Anda di halaman 1dari 7

Materi Penyuluhan

Peranan Keluarga dalam Penyembuhan Pasien Gangguan Jiwa


A. Pengertian Gangguan Jiwa
Merupakan sindrom atau pola perilaku, atau psikologik seseorang yang secara klinik
cukup bermakna, dan secara khas berkaitan dengan suatu gejala penderitaan atau
gangguan didalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia. Sebagai tambahan,
disimpulkan bahwa disfungsi itu adalah disfungsi dalam segi perilaku, psikologik atau
biologik, dan gangguan itu tidak semata-mata terletak didalam hubungan antara orang
dengan masyarakat.1
Gangguan jiwa adalah gangguan dalam : cara berpikir (cognitive), kemauan
(volition),emosi (affective), tindakan (psychomotor). Dari berbagai penelitian dapat
dikatakan bahwa gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak
normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Gangguan Jiwa
adalah kondisi dimana proses fisiologik atau mentalnya kurang berfungsi dengan baik
sehingga mengganggunya dalam fungsi sehari-hari. Gangguan ini sering juga disebut
sebagai gangguan psikiatri atau gangguan mental dan dalam masyarakat umum kadang
disebut sebagai gangguan saraf.
Gangguan jiwa yang dialami oleh seseorang bisa memiliki bermacam-macam gejala,
baik yang tampak jelas maupun yang hanya terdapat dalam pikirannya. Mulai dari
perilaku menghindar dari lingkungan, tidak mau berhubungan/berbicara dengan orang
lain dan tidak mau makan hingga yang mengamuk dengan tanpa sebab yang jelas. Mulai
dari yang diam saja hingga yang berbicara dengan tidak jelas. Dan adapula yang dapat
diajak bicara hingga yang tidak perhatian sama sekali dengan lingkungannya.
B. Penyebab Gangguan Jiwa
Gejala utama atau gejala yang menonjol pada gangguan jiwa terdapat pada unsur
kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin di badan (somatogenik), di lingkungan
sosial (sosiogenik) ataupun psikis (psikogenik),1
Gangguan jiwa bukanlah suatu keadaan yang mudah untuk ditentukan penyebabnya.
Banyak faktor yang saling berkaitan yang dapat menimbulkan

gangguan jiwa pada

seseorang. Faktor kejiwaan (kepribadian), pola pikir dan kemampuan untuk mengatasi
masalah, adanya gangguan otak, adanya gangguan bicara, adanya kondisi salah asuh,
tidak diterima dimasyarakat, serta adanya masalah dan kegagalan dalam kehidupan
mungkin menjadi faktor-faktor yang dapat mnimbulkan adanya gangguan jiwa. Faktorfaktor diatas tidaklah dapat berdiri sendiri; tetapi dapat menjadi satu kesatuan yang secara
bersama-sama menimbulkan gangguan jiwa.
Karena banyak sekali faktor yang dapat mencetuskan gangguan jiwa; maka petugas
kesehatan kadangkala tidak dapat dengan mudah menemukan penyebab dan mengatasi
masalah yang dialami oleh pasien. Disamping itu tenaga kesehatan sangat memerlukan
sekali bantuan dari keluarga dan masyarakat untuk mencapai keadaan sehat jiwa yang
optimal bagi pasien.

C Dampak Gangguan Jiwa


Adanya gangguan jiwa pada seorang pasien dapat menimbulkan berbagai kondisi antara
lain :
1

Gangguan Aktivitas Hidup Sehari-hari


Adanya gangguan jiwa pada seseorang dapat mempengaruhi kemampuan orang
tersebut dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti kemampuan untuk merawat diri
: mandi, berpakaian, merapikan rambut dan sebagainya; atau berkurangnya
kemampuan dan kemauan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya; seperti tidak mau
makan, minum, buang air (berak dan kencing) serta diam dengan sedikit gerakan.
Apabila kondisi ini dibiarkan berlanjut; maka akhirnya dapat juga menimbulkan
penyakit fisik seperti kelaparan dan kurang gizi, sakit infeksi saluran pencernaan dan
pernafasan serta adanya penyakit kulit; atau timbul penyakit yang lainnya.

Gangguan Hubungan Interpersonal


Disamping berkurangnya kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
sehari-hari; seorang pasien gangguan jiwa juga kadang mengalami penurunan
kemampuan melakukan hubungan (komunikasi) dengan orag lain. Pasien mungkin

tidak mau berbicara, tidak mau menapat orang lain atau menghindar dan
memberontak manakala didekati orang lain. Disamping itu mungkin juag pasien tidak
mau membicarakan dengan terang-terangan apa yang difikirkannya.
3

Gangguan Peran/Sosial
Dengan adanya gangguan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari dan
berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain; maka tentu saja berakibat
pada terganggunya peran dalam kehidupan; baik dalam pekerjaannya sehari-hari,
dalam kegiatan pendidikan, peran dalam keluarga (sebagai ayah, ibu, anak) dan peran
dalam kehidupan sosial yang lebih luas (dalam masyarakat). Berbagai keadaan yang
timbul akibat gangguan jiwa akhirnya dapat merugikan kepentingan keluarga,
kelompok dan masyarakat; sehingga peran serta aktif dari seluruh unsur masyarakat
sangat diperlukan dalam mengatasi gangguan jiwa.

D KELUARGA
1

Definisi Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari satuan masyarakat, tidak aka nada masyarakat jika
tidak ada keluarga, dengan kata lain masyarakat merupakan sekumpulan keluargakeluarga.

2
a.

b.

c.

d.

e.

f.

Fungsi Keluarga
Affection
Menciptakan suasana persaudaraan/menjaga perasaan
Mengembangkan kehidupan seksual dan kebutuhan seksual
Menambah anggota baru
Security and Acceptance
Mempertahankan kebutuhan fisik
Menerima individu sebagai anggota
Identity and Satisfaction
Mempertahankan motivasi
Mengembangkan peran dan self image
Mengidentifikasi tingkat sosial dan kepuasan aktivitas
Affilation and companionship
Mengembangkan pola komunikasi
Mempertahankan hubungan yang harmonis
Soscialization
Mengenal kultur (nilai dan perilaku)
Aturan/pedoman hubungan internal dan eksternal
Control

3
1

3
4

Mempertahankan kontrol sosial


Adanya pembagian kerja
Penempatan dan menggunakan sumber daya yang ada
Empat faktor penyebab pasien kambuh dan perlu dirawat di rumah sakit,
menurut Sullinger (1988) :
Pasien : Sudah umum diketahui bahwa pasien yang gagal memakan obat secara teratur
mempunyai kecenderungan untuk kambuh. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan
25% sampai 50% pasien yang pulang dari rumah sakit tidak memakan obat secara
teratur.
Dokter (pemberi resep) : Makan obat yang teratur dapat mengurangi kambuh, namun
pemakaian obat neuroleptic yang lama dapat menimbulkan efek samping Tardive
Diskinesia yang dapat mengganggu hubungan sosial seperti gerakan yang tidak
terkontrol.
Penanggung jawab pasien: Setelah pasien pulang ke rumah maka keluarga tetap
bertanggung jawab atas program adaptasi pasien di rumah.
Keluarga : Berdasarkan penelitian di Inggris dan Amerika keluarga dengan ekspresi
emosi yang tinggi (bermusuhan, mengkritik, tidak ramah, banyak menekan dan
menyalahkan), hasilnya 57% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi
yang tinggi dan 17% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi keluarga
yang rendah. Selain itu pasien juga mudah dipengaruhi oleh stress yang
menyenangkan (naik pangkat, menikah) maupun yang menyedihkan
(kematian/kecelakaan). Dengan terapi keluarga pasien dan keluarga dapat mengatasi
dan mengurangi stress. Cara terapi bisanya: Mengumpulkan semua anggota keluarga
dan memberi kesempatan menyampaikan perasaan-perasaannya. Memberi
kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan baru kepda pasien ganguan jiwa,
memfasilitasi untuk hijrah menemukan situasi dan pengalaman baru.
Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan pasien dan merupakan perawat
utama bagi pasien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan yang
diperlukan pasien di rumah. Keberhasilan perawat di rumah sakit dapat sia-sia jika tidak
diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan pasien harus dirawat kembali
(kambuh). Peran serta keluarga sejak awal asuhan di RS akan meningkatkan kemampuan
keluarga merawat pasien di rumah sehingga kemungkinan dapat dicegah.
Pentingnya peran serta keluarga dalam pasien gangguan jiwa dapat dipandang dari
berbagai segi. Pertama, keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan
interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga merupakan institusi pendidikan utama
bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan, sikap dan perilaku.
Individu menguji coba perilakunya di dalam keluarga, dan umpan balik keluarga
mempengaruhi individu dalam mengadopsi perilaku tertentu. Semua ini merupakan
persiapan individu untuk berperan di masyarakat.
Jika keluarga dipandang sebagai suatu sistem maka gangguan yang terjadi pada salah
satu anggota merupakan dapat memengaruhi seluruh sistem, sebaliknya disfungsi keluarga
merupakan salah satu penyebab gangguan pada anggota. Bila ayah sakit maka akan

memengaruhi perilaku anak, dan istrinya, termasuk keluarga lainnya. Salah satu faktor
penyebab kambuh gangguan jiwa adalah; keluarga yang tidak tahu cara menangani perilaku
pasien di rumah (Northouse, 1998). Pasien dengan diagnosa skizofrenia diperkirakan akan
kambuh 50% pada tahun pertama, 70% pada tahun kedua dan 100% pada tahun kelima
setelah pulang dari rumah sakit karena perlakuan yang salah selama di rumah atau di
masyarakat.
Menurut Friedman (1998), dukungan sosial keluarga adalah sikap, tindakan dan
penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Anggota keluarga adalah orang yang
bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.
Friedman (1998), menyatakan bahwa fungsi dasar keluarga antara lain adalah fungsi
efektif, yaitu fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan psikososial, saling
mengasuh memberikan kasih sayang serta menerima dan mendukung. Menurut Friedman
(2003) dukungan sosial keluarga adalah bagian integral dari dukungan sosial. Dampak
positif dari dukungan sosial keluarga adalah meningkatkan penyesuaian diri seseorang
terhadap kejadian-kejadian dalam kehidupan.
4

House (dalam Smet, 1994) membedakan empat jenis atau dimensi dukungan sosial,
antara lain :
a Dukungan Emosional
Dukungan emosional mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian
terhadap orang yang bersangkutan. Bentuk dukungan ini membuat individu memiliki
perasaan nyaman, yakin, diperlukan dan dicintai oleh sumber dukungan sosial, sehingga
dapat menghadapi masalah dengan lebih baik.
b Dukungan Penghargaan
Dukungan penghargaan terjadi lewat ungkapan hormat (penghargaan) positif
untuk orang itu, dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu,
dan perbandingan positif orang itu dengan orangorang lain, contohnya dengan
membandingkannya dengan orang lain yang lebih buruk keadaannya.
c Dukungan Instrumental
Dukungan instrumental mencakup bantuan langsung, seperti kalau orang memberi
pinjaman uang kepada orang itu. Bentuk dukungan ini dapat mengurangi beban individu
karena individu dapat langsung memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan
materi.
d Dukungan Informatif
Dukungan informatif mencakup memberikan nasehat, petunjuk-petunjuk, saransaran atau umpan balik. Jenis informasi seperti ini dapat menolong individu untuk
mengenali dan mengatasi masalah dengan lebih mudah.

Caplan (1964) dalam Friedman (1998) menjelaskan bahwa keluarga memiliki


beberapa fungsi dukungan yaitu:
a. Dukungan informasional
Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan diseminator (penyebar) informasi
tentang dunia. Menjelaskan tentang pemberian saran, sugesti, informasi yang dapat

digunakan mengungkapkan suatu masalah. Manfaat dari dukungan ini adalah dapat
menekan munculnya suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat
menyumbangkan aksi sugesti yang khusus pada individu. Aspek-aspek dalam dukungan
ini adalah nasehat, usulan, saran, petunjuk dan pemberian informasi.
b. Dukungan penilaian
Keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik, membimbing dan
menengahi pemecahan masalah, sebagai sumber dan validator indentitas anggota
keluarga diantaranya memberikan support, penghargaan, perhatian
c. Dukungan instrumental
Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit, diantaranya:
kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum, istirahat, terhindarnya
penderita dari kelelahan.
d. Dukungan emosional
Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan
serta membantu penguasaan terhadap emosi. Aspek-aspek dari dukungan emosional
meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi, adanya kepercayaan,
perhatian, mendengarkan dan didengarkan.
Penderita skizofrenia tidak mungkin mampu mengatasi masalah kejiwaanya sendiri.
Individu tersebut membutuhkan peran orang lain di sekitarnya, khususnya keluarganya.
Peran keluarga dalam pencegahan kekambuhan penderita skizofrenia sangat penting, karena
keluargalah orang yang paling dekat dengan penderita skizofrenia. Pencegahan kekambuhan
atau mempertahankan penderita skizofrenia di lingkungan keluarga dapat terlaksana dengan
persiapan pulang yang adekuat serta mobilisasi fasilitas pelayanan kesehatan yang ada di
masyarakat khususnya peran serta keluarga (Sarafino, 2006).

Lingkungan dan keluarga mempunyai andil yang besar dalam mencegah terjadinya
kekembuhan pada penderita dengan gangguan, oleh karena itu pemahaman keluarga
mengenai kondisi penderita serta kesediaan keluarga dan lingkungan menerima penderita
apa adanya dan memperlakukannya secara manusiawi dan wajar merupakan hal yang
mendasar dalam mencegah kekambuhan penderita..
Beberapa hal yang perlu di perhatikan oleh keluarga dan lingkungan dalam merawat
penderita gangguan jiwa di rumah:
1 Memberikan kegiatan/kesibukan dengan membuatkan jadwal sehari-hari.
2 Berikant ugas yang sesuai dengan kemampuan penderita dan secara bertahap
tingkatkan sesuai perkembangan
3 Menemani dan tidak membiarkan penderita sendirisaat melakukan kegiatan, mis:
makan bersama, reksreasi bersama, bekerja bersama.
4 Minta keluarga dan teman menyapa saat bertemu penderita dan jangan mendiamkan
penderita berbicara sendiri
5 Mengajak dan mengikutsertakan penderita dalam kegiatan bermasyarakat misal; kerja
bakti
6 Berikan pujian yang realitas terhadap keberhasilan penderita atau dukungan untuk
keberhasilan sosial penderita

7
8
9

Mengontrrol dan mengingatkan dengan cara yang baik dan empati untuk selalu
minum obat untuk prinsip benar, benar nama obat, benar dosis, benar cara pemberian.
Mengenali adanya tanda-tanda kekambuhan seperti: suit tidur, bicara sendiri, marahmarah, senyum sendiri, menyendiri, murung , bicara kacau.
Kontrol suasana lingkungan yang dapat memancing terjadinya marah.