Anda di halaman 1dari 5

Tijauan pustaka Boraks

Raike.2007.BoraxStruktur. http://commons.wikimedia.org/wiki/File:BoraxStruktur.jpg (diakses14


Mei2015

Pada awalnya boraks dikenal dengan aktivitasnya sebagai


bahan antiseptic yang dapat digunakan untuk bahan pembersih,
pengawet kayu, dan herbisida. Namun, saat ini boraks tidak
digunakan hanya sebagai pembersih saja tetapi digunakan untuk
pengental atau pengawet makanan. Dengan adanya boraks, adonan
dapat menjadi lebih lentur dan elastis, sehingga tidak cepat melebar
atau sagging. Boraks banyak digunakan oleh industry kecil atau
industry rumah tangga, dalam pembuatan adonan mie, gendar,
atau kerupuk gendar (kerupuk nasi) (Winarno., 1994).
Boraks memiliki rumus molekul Na2B4O7.10H2O. Mempunyai
bobot

molekul

61,81

dengan

bentuk

serbuk

hablur

Kristal

transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta
agak manis. Senyawa asam borat memiliki titik lebur sekitar 171oC,
larut dalam 18 bagian air dinginm 4 bagian air mendidih, 5 bagian
gliserol 85% dan tidak larut dalam eter. Kelarutan dalam air
bertambah dengan penambahan asam klorida, asam sitrat atau
asam tetrat. Mudah menguap dengan pemanasan dan kehilangan
satu molekul airnya pada suhu 100oC yang secara perlahan
berubah menjadi asam metaborat (HbO2). Asam borat merupakan
asam lemah dan garam alkalinya bersifat basa (Cahyadi, 2008).

Dalam air, boraks merupakan campuram natrium metaborat dan


asam borat, sedangkan dalam suasana asam, boraks terurai
menjadi asam borat. Boraks berbentuk Kristal putih, tidak berbau
dan stabil pada suhu dan tekanan normal (Syah, 2005).
Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk menguji
kandungan boraks pada makanan yaitu uji kandungan boraks
secara kualitatif dan kuantitatif. Uji kandungan secara kualitatif
meliputi metode sentrifugasi yaitu dengan melakukan sentrifugasi
bahan makanan yang akan di uji lalu dicampur dengan air panas
kemudian diblender halus dan dimasukkan dalam sentrigugasi
(diputar selama 2 menit dengan kecepatan 3000 rpm) sehingga
diperoleh

dan

dengan

metode

pengabuan

dengan

cara

menambahkan garam dapur pada makanan uji lalu dikeringkan di


dalam

oven

hinga

menjadi

abu.

Selanjutnya

abu

maupun

supernatant dapat diuji dengan mengunakan H2SO4 pekat lalu


dibakar dengan nyala api atau dengan menambahkan beberapa
tetes HCl 5 N lalu disaring dan hasil saringan ditambah 4 tetes asam
oksalat jenuh dan 1 ml kurkumin 1 % yang terlarut dalam methanol
setelah itu diuapkan di atas penangas air kemudian residunya
ditambahkan uap ammonia (Rohman, 2007).
Uji kandungan boraks dengan metode kuantitatif dapat
dilakukan dengan metode titrimetri. Metode titrimetri merupakan
metode yang rumit dalam menguji kandungan boraks dalam
makanan. Namun, dengan metode ini tidak hanya diketahui apakah
makanan yang diuji positif mengandung boraks atau tidak, tetapi
juga bisa dikethui seberapa banyak boraks yang terkandung di
dalam makanan tersebut (Rohman, 2007).
Banyak ditemukan penyalahgunaan boraks sebagai bahan
tambahan pada makanan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian
terhadap makanan otak-otak di daerah bandung untuk menguji
apakah mengandung boraks dan menentukan kadar boraks yang
ditambahkan pada makanan. Uji kandungan boraks dilakukan
dengan uji kualitatif yaitu dengan metode pengabuan sampel

makanan lalu diuji dengan cara menambahkan H2SO4 pekat lalu


dibakar dengan nyala api yang dihasilkan untuk diidentifikasi. Uji
kandungan boraks secara kuantitatif dilakukan dengan metode
titrimetric. Sehingga dapat diketahui apakah otak-otak yang diambil
dari beberapa penjual mengandung boraks atau tidak.

Daftar pustaka
Syahetal.2005.ManfaatdanBahayaBahanTambahanPangan.HimpunanAlumniFakultas
TeknologiPertanianIPB,Bogor
Rohman, A. Sumantri, 2007. Analisa Makanan.Gadjah Madaa University Press.
Yogyakarta.
Winarno,F.G.,1994.BahanTambahanMakanan.GramediaPustakaUtama,Jakarta.
Raike.2007.BoraxStruktur. http://commons.wikimedia.org/wiki/File:BoraxStruktur.jpg (diakses14
Mei2015

Metode
Alat
Alat

yang

digunakan

adalah

buret,

cawan

penguap,

tabung

erlenmeyer, timbangan analitik, spatel, kertas saring, korek api dan


gelas ukur.
Bahan
Bahan yang digunakan adalah indicator fenol dan metil jingga,
sampel otak-otak, methanol, larutan asam sulfat, larutan natrium
hidroksida, larutan asam oksalat, asam borat dan gliserin.
Preparasi sampel
Disiapkan 50 gram sampel makanan ditambahkan air 50 mL,
dihaluskan hingga menjadi bubuk kemudian dikeringkan pada oven
selama 2 jam dengan suhu 500oC.
Pembakuan HCl dengan boraks
Dibuat larutan baku HCl 0.05 N 500 mL dari HCl pekat 12 N.
Kemudian ditimbang 100 mg boraks dan dimasukkan ke dalam labu
Erlenmeyer dan ditambahkan aquadest 25 mL. Ditambahkan metil
merah. Kemudian dititrasi dengan HCl.
Identifikasi boraks dengan reaksi nyala

Sampel kering otak-otak ditimbang sebanyak 1 gram di cawan


penguap lalu ditambahkan 5 tetes H2SO4 pekat dan ditambahkan 1
mL CH3OH. Setelah itu, dinyalakan dengan korek api. Hasil positif
mengandung boraks apabila nyala api menjadi hijau.
Titrasi sampel dengan HCl 0.1 N
Dilarutkan 5 g sampel kering dalam 50 mL air. Titrasi dengan HCl
0.1 N indicator metil merah hingga warna berubah kuning menjadi
merah. Dididihkan larutan (5 menit), jika larutan berubah menjadi
kuning, maka titrasi dilanjutkan hingga merah kembali. Lalu
ditambahkan gliserin netral 15 mL, titrasi dengan NaOH sampai
warna kuning kembali.
Hasil pembakuan HCl dengan boraks
Volume boraks
10 mL
10 mL
10 mL

Volume HCl
10.3 mL
10.3 mL
10.7 mL

Hasil pembakuan NaOH dengan asam oksalat


Volume As.
Oksalat
10 mL
10 mL
10 mL

Volume NaOH
9.2 mL
9.4 mL
9.1 mL

Titrasi sampel
Sampel Otak-otak
triplo
Sampel I
Sampel II
Sampel III
Sampel Otak-otak
triplo
Sampel I
Sampel II
Sampel III

Volume HCl
2.2 mL
2.1 mL
1.7 mL

Volume NaOH
0 mL
0 mL
0 mL