Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS

Disusun oleh :
Intan Herlina (2009730025)
Rina Mardiana

(2009730110)

Desi Khoirunnisa (2009730010)

Dokter Pembimbing :
dr.H. Pramushinto Adhy, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN ILMU THT RSUD SEKARWANGI


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
PERIODE 9 Februari 15 Maret 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah yang Maha Esa,


karena atas berkat dan Rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan tugas
Referat Otitis Media Supuratif Kronis
tepat pada waktunya, Referat ini disusun dalam rangka mengikuti
kepaniteraan Klinik di bagian/SMF Ilmu THT RSUD Sekarwangi.
Pada kesempatan ini, penyusun ingin mengucapkan terima kasih
yang

sebesar-besarnya

kepada

semua

pihak

yang

telah

banyak

memberikan bimbingan kepada penulis:


1 dr.H. Pramushinto Adhy, Sp.THT-KL dokter pembimbing serta
Dokter Spesialis THT RSUD Sekarwangi
2 Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah
memberikan bantuan kepada penyusun.
Akhirnya penyusun menyadari bahwa dalam penulisan tugas ini
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan
kritik dan saran yang

membangun agar Referat ini dapat menjadi lebih

baik lagi. Akhir kata semoga Referat ini dapat memberikan manfaat dan
bahan pengetahuan khususnya kepada penyusun dan kepada pembaca.

Sukabumi,

Februari

2015

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT
RSUD SEKARWANGI

I.I Latar belakang


Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut
congek adalah radang kronis telinga tengah dengan adanya lubang
(perforasi) pada gendang telinga (membran timpani) dan riwayat
keluarnya cairan (sekret) dari telinga (otore) lebih dari 2 bulan, baik
terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin serous, mukous,
atau purulen. Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media
berulang pada anak, jarang dimulai setelah dewasa.1,2
Prevalensi OMSK di dunia adalah 65.000.000-330.000.000 jiwa, 94%
diantaranya terdapat di negara berkembang. Otitis media supuratif
kronik merupakan penyakit THT yang paling banyak ditemukan di
negara sedang berkembang. Secara umum, insiden OMSK dipengaruhi
oleh ras dan faktor sosioekonomi. Prevalensi OMSK di Indonesia adalah
3,8% dan termasuk dalam klasifikasi tinggi dibandingkan dengan
beberapa negara lain. Berdasarkan Survei Nasional Kesehatan Indera
Penglihatan dan Pendengaran oleh Departemen Kesehatan RI tahun
1994-1996,

angka

kesakitan

(morbiditas)

Telinga,

Hidung,

dan

Tenggorok (THT) di Indonesia sebesar 38,6% dengan prevalensi


morbiditas tertinggi pada kasus telinga dan gangguan pendengaran
yaitu sebesar 38,6% dan prevalensi otitis media supuratif kronis antara
2,1-5,2%.

3,4

OMSK dapat terbagi atas 2 yaitu OMSK tipe aman dan OMSK tipe
bahaya. Peradangan pada OMSK tipe aman terbatas hanya pada
mukosa dan biasanya tidak mengenai tulang. Sedangkan OMSK tipe
bahaya dapat mengenai tulang, ditandai dengan adanya kolesteatom
dan dapat menimbulkan komplikasi intrakranial yang antara lain
seperti meningitis, abses otak otogenik, empiema subdural, abses
extradural,

ensefalitis

dan

trombosis

sinus

lateralis.

Komplikasi

ekstrakranial yang dapat timbul adalah labirintis, paresis nervus


fasialis, mastoiditis, petrositis.

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

BAB II
TELINGA
Anatomi Telinga
Telinga Tengah
Telinga tengah berbentuk kubus dengan :5
Batas luar

: membran timpani

Batas depan

: tuba eustakhius

Batas bawah

: vena jugular (bulbus jugularis)

Batas belakang

: aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis

Batas atas

: tegmen timpani (meningen/ otak)

Batas dalam

: berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis

horizontal, kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar


(round window) dan promontorium.

Gambar 1. Anatomi Telinga.7

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

Gambar 2. Anatomi Telinga Tengah7


Telinga tengah terdiri atas: membran timpani, kavum timpani,
prosesus mastoideus, dan tuba eustakhius.1,5,6
Membran Timpani
Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani
dan memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membran ini
memiliki panjang vertikal rata-rata 9-10 mm, diameter anteroposterior kira-kira 8-9 mm, dan ketebalannya rata-rata 0,1 mm .Letak
membran timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga akan tetapi
miring yang arahnya dari belakang luar ke muka dalam dan membuat
sudut 450 dari dataran sagital dan horizontal. Membran timpani
berbentuk kerucut, dimana bagian puncak dari kerucut menonjol ke
arah kavum timpani yang dinamakan umbo. Dari umbo ke muka
bawah tampak refleks cahaya (cone of ligt).
Membran timpani mempunyai tiga lapisan yaitu :1
a. Stratum kutaneum (lapisan epitel) berasal dari liang telinga.
b. Stratum mukosum (lapisan mukosa) berasal dari kavum timpani.

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

c. Stratum fibrosum (lamina propria) yang letaknya antara stratum


kutaneum dan mukosum.
Secara Anatomis membran timpani dibagi dalam 2 bagian :1
a. Pars tensa
Bagian terbesar dari membran timpani yang merupakan permukaan
yang tegang dan bergetar, sekelilingnya menebal dan melekat pada
anulus fibrosus pada sulkus timpanikus bagian tulang dari tulang
temporal.
b.

Pars flaksida atau membran Shrapnell.


Letaknya di bagian atas muka dan lebih tipis dari pars tensa. Pars

flaksida dibatasi oleh 2 lipatan yaitu :

Plika maleolaris anterior (lipatan muka).

Plika maleolaris posterior (lipatan belakang).


Membran timpani terletak dalam saluran yang dibentuk oleh tulang
dinamakan sulkus timpanikus. Akan tetapi bagian atas muka tidak
terdapat sulkus ini dan bagian ini disebut insisura timpanika (rivini).
Permukaan luar dari membran timpani disarafi oleh cabang nervus
aurikulo

temporalis

dari

nervus

mandibula

dan

nervus

vagus.

Permukaan dalam disarafi oleh nervus timpani cabang dari nervus


glossofaringeal.
Aliran darah membran timpani berasal dari permukaan luar dan
dalam. Pembuluh-pembuluh epidermal berasal dari aurikula yang
merupakan cabang dari arteri maksilaris interna. Permukaan mukosa
telinga tengah didarahi oleh arteri timpani anterior cabang dari arteri
maksilaris interna dan oleh stilomastoid cabang dari arteri aurikula
posterior.

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

Gambar 3. Telinga kanan. Membran Timpani Normal1


Kavum Timpani
Kavum timpani terletak di dalam pars petrosa dari tulang
temporal, bentuknya bikonkaf, atau seperti kotak korek api. Diameter
antero-posterior atau vertikal 15 mm, sedangkan diameter transversal
2-6 mm. Kavum timpani mempunyai 6 dinding yaitu : bagian atap,
lantai, dinding lateral, medial, anterior, dan posterior.
Kavum timpani terdiri dari :1,5
a.

Tulang-tulang

pendengaran,

terbagi

atas:

malleus

(hammer/martil), inkus (anvil/landasan), stapes (stirrup/pelana)


b.

Otot, terdiri atas: otot tensor timpani (muskulus tensor


timpani) dan otot stapedius (muskulus stapedius).

c.

Saraf korda timpani.

d.

Saraf pleksus timpanikus.

Prosesus Mastoideus
Rongga

mastoid

berbentuk

seperti

bersisi

tiga

dengan

puncak

mengarah ke kaudal. Atap mastoid adalah fosa kranii media. Dinding


medial adalah dinding lateral fosa kranii posterior. Sinus sigmoid terletak
di bawah duramater pada daerah ini. Pada dinding anterior mastoid
terdapat aditus ad antrum.
Tuba Eustakhius.1,5,6

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

Tuba eustakhius disebut juga tuba auditori atau tuba faringotimpani


berbentuk

seperti

huruf

S.

Tuba

ini

merupakan

saluran

yang

menghubungkan kavum timpani dengan nasofaring. Pada orang dewasa


panjang tuba sekitar 36 mm berjalan ke bawah, depan dan medial dari
telinga tengah dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm.
Tuba terdiri dari 2 bagian yaitu :
a.

Bagian tulang terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3


bagian).

b.

Bagian tulang rawan terdapat pada bagian depan dan panjang


(2/3 bagian).
Fungsi

Tuba

Eustakhius

adalah

menghalangi

masuknya

sekret

ventilasi,
dari

drenase

nasofaring

sekret
ke

dan

telinga

tengah.Ventilasi berguna untuk menjaga agar tekanan di telinga


tengah selalu sama dengan tekanan udara luar. Adanya fungsi ventilasi
tuba dapat dibuktikan dengan melakukan perasat Valsava dan perasat
Toynbee.5
Perasat Valsava meniupkan dengan keras dari hidung sambil
mulut dipencet serta mulut ditutup. Bila Tuba terbuka maka akan
terasa ada udara yang masuk ke telinga tengah yang menekan
membran timpani ke arah lateral. Perasat ini tidak boleh dilakukan
kalau ada infeksi pada jalur nafas atas.5 Perasat Toynbee dilakukan
dengan cara menelan ludah sampai hidung dipencet serta mulut
ditutup. Bila tuba terbuka maka akan terasa membran timpani tertarik
ke medial. Perasat ini lebih fisiologis.5

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

BAB III
OTITIS MEDIA
Definisi
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba eustakhius, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid. 5 Otitis
Media Supuratif Kronik (OMSK) atau yang biasa disebut congek adalah
radang kronis telinga tengah dengan adanya lubang (perforasi) pada
gendang telinga (membran timpani) dan riwayat keluarnya cairan (sekret)
dari telinga (otore) terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin
serous, mukous, atau purulen.1,2,3

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

Otitis Media Akut (OMA) dengan perforasi membran timpani dapat


menjadi otitis media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2
bulan. Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK, antara
lain: terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi
kuman yang tinggi, daya tahan tubuh pasien yang rendah (gizi kurang),
dan higiene yang buruk.5
Epidemiologi
Prevalensi OMSK pada beberapa negara antara lain disebabkan, kondisi
sosial, ekonomi, suku, tempat tinggal yang padat, higiene dan nutrisi yang
jelek. Kebanyakan melaporkan prevalensi OMSK pada anak termasuk anak
yang mempunyai kolesteatom, tetapi tidak mempunyai data yang tepat,
apalagi insiden OMSK saja, tidak ada data yang tersedia. Otitis media
kronis merupakan penyakit THT yang paling banyak di negara sedang
berkembang. Menurut survei yang dilakukan pada 7 propinsi di Indonesia
pada tahun 1996 ditemukan insidens Otitis Media Supuratif Kronik (atau
yang oleh awam sebagai congek) sebesar 3% dari penduduk Indonesia.
Dengan kata lain dari 220 juta penduduk Indonesia diperkirakan terdapat
6, 6 juta penderita OMSK. Di Indonesia menurut Survei Kesehatan Indera
Penglihatan dan Pendengaran, Depkes tahun 1993-1996 prevalensi OMSK
adalah 3, 1%-5, 20% populasi. Usia terbanyak penderita infeksi telinga
tengah adalah usia 7-18 tahun, dan penyakit telinga tengah terbanyak
adalah OMSK. Prevalensi OMSK di RS Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta
pada tahun 1989 sebesar 15, 21%. Di RS Hasan Sadikin Bandung
dilaporkan prevalensi OMSK selama periode 1988 1990 sebesar 15,7%
dan pada tahun 1991 dilaporkan prevelensi OMSK sebesar 10,96%.
Prevalensi penderita OMSK di RS Dr Sardjito Yogyakarta pada tahun 1997
sebesar 8, 2% (Paparella MM, 2001).13
Klasifikasi
OMSK dapat dibagi atas 2 tipe, yaitu :1,3
1) Tipe tubotimpani (tipe jinak/tipe aman/tipe rinogen)
REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT
RSUD SEKARWANGI

Proses peradangan pada OMSK tipe tubotimpani hanya terbatas


pada mukosa saja dan biasanya tidak mengenai tulang. Tipe
tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars tensa
dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit.
Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama
patensi tuba eustakhius, infeksi saluran nafas atas, pertahanan
mukosa terhadap infeksi yang gagal pada pasien dengan daya
tahan tubuh yang rendah. Disamping itu campuran bakteri aerob
dan anaerob, luas dan derajat perubahan mukosa, serta migrasi
sekunder dari epitel skuamosa juga berperan dalam perkembangan
tipe ini. Sekret mukoid kronis berhubungan dengan hiperplasia
goblet sel, metaplasia dari mukosa telinga tengah pada tipe
respirasi dan mukosiliar yang jelek.
2) Tipe atikoantral (tipe ganas/tipe tidak aman/tipe tulang)
Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya.
Perforasi tipe ini letaknya marginal atau di atik yang lebih sering
mengenai pars flaksida. Karakteristik utama dari tipe ini adalah
terbentuknya kantong retraksi yang berisi tumpukan keratin sampai
menghasilkan kolesteatom.
Kolesteatom adalah suatu

massa

amorf,

konsistensi

seperti

mentega, berwarna putih, terdiri dari lapisan epitel bertatah yang


telah mengalami nekrotik. Kolesteatom merupakan media yang baik
untuk pertumbuhan kuman, yang paling sering adalah proteus dan
pseudomonas. Hal ini akan memicu respon imun lokal sehingga
akan mencetuskan pelepasan mediator inflamasi dan sitokin. Sitokin
yang dapat ditemui dalam matrik kolesteatom adalah interleukin-1,
interleukin-6, tumor necrosis factor-, dan transforming growth
factor. Zat-zat ini dapat menstimulasi sel-sel keratinosit matriks
kolesteatom yang bersifat hiperproliferatif, destruktif, dan mampu
berangiogenesis.

Massa

kolesteatom

ini

dapat

menekan

dan

mendesak organ sekitarnya serta menimbulkan nekrosis terhadap

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

tulang. Terjadinya proses nekrosis terhadap tulang diperhebat oleh


reaksi asam oleh pembusukan bakteri.1,3,5
Kolesteatom dapat dibagi atas 2 tipe yaitu:
1. Kongenital8
Kolestatom

kongenital

terbentuk

pada

masa

embrionik.

Patogenesis kolesteatom kongenital tidak sepenuhnya dimengerti.


Namun ada beberapa teori diantaranya Teed menyatakan bahwa
penebalan epitel ektodermal berkembang bersama-sama dengan
ganglion genikulatum , dari medial sampai ke bagian leher dari
tulang malleus. Kumpulan epitel ini nantinya akan mengalmi involusi
menjadi lapisan lapisan epitel telinga tengah. Jika involusi ini gagal
terjadi maka kumpulan epitel tersebut akan menjadi kolesteatom
kongenital.
Pada kolesteatom kongenital ditemukan membran timpani
utuh tanpa tanda-tanda infeksi, lokasi kolesteatom biasanya di
kavum timpani, daerah petrosus mastoid atau di serebelopontin
angle.5

Gambar .4. Kolesteatom Kongenital

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

Gambar 5. Kolesteatom kongenital


2. Didapat5
Kolesteatom yang terbentuk setelah anak lahir, dapat dibagi atas:
Primary Acquired Cholesteatoma.
Kolesteatom yang terjadi tanpa didahului oleh perforasi membran
timpani pada daerah atik atau pars flasida, timbul akibat adanya
proses invaginasi dari membrane timpani pars flaksida karena
adanya tekanan negatif di telinga tengah akibat gangguan tuba.

Gambar 6. Kolesteatom didapat

Secondary Acquired Cholesteatoma.


Kolesteatom

yang

terbentuk

setelah

terjadi

perforasi

membran timpani. Kolesteatom terbentuk sebagai akibat dari


masuknya epitel kulit dari liang telinga atau dari pinggir perforasi
membran timpani ke telinga tengah (teori migrasi) atau terjadi
REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT
RSUD SEKARWANGI

akibat metaplasia mukosa kavum timpani karena iritasi infeksi yang


berlansung lama (teori metaplasia).Teori implantasi dikatakan
bahwa kolesteatom terjadi akibat implantasi epitel kulit secara
iatrogenik ke dalam telinga tengah sewaktu operasi, setelah blust
injury, pemasangan pipa ventilasi, atau setelah miringotomi.
Kolesteatom merupakan media yang baik untuk tempat
pertumbuhan kuman (infeksi), yang paling sering adalah Proteus
dan Pseudomonas aeruginosa. Sebaliknya infeksi dapat memicu
respon imun local yang mengakibatkan produksi berbagai mediator
inflamasi dan berbagai sitokin. Sitokin yang diidentifikasi terdapat
pada matrix kolesteatom adalah interleukin-1 ( IL-1), interleukin-6,
tumor necrosis factor alpha, dan transforming growth factor. Zatzat

ini

dapat

menstimulasi

sel-sel

kolesteatom

bersifat

hiperproliferatif, destruktif dan mampu berangiogenesis.


Faktor resiko
Terjadi OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang pada
anak, jarang dimulai setelah dewasa. Faktor infeksi biasanya berasal dari
nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rinitis, sinusitis) dan mencapai telinga
tengah melalui tuba eustakhius. Fungsi tuba eustakhius yang abnormal
merupakan

faktor

predisposisi

yang

dijumpai

pada

anak

dengan

palatoskisis dan sindrom down. Adanya tuba patulous, menyebabkan


refluk isi nasofaring yang merupakan faktor insiden OMSK yang tinggi di
Amerika Serikat. Faktor host yang berkaitan dengan insiden OMSK yang
relatif tinggi adalah defisiensi imun sistemik. Kelainan humoral, seperti
hipogammaglobulinemia dan cell-mediated (infeksi HIV) dapat timbul
sebagai infeksi telinga kronis.
Faktor-faktor risiko OMSK antara lain :
1. Lingkungan1,3
Hubungan penderita OMSK dan faktor sosial ekonomi belum jelas, tetapi
terdapat hubungan erat antara penderita dengan OMSK dan sosio
REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT
RSUD SEKARWANGI

ekonomi, dimana kelompok sosio ekonomi rendah memiliki insiden yang


lebih tinggi. Tetapi sudah hampir dipastikan, bahwa hal ini berhubungan
dengan kesehatan secara umum, diet, dan tempat tinggal yang padat.
2. Genetik1,3
Faktor genetik masih diperdebatkan sampai saat ini, terutama apakah
insiden OMSK berhubungan dengan luasnya sel mastoid yang dikaitkan
sebagai faktor genetik. Sistem sel-sel udara mastoid lebih kecil pada
penderita otitis media, tapi belum diketahui apakah hal ini primer atau
sekunder.
3. Otitis media sebelumnya1,3
Secara umum dikatakan otitis media kronis merupakan kelanjutan dari
otitis media akut dan atau otitis media dengan efusi, tetapi tidak diketahui
faktor apa yang menyebabkan satu telinga dan berkembangnya penyakit
ke arah keadaan kronis.
4. Infeksi1,3
Proses infeksi pada otitis media supuratif kronis sering disebabkan oleh
campuran mikroorganisme aerobik dan anaerobik yang multiresisten
terhadap standar yang ada saat ini. Kuman penyebab yang sering
dijumpai pada OMSK ialah Pseudomonas aeruginosa sekitar 50%, Proteus
sp. 20% dan Staphylococcus aureus 25%.
Jenis bakteri yang ditemukan pada OMSK agak sedikit berbeda dengan
kebanyakan infeksi telinga lain, karena bakteri yang ditemukan pada
OMSK pada umumnya berasal dari luar yang masuk ke lubang perforasi
tadi.
1. Infeksi saluran nafas atas1,3
Banyak penderita mengeluh sekret telinga sesudah terjadi
infeksi saluran nafas atas. Infeksi virus dapat mempengaruhi
mukosa telinga tengah menyebabkan menurunnya daya tahan
tubuh terhadap organisme yang secara normal berada dalam
telinga tengah, sehingga memudahkan pertumbuhan bakteri.
REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT
RSUD SEKARWANGI

2. Autoimun1,3
Penderita dengan penyakit autoimun akan memiliki insidens
lebih besar terhadap otitis media kronis.
3. Alergi1,3
Penderita alergi mempunyai insiden otitis media kronis yang
lebih tinggi dibanding yang bukan alergi. Yang menarik adalah
dijumpainya sebagian penderita yang alergi terhadap antibiotik
tetes telinga atau bakteri atau toksin-toksinnya, namun hal ini
belum terbukti kebenarannya.
4. Gangguan fungsi tuba eustakhius1,3
Hal ini terjadi pada otitis kronis aktif, dimana tuba eustakhius
sering

tersumbat

oleh

edema.

Beberapa

faktor-faktor

yang

menyebabkan perforasi membran timpani menetap pada OMSK :1


a)

Infeksi yang menetap pada telinga tengah mastoid yang


mengakibatkan produksi sekret telinga purulen berlanjut.

b)

Berlanjutnya obstruksi tuba eustakhius yang mengurangi


penutupan spontan pada perforasi.

c)

Beberapa perforasi yang besar mengalami penutupan spontan


melalui mekanisme migrasi epitel.
Pada pinggir perforasi, epitel skuamous dapat mengalami
pertumbuhan yang cepat di atas sisi medial dari membran timpani
yang hal ini juga mencegah penutupan spontan dari perforasi.

Patogenesis
OMSK dimulai dari episode infeksi akut terlebih dahulu. Patofisiologi
dari OMSK dimulai dari adanya iritasi dan inflamasi dari mukosa telinga
tengah yang disebabkan oleh multifaktorial, diantaranya infeksi yang
dapat disebabkan oleh virus atau bakteri, gangguan fungsi tuba, alergi,
kekebalan tubuh turun, lingkungan dan sosial ekonomi. Kemungkinan
penyebab terpenting mudahnya anak mendapat infeksi telinga tengah
adalah struktur tuba pada anak yang berbeda dengan dewasa dan
REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT
RSUD SEKARWANGI

kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna sehingga bila terjadi


infeksi jalan napas atas, maka lebih mudah terjadi infeksi telinga tengah
berupa Otitis Media Akut (OMA).1,3
Respon inflamasi yang timbul adalah berupa udem mukosa. Jika
proses inflamasi ini tetap berjalan, pada akhirnya dapat menyebabkan
terjadinya ulkus dan merusak epitel.
Mekanisme

pertahanan

tubuh

penderita

dalam

menghentikan

infeksi biasanya menyebabkan terdapatnya jaringan granulasi yang pada


akhirnya dapat berkembang menjadi polip di ruang telinga tengah. Jika
lingkaran antara proses inflamasi, ulserasi, infeksi dan terbentuknya
jaringan granulasi ini berlanjut terus akan merusak jaringan sekitarnya.1,3
Gejala Klinis

Telinga Berair (Otore)


Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan
encer)

tergantung

stadium

peradangan.

Sekret

yang

mukus

dihasilkan oleh aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan


mastoid. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga
tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa
secara luas. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah
kemungkinan tuberkulosis.1,3

Gangguan Pendengaran
Ini

tergantung

dari

derajat

kerusakan

tulang-tulang

pendengaran. Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula


bersifat

campuran.

Gangguan

pendengaran

mungkin

ringan

sekalipun proses patologi sangat hebat, karena daerah yang sakit


ataupun kolesteatom dapat menghantar bunyi dengan efektif

ke

fenestra ovalis. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli


konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran, tetapi
sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

sehingga

ambang

pendengaran

yang

didapat

harus

diinterpretasikan secara hati-hati.


Penurunan fungsi koklea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan
berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat
(foramen rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis
supuratif. Bila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf
berat. Hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi koklea.1,3

Otalgia (nyeri telinga)


Adanya nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK dan bila
ada merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri
dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti
adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret,
terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman
pembentukan abses otak. Nyeri telinga mungkin ada tetapi mungkin
oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri merupakan tanda
berkembang komplikasi OMSK seperti petrositis, subperiosteal
abses, atau trombosis sinus lateralis.3

Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius
lainnya.

Keluhan

vertigo

seringkali

merupakan

tanda

telah

terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom.


Pada penderita yang sensitif, keluhan vertigo dapat terjadi karena
perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin
lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi
ke dalam labirin juga akan menyebabkan keluhan vertigo. Vertigo
juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. Fistula merupakan
temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari
telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul
labirinitis dan dari sana mungkin berlanjut menjadi meningitis. Uji
fistula perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo. Uji

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada


membran timpani.1
Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna :

Adanya abses atau fistel retroaurikular

Jaringan granulasi atau polip di liang telinga yang berasal dari


kavum timpani.

Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom)

Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

Diagnosis
Diagnosis OMSK ditegakan dengan cara:
Anamnesis (history-taking) 1,3,6
Penyakit telinga kronis ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita
seringkali datang dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap.
Gejala yang paling sering dijumpai adalah telinga berair. Pada tipe
tubotimpani sekretnya lebih banyak dan seperti benang, tidak berbau
bususk, dan intermiten. Sedangkan pada tipe atikoantral sekretnya lebih
sedikit,

berbau

busuk,

kadangkala

disertai

pembentukan

jaringan

granulasi atau polip, dan sekret yang keluar dapat bercampur darah. Ada
kalanya penderita datang dengan keluhan kurang pendengaran atau
telinga keluar darah.
Pemeriksaan Otoskopi1,3,6
Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan letak perforasi. Dari
perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah.
Pemeriksaan Audiologi1,3,6
Evaluasi audiometri dan pembuatan audiogram nada murni untuk menilai
hantaran

tulang

dan

udara

penting

untuk

mengevaluasi

tingkat

penurunan pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang.

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

Audiometri tutur berguna untuk menilai speech reception threshold pada


kasus dengan tujuan untuk memperbaiki pendengaran.
Pemeriksaan Radiologi1,3
Pemeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis
memiliki nilai diagnostik yang terbatas bila dibandingkan dengan manfaat
otoskopi dan audiometri. Pemeriksaan radiologi biasanya memperlihatkan
mastoid yang tampak sklerotik dibandingkan mastoid yang satunya atau
yang normal. Erosi tulang yang berada di daerah atik memberi kesan
adanya kolesteatom. Proyeksi radiografi tyang sekarang biasa digunakan
adalah proyeksi schuller dimana pada proyeksi ini akan memperlihatkan
luasnya pnematisasi mastoid dari arah lateral dan atas.
Pada CT scan akan terlihat gambaran kerusakan tulang oleh kolesteatom,
ada atau tidaknya tulangtulang pendengaran dan beberapa kasus
terlihat fistula pada kanalis semisirkularis horizontal.1,3
Pemeriksaan Bakteriologi
Walaupun perkembangan dari OMSK merupakan kelanjuan dari mulainya
infeksi akut, bakteri yang ditemukan pada sekret yang kronis berbeda
dengan yang ditemukan pada otitis media supuratif akut. Bakteri yang
sering

dijumpai

pada

OMSK

adalah

Pseudomonas

aeruginosa,

Staphylococcus aureus, dan Proteus sp. Sedangkan bakteri pada otitis


media supuratif akut adalah Streptococcus pneumonie dan H. influenza.9
Infeksi telinga biasanya masuk melalui tuba dan berasal dari hidung, sinus
paranasal, adenoid, atau faring. Dalam hal ini penyebab biasanya adalah
pneumokokus, streptokokus atau H. influenza. Akan tetapi, pada OMSK
keadaan ini agak berbeda karena adanya perforasi membran timpani
maka infeksi lebih sering berasal dari luar yang masuk melalui perforasi
tadi.
Penatalaksanaan
Pada

waktu

pengobatan

haruslah

dievaluasi

faktor-faktor

yang

menyebabkan penyakit menjadi kronis, perubahan-perubahan anatomi


REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT
RSUD SEKARWANGI

yang menghalangi penyembuhan serta menganggu fungsi, dan proses


infeksi yang terdapat di telinga. Bila didiagnosis kolesteatom, maka
mutlak harus dilakukan operasi, tetapi obat -obatan dapat digunakan
untuk mengontrol infeksi sebelum operasi.1,3,5,6
Prinsip pengobatan tergantung dari jenis penyakit dan luas infeksi, yang
dapat dibagi atas: konservatif dan operasi
A. Otitis Media Supuratif Kronik Benigna
a. Otitis media supuratif kronik benigna tenang
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan
untuk jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu
mandi, dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi
saluran nafas atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan
operasi rekonstruksi (miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah
infeksi berulang serta gangguan pendengaran.
b. Otitis media supuratif kronik benigna aktif
Prinsip pengobatan OMSK adalah :
Membersihkan liang telinga dan kavum timpani (Toilet
Telinga)
Tujuan toilet telinga adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai
untuk

perkembangan

mikroorganisme,

karena

sekret

telinga

merupakan media yang baik bagi perkembangan mikroorganisme.

Cara pembersihan Liang Telinga (toilet telinga):1


a) Toilet telinga secara kering (dry mopping).
Telinga dibersihkan dengan kapas lidi steril, setelah dibersihkan
dapat di beri antibiotik berbentuk serbuk. Cara ini sebaiknya
dilakukan di klinik atau dapat juga dilakukan oleh anggota keluarga.

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

Pembersihan liang telinga dapat dilakukan setiap hari sampai telinga


kering.
b) Toilet telinga secara basah (syringing).
Telinga disemprot dengan cairan untuk membuang debris dan
nanah, kemudian dibersihkan dengan kapas lidi steril dan diberi
serbuk

antibiotik.

membersihkan

Meskipun

telinga

cara

tengah,

ini

sangat

tetapi

dapat

efektif

untuk

mengakibatkan

penyebaran infeksi ke bagian lain dan ke mastoid. Pemberian serbuk


antibiotik

dalam

jangka

panjang

dapat

menimbulkan

reaksi

sensitifitas pada kulit. Dalam hal ini dapat diganti dengan serbuk
antiseptik, misalnya asam boric dengan iodine.
c) Toilet telinga dengan pengisapan ( suction toilet)
Pembersihan

dengan

suction

pada

nanah

dengan

bantuan

mikroskopis operasi adalah metode yang paling populer saat ini.


Setelah itu dilakukan pengangkatan mukosa yang berproliferasi dan
polipoid sehingga sumber infeksi dapat dihilangkan. Akibatnya
terjadi drainase yang baik dan resorbsi mukosa. Pada orang dewasa
yang kooperatif cara ini dilakukan tanpa anastesi tetapi pada anakanak diperlukan anestesi. Pencucian telinga dengan H2O2 3% akan
mencapai

sasarannya

bila

dilakukan

dengan

displacement

methode seperti yang dianjurkan oleh Mawson dan Ludmann.


2.

Pemberian Antibiotika :1,3

a) Antibiotik Topikal
Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang
banyak tanpa dibersihkan dulu adalah tidak efektif. Bila sekret
berkurang atau tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang
mengandung antibiotik dan kortikosteroid. Irigasi dianjurkan dengan
garam faal agar lingkungan bersifat asam yang merupakan media
yang buruk untuk tumbuhnya kuman.

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk


sampai telinga tengah, maka tidak dianjurkan antibiotik yang
ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu.
Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan
kultur kuman penyebab dan uji resistensi.
Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik
adalah :
1. Polimiksin B atau polimiksin E
Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif.
2. Neomisin
Obat bakterisid pada kuman gram positif dan negatif. Toksik
terhadap ginjal dan telinga.
3. Kloramfenikol
Obat ini bersifat bakterisid terhadap basil gram positif dan negatif
kecuali Pseudomonas aeruginosa.
b) Antibiotik sistemik.1,3
Pemilihan

antibiotik

sistemik

untuk

OMSK

juga

sebaiknya

berdasarkan kultur kuman penyebab. Pemberian antibiotika tidak


lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus.
Bila

terjadi

kegagalan

pengobatan,

perlu

diperhatikan

faktor

penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut.


Dengan melihat konsentrasi obat dan daya bunuhnya terhadap
mikroba, antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Golongan
pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar
obat,

makin

banyak

kuman

terbunuh,

misalnya

golongan

aminoglikosida dan kuinolon. Golongan kedua adalah antimikroba


yang

pada

konsentrasi

tertentu

daya

bunuhnya

paling

baik.

Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan


ini, misalnya golongan beta laktam.

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

Untuk

bakteri

aerob

dapat

digunakan

golongan

kuinolon

(siprofloksasin dan ofloksasin) atau golongan sefalosforin generasi III


(sefotaksim, seftazidin, dan seftriakson) yang juga efektif untuk
Pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral.
Untuk bakteri anaerob dapat digunakan metronidazol yang
bersifat bakterisid. Pada OMSK aktif dapat diberikan dengan dosis
400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama
2-4 minggu.
Otitis Media Supuratif Kronik Maligna.1,3,5

B.

Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi.


Pengobatan

konservatif

dengan

medikamentosa

hanyalah

merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila


terdapat abses subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan
tersendiri

sebelum

kemudian

dilakukan

mastoidektomi.

Ada

beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat


dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna
atau maligna, antara lain :5
1.

Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)


Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe aman yang dengan
pengobatan konservatif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini
dilakukan pembersihan ruang mastoid dari jaringan patologik.
Tujuannya adalah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi.
Pada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki.

2.

Mastoidektomi radikal
Operasi ini dilakukan pada OMSK tipe bahaya dengan infeksi atau
kolesteatom yang sudah meluas. Pada operasi ini rongga mastoid
dan kavum timpani dibersihkan dari semua jaringan patolgik.
Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah dengan
rongga mastoid diruntuhkan, sehingga ketiga daerah anatomi
tersebut menjadi satu ruangan. Tujuan operasi ini ialah untuk

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi


intrakranial,

sementara

fungsi

pendengaran

tidak

diperbaiki.

Kerugian operasi ini ialah pasien tidak boleh berenang seumur


hidupnya dan harus kontrol teraut ke dokter.
Modifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur pada
rongga operasi serta membuat meatoplasti yang lebar sehingga
rongga operasi kering permanen, tetapi terdapat cacat anatomi,
yaitu meatus liang telinga luar menjadi lebar.
3.

Mastoidektomi radikal dengan modifikasi


Operasi ini dilakukan pada OMSK dengan kolesteatom di daerah
atik, tetapi belum merusak kavum timpani. Seluruh rongga mastoid
dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. Tujuan
operasi ini adalah untuk membuang semua jaringan patologik dari
rongga mastoid dan mempertahankan pendengaran yang masih ada.

4.

Miringoplasti
Operasi ini merupakan operasi timpanoplasti yang paling ringan,
dikenal juga dengan timpanoplasti tipe I. Rekonstruksi hanya
dilakukan di membran timpani. Tujuan operasi ialah untuk mencegah
berulangnya infeksi telinga tengah pada OMSK tipe aman dengan
perforasi yang menetap. Operasi ini dilakukan pada AMSK tipe aman
fase tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh
perforasi membran timpani.

5.

Timpanoplasti
Operasi ini dikerjakan pada OMSK tipe aman dengan kerusakan
yang lebih berat atau OMSK tipe aman yang tidak bisa ditenagkan
dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk
menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran.
Pada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali
harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. Berdasarkan
bentuk rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan maka

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

dikenal

istilah

timpanoplasti

tipe

II,

III,

IV,

dan

V.

Sebelum

rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi kavum


timpani dengan atau tanpa mastoidektomi, untuk membersihkan
jaringan patologis. Tidak jarang operasi ini harus dilakukan 2 tahap
dengan jarak waktu 6 s/d 12 bulan.
6.

Pendekatan

ganda

timpanoplasti

(combined

approach

tympanoplasty)
Operasi

ini

merupakan

teknik

operasi

timpanoplasti

yang

dikerjakan pada kasus OMSK tipe aman dengan jaringan granulasi


yang luas.Tujuan operasi ini ialah untuk menyembuhkan penyakit
dan

memperbaiki

pendengaran

tanpa

melakukan

teknik

mastoidektomi radikal (tanpa meruntuhkan dinding posterior liang


telinga). Membersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di
membran timpani, dikerjakan melalui 2 jalan (combine approach)
yaitu melalui liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan
timppanotomi posterior. Teknik operasi ini pada OMSK tipe bahaya
belum disepakati oleh para ahli, oleh karena sering kambuhnya
kolesteatom kembali.

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

Gambar 8. Pedoman tatalaksana OMSK12

Komplikasi
Otitis media supuratif mempunyai potensi untuk menjadi serius
karena komplikasinya yang sangat mengancam kesehatan dan dapat
menyebabkan kematian. Tendensi otitis media mendapat komplikasi
tergantung pada kelainan patologik yang menyebabkan otorea.
Biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna,
tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman
yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan
komplikasi.
Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada
eksaserbasi akut dari OMSK berhubungan dengan kolesteatom.

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI

i.

Komplikasi di telinga tengah yaitu perforasi persisten, erosi tulang

ii.

pendengaran dan paralisis nervus fasial.


Komplikasi telinga dalam yaitu fistel labirin, labirinitis supuratif dan
tuli saraf (sensorineural).
iii.
Komplikasi ekstradural yaitu abses ekstradural, trombosis sinus

iv.

lateralis dan petrositis


Komplikasi ke susunan saraf pusat yaitu meningitis, abses otak dan
hidrosefalus otitis (Helmi S, 1997)

DAFTAR PUSTAKA
REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT
RSUD SEKARWANGI

1. Nursiah S. Pola Kuman Aerob Penyebab OMSK dan Kepekaan


Terhadap Beberapa Antibiotika di Bagian THT FK USU/RSUP. H.
Adam Malik Medan. Medan : FK USU. 2003.

2. WHO. Chronic suppurative otitis media burden off illness and


management options. Child and Adolescent Health and Development
Prevention of Blindness and Deafness. Geneva Switzerland. 2004.

3. Aboet A. Radang Telinga Tengah Menahun. Pidato Pengukuhan Guru


Besar Tetap Bagian Ilmu Kesehatan Hidung Telinga Tenggorok Bedah
Kepala Leher. Kampus USU. 2007.

4. Farida et al. Alergi Sebagai Faktor Resiko Terhadap Kejadian Otitis


Media

Supuratif

Kronik

Tipe

Benigna.

Medical

Faculty

of

Hasanuddin. 2009.

5. Djaafar ZA. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok


Kepala leher. Edisi 6. Jakarta : FKUI.2010.

6. Adams GL, Boies LR, Higler PA. Penyakit Telinga Tengah dan
Mastoid. Boies, Buku Ajar Penyakit THT Ed. 6. Jakarta:EGC;88-119.
7. Meyer TA, Strunk CL, Lambert PR. Cholesteatoma. In : Newlands SD et.al
(editor). Head & neck surgery otolaryngology. 4th ed. 2006.
Philadelphia : Lippincolt williams & wilkins. h. 2081-91.
8. Lutan R, Wajdi F. Pemakaian Antibiotik Topikal Pada Otitis Media
Supuratif Kronik Jinak Aktif. Cermin Dunia Kedokteran No. 132.2001.
9. Helmi, Djaafar ZA, Restuti RD. Komplikasi otitis media supuratif. Dalam :
Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD (editor). Buku ajar
ilmu kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher.
Edisi 6. 2009. Jakarta : FKUI. h.86.
REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT
RSUD SEKARWANGI

REFERAT OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS I THT


RSUD SEKARWANGI