Anda di halaman 1dari 17

SEMINAR PEMERIKSAAN KEUANGAN

NEGARA
PERENCANAAN PEMERIKSAAN
KINERJA
Disusun oleh: Kelompok 3
1. Devri Radistya (09)
2. Dyah Ayu Pradnya Paramita (11)
3. Made Dwika Yasindra (18)
4. Ramadhani Ardiansyah (21)

KELAS X-D KHUSUS


PROGRAM DIPLOMA IV KEUANGAN SPESIALISASI AKUNTANSI

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA


TANGERANG SELATAN
Halaman 1 dari 17

A. Gambaran Umum Pemeriksaan Kinerja


Arti Penting Pemeriksaan Kinerja
1. Pemerintah Mendorong perbaikan program dan kegiatan pemerintah, serta
pelayanan publik.
2. Legislatif dan Masyarakat Membantu mengawasi kegiatan pemerintah,
dengan memberikan informasi yang independen mengenai program/kegiatan
pemerintah.
3. BPK Meningkatkan kematangan organisasi, serta mendorong kreativitas dan
pembelajaran di BPK.
Hal-hal yang dapat diperoleh dari audit kinerja
1. Tujuan dan sasaran program yang dicapai
2. Nilai yang diberikan atas uang yang dihabiskan.
3. Masukan-masukan untuk menghasilkan penggunaan dana yang ekonomis.
4. Sumber daya yang tersedia memberikan pelayanan terbaik.
5. Rekomendasi untuk meningkatkan program.
Sesuai dengan UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
mempunyai kewenangan untuk melakukan pemeriksaan keuangan, pemeriksaan
kinerja, dan pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Menurut UU No. 15 Tahun
2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara,
Pemeriksaan Kinerja adalah pemeriksaan atas pengelolaan keuangan negara
yang terdiri atas pemeriksaan aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan
aspek efektivitas.
Menurut Keputusan BPK RI No.06/K/I-XIII.2/6/2008 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja, Konsep ekonomi, efisiensi dan efektivitas
berhubungan erat dengan pengertian input, output dan outcome. Input adalah
sumber daya dalam bentuk dana, SDM, peralatan, dan material yang digunakan
untuk menghasilkan ouput. Output adalah barang-barang yang diproduksi, jasa
yang diserahkan/diberikan, atau hasil-hasil lain dari proses atas input. Proses
adalah kegiatan-kegiatan operasional yang menggunakan input untuk
menghasilkan output, sedangkan outcome adalah tujuan atau sasaran yang akan
dicapai melalui output.

Gambar Hubungan Input, Output, dan Outcome (sumber Juklak Pemeriksaan


Kinerja BPK)
Ekonomi berkaitan dengan perolehan sumber daya yang akan digunakan
dalam proses dengan biaya, waktu, tempat, kualitas, dan kuantitas yang benar.
Ekonomi berarti meminimalkan biaya perolehan input untuk digunakan dalam
proses, dengan tetap menjaga kualitas sejalan dengan prinsip dan praktik
administrasi yang sehat dan kebijakan manajemen. Efisiensi merupakan
hubungan yang optimal antara input dan output. Suatu entitas dikatakan efisien
Halaman 2 dari 17

apabila mampu menghasilkan output maksimal dengan jumlah input tertentu


atau mampu menghasilkan output tertentu dengan memanfaatkan input
minimal. Efektivitas pada dasarnya adalah pencapaian tujuan. Efektivitas
berkaitan dengan hubungan antara output yang dihasilkan dengan tujuan yang
dicapai (outcome). Efektif berarti output yang dihasilkan telah memenuhi tujuan
yang telah ditetapkan.
Standar pelaksanaan pemeriksaan kinerja tertuang dalam Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara Pernyataan Standar Pemeriksaan (SPKN PSP) 04
yang meliputi perencanaan, supervisi, bukti pemeriksaan, dan dokumentasi
pemeriksaan. Sesuai dengan petunjuk pelaksanaan pemeriksaan kinerja yang
ditetapkan BPK metodologi pemeriksaan kinerja sebagai berikut:

Gambar bagan metodologi pemeriksaan kinerja


Dalam makalah ini pembahasan hanya dilakukan sebatas pada perencanaan
pemeriksaan kinerja yang terdiri dari lima tahapan yaitu Pengidentifikasian
Masalah, Penentuan Area Kunci, Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup
Pemeriksaan Kinerja, Penetapan Kriteria, dan Penyusunan Program Pemeriksaan
(P2) dan Program Kerja Perorangan (PKP). Tahapan dari Pengidentifikasian
masalah sampai dengan penetapan kriteria dapat dituangkan dalam suatu
kegiatan pemeriksaan pendahuluan.
B. Perencanaan Pemeriksaan Kinerja
Tujuan dari dilakukannya perencanaan pemeriksaan kinerja adalah
mempersiapkan suatu program pemeriksaan yang akan digunakan sebagai dasar
bagi pelaksanaan pemeriksaan sehingga pemeriksaan dapat berjalan secara
efisien dan efektif. Dalam menyusun Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP), sebelum
menentukan obyek pemeriksaan dan jenis pemeriksaan maka pemeriksa
melakukan pemahaman terhadap entitas, program atau kegiatan yang akan
diperiksa melalui berbagai data dan informasi yang didapat oleh pemeriksa. RKP
berisi mengenai rencana BPK di bidang pemeriksaan yang meliputi obyek
Halaman 3 dari 17

pemeriksaan, jenis pemeriksaan, kebutuhan sumber daya manusia, dan


anggaran pemeriksaan. Dalam pelaksanaan RKP membutuhkan kembali tahap
perencanaan secara mendetail mengenai bagaimana menentukan tujuan dan
lingkup pemeriksaan yang akan dilakukan. Tujuan dan lingkup pemeriksaan
dapat ditetapkan setelah dilakukan pemahaman entitas, program atau kegiatan
serta menentukan beberapa area kunci yang memiliki risiko tinggi. Dengan
penentuan tujuan diharapkan dapat ditentukan kriteria pemeriksaan dan jenis
serta sumber bukti yang kemudian akan dituangkan dalam suatu program
pemeriksaan (P2) dan program kerja perorangan (PKP).
Kegiatan mulai dari pengidentifikasian masalah, penentuan area kunci,
penentuan obyek, tujuan dan lingkup pemeriksaan kinerja dan penetapan
kriteria dapat dituangkan dalam suatu pemeriksaan pendahuluan. Hasil dari
pemeriksaan pendahuluan ini digunakan sebagai bahan keputusan untuk
meneruskan pemeriksaan ke tahap berikutnya yaitu pelaksanaan dan pelaporan
pemeriksaan kinerja. Jika diteruskan ke tahap berikutnya hasil dari pemeriksaan
pendahuluan ini digunakan sebagai dasar dalam menyusun P2 dan PKP.
1. Pengidentifikasian Masalah
a. Pengertian
Merupakan tahapan dalam perencanaan pemeriksaan dimana dilakukan
identifikasi masalah atas obyek yang akan diperiksa. Ada dua kegiatan utama
yang dilakukan pada tahap ini yaitu pemahaman atas rencana strategis dan
kebijakan Badan tentang pemeriksaan kinerja dan pemahaman atas entitas
yang akan diperiksa. Pemahaman atas rencana strategis dan kebijakan Badan
tentang pemeriksaan kinerja serta pemahaman atas entitas yang akan
diperiksa dapat digunakan untuk penentuan arah pemeriksaan kinerja sesuai
dengan rencana strategis Badan, penaksiran risiko dan identifikasi masalah
pemeriksaan yang signifikan, penentuan tujuan pemeriksaan, perencanaan
dan pelaksanaan pemeriksaan secara efisien dan efektif serta
pengevaluasian bukti pemeriksaan.
b. Tujuan
Tujuan dari pengidentifikasian masalah, antara lain:
1) Memahami rencana strategis dan kebijakan badan tentang pelaksanaan
pemeriksaan kinerja.
2) Memperoleh data, informasi, serta latar belakang organisasi, program, dan
fungsi pelayanan publik yang diperiksa mengenai hal-hal yang berhubungan
dengan input, proses, output, dan outcome.
3) Mengetahui landasan hukum atas kegiatan atau program dari organisasi,
program dan fungsi pelayanan publik yang diperiksa.
4) Mengidentifikasi masalah-masalah yang ada dalam organisasi, program, dan
fungsi pelayanan publik yang diperiksa.
5) Memahami tugas-tugas dan kewajiban-kewajiban yang diemban oleh entitas
yang diperiksa, tujuan dan program kerja entitas, hubungan antarunit kerja,
organisasi dan akuntabilitas didalam entitas, lingkungan eksternal dan
internal serta pihak terkait dan hambatan-hambatan, proses manajemen dan
operasional entitas serta sumber daya entitas.
c. Input yang diperlukan
Input yang diperlukan untuk mengidentifikasi masalah:
1) Peraturan perundang-undangan terkait.
2) Rencana strategis BPK dan kebijakan Badan tentang pemeriksaan kinerja.
3) Laporan pemeriksaan sebelumnya.
4) Rencana jangka panjang, rencana kerja dan anggaran, dan laporan tahunan
entitas.
5) Kebijakan entitas dan risalah yang berkaitan dengan entitas.
Halaman 4 dari 17

6) Struktur organisasi, pedoman sistem, dan prosedur organisasi (SOP) dan


petunjuk operasional.
7) Hasil evaluasi terhadap program entitas dan rencana kerja pemeriksa intern
dan laporan hasil pemeriksaan.
8) Hasil-hasil diskusi dengan manajemen dan stakeholders.
9) Hasil liputan media masa.
10)
Hasil penelaahan informasi dari internet.
11)
Hasil database entitas yang dikelola BPK.
12)
Sumbangan bahan dari satuan kerja non pemeriksaan seperti
Binbangkum, Biro Humas, EPP, dan Litbang.
Tidak semua input harus diperoleh pemeriksa tergantung lingkup dan
pertimbangan atas pemeriksaan.
d. Langkah-langkah
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam pengidentifikasian masalah
dapat dirinci sebagai berikut:
1) Dapatkan dan pelajari rencana strategis BPK serta kebijakan Badan tentang
pemeriksaan kinerja.
2) Pelajari sejarah dan latar belakang entitas yang diperiksa, antara lain
mengenai:
Sejarah dan latar belakang berdirinya entitas;
Tujuan yang hendak dicapai;
Kewenangan entitas dalam mencapai tujuan dan dalam melaksanakan
program yang telah ditetapkan;
Tanggung jawab pimpinan entitas;
Batasan-batasan yang berlaku terhadap entitas; dan
Ketentuan-ketentuan yang berlaku terhadap entitas.
3) Reviu struktur organisasi dan uraian tugas atas entitas yang diperiksa.
4) Reviu hasil pemeriksaan sebelumnya terhadap entitas untuk memperoleh
gambaran umum entitas dan mengidentifikasi permasalahan yang ada
berdasarkan pemeriksaan sebelumnya.
5) Analisis dokumen anggaran dari entitas yang diperiksa.
6) Analisis SOP dari entitas yang diperiksa yang relevan dengan tujuan
pemeriksaan.
7) Analisis AD/ART, RJP, dan RKA dari entitas yang diperiksa.
8) Jika diperlukan, lakukan observasi singkat di lokasi kegiatan utama entitas,
misalnya, pabrik atau gudang untuk BUMN/BUMD, atau kantor untuk instansi
pemerintah.
9) Jika diperlukan, lakukan interviu/wawancara dengan manajemen. Wawancara
ini dilakukan dalam rangka untuk memperoleh informasi yang bersifat umum,
seperti misi entitas yang diperiksa, target kegiatan pada tahun berjalan yang
diperiksa, anggaran yang tersedia, realisasi kegiatan, dan sebagainya.
10)
Reviu peraturan-peraturan yang mendasari program yang diperiksa,
laporan kemajuan pelaksanaan program, serta hambatan-hambatan dalam
pencapaian program.
11)
Identifikasi dan reviu tujuan dan sasaran dari program yang diperiksa,
kemudian teliti apakah dalam mencapai tujuan tersebut terdapat tolok ukur,
standar, atau key performance indicator (KPI) untuk menentukan kelemahan
dan keberhasilan program tersebut.
12)
Lakukan inventarisasi tolok ukur, standar, atau KPI yang telah diterapkan
oleh entitas dalam melaksanakan program/kegiatan.
13)
Teliti kemungkinan adanya hambatan yang dialami entitas dalam
melaksanakan kewenangannya, yang mungkin disebabkan oleh adanya
kewenangan serupa yang dimiliki oleh entitas lain.
Halaman 5 dari 17

14)
Teliti kemungkinan adanya penyalahgunaan wewenang yang dilakukan
oleh entitas tersebut.
15)
Teliti kemungkinan adanya peraturan atau kebijakan pemerintah yang
menghambat pencapaian tujuan dari program yang telah ditetapkan.
16)
Pelajari kemungkinan adanya batasan-batasan berdasarkan peraturan
atau kebijakan institusi di atasnya yang diberlakukan terhadap entitas yang
diperiksa.
17)
Reviu atas hasil-hasil studi yang telah dilakukan kelompok industri,
kelompok _ profesional, dan kelompok-kelompok lain yang mempunyai
kepentingan terhadap entitas tersebut.
18)
Dapatkan dan inventarisasi isu-isu mutakhir tentang permasalahan yang
sedang dihadapi oleh entitas, yang dapat diperoleh dari media masa atau
sumber-sumber lain.
19)
Buatlah kesimpulan mengenai permasalahan yang berhasil diidentifikasi
dalam tahap ini. Permasalahan ini merupakan identifikasi awal bagi
pengembangan arah dan tujuan pemeriksaan pada tahap perencanan
selanjutnya.
e. Output
Output dari kegiatan Pengidentifikasian Masalah adalah:
1) Gambaran umum dari kegiatan/program dari entitas yang diperiksa yang
antara lain meliputi input, proses, output, dan outcome.
2) Hasil reviu peraturan perundang-undangan yang meliputi kewenangan,
maksud dan tujuan, dan struktur organisasi.
3) Informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja entitas.
4) Kesimpulan umum tentang identifikasi masalah.
Setiap langkah pada tahap pengidentifikasian masalah ini harus
didokumentasikan dengan baik yang mana hasil pendokumentasian dimasukkan
dalam kertas kerja pemeriksaan.
2. Penentuan Area Kunci
3. Penentuan Area Kunci
Area kunci (key area) adalah area atau kegiatan yang dilaksanakan oleh
auditee, yang sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan kinerja
auditee yang bersangkutan. Pemilihan area kunci harus dilakukan mengingat
luasnya bidang, program, dan kegiatan pada entitas yang diaudit sehingga
tidak mungkin melakukan audit di seluruh area entitas.
Pemilihan area kunci yang tepat memungkinkan penggunaan sumber daya
yang lebih efisien dan efektif karena dapat fokus pada area yang memiliki
nilai tambah maksimum.
a. Pendekatan Identifikasi Area Kunci
Penentuan area kunci dapat dilakukan berdasar faktor-faktor berikut, antara
lain:
a) Risiko Manajemen
Dalam Audit laporan keuangan, Pendekatan audit berbasis risiko adalah suatu
pendekatan dengan menggunakan analisis risiko untuk menentukan area
penting yang seharusnya menjadi fokus audit. Fokusnya pada salah saji
material dalam penyajian laporan keuangan. Dalam Audit kinerja,
penekanannya lebih kepada risiko yang ditanggung manajemen terkait
dengan aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
Beberapa hal yang dapat digunakan untuk meniliai terjadinya risiko
manajemen antara lain:
Halaman 6 dari 17

Pengeluaran dibawah atau di atas anggaran yang signifikan


Tidak tercapainya tujuan
Tingginya mutasi pegawai
Manajemen tidak reaktif terhadap kelemahan
Ekspansi mendadak
Wewenang yang tumpang tindih, tidak jelas
Aktivitas rumit dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian. Indikator
ketidakpastian tersebut antara lain:
o Kegiatan yang sangat terdesentralisasi dengan banyak pihak
berkepentingan
o Teknologi yang berkembang pesat
o Lingkungan dinamis dan kompetitif
o Melibatkan banyak instansi
o Proyek baru

b) Signifikansi
Konsep signifikansi hampir sama dengan materialitas. Suatu area signifikan
jika memiliki dampak yang besar terhadap area lain. Penentuan signifikansi
merupakan penilaian professional dimana seorang auditor harus
mempertimbangkan faktor-faktor seperti materialitas keuangan, batas kritis
keberhasilan, dan visibilitas
c) Dampak Audit
Dampak audit merupakan nilai tambah yang diharapkan dari audit tersebut,
yaitu perubahan dan perbaikan yang dapat meningkatkan 3E. Auditor harus
selalu bertanya apakah audit yang dilaksanakan akan mengakibatkan suatu
perubahan?
Contoh dampak audit yang diharapkan antara lain
Ekonomi
o Biaya turun
o Fasilitas berkurang
Efisiensi
o Peningkatan output
o Perbaikan koordinasi
Efektivitas
o Perbaikan analisis kebutuhan
o Memperjleas tujuan dan kebijakan
Mutu Pelayanan
o Distribusi layanan lebih adil
o Waktu tunggu singkat
d) Auditabilitas
Auditabilitas berkaitan dengan kemampuan tim audit melaksanakan audit
sesuai standar profesi. Dalam berbagai kondisi, auditor bisa saja
mempertimbangkan untuk tidak melakukan audit dalam area tersentu. Untuk
itu, auditor dapat mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.
Sifat kegiatan yang tidak memungkinkan untuk diaudit
Auditor tidak memiliki keahlian yang disyaratkan
Area tersebut dalam perubahan yang signifikan dan mendasar
Kriteria yang sesuai tidak tersedia untuk menilai kinerja
Lokasi pekerjaan tidak dapat dijangkau karena bencana atau alasan lain.
Halaman 7 dari 17

Apabila hal diatas ditemukan, auditor perlu mempertimbangkan untuk tidak


melakukan audit ke pengujuan terinci.
Dalam menilai faktor-faktor pemilihan diatas, auditor dapat melakukan
pembobotan berdasarkan professional judgement. Dari hasil pembobotan
tersebut, auditr dapat menentukan area kunci sehingga nantinya akan lebih
fokus dalam melakukan audit.
1 Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan
a Pengertian
Tujuan pemeriksaan mengungkapkan apa yang ingin dicapai dari pemeriksaan
tersebut. Tujuan pemeriksaan mengidentifikasikan obyek pemeriksaan dan
aspek kinerja yang harus dipertimbangkan, termasuk temuan pemeriksaan
yang potensial dan unsur pelaporan yang diharapkan bisa dikembangkan oleh
pemeriksa. Tujuan pemeriksaan dapat dianggap sebagai pertanyaan
mengenai program yang diperiksa dan pemeriksa harus mencari jawabannya.
Lingkup pemeriksaan adalah batas pemeriksaan dan harus terkait langsung
dengan tujuan pemeriksaan. Misalnya, lingkup pemeriksaan menetapkan
parameter pemeriksaan seperti periode yang direviu, ketersediaan dokumen
atau catatan yang diperlukan, dan lokasi pemeriksaan di lapangan

yang akan dilakukan.


b Tujuan
Pemeriksaan kinerja harus benar-benar dipertimbangkan dan dinyatakan
secara jelas. Tujuan tersebut harus didefinisikan dengan jelas agar dapat
mempermudah tim pemeriksa dalam mengambil kesimpulan pada akhir
pemeriksaan. Apabila tujuan pemeriksaan telah ditetapkan secara tepat dan
jelas, maka pekerjaan-pekerjaan pemeriksaan akan lebih terarah kepada
kegiatan-kegiatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul
dalam tujuan pemeriksaan. Oleh karena itu, tujuan pemeriksaan kinerja harus
bisa didefinisikan secara tepat, sehingga dapat dihindari pelaksanaan
prosedur pemeriksaan yang tidak perlu. Tujuan penentuan tujuan dan lingkup
pemeriksaan adalah:
1 membantu dalam mengidentifikasikan masalah-masalah yang akan
diperiksa dan akan dilaporkan;
2 membantu dalam menyiapkan parameter atau ukuran pembatasan
pemeriksaaan seperti periode yang akan diperiksa atau lokasi pemeriksaan
lapangan yang akan dipilih; dan
3 mempermudah tim pemeriksa dalam mengambil kesimpulan pada akhir
pemeriksaan.
c

Input
Input yang diperlukan dalam kegiatan Penentuan Obyek, Tujuan dan Lingkup
Pemeriksaan adalah sebagai berikut.
1 Output dari Kegiatan Pengidentifikasian Masalah.
2 Output dari Kegiatan Penentuan Area Kunci

d Pendekatan Pelaksanaan
Pendekatan yang dilakukan dalam pelaksanaan pemeriksaan kinerja
bergantung pada tujuan pemeriksaan dan sifat obyek yang diperiksa. Pada
akhirnya bagaimana seorang auditor memilih pendekatan terhadap
pelaksanaan pemeriksaan akan menentukan kriteria pemeriksaan. Secara
garis besar pendekatan terhadap pemeriksaan kinerja dibagi menjadi 2, yaitu:
Halaman 8 dari 17

Pendekatan Problem/Proses
Pendekatan ini menggunakan asumsi dasar bahwa proses pelaksanaan
suatu program yang baik akan menghasilkan output atau outcome yang
memuaskan. Pendekatan ini dirancang untuk menentukan apakah suatu
entitas atau program/kegiatan memiliki prosedur, metode, atau proses
operasional yang baik sehingga dapat memberikan keyakinan yang
memadai bahwa hasil yang diharapkan dapat tercapai. Secara garis besar
pendekatan ini menekankan pada apakah entitas menjalankan proses atau
prosedur pengelolaan sumber daya (input) yang dapat memberikan
keyakinan memadai bahwa sumber daya diperoleh dengan lebih hemat.
Contoh pendekatan berorientasi proses pada pemeriksaan atas aspek
efisiensi: Menilai pengelolaan atau proses operasional, metode atau
prosedur yang dilakukan untuk mencapai efisiensi. Pendekatan ini biasa
digunakan untuk kegiatan dengan output yang tidak seragam atau sulit
diukur.
Contoh pendekatan berorientasi proses pada pemeriksaan atas aspek
efektivitas: Menilai proses operasional, metode atau prosedur yang
dijalankan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pendekatan Hasil
Pendekatan ini menggunakan asumsi dasar bahwa apabila output atau
outcome yang dihasilkan suatu kegiatan memuaskan, maka risiko adanya
masalah seriusdalam rancangan dan pelaksanaan (proses) kegiatan
dianggap minimal. Pendekatan ini berfokus pada penilaian langsung atas
input, output, outcome, atau dampak dari suatu program/kegiatan. Apabila
kinerja yang dicapai tidak memuaskan, pemeriksa dapat memeriksa proses
operasional untuk mengidentifikasi penyebab tidak tercapainya indikatorindikator kinerja yang telah ditetapkan. Pendekatan ini dapat diterapkan
jika terdapat kriteria yang tepat untuk menilai biaya yang diperlukan untuk
mendapatkan input dan kriteria yang tepat untuk menilai kualitas dan
kuantitas dari output. Secara garis besar pendekatan ini menekankan pada
apakah sumber daya (input) diperoleh dengan biaya, kuantitas, kualitas,
waktu dan tempat yang tepat.
Contoh pendekatan berorientasi proses pada pemeriksaan atas aspek
efisiensi: Membandingkan antara rasio produktifitas (aktual) dengan
standar yang telah ditetapkan. Dapat digunakan apabila output yang
dihasilkan dari suatu proses seragam dan mudah diukur.
Contoh pendekatan berorientasi proses pada pemeriksaan atas aspek
efektivitas: Menilai apakah entitas/program/kegiatan dapat mencapai tujuan
yang telah ditetapkan.

e Langkah - langkah Pelaksanaan


Langkah-langkah yang diperlukan dalam menentukan obyek, tujuan dan
lingkup pemeriksaan adalah sebagai berikut.
1 Menentukan Obyek Pemeriksaan Berdasarkan area kunci yang telah
ditetapkan dan seluruh data relevan yang telah berhasil diperoleh pada
tahap sebelumnya, pemeriksa menentukan program/kegiatan yang akan
diperiksa (obyek pemeriksaan) atas area-area berisiko tinggi yang akan
menjadi fokus audit
2 Menentukan tujuan pemeriksaan. Tujuan pemeriksaan terkait erat dengan
alasan dilakukannya suatu pemeriksaan. Isi dari tujuan pemeriksaan harus
bisa mengungkapkan apa yang ingin dicapai dari pemeriksaan tersebut.
Tujuan pemeriksaan dapat dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus
pemeriksaan. Tujuan umum merupakan tujuan pemeriksaan umum atas
organisasi/program dan/atau fungsi pelayanan publik yang hendak
Halaman 9 dari 17

diperiksa. Sedangkan tujuan khusus lebih mengarah kepada tujuan


pemeriksaan pada masing-masing area kunci pemeriksaan. Dalam
memformulasikan tujuan pemeriksaan tersebut, pemeriksa dapat membuat
berbagai macam pertanyaan pemeriksaan terhadap
organisasi/program/fungsi pelayanan publik yang hendak diperiksa.
Pemeriksa hendaknya bersandar pada informasi yang telah diperolehnya
dan juga pada keahlian dan pengalaman yang dimilikinya untuk
menentukan tujuan pemeriksaan tersebut.
3 Menentukan lingkup pemeriksaan. Yang dimaksudkan dengan lingkup di sini
adalah:
luas sasaran pemeriksaan yang akan dilakukan, dalam hal ini pemeriksa
harus mempertimbangkan hal-hal penting yang diinginkan pemberi tugas
dan harus mengacu kepada tujuan pemeriksaan.
permasalahan yang akan diperiksa, yaitu masalah kehematan, efisiensi,
dan efektivitas; pemeriksa dapat menggunakan satu kriteria
permasalahan, atau dua kriteria, atau ketiga-tiganya sesuai dengan
permasalahan yang ada di lapangan.
waktu yang diperlukan dalam pemeriksaan dan besarnya sampel yang
akan diambil.
Penentuan lingkup pemeriksaan harus terkait dengan tujuan pemeriksaan
yang telah ditetapkan dan merupakan hal yang penting dalam proses
perencanaan. Hal tersebut sangat mempengaruhi prosedur yang diperlukan
selama pelaksanaan pemeriksaan, sumber daya yang dibutuhkan, dan
masalah-masalah penting yang akan dilaporkan. Peranan pertimbangan
pemeriksa sangat penting dalam menyeleksi dan menentukan
kegiatan/program yang akan diperiksa karena terdapat berbagai kegiatan atau
program yang harus diperiksa.
Langkah-langkah dalam penentuan lingkup audit adalah sebagai berikut:
1 Tentukan lingkup pemeriksaan atas dasar informasi yang didapat pada
pemeriksaan sebelumnya dari proses perencanaan pemeriksaan. Keputusan
mengenai penentuan lingkup pemeriksaan dapat berubah sesuai dengan
perubahan informasi yang didapat. Oleh karena itu, lingkup pemeriksaan
harus ditentukan secara jelas pada tahap awal perencanaan pemeriksaan
sehingga kebutuhan terhadap sumber daya dan prosedur pemeriksaan
yang tepat dapat ditentukan.
2 Lakukan perubahan dalam lingkup pemeriksaan apabila informasi yang
didapat dalam pelaksanaan pemeriksaan mengharuskan demikian. Hal ini
terjadi jika informasi awal yang digunakan dalam menentukan lingkup
pemeriksaan selama perencanaan awal kurang akurat dan kurang lengkap.
Dalam kondisi demikian, pemeriksa harus membicarakannya dengan
manajemen mengenai perubahan yang cukup signifikan dalam lingkup
pemeriksaan yang terjadi setelah tahap perencanaan awal.
3 Apabila perintah (mandat) pemeriksaan kinerja menentukan lingkup
pemeriksaan secara luas, lakukan pertimbangan profesional untuk
merincinya secara lebih khusus (spesifik). Hal tersebut diperlukan untuk
memudahkan pemeriksa dalam merancang prosedur pemeriksaan dalam
rangka mencapai tujuan pemeriksaan. Sedangkan bila perintah
pemeriksaan menentukan lingkup pemeriksaan secara spesifik, lakukan
pertimbangan profesional apakah lingkup tersebut tepat.
f

Output
Output dari kegiatan Penentuan Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan adalah
sebagai berikut.
Halaman 10 dari 17

1 Tujuan pemeriksaan yang meliputi tujuan umum (entitas) dan tujuan


khusus(yang berkaitan dengan area kunci).
2 Lingkup pemeriksaan meliputi:
3 Area kunci (Fungsi, kegiatan, unit organisasi, dll).
4 Periode waktu yang akan diperiksa.
5 Aspek kinerja yang diperiksa (3E, 2E, atau 1E).
g Dokumentasi
Seluruh pengkajian pemeriksa mengenai tahap penentuantujuan dan lingkup
pemeriksaan di tingkat entitas harus didokumentasikan. Tim dapat
mengembangkan suatu templateyang membantu pendefinisian tujuan dan
lingkup pemeriksaan. Secara keseluruhan pendokumentasian dapat dijadikan
sebagai KKP.
4. Penetapan Kriteria Pemeriksaan
a. Definisi Kriteria
SPKN mendefinisikan kriteria sebagai standar ukuran harapan mengenai apa
yang seharusnya terjadi, praktik terbaik, dan benchmarks. Petunjuk
Pelaksanaan Pemeriksaan Kinerja BPK menjelaskan definisi kriteria sebagai
Standar atau ukuran yang masuk akal dan dapat dicapai untuk menilai aspek
ekonomi, efisiensi dan efektivitas objek yang diperiksa.
Secara umum kriteria pemeriksaan merupakan suatu patokan standar yang
digunakan untuk membandingkan antara harapan yang ideal dengan kinerja
aktual entitas yang diperiksa. Kriteria merepresentasikan praktik-praktik yang
baik, mengenai apa yang seharusnya untuk ditandingkan dengan kinerja
yang sesungguhnya.
Hasil pembandingan antara kriteria dan kejadian sesungguhnya akan
menghasilkan suatu temuan pemeriksaan. Apabila hasil yang didapatkan
ternyata sesuai atau melebihi kriteria, maka hal ini mengindikasikan adanya
best practice. Sebaliknya, jika keadaan aktual tidak bisa memenuhi kriteria,
maka suatu perbaikan perlu dilakukan.
b. Tujuan
Tujuan penetapan kriteria pemeriksaan adalah sebagai berikut:
1) memberikan dasar yang baik sebagai alat komunikasi dalam tim pemeriksaan
dan dengan manajemen pemeriksa mengenai sifat pemeriksaan
2) memberikan dasar yang baik sebagai alat komunikasi dengan entitas yang
diperiksa
3) menghubungkan tujuan pemeriksaan dengan program pemeriksaan yang
dilaksanakan selama tahap pelaksanaan pemeriksaan
4) memberikan dasar pada tahap pengumpulan data dan penyusunan prosedur
pemeriksaan
5) memberikan dasar dalam menyusun temuan pemeriksaan.
c. Karakteristik kriteria yang baik
Andal atau dapat dipercaya (reliable);
Obyektif dan tidak bias
Bermanfaat (usefulness);
Bisa dimengerti (understandability);
Bisa diperbandingkan (comparability);
Lengkap (completeness);
Bisa diterima (acceptability);
Halaman 11 dari 17

Relevan

d. Input Penetapan Kriteria


Sebagai dasar pertimbangan dalam menetapkan kriteria pemeriksaan,
pemeriksa memerlukan input sebagai berikut:
1) Output dari Kegiatan Menentukan Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan, antara
lain:
gambaran umum dari kegiatan/program dari entitas yang diperiksa yang
antara lain meliputi input, proses, output, dan outcome;
hasil reviu peraturan perundang-undangan yang meliputi kewenangan,
maksud dan tujuan, dan struktur organisasi; dan
informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja entitas.
2) Standar atau norma yang dikembangkan sendiri secara teknis oleh entitas.
3) Pendapat ahli dan organisasi profesional dan institusi penentu standar
(lembaga pembuat standar).
4) Kriteria yang telah digunakan pada pemeriksaan sejenis sebelumnya.
5) Kriteria yang digunakan oleh institusi pemeriksa lain.
6) Kinerja tahun-tahun sebelumnya.
7) Dokumen perencanaan awal seperti studi kelayakan dan rencana yang telah
disetujui.
8) Anggaran entitas yang diperiksa.
9) Kinerja entitas lain yang sejenis.
Seluruh informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber:
1) tenaga ahli;
2) laporan pemeriksaan periode sebelumnya;
3) laporan kinerja entitas periode sebelumnya.;
4) dokumen anggaran, seperti RKAP;
5) laporan kinerja dari entitas lain yang sejenis.;
6) laporan hasil studi kelayakan dan rencana yang telah disetujui;
7) jurnal ilmiah, internet, buku teks; dan
8) hasil kuesioner, wawancara, observasi, dan metodologi pengumpulan data
lainnya dengan entitas yang akan diperiksa.
e. Petunjuk Pelaksanaan
Langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam menentukan kriteria
pemeriksaan adalah sebagai berikut:
1) Pemeriksa wajib meneliti apakah entitas telah memiliki kriteria pemeriksaan
sesuai dengan tujuan pemeriksaan kinerja.
2) Bila kriteria sudah ada, maka pemeriksa perlu menganalisis apakah kriteria
yang ada telah memenuhi karakteristik berikut:
Dapat dipercaya (reliable); artinya bahwa apabila kriteria tersebut digunakan
oleh pemeriksa lain untuk masalah yang sama, maka kriteria tersebut harus
bisa memberikan kesimpulan yang sama.
Obyektif (objective); artinya kriteria bebas dari bias baik oleh pemeriksa
maupun entitas.
Bermanfaat (usefulness); artinya kriteria yang dapat menimbulkan temuan
dan kesimpulan pemeriksaan yang memenuhi keinginan para pengguna
informasi.
Bisa dimengerti (understandability); artinya kriteria yang ditetapkan secara
jelas dan bebas dari perbedaan interpretasi.
Halaman 12 dari 17

Bisa diperbandingkan (comparability); artinya bahwa kriteria tersebut bersifat


konsisten apabila digunakan dalam pemeriksaan kinerja atas entitas-entitas
atau aktivitas-aktivitas yang serupa atau apabila digunakan dalam
pemeriksaan kinerja sebelumnya atas entitas yang sama.
Lengkap (completeness); kriteria yang lengkap mengacu kepada penggunaan
seluruh kriteria yang signifikan dalam menilai kinerja.
Bisa diterima (acceptability); kriteria yang bisa diterima adalah kriteria yang
bisa diterima oleh entitasyang diperiksa, DPR-RI/DPRD, media, dan
masyarakat umum. Semakin tinggi tingkat keberterimaan tersebut, semakin
efektif pemeriksaan kinerja yang dilaksanakan.

3) Bila dalam entitas yang diperiksa belum memiliki kriteria yang sesuai dengan
tujuan dan telah memenuhi karakteristik kriteria seperti di atas, maka
pemeriksa perlu mengembangkan kriteria sendiri dengan langkah sebagai
berikut.
Perlu mempertimbangkan pendekatan pemeriksaan yang digunakan
Perlu mempertimbangkan sudut pandang regulator (penyusun peraturan),
manajemen (pelaksana peraturan) dan masyarakat (penerima manfaat).
Tidak ada kriteria yang ideal (Ada sisi positif dan negatifnya).
Sebagian besar menggunakan good management practice atau good
administration atau best practice atau good management model
(Pollitt,2003)
4) Dalam mengembangkan kriteria, pemeriksa juga perlu mempertimbangkan
beberapa hal berikut sebagai pendekatan penetapan kriteria yang baik.
pemeriksa memvisualisasikan beberapa segmen kegiatan menjadi suatu
tugas; setiap penugasan umumnya melalui beberapa tahap, seperti studi
kelayakan, perencanaan, pembiayaan, pelaksanaan, operasi, dan evaluasi;
pemeriksa mencari kriteria dengan mempelajarikebijakan dan prosedur
organisasi; contoh: dalam mengaudit rumah sakit, waktu tunggu pasien
dalam memperoleh tempat tidur sebelum operasi besar dapat dijadikan
kriteria untuk mengukur efisiensi.
jika prosedur tidak dapat dijadikan dasar, pemeriksa harus mencari dan
mengadaptasikan prosedur organisasi sejenis untuk dijadikan kriteria;
pemeriksa dapat menggunakan kriteria atas ekspektasi pengguna layanan.
Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner ini
menanyakan responden mengenai tingkat ekspektasi kinerja entitas yang
diperiksa. Contoh: Pada pemeriksaan rumah sakit, pemeriksa menemukan
waktu tunggu pasien sebelum dirawat. Pemeriksa dapat mewawancarai
pasien dan menemukan batas waktu tunggu yang layak menurut ekspektasi
pasien, pemeriksa kemudian mendiskusikan ekspektasi ini dengan
manajemen rumah sakit dan kemudian manajemen setuju atas waktu tunggu
yang disepakati.
jika dipandang perlu, pemeriksa dapat menggunakan jasa tenaga ahli dalam
penentuan kriteria dalam suatu pemeriksaan kinerja.
5) Pemeriksa perlu mengkomunikasikan kriteria yang akan digunakan dalam
pemeriksaan kinerja suatu entitas kepada manajemen entitas untuk
memperoleh kesepakatan bersama. Kesepakatan ini meliputi adanya satu
pemahaman yang sama tentang dasar pengukuran kinerja yang digunakan
dalam pemeriksaan atas obyek yang diperiksa.
f. Output
Halaman 13 dari 17

Output yang dihasilkan dari penetapan kriteria pemeriksaan adalah kesimpulan


tentang standar yang digunakan sebagai dasar terhadap praktik yang berjalan.
Output ini antara lain:
1) kelompok kriteria (ekonomi, efisiensi, efektivitas).
2) jenis kriteria (rincian kriteria yang terdapat dalam masing masing kelompok).
3) penjelasan (deskripsi ringkas setiap jenis kriteria)
4) satuan pengukuran (misalkan kilometer/jam, orang/hari)
5) sumber data (deskripsi tentang dari mana data diperoleh)
6) standar ukuran kinerja (menjelaskan standar yang digunakan dan artinya).
7) tanggapan entitas (sepakat atau tidak sepakat).
5. Penyusunan Program Pemeriksaan dan Program Kerja Perorangan
Program pemeriksaan dikatakan memadai jika mampu memenuhi aspekaspek penting pemeriksaan, disusun berdasar informasi pendukung yang jelas
dan cermat, memberikan panduan dalam melaksanakan pengujian secara
efektif, membantu dalam pengumpulan bukti yang cukup, dapat diandalkan, dan
relevan untuk mendukung opini/pernyataan pendapat dan mencapai tujuan
pemeriksaan.
Program pemeriksaan yang efektif akan sangat membantu dalam
mendapatkan bukti pemeriksaan yang memadai untuk mendukung temuan
pemeriksaan. Bukti pemeriksaan mempunyai peran yang sangat penting
terhadap keberhasilan pelaksanaan pemeriksaan dan oleh karenanya harus
mendapat perhatian pemeriksa sejak tahap perencanaan pemeriksaan sampai
dengan akhir proses pemeriksaan.
a. Tujuan
Tujuan utama penyusunan Program Pemeriksaan(P2) adalah:
1) menetapkan hubungan yang jelas antara tujuan pemeriksaan, metodologi
pemeriksaan, dan kemungkinankemungkinan pekerjaan lapangan yang harus
dikerjakan;
2) mengidentifikasikan dan mendokumentasikan prosedurprosedur pemeriksaan
yang harus dilaksanakan; dan
3) memudahkan supervisi dan reviu.
Suatu program pemeriksaan dapat disebut memadai jika mampu
mengidentifikasi aspek-aspek penting pemeriksaan; disusun berdasarkan
informasi pendukung yang jelas dan cermat; memberikan panduan dalam
melaksanakan pengujian secara efektif; membantu dalam pengumpulan bukti
yang cukup, dapat diandalkan, dan relevan untuk mendukung
opini/pernyataan pendapat atau kesimpulan pemeriksaan; dan mencapai
tujuan pemeriksaan. Kualitas bukti pemeriksaan juga sangat tergantung
kepada program pemeriksaannya. Program pemeriksaan yang efektif akan
sangat membantu dalam mendapatkan bukti pemeriksaan yang memadai
untuk mendukung temuan pemeriksaan. Bukti pemeriksaan mempunyai
peran yang sangat penting terhadap keberhasilan pelaksanaan pemeriksaan
dan oleh karenanya harus mendapat perhatian pemeriksa sejak tahap
perencanaan pemeriksaan sampai dengan akhir proses pemeriksaan.
b. Input yang Diperlukan
Input yang diperlukan dalam kegiatan Penyusunan Program Pemeriksaan
dan Program Kerja Perorangan adalah:
1) output dari masing-masing tahap perencanaan pemeriksaan;
2) Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP);
3) Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN);
Halaman 14 dari 17

4) Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP); dan


5) pengarahan khusus pimpinan.
c. Petunjuk Pelaksanaan
Setelah seluruh prosedur/langkah dalam perencanaan pemeriksaan diikuti,
maka hasil/output dari masing-masing langkah dituangkan ke dalam suatu
program pemeriksaan. Program pemeriksaan tersebut kemudian akan
menjadi pedoman pemeriksa dalam menjalankan penugasan pemeriksaan
kinerja. Di dalam program pemeriksaan tersebut dituangkan hal-hal sebagai
berikut:
a. Dasar pemeriksaan.
Pemeriksa memasukkan ketentuan perundang-undangan yang menjadi
mandat bagi BPK dalam melaksanakan pemeriksaan.
b. Standar pemeriksaan.
Diisi dengan standar pemeriksaan yang akan digunakan dalam melaksanakan
pemeriksaan. BPK telah menetapkan Standar Pemeriksaan Keuangan (SPKN)
sebagai pedoman dalam melaksanakan pemeriksaan atas keuangan negara.
c. Organisasi/Program/Fungsi Pelayanan Publik yang diperiksa.
Diisi dengan entitas yang akan diperiksa, pengertian entitas di sini dapat
berupa organisasi/program/fungsi pelayanan publik yang kinerjanya akan
diperiksa.
d. Tahun anggaran yang diperiksa.
Bagian dari penjabaran lingkup pemeriksaan yang akan memasukkan
periode/tahun anggaran yang akan diperiksa. Secara umum, periode yang
dipilih adalah hanya untuk satu periode tahun anggaran. Namun demikian,
dimungkinkan juga untuk pelaksanaan pemeriksaan atas periode yang lebih
dari satu tahun jika pada pemeriksaan atas keseluruhan pelaksanaan
program yang memakan waktu lebih dari satu tahun.
e. Identitas dan data umum yang diperiksa
Data umum dari organisasi/program/fungsi pelayanan publik yang akan
diperiksa yang didapat selama proses pemahaman atas entitas.
f. Alasan pemeriksaan.
Diisi dengan alasan pemeriksaan yang bisa berasal dari hasil analisis
perolehan datadan informasi awal maupun yang berasal output penentuan
area kunci yang akan diperiksa.
g. Jenis pemeriksaan.
Diisi dengan Pemeriksaan Kinerja.
h. Tujuan Pemeriksaan.
Tujuan pemeriksaan umum yang didapat atau ditentukan selama pelaksanaan
proses Penentuan Tujuan dan Lingkup Pemeriksaan.
i. Sasaran Pemeriksaan.
Tujuan pemeriksaan secara rinci (area kunci) yang menjabarkan apa yang
telah ditentukan dalam tujuan pemeriksaan umum.
j. Metodologi pemeriksaan.
Diisi dengan metodologi atau cara serta pendekatan pemeriksaan yang akan
ditempuh dalam menjalankan penugasan pemeriksaan kinerja.
k. Kriteria pemeriksaan
Diisi dengan kriteria pemeriksaan yang akan dipakai dalam pemeriksaan.
l. Langkah atau prosedur pemeriksaan.
Langkah atau prosedur pemeriksaan yang dibuat dengan tujuan memberikan
petunjuk kepada para pemeriksa agar dapat mencapai tujuan pemeriksaan
yang telah ditetapkan. Langkah atau prosedur pemeriksaan sebaiknya dibuat
menurut sasaran pemeriksaan (area kunci) yang telah ditetapkan agar
nantinya secara keseluruhan hasil pemeriksaan dapat menjawab atau
Halaman 15 dari 17

mencapai tujuan pemeriksaan. Berdasarkan program pemeriksaan yang


ditetapkan oleh Tortama/Kalan, ketua tim pemeriksa membuat pembagian
tugas dan anggota tim menyusun program kerja perorangan dan disampaikan
kepada ketua tim untuk mendapatkan persetujuan.
d. Output
Output atas hasil kegiatan Penyusunan P2 dan PKP adalah berupa program
pemeriksaan yang memuat:
1) dasar pemeriksaan;
2) standar pemeriksaan;
3) organisasi/program/fungsi pelayanan publik yang diperiksa;
4) tahun anggaran yang diperiksa;
5) identitas dan data umum yang diperiksa;
6) alasan pemeriksaan;
7) jenis pemeriksaan;
8) tujuan pemeriksaan;
9) sasaran pemeriksaan;
10)
metodologi pemeriksaan;
11)
kriteria pemeriksaan;
12)
langkah atau prosedur pemeriksaan; dan
13)
Program Kerja Perorangan
Program Kerja Perorangan (PKP) merupakan alokasi kegiatan pemeriksaan
yang akan dilaksanakan berdasarkan P2, yang disusun oleh Anggota Tim dan
diajukan kepada Ketua Tim untuk direviu dan disetujui oleh Ketua Tim, setelah
memperhatikan pertimbangan pengendali teknis.
Manfaat PKP antara lain:
1) Untuk memperjelas prosedur atau langkah-langkah pemeriksaan yang harus
dilakukan oleh anggota tim;
2) Untuk memastikan kelengkapan data yang harus diperoleh dalam kurun
waktu pemeriksaan;
3) Sebagai dasar Ketua Tim dan Pengendali Teknis untuk memantau pekerjaan
lapangan yang dilakukan/tidak dilakukan oleh Anggota Tim;
4) Sebagai batasan tanggung jawab Anggota Tim terhadap hasil pemeriksaan;
5) Sebagai bahan pembelajaran bagi pemeriksa lain yang memeriksa
entitas/program/kegiatan sejenis;
6) Sebagai bahan penilaian kinerja individu pemeriksa terkait tugas
pemeriksaan.
Penyusunan Program Kerja Perorangan
Sampai dengan saat ini, BPK belum memiliki format standar dalam menyusun
PKP Pemeriksaan Kinerja. Praktik yang dilakukan adalah dengan menerjemahkan
langkah-langkah pemeriksaan kedalam kegiatan yang spesifik yang harus
dilakukan Anggota Tim, seperti criteria pemeriksaan yang harus diuji, teknik
pemerolehan dan pengujian data, sumber bukti yang harus dikunjungi/dianalisa
dan waktu pelaksanaannya.
Ilustrasi kondisi tersebut, dapat dilihat dalam format PKP adalah sebagai berikut:

Halaman 16 dari 17

Pendokumentasian
Seluruh kajian pemeriksa mengenai tahap penyusunan program pemeriksaan di
tingkat entitas harus didokumentasikan. Pendokumentasian program
pemeriksaan berupa P2 dan PKP, dan disimpan sebagai KKP indeks A.

Halaman 17 dari 17