Anda di halaman 1dari 5

Accounting Mathematics

Posted on 15 December 2009


Minggu lalu saya bertemu dengan dosen saya yang bernama Dr. Sony Warsono,
MAFIS., Ak. Beliau ini adalah dosen pengampu matakuliah Sistem Informasi
Akuntansi ketika saya masih kuliah dulu.
Saat bertemu, beliau berkata bahwa beliau sedang memiliki obsesi dalam suatu
hal. Kemudian beliau bertanya, Apa itu debit dan apa itu kredit? Kenapa kok
akuntansi itu debit dan kredit?
Saya menjawab bahwa istilah itu merupakan kesepakatan dalam pencatatan
double entry. Double entry itu digunakan untuk menunjukkan perubahanperubahan pada aset pemilik yang dikelola perusahaan. Sebagai contoh, kas
bertambah Rp10.000 (ini penulisan Rp yang benar). Kalau tidak menggunakan
double entry, pemilik tidak akan tahu kas bertambah Rp10.000 itu asalnya
darimana. Hal ini sejalan dengan konsep kesatuan usaha, yaitu perusahaan
terpisah dengan pemilik.
Kemudian Pak Sony bertanya lagi, Kenapa kok kalau aset bertambah itu didebit?
Terus kenapa biaya juga seperti itu?
Saya menjawab, karena sudah secara kesepakatan bahwa aset bertambah itu
didebit. Sedangkan biaya juga didebit karena untuk menunjukkan penurunan
aset (dikredit) asalnya darimana. Ini hampir serupa dengan, kenapa pendapatan
bertambah malah dikredit? Itu karena, untuk menunjukkan bertambahnya aset
(debit), karena ada pendapatan (kredit), dan pendapatan ini meningkatkan
ekuitas (ekuitas bertambah dikredit). Lebih jelasnya lagi, pendapatan naik, laba
naik, laba menambah ekuitas, jadi ekuitas ikut naik.
Kemudian Pak Sony menjelaskan bahwa debit kredit itu memang benar bukan
tambah dan kurang. Buktinya pendapatan bertambah itu dikredit sedangkan
aset bertambah itu didebit. Debit kredit itu dari asal muasalnya berarti kiri
kanan. Nah, inilah yang seharusnya dimasukkan dalam pengajaran akuntansi,
sehingga mahasiswa tidak salah konsep. Lalu, kenapa kok kiri kanan? Bukan
depan belakang?
Setelah bertanya itu, Pak Sony menggambar persamaan akuntansi yaitu,
Aset = Kewajiban + Ekuitas
Dari persamaan ini, Pak Sony menjabarkan lagi menjadi
Aset = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan Biaya
Kemudian persamaan ini diturunkan lagi menjadi
Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan.
Setelah itu, Pak Sony berkata, lihat persamaan ini, ini jawaban kenapa Aset dan
Biaya bertambah sama-sama didebit, sedangkan pendapatan, kewajiban dan

ekuitas dikredit. Ini karena asalnya dari persamaan akuntansi. Persamaan


akuntansi ini juga menjelaskan kenapa akuntansi kok kiri-kanan, karena asalnya
memang dari persamaan matematika (matematika mengenal ruas kiri dan ruas
kanan persamaan).
Kemudian, saya berargumen bahwa persamaan akuntansi bukan merupakan
persamaan matematika, sehingga tidak bisa dibolak-balik seperti itu (baca buku
Teori Akuntansi karangan Suwardjono). Kenapa kok tidak bisa? Karena sebetulnya
persamaan akuntansi itu mau menunjukkan bahwa perusahaan itu mengelola
aset pemilik. Oleh karena itu, yang ditunjukkan dari persamaan akuntansi adalah
Aset sama dengan.
Selain itu, kalau dalam persamaan akuntansi Biaya dipindah ke kiri, esensi dari
persamaan akuntansi yang mau menunjukkan bahwa perusahaan mengelola
aset pemilik dan fungsi akuntansi melaporkan perubahan aset yang dikelola, jadi
tidak kena lagi.
Pak Sony Warsono kemudian menjawab, coba buktikan kalau persamaan
akuntansi memang benar-benar tidak bisa menjadi persamaan matematika.
Apakah Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan itu salah? Benar kan
secara matematika? Lalu kenapa tidak boleh?
Saya mulai berpikir lebih lanjut lagi, secara logis hal ini memang benar.
Kemudian Pak Sony berkata bahwa akuntansi itu terlalu jauh dibawa ke ilmu
sosial. Padahal dari asalnya, akuntansi debit kredit itu tertuang dalam buku
Summa de Aritmatica, Geometrica, Proportini et Proportionalita karangan Lucas
Pascioli (Bapak Akuntansi). Summa de Aritmatica itu kan buku matematika,
tetapi dalam perkembangannya akuntansi malah dibawa ke ilmu sosial. Ini yang
membuat ilmu akuntansi perkembangannya tidak banyak (disini ditulis ilmu
akuntansi, bukan standar atau praktek).
Argumen Pak Sony benar seacara logis. Tetapi kita tidak bisa memungkiri bahwa
akuntansi itu memang ilmu sosial, karena akuntansi dipengaruhi unsur
judgement, asumsi, perkiraan, politis. Bisa dibilang, tidak ada yang cukup eksak
dari akuntansi. Bahkan secara empiris kita bisa menemukan praktek akuntansi
yang berbeda-beda dari satu perusahaan dengan perusahaan yang lain, dan
tidak ada yang salah dari perusahaan-perusahaan ini. Malah kalau kita lihat lebih
lanjut, akuntansi memiliki standar akuntansi yang lebih mirip dengan hukum dan
perundang-undangan
(baik
dalam
pembuatannya
maupun
dalam
penggunaannya).
Kemudian, Pak Sony mengungkit definisi dari pendapatan yaitu, pendapatan
merupakan peningkatan ekuitas. Secara persamaan akuntansi, jika satu variabel
dari ruas kanan persamaan matematika naik (pendapatan) bersamaan dengan
naiknya variabel lain dari ruas kanan (ekuitas), tidak akan mungkin bisa. Ini jadi
mungkin karena ruas kanan naik (pendapatan) kemudian ruas kiri naik dulu
(aset), baru ruas kanan ikut naik (ekuitas).

Secara persamaan matematika, logika ini benar. Begitu juga secara aliran data
akuntansi.
Dalam persamaan Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan, ruas kiri
persamaan menunjukkan use of funds, sedangkan ruas kanan persamaan
menunjukkan source of funds.
Setelah itu, Pak Sony menjelaskan lagi, secara persamaan matematika ada hal
dalam akuntansi yang harusnya ada, malah jadi tidak ada. Beliau memberi
contoh, ada dua perusahaan yaitu TVRI dan Kompas. TVRI memasang iklan di
Kompas senilai Rp100.000.000, kemudian Kompas memasang iklan di TVRI
dengan nilai yang sama yaitu, Rp100.000.000. Kejadian ini kemudian dicatat
sebagai Biaya iklan (D) Rp100.000.000 pada Pendapatan Iklan (K)
Rp100.000.000. Hal ini logis karena secara persamaan, Aset + Biaya =
Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan. Naiknya ruas kiri (biaya) diikuti naiknya ruas
kanan (pendapatan). Hanya saja, kita akan jarang menemukan jurnal Biaya pada
Pendapatan untuk transaksi terkait dua entitas berbeda. Inilah yang dimaksud
Pak Sony, akuntansi malah membuat hal yang seharusnya ada (secara logika
matematika) jadi tidak ada.
Saat itu, saya berargumen bahwa kejadian barter diatas agak absurd. Secara
nyata, perusahaan jarang yang secara rasional mau melakukan barter. Tetapi
secara logis, hal ini benar.
Pada akhir pembicaraan, Pak Sony masih ingin mempertahankan pemikirannya
dan ingin saya mau untuk menerima hal ini. Saya sebetulnya sudah menerima
pemikiran Pak Sony sejak awal pembicaraan, hanya saya menggunakan prinsip
keilmuan, yaitu suatu ilmu harus tidak mudah untuk digoyahkan. Saya
mengatakan hal ini pada akhir pembicaraan. Pak Sony tersenyum dan berkata,
Tapi sekarang sudah goyah kan?
Saya tersenyum. Benar kata-kata beliau, saya jadi tertarik dengan pemikiran ini.
Kemarin, saya menceritakan hal ini dalam kuliah. Ternyata apa yang dikatakan
Pak Sony dalam contoh TVRI dan Kompas (barter) dan jurnal Biaya pada
Pendapatan dalam transaksi antar dua entitas berbeda, benar-benar terjadi
dalam praktek.
Mahasiswa saya bercerita bahwa Ia bekerja di perusahaan developer.
Perusahaan ini cukup sering melakukan barter. Contoh nyata yang dialami
mahasiswa saya adalah, pemasangan teralis untuk beberapa puluh rumah yang
ditukar dengan sebuah rumah jadi dengan nilai yang sama. Jurnalnya, Biaya
pemasangan teralis (D) pada Pendapatan penjualan rumah (K). Secara rasional,
perusahaan teralis dan developer ini merasa sama-sama untung untuk
melakukan transaksi barter, jadi kedua perusahaan ini mau melakukan hal ini.
Kenyataan inilah yang hilang dalam pengajaran akuntansi.
Sekarang, saya jadi benar-benar tertarik dengan Accounting Mathemathics. Anda
juga tertarik? Search di Google dengan keyword: Accounting Mathematics Sony
Warsono.

ABU, 20 JUNI 2012

apa itu debit dan kredit


Debit kredit itu dari asal muasalnya berarti kiri kanan. Nah, inilah yang
seharusnya dimasukkan dalam pengajaran akuntansi, sehingga mahasiswa tidak
salah konsep. Lalu, kenapa kok kiri kanan? Bukan depan belakang?
persamaan akuntansinya :
Aset = Kewajiban + Ekuitas
Dari persamaan ini, dijabarkan lagi menjadi
Aset = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan Biaya
Kemudian persamaan ini diturunkan lagi menjadi
Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan.
ini menjadi jawaban kenapa Aset dan Biaya bertambah sama-sama didebit,
sedangkan pendapatan, kewajiban dan ekuitas dikredit. Ini karena asalnya dari
persamaan akuntansi. Persamaan akuntansi ini juga menjelaskan kenapa
akuntansi kok kiri-kanan, karena asalnya memang dari persamaan matematika
(matematika mengenal ruas kiri dan ruas kanan persamaan).

buktikan kalau persamaan akuntansi memang benar-benar tidak bisa menjadi


persamaan matematika. Apakah Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas +
Pendapatan itu salah? Benar kan secara matematika? Lalu kenapa tidak boleh?
Padahal dari asalnya, akuntansi debit kredit itu tertuang dalam buku Summa de
Aritmatica, Geometrica, Proportini et Proportionalita karangan Lucas Pascioli
(Bapak Akuntansi). Summa de Aritmatica itu kan buku matematika, tetapi dalam
perkembangannya akuntansi malah dibawa ke ilmu sosial. Ini yang membuat
ilmu akuntansi perkembangannya tidak banyak (disini ditulis ilmu akuntansi,
bukan standar atau praktek).
Kita tidak bisa memungkiri bahwa akuntansi itu memang ilmu sosial, karena
akuntansi dipengaruhi unsur judgement, asumsi, perkiraan, politis. Bisa dibilang,
tidak ada yang cukup eksak dari akuntansi. Bahkan secara empiris kita bisa
menemukan praktek akuntansi yang berbeda-beda dari satu perusahaan dengan
perusahaan yang lain, dan tidak ada yang salah dari perusahaan-perusahaan ini.
Malah kalau kita lihat lebih lanjut, akuntansi memiliki standar akuntansi yang
lebih mirip dengan hukum dan perundang-undangan (baik dalam pembuatannya
maupun dalam penggunaannya).
Dalam persamaan Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan, ruas kiri
persamaan menunjukkan use of funds, sedangkan ruas kanan persamaan
menunjukkan source of funds.
Contoh, ada dua perusahaan yaitu TVRI dan Kompas. TVRI memasang iklan di
Kompas senilai Rp100.000.000, kemudian Kompas memasang iklan di TVRI
dengan nilai yang sama yaitu, Rp100.000.000. Kejadian ini kemudian dicatat
sebagai Biaya iklan (D) Rp100.000.000 pada Pendapatan Iklan (K)
Rp100.000.000. Hal ini logis karena secara persamaan, Aset + Biaya =
Kewajiban + Ekuitas + Pendapatan. Naiknya ruas kiri (biaya) diikuti naiknya ruas
kanan (pendapatan). Hanya saja, kita akan jarang menemukan jurnal Biaya pada
Pendapatan untuk transaksi terkait dua entitas berbeda. Inilah yang dimaksud
akuntansi malah membuat hal yang seharusnya ada (secara logika matematika)
jadi tidak ada.