Anda di halaman 1dari 3

ILTEK,Volume 7, Nomor 13, April 2012

ANALISIS JUMLAH KOAGULAN (TAWAS/AL2(SO4)3) YANG


DIGUNAKAN DALAM PROSES PENJERNIHAN AIR PADA PDAM
INSTALASI I RATULANGI MAKASSAR
1

) A. Haslindah, 2) Zulkifi
)Dosen Program Studi Teknik Industri Universitas Islam Makassar
2
) Mahasiswa Program Studi Teknik Industri Universitas Islam Makassar
1

ABSTRAK
Air juga merupakan sumber daya alam yang vital tetapi terbatas kesediaannya, untuk itu harus dikelola dengan
bijaksana karena tanpa pengolahan yang baik maka air akan menjadi bahan yang sukar diperoleh, baik dari segi kualitas
maupun kuantitasnya. Dengan tujuan penelitian mengetahui jumlah koagulan yang digunakan untuk menghilangkan
kekeruhan pada air. Serta penyebab kekeruhan yang kadang masih terjadi pada hasil pengolahan air minum yang telah
disalurkan ke masyarakat. Penelitian uji jar test yang telah dilakukan maka dapat diketahui berdasarkan grafik yang ada
Hubungan Dosis (mg/l) dengan Kekeruhan (NTU)), diperoleh 65 mg/l koagulan (Tawas/Al 2(SO4)3) yang diperlukan
dalam tiap 1 liter air baku. Penyebab terjadinya kekeruhan air yang kadang masih terjadi dikonsumen/masyarakat
disebabkan karena saat penambahan koagulan (Tawas/Al2(SO4)3) pada proses penjernihan air, air dalam keadaan
mengalir, otomatis jumlah zat terlarut yang terkandung di dalam air akan berubah-ubah, sehingga penentuan jumlah
koagulan (uji jar test) yang dilakukan pada saat itu, hasinya/jumlahnya tidak akan sesuai lagi pada waktu yang berbeda.
Sedangkan diketahui bahwa zat terlarut yang terkandung di dalam air akan mengalami proses pengendapan secara
sempurna apabila koagulan (Tawas/Al2(SO4)3) yang ditambahkan tidak lebih dan tidak kurang atau dalam arti dalam
dosis/jumlah yang pas. Terjadinya kebocoran pipa bawah tanah sehingga sebagian air yang dialirkan ke
konsumen/masyarakat menjadi keruh karena tercampur oleh tanah.
Kata Kunci : Koagulan, Proses Penjernihan Air
belakangi penulis untuk mengangkat judul ini agar
dapat mengetahui sistem pengolahan air di PDAM
secara langsung serta menganalisis jumlah koagulan
(tawas/Al2(so4)3)
yang
digunakan
untuk
menghilangkan kekeruhan pada air dan menganalisa
penyebab kekeruhan hasil pengolahan air PDAM.
1.2 Rumusan Masalah

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air adalah salah satu kebutuhan esensial yang
kedua setelah udara untuk keperluan hidup manusia,
karena di dalam air terdapat unsur mineral yang
diperlukan untuk perkembangan pertumbuhan fisik
manusia.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka


rumusan masalah dalam penulisan ini adalah:
1. Bagaimana mengetahui jumlah koagulan yang
digunakan untuk menghilangkan kekeruhan pada
air.
2. Bagaimana menganalisa penyebab kekeruhan yang
kadang masih terjadi pada hasil pengolahan air
minum yang telah disalurkan ke masyarakat.

Air juga merupakan sumber daya alam yang vital


tetapi terbatas kesediaannya, untuk itu harus dikelola
dengan bijaksana karena tanpa pengolahan yang baik
maka air akan menjadi bahan yang sukar diperoleh,
baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Ditinjau
dari segi kuantitasnya, air harus mencukupi semua
kebutuhan dan kegiatan hidup sehari-hari sesuai
dengan tingkat kehidupan masyarakat. Dan dari segi
kualitasnya maka air harus memenuhi syarat kualitas
air bersih sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 416/MENKES/IX/1990 tentang syaratsyarat kualitas air minum baik secara fisika,
microbiologi, kimia, dan radioaktif.

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui jumlah koagulan yang
digunakan untuk menghilangkan kekeruhan pada
air.
2. Untuk mengetahui penyebab kekeruhan yang
kadang masih terjadi pada hasil pengolahan air
minum yang telah disalurkan ke masyarakat.

PDAM sebagai institusi pemerintah yang diberi


tanggung jawab sebagai wadah penyedia air bersih
untuk
masyarakat
sangatlah
dituntut
untuk
memperhatikan hal tersebut agar tidak membahayakan
kesehatan masyarakat, karena terkadang masih biasa
kita dapatkan hasil pengolahan air di PDAM yang
disalurkan/yang dialirkan ke rumah-rumah masih
dalam keadaan keruh, maka dari itu yang melatar

1.4 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah untuk
menambah wawasan atau pengetahuan mengenai
974

ILTEK,Volume 7, Nomor 13, April 2012


proses pengolahan air bersih yang memenuhi standar
kesehatan beserta permasalahan yang terdapat
didalamnya, yang kemudian dikembangkan menjadi
sebuah pengetahuan yang bermanfaat bagi kehuidupan
masyarakat.

ANALISA DAN PEMBAHASAN


Pemberian larutan tawas (koagulan) pada
pengolahan air baku dimaksudkan untuk menyatukan
bahan-bahan koloid yang larut dalam air menjadi
gumpalan yang lebih besar yang disebut flok.
Koagulan yang bermuatan positif akan mengikat
butiran koloid yang bermuatan negatif yang cukup
besar sehingga mudah diendapkan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pembentukan flok adalah:

METODOLOGI PENELITIAN
2.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penulis akan melaksanakan penelitian selama
kurang lebih 1 bulan pada Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) Instalasi I Ratulangi Makassar.

3.1 Dosis dari koagulan


Uji jar test dilakukan untuk menentukan dosis
optimum dari koagulan agar terjadi pengendapan yang
sempurna, seperti terlihat pada hasil analisis yang telah
dilakukan berdasarkan grafik 3.1, dimana pada dosis
65 mg/l telah terjadi pengendapan yang sempurna.
Pada pemberian dosis 45, 50, 55, 60 mg/l tidak terjadi
pengendapan yang sempurna
karena dosis yang
diberikanmasih kurang. Pemberian aluminium sulfat
dengan dosis yang lebih tinggi yaitu 70 mg/l juga tidak
terjadi pengendapan yang sempurna, karena dosis yang
diberikan berlebihan sehingga menyebabkan pH air
naik (asam) dan mengakibatkan koagulan kurang
efektif.

2.2 Teknik Pengumpulan Data


Adapun metode pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Metode Observasi
Yaitu metode yang dilakukan dengan melihat
secara langsung objek yang berhubungan dengan
permasalahan yang dibahas.
2. Metode Interview
Yaitu metode yang dilakukan dengan mengadakan
tanya jawab langsung kepada karyawan dan pihakpihak yang terkait mengenai hal-hal yang berhubungan
dengan pengolahan air minum.
3. Study Literatur
Yaitu dilakukan dengan menggunakan beberapa
buku yang berhubungan dengan masalah yang dibahas.
4. Langkah-langkah penelitian

3.2 pH
koagulan efektif secara optimal pada pH 6,5 - 7,8
dan jika pH diatas atau dibawah standar maka
penbentukan flok yang baik (flok yang berukuran
besar) akan sulit terjadi sehimgga pengendapan kurang
sempurna, dimana pengendapan yang kurang sempurna
ini akan mengakibatkan air hasil pengendapan masih
dalam keadaan keruh. Seperti terlihat pada grafik
dibawah ini, dimana pada dosis 45, 50, 55, 60, dan 70
mg/l tidak terjadi pengendapan yang sempurna
disebabkan pH air tidak memenuhi standar untuk
koagulan bekerja secara optimal.

Mulai

Larar
Belakang

Rumusan
Masalah
Batasan
Masalah

pH

Tujuan
Penelitian

Pengumpulan
Data

7.4
7.2
7
6.8
6.6
6.4
6.2
6
5.8
5.6
45

Metode
Observasi

Study
Literatur

50

55

60

65

70

Dosis (mg/l)

Metode
Interviu

Grafik 1. Hubungan pH dengan Dosis (mg/l)


Pengolahan
Data

3.3 Suhu
Pembentukan flok terbaik jika suhu air berkisar 28
O
C 29 OC, dan jika suhu air rendah maka flok
menjadi lebih kecil dan mudah pecah.

Hasil

Selesai

975

ILTEK,Volume 7, Nomor 13, April 2012

3.4 Pengadukan
Setelah pembubuhan koagulan maka diikuti
pengadukan cepat agar homogen dan pengadukan
lambat agar terbentuk flok.

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 1991. Advance Course Water Quality
Control, Introduction. Departemen pekerjaan
umum, Direktorat Cipta karya pusat pelatihan
Bidang AB dan PLP, Makassar.
Anonimous, 1992. Informasi Singkat Perusahaan
Air Minum Kotamadya Makassar, Makassar.
Rahatio. Spd, 2005, Kimia Anorganik, Sekolah
Menengah Analis Kimia, Makassar.
Ralph H. Petrucci-Suminar, 1987, Kimia Dasar
Prinsip Terapan Modern, Edisi Keempat-Jilid 2,
Erlangga, Bogor.
Yoanna dan Septiawati, 2001. Proses Pengolahan Air
pada Perusahaan Daerah Air Minum Makassar
(PDAM) Instalasi II Makassar. Universitas
Kristen Indonesia-Paulus, Makassar.

PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Instalasi I
Ratulangi Makassar maka dapat disimpulkan :
1. Penelitian uji jar test yang telah dilakukan maka
dapat diketahui berdasarkan grafik yang ada
Hubungan Dosis (mg/l) dengan Kekeruhan (NTU)),
diperoleh 65 mg/l koagulan (Tawas/Al2(SO4)3)
yang diperlukan dalam tiap 1 liter air baku.
2. Penyebab terjadinya kekeruhan air yang kadang
masih terjadi dikonsumen/masyarakat disebabkan
karena:
Saat penambahan koagulan (Tawas/Al2(SO4)3)
pada proses penjernihan air, air dalam keadaan
mengalir, otomatis jumlah zat terlarut yang
terkandung di dalam air akan berubah-ubah,
sehingga penentuan jumlah koagulan (uji jar test)
yang dilakukan pada saat itu, hasinya/jumlahnya
tidak akan sesuai lagi pada waktu yang berbeda.
Sedangkan diketahui bahwa zat terlarut yang
terkandung di dalam air akan mengalami proses
pengendapan secara sempurna apabila koagulan
(Tawas/Al2(SO4)3) yang ditambahkan tidak lebih
dan tidak kurang atau dalam arti dalam
dosis/jumlah yang pas.
Terjadinya kebocoran pipa bawah tanah sehingga
sebagian
air
yang
dialirkan
ke
konsumen/masyarakat menjadi keruh karena
tercampur oleh tanah.
4.2 Saran-Saran
1. Karena air baku yang dikelolah dalam keadaan
mengalir otomatis zat terlarut yang ada didalamnya
selalu berubah-ubah. Sedangkan penentuan
pemberian koagulan (jar test) tiap-tiap 2 jam, bisa
jadi setelah pemberian koagulan kuantitas zat
terlarut berubah (banyak atau sedikit) sehingga
dosis yang diberikan tidak sempurna, walaupun
setelah proses pengendapan dilakukan penyaringan
tapi terkadang masih terdapat pada air konsumen
dalam keadaan keruh. Jadi kalau bisa pihak PDAM
melakukan 2 kali penyaringan air hasil sedimennya
untuk mengantisipasi hal tersebut.
2. Analisa lengkap yang dilakukan satu bulan sekali
kurang efektif karena sampel yang diujikan hanya
pada saat itu saja, sedangkan air yang dikelolah
setiap hari. Jadi kalau bisa sarana alat-alat
laboratorium dibuat lebih lengkap agar dapat
dilakukan analisa lengkap setiap harinya untuk
mengetahui apakah air yang dikelolah pada saat itu
masih memenuhi standar.
976