Anda di halaman 1dari 22

I.

Judul Percobaan
Pesawat Atwood.

II.

Tujuan Percobaan
Menunjukan berlakunya hokum Nerton dan menghitung momen inersia katrol.

III.

Landasan Teori
2.1 Hukum Newton tentang Gerak
Gerak merupakan perubahan posisi suatu benda terhadap suatu titik acuan
tertentu. Apabila posisi suatu benda terhadap suatu acuan tertentu selalu tetap, maka
benda tersebut dikatakan diam terhadap acuan tersebut. Pada awalnya orang-orang
berpendapat bahwa sifat alamiah benda adalah diam. Mereka berfikir bahwa benda
tersebut hanya akan bergerak apabila benda tersebut diberikan gaya luar berupa tarikan
atau dorongan. Namun setelah Galileo melakukan percobaan, pendapat ini berubah dan
terkenallah dengan prinsip Galileo atau lebih baku dikenal dengan nama Hukum pertama
Newton. Hukum ini menyatakan bahwa:
Setiap benda akan tetap diam atau bergerak lurus beraturan jika resultan gaya-gaya yang
bekerja pada benda sama dengan nol
Hukum ini menunjukkan sifat benda yaitu sifat inersia atau kelembaman, namun tidak
terdeteksi secara kuantitatif.
Berdasarkan eksperimen serta dorongan intuitif dari hukum pertama Newton,
selanjutnya Newton merumuskan hukum keduanya yang mendefinisikan massa secara
kuantitatif serta memperlihatkan hubungan gaya dengan gerak benda secara kuantitatif
pula. Hukum ini menyatakan bahwa:
Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya
dan berbanding terbalik dengan massanya.
Secara matematis persamaannya adalah:
F m

dv
...........................................................................................................(1)
dt
Laboratorium Fisika 2 | 1

Atau
F m.a ............................................................................................................(2)
Dengan :
m = massa benda (kg).
a = percepatan yang dialami benda ( m

)
s2
F = besarnya gaya yang bekerja pada benda (Newton).
Jadi salah satu kesimpulan dari hukum kedua Newton adalah jika besar gaya
yang mempengaruhi benda adalah tetap maka benda akan mengalami percepatan yang
tetap juga.
Dari persamaan a

dv
diperoleh: dv a dt . Bila diintegrasi terhadap v dan t
dt

dengan batas-batas v0 - v dan 0 t, maka persamaan tersebut menjadi:

vv0 dv t0 adt
v v0 at .............................................................................................................(3)

Sedangkan dari hubungan v =

dx
diperoleh persamaan:
dt

dx vdt
dx v0 at dt

Bila diintegrasi terhadap x dan t dengan batas x0x dan 0t, persamaan dx v0 a dt
menjadi:

xx0 dx t0 v0 at dt
x x0 v0 t

1 2
at
2

Laboratorium Fisika 2 | 2

Untuk xo = 0 dan v0 = 0, maka persamaan tersebut dapat disederhanakan menjadi:


x

1 2
at ................................................................................................................(4)
2

Jika kita perhatikan lebih lanjut, ternyata gaya merupakan hasil interaksi antara
dua benda serta mempunyai sifat-sifat tertentu. Sifat ini pertama kali dikemukakan oleh
Newton dalam hukum ketiga Newton sebagai hukum aksi-reaksi, yang menyatakan
bahwa:
Ketika suatu benda memberikan gaya pada benda kedua, benda kedua tersebut
memberikan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah terhadap benda yang pertama
Bentuk persamaannya adalah:
F aksi F reaksi ........................................................................................................(5)

Persamaan (5) menunjukaan bahwa gaya aksi sama dengan gaya reaksi. Artinya Kalau
benda I mengerjakan gaya pada benda II, maka benda II juga akan mengerjakan gaya
pada benda I yang besarnya sama tetapi aranya berlawanan.
2.2 Gerak Rotasi
Bila benda mengalami gerak rotasi melalui porosnya , maka pada gerak ini akan
berlaku persamaan gerak yang ekivalen dengan persamaan gerak linear. Setiap kuantitas
dalam gerak linier mempunyai padanan dalam gerak rotasi. Beberapa persamaan gerak
linier yang analog dengan gerak rotasi yaitu:
Nama besaran fisika
Perpindahan

Kecepatan

Percepatan

Gerak linier

Gerak rotasi

x
v=

dx
dt

d
dt

a=

dv
dt

d
dt

I = mr2, I = momen inersia


Laboratorium Fisika 2 | 3

Massa

F = m.a

= I , = momen gaya

P = mv

P=I

Gaya
momentum
Dari analogi di atas dapat dikatakan bahwa penyebab perubahan gerak rotasi adalah
momen gaya (sesuai dengan Hukum kedua Newton).
2.3 Persamaan Gerak untuk Katrol
Suatu benda tegar memiliki suatu besaran yang menyatakan kencenderungan
suatu benda tersebut untuk dapat diputar terhadap sumbu tertentu yang disebut momen
inersia, di mana momen inersia ini dapat dihitung dengan persamaan:
i

I mi ri r 2 dm ............................................................................................(6)
2

Bila suatu katrol hanya dapat berputar pada porosnya yang diam, maka geraknya
dapat dianalisa sebagai berikut:
N
R

Mg

T1

T2

F 0

T1 Mg T2 N 0 .........................................................................................(7)
I

T1 R T2 R I ..................................................................................................(8)
Laboratorium Fisika 2 | 4

Hubungan antara percepatan linier dan percepatan anguler dinyatakan dengan:

a
....................................................................................................................(9)
R

a merupakan percepatan tangensial tepi katrol yang mana percepatan ini sama dengan
percepatan tali penggantung yang dililitkan pada katrol tanpa slip.
Bila suatu benda digantung seperti pada gambar 2 di bawah ini, maka percepatan
yang dialami benda dapat dihitung sebagai berikut:
a
R
T1
T1

T2
T2

M1g
(m + M2)g

Pada Katrol:

T1 T2 I ....................................................................................................(10)
R

Karena

a
, maka:
R

T1 T2

I
...................................................................................................(11)
R2

Laboratorium Fisika 2 | 5

Pada m dan M1 (hukum kedua Newton):

F m.a

m M 1 g m M 1 a T1 ................................................................................(12)
Pada M2 (hukum kedua Newton):

F m.a

M 2 g M 2 a T2 ...............................................................................................(13)

Jumlah persamaan (12) dan (13) akan menghasilkan:

m M1 g M 2 g m M1 a M 2 a T1 T2 ...............................................(14)
Substitusi (T1-T2) dari persamaan (11) ke persamaan (14), akan diperoleh:

m M1 M 2
I
m M1 M 2 2
R

g ....................................................................................(15)

Berdasarkan persamaan a

m M1 M 2
m M1 M 2 I

g , maka dapat disimpulkan bahwa


R2

semakin besar beban tambahan m, maka percepatan sistem akan lebih besar.
Untuk massa tambahan m yang lebih besar, maka waktu yang diperlukan untuk
menempuh CA harus lebih singkat karena percepatannya lebih besar, serta kecepatan
akhir di titik A akan lebih besar pula, sehingga saat bergerak lurus beraturan dari A ke B,
waktu tAB juga harus lebih singkat dibandingkan dengan sistem dengan massa tambahan
m yang lebih kecil.
IV.

Alat dan Bahan


1. Rangkaian pesawat atwood yang terdiri dari :
-

Tiang bersekala yang ujung atasnya terdapat karol P.


Laboratorium Fisika 2 | 6

Tali penggantung yang massanya dapat diabaikan.

Dua beban M1 dan M2.

Dua beban tambahan m1 dan m2.

2. Stopwatch (nst = 0,1s).


3. Neraca Ohaus (nst = 0,01 gram) batas ukur (0-310 gram).
4. Mistar (nst = 1cm).
5. Gunting.

V.

Langkah-langkah Percobaan
5.1 Set Up Percobaan
Set Up alat percobaan seperti gambar berikut.

P
C

m+M1
A
B

M2

5.2 Teknik Pengambilan Data


Langkah-langkah percobaan :
1. Menyiapkan segala alat dan bahan yang diperlukan dalam melakukan percobaan.
2. Mengkalibrasi alat yang digunakan dala percobaan seperti stopwatch dan neraca
Ohaus.
3. Menimbang dan mencatat beban M1, M2 dan beban tambahan m1 dan m2 serta
mengukur jari-jari katrol dengan R.

Laboratorium Fisika 2 | 7

4. Mengatur tali agar sejajar dengan tiang bersekala, lalu menambahkan beban m1
pada M1 dan memasang M2 dan dipegang, sehingga posisi m1+M1 pada titik C.
5. Melepaskan genggaman terhadap M2 dan mengamati hal yang terjadi. M2 akam
bergerak ke atas dan M1+m1 akan bergerak ke bawah. Apabila pesawat bekerja
dengan baik, maka kedua beban akan bergerak dipercepat dengan percepatan a, dan
ketika M1+m1 melalui A, m1 akan tersangkut di A dan selanjutnya system aka
bergerak lurus beraturan dengan kecepatan tetap. Tetapi, apabila hal ini tidak terjadi
maka praktikan perlu membetulkan letak penahan beban tambahan A.
6. Memasang M2 pada genggaman G setelah pesawat bekerja dengan baik dan
tambahkan m1 dan M1. Catat kedudukan C, penahan beban B dan penahan beban
A pada tiang pada tiang bersekala.
7. Melepaskan M2 dari genggaman G dan mencatat yaitu waktu yang diperlukan
oleh M1 (setelah m1 tersangkut pada A) untuk menempuh jarak dari A ke B ( ).
8. Melakukan langkah 7 sebannyak lima kali.
9. Mengganti m1 dengan m2. Dan melakukan lagi percobaan seperti pada langkah 7
dan 8.
10. Mengubah jarak antara A dan B ( ) dengan cara mengubah kedudukan B (B
digeser ke atas kira-kira 10cm) sedangkan kedudukan C dan A tetap. Melakukan
langkah 7, 8 dan 9.
11. Mengubah sekali lagi jarak seperti langkah 10, dan melakukan lagi langkah 7,
8, dan 9.
12. Mengatur kembali kedudukan A, B, C seperti semula dengan membuat jarak CA
cukup jaub, sedangkan jarak AB dekat, dan mencatat kedudukan C dan A.
memasang M2 pada G dan tambahkan m1 dan M1.
13. Melepaskan M2 dari G dan mencatat tac.
14. Melakukan langkah 13 sebanyak 5 kali.
15. Mengganti m1 dengan m2 dan melakukan lagi percobaan seperti langkah 13 dan
14.
16. Mengubah jarak dengan cara mengubah kedudukan G. Mencatat kedudukan
C dan melakukan lagi langkah 13, 14, dan 15.

Laboratorium Fisika 2 | 8

17. Mengubah jarak sekali lagi, mencatat kedudukan C dan melakukan lagi
langkah 13, 14 dan 15.

VI.

Data Hasil Percobaan


M1

= 100,00 gram

M2

= 100,00 gram

m1

= 33,58 gram

m2

= 22,58 gram

= 8,0 cm

Tabel 1.
Data Hasil Percobaan untuk Variasi AB
Nomor

(xAB)

Percobaan

m1 M 1

m2 M 1

0,5

0,6

0,5

0,6

0,5

0,6

0,5

0,6

0,5

0,6

0,6

0,9

0,6

0,9

0,6

0,9

0,6

0,9

0,6

0,9

0,9

1,1

40,0 cm

50,0 cm

60,0 cm

t AB (sekon)

tAB (sekon)

Jarak AB

m1 M 1

m2 M 1

0,5

0,6

0,6

0,9

0,9

1,1

Laboratorium Fisika 2 | 9

0,9

1,1

0,9

1,1

0,9

1,1

0,9

1,1

Tabel 2.
Data Hasil Percobaan untuk Variasi CA
Jarak
CA

Nomor

tAB (sekon)

Percobaan

m1 M 1

m2 M 1

0,3

0,4

0,3

0,4

0,3

0,4

0,3

0,4

0,3

0,4

0,2

0,3

0,2

0,3

0,2

0,3

0,2

0,3

0,2

0,3

0,1

0,2

0,1

0,2

t AB (s

t AB 2 (s 2 )

m1 M 1

m2 M 1

m1 M 1

m2 M 1

0,3

0,4

0,09

0,16

0,2

0,3

0,04

0,09

(XCA)

65,0
cm

75,0
cm

Laboratorium Fisika 2 | 10

85,0
cm

VII.

0,1

0,2

0,1

0,2

0,1

0,2

0,1

0,2

0,01

0,04

Teknik Analisa Data


Adapun teknik analisis data yang dilakukan untuk mencapai hasil yang diinginkan
dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
Sebagai dasar analisis data adalah persamaan (4) yang mana nilai percepatannya
dapat diambil dari persamaan (15). Kedua persamaan tersebut dapat ditulis dalam bentuk:

1 m M1 M 2
x
g t 2 ...........................................................................(16)
1
2
m M1 M 2 2

Persamandi atas identik dengan persamaan analisis regresi linier sederhana, yaitu:

Y a bx ...........................................................................................................(17)
dengan konstanta a = 0. Dengan demikian, maka analisis data digunakan teknik analisis
regresi linier sederhana berdasarkan azas kuadrat terkecil sebagai hasil modifikasi dari
persamaan (17) yaitu:

Yi bX i ..............................................................................................................(18)
dengan Yi dan Xi masing-masing menyatakan jarak sepanjang CA dan kuadrat waktu yang
diperlukan untuk menempuh jarak tersebut pada pengukuran ke-i. Sedangkan b memenuhi
persamaan:

m M1 M 2
1
b
g ..............................................................................(19)
1
2
m M1 M 2 2

Laboratorium Fisika 2 | 11

konstanta b dari persamaan (18) dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

N X i Yi ( X i )( Yi )
N X i ( X i ) 2
2

.............................................................................(20)

dengan N menunjukkan banyaknya variasi t2 dan X.


Simpangan baku dari b adalah b, dapat ditentukan dengan persamaan:

b S y

N
N X i ( X i ) 2
2

............................................................................. (21)

Dalam hal ini, Sy adalah penduga terbaik untuk nilai b terhadap garis lurus Yi = bXi yang
dapat dihitung dengan persamaan:

Sy
2

X i2 ( Yi ) 2 2 X i ( X i Yi ) Yi N ( X i Yi ) 2
1
2

i
.........(22)
N 2
N X i2 ( X i ) 2

Untuk memudahkan dalam menghitung Sy, b dan b diperlukan tabel kerja seperti tabel
di bawah ini:
Tabel nilai hasil percobaan dan nilai yang akan dihitung
No.

Xi = ti2

Yi = xi

Xi2

Yi2

XiYi

1.
2.
3.

Laboratorium Fisika 2 | 12

Untuk menghitung besarnya momen inersia katrol digunakan persamaan (19) yang
bentuk

lainnyaadalah:

R2
m1 M 1 M 2 g R 2 m1 M 1 M 2 ...................................................(23)
2b

dengan simpangan baku momen inersia katrol memenuhi persamaan:

R 2 m1 M 1 M 2
g b ........................................................................ (24)
2b 2

Dengan demikian maka hasil perhitungan besarnya momen inersia katrol pada
pesawat atwood yang diusulkan dapat dinyatakan dengan:
I = ( I I) ..........................................................................................................(25)

dengan:
I

= nilai momen inersia katrol yang diusulkan,

= nilai rata-rata momen inersia katrol,

I = simpangan baku momen inersia katrol.


Kesalahan relatif percobaan yang dilakukan terhadap hasil pengukuran dapat ditentukan
dengan rumus:
KR

I
100% ..................................................................................................(26)
I

Kesalahan relatif yang lebih kecil dari 10 % masih dapat diterima.

Laboratorium Fisika 2 | 13

VIII.

Analisis Data
8.1 Untuk sistem dengan menggunakan massa tambahan m1 (M1 + m1)
Untuk memudahkan dalam melakukan perhitungan, dapat dibantu dengan tabel berikut:
No.

Xi = ti2

Yi = xi

Xi2

Yi2

XiYi

1.

0,25

0,40

0,06

0,16

0,10

2.

0,36

0,50

0,13

0,25

0,18

3.

0,81

0,60

0,66

0,36

0,49

1,42

1,50

0,85

0,77

0,77

Dari tabel di atas, dapat dicari nilai-nilai dari:


Menghitung nilai konstanta b:

N X i Yi ( X i )( Yi )
N X i ( X i ) 2
2

30,77 1,421,50
30,85 1,42

2,31 2,13
2,55 2,02

= 0,34
Menentukan nilai Sy (Taksiran terbaik simpanga baku Yi terhadap garis lurus Y = bX)
dengan menggunakan persamaan:

Sy

X i2 ( Yi ) 2 2 X i ( X i Yi ) Yi N ( X i Yi ) 2
1
2

N 2
N X i2 ( X i ) 2

Sy

0,851,502 21,420,771,50 30,772


1
0
,
77

2
32
30,85 1,42

1,91 3,28 1,47

0,77
2,55 2,02

Laboratorium Fisika 2 | 14

2,84

0,77
0,53

0,77 5,35
= 6,13
Maka dapat dihitung nilai Sy yaitu:
Sy Sy

= 6,13
= 2,48
Menentukan nilai ketidakpastian pada b yaitu b:

b S y

2,48

N
N X i ( X i ) 2
2

30,85 1,42

2,48

3
2,55 2,02

2,48

3
0,53

= 5,90
=5,90
Menentukan momen inersia katrol, menggunakan persamaan:

Laboratorium Fisika 2 | 15

R2
m1 M 1 M 2 g R 2 m1 M 1 M 2
2b

(0,08) 2 0,03 0,10 0,10(9,8) (0,08) 2 (0,03 0,10 0,10)


2(0,34)

0,00640,2940 0,0014
0,68

0,00640,2926
0,68

0,0019
0,68

= 0,0027 kgm2
Menentukan ketidakpastian I menggunakan rumus:

R 2 m1 M 1 M 2
g b
2b 2

(0,08) 2 0,03 0,10 0,10


9,8 5,90
2(0,34) 2

(0,0064)0,03
9,8 5,90
0,2312

I 0,0081 5,90
I = 0,0477

Jadi dengan memperhatikan aturan angka penting, momen inersia katrol didapat sebagai
berikut:
I ( I I )

I (0,0027 0,0477) kgm2

Laboratorium Fisika 2 | 16

Adapun kesalahan relatif pengukurannya adalah sebagai berikut:


KR

I
x100%
I

0,0477
x100%
0,0027

= 1766,66 %
Untuk sistem dengan menggunakan massa tambahan m2 (M1 + m2)
Untuk memudahkan dalam mencari nilai-nilai tersebut, dapat dibantu dengan tabel
sebagai berikut:
No.

Xi = ti2

Yi = xi

Xi2

Yi2

XiYi

1.

0,36

0,40

0,1296

0,1600

0,1440

2.

0,81

0,50

0,6561

0,2500

0,4050

3.

1,21

0,60

1,4641

0,3600

0,7260

2,38

1,50

2,2498

0,7500

1,2750

Dari tabel yang terdapat di atas, dapat dicari nilai-nilai dari:


Menghitung nilai konstanta b:

N X i Yi ( X i )( Yi )
N X i ( X i ) 2
2

31,2750 2,381,50
32,2498 2,38

3,8250 3,5700
6,7494 5,6644

0,2550
1,0850
Laboratorium Fisika 2 | 17

= 0,23

Menentukan nilai Sy (Taksiran terbaik simpanga baku Yi terhadap garis lurus Y = bX


dengan menggunakan persamaan:

Sy

X i2 ( Yi ) 2 2 X i ( X i Yi ) Yi N ( X i Yi ) 2
1
2

N 2
N X i2 ( X i ) 2

Sy

2,24981,502 22,381,27500,7500 31,27502


1
0
,
7500

2
3 2
32,2498 2,38

5,0620 4,5517 3,8250

0,7500

6,7494 5,6644

3,3147

0,7500
1,0850

0,7500 3,0550
= 3,8050
Maka dapat dihitung nilai Sy yaitu:
Sy Sy

= 3,8050
= 1,9506

Menentukan nilai ketidakpastian pada b yaitu b:

b S y

N
N X i ( X i ) 2

1,9506

32,2498 2,38

Laboratorium Fisika 2 | 18

1,9506

3
6,7494 5,6644

1,9506 2,7649
= 3,2435
= 3,24

Menghitung momen inersia katrol, menggunakan persamaan:

R2
m2 M 1 M 2 g R 2 m2 M 1 M 2
2b

(0,08) 2 0,0225 0,1000 0,1000(9,8) (0,08) 2 (0,0225 0,1000 0,1000)


2(0,23)

0,00640,2205 0,0014
0,46

0,00640,2191
0,46

0,0014
0,46

= 0,0030 kgm2
Menghitung ketidakpastian I menggunakan rumus:

R 2 m2 M 1 M 2
I
g b
2b 2
I

(0,08) 2 0,0225 0,1000 0,1000


9,8 3,24
2(0,23) 2

(0,0064)0,2205
3,24
0,1058

I 0,0133 3,24
Laboratorium Fisika 2 | 19

I = 0,0430

Jadi dengan memperhatikan aturan angka penting, momen inersia katrol didapat:
I ( I I )

I (0.0030 0,0430) kgm2

Adapun kesalahan relatif pengukurannya adalah sebagai berikut:


KR

I
x100%
I

0,0430
x100%
0,0030

= 1433,00 %

IX.

Hasil Analisis Data


Dari analisis data yang telah dilakukan, diperoleh hasil analisis data sebagai
berikut:
9.1 Untuk sistem dengan massa tambahan m1
Besarnya momen inersia katrol untuk sistem dengan massa tambahan m1 (M1 + m1)
adalah sebesar I = 0,0027 kgm2 dengan ketidakpastian I = 0,0477 kgm2 dan
kesalahan relatif dari analisi data yang dilakukan adalah KR = 1766,66 %
Sehingga I ( I I )
I (0,0027 0,0477) kgm2

Laboratorium Fisika 2 | 20

9.2 Untuk sistem dengan massa tambahan m2


Besarnya momen inersia katrol untuk sistem dengan massa tambahan m2 (M1 + m2)
adalah sebesar I = 0,0030 kgm2 dengan ketidakpastian I = 0,0430 kgm2 dan
kesalahan relatif dari analisis data yang dilakukan adalah KR = 1433,00 %
Sehingga, I ( I I )
I (0.0030 0,0430) kgm2

X.

Pembahasan
Kesalahan-kesalahan
Adapun kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam melakukan percobaan ini
sehingga menyebabkan kesalahan relatifnya sangat besar yakni lebih dari 1000 % yang
di sebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:
1. Kesalahan praktikan dalam pembacaan skala alat ukur, seperti pembacaan skala
ukur pada neraca ohaus dan dalam mengukur jari-jari katrol yang kurang tepat.
Posisi mata kurang tegak lurus yang menyebabkan timbulnya kesalahan dan
menyebabkan data yang dilaporkan menjadi kurang akurat.
2. Kesalahan yang yang disebabkan oleh faktor manusia, seperti kurangnya
pemahaman

praktikan

terhadap

praktikum

yang dilakukan

dan

dalam

penganalisisan data.
3.

Kesalahan-kesalahan lain yang tidak diketahui tetapi mempengaruhi data hasil


percobaan yang bersifat acak.

Kendala-Kendala
Adapun kendala-kendala yang dialami dalam melakukan praktikum ini
adalah sebagai berikut:
1. Mengalami kesulitan dalam mengukur jari-jari katrol karena letaknya yang terlalu
tinggi, sehingga menyulitkan untuk melihat skala penggaris dengan tegak lurus.
2. Kurang tepatnya dalam melakukan atau menekan stopwatch pada saat mulai
maupun pada saat mengakhiri sehingga data yang diperoleh agak menyimpang.

Laboratorium Fisika 2 | 21

Terlebih-lebih pengukuran dilakukan oleh orang yang berbeda karena respon


setiap orang tidak sama.
3. Beban tambahan sering jatuh dan sulit dalam pemasangannya sehingga dibutuhkan
waktu yang cukup lama dalam percobaan ini.

XI.

Simpulan dan Saran


Simpulan
Berdasarkan hasil percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil percobaan yang
kami lakukan adalah gagal, karena kesalahan relatif yang sangat besar, dimana
kesalahan relatif yang kami dapat lebih dari 1000 %.
Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada percobaan selanjutnya agar hasil yang
diperoleh bisa lebih baik dari sekarang adalah sebaiknya praktikan lebih berhati-hati
dalam melakukan praktikum ini karena praktikum ini cukup sulit dilakukan terutama
dalam mencari data waktunya, butuh ketepatan dan ketelitian yang tinggi dalam
mengambil data-data dalam pratikum ini. Selain itu, praktikan juga tidak boleh
membuang-buang waktu (efesien waktu) karena dalam praktikum ini dibutuhkan
waktu yang relatif lama karena untuk memastikan bahwa pratikum yang dilakukan
adalah benar atau tidak salah konsep.

Laboratorium Fisika 2 | 22