Anda di halaman 1dari 27

BAB IV

HASIL DAN ANALISA PENELITIAN


4.1 Pelaksanaan Eksperimen
Penelitian dilakukan pada baja AISI 4140 dengan melakukan thermal arc
spray double wire pada baja tersebut. Pelaksanaan proses thermal arc spray
double wire dilakukan di Workshop PT. Mulya Bangun Sentosa yang berada di
daerah Tigaraksa Tangerang pada tanggal 29-30 Agustus 2013 dengan
menggunakan faktor-faktor yang telah ditentukan level-levelnya terlebih dahulu
sesuai orthogonal array yang telah ditentukan atau pada tabel 3.6. Pada tiap
eksperimen menggunakan baja dengan panjang 20 mm, berdiameter 30 mm dan
kemudian dilapisi oleh stainless steel 730 dengan proses thermal arc spray double
wire sehingga total material uji yang digunakan untuk eksperimen berdasarkan
matriks orthogonal pada metode taguchi adalah 8 sampel atau 8 kali eksperimen.
Semua sample tersebut mempunyai kondisi awal dan dimensi yang sama untuk
menghindari penyimpangan pada hasil eksperimen.

Gambar 4.1. Sample baja AISI 4140 setelah proses Thermal arc spray
Setelah eksperimen terlaksana maka dilanjutkan dengan pengujian
kekuatan lekat lapisan stainless steel PMET 730, pengujian kekuatan lekat lapisan
stainless steel 730 thermal arc spray double wire pada baja AISI 4140
menggunakan bonding tester. Pengujian ini dilakukan di Laboratorium Metalurgi
Fisika LIPI kawasan Puspitek Serpong Tangerang pada tanggal 10 Oktober 2013.
Pemasangan sampel harus presisi

untuk memastikan pengujiaan dilakukan

dengan benar dan meminimalisir kesalahan hasil dalam pengujian.

58

Data yang diperoleh dari pelaksanaan pengujian pada spesimen Baja AISI
4140 yang telah di coating thermal arc spray double wire dapat dilihat pada tabel
4.2. Angka yang tercantum merupakan nilai kekuatan lekat lapisan stainles steel
316 PMET 730 hasil pengujian menggunakan bonding testing. Hasil
selengkapnya yang diperoleh dari pengujian kekuatan lekat pada baja AISI 4140
hasil adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1. Nilai Level Faktor
Level

Faktor
A. Tekanan (bar)
B. Jarak (mm)
C. Arus (A)
D. Kekasaran permukaan
substrat hasil grinding (Ra)

1
6
200
100

2
8
300
150

Grinding 80 mesh

Grinding 1000 mesh

Tabel 4.2. Hasil Pengujian Bonding Testing.


No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Nilai Kekuatan
lekat (mpa)

Faktor Kendali
Tekanan
(bar)
6
6
6
6
8
8
8
8

Jarak
(mm)
200
200
300
300
200
200
300
300

Arus
(A)
100
150
100
150
100
150
100
150

Grinding
(mesh)
80
1000
1000
80
80
1000
1000
80

13,52
10,82
6,69
1,30
8,51
0,99
7,16
10,41

13,52
12,39
6,69
1,30
10,62
0,99
11,88
8,41

yi

13,52
11,60
6,69
1,30
9,56
0,99
9,52
9,41

Tabel 4.3. Normalisasi

1.

Nilai Kekuatan
lekat (mpa)

Faktor Kendali

No.
Tekanan
(bar)
6

Jarak
(mm)
200

Arus
(A)
100

Grinding
(Mesh)
80

12,53

12,53

yi

12,53

59

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
4.2

6
6
6
8
8
8
8

200
300
300
200
200
300
300

150
100
150
100
150
100
150

1000
1000
80
80
1000
1000
80

9,83
5,7
0,31
7,53
0
6,17
9,42

11,4
5,7
0,31
9,63
0
10,89
7,42

10,61
5,7
0,31
8,58
0
8,53
8,42

Perhitungan Hasil Eksperimen Untuk Pengaruh Kekuatan Lekat


Perhitungan terhadap hasil eksperimen sesuai dengan karakteristik mutu

yang diamati adalah sebagai berikut :


4.2.1 Perhitungan Signal to Noise Ratio (SNR) Hasil Uji Kekuatan Lekat
A. Perhitungan SNR
Taguchi menggunakan perhitungan signal to noise ratio untuk mencari
faktor-faktor yang memiliki kontribusi pada pengurangan variansi suatu
karakteristik kualitas (variabel respon). Karakteristik kualitas yang digunakan
dalam penelitian ini adalah nilai kekuatan lekat, dimana semakin tinggi nilainya
semakin baik, sehingga SNR yang digunakan adalah larger the better.
Langkah-langkah perhitungan SNR sebagai berikut:
Contoh perhitungan untuk SNR eksperimen nomor 1
1 n 1
2
n i
1 y i

SNR 10 log10

1
1

10 log

/ 2
2
2
12.53
12.53

21,959

Perhitungan SNR untuk eksperimen yang lain sama seperti contoh


perhitungan eksperimen nomor 1 di atas, Hasil perhitungan selengkapnya dapat
dilihat dalam tabel 4.4. berikut :
Tabel 4.4. Signal to Noise Ratio (SNR) Kekuatan Lekat
Eksperimen
No.
1.

Nilai kekuatan lekat


(mpa)
1
2
12.53
12.53

yi

SNR

12,53

21,959

60

2.
3.
4.
5.
6..
7.
8.

9,83
5,7
0,31
7,53
0
6,17
9,42

11,4
5,7
0,31
9,63
0
10,89
7,42

10,61
5,7
0,31
8,58
0
8,53
8,42

20,447
15,1174
-10,1727
18,4741
0
17,6069
18,322

Dari data di atas kemudian dianalisa menggunakan perhitungan efek tiap


faktor dari SNR.
B. Perhitungan Efek Tiap Faktor SNR kekuatan lekat
Perhitungan efek untuk tiap faktor dilakukan dengan membuat response
tabel menggunakan rumus seperti pada persamaan (2.19). Hasil selengkapnya
dapat dilihat pada tabel 4.5. Sebagai berikut :
Tabel 4.5. Response tabel untuk SNR kekuatan lekat
Level 1
Level 2
Difference
Ranking
Optimum

A
11,837
13,6
1,763
3
A2

B
15,22
10,2184
5,0016
2
B1

C
18,2893
7,149
11,1403
1
C1

D
12,1456
13,2928
1,1472
4
D2

Contoh perhitungan :
Perhitungan faktor A level 1:
Effect

y
0

1
(21,959 20,447 15,1147 10,1727) 11,837
4

Difference = Rata-rata respon terbesar Rata-rata respon terkecil


Contoh perhitungan difference untuk faktor A = 13,6-11,837
= 1,763
C. Grafik Efek Tiap Faktor SNR Terhadap Kekuatan Lekat

61

Gambar 4.2. Grafik Efek SNR Untuk Faktor A (Tekanan)


Dari gambar 4.2 didapat grafik efek SNR untuk faktor kendali laju
tekanan. Faktor kendali untuk laju tekanan memberikan kontribusi dengan positif
difference 1,763 dari level 1 dan 2. Jika setting kecepatan tekanan semprot yang
mendorong partikel terlalu rendah, maka partikel cair tidak cukup mampat
sehingga adanya rongga udara yang terjebak pada hasil pelapisan (porositas) yang
dapat mengurangi kekuatan ikat lapisan, sedangkan semakin tinggi peningkatan
tekanan semprot akan mengakibatkan impak yang tinggi dan menyebabkan
kerapatan lapisan, semakin tinggi kerapatan partikel semakin kuat ikatan lapisan.

Gambar 4.3. Grafik Efek SNR Untuk Faktor B (Jarak)


Dari gambar 4.3 didapat grafik efek SNR untuk faktor kendali jarak
semprot pelapisan. Faktor kendali untuk jarak semprot pelapisan memberikan
kontribusi dengan negatif difference 5,0016 dari level 1 dan 2. Semakin jauh jarak
semprot, maka semakin rendah daya lekatnya. Hal ini disebabkan karena
kecepatan partikel dan area jangkau partikel luas, kondisi ini berpeluang

62

terjadinya
kekuatan

ikat

antar

partikel berkurang.

Gambar 4.4. Grafik Efek SNR Untuk Faktor C (Arus)


Dari gambar 4.4 didapat grafik efek SNR untuk faktor kendali arus. Faktor
kendali untuk arus memberikan kontribusi dominan dengan negatif difference
11,1403 dari level 1 dan 2. Semakin tinggi arus yang diberikan untuk melelehkan
kawat, semakin rendah daya lekatnya. Karena, dengan meningkatnya arus yang
diberikan, kadar oksida yang diberikan akan meningkat. Hal ini dapat mengurangi
kekuatan lekat lapisan pada substrat.

Gambar 4.5. Grafik Efek SNR Untuk Faktor D


Dari gambar 4.5 didapat grafik efek SNR untuk faktor kendali kekasaran
permukaan substrat hasil grinding memberikan kontribusi difference 1,1472 dari
level 1 dan 2. Mekanisme ikatan antara material pelapis dan substrat dipengaruhi
dengan adanya penguncian mekanis antara material pelapis dan substrat

63

(mechanical interlocking) akibat mengalirnya partikulat cair membungkus kontur


permukaan. Dengan meningkatnya kekasaran permukaan substrat meningkat pula
kekuatan lekat lapisan.
4.2.2 Perhitungan Mean Untuk Hasil Kekuatan Lekat
A. Perhitungan Mean
Taguchi menggunakan analysis of means untuk mencari faktor-faktor yang
mempengaruhi nilai rata-rata respon. Analysis of means merupakan metode yang
digunakan untuk mencari setting level optimal yang dapat meminimalkan
penyimpangan nilai rata-rata. Langkah-langkah dalam perhitungan analisis
variansi (mean), yaitu:
Untuk menghitung mean maka dilakukan terlebih dahulu perhitungan
mean dari masing-masing eksperimen. Sebagai contoh perhitungan mean dari
eksperimen nomor 1 dengan menggunakan persamaan (2.18), yaitu :
Rata - rata yi

y 12,53 12,53 12,53


n

Perhitungan rata-rata untuk eksperimen yang lain sama seperti contoh


perhitungan eksperimen nomor 1 diatas, hasil perhitungan selengkapnya dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.6. Mean (rata-rata) kekuatan lekat
Nilai Kekuatan
lekat (mpa)

Faktor Kendali
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Tekanan
(bar)
6
6
6
6
8
8
8
8

Jarak
(mm)
200
200
300
300
200
200
300
300

Arus
(A)
100
150
100
150
100
150
100
150

Grinding
(Ra)
80
1000
1000
80
80
1000
1000
80

12,53
9,83
5,7
0,31
7,53
0
6,17
9,42

12,53
11,4
5,7
0,31
9,63
0
10,89
7,42

yi

12,53
10,61
5,7
0,31
8,58
0
8,53
8,42

B. Perhitungan Efek Tiap Faktor Mean Kekuatan Lekat

64

Perhitungan efek untuk tiap faktor dilakukan dengan membuat response


table menggunakan rumus seperti pada persamaan (2.19). Hasil selengkapnya
dapat dilihat pada tabel 4.7. Sebagai berikut :
Tabel 4.7. Response tabel untuk Mean Kekuatan lekat
Level 1
Level 2
Difference
Ranking
Optimum

A
7,2875
6,3825
0,905
4
A1

B
7,93
5,74
2,19
2
B1

C
8,835
4,835
4
1
C1

D
7,46
6,21
1,25
3
D1

Contoh perhitungan :
Perhitungan faktor A level 1:
Effect

y
0

1
(12,53 10,61 5,7 0,31) 7,2875
4

Difference = Rata-rata respon terbesar Rata-rata respon terkecil


Contoh perhitungan difference untuk faktor A = 7,2875 6,3825
= 0,905
C. Grafik Efek Mean Tiap Faktor Terhadap Kekuatan Lekat

Gambar 4.6. Grafik Efek Mean Untuk Faktor A (Tekanan)


Dari gambar 4.6 didapat grafik efek Mean untuk faktor kendali laju
tekanan penyemprotan memberikan kontribusi dengan difference 0,905 dari level

65

1 dan 2. Jika setting kecepatan tekanan semprot yang mendorong partikel terlalu
rendah, maka partikel cair tidak cukup mampat sehingga adanya rongga udara
yang terjebak pada hasil pelapisan (porositas) yang dapat mengurangi kekuatan
ikat lapisan, sedangkan semakin tinggi peningkatan tekanan semprot akan
mengakibatkan impak yang tinggi dan menyebabkan kerapatan lapisan, semakin
tinggi kerapatan partikel semakin kuat ikatan lapisan.

Gambar 4.7. Grafik Efek Mean Untuk Faktor B (Jarak)


Dari gambar 4.7 didapat grafik efek Mean untuk faktor kendali jarak
penyemprotan. Faktor kendali untuk jarak penyemprotan memberikan kontribusi
dengan negatif difference 2,19 dari level 1 dan 2. Semakin jauh jarak semprot,
maka semakin rendah daya lekatnya. Hal ini disebabkan karena kecepatan partikel
dan area jangkau partikel luas, kondisi ini berpeluang terjadinya kekuatan ikat
antar partikel berkurang.
.

66

Gambar 4.8. Grafik Efek Mean Untuk Faktor C (Arus)


Dari gambar 4.8 didapat grafik efek Mean untuk faktor kendali arus.
Faktor kendali untuk arus memberikan kontribusi dominan dengan negatif
difference 4 dari level 1 dan 2. Semakin tinggi arus yang diberikan untuk
melelehkan kawat, semakin rendah daya lekatnya. Karena, dengan meningkatnya
arus yang diberikan, kadar oksida yang diberikan akan meningkat. Hal ini dapat
mengurangi kekuatan lekat lapisan pada substrat.

Gambar 4.9. Grafik Efek Mean Untuk Faktor D (Kekasaran permukaan)


Dari gambar 4.9 didapat grafik efek Mean diatas untuk faktor kendali
kekasaran permukaan substrat hasil grinding. Faktor kendali dari kekasaran
permukaan hasil grinding memberikan kontribusi negatif difference 1,25 dari level
1 dan 2. Mekanisme ikatan antara material pelapis dan substrat dipengaruhi
dengan adanya penguncian mekanis antara material pelapis dan substrat
(mechanical interlocking) akibat mengalirnya partikulat cair membungkus kontur

67

permukaan, dengan meningkatnya kekasaran permukaan meningkat pula kekuatan


lekat lapisan.
4.2.3

Perhitungan Analysis of Variance (ANOVA) Hasil Kekuatan Lekat


Perhitungan ANOVA dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus yang

terdapat pada bab II. Sebagai contoh perhitungan langkah-langkahnya dapat


dilihat seperti dibawah ini :
a. Menghitung rata-rata total seluruh eksperimen (overall experimental average)
sesuai dengan rumus (2.18), yaitu:

12,53 10,61 5,7 0,31 8,58 0 8,53 8,42


8

6,835

b. Menghitung total sum of squares sesuai dengan rumus (2.20) sebagai berikut:
ST

12,53 +10,61 +5,7 +0,31 +8,58 +0 +8,53 +8,42


2

= 519,4328
c. Menghitung sum of squares due to the mean sesuai dengan rumus (2.21)
sebagai berikut:
Sm n y

= 8 x (6,835)2 = 373,7378

d. Menghitung sum of squares due to factors sesuai dengan rumus (2.22) sebagai
berikut:
2
2
2
Ss ni1 i1 ni 2 i 2 ...... nij ij Sm

Contoh perhitungan untuk faktor A adalah sebagai berikut :


SSA = (4 x (7,28752+6,38252)) 373,7378
= 1,6381
SSB = (4 x ( 7,932+5,742)) 373,7378
= 9,5922
SSC = ( 4x ( 8,8352+4,8352)) 373,7378
= 32
SSD = ( 4x (7,462+6,212)) 373,7378
= 3,125

68

e. Menghitung the sum of squares due to the error sesuai dengan rumus (2.23)
sebagai berikut:
Error = ST Sm (SsA+sSB+Ssi)
= 519,4328 373,7378 (46,3553)
= 99,3397
f. Menghitung total sum of squares sesuai dengan rumus (2.24) sebagai berikut :
ST = Se + (SsA+SsB+Ssi)
= 99,3397 + 46,3553
= 145,695
g. Menghitung Mean sum of squares sesuai dengan rumus (2.25) sebagai berikut :
SS

Contoh perhitungan untuk faktor A adalah sebagai berikut :


V

SS A
1,6381
=
= 1,6381
v
1

h. Menghitung F-ratio sesuai dengan rumus (2.26) sebagai berikut :


F

V
V (st )

Untuk mencari nilai F sesuai dengan rumus (2.27) sebagai berikut :

V
1,6381
= 19,8679 = 0,08244
V (st )

i. Menghitung pooled sesuai dengan rumus (2.28) sebagai berikut :


P

SS (v V ( st ))
100
SS ( Error )

Untuk mencari nilai P sesuai dengan rumus (2.28) sebagai berikut :


P

1,6381 (1 16,1883)
100
99,3397

= -12,5123
j. Menghitung percent confidence sesuai dengan rumus (2.29) sebagai berikut :
% Confidence = ( 1 Fdist ( F, v, v(error pooled) )) x 100
Untuk mencari nilai P sesuai dengan rumus (2.28) sebagai berikut :
% Confidence = ( 1 0,785536 ) x 100 = 21,45

69

Tabel 4.8. Analysis of variance untuk mean kekuatan lekat


Source

SS

%
Confidence

1,6381

1,6381

0,082449

-12,5123

21,45

9,5922

9,5922

0,482798

-7,05291

48,19

32

32

1,610635

8,327026

73,97

3,125

3,125

0,157289

-11,4918

29,20

Error

99,3397

19,86794

122,73

ST

145,695

16,18833

100

Error Pooled

99,3397

19,86794

Berdasarkan tabel analysis of variance (mean), diketahui bahwa semua


faktor tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai kekuatan lekat stainless steel
pada baja AISI 4140. Hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara nilai F-ratio ,
jika nilai F-ratio lebih besar dari nilai pooled nya maka faktor tersebut
berpengaruh secara signifikan terhadap variabel respon. Selanjutnya dilakukan
pooling up terhadap faktor faktor yang memiliki nilai P terkecil dan juga yang
memiliki F hitung lebih kecil dari f tabel pada tingkat kepercayaan 95%, dari
anova di atas yang dapat dipooling up adalah faktor A.Pada penelitian ini dilihat
dari tabel diatas nilai Error mencapai 99,3397 dan nilai V nya mencapai 19,86794
yang seharus nya nilai error dibawah 50 dan nilai V nya dibawah 15,sehingga
Pooled up of insignificant factors tidak bisa dilakukan untuk mencari faktor
paling berpengaruh dan faktor yang kurang berpengaruh terhadap eksperimen.
Setelah analisa pada kekuatan lekat maka dilanjutkan dengan analisa
kekerasan lapisan stainless steel PMET 730 , pengujian kekerasan lapisan
stainless steel 730 Thermal arc spray double wire pada baja AISI 4140
menggunakan makro Vickers. Pengujian ini dilakukan dilakukan di PT.Krakatau
Steel Divisi Quality control Seksi Lab. Metalurgi BLD pada tanggal 03 - 05
September 2013. Untuk pemasangan sampel harus presisi untuk memastikan
pengujiaan dilakukan dengan benar dan meminimalisir kesalahan hasil dalam
pengujian.
Data yang diperoleh dari pelaksanaan pengujian pada spesimen Baja AISI
4140 yang telah dilapisi Stainless steel 316 dapat dilihat pada tabel 5.2. Angka

70

yang tercantum merupakan nilai kekerasan stainles steel 316 PMET 730 hasil
pengujian menggunakan Macro Vickers testing. Hasil selengkapnya yang
diperoleh dari pelaksanaan pengujian kekerasan pada baja AISI 4140 hasil proses
coating thermal arc spray double wire adalah sebagai berikut :
Tabel 4.9. Nilai Level Faktor

Tabel 4.10. Hasil Pengujian Kekerasan macrovickers.


Faktor Kendali
No.

Tekanan Jarak
Arus Grinding
(bar)
(mm)
(A)
(Mesh)
1
6
200
100
80
2
6
200
150
1000
3
6
300
100
1000
4
6
300
150
80
5
8
200
100
80
6
8
200
150
1000
7
8
300
100
1000
8
8
300
150
80
Sampel tanpa pelapisan SS 316 Thermal arc spray
4.3

Nilai Kekerasan
(VHN)
1

322
325
357
346
342
346
351
357
313

325
330
357
354
348
351
348
348
313

yi

323,5
327,5
357
350
345
348,5
349,5
352,5
313

Perhitungan Hasil Eksperimen Untuk Uji Kekerasan


Perhitungan terhadap hasil eksperimen sesuai dengan karakteristik mutu

yang diamati adalah sebagai berikut :


4.3.1 Perhitungan Signal to Noise Ratio (SNR) Hasil Uji Kekerasan
A. Perhitungan SNR Kekerasan

71

Taguchi menggunakan perhitungan signal to noise ratio untuk mencari


faktor-faktor yang memiliki kontribusi pada pengurangan variansi suatu
karakteristik kualitas (variabel respon). Karakteristik kualitas yang digunakan
dalam penelitian ini adalah nilai kekerasan, dimana semakin tinggi nilainya
semakin baik, sehingga SNR yang digunakan adalah larger the better.
Langkah-langkah perhitungan SNR sebagai berikut:
Contoh perhitungan untuk SNR eksperimen nomor 1
1 n 1
2
n i
1 y i

SNR 10 log10

10 log

/ 2
2
2
325
322

50,1972

Perhitungan SNR untuk eksperimen yang lain sama seperti contoh


perhitungan eksperimen nomor 1 di atas, Hasil perhitungan selengkapnya dapat
dilihat dalam tabel 4.11. berikut :
Tabel 4.11. Signal to Noise Ratio (SNR) Kekerasan
Eksperimen
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Nilai kekerasan
1
2
322
325
357
346
342
346
351
357

325
330
357
354
348
351
348
348

yi

SNR

323,5
327,5
357
350
345
348,5
349,5
352,5

50,1972
50,3034
51,0533
50,8796
50,7553
50,8433
50,8687
50,9410

Dari data di atas kemudian dianalisa menggunakan perhitungan efek tiap


faktor dari SNR.
B. Perhitungan Efek Tiap Faktor SNR Hasil Uji Kekerasan

72

Perhitungan efek untuk tiap faktor dilakukan dengan membuat response


tabel menggunakan rumus seperti pada persamaan (2.19). Hasil selengkapnya
dapat dilihat pada tabel 4.12. Sebagai berikut :

Tabel 4.12. Response table untuk SNR Kekerasan


Level 1
Level 2
Difference
Ranking
Optimum

A
50,6083
50,8521
0,2438
2
A2

B
50,5248
50,9356
0,4108
1
B2

C
50,7186
50,7418
0,0232
4
C2

D
50,6932
50,7671
0,0739
3
D2

Contoh perhitungan :
Perhitungan faktor A level 1:
Effect

y
0

1
(50,1972 50,3034 51,0533 50,8796 50,6083
4

Difference = Rata-rata respon terbesar Rata-rata respon terkecil


Contoh perhitungan difference untuk faktor A = 50,8521- 50,6083
= 0,2438
C. Grafik Efek Tiap Faktor SNR Terhadap Kekerasan Lapisan

73

Gambar 4.10. Grafik Efek SNR Untuk Faktor A (Tekanan)


Dari gambar 4.10 didapat grafik efek SNR untuk faktor kendali tekanan
penyemprotan. Faktor kendali tekanan penyemprotan memberikan kontribusi
positif difference 0,2438 dari level 1 dan 2. Laju tekanan berpengaruh pada
kerapatan partikel lapisan. Laju tekanan yang terlalu rendah akan menyebabkan
partikel cair tidak cukup rapat, sehingga peluang terbentuknya porositas
meningkat yang mengakibatkan kekerasan berkurang. Laju tekanan yang tinggi
mengakibatkan kerapatan partikel meningkat, sehingga meminimalisir terjadinya
porositas dan dapat meningkatkan kekerasan lapisan.

Gambar 4.11. Grafik Efek SNR Untuk Faktor B (Jarak)


Dari gambar 4.11 didapat grafik efek SNR untuk faktor kendali jarak
penyemprotan. Faktor kendali jarak penyemprotan memberikan kontribusi
dominan dengan positif difference 0,4108 dari level 1 dan 2. Dengan
meningkatnya jarak penyemprotan, kekerasan lapisan meningkat. Hal ini
disebabkan terjadinya pendinginan cepat antar partikel menuju substrat dengan
adanya

peningkatan

jarak

semprot.

Pendinginan

cepat

dalam

lapisan,

mengakibatkan peningkatan kekerasan lapisan.

74

Gambar 4.12. Grafik Efek SNR Untuk Faktor C (Arus)


Dari gambar 4.12 didapat grafik efek SNR untuk faktor kendali arus.
Faktor kendali arus memberikan kontribusi positif difference 0,0232 dari level 1
dan 2. Jika besaran arus meningkat, kalor bertambah dan terjadi kenaikan suhu.
Bila suhu mencapai titik lebur suatu benda, maka benda akan beruba wujud dari
padat menjadi cair. Akibatnya permukaan logam yang mencair semakin luas dan
kecepatan pendinginan meningkat mengakibatkan partikel cair dengan cepat
mengeras membentuk lapisan. Suhu yang meningkat memberikan peluang
terjadinya oxcide, banyaknya oxcide meningkatkan nilai kekerasan lapisan.

Gambar 4.13. Grafik Efek SNR Untuk Faktor D (kekasaran permukaan)


Dari gambar 4.13 didapat grafik efek SNR untuk faktor kendali kekasaran
permukaan substrat hasil grinding. Faktor kendali kekasaran permukaan
memberikan kontribusi positif difference 0,0739 dari level 1 dan 2. Berdasarkan
grafik dapat disimpulkan bahwa lapisan permukaan dapat meningkatkan
kekerasan raw material, kekasaran permukaan dapat mengakibatkan nilai

75

kekerasan menurun. Hal ini disebabkan oleh semakin kasar raw material maka
semakin besar nilai porositasnya, sehingga dapat menurunkan nilai kekerasannya.
4.3.2

Perhitungan Mean Hasil Uji Kekerasan

A. Perhitungan Mean Kekerasan


Taguchi menggunakan analysis of means untuk mencari faktor-faktor yang
mempengaruhi nilai rata-rata respon. Analysis of means merupakan metode yang
digunakan untuk mencari setting level optimal yang dapat meminimalkan
penyimpangan nilai rata-rata. Langkah-langkah dalam perhitungan analisis
variansi (mean), yaitu:
Untuk menghitung mean maka dilakukan terlebih dahulu perhitungan
mean dari masing-masing eksperimen. Sebagai contoh perhitungan mean dari
eksperimen nomor 1 dengan menggunakan persamaan (2.18), yaitu :
Rata - rata yi

y 322 325 323,5


n

Perhitungan rata-rata untuk eksperimen yang lain sama seperti contoh


perhitungan eksperimen nomor 1 di atas, hasil perhitungan selengkapnya dapat
dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.13. Mean (rata-rata) Kekerasan

B. Perhitungan Efek Tiap Faktor Mean Untuk Hasil Uji Kekerasan

76

Perhitungan efek untuk tiap faktor dilakukan dengan membuat response


table menggunakan rumus seperti pada persamaan (2.19). Hasil selengkapnya
dapat dilihat pada tabel 4.14 Sebagai berikut :

Tabel 4.14. Response tabel untuk Mean kekerasan


Level 1
Level 2
Difference
Ranking
Optimum

A
339,5
348,875
9,375
2
A2

B
336,125
352,25
16,125
1
B2

C
343,5
344,625
1,125
4
C2

D
342,75
345,625
2,875
3
D2

Contoh perhitungan :
Perhitungan faktor A level 1:
Effect

y
0

1
(323,5 327,5 357 350) 339,5
4

Difference = Rata-rata respon terbesar Rata-rata respon terkecil


Contoh perhitungan difference untuk faktor A = 348,875 339,5
= 9,375
C. Grafik Efek Tiap Faktor Mean Terhadap Kekerasan Lapisan

77

Gambar 4.14. Grafik Efek Mean Untuk Faktor A (Tekanan)


Dari gambar 4.14 didapat grafik efek Mean untuk faktor kendali tekanan
penyemprotan. Faktor kendali dari tekanan penyemprotan memberikan kontribusi
difference 9,375 dari level 1 dan 2. Laju tekanan berpengaruh pada kerapatan
partikel lapisan. Laju tekanan yang terlalu rendah akan menyebabkan partikel cair
tidak cukup rapat, sehingga peluang terbentuknya porositas meningkat yang
mengakibatkan kekerasan berkurang. Laju tekanan yang tinggi mengakibatkan
kerapatan partikel meningkat, sehingga meminimalisir terjadinya porositas dan
dapat meningkatkan kekerasan lapisan.

Gambar .4.15. Grafik Efek Mean Untuk Faktor B (Jarak)


Dari gambar 4.15 didapat grafik efek Mean untuk faktor kendali jarak
penyemprotan memberikan kontribusi dominan dengan difference 16,125 dari
level 1 dan 2. Dengan meningkatnya jarak penyemprotan, kekerasan lapisan
meningkat. Hal ini disebabkan terjadinya pendinginan cepat antar partikel menuju

78

substrat dengan adanya peningkatan jarak semprot. Pendinginan cepat dalam


lapisan, mengakibatkan peningkatan kekerasan lapisan.

Gambar 4.16. Grafik Efek Mean Untuk Faktor C (Arus)


Dari gambar 4.16 didapat grafik efek Mean untuk faktor kendali arus.
Faktor kendali arus memberikan kontribusi positif difference 1,125 dari level 1
dan 2. Jika besaran arus meningkat, kalor bertambah dan terjadi kenaikan suhu.
Bila suhu mencapai titik lebur suatu benda, maka benda akan beruba wujud dari
padat menjadi cair. Akibatnya permukaan logam yang mencair semakin luas dan
kecepatan pendinginan meningkat mengakibatkan partikel cair dengan cepat
mengeras membentuk lapisan. Suhu yang meningkat memberikan peluang
terjadinya oxcide, banyaknya oxcide meningkatkan nilai kekerasan lapisan.

Gambar 4.17. Grafik Efek Mean Untuk Faktor D (Kekasaran permukaan)


Dari gambar 4.17 didapat grafik efek Mean untuk kekasaran permukaan
substrat hasil grinding. Faktor kendali kekasaran permukaan memberikan

79

kontribusi positif difference 2,875 dari level 1 dan 2. Berdasarkan grafik dapat
disimpulkan bahwa lapisan permukaan dapat meningkatkan kekerasan raw
material, kekasaran permukaan dapat mengakibatkan nilai kekerasan menurun.
Hal ini disebabkan oleh semakin kasar raw material maka semakin besar nilai
porositasnya, sehingga dapat menurunkan nilai kekerasannya.
4.3.3

Perhitungan Analysis of Variance (ANOVA) Hasil Uji Kekerasan


Perhitungan ANOVA dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus yang

terdapat pada bab II. Sebagai contoh perhitungan langkah-langkahnya dapat


dilihat seperti dibawah ini :
a. Menghitung rata-rata total seluruh eksperimen (overall experimental average)
sesuai dengan rumus (2.18), yaitu:

323,5 327,5 357 350 345 348,5 349,5 352,5


8

344,1875

b. Menghitung total sum of squares sesuai dengan rumus (2.20) sebagai berikut:
ST

323,5 +327,5 +357 +350 +345 +348,5 +349,5 +352,5


2

= 948741,25
c. Menghitung sum of squares due to the mean sesuai dengan rumus (2.21)
sebagai berikut:
Sm n y

= 8 x (344,1875)2 = 947720,2813

d. Menghitung sum of squares due to factors sesuai dengan rumus (2.22) sebagai
berikut:
Ss ni1 i1 ni 2 i 2

...... nij ij

Sm

Contoh perhitungan untuk faktor A adalah sebagai berikut :


SSA = (4 x (339,52+348,8752)) 947720,2813
= 175,7812
SSB = (4 x ( 336,1252+352,252)) 947720,2813
= 520,0312
SSC = ( 4x ( 343,52+344,6252)) 947720,2813

80

= - 685,7188
SSD = ( 4x (342,752+345,6252)) 947720,2813
= 16,5312
e. Menghitung the sum of squares due to the error sesuai dengan rumus (2.23)
sebagai berikut:
Error = ST Sm (SsA+sSB+Ssi)
= 948741,25 947720,2813 (26,6248)
= 994,3439
f. Menghitung total sum of squares sesuai dengan rumus (2.24) sebagai berikut :
ST = Se + (SsA+SsB+Ssi)
= 994,3439 + 26,6248
= 1020,9687
g. Menghitung Mean sum of squares sesuai dengan rumus (2.25) sebagai berikut :
V

SS
v

Contoh perhitungan untuk faktor A adalah sebagai berikut :


V

SS A
175,7812
=
= 175,7812
v
1

h. Menghitung F-ratio sesuai dengan rumus (2.26) sebagai berikut :


F

V
V (st )

Untuk mencari nilai F sesuai dengan rumus (2.27) sebagai berikut :

V
175,7812
= 198,8688 = 0,883905
V (error )

i. Menghitung pooled sesuai dengan rumus (2.28) sebagai berikut :


P

SS (v V (error ))
100
SS ( Error )

Untuk mencari nilai P sesuai dengan rumus (2.28) sebagai berikut :


P

175,7821 (1 196,8688)
100
994,3439

= -2,32189
j. Menghitung percent confidence sesuai dengan rumus (2.29) sebagai berikut :
% Confidence = ( 1 Fdist ( F, v, v(error pooled) )) x 100

81

Untuk mencari nilai P sesuai dengan rumus (2.28) sebagai berikut :


% Confidence = ( 1 0,390299 ) x 100 = 60,97
Tabel 4.15. Analysis of variance untuk mean kekerasan
Source

SS

A
B
C
D
Error
ST
Error Pooled

175,7812
520,0312
-685,7188
16,5312
994,3439
1020,9687
994,3439

v
1
1
1
1
5
9
5

175,7812
520,0312
-685,719
16,5312
198,8688
113,441
198,8688

0,883905
2,614946
-3,4481
0,083126

-2,32189
32,29893
-88,9619
-18,3375

%
Confidence
60,97
83,32
21,53

Berdasarkan tabel analysis of variance (mean), diketahui bahwa semua


faktor berpengaruh terhadap nilai kekerasan stainless steel pada baja AISI 4140.
Hal ini dapat dilihat dari perbandingan antara nilai F-ratio , jika nilai F-ratio lebih
besar dari nilai pooled nya maka faktor tersebut berpengaruh secara signifikan
terhadap variabel respon. Selanjutnya dilakukan pooling up terhadap faktor faktor
yang memiliki nilai P terkecil dan juga yang memiliki F hitung lebih kecil dari f
tabel pada tingkat kepercayaan 95%, dari anova di atas yang dapat dipooling up
adalah faktor C.Pada penelitian ini dilihat dari tabel diatas nilai Error mencapai
994,3439 dan nilai V nya mencapai 198,8688 yang seharus nya nilai error
dibawah 50 dan nilai V nya dibawah 15,sehingga Pooled up of insignificant
factors tidak bisa dilakukan untuk mencari faktor paling berpengaruh dan faktor
yang kurang berpengaruh terhadap eksperimen.
4.4

Analisis Terhadap Eksperimen Taguchi


Eksperimen Taguchi dilakukan dengan desain orthogonal array yang telah

didesain oleh Taguchi. Eksperimen Taguchi dilakukan untuk mengurangi jumlah


percobaan yang dilakukan dibandingkan jika menggunakan desain full factorial.
Orthogonal array memiliki tata letak eksperimen yang mampu melakukan
evaluasi beberapa faktor secara bersamaan dengan jumlah percobaan yang
minimum. Keterbatasaan sumber daya menjadi alasan utama dipilihnya desain

82

orthogonal array ini. Keterbatasaan ini terutama dalam hal biaya dan waktu untuk
eksperimen.
4.4.1

Analisa untuk SNR


Dalam menentukan level-level yang paling berkontribusi dari masing-

masing faktor tersebut dapat dilihat dari grafik efek SNR atau pada tabel 4.5,
dimana faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kekuatan lekat lapian stainless
steel PMET 730 sebagai berikut: Faktor A (tekanan) adalah A1 sebesar 6
bar,faktor B (jarak) adalah B1 sebesar 200 mm faktor C (arus) adalah C1 sebesar
100 A dan untuk faktor D (Kekasaran permukaam) adalah D2 grit 1000 mesh.
Diantara faktor yang lain, faktor C1 yang berpengaruh signifikan.
dari grafik efek SNR atau pada tabel 5,4 dimana faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap kekerasan lapian stainless steel PMET 730 sebagai berikut:
Faktor A (tekanan) adalah A2 sebesar 8 bar,faktor B (jarak) adalah B2 sebesar 300
mm faktor C (arus) adalah C2 sebesar 150 A dan untuk faktor D (Kekasaran
permukaan subtrat hasil grinding) adalah D2 grit 1000 mesh. Diantara faktor yang
lain, faktor B2 yang berpengaruh signifikan.
4.4.2

Analisa untuk Mean


Untuk menentukan level-level yang paling optimal dari masing-masing

faktor tersebut dapat dilihat dari grafik efek mean atau pada tabel 4.7 yang
memberikan hasil sama seperti pada perhitungan SNR, dimana faktor-faktor yang
berpengaruh secara signifikan terhadap kekuatan lekat lapisan stainless steel
PMET 730 sebagai berikut: Faktor A (tekanan) adalah A1 sebesar 6 bar, faktor B
(jarak) adalah B1 200 mm, faktor C (arus) adalah C1 sebesar 100 A dan untuk
faktor D (kekasaran permukaan substrat hasil grinding) adalah D1 grit 80 mesh.
Dari grafik efek mean atau pada tabel 5.6 yang memberikan hasil sama
seperti pada perhitungan SNR, dimana faktor-faktor yang berpengaruh kekerasan
pada lapisan stainless steel PMET 730 sebagai berikut: Faktor A (tekanan) adalah
A2 sebesar 8 bar, faktor B (jarak) adalah B2 300 mm, faktor C (arus) adalah C2
sebesar 150 A dan untuk faktor D (kekasaran permukaan) adalah D2 grit 1000
mesh.

83

4.4.3

Analisa untuk ANOVA


Dari hasil perhitungan ANOVA untuk mean pada tabel 4.7 maka 4 faktor

kurang mempunyai kontribusi secara signifikan terhadap kekuatan lekat lapisan


,karena tidak ada setting faktor shot blasting sehingga faktor A (tekanan), B
(jarak), dan D (kekasaran permukaan) kurang berpengaruh, tapi pada faktor C
(arus) sebesar 73, 73,97% memberikan kontribusi signifikan dibanding faktor
yang lain. Sedangkan ANOVA untuk mean pada tabel 5.6 yang mempunyai
kontribusi secara signifikan terhadap kekerasan lapisan stainless steel 316 adalah
faktor B (jarak) sebesar 83,32%.

84