Anda di halaman 1dari 9

Chapter 4

Nama
: BELTIAN HANNY P
NIM
: F0311029
Kelas
:C
Mata kuliah : Pengauditan I

LEGAL LIABILITY CONSIDERATIONS FOR AUDITORS


Dalam bab ini akan dibahas pentingnya melindungi reputasi profesi yang mempunyai
standar etis yang tinggi dan konsekuensi yang dihadapi oleh para akuntan apabila pihak lain bahwa
mereka telah gagal memenuhi standar etis tersebut serta menunjukkan akuntan publik dapat dituntut
secara hukum menyangkut jasa profesional yang mereka berikan.
LINGKUNGAN HUKUM YANG BERUBAH
Para profesional audit bertanggung jawab memenuhi apa yang telah diyatakan dalam
kontrak dengan klien. Apabila mereka gagal atau tidak bisa secara tepat memenuhinya, maka secara
hukum mereka bertanggung jawab kepada klien atas kelalaian dan atau pelanggaran kontrak dan
dalam situasi tertantu kepada pihak selain klien mereka. Meskipun kriteria bagi tindakan hukum
terhadap auditor oleh pihak ketiga bervariasi disetiap negara bagian, tetapi pada dasarnya auditor
berkewajiban memperhatikan pihak ketiga.
Faktor-faktor penyebab jumlah tuntutan dan besar ganti rugi yang tinggi, antara lain :
1. Kesadaran para pemakai laporan keuangan semakin meningkat akan tanggung jawab akuntan
publik.
2. Kesadaran yang meningkat di pihak SEC mengenai tanggung jawabnya melindungi kepentingan
para investor.
3. Kerumitan fungsi-fungsi auditing dan akuntansi karena meningkatnya ukuran bisnis, globalisasi
bisnis, dan kerumitan operasi bisnis.
4. Kecenderungan masyarakat untuk menerima tuntutan dari pihak yang dirugikan terhadap siapa
saja yang dapat memberikan kompensasi, tanpa melihat siapa yang salah, bersama dengan
beberapa doktrin tentang kewajiban (deep pocket).
5. Keputusan pengadilan menyangkut ganti rugi yang besar pada beberapa kasus melawan akuntan
publik telah mendorong para pengacara untuk memberikan pelayanan hokum atas dasar fee
kontinjen. Kesepakatan ini menawarkan keuntungan kepada pihak yang dirugikan bila
tuntutannya berhasil, dan kerugian yang minimum apabila tuntutannya tidak berhasil.
6. Banyak kantor akuntan publik lebih memilih menyelesaiakan masalah hukum di luar pengadilan
untuk menghindari biaya pengadilan yang mahal dan publisitas yang merugikan.
7. Kesulitan yang dihadapi hakim dan juri dalam memahami serta menginterpretasikan masalah
teknis akuntansi dan auditing.
MEMBEDAKAN ANTARA KEGAGALAN BISNIS, KEGAGALAN AUDIT, DAN RISIKO
AUDIT
Penyebab utama tuntutan hukum kepada kantor akuntan publik adalah kurangnya
pemahaman para pemakai laporan keuangan atas 2 konsep :
1. Perbedaan antara kegagalan bisnis dan kegagalan audit
2. Perbedaan kegagalan audit dan risiko audit
Penjelasan:
RMK AUDITING I ARENS, ELDER, BEASLEY, 14TH EDITION

Page 1

a. Kegagalan bisnis (business failure) terjadi apabila bisnis tersebut tidak mampu
mengembalikan pinjamannya atau memenuhi harapan para investor karena keadaan
ekonomi atau bisnis, seperti resesi, keputusan manajemen yang buruk, atau persaingan yang
tidak terduga dalam industri tersebut.
b. Kegagalan audit (audit failure) terjadi apabila auditor mengeluarkan pendapat audit yang
tidak benar karena gagal memenuhi standar kegagalan audit. Dalam kasus ini, UU yang
berlaku sering memperbolehkan pihak yang dirugikan menuntut akuntan publik untuk
membayar sebagian atau seluruh kerugian yang disebabkan kegagalan audit. Kesulitan
sering muncul ketika terjadi kegagalan bisnis bukan kegagalan audit.
c. Risiko audit (audit risk) merupakan kemungkinan bahwa auditor akan menyimpulkan,
setelah melaksanakan audit yang memadai, bahwa laporan keuangan telah dinyatakan secara
wajar, sedangkan dalam kenyataannya mengandung kesalahan saji yang meterial.
KONSEP-KONSEP HUKUM YANG MEMPENGARUHI KEWAJIBAN
Ada kesepakatan antara profesi akuntan dan pengadilan bahwa auditor bukan penjamin atau
penerbit laporan keuangan. Auditor hanya diharapkan untuk melaksanakan audit dengan kemahiran
dan tidak diharapkan untuk benar 100%. Standar kemahiran (due care) ini sering disebut sebagai
konsep orang yang bijak (prudent person concept). Hal ini dikemukakan dalam Cooley on Torts.
Para partner atau para pemegang saham korporasi profesional memiliki tanggung jawab
bersama untuk mengambil tindakan perdata terhadap setiap pemilik. Akan tetapi, apabila kantor
berbentuk lain, kewajiban yang timbul dari tindakan salah satu pemilik tidak mempengaruhi aktiva
pribadi pemilik lain, kecuali pemilik lain terlibat langsung dalam tindakan yang dilakukan pemilik
yang menyebabkan kewajiban ini. Tentu saja aktiva perusahaan menjadi jaminan atas kerugian yang
mungkin timbul.
Para partner mungkin juga bertanggung jawab atas pekerjaan orang yang mereka andalkan
menurut UU Keagenan. Tiga kelompok auditor yang paling mungkin diandalkan adalah para
karyawan, KAP lain yang ditugaskan untuk melakukan sebagian pekerjaan, dan para spesialis yang
dihubungi untuk menyediakan informasi teknis. Jika seorangg karyawan melakukan audit yang
tidak memadai, partnernya dapat ikut bertanggung jawab atas kinerja karyawan tersebut.
Menurut common law, akuntan publik tidak berhak menyembunyikan informasi dari
pengadilan dengan menyatakan bahwa informasi tersebut rahasia. Seorang akuntan publik dapat
menolak untuk bersaksi disuatu negara bagian yang memiiki UU komunikasi istimewa. Namun
keistimewaan ini tidak berlaku pada pengadilan federal.
Syarat-syarat hukum yang mempengaruhi kewajiban akuntan publik :
1. Syarat yang berkaitan dengan kelalaian dan penipuan
a. Kelalaian biasa
b. Kelalaian besar

c. Penipuan konstruktif
d. Penipuan

2.
3. Syarat yang berkaitan dengan hukum kontrak
a. Pelanggaran kontarak

b. Manfaat pihak ketiga

RMK AUDITING I ARENS, ELDER, BEASLEY, 14TH EDITION

Page 2

4. Syarat-syarat lain
a. Common law
b. UU Statuter

c. Kewajiban bersama dan tertentu


d. Kewajiban terpisah dan proporsional

e.
f.
1.
2.
3.
4.

Empat sumber utama kewajiaban hukum auditor:


Kewajiban kepada klien
Kewajiban kepada pihak ketiga menurut common law
Kewajiban sipil menurut UU Sekuritas Federal
Kewajiban kriminal

g. KEWAJIAN KEPADA KLIEN


h.
Sumber tuntutan hukum yang paling umum terhadap akuntan publik adalah dari
klien. Tuntutannya sangat bervariasi. Kewajiban terhadap klien timbul karena kegagalan untuk
melaksanakan tugas audit sesuai waktu yang disepakati, pelaksanaan audit yang tidak memadai,
gagal menemukan kesalahan, dan pelanggaran kerahasiaan oleh akuntan publik.
i.
KAP biasanya menggunakan satu atau kombinasi dari 4 pembelaan bila ada tuntutan
hukum oleh klien. Pembelaan tersebut antara lain:
1. Tidak adanya kewajiban melaksanakan pelayanan, dalam hal ini tidak dinyatakan dalam surat
penugasan/kontrak.
2. Tidak ada kelalaian dalam pelaksanaan kerja, mengklaim bahwa audit telah mengikuti standar
audit yang berlaku.
3. Kelalaian kontribusi, mengklaim bahwa tindakan klien telah mengakibatkan baik kerugian yang
menjadi dasar denda ataupun campur tangan dalam pelaksanaan audit dengan cara sedemikian
rupa sehingga auditor tidak dapat menemukan penyebab kerugian tersebut.
4. Ketiadaan hubungan timbal balik, antara pelanggaran auditor terhadap standar kesungguhan
dengan kerugian yang dialami klien .
j. KEWAJIBAN TERHADAP PIHAK KETIGA MENURUT COMMON LAW
k.
Pihak ketiga meliputi pemegang saham aktual dan calon pemegang saham, pemasok,
bankir dan kreditor lain, karyawan, serta pelanggan. KAP mempunyai kewajiban kepada pihak
ketiga jika pihak yang mengklaim menderita kerugian akibat mengandalkan laporan keuangan yang
menyesatkan. Kasus utama yang mengawali kewajiban kepada pihak ketiga adalah Ultramares
Corporation vs. Touche (1931). Kasus ini membentuk doktrin yaitu doktrin Ultamares. Dalam
tahun-tahun terakhir pengadilan telah memperluas doktrin Ultramares untuk mengizinkan
pemulihan oleh pihak ketiga dalam banyak situasi dengan memperkenalkan konsep foreseen user,
yang merupakan anggota dari golongan pemakai terbatas yang mengandalakn laporan keuangan.
Ada tiga pendekatan yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. Credit Alliance
2. Restatement of Torts
3. Foreseeeable Users

RMK AUDITING I ARENS, ELDER, BEASLEY, 14TH EDITION

Page 3

4.
Tiga dari empat pembelaan yang tersedia bagi auditor dalam menghadapi
tuntutan oleh klien juga tersedia untuk tuntutan hukum bagi pihak ketiga, yaitu :
1. Tidak ada tugas yang harus dilaksanakan
2. Pelaksanaan kerja tanpa kelalaian
3. Ketiadaan hubungan timbal balik
5. KEWAJIBAN SIPIL MENURUT UNDANG-UNDANG SEKURITAS FEDERAL
1. Securities Act Tahun 1933
6. Satu-satunya pihak yang dapat mendapat ganti rugi dari auditor menurut UU Tahun 1933
adalah pembeli pertama sekuritas tersebut. Jumlah ganti-rugi yang potensial adalah harga beli
awal dikurangi nilai sekuritas pada saat tuntutan diajukan. Jika sekuritas sudah terjual maka
dapat meminta ganti rugi sejumlah kerugian yang diderita.
2. Securities Exchange Act Tahun 1934
7. Kewajiban auditor seringkali berpusat pada laporan keuangan yang telah diaudit yang
diterbitakan kepada publik dalam laporan tahunan. Fokus utama tentang litigasi kewajiban
akuntan publik menurut UU Tahun1934 adalah peraturan 10b-5.
8. Pembelaan yang bisa dilakukan auditor dalam kasus ini serupa atau sama dengan tiga
pembelaan untuk menghadapi tuntutan pihak ketiga.
3. Foreign Corrupt Practice Act tahun 1977, larangan pemberian uang suap kepada pejabat di luar
negeri untuk mendapatkan pengaruh dan mempertahankan hubungan usaha.
9. KEWAJIBAN KRIMINAL
10.
Akuntan publik dapat disalahkan karena tindakan kriminal menurut hukum federal
maupun negara bagian. Beberapa undang-undang seperti Uniform Securities Acts, Securuties Acts
1933 dan 1934, Federal Mail Fraud Statute dan Federal False Statement Statute menyebutkan
bahwa menipu orang lain, yaitu dengan sadar terlibat dalam laporan keuangan yang palsu
merupakan tindak kriminal. Beberapa tindak kriminal yang terkenal yaitu United States vs Simon,
United States vs Natelli, United States vs Weiner, ESM Government Securities vs Alexander Grant
Co.
11.

RESPON PROFESI TERHADAP KEWAJIBAN HUKUM

12.
AICPA dan profesi secara keseluruhan dapat melakukan sejumlah hal untuk
mengurangi risiko para praktisi terkena tuntutan hukum :
1. Mencari perlindungan dari proses pengadilan atau litigasi yang tidak terpuji.
2. Meningkatkan performa auditing agar dapat memenuhi kebutuhan para pemakai dengan lebih
baik.
3. Mendidik para pemakai mengenai batas-batas auditing.
13.
Aktivitas-aktivitas khusus antara lain, riset dalam auditing, penetapan standar dan
peraturan, menetapkan persyaratan untuk melindungi auditor, menetapkan persyaratan peer review,
melawan tuntutan hukum, pendidikan bagi pemakai laporan keuangan, memberi sanksi kepada
anggota kerena perilaku dan kinerja yang tidak pantas, serta melobi perubahan UU.
14.

15.
MELINDUNGI
HUKUM
16.

AKUNTAN

PUBLIK

INDIVIDUAL

DARI

KEWAJIBAN

Beberapa tindakan untuk meminimalkan kewajiban yang umum dilakukan antara

lain :
1. Hanya berurusan dengan klien yang memiliki integritas.
2. Mempekerjakan personil yang kompeten dan melatih serta mengawasi mereka secara layak.
3. Mengikuti standar profesi.
4. Mempertahankan independensi.
5. Memahami bisnis klien.
6. Melaksanakan audit yang bermutu.
7. Mendokumentasikan pekerjaan secara layak.
8. Mendapatkan surat penugasan dan representasi.
9. Mempertahankan hubungan yang bersifat rahasia.
10. Mengadakan asuransi yang memadai.
11. Mencari bantuan hokum.
12. Memilih organisasi dengan kewajiban terbatas.
13. Mengungkapkan skeptisme professional.
17.
18.

19.
20.

Chapter 5
ETHICS AND THE AUDIT PROFESSION

21.

22. Etika adalah serangkaian prinsip atau nilai moral.


23. Enam nilai dasar etika mengenai perilaku etis menurut Josephson Institute :
1. Kepercayaan (trustworthiness) : mencakup kejujuran, integritas (sesuai kata hati), reliabilitas,
loyalitas.
2. Penghargaan (respect) : mencakup kesopanan, harga diri, toleransi, dan penerimaan.
3. Pertanggungjawaban (responsibility) : berarti bertanggung jawab atas tindakan seseorang serta
dapat menahan diri.
4. Kelayakan (fairness) : mencakup isu-isu tentang kesamaan penilaian, proporsionalitas,
keterbukaan dan keseksamaan.
5. Perhatian (caring) : memperhatikan kepentingan sesama dan menunjukkan perbuatan baik.
6. Kewarganegaraan (citizenship) : kepatuhan pada undang-undang dan melaksanakan
kewajibannya sebagai warga negara.
24.
25. Alasan utama yang mendorong seseorang bertindak tidak etis:
1. Standar etika seseorang berbeda dengan standar etika yang berlaku di masyarakat.
2. Orang memilih untuk bertindak egois (mementingkan diri sendiri).
26.
27. Dilema etika

28. Situasi yang dihadapi oleh seseorang dimana ia harus membuat keputusan mengenai
perilaku yang tepat untuk dilakukan.
29. Berikut ini adalah metode-metode rasionalisasi yang dapat menghasilkan perbuatan tidak
etis.
1. Setiap orang melakukannya
30. Argumentasi yang wajar bila dapat memalsukan pajak penghasilan, mencontek saat ujian,
dan menjual barang cacat.
2. Jika merupakan hal yang sah menurut hukum, hal itu etis.
31. Argumentasi seseorang yang tidak memiliki kewajiban apapun untuk mengembalikan suatu
obyek yang hilang kecuali pihak lainnya dapat membuktikan bahwa obyek tersebut miliknya.
3. Kemungkinan penemuan dan konsekuensinya.
32. Seseorang akan menilai konsekuensi yang akan diterima bila hal tersebut terbongkar.
33.
34. Pendekatan yang relatif sederhana untuk menyelesaikan dilema etika :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
35.

Memperoleh fakta-fakta yang relevan.


Mengidentifikasi berdasarkan fakta.
Menentukan siapa yang akan terpengaruh dan bagaimana mempengaruhinya.
Mengidentifikasi berbagai alternatif yang tersedia.
Mengidentifikasi konsekuensi dari setiap alternatif.
Memutuskan tindakan yang tepat untuk dilakukan.

36. Kebutuhan khusus akan kode etik profesi


37. Istilah profesional menunjukkan pada tanggungjawab. Seorang akuntan publik, sebagai
profesional, memahami adanya tanggungjawab kepada masyarakat, klien, serta rekan
praktisi, yang mencakup pula perilaku yang terpuji, walaupun hal tersebut dapat berarti
pengorbanan diri.
38.
39. Kode etik profesi
40. Kode etik profesi AICPA menjadi standar umum perilaku yang ideal dan menjadi peraturan
khusus tentang perilaku yang harus dilakukan.
41. Kode etik ini terdiri dari empat bagian :
1. Prinsip-prinsip : standar etika ideal yang dinyatakan dalam istilah filosofi.
42.
Prinsip-prinsip ini bersifat teoritis, mencakup tanggung jawab, kepentingan publik,
integritas, objektivitas dan independensi, keseksamaan, ruang lingkup dan sifat jasa.
2. Peraturan etika : standar etika minimum yang dinyatakan sebagai peraturan spesifik.
43.
Prinsip-prinsip ini bersifat praktis.
3. Intepretasi atas peraturan etika : disusun oleh Divisi Etika Profesi AICPA.

44.

Intepretasi ini bersifat teoritis, tetapi praktisi harus menyesuaikan penyimpangannya.

4. Kaidah etika : Publikasi penjelasan serta beragam jawaban atas pertanyaan tentang peraturan
etika yang disampaikan pada AICPA oleh para praktisi serta pihak lainnya yang tertarik akan
ketentuan-ketentuan etika.
45.
Intepretasi ini bersifat teoritis, tetapi praktisi harus menyesuaikan penyimpangannya.
46.
47. Indepedensi
a. Independensi dalam fakta.
48. Saat auditor benar-benar mempertahankan perilaku yang tidak bias di sepanjang audit.
b. Independensi dalam penampilan .
49. Hasil interpretasi lain dari independensi ini.
50.
51. Kepentingan kepemilikan
52. Aturan baru melarang kepemilikan untuk orang-orang yang tercakup dan keluarga dekat
mereka.
53.
54. TI dan jasa nonaudit lainnya
55. Aturan baru mengidentifikasikan jasa nonaudit yang mengganggu independensi, kecuali
kondisi tertentu dipenuhi.
56.
57. Dewan Standar Independen
58. Independence standards board, sebuah badan sektor swasta untuk memberikan rangka kerja
konseptual bagi masalah independensi yang berhubungan dengan audit perusahaan publik.
59.
60. Komite audit
61. Sejumlah anggota terpilih dari dewan direksi sebuah perusahaan yang tanggung jawabnya
membantu auditor untuk tetap independen dari manajemen.
62.
63. Peraturan independensi perilaku dan interpretasi
64. Peraturan 101 melarang anggota yang tercakup untuk memiliki saham atau investasi
langsung lainnya dalam klien audit karena hal ini akan berpotensi merusak independensi
audit dan tentu akan mempengaruhi persepsi pemakai independensi auditor.

65. Anggota tercakup :


a. Orang-orang pada tim penugasan pembuktian
b. Orang-orang yang posisinya mempengaruhi penugasan pembuktian
c. Rekan atau manajer yang memberikan jasa bukan pembuktian kepada klien.
d. Rekan di kantor dari rekan yang bertanggung jawab atas penugasan pembuktian
e. Kantor akuntan dan rencana tunjangan karyawannya.
f. Entitas yang bisa dikontrol oleh beberapa anggota entitas tercakup di atas tersebut.
66.
67. Berbagai isu kepentingan keuangan yang saling terkait
1. Kepentingan keuangan langsung
68. Kepemilikan saham atau bentuk penyertaan modal lainnya oleh para anggota atau keluarga
dekat mereka.
2. Kepentingan keuangan tidak langsung
69. Terdapat hubungan kepemilikan yang dekat, tetapi bukan hubungan langsung antara auditor
dengan kliennya.
3. Material atau Tidak Material
70. Materialitas harus dilihat dalam hubungannya dengan kemakmuran dan pendapatan yang
diterima seorang anggota secara pribadi.
4. Para mantan praktisi
71. Interpretasi mengijinkan para mantan rekanan atau mantan pemegang saham meninggalkan
perusahaan karena hal-hal seperti mengundurkan diri atau menjual kepemilikan saham tanpa
mempengaruhi independensi dari perusahaan itu sendiri.
5. Prosedur kredit normal
72. Umumnya tidak diperkenankan adanya perjanjian kredit antara kantor akuntan publik atau
para karyawannya dengan seorang audit karena hal tersebut merupakan hubungan finansial.
6. Kepentingan keuangan dari sanak keluarga terdekat.
73. Kepentinagan keuangan dari keluarga terdekat umumnya
merupakan kepentingan keuangan dari keluarga tersebut.

diperlakukan seolah-olah

7. Bersama-sama memiliki hubungan sebagai penanam modal atau penerima modal dengan klien.
8. Direktur, pejabat, manajemen, atau pegawai sebuah perusahaan.
74. Jika seorang akuntan publik merupakan salah satu anggota dari dewan direksi atau seorang
pejabat pada sebuah perusahaan klien, maka kemampuannya untuk membuat evaluasi yang
independen atas kewajaran penyajian laporan keuangan akan terpengaruhi.
75.
76. Interpretasi 101-8 membahas situasi dimana klien merupakan investor atau investee untuk
nonklien.
77. Tiga syarat penting yang harus dipenuhi auditor sebelum bisa diterima melakukan
pembukuan dan audit untuk klien :

a. Klien harus menerima tanggung jawab penuh laporan keuangan. Klien harus cukup memiliki
pengtahuan tentang aktivitas dan kondisi keuangan perusahaan dan bisa menerapkan prinsipprinsip akuntansi, sehingga klien memahami laporan audit yang dibuat oleh auditor.
b. Akuntan publik tidak boleh menanggung peran karyawan atau manajemen yang melakukan
operasi perusahaan.
c. Akuntan publik membuat audit laporan keuangan yang disiapkan dari buku dan catatan yang
telah dipelihara oleh akuntan publik sepenuhnya atau sebagian, harus sesuai dengan GAAS.
78.
79. Peraturan etika lainnya
80. Peraturan 201 - Standar umum :
a. Kompetensi profesi
b. Perhatian profesi
c. Perencanaan dan Supervisi
d. Data relevan yang cukup
81. Peraturan 202 - Pemenuhan standar.
82. Peraturan 203 - Prinsip-prinsip akuntansi
83. Peraturan 301 - Informasi rahasia klien
84.
85.
86.

Kebutuhan atas kerahasiaan.


Banyak informasi yang sifatnya rahasia contohnya gaji pejabat perusahaan,
pembuatan harga
produk dan rencana periklanan, data biaya produk.
Pengecualian atas kerahasiaan

1.) Kewajiban yang berhubungan dengan standar teknis.


2.) Panggilan pengadilan
3.) Peer review
4.) Respons kepada divisi etika
87. Peraturan 302 - Fee kontinjen.
88. Peraturan 501 - Tindakan yang bisa didiskreditkan.
1.) Retensi dari catatan klien
2.) Diskriminasi dan gangguan dalam praktek karyawan
3.) Standar atas audit pemerintah dan persyaratan badan dan agensi pemerintah
4.) Kelalaian dalam persiapan laporan atau catatan keuangan.
5.) Kegagalan mengikuti persyaratan dari badan pemerintah, komisi, atau agen regulasi lainnya.
6.) Permohonan atau pengungkapan pertanyaan dan jawaban ujian akuntan publik.
7.) Kegagalan memasukkan pajak penghasilan atau pembayaran kewajiban pajak.
89. Peraturan 502 - Periklanan dan bentuk permohonan lainnya.
90. Peraturan 503 - Komisi dan fee penyerahan.
91. Peraturan 505 Bentuk dan Nama organisasi.