Anda di halaman 1dari 50

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

MANAJEMEN HARKAMTIBMAS
1;

Pendahuluan
Sesuai dengan arah mata pelajaran dan standar kompetensi kuliah ini
diharapkan bahwa: peserta didik mampu menganalisis manajemen keamanan
dalam negeri untuk membangun dan membina daya tangkal bangsa dan
negara, dengan kompetensi dasar setidaknya adalah mampu menganalisis
dan menyimpulkan konsep Manajemen Harkamtibmas, menganalisis dimensi
tantangan tugas Polri, menganalisis efektifitas pembinaan Harkamtibmas dan
dengan berbagai indikator yang telah ditentukan.
Judul ceramah dan tema pendidikan yang ditetapkan oleh lembaga
memiliki makna yang strategis dan mengandung pesan yang sangat dalam
bagi kepentingan keamanan dalam negeri dalam rangka mencapai tujuan
Nasional yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Keamanan selalu menjadi sektor yang amat penting disetiap negara.
Variabel keamanan merupakan determinan bagi terpenuhinya atau
terhambatnya variabel-variabel lain dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu Keamanan dalam negeri
merupakan syarat utama untuk mendukung terwujudnya masyarakat Madani
yang adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan UUD Negara RI
tahun 1945 (lihat konsideran UU No.2 Tahun 2002).
Sesungguhnya keamanan tidak lagi sebatas menjadikan negara
sebagai objek yang harus dijaga, tetapi harus menjaga dan melindungi rasa
aman dan kemanusiaan. Setiap individu, kelompok maupun sebagai bangsa
berhak untuk menikmati rasa aman, berhak dan wajib ikut serta dalam usaha
keamanan negara, dengan menempatkan kewajiban Negara untuk mengatur
dan mengelolanya, sinergis dengan segenap elemen bangsa untuk
mewujudkan kondusivitas keamanan Negara, keamanan dalam negeri,
Kamtibmas termasuk didalamnya adalah peran dan fungsi kepolisian maupun
pengemban fungsi kepolisian.
Bahwa perkembangan lingkungan strategik, baik pada tataran global,

MANAJEMEN KEAMANAN

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

regional, nasional dan hubungannya dengan globalisasi yang multi dimensi,


demokratisasi, transparansi dengan segala dampak dan implikasinya, disatu
sisi merupakan peluang untuk mencapai kemakmuran ekonomi, memperluas
kebebasan berpolitik dan menciptakan perdamaian, namun pada sisi lain
perkembangan itu juga dapat menghasilkan
kekuatan yang dapat
menimbulkan, memunculkan benih-benih kerawanan, meningkatnya berbagai
gangguan. Hal itu menjadi dasar bagi Polri dalam menetapkan kebijakan dan
strategi penyelenggaraan usaha keamanan dengan mempedomani analisis
dimensi, spektrum dan wujud ancaman yang mungkin dihadapi guna dijadikan
dasar bagi penetapan konsep strategi manajemen Harkamtibmas dalam
rangka menghadapi tantangan, hambatan dan persoalan yang semakin
kompleks bersinergis dengan segenap pengemban fungsi kepolisian dan
elemen bangsa dalam menghadapi era baru tersebut serta tidak boleh
meninggalkan nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari empat konsensus
dasar bangsa.

2;

Standar Kompetensi
Peserta didik mampu dan mahir menganalisis manajemen keamanan dalam
negeri untuk membangun dan membina daya tangkal bangsa dan negara.

MANAJEMEN KEAMANAN

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

MANAJEMEN HARKAMTIBMAS
MODUL

5 JP (225 menit)

Pengantar

Dalam bagian ini dibahas materi tentang konsep manajemen


Harkamtibmas meliputi pengertian dan analisis dimensi tantangan tugas
serta efektifitas pembinaan Harkamtimas sebagai salah satu sektor
determinan dalam masyarakat, bangsa dan negara.

Kompetensi Dasar
1; Menganalisis dimensi tantangan tugas Polri.
Indikator Hasil Belajar :
a;
Menguraikan/menjelaskan perkembangan lingkungan
strategis;
b;
Menguraikan kedudukan dan peran Polri menurut
ketatanegaraan Republik Indonesia.
2; Menganalisis efektifitas pembinaan Harkamtibmas.

MANAJEMEN KEAMANAN

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Indikator hasil belajar :


a;
Menguraikan hubungan antara implementasi manajemen
keamanan dalam negeri pada pengamanan kegiatan
kenegaraan dan kegiatan kemasyarakatan;
b;
Menguraikan evaluasi kegiatan dalam menajemen
Harkamtibmas.

Materi Pokok
1;
2;

Dimensi tantangan tugas Polri;


Efektifitas pembinaan Harkamtibmas.

Metode Pembelajaran
1; Ceramah digunakan untuk menjelaskan materi tentang :
a;

Analisis dimensi tantangan tugas Polri.


Pengertian tentang keamanan sebagai sektor penting dan
determinan bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara.
1; Penyelenggaraan usaha keamanan dan hubungannya
dengan kondusifitas keamanan negara mendasari :
a; Aspek Filosofis;
b; Aspek Yuridis;
c; Aspek Sosiologis;
d; Aspek Kemanfaatan.
2; Hakekat Ancaman Keamanan.
a; Pengertian dan konsep inti keamanan;
b; Spektrum ancaman;
c; Wujud ancaman terhadap keamanan dari dalam dan
luar negeri;
d; Faktor-faktor
pendukung,
peluang
untuk
meningkatkan keamanan dari dalam maupun luar

MANAJEMEN KEAMANAN

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

b;

negeri
Menganalisis efektifitas pembinaan Harkamtibmas.
1; Deskripsi fungsi, tujuan, peran, tugas pokok dan
wewenang Polri sesuai UU Nomor 2 tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia;
2; Kebijakan dan strategi dalam pemeliharaan keamanan.
a;
Landasan;
b; Pola penanganan;
c;
Metode dan strategi penanggulangan keamanan
berdasarkan spektrum dan wujud ancaman;
d; Subyek dan aktor pelaksana Harkamtibmas;
e;
Kebijakan strategis Harkamtibmas berdasarkan
fungsi, tujuan, peran, tugas pokok Polri, pergeseran
paradigma dan prinsip visioning, akuntabilitas,
orientasi kinerja, transparanasi, efektifitas dan
efisiensi.
Pembenahan
dilingkungan
Polri:
aspek
struktural, asp[ek instrumental dan aspek
kultural;
2; Perencanaan Grand Strategi Polri;
3; Kebijakan dan program revitalisasi Polri menuju
pelayanan prima;
4; Terobosan kebijakan revitalisasi Polri dalam
kerangka makro (road map);
5; Membangun postur Polri yang paripurna (world
class organization).
Strategi dan langkah mewujudkan postur Polri ideal
menuju paripurna.
1;

f;
c;

Visi, Misi Polri dan Sasaran Strategis


1;
Visi dan Misi Polri;
2;
Sasaran Strategis Polri 2010 2014 : Membangun
Standar Pelayanan Kamtibmas Prima
3;
Arah Kebijakan dan Strategi Polri tahun 2010 2014.

d;

Brain storming (curah pendapat) membahas materi tentang


persoalan-persoalan yang berkaitan dengan manajemen
Harkamtibmas
dan
peran
strategis
Polri
dalam
penyelenggaraan usaha keamanan;

e;

Penugasan

pembuatan

Resume/Mind

Mapping

dari

MANAJEMEN KEAMANAN

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

dosen/Widyaiswara
untuk
bahan
penilaian
terhadap
pemahaman peserta didik terhadap materi yang disampaikan.
f;

Penugasan pembuatan naskah karya perorangan (NKP).


1; Pembuatan
topik
penugasan
sebagai
pedoman
penyusunan NKP;
2; Paparan NKP oleh Peserta Didik pada diskusi kelompok
(Sindikat);
3) Penilaian NKP oleh Tim Penguji dari Widya Iswara Utama,
Madya dan Widya Iswara Sespimti.

2; Diskusi digunakan untuk materi :


a;
Penilaian terhadap pemahaman Peserta Didik terhadap
materi yang diberikan;
b;
Penilaian kemampuan peserta didik mengaplikasikan materi
kedalam pelaksanaan tugas Polri dalam bentuk tulisan/ naskah
akademik.

Bahan dan Alat


1; Bahan
a;
Bahan ajar.
b;
Lembar petunjuk penugasan (lembar merah)
2; Alat
a;
Whiteboard.
b;
Laptop.
c;
LCD / Screen.
d;
Flipchart.
e;
Kertas Flipchart
f;
Alat tulis.

Proses Kegiatan Pembelajaran

MANAJEMEN KEAMANAN

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

1; Tahap awal : 15 menit


a;
b;
c;
d;

Pembacaan curriculum vitae / daftar riwayat hidup Dosen /


Widyaiswara;
Memperkenalkan para peserta Sespimti secara singkat
kepada Dosen/Widyaiswara;
Dosen/Widyaiswara melakukan pencairan suasana kelas agar
tercipta interaksi antara Dosen/Widyaiswara dengan peserta
didik;
Dosen/Widyaiswara
memberikan
apresiasi
dengan
menanyakan materi yang akan dibahas kepada peserta didik.

2; Tahap inti : 190 menit


a;

b;

Dosen / Widyaiswara menjelaskan/menguraikan dimensi


tantangan tugas Polri.
1;
Pengertian dan analisis dimensi tantangan tugas Polri;
2;
Pengertian dan analisis konsep manajemen Harkamtibmas;
3;
Menjelaskan perkembangan lingkungan strategis;
4;
Penyelenggaraan usaha keamanan dan hubungan dengan
kondusivitas keamanan negara;
5;
Kedudukan dan peran Polri.
(Waktu : 45 menit)
Dosen / Widyaiswara menguraikan / menjelaskan materi tentang
analisis efektifitas pembinaan Harkamtibmas.
1; Implementasi manajemen keamanan pada pengamanan
kegiatan kenegaraan dan kegiatan kemasyarakatan:
a;
b;
c;
d;
2;

Analisis dimensi tantangan tugas Polri;


Penyelenggaraan usaha keamanan;
Hakekat ancaman (spektrum, wujud ancaman);
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyelenggaraan
usaha keamanan.

Evaluasi kegiatan dalam manajemen Harkamtibmas;


a; Analisis efektifitas pembinaan Harkamtibmas;
1; Deskripsi fungsi, tujuan, peran, tugas pokok dan
wewenang Polri;
2; Kebijakan dan strategi Harkamtibmas;
MANAJEMEN KEAMANAN

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

a;
b;
c;
b;

Landasan dan pola penanganan gangguan


keamanan;
Metode
dan
strategi
penanggulangan
gangguan keamanan berdasarkan spektrum
dan wujud ancaman;
Subyek dan aktor pelaksana Harkamtibmas.

Visi, Misi dan Sasaran Strategis Polri dalam konsep


manajemen Harkamtibmas;

Peserta didik menyimak, mendengarkan materi yang


disampaikan, mencatat dan bertanya apabila ada materi yang
belum dimengerti/dipahami.
(Waktu : 115 menit)
d.

Dosen/Widyaiswara memberikan waktu kepada peserta untuk


mendiskusikan materi tentang permasalahan dan hambatanhambatan dalam penerapan/implementasi konsep manajemen
Harkamtibmas.
(Waktu : 30 menit)

3; Tahap akhir : 20 menit


a;
1;

Penguatan materi :
Dosen/Widyaiswara menguraikan :
a; Dimensi tantangan tugas Polri dengan mendasari ;
1; Aspek Filosofis;
2; Aspek Yuridis;
3; Aspek Sosiologis;
4; Aspek Kemanfaatan.
b) Hakekat ancaman keamanan ;
(1) Spektrum dan wujud ancaman;
(2) Faktor-faktor mempengaruhi penyelenggaraan
konsep manajemen Harkamtibmas.
c; Kebijakan dan strategi dalam Harkamtibmas;
d;

b;

Langkah-langkah
strategis
dan
pemasalahanpermasalahan manajemen Harkamtibmas.

Cek penguasaan materi :


1; Penugasan pembuatan resume/mind mapping;
2; Penugasan penyusunan Naskah Karya Perorangan (NKP)
MANAJEMEN KEAMANAN

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

sesuai topik yang diberikan.

Tagihan / Tugas
1;

Peserta didik membuat/mengumpulkan ringkasan hasil mata


pelajaran (resume/mind maping) yang diberikan, dikumpulkan dalam
jangka waktu 1 hari dan diberi penilaian oleh Dosen/Widyaiswara
bidang akademik.

2;

Membuat naskah perorangan dalam jangka waktu 7 hari sesuai Topik


bahasan dan peserta membuat judul masing-masing yang akan
dipaparkan di depan Tim penguji untuk dilakukan penilaian oleh tim
penguji

Lembar Kegiatan
Materi Diskusi
1;

Kelompok 1 (satu) membahas analisis dimensi tantangan tugas Polri


dan permasalahan serta langkah-langkah penyelenggaraan usaha
keamanan dan hubungan dengan kondusvitas keamanan dan
ketertiban masyarakat.

2;

Kelompok 2 (tiga) membahas hakekat ancaman keamanan,


spektrum dan wujud ancaman terhadap keamanan dikaitkan dengan
perkembangan lingkungan strategis.

MANAJEMEN KEAMANAN

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Bahan Bacaan
MANAJEMEN PEMELIHARAAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN
MASYARAKAT
1;

Pendahuluan
Keamanan selalu menjadi sektor yang amat penting di setiap
negara, variabel keamanan merupakan determinan bagi
terpenuhinya atau terhambatnya variabel-variabel lain dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena
itu Keamanan dalam negeri merupakan syarat utama untuk
mendukung terwujudnya masyarakat madani yang adil, makmur, dan
beradab berdasarkan pancasila dan UUD Negara RI tahun 1945
(lihat konsideran UU No.2 Tahun 2002).
Bahwa Keamanan, terkait dengan berbagai sektor kehidupan,
selain itu sesungguhnya keamanan tidak lagi sebatas menjadikan
negara sebagai objek yang harus dijaga, tetapi harus menjaga
dan melindungi rasa aman dan kemanusiaan itu sendiri. setiap
individu, kelompok maupun sebagai bangsa berhak untuk menikmati
rasa aman, berhak dan wajib ikut serta dalam usaha keamanan
negara, dengan menempatkan kewajiban negara untuk mengatur
dan mengelolanya, sinergis dengan segenap elemen bangsa untuk
mewujudkan kondusivitas keamanan negara, keamanan dalam
negeri, Kamtibmas termasuk didalamnya adalah peran dan fungsi
kepolisian maupun pengemban fungsi kepolisian.
Bahwa perkembangan lingkungan strategik, baik pada tataran
global, regional, nasional dan hubungannya dengan globalisasi yang
multi dimensi, demokratisasi, transparansi dengan segala dampak
dan implikasinya, disatu sisi merupakanpeluang untuk mencapai
kemakmuran ekonomi, memperluas kebebasan berpolitik dan
menciptakan perdamaian, namun pada sisi lain perkembangan itu
juga dapat menghasilkan kekuatan yang dapat menimbulkan,
memunculkan benih-benih kerawanan, meningkatnya berbagai
gangguan.
Oleh karena itu Negara, Pemerintah telah menetapkan

MANAJEMEN KEAMANAN

10

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

berbagai kebijakan seperti, UU, peraturan, program, dan langkah


strategis bagi kepentingan keamanan. Sesuai dengan Rencana
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 disusun untuk mencapai
tujuan pembangunan nasional sebagaimana tercantum dalam
pembukaan UUD 45, maka Visi Pembangunan Nasional 2005-2025
adalah Indonesia Yang Maju dan Mandiri, Adil dan Demokratis,
serta Aman dan Bersatu dalam Wadah Negara
Kesatuan Negara Republik Indonesia. Sedangkan Misi
Pembangunan Nasional adalah; 1) Mewujudkan Indonesia Yang
Maju dan Mandiri, 2) Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan
Demoktratis, 3) Mewujudkan Indonesia Yang Aman dan bersatu.
Pelaksanaan Renstra Polri 2010-2014 sejak tahun 2010
sampai dengan tahun 2014 berjalan cukup baik. Hal ini ditandai
dengan kondisi kamtibmas yang cenderung stabil dan terkendali
serta dapat memberikan suasana kondusif dalam kehidupan
masyarakat dan aktivitas pemerintahan. Meskipun dalam kurun
waktu tersebut masih terjadi berbagai gangguan kamtibmas,
khususnya konflik sosial yang terjadi di beberapa wilayah tertentu,
yang memerlukan penanganan secara khusus dan penyelesaian
secara komprehensif dengan instansi terkait, Polri secara umum
telah dapat mencapai sasaran-sasaran stretegis yang telah
direncanakan dalam Renstra Polri 2010-2014.
Di bidang operasional, khususnya dalam pengungkapan
jaringan terorisme, Polri telah mencapai beberapa keberhasilan,
diantaranya ialah: pengungkapan pelatihan militer dengan
menggunakan senjata api di Janto Banda Aceh, kasus terorisme
bom Klaten, bom bunuh diri di Mesjid Polresta Cirebon, kasus bom
buku di Jakarta, kasus perampokan di Bali, kasus pelatihan militer di
Poso. Sedangkan untuk pengungkapan kasus kejahatan narkoba,
Polri telah berhasil mengungkap beberapa kasus besar diantaranya
ialah: penangkapan bandar narkoba dan shabu senilai Rp. 15,5
miliar di terminal Lampung; penangkapan bandar narkoba dan
shabu senilai Rp 15 miliardi kompleks pertokoan Marinatama
Pademangan Jakarta Utara; menggagalkan penyelundupan 6,8 kg
shabu senilai Rp 10,8 miliar dari Malaysia di Sanggau, Kalimantan
Barat.
Sementara itu, di bidang pelayanan publik sebagai
pelaksanaan Quick Wins seperti pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan
MANAJEMEN KEAMANAN

11

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

road safety, Quick Respon, olah TKP, inspektur tangkas, SP2HP,


SKCK, Polmas Perairan, Barikade (Barisan Keamanan Desa),
BLKK( Balai layanan Kamtibmas Keliling), Sambang Nusa, Brimob
Nusantara, Akses transparansi online, hukum kepolisian online,
IPTEK POL online, serta mengembangkan pelayanan pengadaan
barang dan jasa melalui Layanan Pengadaan Secara Elektronik
(LPSE) telah terbangun dan tersedia di seluruh Polda. Terkait
dengan upaya-upaya tersebut, banyak Unit Pelayanan Polri yang
telah memperoleh penghargaan yang antara lain berupa Sertifikat
ISO dari lembaga yang kompeten (SUCOFINDO) dan penghargaan
Pelayanan Prima dari pemerintah Republik Indonesia.
Selain keberhasilan-keberhasilan tersebut, selama tahun 2010
sampai dengan tahun 2014, Polri ternyata masih menemui beberapa
tantangan. Di bidang operasional, permasalahan konflik sosial masih
marak terjadi di beberapa tempat di Indonesia, diantaranya:
Lampung, Kaltim, Papua, Sulawesi Tengah, dan Aceh, yang
memerlukan penanganan secara serius, komprehensif, dan
berkesinambungan. Sementara itu, dalam upaya menangani
potensi-potensi konflik sebagai faktor pemicu berkembangnya konflik
sosial, seperti: masalah agraria, sengketa sumber daya alam, dan
lain sebagainya, Polri ternyata belum optimal dalam mewujudkan
sinergi polisional dengan berbagai lembaga dan instansi yang ada.
Berbagai keberhasilan dan permasalahan-permasalahan yang
dihadapi Polri dalam penyelenggaraan usaha keamanan perlu
menjadi bahan evaluasi dan koreksi kearah perbaikan guna
mendukung pencapaian misi mewujudkan Indonesia yang Aman dan
Bersatu adalah mendorong pembangunan yang mampu
mewujudkan rasa aman dan damai, mampu menampung aspirasi
masyarakat yang dinamis, menegakkan kedaulatan negara dan
kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta
melindungi segenap bangsa dari setiap ancaman. Selanjutnya
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN 20102014) dengan tegas dinyatakan keinginan pemerintah untuk
mewujudkan bangsa Indonesia yang maju, sejahtera, lebih mandiri,
lebih aman dan damai, serta lebih demokratis dan adil.
Pemerintah dan segenap warga bangsa juga harus Jeli,

MANAJEMEN KEAMANAN

12

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

tanggap untuk menghadapi Tahun 2015. Karena 2015 kita memasuki


era baru Komunitas ASEAN yang meliputi:komunitas keamanan,
ekonomi, dan sosial budaya. Komunitas keamanan ASEAN yang
kemudian diubah menjadi komunitas politik Keamanan ASEAN
sejalan dengan Piagam ASEAN bertujuan untuk mempercepat
kerjasama politik keamanan di ASEAN untuk mewujudkan
perdamaian di kawasan, termasuk dengan masyarakat internasional.
Dalam bentuk Komunitas ASEAN semacam ini, arus barang, jasa,
orang, informasi akan semakin leluasa,hal itu adalah bagian dari
tantangan, sekaligus kesempatan ke depan bagi bangsa Indonesia.
Dengan demikian, tantangan, hambatan dan kompleksitas persoalan
akan semakin meningkat, bahkan persaingan tidak lagi hanya
sebatas komunitas ASEAN tetapi juga persaingan dengan bangsabangsa lain di dunia. Untuk itu Polri harus bersinergis dengan
segenap pengemban fungsi kepolisian dan elemen bangsa dalam
menghadapi era baru tersebut serta tidak boleh meninggalkan nilainilai kebangsaan yang bersumber dari empat konsensus dasar
bangsa.
2;

Penyelenggaraan Usaha Keamanan


Polri ke depan akan menghadapi berbagai perkembangan
gangguan Kamtibmas yang semakin komplek dan mengarah pada
transnational crime (kartel, bioterorism, narcoterorism, cyber crime).
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya
teknologi informasi dan komunikasi, sangat berpengaruh terhadap
kondisi kamtibmas yang tentunya berdampak pada operasionalisasi
tupoksi Polri di lapangan, sedangkan untuk menghadapi hal tersebut,
kondisi peralatan Polri yang ada saat ini dirasakan belum mampu
mengimbangi perkembangan tersebut. Masih adanya permasalahanpermasalahan sosial ditengah-tengah kehidupan masyarakat yang
berimbas kepada beberapa sektor kebijakan yang menimbulkan
berpotensi konflik, yang pada akhirnya berdampak pada
meningkatnya gangguan kamtibmas di masyarakat. Selain itu,
seiring perkembangan jaman, pergeseran nilai-nilai sosial di
masyarakat yang begitu cepat ternyata juga berdampak terhadap
berkembangnya gangguan kamtibmas.
Bahwa dalam Bab XII Pasal 30 UUD RI tahun 1945 tentang
Pertahanan dan Keamanan negara bahwa; (1)Tiap warga negara
berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan
MANAJEMEN KEAMANAN

13

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

negara, (2) Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan


melalui sistim pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh
Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara republik
Indonesia sebagai kekuatan utama dan Rakyat sebagai
kekuatan pendukung, (3) Tentara Nasional Indonesia terdiri atas
angkatan Darat, angkatan Laut dan angkatan Udara sebagai alat
negara bertugas mempertahankan, melindungi, dan memelihara
keutuhan dan kedaulatan Negara, (4) Kepolisian Negara Repubik
Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan
ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi dan
melayani masyarakat serta menegakkan hukum, (5) Susunan dan
kedudukan Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik
Indonesia, hubungan kewenangan Tentara Nasional Indonesia dan
Kepolisian Negara Republik Indonesia di dalam menjalankan
tugasnya, syarat-syarat keikutsertaan warga negara dalam usaha
pertahanan dan keamanan negara serta hal-hal yang terkait dengan
pertahanan dan Keamanan Negara diatur dengan undang-undang.
Peraturan Presiden RI Nomor 5 Th 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pada bab VII
Rencana Bidang Pertahanan dan Keamanan Negara, antara lain
dinyatakan .Keamanan Nasional NKRI, yang mencakup
pertahanan negara, keamanan dalam negeri, keamanan dan
ketertiban masyarakat, serta keamanan sosial baik secara langsung
maupun tidak langsung sangat dipengaruhi oleh dinamika politik,
ekonomi, kesejahteraan sosial, dan budaya didalam negeri serta
dinamika keamanan di kawasan regional dan internasional
Mencermati hal tersebut, hubungannya dengan kondusivitas
keamanan negara, maka usaha penyelenggaraan keamanan
setidaknya mendasari kepada beberapa aspek yaitu: aspek filosofis,
yuridis, sosioliogis, dan aspek kemanfaatan/politis.
a;

Aspek Filosofis
Yaitu mendasari pada Pancasila. Implementasi dari Kelima Sila
dengan penyelenggaraan usaha keamanan negara antara lain
sebagai berikut:
1;

Ketuhanan YME: penyelenggaraan usaha keamanan


negara harus selaras dengan asas Ketuhanan YME, tidak

MANAJEMEN KEAMANAN

14

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

boleh berisi ketentuan yang bertentangan dengan ajaran


agama yang dianut bangsa Indonesia, tidak melanggar
norma-norma kehidupan/kerukunan beragama dan tidak
boleh mengganggu ketentraman orang beribadah.
2;

Kemanusiaan yang adil dan beradab: penyelenggaraan


usaha keamanan negara harus memperhatikan asas
kemanusiaan, melindungi dan menghargai HAM, baik
dalam arti HAM warga masyarakat, ataupun HAM aparat
keamanan.

3;

Persatuan
Indonesia:
penyelenggaraan
usaha
keamanan negara harus senantiasa dalam bingkai NKRI,
yaitu senantiasa menjaga keutuhan dan persatuan
bangsa. Keamanan tidak hanya ditujukan untuk
melindungi
hak-hak
individu
atau
sekelompok
masyarakat, melainkan juga harus memperhatikan
kepentingan umum dan dalam konteks usaha
memperkokoh persatuan dan keutuhan bangsa
Indonesia.

4;

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan


dalam permusyaratan/perwakilan: penyelenggaraan
usaha keamanan negara tidak boleh bertentangan
dengan asas demokrasi, tidak boleh otoriter/sewenangwenang, atau hanya mendasari kekuasaan, dsb.

5;

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia:


penyelenggaraan usaha keamanan negara harus secara
proporsional memperhatikan asas prospority, sehingga
tugas keamanan keamanan selalu diletakkan pada tujuan
untuk mewujudkan situasi yang kondusif bagi
MANAJEMEN KEAMANAN

15

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

pembangunan untuk mencapai kesejahteraan, yakni


harus senantiasa memperhatikan asas keseimbangan
antara pendekatan security dan prospority.
b;

Aspek Yuridis
Sesuai dengan pasal 30 UUD RI 1945, bidang pertahanan dan
keamanan negara, inti dari pasal tersebut antara lain bahwa;
usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan
dengan sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta oleh
Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik
Indonesia sebagai kekuatan utama dan rakyat sebagai
kekuatan pendukung.
Maka hubungannya
Negara, setidaknya:

dengan

penyelengaraan

keamanan

1;

Penyelenggaraan sistem keamanan negara dilakukan


dengan mendasari asas kebersamaan, yang sesuai
dengan budaya bangsa Indonesia yaitu gotong royong,
melalui pengerahan dan pemberdayaan segenap
komponen bangsa atau komponen masyarakat, untuk ikut
berpartisipasi dalam usaha memelihara keamanan
negara.

2;

Dalam konteks Polri sebagai salah satu fungsi


pemerintahan negara, bukanlah sebagai satu-satunya
unsur yang bertugas dalam bidang keamanan, melainkan
Polri sebagai kekuatan utama yang dibantu oleh segenap
kekuatan pendukung.

3;

Selain itu komponen masyarakat yang dilibatkan dalam


usaha keamanan negara meliputi unsur formal/terstruktur
ataupun unsur informal yang non struktural.

4;

Mekanisme keterlibatan segenap komponen bangsa,


potensi masyarakat ataupun warga masyarakat, juga
perlu diatur dalam peraturan perundang-undangan, agar
jelas hak dan kewajibannya serta mekanisme
MANAJEMEN KEAMANAN

16

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

pelibatannya.
Kontekstual Polri (UU No.2 Tahun 2002 tentang Polri), antara
lain diatur bahwa pengemban fungsi kepolisian adalah Polri
yang dibantu oleh Polsus, PPNS dan/atau bentuk-bentuk
Pengamanan Swakarsa. Pengemban fungsi kepolisian tersebut
melaksanakan tugas sesuai dengan peraturan yang menjadi
dasar hukumnya masing-masing.
c;

Aspek Sosioliogis
Penyelenggaraan usaha keamanan juga harus memperhatikan
cita-cita/tujuan Negara danperlu mempertimbangkan harapan
masyarakat guna mewujudkan masyarakat madani, kehidupan
yang demokratis, tegaknya supremasi hukum, aparat
keamanan civilian (pendekatan persuasif, pola pembinaan,
penindakan yang simpatik, mendidik dan humanis guna
tumbuhnya partisipasi masyarakat dalam upaya pembinaan
keamanan), serta kinerja yang transparan dan akuntabel.

d;

Aspek Kemanfaatan
Mewujudkan dan menjamin keamanan bukan hal yang mudah,
oleh karena itu harus disikapi oleh Negara dan segenap elemen
bangsa,
perlu adanya Grand strategy dan sinergitas
untukmemelihara, mewujudkan kondusivitas dan menjamin
keamanan Negara sehingga memiliki nilai / manfaat untuk
mencapai tujuan. Ini karena keamanan bersifat dinamis dan
dipengaruhi lingkungan strategis yang terus berubah, kemajuan
teknologi, kompleksitas permasalahan, potensi meningkatnya
ancaman, gangguan, hambatan dan sebagainya.

3;

Hakekat Ancaman Keamanan


Hakikat ancaman keamanan sangat luas dan terkait dengan
berbagai bidang kehidupan yang dapat bersumber dari dalam
maupun luar negeri. Terdapat beberapa pengertian dan konsep inti
keamanan, spektrum ancaman dan hakikat keamanan sebagai
berikut :

MANAJEMEN KEAMANAN

17

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

a.

Pengertian dan konsep inti keamanan, antara lain :


1)

Keamanan: meliputi upaya mewujudkan dan memelihara


situasi serta kondisi agar aman dan kondusif bagi
kelangsungan kegiatan pembangunan negara dalam
rangka mencapai cita-cita nasional.

2)

Kemanan dalam negeri: suatu keadaan yang ditandai


dengan
terjaminnya
keamanan
dan
ketertiban
masyarakat, tertib, dan tegaknya hukum, serta
terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan
pelayanan kepada masyarakat. (Pasal 1 ayat 6 undangundang nomor 2 tahun 2002)

3)

Keamanan dan ketertiban masyarakat: suatu kondisi


dinamis masyarakat sebagai salah satu prasyarat
terselengaranya proses pembangunan nasional dalam
rangka tercapainya tujuan nasional yang ditandai oleh
terjaminnya keamanan, ketertiban dan tegaknya hukum,
serta terbinanya ketentraman, yang mengandung
kemampuan membina serta mengembangkan potensi dan
kekuatan masyarakat dalam menangkal, mencegah, dan
menanggulangi segala bentuk pelanggaran hukum dan
bentuk-bentuk gangguan lainnya yang dapat meresahkan
masyarakat (pasal 1 angka 5 UU Nomor 2 Tahun 2002).

4)

Keamanan berasal dari kata aman, dalam terminologi


kepolisian
mengandung
empat
pengertian
yang
komprehensif yaitu:
Security= aman dari ganguan atau ancaman yang dapat
membahayakan.
Safety= keselamatan bagi masyarakat. selamat dari
kecelakaan, bencana (bencana alam,bencana
akibat ulah manusia, bencana sosial, dsb) atau
marabahaya
yang
dapat
mengancam
keselamatan kehidupan individu, masyarakat,
termasuk harta benda.
Surety= kepastian dalam kehidupan bermasyarakat.
Adanya jaminan kepastian/keyakinan suatu
kegiatan dapatberlangsung lancar, aman dan
tertib. Termasuk jaminan adanya kepastian
hukum (certency).
MANAJEMEN KEAMANAN

18

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Peace=

kedamaian, ketentraman
masyarakat.

dalam

kehidupan

Dari
pengertian
dan
konsep
tersebut,
maka
lingkup/cakupan keamanan meliputi: (1) aspek yang luas
(empat aspek tersebut), (2) tidak dibatasi oleh lingkup
wilayah, (3) tidak dibatasi asal ancaman dari
dalam ataupun dari luar, (4)mencakup pengertian dalam
konteks hukum (surety).
Encyclopedia Of the social science mendefinisikan
keamanan sebagai kemampuan suatu bangsa untuk
melindungi nilai-nilai internalnya dari ancaman luar.
b.

Spektrum Ancaman
Mendasari pada pengertian keamanan yang mencakup 4
(empat) aspek tersebut, dan adanya berbagai ancaman,
gangguan yang merupakan akar masalah dengan segala
bentuknya, maka spektrum ancaman terhadap keamanan,
dapat digambarkan mulai dari Potensi Gangguan (PG),
Ambang Gangguan (AG), Dan Gangguan Nyata (GN) yaitu :
1;

2;

3;

c;

Potensi Gangguan(PG)adalah situasi/kondisi yang


merupakan akar masalah dan/atau faktor stimulant/
pencetus yang berkorelasi erat terhadap timbulnya
ambang gangguan atau gangguan keamanan dan
ketertiban masyarakat.
Ambang Gangguan (AG) adalah suatu situasi/kondisi
keamanan dan ketertiban masyarakat yang apabila tidak
dilakukan tindakan kepolisian, dikhawatirkan akan
menimbulkan gangguan nyata.
Gangguan Nyata (GN) adalahgangguan berupa
kejahatan, pelanggaran hukum atau bencana yang dapat
menimbulkan kerugian harta benda, jiwa-raga, trauma
psikis maupun kehormatan.

Wujud ancaman terhadap keamanan antara lain :


1;

Potensi gangguan (PG)

MANAJEMEN KEAMANAN

19

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

a;
b;

c;
d;

e;

f;

g;

h;
i;

j;
k;

2;

Ideologi: perbedaan ideologi, faham ekstrem.


Politik: pertentangan dan ketegangan politik,
penyalahgunaan kewenangan, kebijakan/implementasi kebijakan yang tidak tepat, ketegangan
antar elit, isu/dampak pemekaran wilayah, otonomi
daerah, dsb.
Ekonomi:
kemiskinan,
kekeliruan
kebijakan
ekonomi, dsb.
Sosial
budaya:
kesenjangan,
keterlambatan
pembangunan / pendidikan, potensi konflik,
primordialis,
Fanatisme
sempit,
ajaran
mengatasnamakan agama yang sesat, dsb.
Geografi: potensi kerawanan akibat posisi silang,
bentuk negara kepulauan, wilayah/pulau tak
berpenghuni, dsb.
Demografi: migrasi tak terkendali, ekses urbanisasi,
sistem kependudukan, kemiskinan, pengangguran,
keanekaragaman suku, adat, ras yang memiliki
perbedaan nilai budaya, dsb.
Sumber Daya Alam: pengelolaan SDA yang tidak
tepat, eksploitasi kekayaan alam yang berlebihan,
sengketa akibat pengelolaan hasil SDA, dsb.
Hukum : proses penegakan hukum, keadilan dan
kepastian hukum.
Globalisasi : derasnya globalisasi pada berbagai
aspek kehidupan (Ipoleksosbud) dan didorong oleh
perkembangan ilpengtek, informasi, dsb.
Pertahanan : dampak sengketa tapal batas, dampak
pulau-pulau terluar/kosong, dsb.
Keamanan : dampak dan sumber dari berbagai
permasalahan kehidupan sosial.

Ambang gangguan (AG):


a;
Aspek lokasi: lokasi rawan kejahatan tertentu, lokasi
rawan kecelakaan, lokasi rawan bencana,rawan
keselamatan, dsb.
b;
Aspek waktu: waktu rawan kejahatan tertentu,
waktu rawan kecelakaan, dsb.
c;
Aspek kegiatan: kegiatan masyarakat, kegiatan
pemerintahan, kegiatan perekonomian, ritual

MANAJEMEN KEAMANAN

20

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

keagamaan, even nasional/internasional, dsb.


3;

Gangguan Nyata (GN):


a;
Tindak
kejahatan/tindak
pidana:
kejahatan
konvensional, kejahatan trans nasional, kejahatan
terhadap kekayaan Negara kejadian yang
berimplikasi
kontinjensi,
maupun
berbagai
permasalahan sosial.
b;
Pelanggaran aturan ketertiban: aturan ketertiban
sosial, lalu lintas (darat, laut, udara), perdagangan,
kesehatan, pendidikan, kependudukan, dsb.
c;
Kecelakaan : kecelakaan karena faktor alam, faktor
manusia, kecelakaan mekanik (kebocoran nuklir),
kerusakan lingkungan hidup, dsb.
d;

e;

Bencana alam: banjir, gempa bumi, tsunami, badai


laut, angin puyuh, gunung meletus, tanah longsor,
semburan gas berbahaya, dsb.
Bencana sosial: krisis pangan, kemiskinan dan
kelaparan,
konflik
sosial
(SARA),
konflik
primordialis, epidemi dan pandemi, dsb.

Dari berbagai peristiwa tersebut dan dalam skala nasional


setidaknya dapat disarikan beberapa ancaman, gangguan, dan
tantangan yang harus diwaspadai, antara lain:
1)

Ancaman,gangguan dan tantangan dari dalam negeri:


a;

b;

Adanya ideologi yang membahayakan kesatuan


dan persatuan bangsa oleh kelompok-kelompok
tertentu dengan manouver mencari dukungan dari
dalam negeri maupun luar negeri.
Gejolak politik pada kondisi tertentu khususnya
menjelang pemilu 2014 mendatang yang mudah
memanas, pemahaman sempit terhadap reformasi,
kebebasan penyampaian pendapat yang mengarah
pada anarkhis, serta kebebasan berdemokrasi.

MANAJEMEN KEAMANAN

21

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

d;

e;

f;

g;
h;

i;

j;

dibeberapa daerah berdampak pada situasi


keamanan.
Rentannya ketahanan ekonomi akibat dari berbagai
masalah, seperti: kemiskinan, pengangguran, dan
reaksi terhadap kebijakan pemerintah.
Kehidupan sosial budaya diwarnai dengan gejala
berubahnya nilai-nilai budaya harmonis menjadi
destruktif: sikap ramah/sopan berubah menjadi
kecenderungan menghujat/menyerang: nilai-nilai
budaya gotong royong, solidaritas, toleransi,
musyawarah sering kali berganti dengan sikap:
agresif, konfrontatif dan anarkhis, dsb.
Lapangan pekerjaan yang ada belum mampu
menampung jumlah angkatan kerja sehingga
mendorong masyarakat/minat angkatan kerja untuk
berusaha mencari pekerjaan di luar negeri dengan
segala
resiko
yang
dihadapi,
termasuk
meningkatnya TKI ilegal.
Berkembangnya aliran kepercayaan yang dalam
beberapa hal dapat menimbulkan konflik.
Situasi keamanan yang masih banyak diwarnai
sangat mudahnya terjadi konflik dalam masyarakat,
unjuk rasa mengganggu ketertiban umum, aksi-aksi
premanisme, anarkhi yang dilakukan oleh kelompok
massa: polemik dan reaksi penindakan kejahatan,
masih tingginya KKN, dsb.
Situasi keamanan pada beberapa daerah, secara
umum kondusif namun masih banyak sumbersumber
yang
dapat
meningkat
menjadi
aktual yang berlatar belakang dari berbagai
permasalahan yang belum terselesaikan.
Kencenderungan
meningkatnya
kejahatan
(konvensional, trans nasional, kejadian yang
berimplikasi kontinjensi, dan kejahatan terhadap
kekayaan negara, termasuk korupsi yang masih
massive terjadi pada berbagai sektor) catatan :
berdasarkan data global corruption indexs Asia
Pasifik Region bahwa indek persepsi korupsi
Indonesia tercatat rangking 110 dengan skor 2,8
MANAJEMEN KEAMANAN

22

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

k;

l;

2)

Indonesia masih tertinggal jauh dengan Singapura


(rangking 1), Brunei Darussalam (rangking 38),
Malaysia (rangking 56) dan Thailand (rangking 78)
Tingkat kepatuhan dan disiplin terhadap hukum
masih rendah bahkan dalam beberapa kasus masih
sering timbul tindakan main hakim sendiri.
Seringnya terjadi bencana alam baik gempa bumi,
banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan lainlain yang memerlukan penanganan secara cepat,
tepat, dan sinergis.

Ancaman dan tantangan dari luar negeri:


a;
b;

c;

d;

e;
f;

g;

Terdapat

Dampak
globalisasi,
Kemajuan
Ilpengtek,
transportasi, komunikasi, dsb.
Meningkatnya kejahatan trans nasional (Drug
Trafficking, money loundering, terorisme, arm
smuggling, trafficking in persons, sea peracy,
international economy crime, cyber crime), yang
masih banyak permasalahan antara lain batas
negara / yuridiksi, perbedaan sistim hukum,
perjanjian antar negara dsb.
Lemahnya daya saing ekonomi nasional, efek harga
minyak mentah dunia dan situasi negara penghasil
Migas, perdagangan bebas (AFTA, WTO, APEC
dll), dampak ekonomi global, dsb).
Persaingan investasi, menguatnya perekonomian
negara tertentu dan membanjirnya produkluar ke
Indonesia.
Meningkatnya pencurian kekayaan alam (tambang,
hutan, ikan).
Potensi melunturnya semangat nasionalisme
akibatkondisi ekonomi masyarakat dan infrastruktur
di daerah perbatasan dengan negara lain.
Dampak dari era teknologi informasi yang sangat
erat berkait dengan pengaruh negatif informasi
budaya asing, melalui media internet terutama
pornografi yang sangat terbuka dan sulit dibatasi.
faktor-faktor

pendukung,

peluang

yang

dapat

MANAJEMEN KEAMANAN

23

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

dimanfaatkan untuk meningkatkan keamanan antara lain:


1)

Faktor peluang dalam negeri :


a;

b;

c;

d;

e;

f;

g;

h;

Keberhasilan pembangunan ekonomi Indonesia


telah menuai berbagai prestasi dan penghargaan
dalam skala global.
Demokrasi yang telah berkembang pesat ditandai
dengan pemerintahan yang baik good government
governance, fungsi kontrol yang semakin kuat
(DPR, organisasi, masyarakat).
Partisipasi politik cukup tinggi ditandai dengan
model multi partai, keikutsertaan warga dalam
pemilu dan Pilkada cukup tinggi, penyelenggaraan
Pemilu yang adil dan demokratis, penyampaian
pendapat atau aspirasi yang sangat intensif.
Komitmen dan semangat penegakkan supremasi
semakin kuat didukung dengan keberanian warga
masyarakat menyampaikan setiap perkara atau
kasus-kasus tentang ketidakadilan. Dalam situasi
seperti ini aparat penegak hukum lebih terkontrol
dan tidak mudah bertindak semena-mena,
diskriminatif, sehingga semakin transparan, dan
meningkatnya kualitas kinerja dalam pelayanan
masyarakat.
Adanya kekuatan bangsa Indonesia berupa nilainilai kebangsaan yang bersumber dari 4 (empat)
konsensus dasar bangsa, yaitu: Pancasila, UndangUndang Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal
Ika.
Nilai-nilai
budaya
harmonisme,
kerjasama,
kekerabatan dan solidaritas, serta toleransi masih
dapat dipertahankan sebagai modal perekat
kesatuan dan persatuan bangsa.
Soliditas Polri/TNI dan semakin terjalinnya
hubungan lintas sektoral dengan instansi/lembaga
terkait dalam mendukung kebijakan sinergi
polisional proaktif.
Komitmen dankebijakan pemerintah dalam upaya
program reformasi birokrasi; 1) Penataan dan

MANAJEMEN KEAMANAN

24

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

i;

j;

2)

penguatan organisasi, 2) Penataan tata laksana,


3) Penataan peraturan perundang undangan,
4) Penigkatan
kualitas
pelayanan publik, 5)
Penataan
sistem
manajemen
aparatur, 6)
Transformasi budaya/perubahan, 7) Penguatan
pengawasan, 8) Penguatan akuntabilitas kinerja, 9)
Monitoring dan evaluasi. Dan dengan rencana aksi
yang jelas.
Semakin
terbangunnya
sinergitas
dalam
menciptakan keamanan dalam negeri serta
meningkatnya hubungan lintas sektoral/partnership
dan peran pengawasan masyarakat termasuk para
pemuda.
Kebijakan rencana pembangunanan kekuatan Polri
(penambahan 10 ribu tahun 2012, 20 ribu tahun
2013 dan 20 ribu tahun 2014). Kekuatan pegawai
negeri pada Polrisaat ini sebanyak 413.509 orang
terdiri; anggota Polri 387.470 orang (Pati; 236,
Pamen 12.067, Pama 29.750, Brigadir 345.417) dan
PNS 26.039 orang (sumber: SSDM Polri tahun
2011).

Faktor peluang luar negeri:


a;

b;
c;
d;

Hubungan politik dan diplomasi Indonesia dengan


negara tetangga dan negara-negara lainnya cukup
baik dan harmonis.
Bantuan dari negara-negara donatur dan negara
maju masih berlanjut.
Kerjasama di bidang ekonomi dengan negara lain
semakin meningkat dan terus berkembang.
Kerjasama
di
bidang
keamanan
dan
penanggulangan kejahatan Trans Nasional dengan
negara tetangga maupun negara maju sangat baik
(melalui interpol, aseanapol, bilateral). Kemampuan
Indonesia mengungkap dan mengajukan para
pelaku terorism ke pengadilan, merupakan salah
satu pendorong pulihnya kepercayaan dunia
terhadap Indonesia.
MANAJEMEN KEAMANAN

25

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

e;

f;

4;

Alih teknologi dari negara maju sehingga


mendorong perkembangan dan pertumbuhan
teknologi, ekonomi, industri, komunikasi dsb.
Peran dan respon Non Goverment Official (NGO)
pada berbagai permasalahan sosial, ekonomi,
lingkungan, penegakan hukum, HAM, merupakan
bentuk pengawasan external yang cukup efektif
bagi kepentingan dan kemajuan keamanan negara.

Fungsi, Tujuan, Peran, Tugas Pokok dan Wewenang Polri


Deskripsi fungsi, tujuan, peran, tugas pokok, dan wewenang Polri
sesuai UU Nomor 2 Tahun 2002 adalah sebagai berikut :
a;

Fungsi Kepolisian.
Pasal 2 Undang-undang nomor 2 tahun 2002. Bahwafungsi
Kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di
bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat,
penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan
kepada masyarakat.

b;

Tujuan Polri.
Pasal 4 Undang-undang Nomor 2 tahun 2002 dinyatakan
bahwa : KepolisianNegara Republik Indonesia bertujuan untuk
mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi
terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan
tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman
dan pelayanan masyarakat, serta terbinanya ketentraman
masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

c;

Peran Polri, dinyatakan dalam Pasal 5 Undang-undang


Nomor 2 tahun 2002 adalah :
1;

Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat


negara yangberperan dalam memelihara keamanan dan
ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta
memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan
kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya

MANAJEMEN KEAMANAN

26

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

kemanan dalam negeri.


2;

d;

Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah Kepolisian


Nasional yang merupakan satu kesatuan dalam
melaksanakan peran sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) di atas.

Tugas Pokok Polri


Sesuai Pasal 13 Undang-undang Nomor 2 tahun 2002,
Tugas Pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah:
1;
2;
3;

Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.;


Menegakkan hukum;
Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan
kepada masyarakat.

Selanjutnya pada Pasal 14 ayat (1) dinyatakan bahwa:Dalam


melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 13, Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas:
1;

Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan dan


patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah
sesuai kebutuhan.

2;

Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin


keamanan, ketertiban dan kelancaran lalulintas di jalan.

3;

Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi


masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan
warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan
perundang-undangan.

4;

Turut serta dalam pembinaan hukum nasional.

5;

Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum.

6;

Melakukan koordinasi, pengawasan dan pembinaan


teknis terhadap Kepolisian khusus, penyidik pegawai
negeri sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa.

7;

Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua


tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan
peraturan perundang-undangan lainnya.

MANAJEMEN KEAMANAN

27

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

8;

Menyelenggarakan identifikasi Kepolisian, kedokteran


Kepolisian, laboratorium forensiki dan psikologi Kepolisian
untuk kepentingan tugas Kepolisian.

9;

Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda,


masyarakat dan lingkungan hidup dari gangguan
ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan
bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak
asasi manusia.

10;

Melayani kepentingan masyarakat untuk sementara


sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang
berwenang.

11;

Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai


dengan kepentingannya dalam lingkup tugas Kepolisian.

12;

Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan


perundangundangan.
Tata cara pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) huruf (f) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah.

e;

Wewenang
Wewenang umum POLRI (Pasal 15 ayat 1). Dalam rangka
menjalankan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 dan
14, Polri secara umum berwenang untuk:
1;

Laporan menerima dan/ atau pengaduan.

2;

Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat


yang dapat mengganggu ketertiban umum.

3;

Mencegah dan
masyarakat.

4;

Mengawasi aliran yang dapat menimbulkan perpecahan


atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

5;

Mengeluarkan peraturan Kepolisian


kewenangan administratif Kepolisian.

6;

Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari

menanggulangi

tumbuhnya

penyakit

dalam

lingkup

MANAJEMEN KEAMANAN

28

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

tindakan Kepolisian dalam rangka pencegahan.


7;

Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian.

8;

Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret


seseorang.

9;

Mencari keterangan dan barang bukti.

10;

Menyelenggarakan pusat informasi kriminal nasional.

11;

Mengeluarkan surat izin dan/atau surat keteranagan yang


diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat.

12;

Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang dan


pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain,
serta kegiatan masyarakat.

13;

Menerima dan menyimpan


sementara waktu.

barang

temuan

untuk

Wewenang sesuai peraturan perundang-undangan (Pasal


15 ayat 2), Polri sesuai dengan peraturan perundang-undangan
lainnya berwenang untuk:
1;

Memberikan izin dan mengawasi kegiatan keramaian


umum dan kegiatan masyarakat lainnya.

2;

Menyelenggarakan registrasi dan identifikasi kendaraan


bermotor.

3;

Memberikan surat izin mengemudi kendaraan bermotor.

4;

Menerima pemberitahuan tentang kegiatan politik.

5;

Memberikan izin dan melakukan pengawasan senjata api,


bahan peledak dan senjata tajam.

6;

Memberikan izin operasional dan melakukan pengawasan


terhadap badan usaha dibidang jasa pengamanan.

7;

Memberikan petunjuk, mendidik dan melatih aparat


Kepolisian khusus dan petugas pengamanan swakarsa
dalam bidang teknis Kepolisian.

8;

Melakukan kerja sama dengan Kepolisian negara lain


dalam menyidik dan membrantas kejahatan internasional.

9;

Melakukan pengawasan fungsional Kepolisian terhadap


MANAJEMEN KEAMANAN

29

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan


koordinasi instansi terkait.
10;

Mewakili pemerintah republik Indonesia dalam organisasi


Kepolisian internasional.

11;

Melaksanakan kewenangan lain yang termasuk dalam


lingkup tugas Kepolisian.

Wewenang di bidang proses pidana


Dalam rangka penyelengaraan tugas sebagaimana dimaksud
dalam pasal 13 dan 14 dibidang proses pidana, dalam pasal 16
diatur bahwa Polri berwenang untuk :
1;

Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan


dan penyitaan.

2;

Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki


tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan.

3;

Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik


dalam angka penyidikan.

4;

Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan


serta pemeriksa tanda pengenal diri.

5;

Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat.

6;

Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai


tersangka atau saksi.

7;

Mendatangkan orang ahli yang diperlukan


hubungannya dengan pemeriksaan perkara.

8;

Mengadakan penghentian penyidikan.

9;

Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum.

10;

Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat


imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi
dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk
mencegah atau menangkal orang yang disangka
melakukan tindak pidana.

11;

Memberikan petunjuk dan bantuan penyidikan kepada


penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil

dalam

MANAJEMEN KEAMANAN

30

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

penyidikan penyidik pegawai negeri sipiluntuk diserahkan


kepada penuntut umum.
12;

Mengadakan tindakan
bertanggung jawab.

lain

menurut

hukum

yang

Diskresi Kepolisian.
Pasal 18 UU NO 2 tahun 2002 dinyatakan bahwa: Untuk
kepentingan umum, pejabat Kepolisian Negara Republik
Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat
bertindak menurut penilaiannya sendiri (ayat 1). Pelaksanaan
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat
dilakukan dalam keadaan yang sangat perlu dengan
memperhatikan peraturan perundang-undangan, serta kode
etik profesi Polri (Ayat 2).
Kewenangan ini bersumber dari asas kewajiban umum
Kepolisian, dalam kewajibannya guna menjaga, memelihara
ketertiban, dan menjamin kemanan umum.
Seorang petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia yang
bertugas di tengah-tengah masyarakat seorang diri, harus
mampu mengambil keputusan berdasarkan penilaiannya
sendiri apabila terjadi gangguan terhadap ketertiban dan
keamanan umum atau bila diperkirakan akan timbul bahaya
bagi ketertiban dan keamanan umum. Dalam keadaan seperti
itu tidak mungkin baginya untuk meminta pengarahan terlebih
dahulu dari atasannya sehingga dia harus berani memutuskan
sendiri tindakannya.
Oleh karena itu dalam ilmu hukum Kepolisian dikenal
beberapa persyaratan yang harus dipenuhi apabila seorang
petugas Kepolisian akan melakukan diskresi yaitu :
Tindakan harus benar-benar
notwendig) atau asas keperluan.
1;

diperlukan

(noodzakelijk,

Tindakan yang diambil benar-benar untuk kepentingan


tugas Kepolisian (zakelijk, sachlich).

MANAJEMEN KEAMANAN

31

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

2;

Tindakan yang paling tepat untuk mencapai sasaran yaitu


hilangnya suatu gangguan atau tidak terjadinya sesuatu
yang dikhawatirkan.
Dalam hal ini yang dipakai sebagai ukuran yaitu
tercapainya tujuan (zweckmassig, doelmatig).

3;
5;

Asas keseimbangan (evenredig)

Kebijakan dan Strategi Pemeliharaan Keamanan


a;

Landasan penugasan.
Sesuai dengan dasar negara hukum, maka penyelenggaraan
keamanan harus selalu berdasarkan kepada hukum:

b.

1;

Sasaran/obyek dirumuskan dalam hukum, yaitu hukum


materiil.

2;

Prosedurnya harus sesuai hukum, yaitu hukum formil.

Pola Penanganan.
Masalah keamanan sangat kompleks sehingga penataan
keamanan harus melalui kebersamaan dan pelibatan semua
potensi/aktor, dengan penataan yang jelas:

c.

1;

Pembagian tugas, peran dan fungsi aktor pelaksana


dengan penegasan unsur utama sebagai penanggung
jawab, dan unsur pendukung dengan aturan prosedur
pelibatan sesuai batas kewenangan masing-masing.

2;

Mekanisme pelibatan semua aktor keamanan diatur jelas


guna menghindari kerancuan/tumpang tindih, sehingga
terkoordinasi dan harmonis pelaksanaannya.

Metode/strategi
Metode penanggulangan keamanandan ketertiban masyarakat
disesuaikan dengan ketiga spektrum dan wujud ancaman
terhadap keamanan yaitu :
1;

Untuk ancaman yang berupa Potensi Gangguan (PG),


MANAJEMEN KEAMANAN

32

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

maka strategi penanggulangan yang digunakan adalah


pre-emtif. Strategi ini mengantisipasi secara dini
perkembangan
semua
faktor
dalam
kehidupan
masyarakat, terutama yang bersifat negatif dan
berpotensi menimbulkan terjadinya gangguan Kamtibmas.
Kegiatan utama yang dilakukan adalah melalui
pembinaan untuk efek detren seperti edukasi, rehabilitasi.
2;

Untuk ancaman yang berupa Ambang Gangguan (AG),


maka strategi penanggulangan yang digunakan bersifat
preventif. Kerentanan kondisi tersebut diatasi melalui
upaya pencegahan dengan sasaran untuk mengurangi
faktor kesempatan dan menurunkan faktor niat, melalui
kegiatan pengaturan, penjagaan, pengawalan maupun
patroli.

3;

Sedangkan
untuk
menghadapi
ancaman
faktual/Gangguan Nyata (GN) maka strategi yang
digunakan bersifat represif, yakni berupa penindakan
melalui penegakkan hukum proporsional dan profesional.

Ketiga jenis strategi dan pola penanggulangan tersebut dalam


pelaksanaannya tidak dilakukan sendiri oleh Polri, tetapi juga
melibatkan segenap potensi masyarakat dan unsur institusi
terkait sesuai batas kewenangannya guna pencegahan/
penanggulangan segala bentuk gangguan kamtibmas,
termasuk pelanggaran hukum, bencana alam dan penanganan
gerombolan bersenjata.
Oleh karena itu Polri terus mengembangkan pola kerjasama
fungsional dengan pengemban fungsi kepolisian, instansi
terkait dan pemerintah daerah serta kerjasama dengan
kepolisian luar negeri, guna mewujudkan dan memelihara
keamanan dalam negeri.
Sesuai dengan Peraturan Kapolri Nomor 9 tahun 2011 tentang
Managemen Operasi Kepolisian, bahwa terdapat bentuk
operasi kepolisian, meliputi , operasi intelijen, operasi
pengamanan kegiatan, operasi pemeliharaan keamanan,
operasi penegakan hukum, operasi pemulihan keamanan
danoperasikontinjensi.
Selanjutnya Operasi pengamanan kegiatan, merupakan operasi
MANAJEMEN KEAMANAN

33

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

kepolisian yang diselenggarakan oleh Polri berkaitan dengan


kegiatan masyarakat dan/atau pemerintah yang berpotensi
menimbulkan gangguan keamanan secara nyata dan dapat
mengganggu/menghambat perekonomian dan/atau sistem
pemerintahan, yang di laksanakan bersifat terbuka dengan
mengedepankan polisi berseragam, diarahkan pada sasaran
AG, penentuan TO secara kualitatif dan/atau kuantitatif, dengan
CB preventif. Dan tindakan pencegahan dan penangkalan,
melalui kegiatan pembinaan masyarakat, simpatik, dalam
rangka meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat.
d.

Subyek / aktor pelaksana


1;

Penanganan akar permasalahan Potensi Gangguan (PG),


aktornya adalah Polridan dengan mengedepankan semua
unsur masyarakat dan instansi, segenap potensi bangsa
berperan aktif mengeliminir potensi gangguan, untuk itu
penyuluhan hukum dan kamtibmas terus di lakukan
penerapan comunity policing, adanya kebijakan
pemerintah seperti pengaturan di setiap sektor kehidupan
yang berorientasi kepada keamanan dan kesejahteraan.
(sesuai lingkup/bidang tugas dan tanggungjawab masingmasing yang diatur di dalam peraturan perundangundangan).

2;

Penanganan kerawanan Ambang Gangguan (AG):


aktornya adalahPolri, bersama-sama potensi masyarakat
aparat/potensi Polsus, Satpam, PPNS, TNI, sesuai
dengan batas peran dan kewenangannya.

3;

Penanganan Gangguan Nyata (GN): aktornya adalah


Polri sebagai unsur utama dengan mengedepankan
penegakan hukum dan tindakan kepolisian terhadap
gangguan keamanan, disertai upaya pembinaan untuk
menggalang partisipasi penanggulangan gangguan dan
penindakan hukum serta penanggualangan bencana
.penanganan gangguan nyata juga dibantu unsur
pendukung: CJS, PPNS, Polsus, Satpam, TNI, pemda
potensi masyarakat sesuai dengan batas peran dan
MANAJEMEN KEAMANAN

34

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

kewenangannya.
e.

Kebijakan.
Mendasari pada fungsi, tujuan, peran, tugas dan Polri,
pergeseran paradigma good goverment, governance yang
mensyaratkan beberapa prinsip utama seperti: Visioning,
akuntabilitas, berorientasi kinerja, transparansi, efektifitas dan
efisiensi.maka kebijakan strategis Polri antara lain melalui
kebijakan:
1;

2;

Pembenahan di lingkungan Polri baik aspek struktural


menyangkut
institusi,
organisasi,
susunan
dan
kedudukan. Instrumental upaya perubahan filosofi,
doktrin, kompetensi, kemampuan fungsi dan IPTEK.
Sedangkan aspek kultural memusatkan pada manajemen
sumberdaya, manajemen operasional dan sistem
pengawasan, yang pada gilirannya akan berakibat pada
perubahan tatalaku, etika dan budaya pelayanan
kepolisian;
Pencanangan grand strategi Polri 2005 s/d 2025 yang di
susun secara bertahap berdasarkan pencapaian target
yaitu:
a)

Tahap I :
TRUST BUILDING(2005 - 2009).
Keberhasilan
Polri
dalam
menjalankantugas
memerlukan dukungan masyarakat dengan landasan
kepercayaan(trust).

b)

Tahap II : PARTNERSHIP BUILDING (2010 2014). Merupakan kelanjutan dari tahap pertama,
dimana perlu dibangun kerjasama yangerat dengan
berbagai pihak yang terkait dengan pekerjaan Polri.

c)

Tahap III :STRIVE FOR EXCELLENCE (2015 2025). Membangun kemampuanpelayanan publik
yang unggul dan dipercaya masyarakat. Dengan
demikiankebutuhan masyarakat akan pelayanan
Polri yang optimal dapat diwujudkan.
MANAJEMEN KEAMANAN

35

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

3)

Kebijakan berupa program Revitalisasi Polri menuju


pelayanan prima guna meningkatkan kepercayaan
masyarakat dengan menghidupkan, membangun, dan
memberdayakan kembali nilai-nilai kemampuan yang
telah di miliki Polri di segala bidang.
Program revitalisasi Polri diharapkan dapat memperkuat
serta memperbaiki simpul-simpul yang masih tersumbat
pada setiap penggelaran fungsi kepolisian dalam rangka
mewujudkan pelayanan prima, Polri yang proaktif,
transparan dan akuntabel.
Oleh karena itu patnership building telah di jabarkan di
dalam program Polri dan anggaran Polri yaitu :
a;
b;
c;
d;
e;
f;

4;

Peningkatan kepercayaan masyarakat.


Penerapan Quick Wins di seluruh NKRI.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Modernisasi teknologi kepolisian sebagai bagian dari
reformasi birokrasi Polri.
Pemantapan
tatakelola
pencegahan
dan
penanggulangan kejahatan (terorisme).
Peningkatan profesionalisme yang diiringi dengan
kesejahteraan anggota.

Terdapat terobosan kebijakan revitalisasi yang dalam


kerangka makro (road map) sebagi berikut:
a;

Penguatan institusi secara berkelanjutan dari


seluruh kebijakan dan program yang telah ada
dalam mencapai visi dan misi Polri;

b;

Terobosan kreatif Polri untuk meningkatkan kinerja


sehingga dirasakan secara nyata manfaatnya oleh
masyarakat dan segenap stake houlders;

c;

Peningkatan integritas, seluruh personil Polri dalam


menjalankan tugas pokok fungsi dan perannya di
sertai dengan pengawasan yang ketat.

MANAJEMEN KEAMANAN

36

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

5;

Membangun postur Polri yang paripurna (world class


organization).
Dihadapkan dengan perkembangan lingkungan strategis
dan untuk mampu mengantisipasi ancaman, tantangan,
hambatan dan gangguan terkait dengan Kamtibmas maka
perlu konsep dan langkah-langkah strategi untuk menuju
Polri yang paripurna.
Berdasarkan rangkuman dari berbagai literatur world
class organization didefinisikan sebagai organisasi yang
menjadi acuan atau rujukan bagi organisasi lain yang
sejenis (benchmark), memiliki kemampuan kinerja di atas
rata-rata
(extraordinary
performance),
memiliki
keunggulan-keunggulan di bidang tertentu (advantages),
dan dikenal luas secara Internasional (worldwide
recognized).
Sesuai definisi di atas, maka gambaran Postur Polri Tahun
2012-2014 menuju Paripurna (world class organization)
akan dihadapkan dengan perkiraan tantangan tugas Polri
yang semakin kompleks, sehingga kekuatan
Polri
diharapkan telah tergelar mulai dari tingkat Mabes
sampai dengan tingkat Polsek yang menganut sistem
piramida berstandar kinerja yang profesional, bermoral
dan modern (PBM) dengan pengaturan, Mabes kecil
sebagai perumus kebijakan Politik, Strategi dan
Keamanan (Polstrakam) tingkat nasional, Polda cukup
sebagai kesatuan induk penuh, Polres besar sebagai
Kesatuan Operasional Dasar (KOD) dan Polsek
kuatsebagai
unit
pelayanan
terdepan
kepada
masyarakat.
Berikut ini digambarkan tabel ringkasan perbandingan
komponen world class organization pada kepolisian
Amerika Serikat, Jepang, Inggris dan Kanada.
Komponen world class organization
kepolisian Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan Kanada

MANAJEMEN KEAMANAN

37

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

No
1

Komponen
Services

No
5

Kepolisian Negara
Amerika Serikat
Jepang
Inggris
Telah
Pelayanan
KobanCommunity
Policing

mengimplementasikan (Polmas Jepang) yangyang telah berjalan


standar pelayanan sejaksangat
berorientasisangat
baik
dan
lama dan sudah berjalanterhadap
pelayananmenggunakan
dengan sangat baik
kepada
masyarakatpendekatan
yang
secara proaktif.
humanis

Pengukuran dilakukan secara period


Business
Business
processBudaya
QualityPenentuan KPI dari
Menggunakan
Process
& disusun secara baik danManagement
yangbusiness process dan
Scorecard untuk memetakan
Quality
jelas serta didukung olehsudah
dimanajemen mutu.
business
process
Management quality
managementimplementasikan sejak
mengukur manajemen mutu.
terutama dalam hallama (tahun 1945)
pelayanan
terhadap
Pengukuran
dilakukan
masyarakat.
secara periodik.
Administration Proses administrasi danProses administrasi danProses administrasi dan
Menerapkan Management
&
akuntabilitas dalam halakuntabilitas dalam halakuntabilitas dalam hal
Acoountability pelayanan
kepolisianpelayanan
kepolisianpelayanan
kepolisian Accountability Framework
baik internal kepadabaik internal kepadabaik internal kepada Menerapkan
personel Polri maupunpersonel Polri maupunpersonel Polri maupun Administrative
Records
eksternal
kepadaeksternal
kepadaeksternal
kepada Management
System
masyarakat yang sudahmasyarakat yang sudahmasyarakat yang sudah (NARMS)
dilaksanakan
dengandilaksanakan dengandilaksanakan dengan
baik
baik
baik
Technology
Penggunaan teknologiPenggunaan teknologiDigunakannya teknologi
Mengimplementasikan
terkini dan terintegrasikepolisian
yangtepat
guna
dan
dibidang kamera dalamterintegrasi dibidang laluterintegrasi
dalam teknologi kriminal yang
hal lalu lintas, identifikasilintas,
identifikasi,pelaksanaan
tugas terintegrasi di unit-unit.
kejahatan,
kejahatancybercrime, dan lainnya kepolisian
cybercrime, dan lainnya
Kepolisian Negara
Komponen
Amerika Serikat
Jepang
Inggris
Kanada
Innovation
Inovasi
penangananInovasi
teknologiPengembangan
dan

Menjadikan inovasi sebagai


kejahatan yang teruskepolisian yang terusinovasi
metode
perspektif
dari
berkembang baik darimemberi hasil
penanganan
dan dasar
pembangunan
segi teknologi maupun
pencegahan kejahatan
Scorecard.
metode
People
Menerapkan Manajemen Menerapkan
Menerapkan
Menerapkan manajemen
Competencies SDM berbasis
Manajemen SDM
Manajemen SDM
SDM berbasis kompetensi
kompetensi mulai dari berbasis kompetensi berbasis kompetensi
secara tegas.
rekrutmen sampai
mulai dari rekrutmen
mulai dari rekrutmen
pengembangan.
sampai pengembangan. sampai pengembangan.
Mengimplementasikan
Human Resources
Management
Information System
(HRMIS)

Kanada
Adanya pengukuran tentang
ancaman dan dampak
kejahatan
terorganisir,
pelayanan
kepada
masyarakat, keselamatan
dan
keamanan,
berdasarkan
perspektif
masyarakat.

People
Development

Mengimplementasikan
Human Resources
Management
Information System
(HRMIS)
Program pengembangan Memiliki pemetaan
personel yang sudah program pelatihan dan
rutin dan terjadwal
pendidikan kepolisian

Mengimplementasikan
Human Resources
Management
Information System
(HRMIS)
Memiliki strategi
pengembangan SDM
yang sudah disusun
secara balanced
scorecard

Mengimplementasikan
Human Resources
Management Information
System (HRMIS)

Mampu menerapkan
development system
berbasis kompetensi.

MANAJEMEN KEAMANAN

38

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Organization
Culture

Budaya organisasi
professional

Budaya organisasi
Bushido

Leadership

Pengembangan
Penanaman jiwa
kepemimpinan melalui kepemimpinan khas
program pelatihan
sejak dini
kepemimpinan

Budaya organisasi yang


Mampu menerapkan
profesional
revitalisasi budaya dan
motivasi personel.
Pembudayaan

Adanya pengukuran
kepemimpinan modern
kepercayaan diri terhadap
melalui strategi
reliabilitas dan
organisasi yang
kepemimpinan di lingkungan
berkelanjutan
RCMP berdasarkan
perspektif stakeholders

Lihat: Pemaparan Kapolri kepada Presiden RI Januari 2011membangun postur Polri


2014 menuju Polri yang paripurna (world class organization), dan lihat Strategi Map oleh
Kaplan dan Norton Tahun 2005.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka membangun


postur Polri yang paripurna (world class organization)
setidaknya didasarkan atas kekuatan dan kemampuan
yang memadai. Aspek kekuatan terkait dengan SDM,
Sarpras, Anggaran, sedangkan aspek kemampuan
antara lain dengan kemampuan intelijen, kemampuan
Harkamtibmas,
kemampuan
penegakan
hukum,
kemampuan pemberdayaan masyarakat, kemampuan
penindakan
gangguan
Kamdagri,
kemampuan
penyelamatan, kemampuan perlindungan, pengayoman
dan pelayanan, kemampuan kerjasama dalam negeri dan
luar negeri, kemampuan hukum perundang-undangan,
kemampuan dukungan (kemampuan untuk mendukung
seluruh pelaksanaan tugas Polri baik bidang operasional
maupun pembinaan).
6;

Strategi dan Langkah guna mewujudkan postur Polri yang


ideal menuju paripurna
a;

Penambahan kekuatan personil sarana prasarana


dan anggaran, dilakukan melalui:
1;
pembangunan
kekuatan
personil
untuk
memenuhi atau mencapai standar minimal
(internasional) rasio Polisi dengan penduduk
secara bertahap;
2;
penyediaan anggota baru Polri melalui
rekruitmen dan seleksi personil secara
proporsional bersih, transparan dan obyektif
MANAJEMEN KEAMANAN

39

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

akuntabel dan melibatakan pengawas internal,


eksternal;
3;

4;

5;

6;

7;

8;

9;

10;

11;

implementasi penyediaan Perwira Polri untuk


memiliki kemampuan sebagai pelaksana
sekaligus sebagai penyelia Tupoksi;
implementasi
penyediaan
Brigadir
Polri
diarahkan untuk memiliki kemampuan tugas
Polisi umum;
penyediaan
Brigadir
Polri
yang
akan
melaksanakan
tugas spesialisasi
fungsi
kepolisian melalui uji kompetensi;
pengembangan dan penggelaran kekuatan
Polri pada titik pelayanan terdepan yang
bersentuhan langsung dengan masyarakat;
pengembangan kekuatan personil untuk
mengawaki pembangunan kepolisian perairan
pada enam titik pangkalan bergerak yaitu
yaitu : Tanjung Batu Polda Riau, Nunukan
Polda Kaltim, Bitung Polda Sulut, Kupang
Polda NTT, Sorong Polda Papua dan Tanjung
Priok Polda Metro Jaya, yang akan mengatasi
berbagai kerawanan yang terjadi di perairan
dalam 8 (delapan) kawasan;
Pengembangan kekuatan personel untuk
mengawaki pembangunan Pos-pos Polisi yang
berada di kawasan perbatasan dan pulau-pulau
terluar berpenghuni;
Penggeseran personel Polri yang berpangkat
Brigadir dan Perwira Pertama dari Mabes Polri
dan Polda untuk menambah personel pada
tingkat Polsek guna memperkuat pelayanan
Polri
kepada masyarakat danmenjadikan
Polsek sebagai sentra pelayanan terdepan;
Penambahan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Polri
untuk melaksanakan pekerjaan yang bersifat
pendukung/auxiliary;
Membangun Database Standar Sarpras untuk
menyimpan data atau dokumen standarisasi
sesuai spesifikasi kebutuhan Polri yang belum
MANAJEMEN KEAMANAN

40

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

terakomodasi dalam SIMAK BMN;


12;

Meningkatkan pengembangan kemampuan


dan keterampilan Polri guna mendukung
keberhasilan pelaksanaan tugas, dibidang
pembinaan maupun operasional, dengan
upaya-upaya sbb:
a;
Peningkatan kualitas dan ketrampilan
personel
Polri
melalui
pendidikan/
pelatihan dan menggambarkan secara
jelas
jenjang/struktur maupun jenis
pendidikan/kompetensinya
serta
mengembangkan pengetahuan dan sikap
perilaku untuk membentuk jati diri Polri
yang profesional, beradab, bermartabat
dan menjungjung tinggi Hak Asasi
Manusia (HAM);
b;
Pengembangan pusat pendidikan sebagai
pusat keunggulan (center for excellence)
untuk membentuk kader personel yang
unggul, menjadi pusat rujukan dalam
penanganan masalah di organisasi Polri,
memiliki standar kinerja, proses kerja,
dijalankan oleh personel dan budaya
organisasi yang unggul dalam rangka
mewujudkan sistem pendidikan Polri
berdasarkan filosofi Mahir, Terpuji, dan
Patuh Hukum;
c;
Pembenahan
komponen
pendidikan,
terutama diarahkan pada aspek tenaga
pendidikan direkrut dan diseleksi dari
anggota/PNS Polri yang memiliki dedikasi
dan prestasi kerja yang baik serta
bermoral dalam melaksanakan tugas
pokok Polri. Untuk meningkatkan kualitas
ketrampilan tenaga pendidikan,
dilakukan melalui pendidikan/pelatihan
secara bertahap, terarah dan berlanjut;
d;
Memanfaatkan pusat pendidikan dan
Sekolah Polisi Negara (SPN) Polri untuk
MANAJEMEN KEAMANAN

41

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

e;

f;

g;

6;

mendidik dan melatih petugas Polmas


guna meningkatkan kemampuan dan
ketrampilan dalam melaksanakan tugas;
Peningkatan
kemampuan
personel
penyidik Reskrim dan anggota Intelkam
serta fungsi utama Polri lainnya (Binmas,
Sabhara, Lalu lintas) untuk menangani
bentuk-bentuk kejahatan konvensional
yang meresahkan masyarakat. yang
dilaksanakan secara bertahap sesuai
dengan
tantangan
tugas
dan
perkembangan
lingkungan
serta
kebutuhan organisasi Polri;
Peningkatan kemampuan anggota Polri
sebagai pengendali massa (Dalmas)
untuk pengamanan unjuk rasa yang
dilakukan
oleh
masyarakat
dalam
menyampaikan aspirasi atau pendapat
dimuka umum;
Peningkatan kemampuan personel lalu
lintas
untuk
menangani
berbagai
permasalahan dibidang lalu lintas melalui
penyelenggaraan pendidikan masyarakat
lalu lintas (Dikmas Lantas), penegakkan
hukum, pengkajian masalah lalu lintas,
registrasi dan identifikasi serta patroli
jalan raya.

Visi, Misi Polri dan Sasaran Strategis


a;

Visi Polri :
Terwujudnya pelayanan Kamtibmas yang unggul guna
menangkal dan mencegah potensi gangguan, penegakan
hukum yang tegas serta terjalinnya sinergi polisional yang
proaktif dalam rangka memantapkan Kamdagri.

b.

Misi Polri:
1;

mewujudkan

pelayanan

kamtibmas

prima

melalui

MANAJEMEN KEAMANAN

42

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

kegiatan preemtif, preventif dan represif (penegakan


hukum) dengan penerapan ilmu pengetahuan dan
teknologi guna mewujudkan Kamdagri yang kondusif;

c.

2;

melaksanakan deteksi dini dan deteksi aksi secara cepat


dan akurat melalui kegiatan penyelidikan, pengamanan
dan penggalangan;

3;

melakukan penegakan hukum dengan tidak diskriminatif,


menjunjung tinggi HAM, anti KKN dan anti kekerasan;

4;

memberikan perlindungan, pengayoman, pelayanan dan


bimbingan masyarakat dengan meningkatkan peran
Bhabinkamtibmas dalam mengimplementasikan strategi
Polmas yang berada di desa/kelurahan;

5;

mewujudkan kemitraan dengan masyarakat dan


meningkatkan Sinergi Polisional Inter Kementerian/
Lembaga dan Lembaga Nasional;

6;

menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban dan


kelancaran lalu lintas untuk menjamin keselamatan dan
kelancaran arus orang dan barang.

Arah Kebijakan Polri dalam mencapai


pembangunan nasional di Bidang Keamanan.
1;

kebijakan

Bidang Pembinaan.
a;

percepatan peningkatan kapasitas dan kapabilitas


SDM serta modernisasi teknologi kepolisian sebagai
bagian penerapan reformasi Polri;

b;

membangun dan mengembangkan sarana prasana


yang berbasis teknologi dan informasi dalam rangka
mendukung sebaran pelayanan Kamtibmas di
tengah-tengah masyarakat;

c;

pemenuhan anggaran
dalam rangka dukung
operasional Tupoksi Polri dan pemeliharaan sarana
dan prasarana Polri;

MANAJEMEN KEAMANAN

43

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

2;

d;

d;

penguatan lembaga penelitian dan pengembangan


dalam rangka pemenuhan Almatsus Polri berbasis
teknologi Kepolisian serta pengembangan industri
teknologi Kepolisian menuju Standar Minimal
Pelayanan Polri;

e;

penguatan bidang kehumasan melalui implementasi


keterbukaan informasi publik guna mewujudkan
kepercayaan masyarakat;

Bidang Operasional.
a;
memantapkan deteksi dini dan deteksi aksi dalam
antisipasi setiap potensi gangguan dan gejolak sosial
masyarakat;
b;
memantapkan strategi Polmas dalam meningkatkan
peran serta masyarakat guna menciptakan
keamanan dan ketertiban;
c;

memantapkan perlindungan, pengayoman dan


pelayanan masyarakat dalam mencegah gangguan
Kamtibmas, Kamseltibcarlantas dan penanganan
keamanan wilayah pasca konflik, serta kesiapan
pengamanan Pemilu 2019;

d;

pemantapan tata kelola pencegahan dan penindakan


terhadap
4 (empat) jenis kejahatan
yang meliputi: kejahatan konvensional, kejahatan
transnasional, kejahatan terhadap kekayaan negara,
dan kejahatan yang berimplikasi kontinjensi;

e;

pemantapan tata kelola kerja sama Polisionil dengan


K/L dan kelompok masyarakat guna pemecahan
masalah sebelum menjadi potensi gangguan.

Strategi Polri dalam mencapai kebijakan pembangunan


nasional di bidang Keamanan;
1;
Bidang Pembinaan.
a;
peningkatan kapasitas dan kapabilitas SDM
dilakukan melalui rekrutmen personel Polri yang
bebas dari KKN, Transparan dan akuntabel dengan
melibatkan pengawasan internal dan eksternal serta
penanaman nilai-nilai profesionalisme dan budaya

MANAJEMEN KEAMANAN

44

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

2;

anti korupsi
di lembaga pendidikan
dalam rangka meningkatkan internal trust dan public
trust;
b;
modernisasi teknologi Kepolisian dilakukan melalui
penelitian dan pengembangan seperti laboratorium
Forensik, Cyber Lab, Inafis, Psikologi forensik,
kedokteran forensik, sistem informasi kriminal
nasional guna pengungkapan kejahatan melalui
pembuktian ilmiah (Scientific Crime Investigation)
serta pemenuhan Alut/Alsus perorangan dan
kesatuan yang memenuhi Standar Minimal
Pelayanan Polri dalam rangka mendukung Tupoksi;
c;
menyusun perencanaan dan penganggaran secara
profesional dan proporsional dengan mendasari
tantangan tugas yang dihadapi sesuai karakteristik
kerawanan wilayah serta penerapan anggaran
berbasis kinerja secara konsisten, transparansi dan
akuntabilitas dengan berpegang pada prinsip
efisiensi,
prioritas
dan
kehati-hatian
dalam
pengelolaan anggaran;
d;
peningkatan
kesejahteraan
personel
melalui
penerimaan tunjangan kinerja (remunerasi) yang
proporsional, tunjangan kesehatan dan penyediaan
perumahan bagi Personel dan PNS Polri serta
mempersiapkan personel yang akan pensiun dengan
memberikan keterampilan khusus;
Bidang Operasional.
a;

memperkuat Polsek sebagai basis deteksi dan unit


pelayanan Polri terdepan dengan meningkatkan
peran fungsi intelijen dalam Early Detection (deteksi
dini) dan Early Warning (peringatan dini) untuk
menjangkau seluruh sendi kehidupan masyarakat;

b;

menguatkan program satu Polisi (Bhabinkamtibmas)


satu desa untuk memperoleh informasi masyarakat
serta menyampaikan kebijakan pemerintah dan
program Polri kepada masyarakat;

c;

meningkatkan pelayanan masyarakat dengan


mengembangkan Polmas untuk menjangkau seluruh
komunitas guna mendukung upaya memelihara dan

MANAJEMEN KEAMANAN

45

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

memantapkan kamtibmas hingga menyentuh


daerah-daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar
berpenghuni dengan menghadirkan anggota Polri di
tengah-tengah masyarakat saat dibutuhkan dan di
setiap kegiatan masyarakat;

e;

d;

menjamin Kamseltibcarlantas arus barang dan orang


dalam sendi kehidupan ekonomi dan sosial
masyarakat
melalui
optimalisasi
kampanye
keselamatan lalu lintas serta koordinasi lintas
sektoral
dalam
pemecahan
permasalahan
kemacetan dan kecelakaan;

e;

meningkatkan upaya penanganan konflik sosial


secara terpadu dengan mengedepankan upaya
pencegahan di samping mempersiapkan upaya
penghentian konflik dan penanganan pasca konflik;

f;

meningkatkan pengungkapan kasus-kasus menonjol


yang meresahkan masyarakat, meliputi kejahatan
konvensional
(kejahatan
jalanan/premanisme,
perjudian, kejahatan dengan kekerasan), kejahatan
lintas negara/transnational crime (cyber crime,
Narkoba human trafficking, arm smuggling,
terorisme), kejahatan yang merugikan kekayaan
negara (korupsi, illegal logging, illegal fishing, illegal
mining) & kejahatan yg berimplikasi kontinjensi
(konflik sosial, demo anarkis);

Pentahapan kebijakan.
1;
Tahun 2015
Melanjutkan pelayanan masyarakat yang prima dan
kebulatan sinergi polisional yang produktif dengan
didukung almatsus Polri berbasis teknologi Kepolisian
guna menghadapai kondisi daya saing bangsa dan
keunggulan nasional.
a;
Membangun
dan
mengembangkan
teknologi
kepolisian serta dukungan teknis kepolisian, antara
lain peralatan kesehatan, laboratorium forensik,
identifikasi cyber lab dan dvi;
b;
Pengembangan sarana dan prasarana lembaga
pendidikan;

MANAJEMEN KEAMANAN

46

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

c;

d;
e;

f;

Melanjutkan pembangunan sistem informasi lalu


lintas yang didukung IT untuk mempercepat akurasi
data dan pengelolaan data lalu lintas;
Pemenuhan Almatsus Polri secara bertahap dalam
rangka meningkatkan pelayanan kamtibmas prima;
Rekruitmen Polwan guna melaksanakan kebijakan
penempatan
2 (dua) Polwan pada setiap
Polsek;
Pembangunan tempat-tempat pelayanan Kepolisian
sampai dengan titik terdekat masyarakat;

2;

Tahun 2016
Meningkatkan pelayanan masyarakat yang prima sampai
jajaran kewilayahan terjauh dan sinergi polisonal yang
produktif dengan didukung sumber daya manusia
berkualitas guna menghadapi kondisi daya saing bangsa
dan keunggulan nasional.
a;
Peningkatan SDM Pendidik Polri;
b;
Melanjutkan
penggelaran
pelayanan
sampai
komunitas terkecil;
c;
Melanjutkan program penempatan satu anggota
Bhabinkamtibmas pada satu desa/kelurahan;
d;
Rekruitmen Polwan guna melaksanakan kebijakan
penempatan 2 (dua) Polwan pada setiap Polsek;
e;
Penataan SDM Polri sesuai Kompetensinya;
f;
Peningkatan pelatihan fungsi operasional dan
pembinaan Polri;
g;
Melengkapi fasilitas dan peralatan pelaksanaan
Quick Response dan Quick Wins;

3;

Tahun 2017
Meningkatkan pelayanan masyarakat yang prima sampai
jajaran kewilayahan terjauh dan sinergi polisional yang
produktif dengan didukung sumber daya manusia
berkualitas serta berkemampuan ilmu dan teknologi guna
menghadapi kondisi daya saing bangsa dan keunggulan
nasional .
a;
Pemberdayaan accesment center;
b;
Terselenggaranya seluruh program quick wins;
c;
Kerjasama pendidikan pengembangan baik dalam

MANAJEMEN KEAMANAN

47

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

4;

5;

negeri maupun luar negeri;


d;
Pembangunan tempat-tempat pelayanan Kepolisian
sampai dengan titik terdekat masyarakat;
e;
Pengadaan sarana transportasi bagi petugas
bhabinkamtibmas;
Tahun 2018
Mendinamisir dan meningkatkan pelayanan masyarakat
yang prima dan sinergi polisonal yang produktif dengan
didukung kecukupan kesejahteraan personel polri guna
menghadapi kondisi daya saing bangsa dan keunggulan
nasional.
a;
Tercukupinya kesejahteraan personel polri dalam
peningkatan remunerasi, kesehatan personel,
perumahan dan pemberian keahlian khusus
personel polri guna menghadapi masa pensiun.
b;
Melengkapi fasilitas dan dukungan operasional
dalam penggelaran pelayanan kamtibmas prima;
Tahun 2019
Terwujudnya pelayanan masyarakat yang prima sampai
jajaran kewilayahan terjauh dan sinergi polosional yang
produktif
dengan didukung almatsus polri berbasis
teknologi kepolisian, sumber daya manusia berkualitas,
dan kecukupan kesejahteraan personel polri guna
menghadapi kondisi daya saing bangsa dan keunggulan
nasional.
a;
Terjaminnya keamanan dalam negeri sebagai
prasyarat pelaksanaan agenda pemilu 2019 dalam
peralihan kepemimpinan nasional dan pemilihan
wakil-wakil rakyat di legislatif yang dilaksanakan
secara serentak guna meningkatkan wibawa
indonesia sebagai kelompok negara demokratis
terbesar di dunia;
b;
Menjadikan indonesia sebagai kawasan aman baik
regional maupun global;
c;
Terwujudnya pelayanan kamtibmas prima di seluruh
titik pelayanan wilayah hukum indonesia;
d;
Peningkatan pengembangan teknologi kepolisian;

MANAJEMEN KEAMANAN

48

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Rangkuman
1;

Keamanan dalam negerimerupakan syarat utama untuk mendukung


terwujudnya masyarakat Madani yang adil, makmur, dan beradab
berdasarkan pancasila dan UUD Negara RI tahun 1945;

2;

Manajemen pemeliharaan Kamtibmas memiliki makna penting dalam


mewujudkan keamanan dalam negeri, yang implementasinya bukan
menjadi tanggung jawab Polri saja, namun harus sinergis dengan
pengemban fungsi kepolisian lainnya termasuk peran serta
masyarakat. Apabila peran Polri dan segenap pengemban fungsi
kepolisian dijalankan dengan baik maka akan menghasilkan out come
yaitu kekuatan yang sinergis untuk menjaga, mewujudkan keamanan
negara, keamanan dalam negeri, keamanan dan ketertiban
masyarakat;

3;

Hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam menjawab


perkembangan lingkungan guna terjaminnya Harkamtibmas yang
optimal, antara lain:
a;

b;

c;
d;

Perbaikan sistem dan metode guna meningkatkan outcome


kinerja yang optimal, ingat bahwa tahun 2012 adalah merupakan
tahun prestasi dan peningkatan kinerja, pemberian pelayanan
prima kepada masyarakat anti KKN dan anti kekerasan;
Dalam rangka mensukseskan grand strategi Polri, program
prioritas Polri maka kita harus meningkatkan peran dan berbagai
terobosan dalam rangka ; program pemolisian komunitas,
pemetaan / pencegahan dan antisipasi terhadap setiap potensi
konflik, penanggulangan narkoba,anti KKN serta peran nyata
Polri dalam membangun karakter dan budaya bangsa;
Peningkatan penguatan pengawasan;
Peningkatan kebersamaan dan soliditas, koordinasi /
kerjasama dengan stakeholders baik dalam negeri maupun luar
negeri serta segenap komponen bangsa.

MANAJEMEN KEAMANAN

49

HSP SESPIMTI

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI

Latihan
1;
2;

3;

Peserta mendiskusikan materi dan persoalan-persoalan guna


menjawab topik atau permasalahan yang dijabarkan dalam lembar
tugas;
Kondisi faktual perkembangan hakekat dan spektrum ancaman serta
persoalan-persoalan yang dihadapi dalam menyikapi dinamika
tantangan tugas Polri dikaitkan dengan kompleksitas permasalahan
yang ada di masyarakat;
Terobosan-terobosan yang mungkin dilakukan Polri dalam usaha di
bidang keamanan dengan memperhatikan hakekat dan spektrum
ancaman yang cenderung menunjukkan trend peningkatan.

MANAJEMEN KEAMANAN

50

HSP SESPIMTI