Anda di halaman 1dari 4

Membangun Kualitas Nuansa Kekeluargaan Yang Baik

Salah satu syarat datangnya keberkahan di dalam sebuah jamaah dakwah ialah ukhwah
diantara para kader dakwahnya, bagaimana cara untuk membangun nuansa ukhwah yang
baik di dalam lembaga dakwah kampus ini?
Jika berbicara tentang persaudaraan ( selanjutnya saya ganti istilahnya dengen
kekeluargaan ), maka saya langsung teringat kisah yang saya alami sendiri di awal
perkuliahan saya di ITB, dan kisah ini menjadi landasan saya dalam membangun
kekeluargaan dalam tubuh lembaga dakwah kampus ini.
Kisah ini bermula ketika pelantikan kader muda GAMAIS 2005, dimana saat itu saya di
amanahkan sebagai ketua angkatan mahasiswa muslim ITB 2005. Malamnya setelah
pelantikan saya bertemu dengan seorang kepala departemen human resorce and learning
development, beliau biasa disapa mas Agus. Sosok ustadz buat kami saat itu, kebetulan itu
merupakan pertemuan langsung pertama saya dengan beliau. Saya bertemu di warung
pecel lele sembari makan malam. Pertemuan yang sangat singkat dan bisa dikatakan saya
belum banyak mengenalnya karena pembicaraan kita malam itu seputar hal-hal umum saja.
Satu pekan kemudian saya diuji oleh Allah dengan penyakit hepatitis A dan mengharuskan
saya di opname di Rumah Sakit di Jakarta. Seperti pada umumnya seorang yang di opname,
maka kehadiran seorang teman untuk mengunjunginya atau mengirim pesan singkat sangat
dinanti. Akan tetapi pada suatu malam di rumah sakit, Allah mengajarkan pada saya apa itu
kekeluargaan. Sosok Mas Agus yang sejak pertemuan di warung pecel lele itu tidak pernah
saya temui, tiba-tiba datang ke kamar tempat saya menginap. Ia datang sendiri, dengan
senyum hangatnya ia menyapa saya. Ia bercerita tentang banyak hal yang memotivasi saya
untuk lekas sembuh dan ia juga bercerita ia baru saja tiba di Jakarta dan setelah pencarian
cukup panjang ia menemukan rumah sakit tempat saya menginap. Sungguh sebuah
pelajaran yang sangat berharga, seorang yang baru bertemu saya 30 menit satu pekan lalu,
saat ini sudah bersedia menempuh 120 KM perjalanan hanya untuk menjenguk saya. Lalu
setelah sekitar 1,5 jam saling bercerita, ia berpamitan dan mengatakan akan kembali ke
Bandung. Saya semakin kaget, ia benar-benar datang ke Jakarta hanya untuk menjenguk
saya.
Kejutan dan pelajaran tentang kekeluargaan itu tidak berhenti sampai disana. Sekitar satu
tahun kemudian, saya baru mengetahui bahwa ia ternyata tidak langsung pulang ke
Bandung, akan tetapi karena kehabisan bis untuk ke bandung ia terpaksa menginap di
Jakarta untuk satu malam. Subhanallah sosok Agus Rendy WIjaya ini yang banyak
mengajarkan kepada saya tentang apa arti kekeluargaan. Tulisan saya pada bagian ini juga
sepenuhnya terinspirasi oleh beliau.
Kekeluargaan merupakan sebuah kata yang sangat mendalam dalam aplikasi dakwah di
kampus. Karena nuansa keluarga sejatinya memang berbeda dengan nuansa pertemanan.
Keluarga adalah sebuah kumpulan orang yang saling membantu satu sama lain, dan siap
susah dan senang bersama-sama. Itulah mengapa pendiri GAMAIS menamakan lembaga
dakwah kampus ITB dengan sebutan KELUARGA mahasiswa Islam dan itu pula mengapa
saya bukanlah ketua GAMAIS akan tetapi Kepala Keluarga Mahasiswa Islam. Karena memang
rasa dari keluarga itu sangat menjadi prinsipil di kami. Dan karena itu pula lah, jargon atau
tagline GAMAIS adalah karena kita keluarga.

Sahabat semua, kekeluargaan bukanlah rasa dan nuansa yang bisa dipaksakan, karena rasa
ini bermula dari dalam individu masing-masing kader. Rasa yang bermula dari kebutuhan
dan kecintaan terhadap lembaga dakwah ini. Kekeluargaan tidak bisa dibentuk dengan
tasiyah dan rutinitas membaca doa Rabithah saja, tetepi kekeluargaan perlu dibuktikan (
need to be proven ) kepada sesame. Oleh karena dalam membangun nuansa kekeluargaan
di dalam sebuah lembaga dakwah semua kader harus berperan aktif dalam menerapkan
pola hidup kekeluargaan di komunitas lembaga dakwah kampus ini.
Membangun kecintaan kader terhadap komunitas dakwah kampus, ini menjadi
langkah pertama yang perlu di bangun. Kecintaan adalah buah dari komitmen seseorang
terhadap sesuatu, jika seseorang sudah jatuh cinta, maka ia akan menjaga dan membela
apa yang ia cintainya. Untuk membangun kecintaan kader terhadap lembaga dakwah, maka
kita perlu membuat nuansa nyaman di hati semua kader. Nuansa nyaman in bisa dibentuk
dengan mengembangkan budaya saling senyum sapa dan salam. Bagaimana kita
membiasakan agar sesama kader saling menyapa dan senyum ketika bertemu. Selain itu
budaya saling mengingatkan dengan cara yang halus, seperti membiasakan untuk berbagai
sms tausiyah atau saling menasehati dalam pertemuan yang ada. Membangun budaya
apresiasi, dimana ada kebiasaan untuk mengucapkan tolong bantu saya mengerjakan
ini.., terima kasih atas kerja keras kamu., hebat kamu mengerjakan agenda ini dengan
baik. Subhanallah tausiyah tadi sangat menyentuh., dan bentuk bentuk apresiasi lainnya
yang membuat sesama kader dapat saling menghargai.
Lebih lanjut kita perlu memandang kader bukan sebagai pekerja dakwah akan tetapi betulbetul sebagai anggota keluarga yang sedang menggapai cita-cita dakwah secara bersama.
Sehingga proses yang dijalankan betul-betul bersama dan evaluasi yang diadakan bukan
untuk menyalahkan akan tetapi sebagai wahana untuk perbaikan dakwah kedepannya.
Kecintaan juga bisa bangun dengan memberikan kepercayaan kepada kader, dengan
memberikan kepercayaan penuh kepada kader untuk mengemban amanah dakwah, maka
ini juga memberikan kesempatan kepada kader untuk memberikan yang terbaik kepada
lembaga dakwah, dan ketika seseorang sudah merasa pernah memberikan suatu kontribusi
besar terhadap lembaga dakwah biasanya rasa keberpemilikan akan lembaga dakwah
tersebut kian meningkat.
Menempatkan seorang kader yang heboh dan asik ditengah tengah tegangnya nuansa
dakwah juga bisa menjadi solusi. Saya terkadang melihat untuk kader dakwah yang sudah
cukup qowiy, ia menjadi agak sulit untuk mencair dan bergaul kepada sesama kader. Oleh
karena itu dibutuhkan sekali kader yang memang bisa menyatukan hati dengan keceriaan
dan senyum bahagia.
Agenda eksidental yang sangat kekeluargaan. Terkadang hal sederhana bisa menjadi
sangat bermakna jika keikhlasan menjadi landasan dalam melaksanakannya. Dengan
mengadakan agenda yang bersifat kekeluaraan biasanya dapat membantu untuk
membangun nuansa kekeluargaan ini dengan baik. Bentuk agenda yang bisa dilakukan
antara lain ;
(1) Family Day, acara kekeluargaan yang isinya hanya bersenang-senang dan saling
mengenal satu sama lain. Isi dari family day sangat beragam, bisa diisi dengan
lomba-lomba seperti 17an, lomba masak, hiking, olahraga bareng dan sebagainya.
Biasanya family day diadakan ketika kader sudah mulai jenuh atau setelah rangkaian

agenda dakwah yang padat. Di family day ini tidak perlu ada pembahasan dakwah
dan sebagainya, biarkan kader sejenak melupakan beban dakwah yang ada.
(2) Milad reminder, mengingatkan kapada semua kader akan milad salah seorang kader
tertentu, cara pengingatan bisa melalui pesan singkat atau dibuat kalender khusus
yang berisikan tanggal milad kader setiap bulannya. Dengan itu semua kader bisa
mengucapkan selamat dan member doa kepada seorang yang milad hari itu.
(3) Member hadiah, salah satu cara yang memang membutuhkan modal akan tetapi bisa
menjadi media yang cukup efektif. Member hadiah sesekali kepada sesame kader
secara spontan atau mendadak. Hadiah merupakan salah satu bentuk ungkapan
persaudaraan.
(4) Bermalam bersama, dengan bermalam bersama biasanya bisa diisi dengan obrolan
santai dan ringan. Terkadang kader juga membutuhkan pembicaraan yang tidak
berat untuk refreshing. Berikan kesempatan kepada kader untuk saling terbuka dan
mengungkapkan sesuatu. Disini proses saling mengenal satu sama lain dan apresiasi
bisa terbangun.
(5) Perjalanan bersama, mengadakan perjalanan jauh bersama. Dalam perjalanan jauh
bersama biasanya banyak waktu luang dan ada perasaan senasib. Dalam perjalanan
ini bisa kita bangun nuansa kekeluargaan itu, sebagai qiyadah kita menjaga jundi dan
sekaligus menanamkan nilai tertentu. Saya biasanya jika mengisi pelatihan di luar
kota, selalu membawa kader yang lain, dan Alhamdulillah selama perjalanan bisa
dibangun sebuah ikatan yang kuat.
(6) Dipersaudarakan, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad kepada para sahabat
ketika hijrah ke madinah. Akan tetapi tentu perlu sedikir penyesuaian, dimana kader
dipasangkan satu sama lain dan mereka di persaudarakan dengan ikatan perjuangan
dakwah. Harapannya mereka bisa saling menjaga dan menasehati satu sama lain.
(7) Makan bersama, ini media membangun kekeluargaan yang telah terbukti efektif. Di
GAMAIS biasanya setiap setelah shalat magrib kami selalu mengajak sesama kader
yang shalat di masjid Salman untuk makan malam bersama. Ketika makan bersama
biasanya kita saling bercerita tentang kejadian yang dialami selama satu hari dan
disana terbentuk nuansa keterbukaan antar kader.
(8) Mengerjakan tanggung jawab teknis bersama, yang dimaksud disini adalah
membiasakan kader untuk saling terlibat dalam setiap persiapan agenda dakwah,
meskipun ia bukan panitia dari acara tersebut. Minimal dalam persiapan teknis,
seperti memasang umbul-umbul, baligo atau dekorasi ruangan, atau panitia
lapangan saat hari H. dengan adanya saling membantu dalam hal ini, akan terbentu
sebuah kebermilikan akan semua agenda dakwah, dan panitia dari acara yang ada
akan merasa bahwa memang keluarga dakwah ini saling membantu satu sama lain.
Dua cara diatas bisa dikatakan sebagai sebuah cara untuk membangun nuansa
kekeluargaan di sebuah lembaga dakwah. Terakhir saya ingin memaparkan bagan tentang
skema berpikir tentang kekeluargaan.

Kepercay
aan
Keterbuk
aan

Pedu
Kekeluarg
Bertind
li
aan ak

Apresiasi

EMPAT
I
Pada bagan diatas bisa Anda lihat bahwa kekeluargaan dapat dibentuk melalui tiga hal,
yakni keterbukaan, kepercayaan dan apresiasi. Ketiga elemen ini harus dibangun sebagai
landasan kekeluargaan di sebuah lembaga dakwah. Selanjutnya bukti nyata dari sebuah
nuansa kekeluargaan yang baik adalah peduli pada sesama kader dan bertindak atas segala
permasalahan yang terjadi, atau bisa di rangkum dalam sebuah kalimat sakti yang menjadi
kunci dari kekeluargaan yakni EMPATI. Makna empati ini sangat dalam, akan tetapi jika
setiap kader dapat saling empati terhadap sesama kader lainnya. Maka kekuatan
kekluargaan yang baik akan menghiasi roda dakwah di lembaga dakwah Anda.