Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tidak sedikit penderita yang menderita luka-luka karena berbagai sebab: trauma, bekas
operasi, efek radiasi , terlalu lama berbaring, atau pertumbuhan sel-sel kanker sampai ke luar kulit.
Sebagian di antaranya merupakan luka kronis yang tidak sembuh dalam waktu 14 hari. Supaya
tidak menimbulkan infeksi dan menjadi semakin parah, luka memerlukan perawatan khusus
(Brooks,2008).
Pembalutan atau bandage adalah proses pemasangan bahan/material untuk mendukung
bahan medis (balutan/dressing atau bidai/splint ) atau pendukung penyokong bagian tubuh.Wound
care dan bandaging merupakan elemen penting untuk meminimalkan komplikasi dan akan
memberi hasil kosmetik dan fungsional yang optimal. Dengan mengangkat debris dari permukaan
luka akan merangsang re-epiteltsasi. Bandage yang baik dapat menyokong dan menstabilkan luka,
menampung darah atau cairan yang berlebihan, memberi tekanan pada luka untuk hemostasis,
melindungi luka dari kekeringan dan kontaminisasi bakteri (Girindra,2001).
Membalut merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai dengan baik oleh dokter
dan pemberi pelayanan kesehatan lainnya. Istilah pembalut merujuk pada aplikasi secara luas
maupun secara sempit pembalutan untuk tujuan terapeutik. Apapun alasannya, perlu diingat
bahwa jika tidak diterapkan dengan benar, membalut dapat lebih cepat dan mudah menyebabkan
injury. Tekanan pembalutan harus tidak melebihi tekanan hidrostatik intravaskuler, jika membalut
bertujuan untuk mengurangi pembentukan oedema tanpa meningkatkan tahanan vaskuler yang
dapat merusak aliran darah. Oleh karena itu paper ini dibuat dengan harapan agar mempelajari
tentang teknik pembalutan yang umum dilakukan dengan baik dan benar sehingga dapat
menambah ketrampilan dan juga profesionalitas dalam dunia kerja (Stuart, 2008).
1.2 Tujuan
1.2.1 Untuk mengetahui pilihan dasar dalam penutupan luka
1.2.2 Untuk mengetahui pengertian fungsi pembalutan pada luka
1.2.3 Untuk mengetahui prosedur pembalutan
1.2.4 Untuk mengetahui macam macam bandage
1.2.5 Untuk mengetahui lapisan lapisan pada bandage
1.2.6 Untuk mengetahui perawatan luka operasi
1.3 Manfaat
1.3.1 Mahasiswa mengetahui pilihan dasar dalam penutupan luka
1.3.2 Mahasiswa mengetahui pengertian fungsi pembalutan pada luka
1.3.3 Mahasiswa mengetahui prosedur pembalutan
1.3.4 Mahasiswa mengetahui macam macam bandage
1.3.5 Mahasiswa mengetahui lapisan lapisan pada bandage
1.3.6 Mahasiswa mengetahui perawatan luka operasi
II. PEMBAHASAN
2.1 Pilihan dasar dalam penutupan luka
1. Primary Closure (first intention)
Merupakan penutupan luka langsung segera setelah terjadinya luka. Pertimbangan:
(Fossum,2002)
Luka dengan sedikit atau tidak ada kontaminasi
Luka terkontaminasi yang diubah menjadi clean (lavage isotonic solution)

Kerusakan luka setelah pemotongan sebagian kecil area yang terkontaminasi


Luka yang berdekatan dapat menutup luka tanpa ketegangan yang berlebihan

2. Delayed primary closure


Merupakan Penutupan luka ditunda selama 3 5 hari untuk mengelola dan menilai
kembali luka setiap penggantian bandage. Drainase optimal, sirkulasi membaik, lebih tahan
infeksi. Penggantian bandage 1 3x setiap hari. Pertimbangan: (Brooks,2008).
Luka dengan batas kontaminasi walaupun telah dilakukan debridement dan lavage
Luka dengan trauma jaringan yang moderate, berada pada resiko infeksi setelah
debridement dan lavage
Luka diragukan viabilitasnya
Luka yang memerlukan serial debridement
Luka dengan jaringan yang membengkak

3. Secondary Closure
Merupakan penutupan luka pada hari 5 10 setelah kelukaan.
Pertimbangan:

Delayed primary closure tidak memungkinkan terjadi (infeksi)


Jaringan nekrotik memerlukan serial debridement dan penanganan lebih dari 5 hari
Respon inflamasi moderate berat yang persisten

4.Healing by second intention


Sering digunakan untuk penutupan luka yang bermasalah pada kedokteran hewan, dengan
manajemen tertentu kontraksi luka dan eptieliasi dapat terjadi. Pertimbangan:

Luka kotor dan terinfeksi (penutupan dengan metode yang lain tidak memungkinkan)
Kerusakan tidak dapat ditutup oleh metode konvensional
Hewan muda sangat cepat mengalami kesembuhan luka

2.3 Pengertian dan fungsi pembalutan pada luka


Bandage adalah Suatu kain yang digunakan untuk menutup luka atau bisa juga digunakan
sebagai pengikat pada bagian yang sakit. Pada pemakaiannya pun perban hanya dipakai pada
bagian luar saja misalnya pada kaki, tangan, kepala dll, sedangkan pada kasa selain digunakan
pada bagian luar kasa juga digunakan untuk operasi, sebagai penutup luka agar tidak
terkontaminasi dll. Bahan yang diperlukan untuk membalut, antara lain salep, bubuk luka, plester,
bahan penyerap (kasa atau kapas), kertas tissue, bahan tidak mudah menyerap (kertas khusus, kain
taf, sutera), bahan elastis (spons, kapas). Cara membuka pembalut/perban buka simpul perban,
bila sulit, gunting saja. Tangan kanan memegang ujung perban. Bukalah gulungan dengan

memindahkan perban itu ke kiri, lalu kembali lagi ke kanan dan ke kiri lagi. Begitu seterusnya
sampai seluruh pembalut terlepas. Untuk membuka perban kotor pergunakan 2 buah pinset. Bila
perban itu telah kotor atau tidak ingin dipakai lagi, lebih baik digunting dengan memakai gunting
perban. Dengan demikian, perban lebih cepat terlepas. Fungsi dari bandages adalah :
(Sjamsuhidayat,2004)
Menahan dressing pada lokasinya

Imobilisasi tepi luka dan bagian tubuh

Memberi tekanan untuk mengendalikan hemorrhagi

Menghilangkan dead-space/cavitas

Melindungi luka dari kontaminan dan trauma

2.4 Prosedur pembalutan


1.

Perhatikan tempat atau letak yang akan dibalut


a. Bagian dari tubuh yang mana ?
b. Apakah ada luka terbuka atau tidak ?
c. Bagaimana luas luka tersebut ?
d. Apakah perlu membatasi gerak bagian tubuh tertentu atau tidak ?
2. Pilih jenis pembalut yang akan dipergunakan dapat salah satu atau kombinanasi.
3. Sebelum dibalut jika luka terbuka perlu diberi desinfektan atau dibalut dengan
pembalut yang mengandung desinfektan atau dislokasi perlu direposisi.
4. Tentukan posisi balutan dengan mempertimbangkan: dapat membatasi pergeseran atau
gerak bagian tubuh yang memang perlu difiksasi. Sesedikit mungkin membatasi gerak
bagian tubuh yang lain. Usahakan posisi balutan yang paling nyaman untuk kegiatan
pokok penderita. Tidak mengganggu peredaran darah, misalnya pada balutan beriapis
lapis yang paling bawah letaknya disebelah distal. Tidak mudah kendor atau lepas
(Girindra, 2001).
2.5 Macam-macam Bandage
a. Roller Bandage (Pembalut gulung)
Dapat terbuat dari kain katun, kain kasa, flanel atau bahan elastis. Yang paling sering
adalah kasa. Hal ini dikarenakan kasa mudah menyerap air dan darah, serta tidak mudah kendor.
Selain itu dapat digulung mengelilingi bagian tubuh tertentu. Pembalut gulung atau yang disebut
roller bandage ini memiliki kegunaan untuk memberikan efek penekanan pada luka sehingga
dapat menbantu mengontrol perdarahan serta membantu menahan atau memegang perban pada
luka. Macam ukuran lebar pembalut dan penggunaannya: (Fossum, 2002)

2,5 cm : untuk jari

5 cm : untuk leher dan pergelangan tangan

7,5 cm : untuk kepala, lengan atas, lengan bawah, betis dan kaki

10 cm : untuk paha dan sendi pinggul

10-15 cm : untuk dada, perut dan punggung

b. Plester
Plester adalah bahan yang digunakan untuk pemakaian luar terbuat dari bahan yang dapat
melekat pada kulit dan menempel pada pembalut. Pembalut ini untuk merekatkan penutup luka,
untuk fiksasi pada sendi yang terkilir, untuk merekatkan pada kelainan patah tulang. Plester
dibebatkan berlapis-lapis dari distal ke proksimal dan untuk membatasi gerakan perlu pita yang
masing-masing ujungnya difiksasi dengan plester. Untuk menutup luka yang sederhana dapat
dipakai plester yang sudah dilengkapi dengan kasa yang mengandung antiseptik (Tensoplast,
Band-aid, Handyplast dsb). Cara membalut luka terbuka dengan plester luka diberi antiseptik,
tutup luka dengan kassa, baru letakkan pembalut plester (Fossum, 2002).

c. Triangular bandage (pembalut segitiga)


Mitela atau pembalut segitiga terbuat dari kain blacu panjang sisi 75 cm. Mitela biasanya
terbuat dari kain ( warna putih) berbentuk segitiga sama kaki dengan ukuran panjang kakinya
masing - masing 75 cm. Mitela dipergunakan untuk membalut bagian tubuh yang berbentuk bulat
dan dapat pula untuk menggantungkan lengan yang cedera. Selain itu mitela dapat dilipat lipat
sejajar dengan alasnya untuk dijadikan pembalut berbentuk dasi ( cravast). Mitela akan lebih
berfungsi dengan baik apabila menggunakan bahan katun. karena bahan ini dapat ditarik lebih erat
dibanding pembalut mitela yang tebuat dari kasa, fungsinya adalah untuk menekan terjadinya
pembengkakan pada cedera (Bush, 1991).
Fungsi pembalutan mitela digunakan untuk luka/ cedera yaitu kepala, bahu ( pundak),
dada, siku, telapak tangan, pinggul, kaki dan telapak kaki, menggantung lengan yang cedera.

d. Pembalut yang spesifik

Snelverband adalah pembalut pita yang sudah ditambah dengan kassa penutup luka
dan steril, baru dibuka pada saat akan dipergunakan, sering dipakai pada luka-luka
lebar yang terdapat pada badan (Bush, 1991).

Sufratulle adalah kassa steril yang telah direndam dengan obat pembunuh kuman.
Biasa dipergunakan pada luka-luka kecil.

e. Kassa steril
Kasa steril ialah potongan-potongan pembalut kasa yang sudah disterilkan dan dibungkus
sepotong demi sepotong. Pembungkus tidak boleh dibuka sebelum digunakan. Digunakan untuk
menutup luka-luka kecil yang sudah didisinfeksi atau diobati (misalnya sudah ditutupi sofratulle),
yaitu sebelum luka dibalut atau diplester (Fossum, 2002).
2.6 Lapisan lapisan pada bandage
Bandages memiliki 3 lapisan, yaitu :

1. Lapisan pertama: wound dressing

Topical membrane, kasa atau bantalan yang kontak langsung dengan luka

2. Lapisan kedua

Lapisan penyerap cairan/leleran

Dapat terdiri dari kombinasi perban/kasa, kapas gulung

3. Lapisan ketiga

Mengikat/mengamankan lapisan yang sebelumnya dan pelindung luar

Dapat terdiri dari elastic wraps seperti elasticon (Johnson & johson) dan vetrap (3M
animal Care Products) maupun surgical tape (Zonas, Johson & joshnson)

2.7 Perawatan Luka Operasi


Luka perlu di tutup dengan kasa steril, sehingga sisa darah dapat diserap oleh kasa tadi.
Dengan menutup luka itu kita mencegah terjadinya kontaminasi (kemasukan kuman), tersenggol,
dan memberi kepercayaan pada pasien bahwa lukanya di perhatikan perawat. Sehabis operasi,
luka yang timbul langsung ditutup dengan kasa steril selagi dikamar bedah dan biasanya tidak
perlu diganti sampai di angkat jahitannya, kecuali bila terjadi perdarahan sampai darahnya
menembus ke atas kasa, barulah diganti dengan kasa steril, atau bila ada perintah khusus dari
dokternya. Sewaktu mengganti kasa lama dengan yang baru, perhatikan betul agar di kerjakan
secara asepsis supaya tidak terjadi infeksi. Jahitan luka biasanya di buka setengahnya pada hari
kelima dan sisanya di buka pada hari keenam atau ketujuh, kecuali pula ada perintah lain dari
dokter. Plester harus dilepaskan sejajar dengan kulit, jangan diangkat tegak lurus agar pasien tidak
merasa sakit. Dapat pula dipakai cairan pelepas plester, misalnya iodine dan cairan gas semprot.
Plester dan kasa lama diangkat dengan pinset lalu di buang ke dalam kantong untuk di bakar
supaya tidak terjadi penularan kuman (Fossum, 2002).
Perlengkapan untuk mengganti perban terdiri dari: pinset anatomis, gunting tumpul,
gunting perban, kasa steril, perban steril, plester, cairan pelepas plester, cairan antiseptic, kantong
untuk membuang kasa dan plester kotor. Bila telah tiba waktunya membuka jahitan, bersihkanlah
luka dan kulit sekitarnya dengan antiseptic, peganglah ujung benang dengan pinset anatomis steril,

lalu guntinglah benang itu tepat dibawah ikatan, sehingga benang yang berada di luar tidak masuk
ke dalam luka sewaktu benang di angkat (Bush, 1991).

III. PENUTUP
3. 1 Kesimpulan
Sebelum melakukan bandage harus mengetahui tentang klasifikasi luka terlebih dahulu
serta mengetahui pemilihan dasar dalam penutupan luka. Bandage adalah Suatu kain yang
digunakan untuk menutup luka atau bisa juga digunakan sebagai pengikat pada bagian yang sakit.
Fungsi dari bandages adalah menahan dressing pada lokasinya, imobilisasi tepi luka dan bagian
tubuh, memberi tekanan untuk mengendalikan hemorrhagi, menghilangkan dead-space/cavitas
dan melindungi luka dari kontaminan dan trauma. Macam-macam bandage meliputi roller
bandage (pembalut gulung), plester, triangular bandage (pembalut segitiga), pembalut spesifik
(snelverband , sufratulle) dan kassa steril.
DAFTAR PUSTAKA
Brooks, W.C. 2008. Dermatologi in general medicine. Edisi6. Missouri, USA.
Bush, B.M. 1991. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Fossum T. W. 2002. Small animal surgery. 2nd edition. Mosby an affiliate of Elsevier.
St. louis, Missouri.
Girindra. 2001. Prinsip Prinsip Ilmu Bedah Edisi 6. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Sjamsuhidayat R, Wim de Jong, 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, Jakarta : EGC
Stuart. 2008. Buku Ajar dan Atlas Bedah Minor. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.