Anda di halaman 1dari 11

Tips Merawat Kesehatan Gigi Anak

Senin, Mei 25, 2009 di 11:14 Oleh admin


Perawatan dan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sebaiknya dimulai sejak dini, dan masa
kanak-kanak adalah waktu yang tepat untuk itu. Orang tua memegang peranan penting disini
karena orang tua secara langsung setiap hari berinteraksi dengan anak dan bertanggung jawab
penuh terhadap kesehatan anak, khususnya kesehatan gigi. Berikut tips dan hal yang patut
menjadi perhatian para orang tua :

Berikan asupan kalsium yang cukup agar gigi anak anda kuat. Jumlah
asupan kalsium yang direkomendasikan untuk anak usia 4-8 tahun
adalah sebanyak 800mg. Susu adalah sumber kalsium yang cukup baik
untuk anak.

Hindari memberikan minuman gula dalam botol (susu botol) kepada bayi atau anak
anda. Mengapa? karena hal ini dapat menyebabkan kerusakan (karies/lubang) gigi,
terutama karies di bagian gigi depan anak anda. Jenis kerusakan gigi ini sangat cepat
perkembangannya.

Sikatlah gigi anak anda, jika mereka belum mampu menyikat gigi mereka sendiri. Lalu
ajarlah mereka menyikat gigi, hingga mereka dapat melakukannya sendiri. Awasi, cara
mereka menyikat gigi, apakah sudah tepat atau belum.

Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut Anak


Jangan anggap remeh kesehatan gigi dan mulut anak. Banyak orang tidak pernah
membayangkan bahwa masalah gigi dan mulut anak dapat berpengaruh pada perkembangan
anak.
Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut Anak

Oleh Siska Damayanti Heryaman


Jangan anggap remeh kesehatan gigi dan mulut anak. Banyak orang tidak pernah
membayangkan bahwa masalah gigi dan mulut anak dapat berpengaruh pada perkembangan
anak. Maka dari itu, betapa penting perhatian orangtua terhadap kesehatan gigi dan mulut anak,
terutama anak-anak yang masih balita. Sebab, kondisi gigi susu akan menentukan pertumbuhan
gigi tetap si anak.
Selain itu, bila anak memiliki gigi yang tidak sehat, dia akan sulit mencerna makanan sehingga
proses pertumbuhan si anak akan terganggu. Akibatnya, anak akan mudah terserang penyakit.
Setiap orangtua sebaiknya menanamkan suatu prinsip dalam dirinya bahwa anak-anak harus
bebas dari rasa sakit gigi dan memberi mereka awal kehidupan yang baik sehingga mereka

mampu bersaing di masa depan.


Pertumbuhan gigi pada anak ditandai dengan pemunculan gigi pada permukaan gusi dan diikuti
dengan perubahan posisi gigi dari dalam tulang pendukung gigi untuk menempati posisi
fungsionalnya dalam rongga mulut. Masa pemunculan gigi secara klinis merupakan suatu tanda
pertumbuhan seorang anak. Tahap pertama pertumbuhan gigi sangat jelas selama minggu
keenam dari kehidupan embrional.
Mulai tumbuhnya gigi merupakan proses penting pertumbuhan seorang anak. Orangtua harus
mengetahui cara merawat gigi anaknya. Orangtua juga harus meng-ajari anaknya cara merawat
gigi dengan baik, yaitu dengan memberi contoh cara menyikat gigi yang benar. Fungsi bicara
Salah satu fungsi gigi susu yang dianggap penting ialah perkembangan fungsi bicara.
Kemampuan menggunakan gigi-geligi untuk pengucapan didapatkan seluruhnya dengan bantuan
gigi susu. Gigi susu juga berperan dalam fungsi kosmetik dengan perkembangan penampilan
anak. Secara tidak langsung cara bicara anak dapat dipengaruhi jika terdapat kesadaran pada
dirinya akan kerusakan pada gigi, dan hal ini akan membuatnya malu ketika membuka mulut
saat bicara.
Perawatan gigi sejak dini sangat penting untuk menghindari proses kerusakan gigi, seperti gigi
berlubang, keropos, dan pembengkakan pada gusi. Anak juga harus diajak atau diperkenalkan
secara dini kepada dokter gigi. Hal ini sangat bermanfaat dalam membiasakan pemeriksaan gigi
secara rutin dan mengatasi rasa takut anak kepada dokter gigi.
Orangtua dapat mencoba cara mengenalkan dokter gigi kepada anak, yaitu dengan mengajak
anak ikut serta saat ibu atau ayahnya memeriksakan gigi. Cara ini juga mengenalkan anak pada
suasana ruangan dokter gigi, suara-suara mesin, dan peralatan yang digunakan dokter. Anak juga
dapat melihat bagaimana ibu atau ayahnya tetap tenang saat dokter gigi melakukan perawatan.
Tak kalah penting ialah memilih dokter gigi anak yang memahami dan mendapat pendidikan
bagaimana membuat anak-anak nyaman saat ke dokter gigi. Misalnya, dokter yang menyediakan
ruang tunggu berisi buku dan mainan, serta mengisi dinding ruangan dengan gambar-gambar
yang menarik dan disukai anak-anak.
Selain itu, orangtua harus memerhatikan pola makan anak. Jangan terlalu sering memberi anak
makanan yang manis dan lengket. Sebab, makanan jenis ini mudah tertinggal dan melekat pada
gigi, dan bila terlalu sering serta lama akan berakibat tidak baik. Makanan manis dan lengket
tersebut akan bereaksi di dalam mulut dan membentuk asam yang merusak email gigi. Hal ini
akan mengakibatkan timbulnya gangguan, seperti gigi berlubang atau yang dikenal sebagai
karies. "Nursing-bottle caries"
Nursing-bottle caries (NBC) atau disebut juga baby bottle tooth decay-sindrom botol bayi yang
menjadi penyebab nomor satu kerusakan ekstensif pada gigi anak-anak di bawah umur tiga
tahun-adalah suatu kondisi di mana gigi susu balita telah rusak, bahkan sering kali menjadi
busuk, hingga ke permukaan gusi. NBC ini banyak terjadi pada anak-anak karena seringnya

mengonsumsi minuman yang mengandung gula, seperti susu, sari buah, dan minuman ringan
lainnya, yang diberikan kepada anak menjelang tidur.
Gula yang terkandung dalam minuman-minuman tersebut oleh bakteri yang terdapat pada plak
gigi diubah menjadi asam yang akhirnya menimbulkan kebusukan dan kerusakan gigi.
Terdapat beberapa cara untuk menghindari terjadinya kasus NBC:
1. Hindari atau kurangi makanan yang manis. Fruktosa (gula meja), dekstrosa, dan sirup jagung
mengandung gula yang dapat menimbulkan asam pembusuk dalam jumlah lebih besar
dibandingkan dengan makanan non-gula lainnya.
2. Jangan berikan makanan atau minuman kepada anak-anak menjelang tidur tanpa melakukan
penyikatan gigi atau pembersihan gigi setelahnya. Bila anak terbiasa meminum susu dalam botol
menjelang tidur sampai tertidur, bersihkan giginya dengan kapas atau kain yang telah dibasahi.
3. Bila anak harus atau terbiasa memegang botolnya saat akan tidur, isi botol dengan air putih.
Indikator kesehatan mulut dapat dilihat dari kebersihan mulut serta ada atau tidaknya gingivitis
(pembengkakan gusi). Gingivitis adalah peradangan yang melibatkan jaringan gingiva (gusi) di
sekitar gigi. Gingivitis pada anak-anak diakibatkan oleh adanya plak (massa lunak yang melekat
pada permukaan gigi dan mengandung koloni bakteri) dan kalkulus (plak yang telah mengeras),
yang dihubungkan dengan kebersihan mulut yang tidak baik. Penyakit gingivitis ini jika
dibiarkan akan menjadi bentuk destruktif yang mengenai jaringan periodontal (jaringan sekitar
gigi).
Pemeliharaan kesehatan anak-anak berumur di bawah lima tahun masih bergantung kepada
orangtua. Orangtua, terutama ibu, mempunyai peran yang sangat dominan dalam upaya
pecegahan penyakit gingivitis ataupun penyakit mulut lainnya. Peran ibu dalam upaya
meningkatkan kesehatan gigi dan mulut anak dapat dilihat dari sikap dan perhatiannya terhadap
perawatan gigi dan mulut anaknya.
Usaha untuk mencegah kerusakan gigi tentunya tidak dilakukan dengan mengurangi pemberian
susu kepada anak. Mengingat penyebab utama timbulnya karies gigi dan gingivitis adalah plak,
upaya yang dapat dilakukan ialah membersihkan plak dari permukaan gigi.
Upaya tersebut dapat berupa penyikatan gigi, kumur-kumur, dan pembersihan gigi dengan kapas
atau kain basah pada balita. Bila anak sudah agak besar, orangtua harus dapat membantu anak
untuk memulai rutinitas menggosok gigi. Caranya dengan mengajari dan memberi contoh
bagaimana cara memegang sikat gigi dan menggosok gigi dengan benar. Kebersihan gigi dan
mulut hanya dapat dicapai dengan menyikat gigi secara benar, rutin, dan teratur setiap hari,
terutama menjelang tidur, agar permukaan gigi terbebas dari plak. SISKA DAMAYANTI
HERYAMAN Dokter Gigi, Tinggal di Bandung

Tips Dan Trik Menjaga Kesehatan Gigi Anak


Senin, 22 Februari 2010 10:05

Previous
Left arrow key Next
Right arrow key
Close

MMANCHESTER (Berita SuaraMedia) - Jangan pernah menganggap remeh


penggunaan jenis pasta gigi pada si kecil. Pasalnya, para peneliti di Inggris
mengungkapkan penggunaan pasta gigi biasa tidak mencegah terjadinya
kerusakan pada gigi dan gusi si kecil. Para peneliti justru menyarankan agar
si kecil diberikan pasta gigi dengan bahan dasar floride.
Riset yang digagas Cochrane Oral Health Group dan Universitas Manchester
ini juga mengungkapkan penggunaan flouride pada pasta gigi bisa
mengurangi kerusakan gigi dan gusi sebesar 24%.

Selain itu, penggunaan flouride dalam pasta gigi pada anak-anak sebelum berusia 12
tahun maka memungkinkan terjadinya flurosis gigi. Kesimpulan ini berdasar pada
temuan pada 79 percobaan yang melibatkan 73.000 anak-anak diberbagai belahan dunia.
Dr. Anne-Marie Glenny, salah seorang peneliti menjelaskan sangat penting bagi para
orang tua untuk mengetahui keseimbangan terkait fakta setiap perusahaan memiliki
kandungan flouride berbeda pada setiap produknya.
"Dari sudut pandang kesehatan publik, resiko pembusukan gigi dan tentu memberikan

efek seperti rasa nyeri dan pencabutan gigi cukup besar ketimbang fluorosis," tegasnya
seperti dikutip dari Dailymail.co.uk, pekan lalu.
Anne-Marie juga menjelaskan anak-anak yang cenderung menggunakan pasta gigi secara
berlebihan dalam jangka panjang berakibat pada bintik-bintik pada gigi ketimbang warna
putih mengkilap.
"Dalam kasus ini, cara menyikat gigi dengan baik dan benar oleh orang tua disertai pula
dengan sedikit penggunaan pasta gigi berflouride jauh lebih bermanfaat," pungkasnya.
Queensland permen karet biasanya dikonsumsi orang jika sedang merasa gugup atau saat
olahraga. Tapi mengunyah permen karet secara teratur juga bisa berguna untuk mencegah
kerusakan gigi.
"Permen karet yang baik untuk mencegah kerusakan gigi adalah yang tidak mengandung
gula. Mengunyah permen karet bebas gula akan memiliki dampak positif terhadap
kesehatan gigi," ujar Profesor Laurence Walsh, ketua Dental School di University of
Queensland.
Prof Walsh menuturkan manfaat lain yang bisa didapat dengan mengunyah permen karet
adalah meningkatkan produksi air liur, hal ini berguna untuk membantu melindungi gigi,
menjaga gigi agar tetap bersih serta dapat memperkuat lapisan enamel gigi.
"Mengunyah permen karet juga bisa melatih otot-otot wajah dan gigi dan juga membuat
sel-sel kelenjar air liur bekerja lebih baik dan efisien. Serta mempengaruhi jenis-jenis
bakteri yang tumbuh di mulut seseorang," ungkap Prof Walsh.
Orang yang memiliki risiko tinggi mengalami kerusakan gigi adalah orang yang
melakukan diet tidak benar, sering mengonsumsi minuman bersoda atau minuman
olahraga, gaya hidup yang tidak sehat serta mengonsumsi obat tertentu yang bisa
mempengaruhi produksi air liur.
Permen karet yang bisa memberikan manfaat positif bagi gigi adalah permen bebas gula
dan mengandung protein susu yang dapat melepaskan mineral untuk membantu
memperbaiki gigi serta menghambat proses pembusukan.
"Pembusukan adalah awal dari timbulnya rongga besar yang lama kelamaan bisa
mengakibatkan kerusakan. Hal ini penting karena keusakan gigi sulit sekali untuk
disembuhkan serta bisa menimbulkan infeksi lainnya," ujar Prof Walsh.
Tak ada salahnya untuk mengunyah permen karet bebas gula sebagai bagian dari

kebiasaan hidup sehat. Tapi jangan meninggalkan kebiasaan sehat lain seperti sikat gigi
minimal 2 kali sehari serta memeriksakan gigi setiap 6 bulan sekali. Dari berbagai
sumber:
www.suaramedia.com
Cara Menyikat Gigi Yang Benar
Menggosok gigi, setelah makan dan sebelum tidur adalah kegiatan rutin sehari-hari. Tujuannya
untuk memperoleh kesehatan gigi/mulut dan napas menjadi segar. Terdapat beberapa cara yang
berbeda-beda dalam menggosok gigi, yang perlu diperhatikan ketika menggosok gigi adalah:
(1) Cara menyikat harus dapat membersihkan semua deposit pada permukaan gigi dan gusi
secara baik, terutama saku gusi dan ruang interdental (ruang antar gigi);
(2) Gerakan sikat gigi tidak merusak jaringan gusi dan mengabrasi lapisan gigi dengan tidak
memberikan tekanan berlebih;
(3) Cara menyikat harus tepat dan efisien.
(4) Frekuensi menyikat gigi maksimal 3 X sehari (setelah makan pagi, makan siang dan sebelum
tidur malam), atau minimal 2 X sehari (setelah makan pagi dan sebelum tidur malam).
Telah kita ketahui bahwa frekuensi menggosok gigi adalah sehari 3 X, setiap sehabis makan dan
sebelum tidur. Kenyataannya menggosok gigi 3 X sehari tidak selalu dapat dilakukan, terutama
ketika seseorang berada di sekolah, kantor atau tempat lain. Manson (1971) berpendapat bahwa
menggosok gigi sehari cukup 2 X, setelah makan pagi dan sebelum tidur malam.
Menyikat gigi harus dilakukan secara sistematis, tidak ada sisa makanan tertinggal. Caranya
menggosok mulai dari gigi belakang kanan/kiri digerakan ke arah depan dan berakhir pada gigi
belakang kanan/kiri dari sisi lainnya. Hasil penyikatan akan lebih baik bila menggunakan
disclosing solution atau disclosing tablet sebelum dan sesudah penyikatan gigi. Dengan
disclosing solution, lapisan-lapisan yang melekat pada permukaan gigi dapat terlihat jelas.
Dikenal beberapa macam cara menggosok gigi, yaitu,
(a) Gerakan vertikal. Arah gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan rahang atas
dan bawah tertutup. Gerakan ini untuk permukaan gigi yang menghadap ke pipi (bukal/labial),
sedangkan untuk permukaan gigi yang menghadap lidah/langit-langit (lingual/palatal), gerakan
menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan mulut terbuka. Cara ini terdapat kekurangan,
yaitu bila menggosok gigi tidak benar dapat menimbulkan resesi gingival/penurunan gusi
sehingga akar gigi terlihat.
(b) Gerakan horizontal. Arah gerakan menggosok gigi ke depan ke belakang dari permukaan
bukal dan lingual. Gerakan menggosok pada bidang kunyah dikenal sebagai scrub brush.

Caranya mudah dilakukan dan sesuai dengan bentuk anatomi permukaan kunyah. Kombinasi
gerakan vertikal-horizontal, bila dilakukan harus sangat hati-hati karena dapat menyebabkan
resesi gusi/abrasi lapisan gigi.
(c) Gerakan roll teknik/modifikasi Stillman. Cara ini, gerakannya sederhana, paling dianjurkan,
efisien dan menjangkau semua bagian mulut. Bulu sikat ditempatkan pada permukaan gusi, jauh
dari permukaan oklusal/bidang kunyah, ujung bulu sikat mengarah ke apex/ujung akar, gerakan
perlahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang kepala sikat bergerak dalam
lengkungan.
Pada waktu bulu-bulu sikat melalui mahkota gigi, kedudukannya hampir tegak terhadap
permukaan email. Ulangi gerakan ini sampai lebih kurang 12 kali sehingga tidak ada yang
terlewat. Cara ini dapat menghasilkan pemijatan gusi dan membersihan sisa makanan di daerah
interproksimal/antara gigi.
Dari sekian cara menggosok gigi, memilih sikat gigi dan menggunakan pasta gigi, yang tersebar
banyak di pasaran.
Dengan paparan di atas, kini kita dapat memilih sesuai seleranya masing-masing dan
memerhatikan etika menggosok gigi dengan baik dan benar. Tidak malas lagi menggosok gigi,
budayakanlah menggosok gigi setelah makan dan sebelum tidur malam, luangkanlah waktu
sebentar untuk memelihara gigi Anda dan mencapai napas segar. Perlu diingat dan diperhatikan
bahwa sumber infeksi/vokal infeksi itu berawal kondisi gigi dan mulut Anda. Insya Allah dengan
gigi sehat dan mulut segar...tidur Anda akan nyenyak dan terhindar dari penyakit. (Drg. R.
Ginandjar, A.M. RS Al-Islam Bandung)***
souce: www.pikiran-rakyat.com
Laporan Survey membuktikan
ArrghhBritney Spears

Cara menyikat Gigi yang Baik dan Benar


Maret 3, 2007 oleh Evy
Di postingan yang lalu mengenai halitosis, di bilang menyikat gigi sebaiknya 3 menit
Lhadalah. ngapain aja sih kok lama amat? Apalagi buat yang mandinya
cuman ngebasuh belek muka doang.

Menyikat gigi tidak sama dengan menyikat WC.gosroookgosroook.. sekuat tenaga,


meskipun mulut yang kotor memang lebih jorok dari pada WCkarena mulut
khan merupakan kebun binatang bakteri
mau tahu cara menyikat gigi yang baik dan benar?
Pertama pilih sikat yang bulu2nya tidak terlalu kasar maupun halusjadi yang sedang2
saja kata Evy tralala
Selanjutnya perhatikan gambar berikut dan lakukan dengan gently, sesuai urutan berikut

1. letakkan posisi sikat 45 derajat terhadap gusi


2. Gerakan sikat dari arah gusi kebawah untuk gigi Rahang Atas (seperti mencungkil)
3. Gerakan sikat dari arah gusi ke atas untuk gigi rahang bawah
4. Sikat seluruh permukaan yang menghadap bibir dan pipi serta permukaan dalam dan
luar gigi dengan cara tersebut.
5. Sikat permukaan kunyah gigi dari arah belakang ke depan.

Tambahan karena respon pak Urip:


Mengapa menggunakan cara vertikal tersebut? Karena tujuan menyikat gigi adalah
mengangkat sisa makanan yang biasanya menumpuk di leher gusi, gerakan horisontal
selain tidak mengangkat sisa makanan yg terletak di sela2 gigi, juga akan menyebabkan
perlekatan papila gusi (gusi yg terletak di antar gigi2) lama2 lepas sehingga akar gigi
lama2 terbuka hal ini lama kelamaan dapat menyebabkan rasa linu meski gigi masih
sehat.. tapi tidak bertahan lama sampe tua, akibat resopsi tulang alveolar.
Ok selamat mencoba.
Ditulis dalam Kesehatan | 73 Komentar
Penyuluhan gigi pada anak

Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan


gigi dan mulut masih dirasa sangat rendah. Berdasarkan hasil survey, kejadian penyakit gigi dan
mulut di Indonesia masih cukup tinggi (karies 52%, peridontitis 65%). Hal ini menunjukkan
bahwa usaha untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi pada anak usia SD yang dilakukan
pemerintah melalui program UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) belum mencapai hasil yang

memuaskan. Diduga hal ini akibat metode dan media penyuluhan yang dipakai selama ini kurang
sesuai dengan psikologi anak yang disuluh, sehingga materi yang diberikan kurang menimbulkan
ingatan jangka panjang.
Mengingat anak usia SD sesuai perkembangan psikologis menyukai cerita atau dongeng, maka
dimungkinkan untuk mengemas acara penyuluhan kesehatan gigi ini dalam bentuk cerita.
Theater boneka mungkin merupakan salah satu media yang patut untuk dicoba digunakan dalam
usaha menanamkan pengertian kepada anak sejak usia dini. Cerita yang dibawakan melalui
theater boneka bisa dikemas dalam bentuk cerita petualangan karena berdasarkan penelitian,
pada usia SD anak menyukai cerita yang lucu atau memiliki elemen aksi dan petualangan.
Media teater boneka memungkinkan juga penyampaian penyuluhan dengan diiringi musik
sebagai setting cerita. Melalui musik, anak dapat menyenangkan diri sendiri, menenangkan
perasaan yang tidak nyaman serta menyalurkan emosinya dengan musik. Anak menyukai musik
yang sederhana, ritme lagu yang lincah serta kata2 yang mudah dipahami.
Yang tidak kalah pentingnya adalah waktu penyuluhan. Anak usia SD biasanya hanya bisa
berkonsentrasi penuh dalam waktu sekitar 20 menit.
Silakan baca di sini; Gigi dan Mulut: Penyuluhan gigi pada anak
Sejak abad kedelapan, bangsa-bangsa di bawah panji Muslim telah mengenal kegunaan
siwak, yang juga dikenal dengan sebutan kayu sugi, untuk membersihkan gigi.
Sementara, baru pada akhir abad ke-14 Bangsa Cina hadir dengan sikat gigi pertama di
dunia. Sikat gigi primitif ini terbuat dari kumpulan bulu keras yang tumbuh pada leher
babi hutan dan ditempelkan pada sebatang bilah bambu. Empat abad kemudian
masyarakat dunia barat menyusul ketika William Addis, seorang warga Negara Inggris,
membuat beberapa lubang pada sebuah tulang hewan, memasukkan kumpulan bulu pada
masing-masing lubang, dan mengelemnya agar tidak ada bulu-bulu yang dapat tertarik
keluar dengan mudah. Beliau pun kaya mendadak berkat penemuannya yang kemudian
diproduksi secara masal ini.
Di era yang sama, pasta gigi yang digunakan tidak kalah seadanya, biasanya berupa
bubuk yang terbuat dari campuran kayu manis, tawas yang dibakar dan darah naga.
Darah naga yang digunakan di sini tentu saja bukan darah dari naga betulan, melainkan
getah berwarna merah dari beberapa tanaman tertentu, seperti Pohon Jenang. Selain itu,
ada juga yang menggunakan bubuk batu bata sampai tumbukan keramik dengan langsung
menggosokkannya pada gigi dengan jemari, atau bila mampu membelinya, dengan sikat
gigi ciptaan William Addis.
Menyongsong abad kesembilanbelas, Dr. Washington Sheffield, asal New London,
Connecticut, mulai memproduksi pasta gigi dalam kemasan tube dengan merek Dr.

Sheffields Creme Dentifrice. Beliau terinspirasi cerita putranya yang saat berlibur di
Paris melihat seorang pelukis menggunakan cat dalam tube. Seakan tak mau kalah,
perusahaan kimia asal Amerika, DuPont, membuat gebrakan pada tahun 1938, mengganti
bulu binatang yang biasanya digunakan untuk sikat gigi, dengan serat sintetis macam
nylon. Inilah saatnya dunia kebersihan gigi dan mulut memasuki dunia modern!
Perjalanan sikat dan pasta gigi tak berhenti sampai di sana saja, bahkan hingga detik ini
dan tentunya untuk waktu yang akan datang, ilmuwan di seluruh dunia kiranya akan terus
berkarya untuk menghasilkan penemuan terbaik demi meningkatkan kesehatan mulut dan
gigi. Jangan sia-siakan perjalanan mereka, gunakan sikat dan pasta gigi minimal dua kali
sehari, sesudah makan dan sebelum tidur!