Anda di halaman 1dari 6

PROSES PENGOLAHAN

Tebu dipanen setelah cukup masak, dalam arti kadar gula (sakarosa) maksimal dan
kadar gula pecahan (monosakarida) minimal. Untuk itu dilakukan analisa pendahuluan untuk
mengetahui faktor pemasakan, koefisien daya tahan, dll. Ini dilakukan kira-kira 1,5 bulan
sebelum penggilingan.
Setelah tebu dipanen dan diangkat ke pabrik selanjutnya dilakukan pengolahan gula putih.
Pengolahan tebu menjadi gula putih dilakukan di pabrik dengan menggunakan peralatan yang
sebagain besar bekerja secara otomatis.
Tahap-tahap dalam Pembuatan Gula:
Pembuatan gula putih di pabrik gula mengalami beberapa tahapan pengolahan, yaitu
pemerahan nira, pemurian, penguapan, kristalisasi, pemisahan kristal, dan pengeringan.
1. Pemerahan Nira (Ekstrasi)
Tebu setelah ditebang, dikirim ke stasiun gilingan untuk dipisahkan antara bagian
padat (ampas) dengan cairannya yang mengandung gula (nira mentah). Alat penggiling tebu
yang digunakan di pabrik gula berupa suatu rangkaian alat yang terdiri dari alat pengerja
pendahuluan (Voorbewer keras) yang dirangkaikan dengan alat giling dari logam. Alat
pengerja pendahuluan terdiri dari Unigator Mark IV dan Cane knife yang berfungsi sebagai
pemotong dan pencacah tebu. Setelah tebu mengalami pencacahan dilakukan pemerahan nira
untuk memerah nira digunakan 5 buah gilingan, masing-masing terdiri dari 3 rol dengan
ukuran 36X64.

Diagram Alir Proses Pembuatan Gula

2.

Pemurnian Nira

Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk proses pemurnian gula yaitu cara defekasi, sulfitasi
dan karbonatasi. Pada umumnya pabrik gula di indonesia memakai cara sulfitasi. Cara
sulfitasi menghemat biaya produksi, bahkan pemurnian mudah di dapat dan gula yang
dihasilkan adalah gula putih atau SHS (Superieure Hoofd Sumber).
Proses ini menggunakan tabung defekator, alat pengendap dan saringan Rotary Vacuum Filter
dan bahan pemurniannya adalah kapur tohor dan gas sulfit dari hasil pembakaran.
Mula-mula nira mentah ditimbang, dipanaskan, direaksikan dengan susu kapur dalam
defekator, kemudian diberi gas SO2 dalam peti sulfitasi, dipanaskan dan diendapkan dalam
alat pengendap. Nira kotor yang diendapkan kemudian disaring menggunakan Rotery
Vaccum Filter. Dari proses ini dihasilkan nira jernih dan endapan padat berupa blotong. Nira
jernih yang dihasilkan kemudian dikirim kestasiun penguapan.

3.

Penguapan Nira (Evaporasi)

Nira jernih masih banyak mengandung uap air. Untuk menghilangkan kadar air dilakukan
penguapan (evaporasi).
Dipabrik gula penguapan dilakukan dengan menggunakan beberapa evaporator dengan
sistem multiple effect yang disusun secara interchangeable agar dapat dibersihkan bergantian.
Evaporator bisanya terdiri dari 4-5 bejana yang bekerja dari satu bejana sebagai uap pemanas
bejana berikutnya. Total luas bidang pemanas 5990m2 vo.
Dalam bejana Nomor 1 nira diuapkan dengan menggunakan bahan pemanas uap bekas secara
tidak langsung. Uap bekas ini terdapat dalam sisi ruang uap dan nira yang diuapkan terdapat
dalam pipa-pipa nira dari tombol uap. Dari sini, uap bekas yang mengembun dikeluarkan
dengan kondespot. dalam bejana nomor 2, nira dari bejana nomor 1 diuapkan dengan
menggunakan uap nira dari bejana penguapan nomor 1. Kemudian uap nira yang mengembun
dikeluarkan dengan Michaelispot. Di dalam bejana nomor 3, nira yang berasal dari bejana
nomor 2 diuapkan dengan menggunakan uap nira dari bejana nomor 2. Demikian seterusnya,
sampai pada bejana terakhir merupakan nira kental yang berwarna gelap dengan kepekatan
sekitar 60 brik. Nira kental ini diberi gas SO2 sebagai belancing dan siap dikristalkan.

Sedangkan uap yang dihasilkan dibuang ke kondensor sentral dengan perantara pompa
vakum.

4. Kristalisasi
Crystal Vacum Crystallizer

Feed dicampur dengan cairan yang direcycle dipompa keruang penguap untuk
diuapkan secara adiabatic sehingga terjadilarutan lewat jenuh. Larutan tersebut mengalir
melalui pipa ketangki kristalisasi sehingga terbentuk kristal di dalam tangki kristalisasi,
kemudian kristal dikeluarkan melalui dischargenya dancairannya direcycle.Dengan alat ini
ukuran kristal yang diinginkan dapat diatur dengan mengatur kecepatan pompa sirkulasi.
Kalau sirkulasinyalambat maka kristal yang kecil-kecilpun akan larut mengendap.

Bahan Dasar Proses Kristalisasi


Dalam proses pembuatan gula, yang dimulai daripemerahan tebu menghasilkan nira mentahh,
kemudian dengan pemurnian untuk menghilangkan kotoran dan penguapan untuk menguapkanair
maka akan diperoleh nira kental. Nira kental ini adalah bahan baku utama dalam proses kristalisasi.
Dari rangkaian proses sebelumnya nira masih mengandung kotoran dan kadar air. Di proses
kristalisasi ini kadar kotoran dan air yang ada dalam nira akan dihilangkan. Di nira kental masih
terkandung kotoran sebesar 15 20 % zat terlarut, sedangkan kadar airnya 35 40 % (memiliki brix
60 65). Nira kental sebagian besar mempunyai brix sebesar 60 65 % dengan tujuan supaya larutan
tersebut mendekati konsentrasi jenuhnya.
Proses Kristalisasi

Proses kristalisasi adalah proses pembentukan kristal gula. Sebelum dilakukan


kristaliasi dalam pan masak ( crystallizer ) nira kental terlebih dahulu direaksikan dengan gas
SO2 sebagai bleaching dan untuk menurunkan viskositas masakan (nira). Dalam proses
kristalisasi gula dikenal sistem masak ACD, ABCD, ataupun ABC.
Tingkat masakan (kristalisasi) tergantung pada kemurnian nira kental. Apabila HK
nira kental > 85 % maka dapat dilakukan empat tingkat masakan (ABCD). Dan apabila HK
nira kental < 85 % dilakukan tiga tingkat masakan (ACD). Pada saat ini dengan kondisi
bahan baku yang rendah pabrik gula menggunakan sistem masakan ACD, dengan masakan A
sebagai produk utama.
Langkah pertama dari proses kristalisasi adalah menarik masakan (nira pekat) untuk
diuapkan airnya sehingga mendekati kondisi jenuhnya. Dengan pemekatan secara terus
menerus koefisien kejenuhannya akan meningkat. Pada keadaan lewat jenuh maka akan
terbentuk suatu pola kristal sukrosa. Setelah itu langkah membuat bibit, yaitu dengan
memasukkan bibit gula kedalam pan masak kemudian melakukan proses pembesaran kristal.
Pada proses masak ini kondisi kristal harus dijaga jangan sampai larut kembali ataupun
terbentuk tidak beraturan.
Setelah diperkirakan proses masak cukup, selanjutnya larutan dialirkan ke palung
pendingin (receiver) untuk proses Na Kristalisasi. Tujuan dari palung pendingin ialah :
melanjutkan proses kristalisasi yang telah terbentuk dalam pan masak, dengan adanya
pendinginan di palung pendingin dapat menyebabkan penurunan suhu masakan dan nilai
kejenuhan naik sehingga dapat mendorong menempelnya sukrosa pada kristal yang telah
terbentuk. Untuk lebih menyempurnakan dalam proses kristalisasi maka palung pendingin
dilengkapi pengaduk agar dapat sirkulasi
5. Pemisahan Kristal Gula
Pemisahan kristal dilakukan dengan menggunakan saringan yang bekerja dengan
memutar (sentrifungal). Alat ini bertugas memisahkan gula terdiri dari :
1. 3 buah broadbent 48 X 30untuk gula masakan A.

gaya

2. 4 buah bactch sangerhousen 48 X 28 untuk masakan B.


3. 2 buah western stated CCS untuk D awal.
4. 6 buah batch sangerhousen 48 X 28 untuk gula SHS.
5. 3 buah BNA 850 K untuk gula D.
Dalam tingkatan pengkristalan, pemisahan gula dari tetesnya terjadi pada tingkat B. Pada
tingkat ini terjadi poses separasi (pemisahan). Mekanismenya menggunakan gaya sentrifugal.
Dengan adanya sistem ini, tetes dan gula terpisah selanjutnya pada tingkat D dihasilkan gula
melasse (kristal gula) dan melasse (tetes gula).

6. Pengeringan Kristal Gula


Air yang dikandung kristal gula hasil sentrifugasi masih cukup tinggi, kira-kira 20% .
Gula yang mengandung air akan mudah rusak dibandingkan gula kering,untuk menjaga agar
tidak rusak selama penyimpanan, gula tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu.
pengeringan dapat dilakukan dengan cara alami atau dengan memakai udara panas kira-kira
800c. Pengeringan gula secara alami dilakukan dengan melewatkan SHS pada talang goyang
yang panjang. Dengan melalui talang ini gula diharapkan dapat kering dan dingin. Proses
pengeringan dengan cara ini membutuhkan ruang yang lebih luas dibandingkan cara
pemanasan. Karena itu, pabrik-pabrik gula menggunakan cara pemanasan. Cara ini bekerja
atas dasar prinsip aliran berlawanan dengan aliran udara panas.
7. Proses Packing
Gula Produk dikeringkan di talang goyang dan juga diberikan hembusan uap kering.
Produk gula setelah mengalami proses pengeringan dalam talang goyang, ditampung terlebih
dahulu ke dalam sugar bin, selanjutnya dilakukan pengemasan atau pengepakan. Berat gula
dalam pengemasan untuk masing-masing pabrik gula tidak sama, ada yang per sak plastiknya
25 kg atau 50 kg. Setelah itu gula yang berada di sak plastik tidak boleh langsung dijahit,
harus dibuka dulu supaya temperatur gula dalam sak plastik mengalami penurunan
suhu/temperatur. Suhu gula dalam karung tidak boleh lebih dari 30 oC/suhu kamar, setelah
gula dalam plastik dinyatakan dingin maka boleh dijahit. Jika gula dalam sak plastik dalam
keadaan panas dijahit maka berakibat penurunan kualitas gula.

Sumber Tenaga Penggerakan Mesin Pembuat Gula


Tenaga yang menggerakan mesin-mesin pembuat gula selain berasal dari pembangkit listrik
juga berasal dari pembangkit tenaga uap. Sebagai penghasil tenaga digunakan 5 buah ketel
pipa air Niew mark 16 ton/jam masing-masing 440 m2vo dengan tekanan kerja 15 kg/cm2 dan
satu buah ketel cheng-cheng kapasitas 40 ton/jam. Uap yang dihasilkan dipakai untuk
menggerakan turbin generator dan mesin uap. Uap bekasnya dipakai untuk memanaskan dan
menguapkan nira dalam panci mengguapkan dan memanaskan gula.
Bahan bakar pembangkit tenaga uap adalah ampas tebu yang berasal dari proses pemerahan
nira. Ampas tebu yang di hasilkan dari proses pemerahan nira tersebut sekitar 30% tebu.
Ampas tebu mengandung kalori sekitar 18000 kca/kg dan kekurangannya di tambah BBM
(F,O).

1. Kelebihan dan Kekurangan Produksi Gula Menggunakan Mesin Manual


Produksi gula menggunakan mesin manual hasilnya cukup memuaskan, gula yang diproduksi
pun adalah gula putih atau SHS (Superieure Hoofd Suiker). Selain itu produksi gula
menggunakan mesin manual lebih menghemat energi, karena bahan bakarnya berasal dari
ampas tebu. Tetapi produksi gula menggunakan mesin manual juga memiliki kekurangan
yaitu, tingkat produksi gula belum mampu mengimbangi tingkat konsumsi masyarakat,
karena produksi gula menggunakan mesin manual lebih sedikit dari pada produksi gula
menggunakan mesin yang berteknologi canggih