Anda di halaman 1dari 4

Tabel Bivariat

Tabel 5.2.1 Berdasarkan data yang terdapat dalam Tabel, pengguna KB paling
banyak adalah umur 26-35 tahun, dimana 34,78% lebih memilih menggunakan KB
suntik. Hal ini dikarenakan keefektifan yang mencapai angka 99% dan kepraktisan
alat KB suntik, serta bukan alat KB yang permanen. Dalam artian ketika ingin
mempunyai anak kembali, masih dapat dilakukan dengan menghentikan
penggunaan alat KB Suntik.
Tabel 5.2.2 Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel. Tingkat pendidikan S1 lebih
banyak menggunakan KB suntik 23,66%. Sehingga Tingkat Pendidikan turut
berpengaruh terhadap kemauan Para Pasutri untuk menjalankan program KB dan
pemilihan alat KB yang akan digunakan, hal ini dikarenakan dengan semakin
tingginya tingkat pendidikan akan menjadi lebih mudah mengerti dan memahami
penyuluhan-penyuluhan yang sudah diberikan oleh pihak Puskesmas kepada warga,
serta dapat mengambil keputusan alat KB manakah yang paling efektif dan praktis
untuk digunakan.
Tabel 5.2.3 Berdasarkan data yang terpadat pada Tabel, dapat dilihat bahwa
pengguna KB suntik paling banyak memiliki 2 anak 22,22%, dikarenakan kefektifan
dari KB Suntik sendiri yang mencapai 99% serta kepraktisannya, sehingga dapat
menarik minat Pasutri untuk mengikuti Program KB. Hal ini sangat berbeda dengan
KB non Suntik yang hanya 5,79% dari penggunanya memiliki 2 anak.
Tabel 5.2.4 Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel, dapat dilihat bahwa
pengguna KB suntik paling banyak adalah yang bekerja sebagai Ibu rumah tangga
22,22%. Hal ini dikarenakan karena dari kekurangan KB suntik sendiri adalah
pengguna KB suntik harus selalu kembali ke tempat layanan kesehatan untuk
kembali mendapatkan suntikan hormon. Hal ini sangat berbeda dengan KB non
Suntik yang kebanyakan dipilih oleh orang yang kurang miliki waktu dalam
melakukan pengecekan Rutin seperti Pegawai Swasta, PNS
Tabel 5.2.5 Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel, dapat dilihat bahwa
pengguna KB suntik paling banyak adalah yang berpenghasilan 1-3jt (39,61%). Hal
ini dikarenakan harga KB suntik yang cukup terjangkau yaitu 1 bulan Rp 25.000,sampai Rp 30.000,- dan KB suntik 3 bulan adalah Rp 15.000,- sampai Rp 25.000.
Tabel 5.2.6 Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel, dapat dilihat bahwa
pengguna KB suntik sudah banyak mengerti apa arti dari KB (47,83%), sehingga
diharapkan dari pengertian ini dapat mendukung program KB yang sudah dilakukan
oleh Pemerintah
Tabel 5.2.7 Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel, dapat dilihat bahwa Tabel
5.2.7 dengan Tabel 5.2.6 saling berhubungan satu sama lain. Hal ini terlihat dari
jumlah responden yang menggunakan KB suntik sudah mengerti tentang tujuan
dari Program KB itu sendiri ( 71,98% ). Sehingga dapat dilihat juga bahwa program
KB yang dilaksanakan oleh Pemerintah mulai mendapatkan respond Positif dari
Masyarakat.

Tabel 5.2.8 Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel, pengguna KB suntik sudah
mengerti tentang kekurangan KB suntik berupa pendarahan ( 47,83% ). Dari data
yang ada dapat dilihat bahwa pengetahuan Masyarakat di Kecamatan Ciracas
tentang KB Suntik sudah cukup bagus, hal ini tidak terlepas dari peran tenaga
kesehatan yang bertugas di daerah Ciracas yang telat memberikan penyuluhan
ataupun pengertian tentang KB kepada masyarakat CIracas.
Tabel 5.2.9 Berdasarkan data yang terpadat pada Tabel, pengguna KB suntik sudah
mengerti bahwa syarat dari metode KB ideal adalah aman bila digunakan
( 71,98% ). Dari data yang ada dapat dilihat bahwa pengetahuan Masyarakat di
Kecamatan Ciracas tentang KB cukup bagus, hal ini tidak terlepas dari peran tenaga
kesehatan yang bertugas di daerah Ciracas yang telat memberikan penyuluhan
ataupun pengertian tentang KB kepada masyarakat CIracas.
Tabel 5.2.12 Berdasarkan data yang terdapat pada table, dapat dilihat hubungan
antara table 5.2.8 5.2.9 5.2.12 yaitu tingkat kesediaan hadir dari pengguna KB
suntik di Kecamatan Ciracas untuk bersedia hadir jika akan diadakan penyuluhan
tentang KB ( 70,53% ). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Ciracas sudah
mengerti tentang pentingnya program KB dan memberikan respond positif terhadap
program KB yang dilakukan oleh Pemerintah. Tetapi hal ini bisa berbeda di daerah
daerah yang jauh jangkauannya dari Tenaga Kesehatan yang ada, sehingga
membuat program KB sendiri kurang efektif dalam menjangkau daerah daerah
terpencil
Tabel 5.2.15 Berdasarkan data yang terdapat pada tabel, bahwa pengguna KB
suntik mendukung program KB yang dilakukan oleh Pemerintah ( 70,53% ),
sehingga dapat dilihat bahwa pengguna KB suntik di Kecamatan Ciracas sadar
tentang pentingnya Program KB yang di lakukan oleh Pemerintah. Tetapi hal ini bisa
berbeda di daerah daerah yang jauh jangkauannya dari Tenaga Kesehatan yang
ada, sehingga membuat program KB sendiri kurang efektif dalam menjangkau
daerah daerah terpencil
Tabel 5.2.16 Berdasarkan data yang terdapat pada tabel, bahwa pasutri pengguna
KB suntik mendukung pasangannya untuk mengikuti program KB yang dilakukan
oleh Pemerintah ( 42,03% ), sehingga dapat dilihat bahwa pasutri pengguna KB
suntik di Kecamatan Ciracas sadar tentang pentingnya Program KB yang di lakukan
oleh Pemerintah. Tetapi hal ini bisa berbeda di daerah daerah yang jauh
jangkauannya dari Tenaga Kesehatan yang ada, sehingga membuat program KB
sendiri kurang efektif dalam menjangkau daerah daerah terpencil
Tabel 5.2.17 Berdasarkan data yang terdapat pada tabel, bahwa pengguna KB
suntik telah menggunakan KB suntik lebih dari 1 tahun ( 46,37% ), tentu saja hal ini
dipengaruhi oleh kefektifan dari KB suntik sendiri yang mencapai 99%. Sehingga
membuat pengguna KB suntik menjadi aktif menggunakan KB suntik, dalam artian
terus menggunakannya dalam jangka waktu yang panjang. Walaupun harus bolakbalik ke Tenaga Kesehatan untuk melakukan suntikan tiap bulan atauapun tiap 3
bulan
Tabel 5.2.18 Berdasarkan data yang terdapat pada tabel, bahwa alasan paling
banyak dari pengguna KB Suntik untuk menghentikan pemakaian dikarenakan ingin

memiliki anak lagi ( 74,40% ). Hal ini sesuai dengan penggunaan KB suntik sendiri
yang harus berhenti terlebih dahulu jika ingin memiliki anak kembali. Dikarenakan
KB suntik menggunakan hormon yang disuntikkan untuk mencegah kehamilan
terjadi, dan KB suntik ini termasuk alat KB yang efektif untuk mencegah terjadi
kehamilan.
Tabel 5.2.19 Berdasarkan data yang terdapat pada tabel, bahwa pengguna KB
suntik dalam penggunaan alat KB sudah melalui keputusan bersama antara suami
dengan istri ( 78,74% ). Sehingga tidak menimbulkan permasalahan ketika ingin
memiliki anak kembali, karena ketika sudah membuat keputusan yang dilakukan
bersama tentu saja Pasutri telah mengerti apa saja kelebihan dan kekurangan dari
KB Suntik
Tabel 5.2.20 Berdasarkan data yang terdapat pada tabel, bahwa banyak dari
pengguna KB suntik yang melakukan control ulang ke Tenaga Kesehatan ( 42,03% ).
Hal ini penting dilakukan karena efek samping dari KB suntik itu tersendiri, yang
bisa terjadi pendarahan. Sehingga penting untuk melakukan control tiap
minggunya.
Tabel 5.2.21 Berdasarkan data yang terdapat pada tabel, bahwa pengguna KB
Suntik di Kecamatan Ciracas di dukung oleh keluarganya dalam melaksanakan
program KB ( 79,23% ). Sehingga dapat dilihat Masyarakat di Kecamatan Ciracas
sadar tentang pentingnya Program KB yang di lakukan oleh Pemerintah. Tetapi hal
ini bisa berbeda di daerah daerah yang jauh jangkauannya dari Tenaga Kesehatan
yang ada, sehingga membuat program KB sendiri kurang efektif dalam menjangkau
daerah daerah terpencil
Tabel 5.2.23 Berdasarkan data yang terdapat pada tabel, bahwa banyak dari
pengguna KB suntik tidak merasakan keluhan sebanyak (30,43%) berbeda dengan
pengguna KB Non suntik yang lebih banyak mengalami keluhan daripada tidak
mengalami keluhan. Hal ini dikarenakan KB Suntik menggunakan Hormon sebagai
alat KB, sehingga efek yang diberikan belum tentu terjadi secara langsung. Ini
berbeda dengan penggunaan KB Non Suntik seperti IUD/Spiral. Penggunaan alat
yang dimasukkan kedalam Vagina, tentu saja dapat menimbulkan keluhan langsung
bisa seperti kurang nyaman dalam pemakaian. Bisa berupa nyeri di alat kelamin.
Tabel 5.2.24 Berdasarkan data yang terdapat pada tabel, bahwa pengguna KB
suntik kurang rutin dalam memeriksakan kembali alat kontraspesinya ( 30,43% ),
yang dimaksudkan adalah kurang rutinnya pengguna KB suntik untuk melakukan
suntikkan hormonal sesuai waktu yang sudah ditentukan. Hal ini dapat dikarenakan
karena KB suntik harus rutin tiap 1 Bulan atau tiap 3 Bulan untuk melakukan
suntikan hormonal.
Tabel 5.2.25 Berdasarkan data yang terdapat dalam tabel, bahwa pengguna KB
suntik sudah pernah mengikuti penyuluhan tentang KB ( 30,43% ). Sehingga
pengguna KB suntik sudah mendapatkan pengetahuan yang cukup dalam
penggunaan alat alat KB, dan dapat menentukan pilihan dalam memilih alat KB
Tabel 5.2.26 Berdasarkan data yang terdapat dalam tabel, bahwa pengguna KB di
Kecamatan Ciracas sudah mencari informasi tentang alat alat KB ( 55,55% ).

Sehingga dapat dilihat bahwa respond positif dari masyarakat Ciracas tentang
Program KB yang dibuat oleh Pemerintah, tetapi hal ini bisa berbeda di daerah
daerah yang jauh jangkauannya dari Tenaga Kesehatan yang ada, sehingga
membuat program KB sendiri kurang efektif dalam menjangkau daerah daerah
terpencil