Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Filosofi Riset Dalam Bidang Akuntansi Keprilakuan


Filosofi Riset dalam Bidang Akuntansi Keperilakuan Filsafat ilmu merupakan
cabang dari filsafat yang banyak digunakan sebagai batu pijakan dalam mengembangkan
ilmu. Jadi, filsafat ilmu adalah jaringan cabang ilmu sedemikian rupa sedingga ilmu
pengetahuan dapat ditelusuri sampai ke induk filsafatnya.
Filsafat ilmu menurut Sumantri (1998) dapat dikelompokkan menjadi : ontologi,
epistemologi dan aksiologi.
1. Ontologi mempertanyakan hakekat ilmu atau mempertanyakan apa yang dikaji oleh
pengetahuan itu yang berhubungan dengan hakikat atau sifat dari realitas atau objek
yang akan diinvestigasi.
2. Epistemologi mempertanyakan cara mendapat pengetahuan,sehingga akan dibahas
sarana untuk memperoleh pengetahuan dan penggunaan tata cara sampai dengan
diperolehnya pengetahuan yang berhubugan dengan sifat dari ilmu pengetahuan,
bentuk dri ilmu pengetahuan, dan bagaimana mendapatkan serta menyebarkannya.
3. Aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan dimaksud dipergunakan.
2.2 Pergeseran Arah Riset
Riset akuntansi keperilakuan merupakan suatu bidang baru yang secara luas
berhubungan dengan perilaku individu, kelompok dan organisasi bisnis, terutama yang
berhubungan dengan proses informasi akuntansi dan audit. Riset akuntansi keperilakuan
merupakan suatu fenomena baru yang sebetulnya dapat ditelusuri kembali pada awal
tahun 1960-an, walaupun sebetulnya dalam banyak hal riset tersebut dapat dilakukan
lebih awal.
Awal perkembangan riset akuntansi keperilakuan menekankan pada aspek
akuntansi manajemen khususnya penganngaran (budgeting), namun domain dalam hal
ini terus berkembang dan bergeser ke arah akuntansi keuangan, sistem informasi
akuntansi, dan audit. Dalam audit, riset akuntansi keperilakuan telah berkembang,
tinjauan literatur telah menjadi spesialisasi dengan lebih memfokuskan diri pada atribut
keperilakuan spesifik seperti proses kognitif (Bonner dan Pennington, 1991), atau riset
4

keperilakuan pada suatu topik khusus seperti audit sebagai tinjauan analitis (analytical
review). Sinyal ini merupakan awal terhadap pematangan dan pendewasaan riset
akuntansi keperilakuan. Sebagai bidang riset yang sering memberikan kontribusi yang
bermakna, riset akuntansi keperilakuan ini dapat membentuk kerangka dasar
(framework) serta arah riset di masa yang akan datang. Banyaknya volume riset atas
akuntansi keperilakuan dan meningkatnya sifat spesialisasi riset, serta tinjauan studi
secara periodik, akan memberikan manfaat untuk beberapa tujuan sebagai berikut ini (1)
memberikan gambaran state of the art terhadap minat khusus dalam bidang baru yang
ingin diperkenalkan; (2) membantu dalam mengidentifikasikan kesenjangan riset; (3)
untuk meninjau dengan membandingkan dan membedakan kegiatan riset melalui
subbidang akuntansi.
Sejarah akuntansi telah dimulai dari tahun 1749 dimana Luca Pacioli telah
membahas mengenai system pembukuan berpasangan. Kemudian pada tahun 1951,
Controllership Foundation of America mensponsori suatu riset untuk menyelidiki
dampak anggaran terhadap manusia. Pada tahun 1960, Steadry menggali pengaruh
anggaran motivasional dengan menggunakan suatu eksperimen analog. Dan riset-riset ini
terus berkembang sampai dengan saat ini.
Pendekatan klasikal lebih menitikberatkan pada pemikiran normatif yang
mengalami kejayaannya pada tahun 1960-an. Pada tahun 1970-an, terjadi pergeseran
pendekatan dalam riset akuntansi. Alasan yang mendasari ini adalah pendekatan
normatif yang telah berjaya selama satu dekade ini tidak dapat menghasilkan teori
akuntansi yang siap digunakan dalam praktik sehari-hari. Pada kenyataannya, desain
sistem akuntansi yang dihasilkan dari riset normatif tidak dipakai dalam praktik. Sebagai
konsekuensinya, muncul anjuran untuk memahami berfungsinya sistem akuntansi secara
deskriptif dalam praktik nyata.
Pendekatan normatif maupun positif masih mendominasi riset akuntansi hingga
saat ini. Hampir semua artikel yang terbit di jurnal The Accounting Review maupun
Journal of Accounting Research dan Journal of Business Research menggunakan
pendekatan utama (mainstream) dengan ciri khas penggunaan model matematis dan
pengujian hipotesis. Walaupun pendekatan utama masih mendominasi riset manajemen
dan akuntansi hingga saat ini, pendekatan ini pada dasarnya tidak memercayai dasar
filosofi yang digunakan oleh pengikut pendekatan utama. Sebagai gantinya, pendekatanpendekatan baru tersebut meminjam metodologi dari ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti
filsafat, sosiologi, dan antropologi untuk memahami akuntansi.
5

2.3 Asumsi-Asumsi Filosofis Yang Membangun Akuntansi Keperilakuan


Suatu pengetahuan (knowledge), termasuk bidang akuntansi keperilakuan, dibangun
berdasarkan asumsi-asumsi filosofis tertentu. Menurut Burrel dan Morgan (1979),
asumsi-asumsi tersebut adalah ontologi (ontology), epistemologi (epistemology), hakikat
manusia (human nature), dan metodologi (methodology). Metodologi dipahami sebagai
suatu cara menentukan teknik yang tepat untuk memperoleh pengetahuan.
1.

Ontologi berhubungan dengan hakikat atau sifat dari realitas atau objek yang akan
diinvestigasi dalam akuntansi keperilakuan.

2.

Epistemologi berhubungan dengan sifat ilmu pengetahuan, bentuk ilmu


pengetahuan tersebut, serta cara mendapatkan dan menyebarkannya.

3.

Pendekatan subjektivisme (anti-positivism) memberikan penekanan bahwa


pengetahuan bersifat sangat subjektif dan spiritual atau transendental yang
didasarkan pada pengalaman dan pandangan manusia.

4.

Pendekatan objektivisme (positivism) berpandangan bahwa pengetahuan itu


berada dalam bentuk yang tidak berwujud (intangible).

2.4 Dimensi Subjektif dan Objektif


Pendekatan subjektivisme memberikan penekanan bahwa pengetahuan bersifat
sangat subjektif dan spiritual yang didasarkan pada pengalamandan pandangan manusia.
Sedangkan pandangan objektivisme menyatakan bahwa pengetahuan itu berada dalam
bentuk yang tidak berwujud. Asumsi mengenai sifat manusia merujuk pada hubungan
antara manusia dengan lingkungannya.
Pendekatan Subjektivisme Ilmu Sosial

Pendekatan Objektivisme Ilmu Sosial


Realisme

Nominalisme

Ontologi
Positivisme

Anti Positivisme

Epistemologi

Determinisme

Voluntasime
6

Hakikat Manusia

Ideografik

Nomotetik

Metodologi

2.4.1 Nominalisme Realisme : Perdebatan Ontologis


Nominalis berada pada asumsi bahwa dunia sosial eksternal untuk kesadaran
individu tidak lebih dari sebuah nama, konsep dan label yang digunakan untuk struktur
realitas. Nominalis tidak pernah mengakui adanya stuktur apapun yang rill untuk
menggambarkan konsep ini. Nama dianggap sebagai kreasi yang didasarkan pada
kenyamanan mereka yang digunakan sebagai alat untuk menggambarkan, menciptakan
rasa, dan melakukan negosiasi di dunia luar.
Realisme di sisi lain, berpatokan bahwa dunia sosial eksternal untuk kesadaran
individual merupakan dunia nyata yang tercipta dari sesuatu yang keras, nyata, dan
relative tidak berubah. Bagi para Realis, dunia sosial ada secara independen dari
apresiasi manusi terhadapnya. Individu dipandang sebagai seseorang yang dilahirkan dan
hidup dalam dunia sosial yang memiliki realitas sendiri. Ini bukanlah sesuatu yang
diciptakan oleh invidu di luar sana. Bagi realis, dunia sosial memiliki eksistensi yang
sama keras dan konkritnya seperti alam.
2.4.2 Anti-Positivisme Dan Positivisme : Perdebatan Epistemologis
Epistemologi positivis pada dasarnya didasarkan pada pendekatan tradisional yang
mendominasi ilmu-ilmu alam. Positivis mungkin berbeda dalam hal pendekatan yang
rinci. Beberapa akan mengklaim, misalnya, bahwa keteraturan hipotesis dapat
diverifikasi melalui program penelitian eksperimental yang memadai. Yang lain mungkin
beranggapan bahwa hipotesis hanya dapat dipalsukan dan tidak pernah dibuktikan
menjadi sesuatu yang benar. Namun, kedua verificationists dan falsificationists akan
menerima bahwa pertumbuhan pengetahuan pada dasarnya adalah sebuah proses
kumulatif dimana wawasan seni baru ditambahkan dalam pengetahuan dan hipotesis
yang salah akan dihilangkan.
7

Untuk anti-positivis, dunia sosial pada dasarnya relativistik dan hanya dapat
dipahami dari sudut pandang individu yang terlibat langsung dalam kegiatan yang
dipelajari. Anti-positivis menolak sudut pandang pengamat, yang mencirikan
epistemologi positivis, sebagai titik pandang yang valid untuk memahami kegiatan
manusia. Mereka mempertahankan bahwa satu-satunya cara untuk dapat memahami
adalah dengan menduduki kerangka acuan dari para partisipan dalam tindakannya. Dari
sudut pandang ini ilmu sosial dipandang sebagai dasarnya subjektif daripada dasar
obyektif perusahaan. Anti-positivis

cenderung menolak gagasan bahwa ilmu

pengetahuan dapat menghasilkan pengetahuan obyektif apapun.


2.4.3 Voluntarisme Determinisme: Perdebatan Sifat Manusia
Perdebatan ini berkisar pada isu mengenai sifat manusia yang dicerminkan dalam
teori sosial-ilmiah yang diberikan. Kita dapat mengidentifikasi pandangan determinis
yang menganggap manusia dan aktivitasnya sebagai sepenuhnya ditentukan oleh situasi
atau lingkungan dimana ia berada. Di sisi lain, kita dapat mengidentifikasi pandangan
voluntaris bahwa manusia benar-benar otonom dan bebas berkehendak. Sejauh ini, teori
ilmu sosial dikonsentrasikan untuk memahami aktivitas manusia, mereka cenderung
bersifat implisit maupun eksplisit untuk suatu atau sudut pandang lainnya atau
mengadopsi sudut pandang perantara yang memungkinkan untuk mempengaruhi faktor
situasional antara faktor situasional atau faktor sukarela dalam akuntansi untuk kegiatan
manusia. Asumsi tersebut merupakan elemen penting dalam teori sosial-ilmiah, karena
mereka mendefinisikan dalam arti luas mengenai sifat hubungan antara manusia dan
masyarakat di mana dia berada.
2.4.4 Teori Ideografik-Nomotetis: Perdebatan Metodologis
Pendekatan ideografik untuk ilmu sosial didasarkan pada pandangan bahwa
seseorang hanya dapat memahami dunia sosial dengan memperoleh pengetahuan dari
tangan pertama dari subjek yang diteliti. Dengan demikian, ia dapat menempatkan
penekanan

yang

cukup

setelah

berada

dekat

dengan

sebuah

subjek

dan

mengeksplorasikan kerincian latar belakangnya dan riwayat hidup. Pendekatan


ideografik menekankan pada analisis terhadap hal subjektif yang dihasilkan melalui
keterlibatan situasi dan keterlibatan diri dalam arus kehidupan sehari-hari analisis rinci
tentang wawasan yang dihasilkan oleh pertemuan tersebut dengan sebuah subjek dan
8

pengungkapan wawasan dalam buku harian, biografi dan catatan jurnalistik. Metode
ideografik menekankan pentingnya membiarkan seorang subjek mengungkap sifat dan
karakteristik selama proses penyelidikan.
Pendekatan nomotetis untuk ilmu sosial meletakkan penekanan pada pentingnya
mendasarkan penelitian pada protokol dan teknik yang sistematis. Contohnya dalam
pendekatan dan metode yang digunakan dalam ilmu alam, yang berfokus pada proses
pengujian hipotesis sesuai dengan aturan dari kekakuan ilmiah. Pendekatan ini
menggunakan teknik kuantitatif untuk analisis data. Survei, kuesioner, tes kepribadian
dan instrumen penelitian standar dari semua jenisnya ditonjolkan di antara alat yang
membentuk metodologi nomotetis.
2.5 Filosofi Paradigma Metodologi Riset
2.5.1 Paradigma Fungsionalis
Paradigma ini merupakan paradigma umum dan sangat dominan dalam riset
akuntansi. Secara ontologi pardigma ini sangat dipengaruhi oleh realitas fisik yang
mengaanggap bahwa relaitas objektif berada secara bebas dan terpisah diluar diri
manusia. Secara epistemologi, akuntansi utama melihat realitas sebagai realitas materi
yang mempunyai seuatu keyakinan bahwa ilmu pengetahuan akuntansi dapat dibangun
dengan rasio dan dunia empiris. Penliti akuntansi meyakini bahwa metode yang dapat
membangun ilmu akuntansi adalah metode ilmiah. Penjelasan dikatakan ilmiah jika:
1. Memasukkan satu atau lebih prinsip-prinsip atau hukum umum.
2. Mengandung prakondisi yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pernyataan hasil
observasi
3. Memiliki satu pernyataan yang menggambarkan sesuatu yang dijelaskan.

Pengujian empiris dalam filsafat dinyatakan dengan dua cara:


1. Dalam aliran positivis ada teori dan seperangkat pernyataan hasil observasi
independen yang digunakan untuk membenarkan atau memverifikasi kebenaran
teori. (Pendekatan hypotethic deductive)
9

2. Karena hasil observasu merupakan teori yang dependen dan dapat dipalsukan,
maka teori ilmiah tidak dapat dibuktikan kebenarannya, tetapi memunginkan
untuk ditolak.

2.5.2 Paradigma Interpretif (subjective interactionist)


Pendekatan ini menitik beratkan pada peranan bahasa, interpretasi, dan pemahaman
dalam ilmu sosial. Menurut Burrel dan Morgan, paradigma ini menggunakan cara
pandang nomalis yang melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang hanya merupakan
label, nama, atau konsep yang digunakan untuk membangun realitas. Dengan demikian
realitas sosial merupakan sesuatu yang berada dalam diri manusia itu sendiri sehingga
bersifat subjektif, bukan objektif sebagaiman yang dipahami oleh paradigma fungsionalis.
Paradigma interpretif memasukkan aliran etnometodologi dan interaksionisme
seimbolis fenomologis yang didasarkan pada aliran sosiologis, hermentis, dan
fenomenologis. Tujuan pendekatan ini adalah menganalisis realitas sosial dan cara realitas
sosial terseut terbentuk. Dua aliran pendekatan interpretif:
1. Tradisional, yang menekankan pada penggunaan studi kasus, wawancara
lapangan, dan analisis historis.
2. Metode Foucauldian, yang menganut teori sosial dari Foucalt sebagai pengganti
konsep tradisional historis yang disebut ahistorical atau antiquarian.

2.5.3 Paradigma Strukturalisme Radikal


Aliran ini mengasumsikan bahwa sitem sosial mempunyai keberadaan ontologis
yang konkret dan nyata. Pendekatn ini berfokus pada konflik mendasar sebagai dasar dari
produk hubungan kelas dan struktur pengendalian, serta memperlakukan dunia sosial
sebagai objek eksternal dan memiliki hubungan terpisah dari manusia tertentu. Riset yang
diklasifikasikan dalam paradigma struturalisme radikal adlah riset yang didasarkan pada
teori Marxisme tradisional.

10

2.5.4 Paradigma Humanis Radikal


Paradigma ini didsarkan pada teori kritis Frankfurt Schools dan Habermas.
Habermas meilhat objek studi sebagai suatu interaksi sosial yang disebut dunia
kehidupan yang berarti interaksi berdasarkan pada kepentingan kebutuhan yang melekat
dalam diri manusia dan membantu untuk pencapaian yang saling memahami. Interaksi
sosial dalam dunia kehidupan dapat dibagi menjadi dua kelompok:
1.

Interaksi yang mengikuti kebutuhan sosial alami

2.

Interaksi yang dipengaruhi oleh mekanisme sistem.

2.5.5 Paradigma Posmodernisme


Paradigma ini merupakan oposisi dari paradima modern yang menyajikan suatu
wacana sosial yang sedang muncul yang meletakkan dirinya di luar paradigma modern.
Contoh karya yang paling banyak digunakan sebagai dasar aliran posmodernisme yaitu
karya Derrida dan Foucault.

2.5.6 Paradigma Akuntansi Kritis


Teori paradigma ini tidak berkaitan dengan penyelasian masalah ketersaingan,
melainkan dengan proses penilaian, dimana penilaian didefinisikan sebgai nilai objektif
yang didasarkan pada konsep ekonomi marginalis. (Mattesich, 1994). Mattesich
menginginkan akuntansi untuk dipadukan ke dalam ilmu manajemen yang meliputi
metode ekonomi dan analitis administrasi dan manajemen entitas. Teori mattesich
mencerminkan seestem sosioeonomi yang ada sehingga menjadi saran untuk mengulangi
kesadaran yang salah dalam menyatakan bahwa tidak ada perspektif lain selain yang
didominasi oleh kapitalis.
2.6 Perkembangan Riset Akuntansi Keperilakuan Dalam Memengaruhi Pengambilan
Keputusan Manajer
Perkembangan riset akuntansi keperilakuan saat ini sehingga dapat memengaruhi
pengambilan keputusan manajer adalah bahwa melalui riset akuntansi keperilakuan
digunakan informasi akuntansi yang dirancang untuk berfungsi sebagai suatu dasar bagi
11

pengambilan banyak keputusan penting di dalam maupun di luar perusahaan. Sistem


informasi dimanfaatkan untuk membantu dalam proses perencanaan, berhubungan untuk
memotivasi orang-orang pada semua tingkatan di dalam perusahaan. Umumnya, prosedur
akuntansi digunakan untuk melaksanakan banyak fungsi penting organisasional yang sudah
menjadi sangat teknis secara mendasar. Peningkatan ekonomi yang kontinyu dan
berkelanjutan dari suatu organisasi digunakan sebagai bahan dasar untuk memilih informasi
yang relevan dalam pengambilan keputusan.
Perkembangan yang pesat dalam riset akuntansi keperilakuan lebih disebabkan karena
akuntansi secara simultan dihadapkan dengan ilmu-ilmu sosial secara menyeluruh. Mengenai
bagaimana perilaku manusia memengaruhi data akuntansi dan keputusan bisnis, serta
bagaimana akuntansi memengaruhi keputusan bisnis dan perilaku manusia selalu dicari
jawabannya. Pada gilirannya, riset akuntansi keperilakuan diyakini dapat menjadi suatu
terobosan yang baik dalam pengukuran bisnis dan informasi, yang memungkinkan para
direktur eksekutif (CEO), direktur keuangan (CFO), dan pembuat rencana strategis lainnya
untuk mengoptimalkan keputusan yang diambil, yang pada akhirnya dapat meningkatkan
kinerja

perusahaan.

Riset

akuntansi

keperilakuan

menggunakan

metodologi

ilmu

pengetahuan perilaku untuk melengkapi gambaran informasi dengan mengukur dan


melporkan faktor manusia yang memengaruhi keputusan bisnis dan hasil mereka.
2.7 Peluang Riset Akuntansi Keperilakuan pada Lingkungan Akuntansi
Dengan menelaah riset akuntansi keperilakuan sebelumnya secara khusus, dapat
diperoleh suatu kerangka analisis dan diskusi yang dibatasi pada peluang, terutama pada hasil
potensi subbidang dan implikasinya untuk subbidang akuntansi yang lain.
2.7.1 Audit
Riset akuntansi keperilakuan pada tahun 1990-1991 menunjukkan penekanan pada
kekuatan pembuatan keputusan. Penjelasan daru bagian ini berorientasi pada pembuatan
keputusan dalam audit, dan telah memfokuskan riset terakhir pada penilaian dan
pembuatan keputusan auditor, seperti perbedaan penggunaan laporan audit dan
meningkatnya perkembangan berorientasi kognitif. Pencerminan dari riset terakhir dan
riset mendatang merupakan fokus terhadap:
1. Karakteristik pengetahuan yang dihubungkan dengan pengalaman
12

2. Pengujian atas bagaimana pengetahuan berinteraksi dengan variabel organisasional


atau lingkungan
3. Pengujian pengaruh kinerja terhadap pengetahuan yang berbeda.
Pengalaman berperan dalam orientasi kognitif riset akuntansi keperilakuan. Ada
dua alasan:
1. Pengalaman merupakan ekspektasi yang berhubungan dengan keahlian kinerja
2. Manipulasi sebagai suatu variabel independen telah menjadi efektif dalam
mengidentifikasikan domain karakteristik dari pengetahuan spesifik.
Riset ini menyarankan bahwa terdapat suatu peluang yang berhubungan dengan
pemahaman dan evaluasi hasil keputusan audit. Salah satu kesulitannya adalah
kurangnya kriteria variabel yang dapat diamati terhadapa penilaian kinerja auditor
sehingga peneliti sering melakukan studi atau konsensu penilaian dan konsistensi.
2.7.2 Akuntansi Keuangan
Pentingnya riset akuntansi keuangan yang berbasis pasar modal dibandingkan
dengan audit menunjukkan kurang kuatnya permintaan eksternal terhadap riset akuntansi
keperilakuan dibidang keuangan. Namun juga terdapat beberapa alasan kenapa risen
akuntansi keperilakuan dibidang keuangan akan memberikan konstribusi yang besar di
masa mendatang:
1. Riset pasar modal saat ini adalah konsisten dengan beberapa komponen pasar modal

dengan ekspektasi naif.


2. Memberikan kontribusi yang lebih besar berhubungan dengan keuntungan dari riset
akuntansi keperilakuan dalam bidang audit.
2.7.3 Akuntansi Manajemen
Riset akuntansi keperilakuan di bidang akuntansi manajemen hanya merupakan
subidang akuntansi yang telah memperluas pengujian dari pengaruh fungsi akuntansi
terhadap perilaku. Riset ini menguji fungsi akuntansi terhadap perilaku seperti anggatan
dan standar motivasi, umpan balik, dan kinerja.

13

Riset akuntansi di bidiang akuntansi manajemen cenderung fokus pada variabel


lingkungan dan organisasional yang mengandalkan teori agensism seperti insentid dan
variabel asemetri informasi. Sedangakn di bidang audit lebih fokus pada variabel
psikologi, khususnya kesadaran.
2.7.4 Sistem Informasi Akuntansi
Keterbatasan riset akuntasi perilaku dibidang sistem informasi adalah keslitan
membuat generalisasi meskipun berdasarkan pada studi sistem akuntansi yang lebih awal
sekalipun. Riset akuntansi keperilakuan dibidang SIA akan lebh berhasil jika difokuskan
pada domain spesifik dari variabel yang unik dalam sistem akuntansi dan konteks
keputusan akuntansi, sperti standar profesi dan analisis pengecualian.
2.7.5 Perpajakan
Riset akuntansi keperilakuan di bidang pajak memfokuskan diri apda kepatuhan
dengan melakukan pengujian variabel psikologi dan lingkungan. Variabel-variabel yang
sering diuji dengan hasil campuran meyarankan bahwa perilaku kepatuhan pajak adalah
kompleks.
2.8 Pertumbuhan Riset Perilaku Akuntansi
Secara substansial, persentase penulis artikel lebih besar daripada persentase yang
berhubngan dengan staf pengajar sebagai calon perilaku. Tiga faktor utama:
1. Peneliti yang menggunakan paradigma perilaku menghasilkan lebih banyak artikel
yang diterbitkan oleh kedua jurnal yaitu Journal of Accounting Research dan The
Accounting Review.
2. Beberapa artikel yang ditulis oleh para penliti yang sementara dilakukan dalam
bidang ini, belum ada calonnya.
3. Minat pembaca pada bidang ini telah meningkat.
2.9 Perkembangan Terakhir
Wawasan dalam riset akuntansi keperilakuan saat ini bisa diperoleh dengan dua cara :
1. Survei publikasi utama dari riset akuntasi keperilakuan
14

2. Klasifikasi topik artikel yang dipublikasikan dan pemetaan publikasi terhadap model
perilau individu.
Pada periode sekarang audit meruoakan bidang riset keperilakuan yang paling banyak
diterbitkan dalam Behavioral Research in Accounting. Dan secara umum bidang audit juga
paling banyak dipersentasikan dalam artikel secara umum dari setengah penerbitan BRIA.
2.10 Teori Keperilakuan Tentang Perusahaan
Teori modern perusahaan terkait dengan arah tujuan perilaku yang dipastikan
berkaitan dengan tujuan, motivasi, dan karakteristik dalam menyelesaikan masalah
anggotanya. Tujuan organisasi akan dipandang:
1. Hasil pengaruh dari permulaan proses antar peserta organisasi
2. Penentu batas pengambilan keputusan perusaahan dan penyelesaian masalah aktiitas
3. Perannya di dalam sistem pengawasan internal adalah untuk memotivasi peserta,
dimana derajat tingkat kepuasan kerja anggotny diuraikan dalam kaitannya dengan
tujuan peribadi mereka yang saling tunpang tindih dengan tujuan organisasi.
Akhirnya dalam pengambilan keputusan dalam perusahaan diuraikan sebagai fungsi
serta yang menyelesaikan masalah perilaku yang ditandai oleh pembatasan kapasitas mereka
secara rasional. Yang perlu diperhatikan adalah perusahaan dipandang sebagai suatu
keseimbangan dalam mencari sistem pengambilan keputusan.

BAB III
KESIMPULAN

15

Pada bahasan ini dibicarakan mengenai pendekatan filsafat yang membangun


akuntansi keprilakuan. Pada awal bab didiskusikan mengenai pergeseran arah dari riset
bidang akuntansi keprilakuan dan selanjutnya akan didiskusikan mengenai asumsi-asumsi
yang membangun akuntansi keprilakuan, seperti yang digambarkan oleh Burrel dan Morgan.
Berangkat dari asumsi-asumsi tersebut kemudian akan didiskusikan mengenai analisis
organisional dalam pengembangan filsafat riset oleh Diller dan Becker, di mana analisis
organisional tersebut berangkat dari asumsi yang dikembangkan oleh Burrel dan Morgan.
Dalam perkembangan terakhir telah dibahas mengenai pertumbuhan riset perilaku
dalam akuntansi keprilakuan, terutama yang telah diterbitkan dalam jurnal-jurnal
internasional.

DAFTAR PUSTAKA

Arfan Ikhsan-Muhammad Ishak, Akuntansi Keprilakuan


16

https://mahaccounting.wordpress.com/2012/10/20/asumsi-mengenai-sifat-ilmu-sosial/
http://nadyazahirsyah.blogspot.com/2010/11/filosofi-riset-dalam-bidang-akuntansi.html
https://syairdunk.wordpress.com/2008/12/30/metodologi-riset/
https://www.scribd.com/doc/134840394/Filosofi-Riset-dalam-Bidang-AkuntansiKeperilakuan-doc#download
https://www.scribd.com/doc/131583173/Filosofi-Riset-Dalam-Bidang-AkuntansiKeperilakuan
https://www.scribd.com/doc/185407760/FILOSOFI-RISET-DALAM-BIDANGAKUNTANSI-KEPERILAKUAN
http://www.slideshare.net/tarymarthen/makalah-akuntansi-keperilakuan-kel-i-aspekkeperilakuan-pada-persyaratan-pelaporan-jiantari-c-301-09-013?related=1

17