Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN MINI CEX

IMPETIGO KRUSTOSA

PEMBIMBING
Dr. HERYANTO SYAMSUDIN, Sp. KK
DISUSUN OLEH
Rina Mardiana
2009730110

KEPANITERAAN ILMU KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA SUKAPURA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
MUHAMMADIYAH JAKARTA
OKTOBER 2014
KATA PENGANTAR

Pertama kami ucapkan terima kasih kepada Allah SWT.


karena atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
Laporan Mini CEX yang berjudul Impetigo Krustosa tepat
pada waktunya. Adapun tujuan pembuatan Laporan Mini CEX
ini adalah sebagai salah satu syarat dalam mengikuti dan
menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kulit dan Kelamin di
Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura
kami mengucapkan terima kasih kepada dr.Heryanto
Syamsudin, Sp.KK, yang telah meluangkan waktunya untuk
kami dalam menyelesaikan Laporan Mini CEX ini.

Kami

menyadari banyak sekali kekurangan dalam Laporan Mini CEX


ini, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat
penulis harapkan. Semoga refreshing ini dapat bermanfaat
bukan hanya untuk kami, tetapi juga bagi siapa pun yang
membacanya.
Jakarta, Oktober 2014

Penulis

PENDAHULUAN
Impetigo adalah penyakit kulit superfisial yang disebabkan
infeksi piogenik oleh bakteri Gram positif. Impetigo lebih sering
terjadi pada usia anak-anak walaupun pada orang dewasa dapat
terjadi. Penularan impetigo tergolong tinggi, terutama melalui
kontak langsung. Individu yang terinfeksi dapat menginfeksi dirinya
sendiri atau orang lain setelah menggaruk lesi. Infeksi seringkali
menyebar dengan cepat di sekolah, tempat penitipan anak atau
pada tempat dengan hygiene buruk atau juga tempat tinggal yang
padat penduduk1,2,3
Impetigo krustosa merupakan jenis infeksi piogenik yang
paling banyak ditemukan di dunia (70% dari kasus impetigo).2,3,4
Impetigo krustosa harus diobati secara cepat dan tepat karena
dapat

menyebabkan

beberapa

komplikasi

terutama

glomerulonefritis akut.5 Terapi antibiotik topikal merupakan pilihan


pertama impetigo terutama bila lesi yang terbatas, tanpa gejala
sistemik

atau

komplikasi

sementara

terapi

sistemik

dipertimbangkan bila diperlukan.1,5


DEFINISI
Impetigo krustosa merupakan penyakit infeksi piogenik kulit
superfisial

yang

disebabkan

oleh

Staphylococcus

aureus,

Streptococcus group A beta-hemolitikus (GABHS), atau kombinasi


keduanya dan digambarkan dengan perubahan vesikel berdinding
tipis,

diskret,

membentuk

menjadi

krusta

pustul

dan

Honey-colored.

ruptur

serta

dengan tepi

mengering

yang

mudah

dilepaskan.1,5

Pada negara maju, impetigo krustosa banyak disebabkan


oleh Staphylococcus aureus dan sedikit oleh Streptococcus group A
beta-hemolitikus (Streptococcus pyogenes). Banyak penelitian yang
menemukan 50-60% kasus impetigo krustosa penyebabnya adalah
Staphylococcus aureus dan 20-45% kasus merupakan kombinasi
Staphylococcus aureus dengan Streptococcus pyogenes. Namun di
negara berkembang, yang menjadi penyebab utama impetigo
krustosa adalah Streptococcus pyogenes.4,5,6 Staphylococcus aureus
banyak

terdapat

pada

faring,

hidung,

aksila

dan

perineal

merupakan tempat berkembangnya penyakit impetigo krustosa2


EPIDEMIOLOGI
Terjadinya penyakit impetigo krustosa di seluruh dunia
tergolong relatif sering. Penyakit ini banyak terjadi pada anak - anak
kisaran usia 2-5 tahun dengan rasio yang sama antara laki-laki dan
perempuan. Di Amerika, impetigo merupakan 10% dari penyakit
kulit anak yang menjadi penyakit infeksi kulit bakteri utama dan
penyakit kulit peringkat tiga terbesar pada anak. Di Inggris kejadian
impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2,8% pertahun
dan 1,6% pada anak usia 5-15 tahun3. 1,3,4,6
Impetigo krustosa banyak terjadi pada musim panas dan
daerah lembab, seperti Amerika Selatan yang merupakan daerah
endemik dan predominan, dengan puncak insiden di akhir musim
panas. Anak-anak prasekolah dan sekolah paling sering terinfeksi.
Pada usia dewasa, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan. 2
Disamping itu, ada beberapa faktor yang dapat mendukung
terjadinya impetigo krustosa seperti:
-

hunian padat

higiene buruk

hewan peliharaan

keadaan yang mengganggu integritas epidermis kulit


seperti gigitan serangga, herpes simpleks, varisela, abrasi,
atau luka bakar.1,4,5

PATOGENESIS

Gambar 1. Struktur Stretoccocus Pyogenes dan substansinya


Impetigo krustosa dimulai ketika trauma kecil terjadi pada
kulit normal sebagai portal of

entry yang terpapar oleh kuman

melalui kontak langsung dengan pasien atau dengan seseorang


yang menjadi carrier. Kuman tersebut berkembang biak dikulit dan
akan menyebabkan terbentuknya lesi dalam satu sampai dua
minggu.6

Cara infeksi pada impetigo krustosa ada 2, yaitu infeksi


primer dan infeksi sekunder.
Infeksi Primer
Infeksi primer, biasanya terjadi pada anak-anak. Awalnya,
kuman menyebar dari hidung ke kulit normal (kira-kira 11
hari), kemudian berkembang menjadi lesi pada kulit. Lesi
biasanya timbul di atas kulit wajah (terutama sekitar lubang
hidung) atau ekstremitas setelah trauma.4

Infeksi sekunder
Infeksi sekunder terjadi bila telah ada penyakit kulit lain
sebelumnya

(impetiginisasi)

seperti

dermatitis

atopik,

dermatitis statis, psoariasis vulgaris, SLE kronik, pioderma


gangrenosum,
pedikulosis,

herpes

skabies,

simpleks,
infeksi

varisela,

jamur

herpes

zoster,

dermatofita,

gigitan

serangga, luka lecet, luka goresan, dan luka bakar, dapat


terjadi pada semua umur2,7.
Impetigo krustosa biasanya terjadi akibat trauma superfisialis
dan robekan pada epidermis, akibatnya kulit yang mengalami
trauma tersebut menghasilkan suatu protein yang mengakibatkan
bakteri dapat melekat dan membentuk suatu infeksi impetigo
krustosa2. Keluhan biasanya gatal dan nyeri4
Impetigo krustosa sangat menular, berkembang dengan cepat
melalui kontak langsung dari orang ke orang. Impetigo banyak
terjadi pada musim panas dan cuaca yang lembab. Pada anak-anak
sumber infeksinya yaitu binatang peliharaan, kuku tangan yang
kotor,

anak-anak

lainnya

di

sekolah,

daerah

rumah

kumuh,

sedangkan pada dewasa sumbernya yaitu tukang cukur, salon

kecantikan,

kolam

renang,

dan

dari

anak-anak

yang

telah

terinfeksi5.
HISTOPATOLOGI
Terjadinya inflamasi superfisialis pada folikel pilosebaseus
bagian atas. Terdapat vesikopustul di subkorneum yang berisi
coccus serta debris berupa leukosit dan sel epidermis. Pada dermis
terjadi inflamasi ringan yang ditandai dengan dilatasi pembuluh
darah, edema, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.

Seringkali

terjadi spongiosis yang mendasari pustula. Pada lesi terdapat kokus


Gram positif.2

MANIFESTASI KLINIS
Impetigo krustosa dapat terjadi di mana saja pada tubuh,
tetapi biasanya pada bagian tubuh yang sering terpapar dari luar
misalnya wajah, leher, dan ekstremitas. Impetigo Krustosa diawali
dengan munculnya eritema berukuran kurang lebih 2 mm yang
dengan cepat membentuk vesikel, bula atau pustul berdinding tipis.
Kemudian vesikel, bula atau pustul tersebut ruptur menjadi erosi
kemudian eksudat seropurulen mengering dan menjadi krusta yang
berwarna kuning keemasan (honey-colored) dan dapat meluas lebih
dari 2 cm. Lesi biasanya berkelompok dan sering konfluen meluas
secara irreguler. Pada kulit dengan banyak pigmen, lesi dapat
disertai hipopigmentasi atau hiperpigmentasi. Krusta pada akhirnya
mengering dan lepas dari dasar yang eritema tanpa pembentukan
jaringan scar.1,4,5,8

Lesi dapat membesar dan meluas mengenai lokasi baru


dalam waktu beberapa minggu apabila tidak diobati. Pada beberapa
orang lesi dapat remisi spontan dalam 2-3 minggu atau lebih lama
terutama bila terdapat penyakit akibat parasit atau pada iklim
panas dan lembab, namun lesi juga dapat meluas ke dermis
membentuk ulkus (ektima).1,4
Kelenjar limfe regional dapat mengalami pembesaran pada
90%

pasien

tanpa

pengobatan

(terutama

pada

infeksi

Streptococcus) dan dapat disertai demam. Membran mukosa jarang


terlibat.

1,4,5

Gambar 2. impetigo krustosa di ekstremitas superior pada anakanak1.

Gambar 3. impetigo krustosa di sekitar lubang hidung dan mulut


pada anak- anak4.

DIAGNOSIS
Diagnosis impetigo krustosa ditegakkan melalui anamnesis
dan pemeriksaan fisik dengan mengidentifikasi tanda dan gejala
yang ada dan dapat dibantu dengan pemeriksaan penunjang
seperti pewarnaan Gram, biakan kuman, dan tes serologi serta
histopatologi.2,8
Pada pulasan gram, ditemukan coccus Gram positif yang lebih
terlihat bila pemeriksaan dilakukan saat lesi masih berupa vesikel.
Biasanya diperlukan pemeriksaan biakan kuman dan sensitivitas
bila terapi tidak menghasilkan respon baik yang menunjukkan
sudah

terjadi

resistensi

kuman.

Pada

pemeriksaan

serologi

didapatkan ASO titer positif lemah pada pioderma streptococcus.


Leukositosis ditemukan pada sebagian penderita impetigo krustosa.
2,8

DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding Impetigo krustosa terdiri dari:
a. Dermatitis Atopik
Terdapat riwayat atopik seperti asma, rhinitis alergika. Lesi
pruritus kronik dan kulit kering abnormal dapat disertai
likenifikasi.3,9
b. Dermatitis Kontak
Gatal pada daerah sensitif yang kontak dengan bahan iritan. 3
c. Herpes Simpleks
Vesikel dengan dasar eritema yang ruptur menjadi erosi
ditutupi krusta. Umumnya terdapat demam, malaise, disertai
limfadenopati.

3,9

d. Varisela

Terdapat gejala prodomal seperti demam, malaise, anoreksia.


Vesikel dinding tipis dengan dasar eritema (bermula di
trunkus dan menyebar ke wajah dan ekstremitas) yang
kemudian ruptur membentuk krusta (lesi berbagai stadium).3
e. Kandidiasis
Kandidiasis (infeksi jamur candida): papul eritem, basah,
umumnya di daerah selaput lendir atau daerah lipatan. 3
f. Diskoid lupus eritematous
Ditemukan (plak), batas tegas yang mengenai sampai folikel
rambut. 3
g. Ektima
Lesi berkrusta yang menutupi daerah ulkus yang menetap
selama beberapa minggu dan sembuh dengan jaringan parut
bila menginfeksi dermis. 3
h. Gigitan serangga
Terdapat papul pada daerah gigitan, dapat nyeri. 3
i. Skabies
Papul yang kecil dan menyebar, terdapat terowongan pada
sela-sela jari, gatal pada malam hari.3
KOMPLIKASI
1.

Ektima
Impetigo yang tidak diobati dapat meluas lebih dalam dan
penetrasi ke epidermis menjadi ektima. Ektima merupakan
pioderma pada jaringan kutan yang ditandai dengan adanya
ulkus dan krusta tebal.4,5

2.

Selulitis dan Erisepelas


Impetigo krustosa dapat menjadi infeksi invasif menyebabkan
terjadinya selulitis dan erisepelas, meskipun jarang terjadi.

10

Selulitis merupakan peradangan akut kulit yang mengenai


jaringan subkutan (jaringan ikat longgar) yang ditandai
dengan eritema setempat, ketegangan kulit disertai malaise,
menggigil dan demam. Sedangkan erisepelas merupakan
peradangan kulit yang melibatkan pembuluh limfe superfisial
ditandai dengan eritema dan tepi meninggi, panas, bengkak,
dan biasanya disertai gejala prodromal.1,4,5
3.

Glomerulonefritis Post Streptococcal


Komplikasi utama dan serius dari impetigo krustosa yang
umumnya disebabkan oleh Streptococcus group A betahemolitikus ini yaitu glomerulonefritis akut (2%-5%). Penyakit
ini lebih sering terjadi pada anak-anak usia kurang dari 6
tahun. Tidak ada bukti yang menyatakan glomerulonefritis
terjadi pada impetigo yang disebabkan oleh Staphylococcus.
Insiden glomerulonefritis (GNA) berbeda pada setiap individu,
tergantung

dari

strain

potensial

yang

menginfeksi

nefritogenik. Faktor yang berperan penting atas terjadinya


GNAPS yaitu serotipe Streptococcus strain 49, 55, 57,dan 60
serta strain M-tipe 2. Periode laten berkembangnya nefritis
setelah pioderma streptococcal sekitar 18-21 hari. Kriteria
diagnosis GNAPS ini terdiri dari hematuria makroskopik atau
mikroskopik, edema yang diawali dari regio wajah, dan
hipertensi.1,5
4.

Rheumatic Fever.1,13
Sebuah

kelainan

inflamasi

yang

dapat

terjadi

karena

komplikasi infeksi streptokokus yang tidak diobati strep throat


atau scarlet fever. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi
otak, kulit, jantung,dan sendi tulang.

11

5.

Pneumonia.
Pneumonia merupakan penyakit ynag banyak ditemui setiap
tahun. Penyakit ini biasa terjadi pada perokok dan seseorang
yang menggunakan obat yang menekan sistem imunitas.13

6.

Infeksi Methicilin- resistant staphylococcus aureus (MRSA).


MRSA adalah sebuah strain bakteri stafilokokus yang resisten
terhadap sejumlah antibiotik. MRSA dapat menyebabkan
infeksi serius pada kulit yang sangat sulit diobati. Infeksi kulit
dapat dimulai dengan sebuah eritem, papul, atau abses yang
mengeluarkan

pus.

MRSA

juga

dapat

menyebabkan

pneumonia dan bakterimia.12


7.

Osteomielitis
Sebuah inflamasi pada tulang disebabkan bakteri. Inflamasi
biasanya berasal dari bagian tubuh yang lain yang berpindah
ke tulang melalui darah.14

8.

Meningitis
Sebuah inflamasi pada membran dan cairan serebrospinal
yang

melingkupi

merupakan

otak

sebuah

mempengaruhi

dan

medula

penyakit

kehidupan

dan

spinalis.

serius

Meningitis

yang

menghasilkan

dapat

komplikasi

permanen seperti koma, syok, dan kematian.15


PENATALAKSANAAN
A. Umum

Menjaga kebersihan agar tetap sehat dan terhindar dari


infeksi kulit.9

12

Menindaklanjuti luka akibat gigitan serangga dengan mencuci


area kulit yang terkena untuk mencegah infeksi. 9

Mengurangi kontak dekat dengan penderita

Bila diantara anggota keluarga ada yang mengalami impetigo


diharapkan

dapat

pencegahan berupa:
-

melakukan

beberapa

tindakan

Mencuci bersih area lesi (membersihkan krusta) dengan


sabun dan air mengalir serta membalut lesi.

Mencuci pakaian, kain, atau handuk penderita setiap


hari dan tidak menggunakan peralatan harian bersamasama.

Menggunakan sarung tangan ketika mengolesi obat


topikal dan setelah itu mencuci tangan sampai bersih.

Memotong kuku untuk menghindari penggarukan yang


memperberat lesi.

Memotivasi penderita untuk sering mencuci tangan.

B. Khusus
Pada prinsipnya, pengobatan impetigo krustosa bertujuan
untuk memberikan kenyamanan dan perbaikan pada lesi
serta mencegah penularan infeksi dan kekambuhan.3
1. Terapi Sistemik
Pemberian antibiotik sistemik pada impetigo diindikasikan
bila terdapat lesi yang luas atau berat, limfadenopati, atau
gejala sistemik.1
a. Pilihan Pertama (Golongan Lactam)
Golongan Penicilin (bakterisid)
o Amoksisilin+ Asam klavulanat
Dosis 2x 250-500 mg/hari (25 mg/kgBB) selama
10 hari.3

13

Golongan Sefalosporin generasi-ke1 (bakterisid)


o Sefaleksin
Dosis 4x 250-500 mg/hari (40-50 mg/kgBB/hari)
selama 10 hari.3
o Kloksasilin
Dosis 4x 250-500 mg/hari selama 10 hari.3
b. Pilihan Kedua
Golongan Makrolida (bakteriostatik)
o Eritromisin
Dosis 30-50mg/kgBB/hari.

o Azitromisin
Dosis 500 mg/hari untuk hari ke-1 dan dosis 250
mg/hari untuk hari ke-2 sampai hari ke-4.4
2.Terapi Topikal
Penderita diberikan antibiotik topikal bila lesi terbatas, terutama
pada wajah dan penderita sehat secara fisik. Pemberian obat topikal
ini dapat sebagai profilaksis terhadap penularan infeksi pada saat
anak melakukan aktivitas disekolah atau tempat lainnya. Antibiotik
topikal diberikan 2-3 kali sehari selama 7-10 hari.5,6
Mupirocin
Mupirocin (pseudomonic acid) merupakan antibiotik yang berasal
dari Pseudomonas fluorescent .Mekanisme kerja mupirocin yaitu
menghambat sintesis protein (asam amino) dengan mengikat
isoleusil-tRNA sintetase sehingga menghambat aktivitas coccus
Gram

positif

Streptococcus.

seperti
Salap

Staphylococcus
mupirocin

2%

dan

sebagian

diindikasikan

besar
untuk

pengobatan impetigo yang disebabkan Staphylococcus dan


Streptococcus pyogenes.10
Asam Fusidat

14

Asam Fusidat merupakan antibiotik yang berasal dari Fusidium


coccineum. Mekanisme kerja asam fusidat yaitu menghambat
sintesis protein. Salap atau krim asam fusidat 2% aktif melawan
kuman gram positif dan telah teruji sama efektif dengan
mupirocin topikal.11
Bacitracin
Baciracin merupakan antibiotik polipeptida siklik yang berasal
dari Strain Bacillus Subtilis. Mekanisme kerja bacitracin yaitu
menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan menghambat
defosforilasi ikatan membran lipid pirofosfat sehingga aktif
melawan

coccus

Streptococcus.

Gram positif

Bacitracin

seperti

topikal

Staphylococcus

efektif

untuk

dan

pengobatan

infeksi bakteri superfisial kulit seperti impetigo. 10


Retapamulin
Retapamulin

bekerja

menghambat

sintesis

protein

dengan

berikatan dengan subunit 50S ribosom pada protein L3 dekat


dengan

peptidil

transferase.

Salap

Retapamulin

1%

telah

diterima oleh Food and Drug Administraion (FDA) pada tahun


2007 sebagai terapi impetigo pada remaja dan anak-anak diatas
9 bulan dan telah menunjukkan aktivitasnya melawan kuman
yang

resisten

terhadap

beberapa

obat

seperti

metisilin,

eritromisin, asam fusidat, mupirosin, azitromisin.6


PROGNOSIS
Pada

beberapa

individu,

bila

tidak

ada

penyakit

lain

sebelumnya impetigo krustosa dapat membaik spontan dalam 2-3


minggu. Namun, bila tidak diobati impetigo krustosa dapat bertahan
dan menyebabkan lesi pada tempat baru serta menyebabkan
komplikasi berupa ektima, dan dapat menjadi erisepelas, selulitis,
atau bakteriemi.4,7 Dapat pula terjadi Staphylococcal Scalded Skin

15

Syndrome

(SSSS)

pada

bayi

dan

dewasa

yang

mengalami

immunocompromised atau gangguan fungsi ginjal. Bila terjadi


komplikasi glomerulonefritis akut, prognosis anak- anak lebih baik
daripada dewasa.5

KASUS
INDETITAS
Nama

: An. F D I

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 4 tahun

Alamat

: Jl. Bhakti IX, KelCilincing,


Jakarta Utara

Agama

: Islam

Pendidikan : Paud
Tanggal Pemeriksaan : 13 Oktober 2014 Poli Kulit dan Kelamin RSIJ Sukapura
KELUHAN UTAMA
Gatal pada Pergelangan tangan kanan sejak 1 tahun yang lalu
KELUHAN TAMBAHAN
Gatal dirasa saat berkeringat

16

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Sejak satu tahun yang lalu pasien mengeluh rasa gatal pada
pergelangan tangan kanan. Pada awalnya gatal dirasa saat sedang
bermain dengan adanya bintik-bintik merah yang berisi air yang
timbul tiba-tiba di pengelangan tangan. Bintik-bintik tersebut dirasa
sangat gatal terutama saat sedang bermain dan berkeringat.
Karena rasa gatal pasien sering mengaruk daerah tersebut dan
menimbulkan luka dan berdarah. Ibu pasien mengatakan bahwa
rasa gatal tidak disebabkan oleh alergi makanan.
Ibu pasien telah membawa pasien berobat ke beberapa dokter akan
tetapi rasa gatal tetap dirasakan oleh pasien, sejak awal timbulnya
gatal 1 tahun yang lalu, akan tetapi keluhan gatal masih dirasakan
dan bertambah berat sejak 1 bulan yang lalu. Pasien diberi obat
minum dan cream untuk gatal dan kemerahan, akan tetapi pasien
lupa nama obat yang diberikan.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Gatal pada pergelangan tangan kanan sejak 1 tahun yang lalu
Asma disangkal
RIWAYAT PENGOBATAN
Pernah berobat untuk keluhan gatal dan kemerahan di daerah
pergelangan tangan lebih dari 5 dokter sebelum dibawa ke RSIJ
Sukapura diberi Cream dan obat minum (tidak tahu nama
obatnya)
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat penyakit serupa disangkal
Asma disangkal

17

RIWAYAT ALERGI
Makanan disangkal
Obat disangkal
STATUS GENERALIS
Keadaan umum: Tidak tampak sakit
Kesadaran : Composmentis
Status gizi : Baik

Kepala

:Normocephal

Leher

: T.A.K

Thorax

: T.A.K

Abdomen

: T.A.K

Genital

: T.A.K

Ekstremitas

: T.A.K

18

RESUME
Seorang anak perempuan berumur 4 tahun, bersekolah di PAUD,
agama Islam, datang ke Poli Kulit dan Kelamin di RSIJ Sukapura
pada tanggal 13 Oktober 2014. Dengan keluhan gatal dan
kemerahan pada pergelangan tangan kanan sejak 1 tahun SMRS.
Timbul bintik-bintik merah dan membentuk gelembung gelembung
yang berisi air kurang lebih sejak satu tahun yang lalu. Bintil-bintil
itu berisi air yang kemudian pecah dan berwarna merah pada
tepinta timbul keropeng. Pada

Regio. Pergelangan tangan kanan,

ditemukan efloresensi berupa papul-papul eritematous, vesikel


tersebar di atas kulit yang eritematous. Tampak juga vesikel telah
pecah serta krusta yang tepinya meluas. Selain itu tampak
hiperpigmentasi pasca peradangan. Sebelumya pasien pernah

19

pernah berobat kebeberapa dokter dan pada keluarga pasien juga


tidak ada yang menderita penyakit yang sama. Pasien tidak
mempunyai alergi obat-obatan ataupun makanan.
DIAGNOSIS
Diagnosis Kerja:
Impetigo Krustosa
Diagnosis Banding :
Impetigo Krustosa
Dermatitis Atopik
Ektima
PENATALAKSANAAN UMUM
1. Menjelaskan

kepada

penderita

dan

keluarga

perihal

penyakitnya.
2. Menjelaskan untuk tidak menggaruk pada daerah-daerah
yang gatal tersebut supaya tidak terjadi infeksi lagi yang lebih
parah.
3. Menjaga kebersihan:

Mencuci pakaian, kain, atau handuk penderita setiap


hari dan tidak menggunakan peralatan harian bersamasama.

Menggunakan sarung tangan ketika mengolesi obat


topikal dan setelah itu mencuci tangan sampai bersih.

Memotong kuku untuk menghindari penggarukan yang


memperberat lesi.

Memotivasi penderita untuk sering mencuci tangan.

MEDIKAMENTOSA

20

SISTEMIK

Golongan Makrolida (Bakteriostatik):

Erytromisin
Dosis: 30mg/KgBB/hari

Antihistamin: CTM

TOPIKAL
Cream berisi:
Hidrokortison zalf
Gentamisin Zalf
2 x/hari dioles pagi dan sore hari
PROGNOSIS

Quo ad Vitam - ad Bonam

Quo ad Fungitionam ad Bonam

Quo as Sanationam Dubia ad bonam

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Hay R.J, B.M Adriaans. Bacterial Infection. In: Burns T,
Brethnach S, Cox N, Griffiths C (eds). Rooks Text Book of
Dermatology. 7th ed. Turin: Blackwell. 2004. p.27.13-15.
2. Heyman W.R, Halpern V. Bacterial Infection. Bolognia JL,
Jorizzo JL, Rapini RP (eds). Dermatology. 2nd ed. Spain: Mosby
Elsevier. 2008. p.1075-77.
3. Cole C, Gazewood J. Diagnosis and Treatment of Impetigo.
American Academy of Family Physician. Vol.75. No.6. 2007.
p.859-864.

Diunduh

dari:

http://www.sepeap.org/archivos/pdf/10524.pdf
4. Craft N, Peter K.L, Matthew Z.W, Morton N.S, Richard S.J.
Superficial Cutaneous Infection and Pyodermas. In: Wolff K et
all (eds). Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Vol 2.
7th Ed. New York: McGraw Hill. 2008. p.1695-1705.
5. Arnold, Odom, James. Bacterial Infection. In: James W.D,
Berger T.G, Elston D.M (eds). Andrews Disease of the Skin
Clinical Dermatology. 10th Ed. Canada: Saunders Elsevier.
2006. p.255-6.
6. Amini

Sadegh.

Impetigo.

Diunduh

dari:

http://emedicine.medscape.com/article/1109204-treatment.
7. Norrby A, Teglund, Kotb M. Host Microbe Interactions in The
Pathogenesis of Invasive Group A Streptococcal Infections.
Journal Medical Microbiology. Vol.49. 2000. p.849-52.
8. Trozak D.J, Tennenhouse D.J, Russel D.J. Impetigo (Impetigo
Crustosa). In: Skolnik N.S (eds). Dermatology Skills For

22

Primary Care: An Ilustrated Guide. New Jersey: Humana Press.


2006. p.317-23.
9. Wolff K, Richard Allen Johnson. Color Atlas and Sypnosis Of
Clinical Dermatology. Part 3rd. 9th Ed. New york: McGraw Hill.
2009. p.597-604.
10.

Bonner

M.W,

Benson

P.M,

James

W.D.

Topical

Antiboiotics. In: Wolff K et all (eds). Fitzpatricks Dermatology


in General Medicine. Vol 2. 7th Ed. New York: McGraw Hill.
2008. p.2113-15.
11.

Koning S at all. Fusidic Acid Cream in The Treatment of

Impetigo in General Practice: Double Blind Randomised


Placebo

Controlled

Trial.

British

Medical

Journal.

2002.

Vol.324. p.203. Diunduh dari:


http://www.bmj.com/cgi/content/full/324/7331/203

23