Anda di halaman 1dari 9

Nama : Nabila Suri Oktaviani

NIM

: 141411048

Kelas : 1B D3 Teknik Kimia

A. PENDAHULUAN
Besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom 26. Besi merupakan logam yang
berada pada golongan VIII B dan periode 4. Kelimpahan besi di alam adalah sekitar 4,1
persen massa. Besi itu sendiri biasanya ditemukan dalam bentuk magnetit [Fe3O4],
hematite [Fe2O3], goethite [FeO(OH)], limonit [FeO(OH) . n H2O] atau siderite
[FeCO3].
Besi(II) sulfat atau fero sulfat adalah senyawa kimia dengan rumus FeSO4.n H2O.
Dikenal sejak zaman kuno sebagai copperas dan sebagai vitriol hijau, heptahidrat biruhijau adalah bentuk yang paling umum dari bahan ini. Semua besi sulfat larut dalam air
dan bersifat aquo complex [Fe(H2O)6]2+. Besi sulfat mempunyai geometri molekul
oktahedral dan bersifat paramagnetik.
I. Sifat Fisika dan Kimia
Rumus molekul

FeSO4. n H2O

Berat molekul

151,908 gr/mol (anhidrat);


169,92 gr/mol (monohidrat);

Penampilan
Densitas

278,05 gr/mol (heptahidrat)


Kristal biru-hijau atau putih(anhidrat)
2,84 gr/cm3 (anhidrat);
2,2 gr/cm3 (pentahidrat);

Titik leleh

2,84 gr/cm3 (heptahidrat)


90 C (dehidrasi heptahidrat menjadi
monohidrat);
340C (monohidrat melepaskan hidrat
terakhirnya);

Kelarutan dalam air

400 C (terurai)
25,6 gr/100mL (anhidrat);
48,6 gr/100 mL (heptahidrat) pada 50 C

Adapun bahaya, tercantum dalam indeks Uni Eropa: 026-003-00-7 (anhidrat);


026-003-01-4 (heptahidrat). Menurut klasifikasi Uni Eropa besi(II) sulfat termasuk
berbahaya (Xn) dan mengiritasi (Xi), namun besi(II) sulfat ini tidak mudah terbakar.
Besi (II) sulfat dapat dijumpai dalam berbagai keadaan hidrasi, dan beberapa
darinya terbentuk di alam.

FeSO4H2O (mineral: szomolnikite, relatif jarang)


FeSO44H2O (mineral: rozenite, putih, relatif biasa, mungkin produk dehidrasi
dari melanterite)
FeSO45H2O (mineral: siderotil, relatif jarang)
FeSO46H2O (mineral: ferroheksahidrit, relatif jarang)
FeSO47H2O (mineral: melanterite, biru-hijau, relatif biasa)

Gambar 1. Besi (II) Sulfat Pentahidrat


Pada suhu 90 C, heptahidrat kehilangan air untuk membentuk monohidrat tidak
berwarna. Dalam keadaan anhidrat, kristal, entalpi pembentukan standarnya ialah
fHsolid = -928,4 kJmol1 dan entropi molar standarnya adalah Spadat = 107,5
JK1mol1. Semua bentuk mineral tersebut sehubungan dengan zona oksidasi bed
bijih bantalan-Fe (pyrite, marcasite, chalcopyrite, dst) dan terkait dengan lingkungan
(seperti situs kebakaran batubara). Banyak yangt menjalani dehidrasi cepat dan
kadang-kadang oksidasi
B. Reaksi Kimia
1. Pada pemanasan, besi (II) sulfat, akan terjadi proses dimana kandungan air pada
kristalnya akan menghilang dan semua Kristal akan berwarna hijau, kemudian
berubah menjadi zat padat anhidrat berwarna coklat. Saat dipanaskan lebih lanjut,
bahan anhidrat melepaskan sulfur dioksida dan asap putih dari sulfur trioksida,
meninggalkan besi(III) oksida coklat-kemerahan. Dekomposisi besi(II) sulfat mulai
pada kira-kira 480 C.
Reaksi :
2 FeSO4 Fe2O3 + SO2 + SO3

2. Seperti semua garam besi(II), besi(II) sulfat adalah reduktor. Misalnya, mereduksi
asam nitrat menjadi nitrogen oksida dan klor menjadi klorida:
Reaksi :
6 FeSO4 + 3 H2SO4 + 2 HNO3 3 Fe2(SO4)3 + 4 H2O + 2 NO
6 FeSO4 + 3 Cl2 2 Fe2(SO4)3 + 2 FeCl3
3. Pada pemaparan terhadap udara, ia teroksidasi membentuk karat coklat-kuning yang
melapisi dasar ferri sulfat, yang merupakan hasil adisi (adduct) dari ferri oksida dan
ferri sulfat:
Reaksi :
12FeSO4 + 3 O2 4 Fe2(SO4)3 + 2 Fe2O3
C. Skema Pembuatan FeSO4 pada skala industri
1. Dari perlakuan Baja yang dilewatkan kedalam Asam Sulfat.

Penjelasan Singkat :
Sebelum baja dilapisi dengan logam lain, terlebih dahulu baja harus dilewatkan
kedalam H2SO4. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kandungan Besi anhidrat pada
baja. Baja yang berbentuk persegi panjang dilewatkan kedalam H 2SO4 dalam sebuah bak.
Setelah itu cairan H2SO4 yang sudah digunakan difiltrasi agar FeSO 4 yang dihasilkan
tidak tercampur oleh zat apapun setelah perlakuan baja tersebut. Filtrat dipanaskan,
didinginkan dan dikristalisasi. FeSO4 yang dihasilkan adalah produk samping dari
perlakuan baja tersebut. Baja telah siap untuk dilapisi oleh logam lain agar lebih tahan
terhadap korosi.
Walaupun sebagai produk samping, FeSO4 tersebut dimanfaatkan kembali oleh
beberapa pabrik dan perusahaan sebagai bahan utama pembuatan produk lain, seperti
pembuatan tablet besi untuk penambah darah.
Reaksi Kimia yang terjadi adalah :

Fe + H2SO4 FeSO4 + H2

2. Hasil samping dari produksi Titanium Dioksida ( TiO2 )

Ilmenit
Kristalisasi
FeSO
FeSO4 4
dan
kering
cair
Filtrasi
Filtrat
Pengeringan
Pendinginan

H2SO4
Reaktor
Kolom
dipanaskan
destilasi

Kristalisasi
TiO2
dan
kering
Basah
Pengeringan
Pendinginan

Penjelasan Singkat :

Ilmenite ( FeTiO3 ) yaitu batuan mineral magnetik berwarna hitam yang terkandung
dalam batuan metamorf dan plutonik. FeTiO3 merupakan sebuah Titanium oksida besi dalam
bentuk Kristal, sehingga Ilmenite merupakan salah satu sumber Titanium. Ilmenite berstruktur
sangat keras sehingga sangat sulit untuk dihancurkan.
Untuk membuat Ilmenite hancur, maka Ilmenite direaksikan dengan H 2SO4 yang
merupakan asam kuat sehingga Ilmenite akan hancur. Ketika bereaksi dalam Reaktor, suhu yang
dihasilkan sangat tinggi. Penghancuran Ilmenite dalam H2SO4 ini memerlukan waktu yang cukup
lama, 4 jam. Setelah hancur, maka hasil reaksi akan masuk kedalam kolom Distilasi untuk
memisahkan FeSO4 cair dengan TiO2 dalam kondisi basah. TiO2 yang dihasilkan tidak perlu
disaring lagi karena sudah murni (tidak sebagai residu) sehingga hanya perlu dikristalisasi
kemudian dikeringkan.
FeSO4 cair yang terbentuk harus disaring kembali agar FeSO4 yang dihasilkan benarbenar tidak tercampur oleh zat apapun. Filtrat yang dihasilkan dipanaskan, dikristalisasi,
didinginkan kemudian dikeringkan.
Reaksi yang terjadi adalah :

2FeSO4 + 3TiO2 + 4H+

2FeTiO3 + 2H2SO4

3. Oksidasi Pyrite

FeS2
Reaktor

Filtrat4
FeSO
Pengeringan
O2Filtrasi
cair

Kolom Destilasi

Filtrat
H
2SO4
Filtrasi
H2O
Pendinginan

Dipanaskan

Kristalisasi dan pendinginan

FeSO4
padat

Penjelasan Singkat :
Pyrite merupakan mineral sulphida yang umum ditemukan pada kegiatan
penambangan, terutama batubara. Reaksi oksidasi pyrite adalah seperti ditunjukkan oleh reaksi

kimia berikut, dengan air dan oksigen sebagai faktor penting, karena tanpa adanya air dan
oksigen, maka FeSO4 tidak akan terbentuk akibat FeS2 yang tidak terurai.

FeS2 direaksikan kedalam Reaktor dengan O2 dan H2O. suhu yang dibutuhkan untuk
reaksi ini adalah 350 C yang harus dijaga konstan. Reaksi ini memerlukan waktu 3 jam.
Setelah itu, hasil reaksi akan masuk kedalam Kolom Distilasi untuk memisahkan FeSO 4 cair
dengan H2SO4 cair. FeSO4 cair yang dihasilkan selanjutnya difiltrasi agar FeSO 4 padat yang
dihasilkan tidak bercampur dengan zat kimia lainnya. Setelah itu, dilakukan kristalisasi dan
pendinginan, kemudian dikeringkan. H2SO4 yang dihasilkan harus difiltrasi terlebih dahulu agar
tidak ada campuran zat lain, dipanaskan, kemudian didinginkan.
Reaksi Kimia yang terjadi adalah :

2 FeS2 + 7 O2 + 2 H2O 2 FeSO4 + 2 H2SO4

D. Kegunaan FeSO4 di Industri

1. Pengolahan limbah cair dengan kapasitas 5 m3 yang bersifat asam dengan pH = 4 dan
konsentrasi Cr6+ sebesar 15 mg/m3. FeSO4 berfungsi sebagai reduktor Cr+6 menjadi
Cr+3.
2. Sumber mineral besi untuk terapi defisiensi atau kekurangan zat besi.
3. Pembuatan tinta bubuk.
4. Mordan untuk pencelupan wol.
5. Desinfektan.
6. Copperas; Ferrisulphas; Copperas hijau; Vitriol hijau.
7. Prekusor senyawa besi.
8. Pelapis Baja.
9. Pewarna kain dan kayu.
10. Membunuh Lumut.
E. Simpulan
1. FeSO4 dalam skala industri memiliki berbagai macam kegunaan.
2. Dari skema pembuatan di lingkungan industri, mayoritas FeSO4 dihasilkan sebagai
produk samping.

DAFTAR PUSTAKA
http://v-clean.blogspot.com/2012/06/titania-si-putih-yang-mengesankan.html
http://www.kimiafarma.co.id/detail_full.php?a=27
http://fiber-tekim.blogspot.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Iron%28II%29_sulfate
http://airasamtambang.info/apaituaat/
Modul Praktikum Satuan Proses 1.

Beri Nilai