Anda di halaman 1dari 7

1

MAKALAH
MEMIJAHKAN INDUK IKAN
SECARA SEMI BUATAN

Disusun
o
l
e
h
Riduansah

DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


KABUPATEN REJANG LEBONG AKN NEGERI CURUP
PRODI BUDIDAYA PERIKANAN
TAHUN AJARAN 2015

KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan limpahan rahmatnyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah karyatulis
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul pemijahan ikan
lele Secara semi intensif tentang pemijahan semi intensif saya dapat memberikan manfaat
yang besar bagi kita untuk mempelajarinya. Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu
meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan
ada tulisan yang saya buat kurang tepat atau tidak sesuai dengan judul yang dimaksud.
Dengan mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan
semoga allah SWT memberkahi makalah ini, sehingga dapat memberikan manfaat.

Curup,
Mei 2015
Penulis
Riduansah

BAB I
PENDAHULUAN
Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa yang lezat,
daging empuk, duri teratur dan dapat disajikan dalam berbagai macam menu masakan.
Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan
lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal
antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap
penyakit. Namun demikian perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung
pengelolaan induk yang baik menyebabkan lele dumbo mengalami penurunan kualitas
(Rahmat. 1991)
Hal ini karena adanya perkawinan sekerabat (inbreeding), seleksi induk yang salah
atas penggunaan induk yang berkualitas rendah. Penurunan kualitas ini dapat diamati dari
karakter umum pertama matang gonad, derajat penetasan telur, pertumbuhan harian, daya
tahan terhadap penyakit dan nilai FCR (Feeding Conversion Rate).
Sebagai upaya perbaikan mutu ikan lele dumbo BBAT Sukabumi telah berhasil melakukan
rekayasa genetik untuk menghasilkan lele dumbo strain baru yang diberi nama lele
"Sangkuriang".Seperti halnya sifat biologi lele dumbo terdahulu, lele Sangkuriang tergolong
omnivora. Di alam ataupun lingkungan budidaya, ia dapat memanfaatkan plankton, cacing,
insekta, udang-udang kecil dan mollusca sebagai makanannya (Rahmat. 1991)

BAB II
PEMBAHASAN
Pemijahan ikan lele semi intensif yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan
memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi proses
ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam. Perkembangan dalam budidaya ikan lele
khususnya dalam usaha pembenihan ikan lele telah mengalami kemajuan yang sangan
pesat.
Untuk merangsang pemijahan sekarang dapat digunakan hormon buatan atau
hormon sintesis yang banyak diproduksi di luar negeri. Beberapa jenis hormon sintesis
tersebut misalnya Ovaprim, HCG, LHRH. Hormon Ovaprim relative mudah di peroleh di
toko-toko yang menjual berbagai macam kebutuhan budidaya perikanan atau toko-toko
suplai obat perikanan seperti di PT Taufan Fish Farm di daerah Kedunghalang Bogor.
Berbagai macam jenis ikan lain yang dapat dirangsang pemijahannya dengan hormon
buatan antara lain patin, bawal, baung, kerapu, kakap, ikan hias, dll.
Persyaratan agar penyuntikan dengan hormon dapat efektif maka induk ikan lele
harus sudah mengandung telur yang siap untuk memijah (matang telur). Apabila kondisi
induk tidak matang gonad, tentu injeksi hormon yang dilakukan tidak akan efektif (tidak
berhasil).
Menyuntik Induk Lele Dengan Hormon Ovaprim

1.
2.

1.

Urutan pekerjaan pemijahan induk lele secara semi intensif dengan hormon buatan adalah
sebagai berikut :
Siapkan alat suntik dan hormon Ovaprim untuk disuntikkan. Gunakan injeksi spuit yang
sudah dibersihkan dengan air panas atau gunakan alat injeksi yang baru.
Timbang induk ikan lele (jantan dan betina) dan tentukan dosis Ovaprim.
Induk yang beratnya 1 kg, dosis hormon Ovaprim 0,3-0,5 ml. Bila beratnya 0,5 kg
maka dosis yang diperlukan setengah nya, yakni 0,15 0,25 ml (sesuai petunjuk pada
wadah hormon tersebut).
Sedot dengan alat injeksi spuit sebanyak hormon yang diperlukan, misalnya 0,5 ml.
Usahakan posisi botol dan injeksi spuit tegak lurus, botol berada di atas. Setelah itu, sedot
lagi dengan injeksi spuit yang sama akuades sebanyak 0,5 ml juga untuk
mengencerkannya.
Cara menyuntik

Tangkap induk lele dengan menggunakan seser induk. Kemudian seorang


membantu memegang induk lele yang hendak disuntik (ikan betina terlebih dahulu)
dengan menggunakan kain untuk menutup dan memegang kepala ikan dan
memegang pangkal ekornya.

Kemudian suntikkan hormon yang sudah disiapkan tadi ke dalam daging lele
di bagian punggung, setengah dosis di sebelah kiri dan setengah dosis disebelah

kanan dengan kemiringan jarum sunik 40 45. Kedalaman jarum suntik 1 cm dan
disesuaikan dengan besar kecilnya tubuh ikan.

Lakukan penyuntikan secara hati-hati. Setelah obat didorong masuk, jarum


dicabut lalu bekas suntikkan ditekan/ditutup dangan jari telunjuk beberapa saat agar
obat tidak keluar.
Setelah disuntik, ikan jantan dan betina dimasukkan ke dalam bak pemijahan.
Menyuntik Induk Lele Dengan Hormon Alamiah (Hipofisa)
Hormon ini diambil dari kelenjar hipofisa yang terletak di bagian bawah otak kecil
ikan. Setiap ikan (juga makhluk bertulang belakang lainnya) mempunyai kelenjar hipofisa
yang terletak di bawah otak kecil. Kelenjar hipofisa ini hanya sebesar butir kacang hijau,
bahkan lebih kecil.
Untuk menyuntik induk ikan lele diperlukan kelenjar hipofisa yang diambil dari ikan
donor, sedangkan penerimanya disebut resipien. Ikan donor dapat dipilihkan dari ikan lele
dumbo, ikan mas atau ikan lele local. Karena hormon untuk keperluan penyuntikan diambil
dari kelenjar hipofisa maka penyuntikan untuk merangsang pemijahan disebut juga
hipofisasi.
a.
Dosis hipofisa
Untuk menyuntik induk ikan lele dibutuhkan kelenjar hipofisa adalah 3 dosis. Artinya,
seekor induk lele yang beratnya 1 kg, akan memerlukan kelenjar hipofisa yang berasal dari
ikan donor yang berat badannya 3 x 1 kg. Ikan donor seberat 3 kg itu dapat terdiri atas 3
6 ekor yang masing-masing beratnya antara 0,5 1 kg.
Sebagai ikan donor sebaiknya dipilihkan ikan yang sudah dewasa. Efektifitas jantan
maupun betina sama saja. Jika dipilihkan ikan donor yang belum dewasa atau tidak matang
gonad maka kadar hormon di dalam kelenjar hipofisanya sedikit.
b.
Pengambilan kelenjar hipofisa dan pembuatan ekstrak
Cara mengambil kelenjar hipofisa dari ikan donor adalah sebagai berikut :
1. Ikan donor dipegang pada bagian kepalanya. Bila licin, gunakan kain lap. Sementara
bagian kepala dipegang, bagian badan diletakkan di atas talenan. Kepala ikan donor
dipotong di bagian belakang tutup insangnya hingga kepala putus.
2. Setelah terpotong, bagian atas kepala ikan dipotong di atas mata hingga tulang
tengkoraknya terbuka dan otak kelihatan.
3 Otak ini disingkapkan dengan menggunakan pinset maka di bawah otak akan terlihat
kelenjar hipofisa berwarna putih sebesar butir kacang hijau.
4. Dengan tetap menggunakan pinset, kelenjar hipofisa diangkat kemudian diletakkan di
dalam cawan yang bersih untuk dicuci dengan aquadest hingga darah yang menempel
hilang. Cara membersihkannya dengan di semprot-semprot aquadest menggunakan
sebuah pipet.
5. Setelah butir kelenjar hipofisa itu bersih lalu dimasukkan ke dalam tabung penggerus.
Lalu kelenjar hipofisa tersebut digerus hingga hancur.

6. Selanjutnya, kelenjar tersebut diencerkan dengan 1 ml aquadest. Dengan demikian


hormon GSH yang terkandung di dalam kelenjar hipofisa itu akan terlarut dalam cairan.
7. Larutan tersebut diendapkan beberapa menit hingga kotoran tampak mengendap di
dasar. Cairan bagian atas diambil dengan alat injeksi spuit untuk disuntikkan kepada induk
ikan lele.
c. Penyuntikan ekstrak hipofisa
Hormon di dalam spuit injeksi disuntikkan pada punggung induk ikan lele. Proses
penyuntikan sama seperti pada penggunaan hormon buatan. Setelah disuntik induk ikan
lele dimasukkan ke dalam bak pemijahan.

BAB III
PENUTUP
Berdasarkan pembahasan mengenai pembenihan ikan lele secara semi intensif
maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Teknik pembenihan ikan lele secara intensf dan pemilhan induk, perbedaan induk
jantan dan betina, ciri-ciri indukan siap pijah, tempat pemijahan, dan penetasan telur.