Anda di halaman 1dari 5

JURNAL FISIKA LABORATORIUM ELEKTRONIKA INSTRUMENTASI, (2013) I

Operational Amplifier
Fajar Timur, Rahmadani Achdiyat.
Jurusan Fisika, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: fajar11@mhs.physics.its.ac.id
Abstrak Telah dilakukan percobaan dengan judul Operational
Amplifier, Percobaan dilakukan dengan tujuan untuk
Mengetahui fungsi Op-Amp (Penguat Operational) dan
penggunaanya serta untuk mempelajari dan menggunakan OpAmp Inverting dan Non-Inverting. Peralatan yang digunakan
dalam percobaan kali ini antara lain IC Op Amp LM741,
Resistor 1 kOhm (Multitune resistor) & 10 K, Osilokop, AVO
meter, Signal generator, dan Catu daya. Percobaan Dilakukan
dengan dua rangkaian yakni Inverting Op-Amp dan NonInverting Op-Amp. Berdasarkan percobaan yang telah

dilakukan, diketahui bahwa operational amplifier


merupakan komponen sirkuit terintegrasi yang dapat
dirangkai menjadi inverting op-amp dan
non-inverting op-amp. Pada rangkaian
inverting op-amp sinyal yang dihasilkan
akan dikuatkan namun dengan polaritas
yang berbeda dan pada rangkaian noninverting op-amp sinyal yang dihasilkan
akan dikuatkan dengan polaritas sama. Pada
rangkaian inverting dan non-inverting
keduanya memiliki selisih antara besar
tegangan keluaran (V out) hasil percobaan
dan perhitungan.

ketika itu sirkuit elektronika dasar dibuat dengan menggunakan


tabung vakum. Penguat operasional yang tersedia secara
komersial pertama kali adalah K2-W yang diproduksi oleh
Philbrick Research dari Boston sekitar tahun 1952-1970. Pada
mulanya op-amp digunakan dalam rangkaian pengaturan dan
instrumentasi. Fungsi utamanya adalah untuk melakukan
operasi linier matematika (tegangan dan arus), integrasi, dan
penguatan.
Op-amp kini dapat dijumpai dalam berbagai bidang. Penerapan
op-amp yang sering dijumpai adalah sebagai penguat audio,
pengatur nada, osilator atau pembangkit gelombang, sensor
sirkuit, dan lain-lain.[1]

Kata KunciOperational Amplifier (Op-Amp),


Inverting Op-Amp, Non-Inverting Op-Amp.

I. PENDAHULUAN
Peralatan elektronika memegang peranan
penting dalam kehidupan manusia saat ini.
Hampir dapat dikatakan manusia bergantung
pada penggunaan peralatan elektronika dalam
menjalani aktivitas sehari-hari. Salah satu
komponen elektronika yang sering dijumpai
dalam rangkaian elektronika adalah Operational Amplifier (OpAmp) Pada percobaan kali ini akan dipelajari berbagai hal yang
terkait dengan Operational Amplifier (Op-Amp) Percobaan
dilakukan dengan tujuan untuk Mengetahui fungsi Op-Amp
(Penguat Operational) dan penggunaanya serta untuk
mempelajari dan menggunakan Op-Amp Inverting dan NonInverting
1.1 Operational Amplifier
Penguat operasional (Operational Amplifier) atau yang biasa
disebut op-amp merupakan suatu komponen elektronika berupa
sirkuit terintegrasi (integrated circuit) yang terdiri atas bagian
differensial amplifier, common emitter amplifier dan bagian
umpan balik negatif (negative feedback). Op-amp pada
umumnya paling banyak digunakan adalah seri 741. Awal dari
penggunaan penguat operasional adalah sekitar tahun 1940-an,

1.2 Non-Inverting Op-Amp


Berikut ini adalah konfigurasi Op Amp yang bekerja sebagai
penguat:

Gambar 1.1
Rangkaian penguat non inverting
Gambar di atas adalah gambar sebuah penguat non
inverting. Penguat tersebut dinamakan penguat noninverting
karena masukan dari penguat tersebut adalah masukan
noninverting dari Op Amp. Sinyal keluaran penguat jenis ini
sefasa dengan sinyal keluarannya. Adapun besar penguatan dari
penguat ini dapat dihitung dengan persamaan:

JURNAL FISIKA LABORATORIUM ELEKTRONIKA INSTRUMENTASI, (2013) I


Av = (R1+R2)/R1............................................................... 1.1
Av = 1+R2/R1.................................................................... 1.2
Vout = V in . (R1+R2)/R1.................................................. 1.3

Pengulangan ini menyebabkan bentuk sinyal kontinyu sehingga


dapat dipelajari. [3]

Dimana Av adalah besar penguatan (gain), R1 dan R2 adalah


resistor, V out adalah tegangan keluaran dan V in adalah
tegangan masukkan.[2]
1.3 Inverting Op-Amp
Selain penguat noninverting, terdapat pula konfigurasi penguat
inverting. Dari penamaannya, maka dapat diketahui bahwa
sinyal masukan dari penguat jenis ini,diterapkan pada masukan
inverting dari Op Amp, yaitu masukan dengan tanda .
Sinyal masukan dari pengaut inverting berbeda fasa sebesar
1800 dengan sinyal keluarannya. Jadi jika ada masukan positif,
maka keluarannya adalah negatif. Berikut ini adalah skema dari
penguat inverting:

Gambar 1.3
Perangkat Osiloskop
Osiloskop biasanya digunakan untuk mengamati
bentuk gelombang yang tepat dari sinyal listrik.
Selain
amplitudo
sinyal,
osiloskop
dapat
menunjukkan distorsi, waktu antara dua peristiwa
(seperti lebar pulsa, periode, atau waktu naik) dan
waktu relatif dari dua sinyal terkait. Semua alat
ukur elektronik bekerja berdasarkan sampel data,
semakin tinggi sampel data, semakin akurat peralatan
elektronik tersebut. Osiloskop, pada umumnya juga
mempunyai sampel data yang sangat tinggi, oleh
karena itu osiloskop merupakan alat ukur elektronik
yang mahal. Jika sebuah osiloskop mempunyai
sampel rate 10 Ks/s (10 kilo sample/second = 10.000
data per detik), maka alat ini akan melakukan
pembacaan sebanyak 10.000 kali dalam sedetik. Jika
yang
diukur
adalah
sebuah
gelombang
dengan frekuensi 2500Hz, maka setiap sampel akan
memuat data 1/4 dari sebuah gelombang penuh
yang kemudian akan ditampilkan dalam layar dengan
grafik skala XY. [4]

II.METODE

Gambar 1.2
Rangkaian penguat inverting
Av = R2/R1.................................................................... 1.4
Vout = V in . R2/R1....................................................... 1.5
[2]
1.3 Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi
memproyeksikan bentuk sinyal listrik agar dapat dilihat dan
dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar katode.
Peranti pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke
layar tabung sinar katode. Sorotan elektron membekas pada
layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop menyebabkan
sorotan bergerak berulang-ulang dari kiri ke kanan.

Peralatan yang digunakan dalam percobaan kali ini


antara lain IC Op Amp LM741, Resistor 1 k (Multitune
resistor) & 10 kOhm, Osilokop, AVO meter, Signal generator,
Catu daya.
Langkah Percobaan
Inverting Amplifier
Langkah pertama dalam percobaan ini adalah merangkai
peralatan sesuai dengan skema kerja, setelah itu dihubungkan
V+= 12 v; V- = -12 v, dan juga RF dan RS yang sebelumnya
telah diukur besarnya dengan AVO meter. Setelah itu rangkaian
dihubungkan dengan Generator. Langkah berikutnya adalah
memasang probe Ch 1 osiloskop pada input dari sinyal
generator dan probe Ch2 ke Vout. Setelah peralatan dirangkai
maka dinyalakan catu daya yang merupakan sumber dari V+
dan V- lalu dinyalakan juga signal generator dengan range

JURNAL FISIKA LABORATORIUM ELEKTRONIKA INSTRUMENTASI, (2013) I


frekuensi 5kHz-100 kHz . Sinyal input dan output yang tampak
pada layar osiloskop lalu diamati dan data yang tertera pada
layar dicatat.

Gambar 1.1
Skema Rangkaian Percobaan Inverting Amplifier
Besar penguatan Av (gain) dan V out dihitung dengan
persamaan berikut:
Av = -RF/RS.................................................................... 2.1
Vout = V in . RF/RS........................................................ 2.2
Non-Inverting Amplifier
Secara garis besar langkah percobaan ini hampir sama
dengan percobaan pertmana namun dengan rangkaian yang
berbeda. Adapun langkah kerjanya adalah proses pertama
dalam percobaan ini adalah merangkai peralatan sesuai dengan
skema kerja, setelah itu dihubungkan V+= 12 v; V- = -12 v,
dan juga RF dan RS yang sebelumnya telah diukur besarnya
dengan AVO meter. Setelah itu rangkaian dihubungkan dengan
Generator. Langkah berikutnya adalah memasang probe Ch 1
osiloskop pada input dari sinyal generator dan probe Ch2 ke
Vout. Setelah peralatan dirangkai maka dinyalakan catu daya
yang merupakan sumber dari V+ dan V- lalu dinyalakan juga
signal generator dengan range frekuensi 5kHz-100 kHz .

Sinyal input dan output yang tampak pada layar osiloskop lalu
diamati dan data yang tertera pada layar dicatat.

Gambar 2.2
Skema Rangkaian Percobaan Non-Inverting Amplifier
Besar penguatan Av (gain) dan V out dihitung dengan
persamaan berikut:
Av = 1+RF/RS.................................................................... 2.3
Vout = V in . (RS+RF)/RS.................................................. 2.4
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah dilakukan percobaan, didapatkan data sebagai berikut
Tabel 1
Hasil Percobaan Inverting Amplifier

JURNAL FISIKA LABORATORIUM ELEKTRONIKA INSTRUMENTASI, (2013) I

terdapat selisih, besar selisih ini akan semakin mengecil apabila


Freq (KHz)
RF (K)
nilai gain semakin kecil juga. Berdasarkan fenomena ini
13.84
7.9
diketahui bahwa terdapat hubungan berbanding lurus antara
29.76
7.9
selisih nilai tegangan keluaran (V out) hasil perhitungan dan
39.68
5.9
percobaan dengan besar gain yang digunakan
49.02
4.9
Tabel 2
no
Vin
(Volt)
59.52
3.9 V out (Volt) Freq (KHz) RF (KOhm)
Hasil
Percobaan
Non1 2
10
9.9
69.44
3 26
Inverting Amplifier
2 2
20
9
78.13
2 24
3
3
22
30
8
Pada percobaan kedua juga
86.21
0.9
digunakan
nilai RS sebesar 1
4
3
18
40
7
9.69
10
K.
Percobaan
ini dilakukan
5
3
16
50
6
19.69
9
dengan
terlebih
dulu
6 3
14
60
5
mengkalibrasi
peralatan
7 3
12
70
4
osiloskop agar sinyal yang
Pada percobaan ini digunakan 8 3
dihasilkan oleh rangkaian yakni
9
80
3
nilai RS sebesar 1 K.
V input dari Signal Generator
9 3
7
90
2
Percobaan ini dilakukan dengan
dapat dibandingkan dengan
5
100
1
terlebih dulu mengkalibrasi 10 3
sinyal
keluaran
(V
out)
peralatan osiloskop agar sinyal yang dihasilkan oleh rangkaian
rangkaian op-amp. Pada saat dilakukan percobaan sempat
yakni V input dari Signal Generator dapat dibandingkan dengan
terjadi kesalahan pada tampilan layar osiloskop, pada awalnya
sinyal keluaran (V out) rangkaian op-amp. Setelah dilakukan kesalahan tampilan ini dianggap sebagai akibat dari kesalahan
kalibrasi diketahui bahwa terdapat perbedaan antara V input dalam merangkai peralatan. Peralatan lalu coba dirangkai
dari Signal Generator dan sinyal keluaran (V out) rangkaian op- kembali dengan bantuan asisten laboratorium, namun ternyata
amp. Sinyal yang dihasilkan tampak berbeda polaritasnya dan saat dilakukan perangkaian terdapat insiden kecil dimana
selain itu juga besar amplitudonya berbeda, dalam hal ini komponen op-amp terbakar. Setelah komponen op-amp diganti
amplitudo menyatakan besar tegangan. Besar tegangan
dengan yang baru dan peralatan sudah dirangkai kembali
keluaran ternyata lebih besar dari tegangan masukkan. Hal ini ternyata tampilan sinyal pada layar osiloskop masih tidak
sesuai dengan dasar teori yang menyatakan bahwa komponen sesuai dengan yang diharapkan, setelah diselidiki lebih lanjut
op-amp dapat dirangkai dengan komponen lain yang akan ternyata kesalahan bukan terletak pada rangkaian namun pada
menghasilkan rangkaian inverting op-amp, rangkaian inverting peralatan osiloskop. Setelah peralatan osiloskop diganti dan
op-amp akan menghasilkan penguatan pada tegangan namun dilakukan kalibrasi, diketahui bahwa terdapat perbedaan antara
dengan polaritas yang berbeda
V input dari Signal Generator dan sinyal keluaran (V out)
rangkaian op-amp. Sinyal yang dihasilkan tampak sama
Data yang diperoleh dari percobaan lalu digunakan untuk polaritasnya namun besar amplitudonya berbeda, dalam hal ini
menghitung besar gain dari rangkaian Inverting op-amp amplitudo menyatakan besar tegangan. Besar tegangan
tersebut. Besar gain dapat dihitung melalui persamaan 2.1 dan keluaran ternyata lebih besar dari tegangan masukkan. Hal ini
besar tegangan keluaran (V out) lalu dihitung dengan sesuai dengan dasar teori yang menyatakan bahwa rangkaian
persamaan 2.2
non-inverting op-amp akan menghasilkan rangkaian penguat
dengan polaritas yang sama.
Tabel 3
Hasil perhitungan besar Gain, V out, dan selisih V out
Gain
V out Perhitungan selisih V out (Volt)
-7.9
-27.65
6.65
-7.9
-27.65
7.65
-5.9
-20.65
3.65
-4.9
-17.15
3.15
-3.9
-13.65
2.65
-3
-10.5
1.5
-2
-7
2
-0.9
-3.15
-0.35
-10
-35
7
-9
-31.5
6.5
no
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Vin (Volt)
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5
3.5

V out (Volt)
21
20
17
14
11
9
5
3.5
28
25

Setelah dilakukan perhitungan maka hasil tegangan keluaran


dari perhitungan dan percobaan lalu dianalisa. Berdasarkan
analisa nilai tegangan percobaan dan perhitungan tenyata

JURNAL FISIKA LABORATORIUM ELEKTRONIKA INSTRUMENTASI, (2013) I


3
2

Gambar 3.1
Perbedaan Sinyal masukkan (input) dan sinyal keluaran
(output) pada rangkaian non-inverting op-amp
Data yang diperoleh dari percobaan lalu digunakan untuk
menghitung besar gain dari rangkaian Inverting op-amp
tersebut. Besar gain dapat dihitung melalui persamaan 2.3 dan
besar tegangan keluaran (V out), dihitung dengan persamaan
2.4
Tabel 4
Hasil perhitungan besar Gain, V out, dan selisih V out
Gain
V out Perhitungan selisih V out (Volt)
10.9
21.8
-4.2
10
20
-4
9
27
5
8
24
6
7
21
5
6
18
4
5
15
3
4
12
3

9
6

5
2
1

Setelah dilakukan perhitungan maka hasil tegangan keluaran


dari perhitungan dan percobaan lalu dianalisa. Berdasarkan
analisa nilai tegangan percobaan dan perhitungan tenyata
terdapat selisih, namun besar selisih ini memiliki nilai yang
tidak menentu. Besar selisih ini tidak memiliki hubungan
berbanding lurus sebagaimana pada percobaan dengan
inverting op-amp
V. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diketahui
bahwa operational amplifier merupakan komponen sirkuit
terintegrasi yang dapat dirangkai menjadi inverting op-amp dan
non-inverting op-amp. Pada rangkaian inverting op-amp sinyal
yang dihasilkan akan dikuatkan namun dengan polaritas yang
berbeda. Pada rangkaian non-inverting op-amp sinyal yang
dihasilkan akan dikuatkan dengan polaritas sama. Pada
rangkaian inverting dan non-inverting keduanya memiliki
selisih antara besar tegangan keluaran (V out) hasil percobaan
dan perhitungan.