Anda di halaman 1dari 11

Aglutinasi

Aglutinasi adalah proses penggumpalan partikel. Ada banyak contoh dari aglutinasi. Hemaglutinasi
adalah datang bersama-sama dari sel darah merah. Leukoagglutinasi adalah penggumpalan sel
darah putih. Antigen bakteri mengaglitunasi dengan antibodi membuat diagnosis lebih mudah.
Pengelompokan darah adalah contoh umum lain di mana aglutinasi digunakan untuk membuat
diagnosis. Ada mekanisme yang kompleks di balik partikel-partikel ini datang bersama-sama dan
membentuk gumpalan.
Sel memiliki reseptor pada permukaannya. Reseptor ini mengikat dengan molekul selektif diluar sel.
Pengelompokan darah adalah contoh yang baik yang dapat digunakan untuk menjelaskan ini. Ada
empat jenis darah utama. Mereka adalah A, B, AB dan O. A, B dan AB mengacu pada adanya
antigen tertentu (A antigen, antigen B) pada permukaan sel darah merah. O berarti bahwa ada tidak
A atau B antigen pada permukaan sel darah merah. Jika A antigen yang ada pada permukaan sel
darah merah, antibodi anti-A tidak ada dalam plasma. Kelompok B darah memiliki antibodi anti-A
dalam plasma. Golongan darah AB tidak memiliki keduanya. Kelompok darah O memiliki kedua
antibodi A dan B. Sebuah antigen mengikat dengan A-antibodi. Ketika B darah bercampur darah A,
karena adanya antibodi anti-A dalam plasma, sel darah merah berikatan dengan antibodi ini. Lebih
dari satu pengikatan sel darah merah dengan satu antibodi, sehingga ada ikatan silang; ini adalah
dasar dari sel darah merah yang datang bersama-sama. Ini adalah dasar dari penggumpalan.

Dalam biologi, aglutinasi mengacu pada penyatuan bersama-sama partikel.


Proses ini sangat penting sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh,
proses respon yang menggunakan organisme untuk melawan penyakit.
Hemaglutinasi, penggumpalan sel darah merah, memiliki aplikasi khusus
dalam kedokteran, di mana ia digunakan untuk menentukan jenis darah dan
menemukan konsentrasi menginfeksi virus atau bakteri dalam aliran darah.

Pengertian Aglutinasi
Bakteri asing atau virus memasuki tubuh mengandung komponen khusus
yang disebut antigen, dimana memicu respon imun dalam host. Sel darah
putih dalam tubuh memproduksi protein yang dikenal sebagai antibodi
dalam menanggapi adanya antigen. Antibodi mengikat dengan antigen
melalui mekanisme struktural mirip dengan kunci dan gembok, dan dapat
juga menetralisir antigen secara langsung atau menandainya untuk
dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh.
Aglutinasi adalah salah satu cara di mana antibodi menandai antigen untuk
dihancurkan. Antibodi memiliki setidaknya dua lokasi di mana antigen dapat
mengikat, sehingga mereka mampu mengikat dengan lebih dari satu bakteri
atau virus. Ketika ini terjadi, partikel menyerang mulai menggumpalkan, atau
membentuk gumpalan, melalui jaringan antibodi. Gumpalan akhirnya
menjadi terlalu besar untuk tetap dalam larutan dalam aliran darah, dan
mengendap dari larutan.
Setelah gumpalan partikel yang cukup besar, mereka menjadi mangsa
mudah bagi fagosit sejenis sel darah putih yang mencerna bahan asing.
Fagosit menelan dan memecah gumpalan, menetralkan ancaman penyakit.
Dengan cara ini, aglutinasi memungkinkan tubuh untuk melucuti dan
menghapus partikel berbahaya yang menyerang.
Hemaglutinasi, sebaliknya, bukanlah proses yang terjadi secara alami dalam
tubuh, tetapi malah digunakan untuk melakukan tes dan prosedur pengujian
dalam biologi molekuler. Golongan darah ditentukan melalui proses ini.
Dalam golongan darah, antibodi spesifik ditambahkan yang mengikat jenis
tertentu dari sel darah merah. Jika antibodi berikatan dengan sel darah

F
a

merah dalam sampel, aglutinasi terjadi, dan golongan darah dapat


dipastikan yang didasarkan pada antibodi yang digunakan.
Konsentrasi bakteri atau virus dalam
sampel
kadang-kadang
dapat
ditentukan dengan menggunakan tes yang disebut uji hemaglutinasi. Bakteri
tertentu dan virus mengandung senyawa yang memungkinkan mereka untuk
mengikat sel-sel darah merah, menciptakan jaringan gumpalan. Dalam uji
tersebut, sampel diencerkan virus ditambahkan ke sampel sel darah encer,
dan aglutinasi diperbolehkan terjadi selama sekitar 30 menit. Konsentrasi
virus dapat ditentukan dengan menghitung jumlah gumpalan atau kisi
sampel campuran.
terbentuk pada

http://www.sridianti.com/pengertian-aglutinasi.html
Interpretasi Hasil : hasil positif = aglitunasi kasar ; positif lemah =
aglutinasi halus ; hasil negatif = tidak ada aglutinasi
Aglutinasi merupakan salah satu dari reaksi antigen/antibody sel darah
merah invitro.
Factor yang mempengaruhi aglutinasi: aglutinasi merupakan reaksi yang
reversible, terjadi dalam 2 tahap :
1. Sensitisasi ialah melekatnya antibody pada antigen di sel darah merah.
2. Aglutinasi terbentuknya jembatan-jembatan antara sel-sel yang
mengalami sensitisasi untuk membentuk aglutinasi.
factor yg mempengaruhi aglutinasi
A. Stadium pertama
1. ikatan antigen dg antibody reversible.Banyaknya yg melekat pada
antigen pada keseimbangan dipengaruhi oleh equilibrium constant
atau afinity constant dari antibody.
2. Secara umum makin tinggi equilibrium constant makin tinggi
kecepatan ikatan dan makin lambat pelepasan.
3. Ikatan antigen dg antibody dipengaruhi oleh konsentrasi antigen dan
antibody dan berbagai macam kondisi physic spt pH,ionic strength dan
temperature
4. Merubah kondisi physisc dari agglutinasi test sering meningkatkan
sensitivitas mereka
Tahap 1:Aglutinasi
-Ikatan kimia
-Konstante
keseimbangan antibodi
-temperatur
-pH
-Waktu inkubasi
-Kekuatan ion
-Proporsi antigen antibody

Tahap 2:Aglutinasi
-Molekul antibodi
-Konsentrasi antigen pada
Sel-sel
-Jarak sel
Faktor Yang mempengaruhi
aglutinasi
Tahap 1:
Sebelum terjadi ikatan ,antigen antibodi
harus saling mendekat dan membentuk
hubungan ruangan yg cocok/sesuai.hubungan ruangan yg cocok/sesuai.
Kesempatan ikatan antigen antibodi dapat
ditingkatkan dengan digoyang/agitasi atau
sentrifugasi atau dengan membuat berbagai
konsentrasi antigen antibodi.
Faktor Yang mempengaruhi
aglutinasi
Reaksi antigen antibodi reversible.
Banyaknya komplek antigen antibodi pada
keseimbangan akan bervariasi tergantung dari
kondisi reaksinya dan konstante kondisi reaksinya dan konstante
keseimbangannya.
Makin tinggi konstante keseimbangan makin
banyak jumlah antibodi yang mengadakan ikatan
dengan antigennya pada keseimbangan.
Makin tinggi konstante keseimbangan makin baik
ikatan antigen antibody
Faktor Yang mempengaruhi
aglutinasi
Temperatur
Sebagian besar antibodi golongan darah
reaktivitasnya pada batas2 tertentu.Ada yg reaktivitasnya pada batas2
tertentu.Ada yg
bereaksi baik pada 4oC/kurang dari 37oC
dan ada yg bereaksi baik pada 37oC Faktor Yang mempengaruhi
aglutinasi
Antibodi yg bereaksi baik pada 37oC
disebut warm antibody Warm antibodi mempunyai arti
klinis/berbahaya,walaupun yg bereaksi
<37oC tak dapat diabaikan ,terutama bila <37oC tak dapat diabaikan
,terutama bila
bereaksi sampai 30oC.

Antibodi yg bereaksi baik pada <37oC Antibodi yg bereaksi baik


pada <37oC
disebut cold antibody
Maka pemeriksaan dilaboratorium
dilakukan pada suhu dingin dan hangat.

pH
pH optimal untuk reaktivitas antibodi
sistem golongandarah belum diketahui.sistem golongandarah belum
diketahui.
diperkirakan mendekati pH fisiologis.
Untuk pemeriksaan rutin sebaiknya pH
ialah 7.0
Waktu inkubasi
Waktu inkubasi yg dibutuhkan untuk
mencapai keseimbangan berbeda untuk mencapai keseimbangan berbeda
untuk
antibodi yg berbeda.
Faktor yg mempengaruhi-temperatur,kelas
immunoglobulin.
Apabila ditambah media peningkatan antibodi
dapat meningkatkan jumlah antibodi yg
mengadakan ikatan dengan antigen pada 15 menit
pertama inkubasi,sehingga memperpendek waktu
inkubasi.
Dalam media saline diperlukan 30-60 menit
Dalam media Liss(low ionic strength solution)
dapat berkurang menjadi 10-15 menit
Kekuatan ion
Kekuatan ion ialah intensitas muatan listrik
ion2 suatu larutan
Sel darah merah mempunyai muatan Sel darah merah mempunyai
muatan
negatip pada permukaannya,hal ini
menyebabkan sel darah merah tidak
menggumpal secara spontan.Muatan
permukaan disebabkan oleh carboxyl group
dari asam sialic.
Bila sel darah merah disuspensi dalam larutan
elektrolit,kation positip akan tertarik pada muatan
negatip sel darah merah,maka sel darah merah tsb

akan dikelilingi oleh dua lapis yg difuse awan2


ion yg selalu bergerak bersama sel,seakan
merupakan bagian sel.
Bagian luar disebut surface of share/slipping
plane With neg charge.
Potensi muatan listrik pada permukaan sel dan
awan2 ion sekelilingnya disebut zeta potensial
Karena muatan negatip pada permukaan sel
tsb maka sel2 darah merah tidak
beraglutinasi spontan,saling bertolakan.beraglutinasi spontan,saling
bertolakan.
Bila ada antibodi yg menempel pada sel
akan mengurangi muatan negatip,mengurangi zeta potensial dan memungkinkan sel
tersebut mendekat satu dengan yg lainnya.
Karena antibodi,bivalen mempunyai 2
tangan untuk mengadakan ikatan dengan
antigen,maka mereka akan membentuk antigen,maka mereka akan
membentuk
jembatan antar satu sel dengan sel lainnya.
Dengan mengurang kekuatan ion maka
reaksi akan dipercepat misalnya bila
memakai larutan Liss(low ionic strength
solution) atau enzym proteolitik.
Proporsi antigen antibodi
Kecepatan antibodi mengadakan ikatan dengan
antigen dan banyaknyaantibodi yg mengadakan
ikatan tergantung pada konsentrasi sel dengan ikatan tergantung pada
konsentrasi sel dengan
antibodi.
Konsentrasi yg baik untuk menimbulkan
aglutinasi 2-5%.
Prozone phenomen ialah suatu keadaan dimana
terdapat ekses antibodi dan antigen terlalu sedikit
sehingga aglutinasi tidak terlihat.
Tahap kedua
Yang mempengaruhi aglutinasi
Molekul antibodi,Konsentrasi antigen pada
sel,jarak antara selsel,jarak antara sel
Untuk meningkatkan aglutinasi:
-Sentrifugasi,Indirek antiglobulin test,metode lain
mengurangi lapisan hydration sekeliling

sel,menggunakan makromolekul muatan positip


yg menggumpalkan sel.
Metode peningkatan antibodi
Liss (low ionic strength solution)
Liss meningkatkan ikatan antibodi pada sel
pada tahap pertama aglutinasi.pada tahap pertama aglutinasi.
LISS dan LISS additives
LISS(kira2 0,03M) meningkatkan stadium 1
pengambilan/pengikatan antibodi pada sel
darah merah,dibandingkan dengan saline
normal(0.17M).
untuk mencegah lysis sel darah merah pada
low ionic strength,substance yg nonionic
seperti glycine dimasukan kedalam LISS.
Petugas sekarang menggunakan reagen
LISS additive daripada LISS saja.
LISS dan LISS additives
LISS aditive komersial mengandung
macromolekul disamping garam ionic dan
buffers.
larutan LISS meningkatkan kecepatan larutan LISS meningkatkan kecepatan
asosiasi antibodi(stadium 1) bila proporsi
volume benar.met 3.2.2 dan 3.2.3)
meningkatkan volume dari serum yg
digunakan pada pemeriksaan akan
meningkatkan ionic strength dari system LISS
additive dan
setiap perubahan pada volume serum yg
dituliskan memerlukan penyesuaian dari volume LISS atau kehilangan LISS
Untuk sebab ini penggunaan LISS
untuk prosedur rutin titrasi dan untuk
pemeriksaan lain problematik.pemeriksaan lain problematik.
ketika LISS digunakan sebagai reagen
additive insruksi pabrik harus diikuti.

Teknik ini merupakan metoda klasik dalam penetapan antibodi. Salah satu
syarat untuk reaksi aglutinasi adalah antigen harus berupa sel atau partikel
yang larut, sehingga apabila direaksikan dengan antibodi spesifik, akan
terjadi gumpalan daripada partikel atau sel tersebut. Teknik ini disebut
aglutinasi direk. Akan tetapi karena pada umumnya Ab mempunyai lebih dari
satu reseptoe terhadap antigen, maka Ab dapat bereaksi dengan molekul
antigen lain yang mungkin sudah berikatan dengan Ab, sehingga berbentuk
gumpalan kompleks Ag-Ab.
Reaksi ini dapat digunakan untuk menetapkan antibodi terhadap Ag yang
larut dengan melekatkan dengan antigen ini terlebih dahulu pada suatu
partikel yang di sebut carrier. Beberapa jenis partikel yang digunakan
dalam teknik ini adalah lateks, eritrosit, karbon dan lain-lain dan dinamakan
teknik aglutinasi indirek atau aglutinasi pasif. Apabila digunakan partikel
eritrosit untuk melekatkan antigen, disebut teknik Haemaglutinasi (HA).
Suatu modifikasi teknik aglutinasi untuk mendeteksi antigen yang larut
adalah uji hambatan aglutinasi (Aglutination Inhibition). Pada teknik ini,
serum atau cairan yang akan diperiksa direaksikan terlebih dahulu dengan
antibodi spesifik. Setelah itu, baru direaksikan dengan Ag yang dilekatkan
pada suatu partikel. Ag yang ada pada serum atau cairan yang diperiksa,
mengikat Ab spesifik sehingga Ab tidak mampu lagi bereaksi dengan Ag
pada permuikaan partikel dan terjadi hambatan aglutinasi (hasil positif).
Apabila dalm serum atau cairan yang diperiksa tidak tedapat Ag, maka
antibodi yang bebas dapat bereaksi dengan Ag melekat pada permukaan
partikel dan menimbulkan aglutinasi (hasil negatif). Apabila teknik ini
menggunakan eritrosit sebgai partikel dinamakan teknik IHA ( Indirect
Haemagglutination).
AGLUTINASI DIREK
Salah satu contoh teknik aglutinasi direk adalah reaksi Widal, yang
merupakan uji serologic untuk menegakkan dignosis penyakit typhus yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella. Uji serologic ini menyatakan adanya
antibodi terhadap antigen Salmonella.

Salmonella merupakan kuman yang tersebar luas di sekeliling kita, sehingga


besar sekali kemungkinan seseorang terinfeksi tanpa diketahui. Oleh karena
itu, kemungkinan besar dalam darah seseorang yang tidak sakit terdapat
sejumlah antibodi terhadap Salmonella. Beberapa ahli menyatakan bahwa
titer agglutinin 1: 40 (1/40) masih dianggap normal dan titer 1: 80 (1/80)
dianggap hanya teinfeksi sangat ringan. Suatu kenaikan titer antibodi
sebanyak 4 kali, merupakan indikator adanya infeksi Salmonella yang serius
(infeksi berat).Salmonella dapat dikelompokkan dalam 17 golongan
berdasarkan antigen O yang dimilikinya. Tetapi ada 5 golongan yang penting
untuk infeksi manusia, yaitu golongan A, B, C, D, dan E. Kecuali antigen
O, Salmonella juga mempunyai antigen H yang terdapat pada flagella dan
antigen Vi yang tidak dipakai untuk mendiagnosis tetapi hanya dipakai untuk
mendeteksi carrier.
UJI AGLUTINASI
Teknik ini merupakan metoda klasik dalam penetapan antibody atau antigen
Ag bentuk partikeldireaksikan dengan Ab spesifik membentukAglutinasi
Reaksi 2 tahap :
Ab dgn salah satu antigen binding site (Fab) bereaksi dgn Ag
Fab yg lainnya berikatan dgn Ag lain yg sudah berikatan dgn Ab gumpalan
(lattice)
Faktor yang mempengaruhi: Muatan listrik protein,molaritas
medium,vaksositas media,dan fenomena prozone
Jumlah antigen & antibodi hrs seimbang
Contoh pemeriksaan:
Widal,
gol darah
tes kehamilan
Macam-macam Aglutinasi

Aglutinasi Direk
Untuk menetapkan Ab terhadap Ag yang berupa partikel atau sel
contoh pemerksaan: reaksi Widal(deteksi antibodi terhadap S.tiphy),penyakit
hemolitik, tes rheumatoid faktor (IgM dan IgG), tes syphilis dan tes
kehamilan.
Interpretasi:
GumpalanPositif
Tidak ada gumpalanNegatif
Aglutinasi Indirek
Untuk menetapkan antibodi terhadap Ag yang larut dengan melekatkan
dengan antigen ini terlebih dahulu pada suatu partikel yang di sebut
carrier.
Partikel yang digunakan dalam teknik ini adalah lateks, eritrosit, karbon dan
lain-lain
Faktor yang mempengaruh: afinitas konjugat antigen terhadap carrier, waktu
inkubasi dengan serum penderita dan interaksi yang terjadi pada lingkungan
mikro (pH dan konsentrasi protein).
Contoh pemeriksaan: tes streptococcus grup ATreponema pallidum,hormon
tiroid,dan deteksi anti-Hbs
Interpretasi:
Tidak ada gumpalanpositif
Ada GumpalanNegatif
Hambatan aglutinasi (Aglutination Inhibition)
Modifikasi teknik aglutinasi untuk mendeteksi antigen yang larut
Cara kerja:

1. serum atau cairan yang akan diperiksa direaksikan terlebih dahulu dengan
antibodi spesifik.
2.direaksikan dengan Ag yang dilekatkan pada suatu partikel.
3. Dilihat ada tidaknya aglutinasi
Interpretasi:
Ag yang ada pada serum atau cairan yang diperiksa, mengikat Ab spesifik
sehingga Ab tidak mampu lagi bereaksi dengan Ag pada permukaan
partikelUji positif(+)/tidak terjadi aglutinasi
Apabila dalam serum atau cairan yang diperiksa tidak tedapat Ag, maka
antibodi yang bebas dapat bereaksi dengan Ag melekat pada permukaan
partikel Uji negatif(-)/terjadi aglutinasi
Contoh Pemeriksaan: uji kehamilan,penetapan FDP,mendeteks berbagai
virusseperti rubella, influenza ,parainfluenza, dan mumps
Aglutinasi Pasif Terbalik
Untuk menyatakan Ag yang larut dalam serum atau partikel lain.
Ab spesifik terhadap Ag bersangkutan dilekatkan pada permukaan
carrier,baik eritrosit maupun partikel lain.