Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM PEMETAAN BANGUNAN

Modul 5

KELOMPOK 6B
Alvin Erzal Syahreza

(1306391964)

Ajeng Paramitha

(1306391900)

Dwi Setyiadi

(1406642864)

Tantri Yesa

(1206216802)

Stefan Sitepu

(1306448722)

Rojak Setiadi

(1306369270)

Judul Praktikum

: Pemetaan Bangunan

Tanggal Praktikum

Asisten Praktikum

: Abdul Aziz Naufal

Tanggal Disetujui

Nilai

Paraf Asisten

LABORATORIUM SURVEY DAN PEMETAAN


DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK 2015

BAB V
PEMETAAN SITUASI
5.1 TUJUAN
a. Untuk mengumpulkan data geometris pada permukaan bumi dan segala sesuatu yang ada di
atasnya, baik alami maupun buatan manusia.
b. Melakukan pemetaan situasi, yaitu menggambarkan data-data geometris di permukaan
bumi ke suatu bidang datar dengan skala tertentu.
c. Memilih cara yang tepat dalam menentukan kerangka dasar pengukuran situasi sesuai
dengan kondisi lapangan pada alat yang dipakai.
5.2 LANDASAN TEORI
Pemetaan situasi dan detail adalah pemetaan suatu daerah atau wilayah ukur yang
mencakup penyaian dalam dimensi horisontal dan vertikal secara bersama-sama dalam suatu
gambar peta.
Untuk penyajian gambar peta situasi tersebut perlu dilakukan pengukuran sebagai
berikut:
a

Pengukuran titik fundamental (Xo, Yo, Ho, dan ao)


b
Pengukuran kerangka horisontal (sudut dan jarak)
c
Pengukuran kerangka tinggi (beda tinggi)
d Pengukuran titik detail (arah, beda tinggi dan jarak terhadap titik detail
yang dipilih sesuai dengan permintaan skala)

Pada dasarnya prinsip kerja yang diperlukan untuk pemetaan suatu daerah selalu
dilakukan dalam dua tahapan, yaitu:
1
2

Penyelenggaraan kerangka dasar sebagai usaha penyebaran titik ikat


Pengambilan data titik detail yang merupakan wakil gambaran fisik bumi
yang akan muncul di petanya.

Kedua proses ini diakhiri dengan tahapan penggambaran dan kontur.

Dalam pemetaan medan pengukuran sangat berpengaruh dan ditentukan oleh


kerangka serta jenis pengukuran. Bentuk kerangka yang didesain tidak harus sebuah
polygon, namun dapat saja kombinasi dari kerangka yang ada. Poligon merupakan sebuah
rangkaian garis lurus yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai koordinat tertentu
sehingga membuat suatu bentuk tertentu (segi banyak beraturan atau segi banyak yang tidak
beraturan).
a

Pengukuran Horisontal
Terdapat dua macam pengukuran yang dilakukan untuk posisi horisontal yaitu
pengukuran polygon utama dan pengukuran polygon bercabang.
Pengukuran Beda Tinggi
Pengukuran situasi ditentukan oleh dua jenis pengukuran ketinggian, yaitu:
- Pengukuran sifat datar utama.
- Pengukuran sifat datar bercabang.
Dari hasil pengukuran beda tinggi dapat diperoleh juga suatu kontur tanah dari
bangunan.

Pengukuran Detail
Pada saat pengukuran di lapangan, data yang diambil untuk pengukuran detail
adalah:
- Beda tinggi antara titik ikat kerangka dan titik detail yang bersangkutan.
- Jarak optis atau jarak datar antara titik kerangka dan titik detail.
- Sudut antara sisi kerangka dengan arak titik awal detail yang
bersangkutan, atau sudut jurusan magnetis dari arah titik detail yang
bersangkutan.

Adapun metode pengukuran situasi sendiri ada dua, yaitu:


1

METODE OFFSET
Pada metode ini alat utama yang digunakan adalah pita / rantai dan alat bantu
untuk membuat siku (prisma). Metode offset terdiri dari dua cara, yaitu:
a Metode siku-siku (garis tegak lurus)

Titik detail diproyeksikan siku-siku terhadap garis ukur AB. Kemudian


diukur jarak-jaraknya dengan mengukur jarak aa, bb,cc, dd, posisi titik
a, b, c, dan d secara relatif dapat ditentukan.
b

Metode Mengikat (Interpolasi)


Titik detail diikat dengan garis lurus pada garis ukur.
Ada dua cara:
1 Pengikatan pada sembarang titik.

Tentukan sembarang garis pada garis ukur AB titik-titik a,a, b, b,


c, c. Usahakan segitiga aaa, bbb, ccc merupakan segitiga
samasisi atau samakaki. Dengan mengukur jarak Aa, Aa, Ab, Ab,
Ac, Ac, Bc, Bc, Bb, Ba, aa, aa, bb, bb, cc, cc maka posisi
titik a, b, c dapat ditentukan.

Perpanjangan Sisi

Cara Trilaterasi Sederhana

METODE POLAR
Metode ini mengukur posisi 3 pada dimensi, yaitu dimensi x,y,z. Pada
metode ini posisi detil ditentukan dengan komponen azimuth, jarak dan beda
tinggi dari titik ikat.
Alat: theodolit kompas (misal To) atau theodolit repetisi
1

Dengan unsur azimuth dan jarak

2 Dengan unsur sudut dan jarak


Pengukuran sudut dilakukan dari titik dasar teknik
Pengukuran jarak datar dilakukan dengan pita ukur atau EDM.

`
Dalam menentukan titik batas dibutuhkan minimal tiga data ukuran
yang diukur dengan menggunakan minimal dua titik tetap (referensi).
Contoh:
1 Sudut, sudut, sudut

Sudut, sudut, jarak

Sudut, jarak, jarak

Setelah pengukuran pemetaan situasi dan detail telah selesai dilaksakan


langkah berikutnya yaitu melakukan perhitungan terhadap data yang telah

diperoleh dan menyajikannya dalam bentuk penggambaran peta yang dilengkapi


dengan garis kontur.
Garis kontur adalah yang ada dipermukaan bumi yang menghubungkan
titik-titik dengan ketinggian yang sama dari suatu bidang referensi tertentu.
Konsep dari garis kontur ini dapat mudah dipahami dengan membayangkan kolam
air. Jika air dalam keadaan tenang, maka tepi dari permukaan air itu akan
menunjukan garis yang ketinggiannya sama. Garis tersebut akan menutup pada
tepi kolam dan membentuk garis kontur.
Adapun kegunaan dari garis kontur ini antara lain:
1 Sebagai dasar untuk menentukan penampang tegak suatu permukaan tanah.
2 Sebagai dasar untuk perencanaan besarnya galian atau timbunan.
3 Memperlihatkan ketinggian tanah dalam lokasi atau peta terebut, dan
sebagainya.
Rumus-rumus yang dipakai dalam praktikum ini:
t = TA D. tan bt
D = 100 (a b) cos2
Dimana:
t = seilisih tinggi antara tempat theodolit dengan titik yang ditembak
TA = tinggi alat
D = jarak horisontal antara tempat theodolit dengan titik yang ditembak.
bt = benang tengah (dalam meter)
a = benar atas (dalam meter)
b = benang bawah (dalam meter)
= sudut miring / sudut vertikal
Dengan rumus-rumus diatas, serta rumus-rumus dasar untuk menentukan
koordinat, yaitu:

XQ = XP + DPQ sin PQ
YQ = YP + DPQ cos PQ
Dimana
DPQ = jarak dari P ke Q
PQ = sudut jurusan dari P ke Q

5.3 PERALATAN
1. Digital Theodolit Nikon NE-100 series

1 buah

2. Rambu ukur

1 buah

3. Meteran

1 buah

4. Patok

5 buah

5. Payung

1 buah

6. Statif

1 buah

7. Unting-unting

1 buah

5.4 PROSEDUR
PERSIAPAN
1
2
3

Melakukan survey lapangan dan membuat sketsa.


Memilih cara pengukuran kerangka dasar yang sesuai.
Menentukan titik acuan yang sesuai dengan cara pengukuran kerangka dasar yang

dipilih.
Mencantumkan di dalam sketsa, titik-titik pengikat rencana (titik-titik poligon)

sedemikian rupa sehingga seluruh detail yang diperlukan dapat dijangkau.


Mempersiapkan peralatan yang diperlukan.

PELAKSANAAN

1
2
3

Memasang theodolit di titik pengikat pertama lalu mengukur tinggi alat.


Melakukan pengukuran tinggi matahari untuk menentukan besarnya Koreksi Boussole.
Membidik titik acuan dan melakukan pengukuran hingga didapat azimuth, beda tinggi

dan jaraknya.
Membidik titik pengikat yang lain lalu melakukan pengukuran yang diperlukan untuk

mendapatkan kerangka dasar pengukuran situasi (mendatar & tinggi).


Membidik titik-titik detail yang diperlukan, termasuk titik-titik detail untuk membentuk
garis kkontur. Titik-titik detail yang khusus hendaknya diberi keterangan.

DATA PENGAMATAN

SKETSA AWAL
Data hasil pengamatan

TINGGI
LOKAS

TITIK

I ALAT
1

PEMBACAAN
A
B

PEMBACAAN

SUDUT

ALAT

BENANG
BA
BT
BB

(HA)

(cm)

290
3404010

145

137
142.2
5

131
139

125
135.5

138.2

129
138.2

133.75

5700725

143.5

140.75

900

137

134

135.5

3904745

147

139

143

5002735

A. PENGOLAHAN DATA

1. Perhitungan Panjang sisi

Panjang garis A-B dari hasil percobaan


= 504010- 0 = 504010=5,6694
2
2
Garis A-B = A 1 + A 2 2 A 1 A 2 cos
=

122+6,75 22 12 6,75 cos 5,6694

= 5.32m
Panjang garis A-B dari hasil pengukuran lapangan = 5,30m
Panjang garis B-C dari hasil percobaan
= 2800725- 504010= 222715=22,45416
2
2
Garis B-C = A 1 + A 3 2 A 1 A 3 cos
=

6,752+ 9,2522 6,75 9,25 cos 22,45416

= 3,96 m
Panjang garis B-C dari hasil pengukuran lapangan = 3,90 m
Panjang garis A-D dari hasil percobaan
= 3204745- 0 = 3204745=32,79
2
2
Garis A-D = A 1 + A 2 2 A 1 A 2 cos

136

32+ 5,2522 3 5,25 cos 32.79

= 3,17m
Panjang garis A-B dari hasil pengukuran lapangan = 3,44m
Panjang garis D-C dari hasil percobaan
= 2800725- 504010= 222715=22,45416
2
2
Garis D-C = A 1 + A 2 2 A 1 A 2 cos
=

122+6,75 22 12 6,75 cos 5,6694

= 5.32m
Panjang garis D-C dari hasil pengukuran di lpangan 5,30
o KR panjang garis A-B =
=

panjang lapangan panjangpercobaan


x 100 %
panjang Lapangan
5,55,32
x 100 %
5,5

= 3, 27 %
panjang lapangan panjangpercobaan
o KR panjang garis B-C =
x 100 %
panjang Lapangan
=

3,963,90
x 100 %
3,96

= 1,5 %
panjang lapangan panjangpercobaan
o KR panjang garis A-B =
x 100 %
panjang Lapangan
3,443,17
=
x 100 %
3,44
= 7,8 %
panjang lapang an panjangpercobaan
o KR panjang garis D-C =
x 100 %
panjang Lapangan
=

5,325,30
x 100 %
5,32

= 0,37 %

Sisi

Panjang Lapangan

Panjang berdasarkan

Kesalahan

5,32 m
3,90 m
5,32 m
3,44m

perhitungan matematis
5,30
3,96
5,30
3,17

relative
3,27%
1,5%
7,8%
0,37%

A-B
B-C
C-D
A-D

2. Menentukan jarak suatu titik ke titik lain


Penentuan jarak suatu titik ke titik lain menggunakan persamaan:
jarak teoritis ( d )=100 ( BABB ) cos2 (90 0 )
Karena besar sudut vertikal sebesar 900, nilai

cos 2 ( 90 0 )=1 , sehingga dapat

dikatakan bahwa:
d=100 ( BABB )
Dari persamaan di atas, diperoleh pengolahan data untuk jarak, sebagai berikut:
PEMBACAAN

TING

BENANG

GI

ALAT

OPTIS

LOKA

TITIK

SI

PEMBACAA

ALAT

BA

BB

137

125

142.25

135.5

138.25

129

925

143.5

138.25

525

137

134

147

139

(cm)
1200
145

136

Menentukan perbedaan tinggi antara theodolit dan batas tengah

675

300
800

Penentuan perbedaan tinggi antara theodolit dan batas tengah menggunakan persamaan:
H=|tinggi alat batastengah|
Dari persamaan di atas, diperoleh pengolahan data untuk perbedaan tinggi, sebagai
berikut:
LOKAS
I ALAT
1

TITIK

BA

PEMBACAAN
A
137
B
142.25
C
138.25
D
143.5
A
137
B
147

Delta
H
14
6
16
-2.25
2
-3

Menentukan titik koordinat


Koordinat keenam titik bidik yang diukur dapat diperoleh dengan menggunakan
persamaan:
X i=d sin Sudut
Y i=d cos Sudut
Dengan persamaan tersebut, diperoleh pengolahan data untuk titik koordinat,acuan yang
digunakan titik (0,0) berada di titik 1

LOKAS
I ALAT

TITIK
PEMBACAA
N

D
OPTIS

SUDUT

Y i d sin Sudut

X i d cos Sudut

(HA)

1200

290

581,77

1049,54

675

3404010

383,97

555,15

925

5700725

776,85

502,11

Untuk menghitung titik koordinat d dibutuhkan titik bantu 2

LOKAS
I ALAT

TITIK
PEMBACAA
N

D
OPTIS

SUDUT

Y d sin Sudut

X d cos Sudut

(HA)

300

3904745

192,01

230,49

275

900

275

Untuk mencari titik D dengan BM di titik 1 (0,0)


X= (1049,54+230,49)-0 = 1280,03
Y= (581,77-192,01)+275 = 664,76
Hasil darri perhitungan koordinat maka didapatkan titik kordinat sebagai berikut :
Titik
A
B
C
D

Hasil gambar dari CAd

X
1049,54
555,15
502,11
1280,03

Y
581,77
383,97
776,85
664,76

Analisa
Analisa Percobaan
Praktikum Ilmu Ukur Tanah dengan modul Pemetaan Bangunan yang dilakukan pada
tanggal 5 Mei 2015 ini memiliki tujuan untuk memetakan bangunan dan mencari titik kordinat
dari bangunan yang bersangkutan. Praktikum ini berlangsung bersamaan dengan percobaan
polygon.
Hal pertama yang dilakukan oleh praktikan adalah meletakkan theodolit di titik 1.
Kemudian theodolite harus diatur dulu agar tegak lurus dengan permukaan tanah. Pengaturan
theodolite ini dilakukan dengan cara mengatur gelembung udara pada nivo agar tepat berada di
tengah. Tidak lupa praktikan mengatur VA pada theodolite tepat membentuk sudut 90 0.
Selanjutnya, praktikan mengukur tinggi alat. Setelah melakukan pengukuran tinggi alat,
praktikan melakukan penembakan ke titik A, dan membaca benang atas, benang bawah dan
benang tengah pada rambu. Kemudian titik ini di jadikan acuan pertama sebagai 0 0,setelah itu
mengukur jarak dari titik 1 menuju A menggunkan pita ukur.

.Setelah itu Memutar theodolit dan arahkan ke titik 1B dan lakukan pembacaan benang
atas, benang tengah, dan benang bawah pada rambu, mencatat HA pada theodolit dan mengukur
jarak lapangan dari titik 1B ke theodolit dengan pita ukur. Kemudian dengan prosedur yang sama
menembak di titik 1 ke tititk 1C. Pada ketiga proses ini harus dipastikan bahwa sudut Va sebesar
90o. Setelah di titik 1 titik acuan kedua pada posisi di titik 2 pada percobaan polygon, Langkah
pertama sama dengan titik acuan pertama lakukan penembakan dari titik 2 ke D jadikan titik ini
sebagai acuan 0o. Setelah itu melakukan penembakan ke titik A dan D dengan prosedur yang
sama seperti pada titik 1.Setelah Melakukan penembakan pada titik 1 dan 2,luas patok harus
diukur untuk dijadikan pembanding dari hasil perhitungan.
Analisa Hasil
Data yang didapatkan dari praktikum ini adalah besar sudut di setiap titik, jarak tiap titik
dari theodolit, dan panjang serta lebar bangunan (patok) yang akan dipetakan. Di sini juga
mendapatkan 3 nilai dengan melakukan pembacaan pada rambu yaitu, benang atas (BA), benang
tengah (BT), dan benang bawah (BB). Untuk jarak titik diukur dengan pita ukur dari theodolit ke
setiap titik, untuk panjang serta lebar bangunan diukur dengan pita ukur dan untuk tinggi
theodolit diukur dengan rambu tegak lurus dari permukaan tanah.
Pengolahan data pada praktikum ini adalah mencari Doptis,Perbedaan tinggi,titik
kordinat dan menentukan kesalahan relatif dari lebar bangunan patok dengan pengukuran di
lapangan dan perhitungan melalui rumus.Untuk mencari jarak analitis atau jarak optis (D optis).
D optis dapat diketahui dengan menggunakan rumus:
jarak teoritis ( d )=100 ( BABB ) cos2 (90 0 )
BA adalah pembacaan benang atas dan BB adalah pembacaan benang bawah.
Perhitungan D optis bertujuan untuk menentukan koordinat suatu titik. Selanjutnya adalah
menghitung beda ketinggian. Tujuannya adalah untuk mengetahui beda ketinggian setiap titik
terhadap bench mark. Rumus beda ketinggian adalah:
H=|tinggi alat batastengah|
Pengolahan data ketiga adalah mencari titik kordinat,titik ini digunakan untuk
menentukan Pemetaan bangunan.Untuk mencari titik kordinat rumus yang digunakan adalah :

X i=d sin Sudut


Y i=d cos Sudut
Dari kordinat ini bisa menentukan luas dan panjang sisi bangunan,namun ada cara lain
dengan menggunakan rumus matematika untuk menghitung panjang sisi-sisi bangunan yaitu :
2
2
A-B = A 1 + A 2 2 A 1 A 2 cos
Setelah mendapatkan panjang sisi bangunan melalu perhitungan matematis maka
dibandingkan dengan pengukuran di lapangan hasil yang diperoleh adalah
Sisi

Panjang Lapangan

Panjang berdasarkan

Kesalahan

perhitungan matematis
relative
A-B
5,32 m
5,30
3,27%
B-C
3,90 m
3,96
1,5%
C-D
5,32 m
5,30
7,8%
A-D
3,44m
3,17
0,37%
Data di atasa juga menunjukan perbedaan hasil perhitungan sehingga muncul nilai
kesalahan relatif yang telah disajikan di tabel di atas.
Analisa Kesalahan
Dalam melaksanakan praktikum kali ini praktikan melakukan beberapa kesalahan, yaitu :

Dalam pembacaan benang atas, benang tengah, dan benang bawah praktikan tidak

secara tepat dan presisi.


Jarak yang diukur dari titik acuan dengan titik bidik terkadang kurang tepat dalam
pembacaan pita ukur. Praktikan terkesan terburu-buru dalam penggunaan pita ukur,

misalnya tidak ditarik dengan lurus atau berbelok.


Saat praktikan memegang rambu tidak tepat sejajar dengan alat atau theodolit.

Kesimpulan

Praktikan dapat melakukan pemetaan bangunan dan situasi di sekeliling


bangunan, melatih praktikan agar dapat memilih cara yang tepat dalam menentukan
kerangka dasar pengukuran situasi sesuai dengan kondisi lapangan dan alat yang

dipakai.
Hasil perhitungan panjang
Sisi
A-B
B-C
C-D
A-D

Panjang Lapangan

Panjang berdasarkan

Kesalahan

5,32 m
3,90 m
5,32 m
3,44m

perhitungan matematis
5,30
3,96
5,30
3,17

relative
3,27%
1,5%
7,8%
0,37%

REFERENSI

Pedoman Praktikum Ilmu Ukur Tanah. Laboratorium Survey dan Pemetaan. Departemen
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Indonesia

LAMPIRAN

Sumber : dokumentasi waktu praktikum

Sumber : dokumentasi waktu praktikum


saat melakukan pembacaan

theodolite