Anda di halaman 1dari 9

PENENTUAN TEGANGAN PERMUKAAN DENGAN METODE

CINCIN DU-NOUY

I.

Tujuan
- Menentukan besarnya tegangan permukaan pada beberapa campuran melalui

metode cincin Du-Nouy.


II.

Dasar Teori
Tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair
(fluida) yang berada pada keadaan diam (statis). Tegangan permukaan cairan ()
adalah kerja yang dilakukan suntuk memperluas permukaan cairan dalam satuan luas.
Tegangan permukaan terjadi karena permukaan zat cair cenderung untuk menegang
sehingga permukaannya tampak seperti selaput tipis. Hal ini dipengaruhi oleh adanya
gaya kohesi antara molekul air. Berikut ini adalah ilustrasinya, jika ditinjau dari suatu
cairan yang berada di dalam sebuah wadah.

Gambar 1. Gaya antar molekul pada lapisan suatu


cairan
Pada cairan, setiap molekul akan bergerak dibawah pengaruh molekul
sekelilingnya. Sebuah molekul yang terletak di dalam cairan sepenuhnya dikelilingi
oleh molekul lain yang akan menariknya (Brady, 1999).
Molekul cairan biasanya saling tarik menarik. Di bagian dalam cairan, setiap
molekul cairan dikelilingi oleh molekul-molekul lain di setiap sisinya; tetapi di
permukaan cairan, hanya ada molekul-molekul cairan di samping dan di bawah. Di
bagian atas tidak ada molekul cairan lainnya. Karena molekul cairan saling tarik
menarik satu dengan lainnya, maka terdapat gaya total yang besarnya nol pada
molekul yang berada di bagian dalam cairan. Sebaliknya, molekul cairan yang terletak
dipermukaan ditarik oleh molekul cairan yang berada di samping dan bawahnya.
Akibatnya, pada permukaan cairan terdapat gaya total yang berarah ke bawah. Karena
adanya gaya total yang arahnya ke bawah, maka cairan yang terletak di permukaan
1

cenderung memperkecil luas permukaannya, dengan menyusut sekuat mungkin. Hal


ini yang menyebabkan lapisan cairan pada permukaan seolah-olah tertutup oleh
selaput elastis yang tipis. Fenomena ini kita kenal dengan istilah tegangan permukaan
(surface tension) suatu cairan, yaitu jumlah energi yang dibutuhkan untuk menarik
atau memperluas permukaan sebesar satu satuan luas (Chang, 2003).
Dalam hal ini, energi yang paling terndah (paling stabil) untuk sejumlah
volume cairan adalah bila luas permukaannya paling minimum. Pada keadaan ini
molekul permukaan dengan energi tinggi paling sedikit jumlahnya. Disamping itu,
semua cairan akan berusaha memperkecil luas permukaannya. Sifat cenderung untuk
memperkecil permukaan inilah yang mungkin dalam laboratorium. Dimana besarnya
tegangan permukaan cairan tergantung dari kekuatan gaya tarik antar molekulmolekulnya. Bila gaya tarik besar, maka tegangan permukaannya juga besar.
Bila permukaan gelas mengandung lemak yang terbuat dari molekul-molekul
nonpolar, maka air sukar menyebar sebab lemak tak mengandung molekul polar yang
dapat diikat oleh molekul air untuk membentuk ikatan hydrogen sehingga diperlukan
usaha yang lebih besar untuk memperluas permukaan air. Dalam hal ini untuk
memperkecil usahanya untuk memperluas permukaan, maka diperlukannya larutan
detergen sehingga dapat dengan mudah menyebar pada permukaan yang berlemak.
Dimana detergen mengandung zat-zat yang disbut surfaktan yang dapat menurunkan
tegangan permukaan (Brady, 1999).
Persamaan Tegangan Permukaan
Dalam membantu menurunkan persamaan tegangan permukaan, kita tinjau
sebuah kawat yang dibengkokkan membentuk huruf U. Sebuah kawat lain yang
berbentuk lurus dikaitkan pada kedua kaki kawat U, di mana kawat lurus tersebut bisa
digerakkan (lihat gambar di bawah).

Jika kawat ini dimasukan ke dalam larutan sabun, maka setelah dikeluarkan akan
terbentuk lapisan air sabun pada permukaan kawat tersebut. Karena kawat lurus bisa
digerakkan dan massanya tidak terlalu besar, maka lapisan air sabun akan
memberikan gaya tegangan permukaan pada kawat lurus sehingga kawat lurus
bergerak ke atas (perhatikan arah panah). Untuk mempertahankan kawat lurus tidak
bergerak (kawat berada dalam kesetimbangan), maka diperlukan gaya total yang
arahnya ke bawah, di mana besarnya gaya total adalah F = w + T. Dalam
kesetimbangan, F = gaya tegangan permukaan yang dikerjakan oleh lapisan air sabun
pada kawat lurus.
Misalkan panjang kawat lurus adalah l. Karena lapisan air sabun yang
menyentuh kawat lurus memiliki dua permukaan, maka gaya tegangan permukaan
yang ditimbulkan oleh lapisan air sabun bekerja sepanjang 2l. Tegangan permukaan
pada lapisan sabun merupakan perbandingan antara gaya tegangan permukaan (F)
dengan panjang permukaan di mana gaya bekerja (d). Untuk kasus ini, panjang
permukaan adalah 2l. Secara matematis, ditulis sebagai berikut.

Karena tegangan permukaan merupakan perbandingan antara gaya tegangan


permukaan dengan satuan panjang, maka satuan tegangan permukaan adalah newton
per meter (N/m) atau dyne per centimeter (dyn/cm).
1 dyn/cm = 10-3 N/m = 1 mN/m
Berikut ini beberapa nilai tegangan permukaan yang diperoleh berdasarkan
percobaan.
Tabel 1. Tegangan permukaan beberapa zat cair
Zat cair yang
bersentuhan dengan udara
Air
Air
Air

Suhu (oC)
0
20
25

Tegangan Permukaan
(mN/m = dyn/cm)
75,60
72,80
72,20
3

Air
60
66,20
Air
80
62,60
Air
100
58,90
Air sabun
20
25,00
Minyak Zaitun
20
32,00
Air Raksa
20
465,00
Oksigen
-193
15,70
Neon
-247
5,15
Helium
-269
0,12
Aseton
20
23,70
Etanol
20
22,30
Gliserin
20
63,10
Benzena
20
28,90
Berdasarkan data tegangan permukaan, tampak bahwa suhu mempengaruhi nilai
tegangan permukaan fluida. Umumnya ketika terjadi kenaikan suhu, nilai tegangan
permukaan mengalami penurunan (bandingkan nilai tegangan permukaan air pada
setiap suhu adalam tabel di atas). Hal ini disebabkan karena ketika suhu meningkat,
molekul cairan bergerak semakin cepat sehingga pengaruh interaksi antar molekul
cairan berkurang. Akibatnya nilai tegangan permukaan juga mengalami penurunan
(Lohat, 2009).
Cara Menentukan Tegangan Permukaan dengan Metode Cincin Duncan
Prinsip dari metode cincin ini adalah gaya yang diperlukan untuk melepaskan
cincin sebanding dengan tegangan permukaan. Adapun cara pengukurannya adalah
sebagai berikut.
1. Cincin dibersihkan kemudian dipasang lagi pada kaitnya.
2. Cawan petri diisi dengan sampel yang akan diuji.
3. Cincin dicelupkan kira-kira 2-3 mm di bawah permukaan cairan.
4. Cincin ditarik ke atas secara perlahan-lahan sampai cincin keluar dari permukaan

cairan. Nilai yang tertera di layar akan naik sampai mencapai nilai maksimumnya
yaitu sesaat sebelum lamela pecah.

III.

Alat dan Bahan

Alat
Cincin Metal
Gelas Kimia 100 mL

Jumlah
1 buah
2 buah

Bahan
Air suling
Larutan
deterjen

Jumlah
Secukupnya
Secukupnya

0,05%; 0,10%; dan


Statif dan Klem
Cawan Petri
Labu ukur 100 mL
IV.

0,15%
Minyak goreng
Kloroform murni

1 set
2 buah
2 buah

Secukupnya
Secukupnya

Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan

No.
Prosedur Kerja
Hasil Pengamatan
1 Alat praktikum disusun seperti yangAlat praktikum yang digunakan diantaranya
terlihat pada gambar di bawah ini.

adalah cawan petri yang bersih dan kering,


cincin beserta kaitnya. Diameter cincin yang
digunakan adalah 5,9 m.

2 Air suling dimasukkan ke dalam cawan Aquades dimasukkan ke dalam cawan petri
petri.
3 Cicin

logam

dicelupkan

sampai memenuhi wadah.


kedalamCincin logam dicelupkan ke dalam cawan

larutan secara merata.


petri yang telah berisi aquades.
4 Cincin logam tersebut ditarik ke atasPerubahan skala (gaya tegangan permukaan)
secara perlahan-lahan dan skala
yang terjadi setelah cincin logam ditarik dari
dinamometer dicatat tepat ketika cincin
lepas dari permukaan air.
air suling adalah sebesar 4 mN.
5 Cincin
logam
dibersihkan
danBerikut ini adalah gaya tegangan permukaan
dikeringkan. Selanjutnya
ulangi
yang diperoleh dari percobaan yang telah
langkah 2 sampai 4 dengan mengganti
air suling tersebut dengan larutandilakukan.
deterjen 0,05%; 0,10%; dan 0,15%,
Campuran
Gaya Tegangan
minyak goreng, dan kloroform.
Permukaan (F)
5

Aquades
Larutan detergen 0,05%
Larutan detergen 0,10%
Larutan detergen 0,15%
Kloroform murni
Kloroform + air
Kloroform + air +

4mN
2 mN
2 mN
1 mN
1 mN
5 mN
3 mN

detergen
Minyak goreng
Minyak + air suling
Minyak + air

1 mN
4 mN
3 mN

detergen

Pembahasan

V.

Pada praktikum ini dilakukan pengukuran tegangan permukaan dari beberapa


campuran menggunakan metode cincin Duncan. Dimana campuran yang diukur
tegangan permukaannya adalah larutan detergen dengan konsentrasi 0,05%; 0,10%;
dan 0,15% serta kloroform murni, aquades, minyak + aquades, minyak + aquades +
detergen, kloroform + aquades, kloroform +aquades + detergen.
Dalam percobaan ini, pertama-tama dipersiapkan larutan detergen dengan
konsentrasi 0,05%; 0,10%; dan 0,15% dengan cara melarutkan detergen masingmasing sebanyak 0,05 g; 0,10 g; dan 0,15 g ke dalam 100 mL aquades. Setelah larutan
detergen tersebut siap, selanjutnya dilakukan pengukuran tegangan permukaannya
dengan cara mencelupkan cincin ke dalam larutan detergen kemudian menarik cincin
tersebut ke atas dan dilihat skala yang tertera pada alat ukur pada saat cincin terlepas
dari larutan yang diuji.
Pada percobaan ini juga dilakukan pengukuran tegangan permukaan beberapa
campuran lainnya dengan cara yang sama. Adapun hasil yang gaya diperoleh dalam
pengukuran tegangan permukaan beberapa campuran adalah sebagai berikut.
Tabel 2. Gaya tegangan permukaan beberapa campuran hasil percobaan
Campuran
Aquades
Larutan detergen 0,05%
Larutan detergen 0,10%
Larutan detergen 0,15%
Kloroform murni

Gaya Tegangan
Permukaan (F)
4 mN
2 mN
2 mN
1 mN
1 mN
6

Kloroform + air
Kloroform + air + detergen
Minyak goreng
Minyak + air suling
Minyak + air + detergen
Dari hasil

5 mN
3 mN
1 mN
4 mN
3 mN
yang diperoleh tentang gaya tegangan permukaan untuk beberapa

campuran pada tabel 2 di atas, maka besarnya tegangan permukaan () dapat


diketahui melalui perhitungan sebagai berikut.
Untuk Aquades

F
F

2l 2(2r) , dimana diameter cincin = 5,9 cm;

sehingga jari-jarinya = 2,95 cm = 2,95 x 10-2m

4 mN
10,79 mN/m
2(2 x x 2,95 x 10 - 2 m)

Dengan cara yang sama, dapat juga diketahui besarnya tegangan permukaan untuk
campuran yang lainnya. Besarnya tegangan permukaan () dapat dilihat pada tabel
berikut ini.
Tabel 3. Nilai tegangan permukaan pada hasil percobaan
Campuran

Tegangan
Permukaan ()
Aquades
10,79 mN/m
Larutan detergen 0,05%
5,39 mN/m
Larutan detergen 0,10%
5,39 mN/m
Larutan detergen 0,15%
2,69 mN/m
Kloroform murni
2,69 mN/m
Kloroform + air
13,48 mN/m
Kloroform + air + detergen
8,09 mN/m
Minyak goreng
2,69 mN/m
Minyak + air suling
10,79 mN/m
Minyak + air + detergen
8,09 mN/m
Berdasarkan hasil yang diperoleh mengenai tegangan permukaan () beberapa
campuran pada tabel di atas, dapat diketahui bahwa tegangan permukaan yang
dimiliki suatu campuran tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya. Dimana
besarnya tegangan permukaan dipengaruhi oleh kekuatan gaya tarik antara molekulmolekunya. Dalam hal ini, tegangan permukaan berbanding lurus dengan besarnya
gaya tarik antar molekul, yaitu tegangan permukaan akan semakin besar seiring
dengan semakin besarnya gaya tarik antar permukaannya.
Tegangan permukaan suatu cairan terjadi disebabkan karena molekul-molekul
dalam suatu cairan ditarik ke segala arah oleh gaya antar molekul, dan tidak ada
7

kecenderungan untuk ditarik ke arah tertentu. Tetapi molekul-molekul pada


permukaan ditarik ke bawah dan ke samping oleh molekul-molekul lainnya, tetapi
tidak ke atas keluar permukaan. Oleh karena itu, tarik menarik antar molekul ini
cenderung menarik molekul-molekul ke dalam cairan dan menyebabkan tegangan
permukaan menegang seperti lapisan tipis elastis. Dimana ukuran gaya elastis pada
permukaan cairan tersebut disebut dengan tegangan permukaan.
Dari hasil percobaan, dapat dibandingkan besarnya tegangan permukaan
antara aquades, kloroform murni, dan minyak goreng. Tegangan permukaan aquades
lebih besar jika dibandingkan dengan besarnya tegangan permukaan kloroform murni
dan minyak goreng. Hal tersebut disebabkan karena pada aquades tedapat ikatan
hidrogen yang menyebabkan kekuatan gaya tarik menarik antara molekul H 2O (air)
lebih besar dibandingkan dengan gaya tarik antara molekul-molekul pada kloroform
murni atau pun pada minyak goreng.
Pada percobaan ini juga diketahui bahwa penambahan detergen ke dalam
cairan dapat memperkecil besarnya tegangan permukaan. Hal ini terbukti dengan hasil
yang didapatkan, dimana setelah detergen ditambahkan ke dalam campuran airminyak, air-kloroform, serta pada larutan aquades (larutan detergen 0,05%; 0,10%;
dan 0,15%), besarnya tegangan permukaan lebih kecil daripada sebelum detergen
ditambahkan. Hal tersebut disebabkan karena adanya surfaktan yang terkandung
dalam detergen. Dimana surfaktan dapat menurunkan besarnya tegangan permukaan.
Ketika deterjen dimasukkan ke dalam air, maka akan menyebabkan tegangan
permukaan berkurang. Hal ini karena dalam deterjen mengandung surfaktan yang
molekul-molekulnya bersifat hidrofilik. Dimana molekul deterjen dalam air akan
membentuk misel, dimana gugus polar deterjen terepresentasi pada permukaan misel,
sedangkan gugus hidropobiknya di dalam misel. Hal ini mengakibatkan misel sendiri
akan bersifat hidrofilik. Dalam air, misel akan menarik molekul air yang juga bersifat
polar (like dissolve like), sehingga molekul air yang semula terakumulasi banyak pada
permukaan banyak yang tertarik ke misel. Hal ini disebabkan oleh gaya adesi air
menyebabkan permukaan misel terlapisi oleh molekul air. Hal ini selanjutnya
menyebabkan tegangan permukaan air berkurang.

VI.

Simpulan

Berdasarkan pembahasan dapat ditarik beberapa simpulan yaitu sebagai


berikut.
1. Besarnya tegangan permukaan suatu campuran dapat ditentukan dengan

menggunakan metode cincin yaitu dengan mencelupkan cincin yang dikaitkan ke


dalam cairan kemudian cincin tersebut ditarik ke atas dan dilihat skala yang tertera
pada alat ukur pada saat cincin terlepas dari larutan yang diuji.
2. Besarnya tegangan permukaan suatu campuran berbeda-beda yang dipengaruhi
oleh besarnya gaya tarik menarik diantara molekul-molekulnya.
3. Penambahan detergen dapat menurunkan tegangan permukaan cairan.

VII.

Daftar Pustaka
Brady, James. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur Edisi Kelima Jilid Satu.
Alih bahasa Sukmariah Maun, dkk. Jakarta: Binarupa Aksara.
Chang, Raymond. 2003. Kimia Dasar Edisi Ketiga Jilid Satu. Alih bahasa Muhamad
Abdulkadir, dkk. Jakarta: Erlangga.
Lohat, Alexander. 2009. Tegangan Permukaan. Tersedia pada
http://www.gurumuda.com/tegangan-permukaan/. Diakses pada 25 Mei 2010.
Young, Hugh D. & Freedman, Roger A., 2002, Fisika Universitas (terjemahan),
Jakarta : Penerbit Erlangga