Anda di halaman 1dari 4

PEMANFAATAN BEBERAPA JENIS FUNGI DALAM PROSES BIOREMEDIASI

GUNA MEMPERBAIKI LINGKUNGAN YANG TERKONTAMINASI


Ervan Prasetyo, Nisa Atul Muthiah, Alfi Nur Diyana, Firda Rosetty, Mia Roosmalisa Dewi
Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember
Jalan Kalimantan III no. 3 Sumbersari, Jember
e-mail: ervanprasetyo13@rocketmail.com
ABSTRAK
Bioremediasi adalah pemanfaatan mikroorganisme (fungi, bakteri) untuk membersihkan senyawa pencemar
(polutan) dari lingkungan. Bioremediasi juga dapat dikatakan sebagai proses penguraian limbah
organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali. Tanah, udara, air, dan sedimen (gabungan
tanah dengan pelapukan tanaman dan hewan dalam satu tempat didasar air) semuanya mempengaruhi
lingkungan lewat polusi. Polusi bisa memasuki lingkungan dengan banyak cara dan mempengaruhi bermacammacam komponen lingkungan. Polusi bisa memasuki lingkungan melalui bocornya sebuah tangki, kecelakaan
truk, atau pecahnya tangki kimia dari suatu industri. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bioremediasi
adalah salah satu teknologi alternatif untuk mengatasi masalah lingkungan dengan memanfaatkan bantuan
mikroorganisme. Mikroorganisme yang dimaksud adalah khamir, fungi (mycoremediasi), yeast, alga dan
bakteri. Mikroorganisme akan mendegradasi zat pencemar atau polutan menjadi bahan yang kurang beracun
atau tidak beracun. Polutan dapat dibedakan menjadi dua yaitu bahan pencemar organik dan sintetik (buatan).
Seperti yang diteliti oleh beberapa ilmuwan bahwa fungi memiliki kemampuan antagonis untuk melawan
pencemaran yang terjadi di dalam lingkungan, yang harus dilakukan hanyalah mengelola dan melakukan
pengontrolan terhadap beberapa jenis jamur yang sudah diketahui fungsinya dalam proses remidiasi lingkungan
yang sudah tercemar.
Kata kunci: bioremidiasi, fungi, lingkungan

TUJUAN PENELITIAN
Pencemaran dan Polusi dari berbagai faktor telah berlangsung secara terus-menerus dalam
kurun waktu yang sangat lama sehingga menyebabkan terjadinya banyak perubahan yang
drastis terhadap kondisi lingkungan, hal ini semakin mengkawatirkan hari demi hari. Untuk
itu perlu dilakukan suatu upaya untuk mencegah dan memperbaiki kondisi lingkungan yang
semakin memburuk. Berdasarkan penelitian beberapa ahli dan ilmuwan telah ditemukan
suatu cara untuk menangani hal tersebut dan dikenal dengan nama bioremidiasi, salah satu
agen yang dapat dimanfaatkan dalam bioremidiasi adalah mikroorganisme khususnya jamur.
Seperti yang diketahui bahwa jamur merupakaan organisme yang jumlahnya sangat banyak
dan dapat tumbuh hampir di semua tempat di muka bumi. Setelah diteliti ternyata jamur
memiliki kemampuan yang antagonis terhadap beberapa jenis polutan yang ada saat ini.
Beberapa jamur mikroskopis dapat mendegradasi sejumlah polutan dalam jumlah besar
bersamaan dengan proses metabolism yang terjadi di dalam tubuhnya. Hal ini yang
mendasari tujuan dari penulisan jurnal ini, dengan melihat potensi yang dimiliki jamur maka
penulisan jurnal ini bertujuan untuk memberikan sejumlah informasi penggunaan jamur
dalam proses bioremidiasi dalam mengatasi lingkungan yang terkontaminasi. (BENERIN
KALO GAK PAS :D)

ISI PENELITIAN
Jamur adalah pengurai dalam siklus global hidup dan mati. Mereka biasanya ada untuk
melakukan pekerjaan ketika sesuatu - hewan, tumbuhan, atau bahkan obyek tak hidup siap
untuk dipecah lagi menjadi molekul yang lebih kecil. Jamur memiliki banyak cara
pertumbuhan serta beberapa cara untuk mempertahankan hidupnya sehingga dapat terus
mempertahankan kedudukannya sebagai niche decomposer.
Salah satu kategori terbesar dari input ke lingkungan membutuhkan dekomposisi limbah
hidrokarbon buatan manusia. Cadangan besar hidrokarbon yang sebelumnya disimpan di
bawah tanah sekarang sudah dibawa ke permukaan, diubah, dan digunakan. Mayoritas
pencemaran yang terjadi sekarang melibatkan bahan bakar fosil, baik itu knalpot dan produk
sampingan dari bahan bakar nuklir bekas atau plastik polimer akumulasi yang terbuat dari
hidrokarbon yang sama. Bahan bakar fosil terdiri dari hidrokarbon polisiklik aromatik (PAH),
serta molekul karbon lebih pendek. Banyak PAH yang dapat terjadi secara alami dan saat ini
perubahan PAH disebabkan oleh aktivitas manusia.
Bentuk PAH ketika bahan karbon tidak sepenuhnya terbakar: misalnya, knalpot jelaga dari
mobil, hamburger charbroiled, dan membakar roti panggang mengandung mereka. Selain itu,
sejumlah besar PAH diekstrak, halus, dan diangkut, dan kontaminasi lingkungan sering
terjadi di seluruh dunia.
Polimer yang diproduksi dari hidrokarbon; berbagai penambahan kimia dan perubahan
struktural menghasilkan beragam produk plastik yang tersedia saat ini. Produk ini harus tahan
terhadap degradasi ketika memenuhi kegunaannya, namun mereka juga harus mampu untuk
didegradasu pada waktu tertentu atau hal ini hanya akan meningkatkan masalah terhadap
pembuangannya. Peningkatan jumlah limbah plastik dapat membentuk terbentuknya suatu
daerah, hal ini tentu saja menstimulus terjadinya pertumbuhan jamur dekomposer, namun
karena kondisi lingkungan yang seperti itu membuat jamur terkontaminasi oleh hidrokarbon.
Pada daerah Athabasca Oil Sands of Canada hal tersebut justru membuat 3 genera: Graphium,
Fusarium, dan Penicillium melakukan aktivitas peningkatan ekspresi gen serta produksi
enzim yang mendegradasi polutan setelah mereka terpapar polusi hidrokarbon, hal ini
dilakukan untuk beradapatasi dengan lingkungan yang kaya akan PAH.
Pada kondisi tercemar hidrokarbon jamur mampu menggunakan molekul hidrokarbon yang
mimiliki struktur yang sama seperti sumber energi yang biasa dimanfaatkan jamur dalam
proses metabolismenya. Gen yang bertanggung jawab untuk degradasi PAH yang tersedia
sebanyak lokus homolog yang ada dalam genom, dimana bagian ini menyediakan kolam
renang mutase yang sangat besar dan kemungkinan penataan ulang dalam keluarga gennya.
Selain itu mikroorganisme memiliki respon stress tersendiri dan menghasilkan fenotip serta
keragaman genetik dalam mengahadapi stress lingkungan yang baru. Dalam suatu studi
ditemukan bahwa reproduksi sesksual jamur meningkat ketika terjadi stress ekologi.
Observasi ini menunjukkan kemampuan jamur untuk beradaptasi dengan perubahan
lingkungan, bahkan dalam kondisi polutan berupa plastik sintetis jamur masih mampu untuk
mendegradasi beberapa bagian yang mencemari tanah.

Jamur secara khusus cocok untuk degradasi PAH relatif terhadap pengurai bakteri lain karena
beberapa alasan. Mereka dapat menurunkan berat molekul tinggi PAH, sedangkan bakteri
yang terbaik menurunkan molekul yang lebih kecil, selain itu mereka juga mampu
menjalankan fungsinya pada kondisi yang hidrofobik. Berbagai macam jamur telah
berevolusi dan mengembangkan kemampuannya untuk mendegradasi PAH tertentu, salah
satunya yakni kemampuan untuk mendegradasi lignin.
Jamur tiram, Pleurotus ostreatus, dapat menurunkan 80-95% dari semua PAH ada di tanah
setelah 80 hari. Jamur ini memecah sepenuhnya PAH dan mendegradasinya menjadi
karbondioksida yang selanjutnya akan digunakan oleh tumbuhan. Serasah dari jamur
basidiomycetes juga memiliki kemampuan untuk menurunkan PAH walaupun tidak sebesar
kemampuan Pleurotus ostreatus.
KEMAMPUAN SPECIESNYA TOLONG TAMBAI AKU TAKUT SALAH KONSEP mulai
dari paragraph Litter-decomposingbasidiomycete
Kadang-kadang jamur yang sama-sama menurunkan PAH ditemukan pula untuk memulihkan
logam beracun juga, biasanya ditemukan di situs yang sama tercemar dan dapat mengurangi
efektivitas beberapa mikroorganisme degradive. Pada survei di tanah pompa bensin dan strain
ditemukan Fusarium dan Hypocrea yang bisa menurunkan berat badan satu molekul
karsinogenik PAH, pyrene, serta tembaga dan seng. Jamur ini mampu menggunakan pyrene
sebagai sumber karbon tunggal mereka.
Dalam penelitiannya Pleurotus ostreatus banyak digunakan sebagai bahan uji dalam proses
bioremidiasi dan menunjukkan tingkat keberhasilan. Hal yang menjadi kunci utama yakni
kemampuan jamur ini dalam mendegradasi polutan dalam bentuk proses pengkonsumsian
polutan, seperti yang tejadi pada polutan minyak bumi, jamur ini mampu mengubah polutan
tersebut menjadi karbondioksida, air serta komponen lain.
Terdapat salah satu ulasan yang memperingatkan tentang bahaya potensial jamur yang
mampu mengkonsumsi polutan, salah satu kemampuan jamur untuk mendegradasi lignin juga
dapat menginfeksi otak manuasia dan menyebabkan neuropati. Infeksi ini bisa sangat parah;
Cladophialophora bantiana, khususnya, menyebabkan infeksi otak parah yang berakibat fatal
tanpa operasi otak dan pengobatan tindak lanjut yang intensif.
MEKANISMENYA PENYAKITNYA TAMBAI YA
Jamur memiliki potensi yang menakjubkan untuk membersihkan lingkungan yang
terkontaminasi. Setelah melihat daftar jamur yang dapat menurunkan PAH yang berbeda,
orang bisa membayangkan bahwa ada jamur di luar sana untuk menurunkan setiap jenis
polutan persisten, dan masing-masing hanya harus ditemukan. Situs tercemar secara alami
dapat menjadi inkubator bagi beberapa spesies yang dapat mengkonsumsi polutan. Ini adalah
berita baik untuk spesies yang menciptakan daerah-daerah tercemar namun masih
membutuhkan lingkungan yang bersih untuk bertahan hidup. Selain itu, jika potensi
membusuk ini adalah nyata, seharusnya itu dimanfaatkan oleh manusia untuk mengatasi
lingkungan yang tercemar. Meskipun terdapat pula resiko dari penggunaan cara ini, sehingga
manusia harus menggunkannya dengan cermat. Terlepas dari penggunaanya, jamur akan terus
berinteraksi dengan lingkungan dan akan mengkonsumsi polutan secara mandiri, hal ini terus

berlangsung karena tingkat stress terhadap lingkungan yang terus meningkat yang disebabkan
oleh aktivitas manusia.

Anda mungkin juga menyukai