Anda di halaman 1dari 6

Nama : Rijalul Fikri

NPM : 270110110139
Kelas : D
Backarc Basin
Backarc Basin merupakan cekungan di dasar laut yang berada pada zona konvergensi
lempeng tektonis dan berasosiasi dengan pulau-pulau vulkanis. Backarc basin umumnya
panjang dan sempit dan berada pada Samudra Pasifik. Barckarck basin memiliki formasi
geologi berupa batuan basalt dengan mineral amphibol dan mika.

Terdapat hubungan antara cekungan minyak bumi yang berkembang di berbagai tempat
dengan elemen-elemen tektonik yang ada. Cekungan-cekungan besar di wilayah Asia
Tenggara mempresentasikan kondisi setiap elemen tektonik yang ada, yaitu cekungan busur
muka (forearc basin), cekungan busur belakang (back-arc basin), cekungan intra kraton
(intracratonic basin), dan tepi kontinen (continent margin basin), dan zona tumbukan
(collision zone basin).
Back arc merupakan bagian paling belakang dari rangkaian busur tektonik yang relatif paling
stabil dengan topografi yang hampir seragam berfungsi sebagai tempat sedimentasi. Semua
daerah tersebut memiliki kekhasan dan keunikan yang jarang ditemui di daerah lain, baik
keanegaragaman hayatinya maupun keanekaragaman geologinya.
Back-arc basin yang diduga bentuk dari hasil dari proses rollba ck disebut. Istilah
ini menggambarkan gerakan mundur dari zona subduksi terhadap gerakan

lempeng yang sedang menumbuk. Sebagai zona subduksi dan parit yang ditarik ke
belakang, lempeng override ditarik, penipisan kerak yang terbentuk dalam cekungan pada
belakang busur. Sedimentasi sangat asimetris, dengan sebagian besar sedimen dipasok dari
busur magmatik aktif yang regresi sejalan dengan rollback parit.
Konfigurasi cekungan pada daerah Sumatra berhubungan langsung dengan kehadiran dari
subduksi yang menyebabkan non-volcanic fore-arc dan volcano-plutonik back-arc. Sumatra
dapat dibagi menjadi 5 bagian (Darman dan Sidi, 2000):
1. Sunda outer-arc ridge, berada sepanjang batas cekungan fore-arc sunda dan
memisahkan dari lereng trench.
2. Cekungan fore-arc sunda, terbentang antara akresi non-vulkanik punggungan outerarc dengan bagian di bawah permukaan dan volkanik back-arc sumatra.
3. Cekungan back-arc sumatra,meliputi cekungan sumatera utara,tengah,dan
selatan.Sistem ini berkembang sejalan dengan depresi yang berbeda pada bagian
bawah bukit barisan.
4. Bukit barisan,terjadi pada bagian axial dari pulaunya dan terbentuk terutama pada
perm-karbon hingga batuan mesozoik.
5. Intra-arc Sumatra,dipisahkan oleh uplift berikutnya dan erosi dari daerah
pengendapan terdahulu sehingga memiliki litologi yang mirip pada fore arc dan backarc basin.
Tektonik Regional
Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier penghasil hidrokarbon
terbesar di Indonesia. Ditinjau dari posisi tektoniknya, Cekungan Sumatra tengah merupakan
cekungan belakang busur.
Cekungan

Sumatra

tengah

ini

relatif

memanjang

Barat

laut-Tenggara,

dimana

pembentukannya dipengaruhi oleh adanya subduksi lempeng Hindia-Australia dibawah


lempeng Asia Batas cekungan sebelah Barat daya adalah Pegunungan Barisan yang tersusun
oleh batuan pre-Tersier, sedangkan ke arah Timur laut dibatasi oleh paparan Sunda. Batas
tenggara cekungan ini yaitu Pegunungan Tigapuluh yang sekaligus memisahkan Cekungan
Sumatra tengah dengan Cekungan Sumatra selatan. Adapun batas cekungan sebelah barat laut
yaitu Busur Asahan, yang memisahkan Cekungan Sumatra tengah dari Cekungan Sumatra
utara.

Proses subduksi lempeng Hindia-Australia menghasilkan peregangan kerak di bagian bawah


cekungan dan mengakibatkan munculnya konveksi panas ke atas dan diapir-diapir magma
dengan produk magma yang dihasilkan terutama bersifat asam, sifat magma dalam dan
hipabisal. Selain itu, terjadi juga aliran panas dari mantel ke arah atas melewati jalur-jalur
sesar. Secara keseluruhan, hal-hal tersebutlah yang mengakibatkan tingginya heat flow di
daerah cekungan Sumatra tengah (Eubank et al., 1981 dalam Wibowo, 1995).
Faktor pengontrol utama struktur geologi regional di cekungan Sumatra tengah adalah adanya
Sesar Sumatra yang terbentuk pada zaman kapur. Subduksi lempeng yang miring dari arah
Barat daya pulau Sumatra mengakibatkan terjadinya strong dextral wrenching stress di
Cekungan Sumatra tengah (Wibowo, 1995). Hal ini dicerminkan oleh bidang sesar yang
curam yang berubah sepanjang jurus perlapisan batuan, struktur sesar naik dan adanya flower
structure yang terbentuk pada saat inversi tektonik dan pembalikan-pembalikan struktur.
Selain itu, terbentuknya sumbu perlipatan yang searah jurus sesar dengan penebalan sedimen
terjadi pada bagian yang naik (inverted) (Shaw et al., 1999).
Struktur geologi daerah cekungan Sumatra tengah memiliki pola yang hampir sama dengan
cekungan Sumatra Selatan, dimana pola struktur utama yang berkembang berupa struktur
Barat laut-Tenggara dan Utara-Selatan (Eubank et al., 1981 dalam Wibowo, 1995). Walaupun
demikian, struktur berarah Utara-Selatan jauh lebih dominan dibandingkan struktur Barat
lautTenggara.
Elemen tektonik yang membentuk konfigurasi Cekungan Sumatra tengah dipengaruhi adanya
morfologi High Low pre-Tersier. Pada gambar 4 dapat dilihat pengaruh struktur dan
morfologi High Low terhadap konfigurasi basin di Cekungan Sumatra tengah (kawasan
Bengkalis Graben), termasuk penyebaran depocenter dari graben dan half graben. Lineasi
Basement Barat laut-Tenggara sangat terlihat pada daerah ini dan dapat ditelusuri di
sepanjang cekungan Sumatra tengah. Liniasi ini telah dibentuk dan tereaktivasi oleh
pergerakan tektonik paling muda (tektonisme Plio-Pleistosen). Akan tetapi liniasi basement
ini masih dapat diamati sebagai suatu komponen yang mempengaruhi pembentukan formasi
dari cekungan Paleogen di daerah Cekungan Sumatra tengah.
Sejarah tektonik cekungan Sumatra tengah secara umum dapat disimpulkan menjadi beberapa
tahap, yaitu :

1. Konsolidasi Basement pada zaman Yura, terdiri dari sutur yang berarah Barat lautTenggara.
2. Basement terkena aktivitas magmatisme dan erosi selama zaman Yura akhir dan
zaman Kapur.
3. Tektonik ekstensional selama Tersier awal dan Tersier tengah (Paleogen)
menghasilkan sistem graben berarah Utara-Selatan dan Barat laut-Tenggara. Kaitan
aktivitas tektonik ini terhadap paleogeomorfologi di Cekungan Sumatra tengah adalah
terjadinya perubahan lingkungan pengendapan dari longkungan darat, rawa hingga
lingkungan lakustrin, dan ditutup oleh kondisi lingkungan fluvial-delta pada akhir
fase rifting.
4. Selama deposisi berlangsung di Oligosen akhir sampai awal Miosen awal yang
mengendapkan batuan reservoar utama dari kelompok Sihapas, tektonik Sumatra
relatif tenang. Sedimen klastik diendapkan, terutama bersumber dari daratan Sunda
dan dari arah Timur laut meliputi Semenanjung Malaya. Proses akumulasi sedimen
dari arah timur laut Pulau Sumatra menuju cekungan, diakomodir oleh adanya
struktur-struktur berarah Utara-Selatan. Kondisi sedimentasi pada pertengahan Tersier
ini lebih dipengaruhi oleh fluktuasi muka air laut global (eustasi) yang menghasilkan
episode sedimentasi transgresif dari kelompok Sihapas dan Formasi Telisa, ditutup
oleh episode sedimentasi regresif yang menghasilkan Formasi Petani.
5. Akhir Miosen akhir volkanisme meningkat dan tektonisme kembali intensif dengan
rejim kompresi mengangkat pegunungan Barisan di arah Barat daya cekungan.
Pegunungan Barisan ini menjadi sumber sedimen pengisi cekungan selanjutnya (later
basin fill). Arah sedimentasi pada Miosen akhir di Cekungan Sumatra tengah berjalan
dari arah selatan menuju utara dengan kontrol struktur-struktur berarah utara selatan.
6. Tektonisme Plio-Pleistosen yang bersifat kompresif mengakibatkan terjadinya inversiinversi struktur Basement membentuk sesar-sesar naik dan lipatan yang berarah Barat
laut-Tenggara. Tektonisme Plio-Pleistosen ini juga menghasilkan ketidakselarasan
regional antara formasi Minas dan endapan alluvial kuarter terhadap formasi-formasi
di bawahnya
Mengapa di back arc basin kaya akan hydrocarbon?
Back arc basin (bab) cenderung lebih kaya akan hydrokarbon dibandingkan fore arc basin
(fac) karena aktivitas tektonik di daerah bab relatif jarang dibandingkan fab. Di fab
mekanisme penghancuran atau penghilangan hidrokarbon lebih sering muncul karena
aktivitas tektonik fab yang intens (subduksi yang kontinu) menghasilkan zona-zona lemah,

patahan dsb. Patahan membuat hidrokarbon bermigrasi ke permukaan dan menguap atau
karena tekanan dan temperatur yang ekstrim akibat aktivitas tektonik membuat hidrokarbon
"terbakar". di bab aktivitas-aktivitas di atas hampir tidak ada, bahkan aktivitas tektonik bab
berada puluhan km di bawah perangkap hidrokarbon (bandingkan dengan kedalaman
Wadatti-Benioff Zone). Oleh karena itu sedimen dan zat-zat organik lebih stabil terakumulasi
di daerah ini (bab) sehingga menghasilkan hidrokarbon yang relatif lebih besar pula
Lingkungan pengendapan di belakang arc basin pada kerak samudera juga laut dalam, kecuali
di sepanjang batas di mana fluviatile, pesisir, dan lingkungan pengendapan laut dangkal
mungkin ada. Karig dan Moore (1975) menyajikan model

evolusi backarc cekungan

berdasarkan contoh di Pasific Barat. Pada Mulanya membaji,batuan vulkanik terlepas dan
membentuk Interfinger dengan latarbelakang pelangic clays. dan sebagai penurunan terus
berlanjut dan melampaui suplai sedimen, dasar laut yang biasanya turun di bawah kedalaman
kompensasi karbonat (CCD) sehingga basin mengumpulkan banyak silika dari pada
calcareous clays (lempung karbonatan). Dekatnya benua memungkinkan menambah clastic
wedges ke pinggiran daratan basin.
Perluasan Backarc tidak biasanya ada di kerak benua karena biasanya menekan bersamasama. Namun, beberapa daerah benua balik batas laut benua konvergen yang berada di bawah
akan atau telah mengalami perluasan. Basin yang ada di beberapa provinsi di barat USA
adalah contohnya. Areanya secara substansial terangkat ke wilayah ketinggian 2 km sampai 3
km untuk half-graben dan graben dapat mencapai 3 km ke sedimen darat. Basin Pannonian,
berlokasi di selatan Carpathians (Burchfiel and Royden 1982) dimungkinkan juga
dikarenakan penyebaran backarc.

(Evolution back-arc basin)