Anda di halaman 1dari 17

ARTIKEL KIMIA KLINIK

RAHMAT HIDAYAT
P07134113319

Hepatitis Toksik, Peradangan Hati Akibat Paparan Racun

Peradangan juga bisa terjadi di hati. Jika ini terjadi, seseorang bisa mengalami gagal hati. Peradangan hati itu
dalam istilah medis dikenal dengan Hepatitis Toksik.
Definisi
Seperti yang dikutip mayo clinic, Selasa (9/7/2013), hepatitis toksik merupakan penyakit di mana organ hati
mengalami peradangan akibat zat tertentu yang mengandung racun, misalnya alkohol, obat-obatan, bahan
kimia, atau suplemen gizi. Peradangan ini dapat menyebabkan kerusakan hati secara permanen dan mengarah
pada terbentuknya jaringan parut dalam organ hati (sirosis) dan mungkin dapat menyebabkan gagal hati.
Hepatitis toksik dapat diketahui apabila Anda melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Pemeriksaan yang
dapat dilakukan antara lain:

Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengambil riwayat medis Anda.

Tes darah

Jenis tes ini dilakukan untuk mengetahui tingkatan enzim organ hati Anda. Tingkat enzim tersebut dapat
menunjukkan seberapa baik fungsi dari organ hati Anda.

Tes pencitraan (MRI, CT scan, ultrasound) untuk medapatkan gambaran organ hati Anda.

Biopsi

Jika Anda melakukan biopsi hati, dokter menggunakan jarum untuk mengambil sampel jaringan dari organ
hati Anda. Kemudian, sampel jaringan tersebut diperiksa di bawah mikroskop.

Gejala
Bila Anda mengidap penyakit hepatitis toksik dan masih tergolong ringan, mungkin Anda tidak akan
merasakan gejala apapun. Namun, bila penyakit ini sudah parah, gejala-gejala berikut ini yang mungkin Anda
rasakan:

Nyeri pada perut, tepatnya di bagian kanan atas

Kehilangan nafsu makan

Mual dan muntah

Berat badan menurun

Kelelahan

Kulit terasa gatal

Terjadi perubahan warna menjadi kuning pada kulit dan bagian putih pada bola mata

Ruam

Urine berwarna gelap

Namun, gejala-gejala tersebut dapat hilang ketika paparan racun dari zat tertentu berhenti.
Penyebab
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hepatitis toksik dapat timbul akibat paparan zat beracun. Hal itu
mengakibatkan organ hati Anda mengalami peradangan. Selain itu, penyakit ini juga dapat berkembang ketika
Anda mengonsumsi obat-obatan dengan dosis di atas normal. Namun, beberapa hal berikut ini juga menjadi
faktor penyebab timbulnya penyakit hepatitis toksik:

Mengidap penyakit hati

Bila Anda mengalami gangguan pada organ hati, seperti sirosis atau penyakit hati berlemak, Anda lebih rentan
terkena efek dari racun.

Mengidap penyakit hepatitis

Mengidap penyakit hepatitis B atau C, membuat organ hati Anda lebih rentan terkena penyakit.

Alkohol

Jika Anda terlalu banyak mengonsumsi alkohol, Anda dapat mengalami hepatitis alkoholik, peradangan pada
organ hati akibat alkohol.

Mencampur alkohol dengan obat-obatan

Jangan pernah mencampur alkohol dengan obat-obatan. Sebab, beberapa obat, seperti acetaminophen, dapat
bereaksi dengan alkohol dan dapat merusak organ hati.

Jenis kelamin

Kaum perempuan lebih rentan terkena penyakit hepatitis toksik. Sebab, proses metabolisme racun yang terjadi
dalam tubuh perempuan lebih lambat dibandingkan dengan kaum pria. Hal ini menyebabkan organ hati
perempuan terbuka lebih lama untuk konsentasi darah yang tinggi dari zat-zat berbahaya.

Bahan kimia industri

Paparan dari bahan kimia dapat merusak organ hati.


Pengobatan
Peradangan yang dialami akibat paparan zat beracun akan menyebabkan kerusakan pada organ hati dan
memicu terbentuknya jaringan parut dalam organ hati (sirosis). Hal ini dapat menyebabkan timbulnya penyakit
gagal hati. Satu-satunya pengobatan untuk mengatasi penyakit gagal hati adalah dengan melakukan
transplantasi hati, yaitu mengganti organ hati Anda dengan organ hati yang lebih sehat.

Namun, Anda dapat melakukan beberapa hal berikut ini untuk meminimalisir risiko penyakit hepatitis toksik:

Batasi penggunaan obat

Jika tidak diperlukan, jangan mengonsumsi obat. Dosis obat yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan
hati. Selain itu, ikuti prosedur penggunaan obat seperti yang dianjurkan oleh dokter.

Berhati-hati dengan produk herbal dan suplemen'

Jangan berasumsi bahwa produk alami tidak akan menyebabkan kerusakan organ hati.

Menghentikan paparan racun

Dalam kebanyakan kasus, penghentian paparan racun dapat mengurangi gejala dari peradangan hati.
(Mel)
http://health.liputan6.com/read/634365/hepatitis-toksik-peradangan-hati-akibat-paparan-racun

Hepatitis Virus
Oleh : dr Sutopo Widjaja, MS

Hati adalah organ tubuh yang terbesar, terletak di rongga perut bagian
kanan atas. Pada orang dewasa beratnya sekitar 1200 1600 gram. Dalam keadaan normal hati
terdiri atas 4 bagian (lobus) yaitu lobus kanan (60%), lobus kiri (30%), lobus kaudatus dan lobus
kuadratus (10%). Hati diliputi simpai yang disebut simpai Glisson.
Fungsi hati.
Fungsi hati banyak sekali, mungkin lebih dari 500, antara lain :
1.

untuk proses pengolahan zat makanan seperti hidrat arang,


(emulsifikasi).

protein dan lemak

2.

untuk memproduksi protein, empedu dan kolesterol.

3.

untuk memproduksi unsur pembekuan darah (protrombin, fibrinogen).

4.

ikut dalam proses pembentukan sel darah merah.

5.

untuk membersihkan darah dari racun kuman, obat, hormon dll.


Hepatitis (penyakit kuning)
Hepatitis adalah penyakit akibat peradangan hati. Peradangan pada hati dapat disebabkan oleh
kuman (tbc, sifilis), parasit (amuba, malaria), jamur dan yang terpenting ialah virus.

Hepatitis virus.

Hepatitis virus adalah penyakit peradangan hati yang disebabkan oleh


virus. Penyebab terpenting ialah kelompok virus hepatitis A,B,C,D dan E. Akibat infeksi virus
maka akan terjadi proses peradangan pada hati. Tergantung pada ganasnya virus serta bagaimana
daya tahan dan reaksi tubuh maka penyakit hepatitis virus dapat berlangsung tanpa gejala
ataupun dengan keluhan dan gejala tertentu seperti demam, mual, muntah, air seni berwarna
kuning tua sampai kecoklatan, mata dan kulit menjadi kuning.
Pada saat ini hepatitis virus masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia.. Penyakit ini
penting karena beberapa faktor :
1.

Penyakit hepatitis virus B telah menyerang lebih dari 2 miliar manusia di seluruh dunia
dengan angka kematian 1 2 juta orang pertahun dan hepatitis C menginfeksi 100 juta orang.
Angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) di negara kita termasuk tinggi.
Menurut dr. Suwandi Widjaja PhD dan dr. Sumanto Simon, sekitar 50 persen penduduk
Indonesia terinfeksi virus hepatitis B dengan angka kematian 30,000 60,000 orang per tahun

2.

Belum ditemukan cara pengobatan yang jitu.

3.

Cara pengobatan yang ada selain sangat mahal, hasilnya juga belum memuaskan.

4.

Bentuk menahun hepatitis dapat berkembang menjadi sirosis dan kanker hati.

5.

Usaha pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi (khususnya hepattits A dan B) dan
penyuluhan kesehatan yang berkesinambungan.
Jenis2 virus hepatitis dan cara penularannya
Virus hepatitis A (VHA).
VHA termasuk virus picorna (virus RNA) dengan ukuran 27-28 nm. Virus dikeluarkan dari
tubuh melalui tinja yaitu lewat empedu masuk ke dalam usus, ditularkan secara feco-oral (tinja
ke mulut). Di negara berkembang kebanyakan anak sekolah mengidap hepatitis A karena

penularan dari orang lain. Mereka makan makanan yang tercemar kotoran yang mengandung
VHA dan tidak dimasak secara sempurna. Masa inkubasi hepatitis A ialah 2 4 minggu.

Virus hepatitis B (VHB).


VHB ditularkan melalui darah dan cairan tubuh seperti air liur, air mani, cairan vagina dan air
susu ibu. Virus masuk ke tubuh lewat kulit atau selaput lendir tubuh yang rusak. Masa
inkubasi 28 160 hari, rata rata 75 hari. Di daerah endemik penularan sering terjadi pada waktu
persalinan atau pada awal pemberian makanan bayi. Penularan dari ibu ke bayi merupakan
penyebab terpenting hepatitis menahun yang mudah berkembang menjadi kanker hati.
Virus hepatitis C (VHC).
VHC terutama ditularkan melalui darah. Transfusi darah merupakan cara penularan yang terpenting. Masa inkubasi rata rata 7 minggu. Orang yang mempunyai risiko tinggi mendapat
VHC ialah mereka yang memerlukan tranfusi darah berulang, menjalani cuci darah, cangkok
organ dll.
Virus hepatitis D (VHD).
Cara penularan virus hepatits D sama dengan hepatitis virus B. Yang unik ialah untuk bisa
terinfeksi VHD diperlukan bantuan VHB, sehingga VHD hanya dapat menginfeksi penderita
yang terkena hepatitis B. Infeksi ini dapat terjadi bersamaan maupun sebagai infeksi tambahan
pada penderita VHB. Masa inkubasi VHD ialah sekitar 35 hari.
Virus hepatitis E (VHE).
VHE ditularkan melalui tinja ke mulut. Ukuran VHE ialah 27-34 nm. Masa inkubasi 15 60
hari. Wabah VHE pertama terjadi di New Delhi India pada tahun 1956. Infeksi VHE cukup
tinggi di negara berkembang dengan sanitasi yang buruk, dan angka infeksi lebih tinggi pada
orang dewasa.
Gambaran klinik
Gambaran klinik kelima jenis hepatitis virus hampir sama sehingga sering sukar dibedakan,
perbedaan hanya terletak pada masa inkubasi dan riwayat penularannya. Untuk diagnosis pasti
memerlukan pemeriksaan darah (serologi).
Tahap tahap penyakit hepatitis virus.
1. Tahap awal (belum tampak kuning).

Pada tahap awal keluhan penderita sering tak khas, dapat berupa demam, sakit kepala, rasa lesu,
lemah, cepat lelah, tak nafsu makan, mual, muntah, diare atau sembelit. Kadang kadang terasa
nyeri di perut bagian kanan atas.

2. Tahap kuning.
Pada tahap ini kulit dan mata penderita mulai tampak kuning diikuti warna air seni yang kuning
gelap. Biasanya kalau sudah tampak kuning, beberapa keluhan mulai berkurang atau
menghilang. Warna kuning bertambah dalam waktu 5 10 hari. Bila kuningnya hebat maka
akan timbul rasa gatal. Selain itu hati dan limpa juga membengkak dan terasa nyeri. Keluhan
penderita hepatitis C umumnya lebih ringan dan penderita sering tidak tampak kuning.
3. Tahap penyembuhan.
Pada tahap ini mual dan muntah mulai menghilang dan nafsu makan timbul kembali. Rasa lemah
dan lelah bisa menentap untuk beberapa hari. Warna kuning di mata secara berangsur mulai
menghilang (bisa sampai 2 minggu)
Pemeriksaan laboratorium
Untuk mendukung kepastiaan diagnosis penyakit hepatits virus, dokter memerlukan bantuan
pemeriksaan laboratorium, antara lain :
1.Pemeriksaan darah, yang meliputi :
a. Tes fungsi hati.
Antara lain bilirubin, SGOT, SGPT dan gama-GT. Pada tahap kuning, hasil tes ini akan
meningkat sedang pada fase penyembuhan akan menurun dengan cepat dan mencapai normal
dalam waktu 10 12 minggu. Jika setelah 6 bulan nilai tes tetap tinggi, ini menandakan
penyakti tersebut telah berkembang menjadi hepatitis menahun.
b. Tes serologi petanda virus.
Tujuannya ialah untuk membedakan jenis jenis virus penyebab.
2. Pemeriksaan air seni.
Ditemukan bilirubin dalam air seni.
Komplikasi.
1.

Hepatitis parah (fulminan),

2.

Hepatitis kronis, sirosis dan kanker hati

Perjalanan penyakit dan prognosis.


Hepatitis A.
Meskipun dapat terjadi kekambuhan dan hepatitis parah, hepatitis A tidak pernah menjadi
hepatitis kronik.. Jadi akan sembuh sempurna.
Hepatitis B.
Hepattis B bisa berlangsung tanpa kuning bahkan tanpa gejala, namun penyakit ini berpotensi
berkembang menjadi hepatitis parah, hepatitis kronik, sirosis hepatis dan kanker hati.
Hepatitis C.
Hepatitis C lebih sering mengalami komplikasi hepatitis parah dengan prognosis yang jelek.
Kemungkinan menjadi hepatitis kronik dan sirosis juga lebih besar, diperkirakan 50% penderita
hepatitis C yang timbul akibat transfusi akan menderita penyakti hati menahun. Dalam waktu 10
tahun, 20% penderita berkembang menjadi sirosis. Kasus kanker hati juga sering ditemukan
pada penderita hepatitis C.
Hepatitis D.
Prognosis hepatitis D berkaitan erat dengan keadaan hepatitis B. Infeksi bersamaan ini biasanya
hanya berlangsung sementar, terbatas dan tidak progresif.
Hepatitis E.
Penyakit biasanya terbatas dan tidak berkembang menjadi hepatitis kronik. Angka kematian
sekitar 20%.
Pengobatan.
Hingga saat ini belum ditemukan obat yang jitu untuk hepatitis virus sehingga pengobatan
umumnya bersifat menghilangkan keluhan saja dan meliputi :
1.

Istirahat

2.

Makanan bergizi dan yang mudah dicerna. Pada penderita yang mual dan muntah, lemak
perlu dikurangi.

3.

Vitamin.
Untuk hepatitis B, C dan D sekarang telah dipakai obat Interferon, Lamivudin, Telbivudin,
Adefovir, Entecavir, Telbivudin, namun harga obat yang sangat mahal, serta efek samping adalah
kendala kendala yang membatasi penggunaan obat ini.

Pencegahan.
Berhubung hingga saat ini belum ada cara yang efektif dalam mengobati hepatitis virus maka
pencegahan melalui penyluhan kesehatan yang berkesinambungan tentang kebersihan
lingkunagn dan pola hidup sehat merupakan tindakan yang terpenting. Selain itu tindakan
vaksinasi adalah pilihan yang bijaksana. Untuk Hepatitis A dan B, sekarang telah tersedia vaksin
yang poten.
http://dokita.co/blog/hepatitis-virus/

HEPATITIS KARENA OBAT


(DRUG INDUCED HEPATITIS)
Dr. Iskandar, Sp. PD.

Salah satu fungsi hati yang penting ialah melindungi tubuh terhadap terjadinya
penumpukan zat berbahaya yang masuk dari luar, misalnya obat. Banyak diantara obat yang
bersifat larut dalam lemak dan tidak mudah diekskresikan oleh ginjal.
Hepatitis karena obat (HKO) adalah peradangan/inflamasi pada hati yang disebabkan
oleh reaksi obat.
HKO terjadi pada delapan dalam setiap 10.000 orang. Perempuan cenderung terpengaruh
hampir dua kali dibandingkan laki-laki. Orang dewasa lebih rentan terhadap jenis hepatitis ini
karena tubuh mereka tidak mampu memperbaiki dengan cepat sel-sel hepatosit yang rusak
seperti pada orang muda.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya hepatitis karena obat, yaitu :
1.

Ras : Beberapa obat memiliki toksisitas yang berbeda tergantung ras. Misalnya, kulit
hitam lebih rentan terhadap isoniazid (INH).

2.

Hepatitis karena obat jarang ditemukan pada anak-anak. Resikonya meningkat pada
orang tua.

3.

Jenis kelamin : Dengan alasan yang tidak diketahui, hepatitis jenis ini lebih sering terjadi
pada perempuan.

4.

Konsumsi alkohol : orang yang mengkonsumsi alkohol lebih rentan terhadap hepatiis
karena obat karena kerusakan hati mengubah metabolisme obat-obatan.

5.

Faktor resiko lain : Orang dengan AIDS, malnutrisi.

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai HKO maka akan dibahas aspek
patofisiologi, jenis kelainan hati, diagnosa dan pengobatan.
Secara patofisiologik, obat yang dapat menimbulkan kerusakan pada hati dibedakan atas dua
golongan yaitu hepatotoksin yang predictable dan yang unpredictable.

- Hepatotoksin yang predictable (intrinsik) : merupakan obat yang dapat dipastikan selalu akan
menimbulkan kerusakan sel hati bila diberikan kepada setiap penderita dengan dosis yang cukup
tinggi. Dari golongan ini ada obat yang langsung merusak sel hati, ada pula yang merusak secara
tidak langsung yaitu dengan mengacaukan metabolisme atau faal sel hati.Obat hepatotoksik
predictable yang langsung merusak sel hati umumnya tidak digunakan lagi untuk pengobatan.
Contohnya ialah karbon tetraklorid dan kloroform. Hepatotoksin yang predictable yang merusak
secara tidak langsung masih banyak yang dipakai misalnya parasetamol, tetrasiklin,
metotreksat,etanol, steroid kontrasepsi dan rifampisin. Tetrasiklin, etanol dan metotreksat
menimbulkan steatosis yaitu degenerasi lemak pada sel hati. Parasetamol menimbulkan nekrosis
(penghancuran sel hati), sedangkan steroid kontrasepsi dan steroid yang mengalami alkilasi pada
atom C17 menimbulkan ikterus (gejala kuning pada mata, kulit dan sklera) akibat
terhambatnya pengeluaran empedu. Rifampisin dapat pula menimbulkan ikterus karena
mempengaruhi konyugasi dan transpor bilirubin dalam hati
- Hepatotoksin yang unpredictable : kerusakan hati yang timbul disini bukan disebabkan karena
toksisitas intrinsik dari obat, tetapi karena adanya reaksi idiosinkrasi yang hanya terjadi pada
orang-orang tertentu. Ciri dari kelainan yang bersifat idiosinkrasi ini ialah timbulnya tidak dapat
diramalkan dan biasanya hanya terjadi pada sejumlah kecil orang yang rentan. Menurut sebab
terjadinya, reaksi yang berdasarkan idiosinkrasi ini dapat dibedakan dalam dua golongan yaitu
karena reaksi hipersensitivitas dan karena kelainan metabolisme.Yang timbul karena
hipersensitivitas biasanya terjadi setelah satu sampai lima minggu dimana terjadi proses
sensitisasi. Biasanya dijumpai tanda-tanda sistemik berupa demam, ruam kulit, eosinofilia dan
kelainan histologik berupa peradangan granulomatosa atau eosinofilik pada hati.
JENIS KELAINAN HATI
- Akut HKO yang berlangsung akut dapat disebabkan tiga hal yaitu karena terjadinya kerusakan
sel hepar (sitotoksik), kolestasis (sumbatan saluran empedu) dan bentuk campuran keduanya.
Jenis sitotoksik dapat disebabkan karena nekrosis atau steatosis. Perubahan nilai laboratorium
pada nekrosis hati karena obat menyerupai kelainan yang didapatkan pada hepatitis virus. Kadar
SGOT dan SGPT biasanya sangat meninggi sedang kadar fosfatase alkali meningkat sedikit.
Jenis sitotoksik ini berbahaya karena cenderung menimbulkan hepatitis fulminan dengan angka
kematian 10-50%. Contohnya ialah nekrosis hati akut karena halotan. Steatosis akut karena obat,
misalnya tetrasiklin parenteral, menimbulkan perubahan nilai laboratorium yang
menyerupai fatty liver pada kehamilan. Angka kematian juga agak tinggi. Jenis kolestatik
menyerupai ikterus yang terjadi akibat obstruksi ekstrahepatik. Jenis kolestatik juga dapat
dibedakan dalam dua bentuk yaitu hepatokanalikuler misalnya karena klorpromazin, dan
kanalikuler misalnya karena pemakaian anabolik dan steroid kontrasepsi. Gejala yang utama
ialah ikterus dan pruritus (gatal-gatal). Nilai SGOT dan SGPT hanya sedikit meningkat, tetapi
fosfatase alkali jelas meningkat.
- Kronik. Hepatitis kronik karena obat dapat dibedakan dalam dua golongan yaitu hepatitis aktif
kronik dan nekrosis hati subakut. Hepatitis aktif kronik dapat disebabkan oleh alfa metildopa,
sulfonamid, isoniazid dan nitrofurantoin. Gejala klinik yang mungkin dijumpai ialah ikterus,
hepatomegali,splenomegali, spider angioma dan asites. Nilai SGOT dan SGPT umumnya

meningkat sedikit. Hepatitis kronik aktif terjadi bila setelah timbul kelainan hati, pengobatan
masih diteruskan dalam jangka waktu lama. Bila pengobatan dihentikan maka gejala akan
mereda dengan cepat. Hepatitis aktif kronik yang disebabkan oleh virus mempunyai prognosa
yang lebih buruk. Nekrosis hati subakut dapat timbul akibat pengobatan dengan sinkofen,
isoniazid, metildopa dan propiltiourasil. Penyakit biasanya berjalan progresif, disertai ikterus
berat dan tanda tanda sirosis. Kelainan berlangsung lebih cepat dari hepatitis aktif kronik tetapi
tidak secepat nekrosis hati akut.
DIAGNOSA
Kemungkinan HKO selalu perlu dipikirkan pada penderita dengan kuning (ikterus).
Diagnosa kerja dapat dibuat atas dasar anamnesa mendapat obat tertentu, adanya kelainan
spesifik yang , disebabkan obat tertentu dan usaha mencari bukti penunjang. Adanya demam dan
eosinofilia menyokong diagnosa, tetapi kedua gejala ini tidak selalu dijumpai.
Gejala-gejala yang dapat ditemukan pada hepatitis karena obat, yaitu : demam, ruam dan
gatal pada kulit, diare, nyeri sendi, mual, muntah, sakit kepala, anorexia, kuning pada kulit dan
mata, BAB berwarna dempul, BAK berwarna gelap, dan pembesaran hati.
PENGOBATAN
Pengobatan HKO pada prinsipnya sama dengan pengobatan penyakit hati yang
ditimbulkan oleh penyebab lain. Obat yang dicurigai sebagai penyebab harus dihentikan.
Penderita diberi diet 2500-3000 kalori, 70-100 g protein dan 400-500 g karbohidrat sehari. Bila
ada tanda akan terjadi koma hepatikum, protein tidak diberikan dan juga diberikan neomisin per
oral. Bila penderita jatuh ke dalam koma, diberikan infus glukosa. Keseimbangan asam-basa dan
kebutuhan cairan harus diperhatikan dengan baik. Untuk ikterus yang disebabkan kolestasis
hepatokanalikuler, diberikan terapi suportif. Jenis ini umumnya tidak terlalu berbahaya. Bila
ikterus menghebat dan timbul rasa gatal, dapat diberikan kortikosteroid atau kolestiramin. Perlu
dicatat bahwa kortikosteroid tidak mempercepat sembuhnya penyakit.
http://rotinsuluhospital.org/berita-20-hepatitis-karena-obat.html

Overdosis Acetaminophen/Paracetamol
Paracetamol/parasetamol atau acetaminophen merupakan salah satu obat yang paling banyak
digunakan. Paracetamol adalah obat antinyeri dan antidemam (antipiretik) yang tersedia bebas di
pasaran dengan pelbagai merk. Obat ini cukup umum digunakan untuk meredakan nyeri kepala,
sakit gigi, linu-linu, nyeri sendi, hingga tidak enak badan karena gejala flu.

Hanya saja meskipun aman, paracetamol memiliki dosis yang harus dipatuhi. Dosis maksimal
yang dianjurkan adalah sekitar 1 gram (1000 mg) untuk satu dosis, dan sekitar 4 gram (4000 mg)
dalam satu hari. Namun jika Anda adalah pengonsumsi alkohol aktif, gemar minum-minuman
beralkohol, maka berkonsultasi-lah pada dokter sebelum mengonsumsi parasetamol.
Kenapa demikian? karena dosis paracetamol yang berlebihan dapat merusak organ hati. Dan
pada mereka yang gemar minum minuman beralkohol biasanya/berpotensi telah mengalami
kerusakan hati secara kronis (chronic liver disease).
Jadi biasanya paracetamol akan dianjurkan agar dihindari pada mereka yang memiliki kondisi
penyakit/kerusakan hati, selain pada mereka yang memiliki alergi terhadap obat golongan
acetaminophen atau paracetamol ini. Ketika paracetamol dikonsumsi melebihi dosis, maka akan
muncul gejala overdosis atau keracunan paracetamol.

Salah satu gejala yang khas adalah mual yang hebat dan muntah-muntah berulang, dan tanda
pemeriksaan yang bisa dilihat misalnya peningkatan enzim transferase, bilirubin, waktu
protrombin dan sebagainya. Sejumlah tes kimia darah bisa dilakukan di rumah sakit untuk
melihat tanda-tanda ini.

Dokter biasanya melakukan pendekatan dari kemungkinan riwayat pasien sampai dia mengalami
tanda-tanda overdosis paracetamol, baru kemudian sampai pada pendekatan dari pemeriksaan
fungsi hati. Dokter akan memberikan antiracun atau antidotum bagi kasus overdosis

paracetamol, yaitu N-acetyl cystein (NAC), baik melalui infus ataupun dengan obat yang
diminum.
Alur pendekatannya pada penderita overdosis paracetamol akan menyerupai karikatur di bawah
ini:

Gambaran penderita overdosis dan keracunan paracetamol serta pendekatan medis pada pertolongan
pertamanya. Sumber: LITFL.

Penanganan overdosis paracetamol akan baik dilakukan dalam jam-jam awal kejadian (masa
akut), karena kalau setelahnya tidak akan membawa perbaikan yang bermakna.

Kabar gembiranya, kasus seperti ini amat jarang terjadi. Hal tersebut juga yang membuat
paracetamol menjadi pilihan awal dalam banyak pengobatan yang disesuaikan dengan
kegunaannya. Guna menghindari overdosis paracetamol, berikut beberapa tips yang bisa diikuti:

1.

Sampaikan pada dokter jika Anda menderita gangguan fungsi hati, atau konsumsi alkohol
Anda cukup banyak setiap harinya. Demikian juga, hindari penggunaan paracetamol tanpa
konsultasi ke dokter jika Anda berada di dua kategori tersebut, walaupun paracetamol dijual
bebas di warung di depan rumah Anda.

2.

Paracetamol adalah obat yang diminum jika diperlukan, jika gejala yang hendak diobati
oleh paracetamol sudah mulai membaik, berkurang atau sembuh, paracetamol tidak perlu
diminum lagi.

3.

Jangan mengonsumsi paracetamol lebih dari dosis maksimal yang dianjurkan. Tanyakan
pada dokter dosis maksimal untuk Anda atau anggota keluarga yang Anda antar berobat ke
dokter.

Jika merasa memiliki gejala keracunan seperti mual, muntah dan lemas setelah mengonsumsi
paracetamol ataupun produk obat yang mengandung acetaminophen/paracetamol, segera mencari
bantuan medis terdekat atau ke instalasi gawat darurat.
http://catatan.legawa.com/2014/03/overdosis-acetaminophenparacetamol/