Anda di halaman 1dari 10

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Kelemahan
Pengujian awal berfokus pada kelemahan yang baru karena ini adalah fitur primer
secara umum dari PPS. Penelitian elektrodiagnostik (elektromiografi dan penelitian
konduksi saraf) direkomendasikan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit
neuromuscular lainnya dan membantu menegakkan riwayat poliomyelitis. Walaupun
riwayat poliomyelitis tidak dapat dibuktikan dengan penelitian elektrodiagnostik,
beberapa penemuan seperti adanya potensial aksi unit motoric yang sangat besar
membuat diagnose lebih mudah ditegakkan dan menyingkirkan diagnosis bila tidak
ditemukan.
Bila secara klinis diagnosis bisa ditegakkan, pencitraan tulang belakang (MRI atau
tomography dengan atau tanpa myelography) bisa membantu mengevaluasi adanya
myelopathy atau radikulopati. Pemeriksaan laboratorium termasuk pemeriksaan
fungsi tiroid dapat dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan niopati tiroid dan
enzim otot, yang cenderung meningkat pada PPS.
Paralisis yang terjadi pada penderita polio, baik pada penderita akut ataupun kronik
disebabkan karena turunnya kepadatan mineral tulang. Hal ini ditambah dengan
kecenderungan penderita untuk jatuh merupakan penyebab utama meningkatnya
angka kecacatan. Maka dari itu, pemeriksaan kepadatan mineral tulang harus
dipertimbangkan pada semua penderita polio; pencitraan difokuskan pada area
dengan paralisis paling parah.
Kelelahan
Pasien dengan kelelahan diharuskan untuk diperiksa apakah ada anemia, disfungsi
tiroid, depresi dan kesulitan tidur. Kesulitan tidur biasa terjadi pada penderita polio
dan sering menjadi sleep apnea24. Seharusnya terdapat ambang yang sangat rendah
untuk melakukan pemeriksaan pada tidur penderita polio yang mengeluh kelelahan.
Kondisi kronis seperti gagal jantung kongestif, diabetes, dan infeksi kronis juga bisa
menyebabkan kelelahan dan harus diperiksa dengan benar. Kanker dan diagnosis
alternatif

serius

lainnya

harus

disingkirkan.

Etiologi

dipertimbangkan (lihat pembahasan masalah respiratorik)


Nyeri

pernafasan

harus

Nyeri mungkin disebabkan karena banyak sebab berbeda dan harus diselidiki secara
teliti. Nyeri post-poliomielitis duduagnosis berdasarkan riwayat dan pemeriksaan
fisik. Tetapi pemeriksaan diagnostic dapat dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan lain. Neuropati pada anggota gerak atas seperti sindroma terowongan
karpal

harus

dipertimbangkan

dan

disingkirkan

dengan

pemeriksaan

elektrodiagnostik. Foto polos dapat membantu diagnosa osteoarthritis dan stenosis


spinal. MRI dan tomography dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis lainnya.
Masalah Pernafasan
Masalah pernafasan sering bermanifestasi menjadi hipoventilasi alveolar kronis dan
bisa dievaluasi awal dengan uji fungsi paru dasar. Radiography dada, dan
pemeriksaan laboratorium (misal analisa gas darah) dapat dilakukan. Pulse
oksimetri ( saat istirahat, saat latihan, dan saat tidur) bisa menyediakan informasi
tambahan. Pemeriksaan tidur direkomendasikan pada penderita polio dengan
keluhan kelelahan dan kesulitan bernafas.
Masalah Menelan
Penyakit menelan bisa didiagnosa dengan bermacam-macam pencitraan yanf
berbeda. Pemeriksaan menelan barium yang sudah dimodifikasi dan endoskopi
fungsional menelan adalah pemeriksaan yang paling sering dilakukan.
Intoleransi Dingin
Intoleransi dingin disebabkan oleh banyak faktor, termasuk gangguan system saraf
simpatik dan paralisis otot pada anggota gerak yang penting dalam menjaga aliran
darah dinamis. Pemeriksaan diagnostic biasanya tidak dilakukan pada symptom ini
kecuali untuk menyingkirikan kemungkinan peyakit lain (misal penyakit vascular
perifer)
DIAGNOSA BANDING
Kelemahan

Miopati
Sklerosis amiotropik lateral
Mielopati (ex. karena stenosis spinal, tumor spinal)
Radikulopati

Neuropati perifer
Deconditioning
Sklerosis multiple
Miastenia gravis
Penyakit Parkinson
Atrofi otot spinal dewasa

Kelelahan

Kesulitan tidur
Depresi
Disfungsi tiroid
Anemia
Deconditioning
Kanker
Infeksi kronis
Disfungsi pernafasan
Disfungsi jantung
Penyakit sistemis kronis (ex SLE, Diabetes)
Fibromialgia

Nyeri

Tendinitis
Bursitis
Osteoarthritis
Radikulopati
Neuropati perifer
Fibromialgia
Sindrom nyeri miofascial

Masalah Pernafasan

Penyakit jantung
PPOK
Asma
Anemia
Deconditioning

Masalah menelan

Penyakit reflux gastroesofageal


Lesi benign atau maligna
Striktur

Intoleransi Dingin

Penyakit vaskular perifer

TATALAKSANA
AWAL
Kelemahan
Immunoglobulin intravena terbukti meningkatkan kekuatan pada penderita polio.25,26
Pada suatu penelitian double-blind, median meningkat sebesar 8.3%. 26 Hal ini
menunjukkan perolehan signifikan pada status fungsional, walaupun saat ini belum
begitu jelas. Pyridostigmine, yang biasanya meningkat secara perlahan sampai dosis
60 mg tiga kali sehari, digunakan untuk meningkatkan kekuatan.27-29
Kelelahan
Kelelahan diatasi dengan tatalaksana yang sesuai dengan penyebab kelelahan tsb.
Sangat penting untuk mengatasi kesulitan tidur pada penderita polio dengab sleep
apnea atau penyakit pergerakan tungkai periodik.

30

Kebiasaan tidur yang benar

penting untuk dilakukan (ex waktu tidur yang teratur, menghindari konsumsi kafein
pada malam hari). Depresi bisa ditatalaksana dengan pengobatan ataupun konseling
ataupun keduanya. Sebagai tambahan, pasien dianjurkan untuk mengatur fase
hariannya, istirahat saat kegiatan harian dan tidak menkonsumsi alcohol.
Pada pasien dengan kelelahan lemah kronis, hidroklorida metilfenidat dan
bromocriptine telah dicoba dengan bermacam hasil. Akhir-akhir ini, modafinil telah
digunakan untuk mengatasi kelelahan, walaupun hasilnya tidak sepenuhnya
memuaskan.31-33 Dosis awal adalah 200 mg oral setiap pagi dan bisa ditambah
sampai 400 mg.
Nyeri
Nyeri biasanya hilang setelah penyebab keluhan diatasi (misal pada sindroma
terowongan karpal, arthritis). Jika pengobatan dipertimbangkan, obat nonsteroid
anti-inflamasi dan asetaminofen dapat dicoba sebagai analgetik. Tramadol sebagai
obat oral analgetik dan Lidoderm 5% patch yang ditempel pada daerah yang sakit
juga bisa diberikan. Post-poliomielitis myalgia bisa diatasi dan dilaporkan
memberikan respon terhadap antidepresan trisiklik dosis rendah. Tetapi tetap harus
dipikirkan efek samping berupa kesulitan tidur.
Masalah pernafasan

Masalah pernafasan, sleep apnea sebagian sering diatasi dengan ventilasi tekanan
positif terus menerus atau ventilasi tekanan positif bilevel saat malam hari dengan
perbaikan symptom secara signifikan. Pemberian oksigen dapat mengeksaserbasi
hipoventilasi alveolar kronis dan harus digunakan secara hati-hati.
Masalah Menelan
Masalah menelan biasanya dapat diatasi dengan tatalaksana konservatif oleh ahli
patologi bicara dan bahasa. Pada beberapa kasus, intervensi operasi sangat
membantu. Pada kasus yang jarang, alternative pemberian oral diperlukan.
Intoleransi dingin
Intoleransi dingin diatasi secara simptomatik dengan pelapisan pakaian dan baju
dalam termal.

REHABILITASI
Rehabilitasi berfokus pada edukasi pasien, latihan terapeutik, dan kebutuhan
peralatan adaptif. Edukasi pasien mencakup pengetahuan mengenai diagnosis dan
pencegahan yang benar, pacing, pencegahan jatuh, edukasi postural, ergonomik,
manajemen nyeri, program latihan di rumah dan keamanan rumah. Keamanan
rumah mencakup kunjungan ke rumah karena rekomendasi pada modifikasi rumah
terbukti meningkatkan keamanan pasien di rumahnya.34,35
Program latihan harus disesuaikan dengan masing-masing orang dan bertujuan pada
fleksibilitas, kekuatan dan penyesuaian dengan keadaan.

36

Protokol yang tidak

melelahkan pasien harus digunakan untuk kelompok otot yang dipengaruhi oleh
poliomyelitis. Program penyesuaian ini harus diselesaikan secara perlahan,
bersamaan dengan protokol yang sama dengan program berjalan yang harus
menggunakan kelompok otot yangkurang terlibat. Pelatihan silang adalah prinsip
pelatihan yang penting pada kelompok ini karena kelelahan otot yang terjadi.
Peralatan yang dibutuhkan ditentukan dengan pertimbangan evaluasi ortotik.,
bantuan berjalan, skuter, atau kursi roda, kursi angkat, dan penyesuaian menyetir.
Evaluasi ortotik harus komprehensif dan mengikutsertakan anggota gerak atas dan
bawah. Misalnya, bidai pada pergelangan tangan yang diberikan pada sindroma
terowongan karpal dan bantalan siku untuk neuropati ulnaris. Ada bermacam-macam

jenis dan bahan braket; berdasarkan pilihan dengan berat yang ringan, misalnya
serat karbon dan Kevlar untuk populasi ini.37
Terapis fisik, okupasi, atau pernafasan yang berpengalaman pada pengobatan
penyakit pernafasan sangat membantu mengajarkan pasien beberapa teknik bernapas
dan postural. Sebagai tambahan, terapis yang berwawasan luas bisa membantu
pasien menyimpan tenaga yang bisa menurunkan kebutuhan bernapas.
Ahli patologi bicara dan bahasa dapat membantu masalah menelan dengan
mengajarkan pasien teknik menelan dan bagaimana cara mencegah tersedak dan
aspirasi. Selain itu terapis juga dapat membuat rekomendasi makanan atau cairan
yang sebaiknya dihindari. Untuk keamanan, anggota keluarga juga diajarkan
maneuver Heimlich.
PROSEDUR
Pada beberapa kasusprosedur terapeutik direkomendasikan pada basis dari symptom
spesifik. Misalnya, variasi yang luas dari kondisi musculoskeletal yang biasa
ditemukan pada penderita polio yang mungkin diatasi dengan injeksi (ex. Rotator cuff
tendinitis, sindroma terowongan karpal, sindroma nyeri miofasial servikal).
Pembedahan
Pembedahan direkomendasikan pada bermacam-macam kondisi ortopedik, seperti
penggantian sendi, dan pelepasan terowongan karpal. Pada beberapa kasus, orang
dengan gangguan menelan adalah kandidat untuk pembedahan atau penggantian
selang makanan.
KOMPLIKASI PENYAKIT POTENSIAL
PPS dicirikan dengan perkembangan symptom secara lambat. Salah satu komplikasi
yang paling signifikan dari PPS berupa jatuh dengan cedera lanjutan. Dari 233
penderita polio yang disurvey, 64% melaporkan kejadian jatuh setidaknya satu kali
selama satu tahun terakhir.38 Penelitian yang sama juga menghubungkan jatuh pada
penderita polio dengan angka kejadian fraktur yang tinggi; 82 dari 233 (35%)
dilaporkan dengan riwayat setidaknya satu kali fraktur dikarenakan jatuh. Karena
osteopenia atau osteoporosis pada tungkai yang paralisis, penderita polio lebih rentan
terhadap cedera.

39

Penderita polio sering dilaporkan mengalami penurunan fungsi

abilitas setelah jatuh.

Masalah dengan pernafasan secara progresif mengubah status fungsional dengan


menurunnya ketahanan bernafas. Oksigen supplemental menjadi dibutuhkan bagi
penderita yang sebelumnya tidak pernah membutuhkan oksigen.
Masalah menelan dapat menyebabkan pneumonia aspirasi atau malnutrisi. Masalah
ini serius dan secara potensial mengancam nyawa.
KOMPLIKASI TATALAKSANA POTENSIAL
Terdapat 3 kategori komplikasi dalam tatalaksana. Komplikasi tergantung kepada efek
samping pengobatan, kejadian jatuh, dan intervensi yang tidak layak.
Analgetik dan obat non steroid anti inflamasi mempunyai efek samping yang telah
diketahui yang banyak mempengaruhi sistem lambung, hepar, dan ginjal. Efek
samping dari piridostigmin biasanya disebabkan oleh dosis yang tidak tepat dan biasa
disebut SLUD (meningkatnya salivasi, lakrimasi, urinasi, dan defekasi). Sekresi
pernafasan juga bisa meningkat akibat pengobatan ini. Antidepresan trisiklik
mempunyai efek samping kolinergik, yang paling serius berupa kemungkinan retensi
urin akut pada laki-laki(laki-laki dengan masalah prostat biasanya bermasalah). Efek
samping dari modafinil termasuk sakit kepala, mual, dan kegugupan. Modafinil dapat
meningkatkan tingkat sirkulasi dari diazepam, fenitoin, dan propranolol.
Pada terapi fisik, harus hati-hati dalam melatih cara berjalan dan pola pergerakan
orang. Saat berjalan, gastrocnemius yang kencang dapat membantu fleksi plantar yang
menghasilkan gerakan ekstensi pada lutut, yang membantu quadriceps yang lemah.
Bila gastrocnemius direnggangkan sebelum braket dipasang, akan meningkatkan
resiko penekukan lutut. Braket atau alat mobilitas yang salah dan berat akan
menghalangi pergerakan yang mengakibatkan kejatuhan pasien.
Intervensi yang tidak tepat dapat memperburuk keadaan pasien polio. Program latihan
yang terlalu berat dapat meningkatkan resiko kelemahan lanjut dan bisa
mengakibatkan kecacatan musculoskeletal.
Tirah baring karena beberapa tindakan pembedahan juga bisa mengakibatkan
beberapa masalah rekuperatif signifikan pada penderita polio. Rehabilitasi postoperative sering diperlukan. Penderita polio banyak dilaporkan mempunyai kesulitan
dengan anestesi umum dan membutuhkan dosis lebih banyak dari obat-obatan nyeri
post-operatif. Pertimbangan hati-hati sangat diperlukan mengingat resiko dan
keuntungan tindakan pembedahan populasi ini.

REFERENCE
1. Halstead LS, Silver JK. Nonparalytic polio and post polio syndrome. Am J
Phys Med Rehabil 2000;79:13-18
2. Gawne AC, Halstead LS. Post-polio syndrome: pathophysiology and clinical
management. Crit Rev Phys Rehabil Med 1995;7:147-188.
3. Silver JK. Post Polio. A Guide for Polio Survivors and Their Families. New
Haven, Conn, Yale University Press. 2001.
4. Dalakas MC. Pathogenetic mechanism of post-polio syndrome morphological,
electrophysiological, virological and immunological correlation. Ann N Y
Acad Sci 1995;753:167-185
5. Maselli RA, Wollmann R, Roos R. Function and ultrastructure of the
neuromuscular junction in post-polio syndrome. Ann N Y Acad Sci
1995;753:129-137
6. Grimby G, Tollback A, Muller U, Larsson L. Fatigue of Chronically overused
motor units in prior polio patients. Muscle Nerve 1996;19:728-737
7. Halstead LS. Managing Post-Polio: A Guide to ling well with post-polio
syndrome. Washington DC, NRH Pres, 1998
8. Nollet F, Beelen Am Twisk JW, et al. Perceived health and physical
functioning in post poliomyelitis syndrome: a 6-year perspective follow up
study.
9. Stolwijk-Swuste JM, Beelen A, Lankhorst GJ, Nollet F. The course of
functional status and muscle strength in patients with late onset sequelae of
poliomyelitis: a systematic review. Arch Phys Med Rehabil 2005;86: 16931701
10. Halstead LS, Rossi CD. New problems in old polio patient: result of survey of
539 polio survivors. Orthopedics 1985;8:845-850
11. Ostlund G, Borg K, Wahlin A. Cognitive functioning in post-polio patients
with and without general fatigue. J Rehabil Med 2005;37:147-151
12. Chasens ER, Umlauf M, Valappil T, Singh KP. Nocturnal problems in post
polio syndrome: sleep apnea symptoms and nocturia. Rehabil Nurs
2011;26:66-71
13. Schanke A-K, Stanghelle JK, Anderson S, et al. Mild versus severe fatigue in
polio survivors: special characteristics. J Rehabil Med 2002;34:134-140
14. Abaza MM, Sataloff RT, Hawkshaw MI, Mandel S. Laryngeal manifestations
of postpoliomyelitis syndrome. J Voice 2001;14:291-294
15. Werner R, Waring W, Davidoff G. Risk factors for median mononeuropathy of
the wrist in [pstpoliomyelitis patients. Arch Phys Med Rehabil 1989;70:464467

16. Verendrakumar M, Taly AB, Nagaraja D. Ulnar nerve palsy due to axillary
crutch. Neurol India 2001;49:67-70
17. Klein MG, Whyte J, Keenan MA, et al. The relation between lower extremity
strength and shoulder overuse symptoms: a model based on polio survivors.
Arch Phys Med Rehabil 2000;81:789-795
18. Klein MG, Whyte J, Keenan MA, et al. Changes in strength over time among
polio survivors. Arch Phys Med Rehabil 2000;81:1059-1064
19. Silver JK, Aiello DD. Polio survivors: falls and subsequent injuries. Am J
Phys Med Rehabil 2002;81:567-570
20. Bruno RL, Zimmerman JR. Word finding difficulty as a post-polio sequelae.
Am J Phys Med Rehabil 2000;79:343-348
21. Widar M, Ahlstrom G. Pain in persons with post-polio: the Swedish version of
the Multidimensional Pain Inventory (MPI). Scand J Caring Sci 1999;13:3340
22. Silver JK, Aiello DD. Bone density and fracture risks in male polio survivors.
Arch Phys Med Rehabil 2001;81:1329
23. Silver JK, Aiello DD, MacNeil JR. Effect of Fosamax on bone density in male
polio survivor: a case report. Arch Phys Med Rehabil 2001;81:1311
24. Dean AG, Graham BA, Dalakas M, Sato S. Sleep apnea in patients with
postpolio syndrome. Ann Neurol 1998;43:661-664
25. Gonzalez H, Khadei M, Andersson M, et al. Prior poliomyelitis- IVIg
treatment reduces proinflammatory cytokine production. J Neuriummunol
2004;150:139-144
26. Gonzalez H, Sunnerhagen KS, Sjorberg I, et al. Intravenous immunoglobulin
for post-polio syndrome: a randomized controlled trial. Lancet Neurol
2006;5:493-500
27. Seivert BP, Speier JL, Canine JK. Pyridostigmine effect on strength,
endurance and fatigue in post-polio patients [abstract]. Arch Phys Med
Rehabil 1994;75:1049
28. Trojan DA, Collet JP, Shapiro S, et al. A multicenter, randomized, doubleblinded trial of pyridostigmine in post-polio syndrome. Neurology
1999;53:1225-1233
29. Horesmans HLD, Nollet F, Beelen A, et al. Pyridostigmine in post-polio
syndrome: no decline in fatigue and limited functional improvement. J Neurol
Neurosug Psychiatry 2003;74:1655-1661
30. Hsu AA, Staata BA. Post-polio sequelae and sleep-related disordered
breathing. Mayo Clinic Proc 1998;73:216-224
31. Kingshott RN, Vennelle M, Coleman EL, et al. Randomized, double-blind,
placebo-controlled crossover trial of modafinil in the treatment of residual

excessive daytime sleepiness in the sleep apnea/hypopnea syndrome. Am J


Respir Crit Care Med 2001;163:918-923
32. Mitler MM, Harsh J, Hiroshkowitz M, Guilleminault C. Long term efficacy
and safety of modafinil (Provigil) for the treatment if excessive daytime
sleepiness associated with narcolepsy. Sleep Med 2000;1:231-243
33. Chan KM, Strihschein FJ, Rydz D, et al. Randomized controlled trial of
modafinil for the treatment of fatigue in postpolio patients. Muscle Merve
2006;33:138-141
34. Salkeld G, Cumming RG, ONeill E, et al. The cost effectiveness of a home
hazard reduction program to reduce falls among older person. Aust N Z J
Public Health 2000;24:265-271
35. Cumming RG, Thomas M, Szonyi G, et al. Home visits by an occupational
therapist for assessment and modification of environmental hazards: a
randomized trial of falls prevention. J Am Geriatr Soc 1999;47: 1397-1402
36. Chan KM, Amirjani N, Sumrain M, et al. Randomized controlled trial of
strength training in post-polio patients. Muscle Nerve 2003;27:332-338
37. Silver JK, Aiello DD, Drillio RC. Lightweight carbon fiber and Kevlar loor
reaction AFO in two polio survivors with new weakness [abstract]. Arch Phys
Med Rehabil 1999;80:1180
38. Silver JK, Aiello DD. Risk of falls in survivors of poliomyelitis [abstract].
Arch Phys Med Rehabil 2000;81:1272
39.
Silver JK. Aging, comorbidities and secondary disabilities in polio
survivors. In Halstead LS, ed. Managing Post-Polio: A Guide to Living Well
with Post-Polio Syndrome. Washington DC, NRH Press, 1998.