan fasbtomi atau melakukan repair ligamen.

11.

Mengetahui macam-macam sendi pada daerah siku dan stabilitasnya

12. Menjelaskan klasifikasi dislokasi sendi siku

4. Dislokasi Sendi Siku ( elbow dislocation)

sendi siku 4. Dislokasi Sendi Siku ( elbow dislocation) : Sendi siku mempunyai tiga sendi, yaitu

:

Sendi siku mempunyai tiga sendi, yaitu sendi ulno - humeralis, sendi kapitulo - radialis dan sendi radio - ulnaris proksimalis, yang distabilkan dengan ligamentum kolateral lateral (radialis), ligamentum kolateral medialis (ulna), ligamentum anularis dan kapsul sendi. (Gb.32) Dislokasi sendi siku sering terjadi pada anak- anak, atletik dan kadang- kadang disertai fraktur kaput radialis atau trauma arteri brakhialis dan saraf medianus di samping terjadinya ruptur kolateral ligamen baik medial maupun lateral. Pada pemeriksaan fisik terdapat deformitas, nyeri tekan daerah sendi, kadang-kadang disertai gangguan neurovaskuler. Oleh karena itu, Anda jangan lupa memeriksa nadi dan pemeriksaan neurologis. Pemeriksaan x-ray pada proyeksi konvensional cukup memadai. Dislokasi bisa ke posterior, posterolateral, anterior, lateral, medial dan divergen yang didasarkan atas lokasi

ulna.(Gb.33)

13. Melakukan reposisi secepatnya pada dislokasi sendi siku 14. Memahami mekanisme efusi pada sendi 15.

13. Melakukan reposisi secepatnya pada dislokasi sendi siku

14. Memahami mekanisme efusi pada sendi

15. Menjelaskan macam-macam tindakan secepatnya pada efusi sendi

16. Menjelaskan cara membuat diagnosis pada trauma sendi

Manajemen segera melakukan reposisi tertutup anestesi lokal / obat sedasi, dan setelah reposisi Anda jangan lupa memeriksa stabilitas sendi itu, kemudian memberikan imobilisasi dengan pembidaian selama 7 hari dan setelah itu dilakukan rehabilitasi. Reposisi terbuka dilakukan pada dislokasi unstable atau terjadi entrapment tulang atau jaringan lunak.

Efusi (Effusion) Lihat pada penjelasan halaman 16, masalah tindakan segera pada trauma muskuloskeletal.

Diagnosis Trauma Sendi Secara umum untuk menegakkan diagnosis maka Anda melakukan:

1. eksplorasi riwayat (history) yaitu kejadian yang meliputi keluhan dan mekanisme trauma. Biasanya penderita mengeluh nyeri dan penderita sadar bahwa sendinya keluar dari kedudukan semestinya (gone out of place) dan disertai spasme otot akibat instabilitas sendi atau kehilangan

struktur sendi itu.

2. Pada pemeriksaan fisik akan teriihat sendi edema (kecuali sendi panggul yang ditutupi oleh otot-otot tebal), deformitas seperti angulasi, rotasi, pemendekan, atau pemanjangan. Palpasi terasa nyeri tekan pada daerah yang mengalami sprain atau ligamen yang mengalami ruptur komplit. Sewaktu Anda meraba tulang-tulang yang membentuk sendi dapat dirasakan posisinya, namun Anda sering juga terkecoh karena pemeriksaan yang tidak memadai (inadequate examination) dan melupakan pemeriksaan X-ray pada sendi itu. Pemeriksaan gerakan terdapat gerakan abnormal dan sendi tersebut tidak stabil.

3. Pemeriksaan X-ray akan membuka tabir subluksasi atau dislokasi. Proyeksi konventional AP dan lateral cukup memadai. Kadangkala membutuhkan proyeksi aksial seperti sendi bahu dll. Atau teknik stres untuk adanya kerusakan stabilitas sendi tersebut.

4. Dalam membaca radiograph yang periu diperhatikan adalah: derajat pergeseran, rongga sendi (space), permukaan sendi, fraktur yang menyertainya (lokasi), apakah ada trap dipermukaan sendi itu.

17. Menjelaskan proses penyembuhan kerusakan ligamen Proses Penyembuhan Ruptur Ligamen, Otot, dan Tendo Penyembuhan kerusakan ligamen akan diganti dengan jaringan fibrus melalui proses inflamasi, proliferasi dan remodeling. Pada ruptur parsial akan sembuh sempuma tapi pada ruptur komplit tertihat adanya nekrosis, sel inflamasi, infiltasi neovascular di ujung-ujung ligamen yang mengalami ruptur itu pada proses inflamasi, oleh karena itu pemberian obat antiinflamasi akan menghambat proses ini. Pada proses proliferasi tertihat sel-sel bertambah banyak dengan disertai neovascular beserta pembentukan jaringan kolagen baru dan berakhir memjadi jaringan garulasi. Pada masa transisi ke proses remodeling dengan karateristik penurunan proliferatif fibroblas dan peningkatan matrik dan rongga antara ujung-ujung Iigamen itu terisi oleh jaringan fibrus. Struktur jaringan fibrus tersebut seperti Iigamen walaupun tidak persis sama. Oleh karena itu, sendi menjadi tidak stabil sebab adanya jaringan fibrus dan perpanjangan sehingga menjadi lemah. Tapi pada Iigamen intraartikular seperti ligamentum krusiatum anterior tidak akan mengalami proses penyembuhan

walaupun dilakukan penyambungan. Penyebabnya tidak jelas apakah karena ketidakmampuan, atau hambatan atau kekurangan nutrisi proses penyembuhan. Perlu Anda ketahui bahwa penyembuhan Iigamen tersebut sangat bervariasi dan tergantung dari besar energi trauma yang mengakibatkannya. Umumnya untuk sendi-sendi di jari membutuhkan waktu 3 minggu, sendi yang lebih besar lagi seperti sendi lutut membutuhkan waktu 3 bulan. Pada anak - anak waktu penyembuhan lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. Otot melekat pada tulang dan memberikan gerakan atau tenaga statik. Kontraksi otot dapat berupa isotonik, isometrk atau isokinetik. Pada kontraksi isotonik seperti mengangkat beban dengan perubahan panjang serabut otot untuk menghasilkan gerakan. Kontraksi isotonik ini dapat diukur dengan menggunakan dynamic strength. Kontraksi isometrik dapat terjadi bila kita mendorong dinding sehingga otot melakukan kontraksi tapi panjang serabutnya tetap dan kekuatan ini dapat diukur dengan static sterngth. Terakhir adalah isokinetik yaitu kontraksi otot dengan kecepatan konstan pada waktu melakukan lingkup gerakan sendi penuh (full range of motion) dan kontraksi ini dapat diukur dengan dynamic strength. Trauma pada otot akan menimbulkan iskhemi akibat trauma crush, laserasi, kontusi, dan strain . Laserasi akibat trauma langsung dari benda tajam. Kontusi biasanya akibat trauma benda tumpul dan sering terjadi akibat kecelakaan sepeda motor atau kecelakaan olah raga. Adapun strain akibat trauma tidak langsung yang menimbulkan tension pada otot yang hebat sehingga dapat terjadi ruptur serabut otot inkomplit atau komplit. Pada otot tersebut akan terjadi proses degenerasi dan regenerasi. Pada proses inflamsi sel-sel mati akan dimakan oleh set macrophage. Serabut baru kelihatan berada pada jaringan lunak dan pada proses synchronous akan membentuk jaringan fibrosis dan revascularisation. Fibrosis inilah akhir dari proses regenerasi otot yang rusak itu dan mencegah pemendekan serta perpanjangan serabut otot. Trauma tendon dapat terjadi akibat keregangan yang mendadak atau trauma laserasi sehingga menimbulkan gap yang memerlukan penyambungan. Adapun proses penyembuhannya hampir sama dengan proses penyembuhan luka pada kulit atau jaringan lunak. Pada fase inflamasi dan diikuti dengan fase reparatif, sel-sel disekitar itu masuk dan membentuk jaringan kolagen. Perlu anda ketahui bahwa masih ada perselisihan pendapat apakah sel-sel tersebut

berasal dari tendon itu sendiri atau berasal dari jaringan disekitar itu. Kekuatan dari jaringan penyembuhan lebih lemah dibanding dari tendon yang tidak kena trauma dan tidak akan kembali selama waktu 3 minggu setelah trauma. Dengan teknik penyambungan yang sempuma maka latihan gerakan awal dapat dikerjakan sehingga memperbaiki outcome.

18. Memahami penatalaksanaan dari beberapa kondisi trauma sendi Managemen Trauma Sendi Prinsip penanganan trauma sendi sama dengan prinsip penanganan

fraktur. Umumnya, pada dislokasi atau subluksasi harus secepatnya dikembalikan ke posisi normal.

1. Kontusi. Pada kontusi dilakukan aspirasi cairan karena dapat mengakibatkan rasa nyeri. Darah di dalam sendi tentu akibat pemutusan pembuluh darah di daerah itu dan pemeriksaan X-ray sangat diperlukan untuk melihat apakah ada fraktur.

2. Sprain Ligamen. Penyebab sprain adalah peregangan mendadak pada ligamen sendi itu sehingga mengakibatkan robekan parsial dan perdarahan. Penderita akan mengeluh rasa nyeri terutama bila penderita menggerakkan sendi tersebut sebagai akibat peregangan ligamen. Sendi akan teriihat edema, nyeri tekan di sekitar lesi. Pemeriksaan stabilitas sendi dalam batas normal karena tidak ada perpanjangan ligamen. Pemeriksaan X-ray dibutuhkan guna untuk melihat apakah ada fraktur, dislokasi atau subluksasi. Instabilitas tersembunyi ditentukan dengan cara pemeriksaan X-ray teknik stres pada sendi tersebut. Terapinya bersifat proteksi seperti strapping agar tidak ada gerakan sehingga selama proses penyembuhan tidak terjadi peregangan. Kemudian diikuti latihan aktif guna mempertahankan lingkup gerak sendi dan memperkuat otot yang mengontrol gerakan sendi itu.

3. Dislokasi atau Subluksasi. Penatalaksanaan dislokasi atau subluksasi adalah mengembalikan kedudukan sendi tersebut ke tempat semula secepatnya dengan manipulasi dan bila gagal dilakukan tindakan operasi. Setelah berhasil Anda jangan lupa memeriksa stabilitas sendi tersebut

guna mencegah terjadinya instabilitas sendi, sehingga tidak terjadi dislokasi berulang. Ligamen sangat memegang peranan daiam stabilitas sendi, oleh karena itu bila terjadi ruptur komplit harus dibarengi dengan repair. Bila teriambat maka outcome tidak memuaskan. Akan berbeda dengan ligamen pergelangan kaki atau sendi interphalanx umumnya cukup dengan imobilisasi dan dalam keadaan tertentu saja untuk dilakukan operasi. Perlu Anda ketahui imobilisasi sendi siku dan sendi panggul berguna sekali untuk pencegahan terjadinya osifikan miositis pasca trauma.

Terminologi / Sinerai

1. Dislokasi buttonhole adalah dislokasi dimana satu tulang yang membentuk sendi itu keluar dari robekan kapsul sehingga mengalami kesukaran memanipulasinya.

2. Dislokasi ekstraartikular adalah dislokasi dimana salah satu tulang yang membentuk sendi keluar dari robekan kapsul sendi itu.

3. Dislokasi intraartikular adalah keluarnya salah satu tulang yang membentuk sendi tapi masih berada didalam kapsulnya karena kapsul tersebut meregang sehingga rongganya melebar.

4. Instabilitas sendi tersembunyi (occutl joint instability) adalah dislokasi sendi tapi pemeriksaan fisik dalam batas normal, untuk hal ini memerlukan pemeriksaan khusus.

5. Kontusi yaitu trauma pada sendi tapi tidak mengalami perubahan posisi tulang-tulang yang membentuk sendi, hanya terjadi kerusakan pembuluh darah sehingga sendi teriihat edema.

6. Sprain adalah truma sendi yang mengakibatkan teregangnya ligamen sendi atau ruptur parsial.

7. Subluksasi residual adalah pergeseran inkomplit salah satu tulang pembentuk sendi karena adanya fragmen didalam sendi setelah dilakukan manipulasi.

Soal-soal:

1. Komponen apa saja yang menyusun stabilitas sendi?

2. Bagaiman terjadi instabilitas sendi?

3. Kondisi apa saja yang terdapat pada sendi akibat trauma?

4. Bagaimana cara membuat diagnosis trauma pada sendi?

5. Bagaimana penatalaksanaan trauma pada sendi?