Anda di halaman 1dari 6

TUGAS RESUME GEOTEKNIK

Measured and Back Analysed Soil Structure Interaction Effects in a Layered


Stratigraphy During Tunnel Boring-G.V Matthew dan Barry M. Lehane

Disusun oleh :
1. Dwi Menur Mandriati S.
2. Dai Bianda
3. Gerson Yosef Tappang

(270 110 110 150)


(270 110 110 047)
(270 110 110 048)

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014

Pendahuluan

Saat ini pergerakan tanah dan bangunan yang terjadi dalam suatu area
pembangunan terowongan belum begitu dipahami dikarenakan adanya efek
struktur-struktur tanah yang terbentuk secara alami. Breth dan Chambosse (1974)
mengatakan bahwa pembangunan memberikan respon pada pembebanan dan
deformasi suatu struktur tanah. Terdapat kriteria dari kerusakan-kerusakan akibat
pembebanan tersebut. Estimasi kerusakan dapat diklasifikasikan berdasarkan
distorsi sudut serta tegangan lateral, yang dapat diukur berdasarkan observasi
lapangan, tes model fisik, dan studi parameter numerik (Son dan Cording, 2005).
Menurut Frischmann (1994) efek dari interaksi antara struktur tanah dapat
mengurangi kestabilan dari rangka terowongan serta perubahan bentuk dari
stabilitas terowongan tersebut. Meskipun prediksi pergerakan bangunan
terowongan masih terbatas isu belaka, telah banyak penelitian ilmiah yang
membuktikan adanya pergerakan-pergerakan suatu bangunan, yang sebagian besar
dikarenakan oleh masalah teknis pembangunan. Pada paper ini nantinya akan
dijelaskan studi numerik dari interaksi struktur tanah untuk dua indikasi kerusakan
bangunan yang terjadi pada pembangunan terowongan di pusat kota Perth,
Australia Barat. Paper ini juga akan menjelaskan potensi dari analisis penggunaan
Elemen Finit 2D dan 3D guna memprediksi adanya efek dari interaksi tanah.
Selain itu juga akan dijelaskan mengenai efek dari tipe-tipe tanah, kepadatan
tanah, dan kekuatan pembangunan yang mampu mempengaruhi pergerakan
bangunan terowongan.

Kondisi Pembangunan Terowongan, Rangka Bangunan, dan Areal Bawah


Tanah
Pembangunan terowongan yang akan diteliti ini berada pada pusat bisnis
sentral dan melingkupi 2 terowongan sepanjang 1 km yang dibangun dengan
menggunakan Tunnel Boring Machine (TBM). Setiap terowonngan memiliki
diameter 6,9 m serta ketebalan 275 mm. Terowongan ini juga dikenal memiliki
dua buah bangunan diatasnya yang disebut dengan Malaysian Airlines Building

(MAS) dan Bangunan Walsh. Terowongan dibangun pada kedalaman 17 m di


bawah permukaan tanah. Bangunan MAS dibangun pada tahun 1929 dengan
dimensi area sebesar 18,5 x 11,2 m. Sedangkan Bangunan Walsh memiliki
dimensi sebesar 35 m x 53 m, yang dibangun pada tahun 1930.

Analisis Numerik
Analisis perhitungan Elemen Finit 2D menggunakan Plaxis (Versi 9.02)
untuk memprediksi dan mengukur efek interaksi struktur tanah pada bangunan
MAS dan Walsh. Sedangkan analisis 3D untuk Elemen Finit menggunakan Plaxis
3D (Versi 2.4). Pada beberapa layer bangunan, terdapat lapisan lempung yang
diasumsikan sebagai pergerakan kecil yang mempengaruhi suatu bangunan.
Analisis tanah 2D menggunakan elemen triangular dengan nodes sebanyak 15,
yang mewakili interpolasi pergerakan dan integrasi numerik sebanyak 12 Gauss.
Sedangkan analisis model 3D menggunakan 15 node dan 6 Gauss untuk membuat
model 3D nya.

4.1 Modelling Bangunan dan Terowongan


Dalam melakukan input parameter untuk sebuah bangunan harus dipilih
berdasarkan kajian dari struktur keteknikannya ( Airey et al. 2004 ). Sehingga
pada permodelan ini harus menggunakan kajian dari struktur keteknikan
bangunan aslinya sehingga menggunakan 450mm kolom persegi yang dimodelkan
sebagai gedung MAS diletakan ditengah antara 2.5 dan 5 m dan di suport oleh
300 x 450 mm balok serta lempeng setebal 250 mm. strip footingsnya memiliki
ketebalan 1.2 m. Sedangkan bangunan Walsh menggunakan 500 mm kolom
persegi yang di letakan diantara 5m dan 7m didukung 350 mm x 650 mm balok
dan lempeng setebal 250mm. Plate element digunakan untuk permodelan
komponen gedung ini dan harga equivalent axial stiffness ( EA ) dan flexural
rigitdity ( EI ) berdasarkan lebar meter. Modulus elasticitas ( E ) dari beton

diasumsikan sebesar 20Gpa, terowongan dimodelkan dengan kulit elastic dengan


modulus 35Gpa, possion rationya 0.15 dan ketebalannya 0.275 m. Dead Load
( DL ) dari 5 kpa dan live load ( LL ) dari 3 kpa diasumsikan untuk load take
down calculations

4.2 Modeling dari Penggalian Terowongan 2D


Dalam permodelan penggalian terowongan, bangunan tersebut dapat
diaktifkan setelah digunakannya parameter kering untuk semua jenis tanah untuk
membawa kondisi stress ke estimated in situ valuesnya. Tanah dan air
dipindahkan dari bangunan tersebut dan lapisan-lapisan mulai dibuat pada
bangunan tersebut sebagaimana mestinya. Pada tahapan selanjutnya volumetric
contraction diplikasikan ke initial tunnel volume untuk dimodelkan tunnelling
induced volume lossesnya. Pada tahap akhir, perubahan jangka panjang yang
didasarkan pada pembuangan berikutnya dari kelebihan pori-pori tekanan di tanah
liat yang dihasilkan oleh terowongan yang digali itu dihitung. Akan tetapi tekanan
spesiment, tekanan permukaan, dan TBM thrust tidak dimoedlkan dalam 2D
analyses

4.3 Modelling dari Pembangunan Terowongan 3D


Analisis Elemen Finit 3D digunakan dalam pembangunan MAS. Awalnya
model cross-section 2D dibuat lalu dikembangkan untuk menghasilkan suatu
permodelan 3D. Perlu diperhatikan bahwa penggunaan Plaxis 3D tidak
diperuntukkan untuk permodelan yang awalnya sudah menjadi 3D. Pada sumbu y
(dengan pengukuran 80 m), model dibagi menjadi panjang linier 1,2 m yang
dilebarkan menjadi 25 m.
Pada analisis model ini diketahui bahwa TBM memiliki panjang 8,4 m dan
diameter 6,9 m. Konstruksi angunan terowongan melingkupi 25 tahap pembuatan
termasuk diantaranya :

1. Adanya efek tekanan terhadap muka angunan, untuk mencegah terjadinya


kegagalan dalam penggalian terowongan.
2. Adanya massa tanah yang hilang serta volume tanah yang berkurang.
3. Instalasi dari pembuatan terowongan melalui perhitungan TBM kembali.
4. Aplikasi dari perhitungan TBM awal serta TBM akhir.

Model Tanah dan Seleksi Parameter


Analisis pengukuran model tanah dan seleksi parameter menggunakan tes
triaxial. Data-data yang dihimpun dari Formasi Perth yang diolah menggunakan
tes triaxial menunjukkan bahwa adanya ikatan-ikatan kaku pada bagian atas dan
bawah tanah yang menghasilkan tanah dengan kandungan mineral finit sebesar
<40% - >40%. Penggunaan model HSSmall menghasilkan nilai Ko sebesar 0,5
yang diasumsikan sebagai pasir Spearwood (berdasarkan data tekanan dari
Schneider (2008)). Terkait dengan bangunan MAS dan Walsh, harga Ko sebesar
1,0 dan tekanan POP sebesar 700 kPa diestimasi melalui ter laboratorium dan
diasosiasikan sebagai endapan lempung dan pasir (sangat terkonsolidasi) Formasi
Perth (Lehane et al, 2007).
Pada pasir Spearwood ini juga menunjukkan nilai sudut friksi dengan
massa jenis relatif sebesar 4510%, dimana dapat diestimasi sudutnya sebesar 35
(Schneider et al, 2008), yang dapat diasumsikan sebagai pasir lempungan, lanau
lempungan, dan lempung lanauan pada Formasi Perth. Perhitungan ini juga tidak
terlalu berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mengasumsikan bahwa sudut
friksi sebesar 33, 30, dan 28.

Analisis Numerik dari Interaksi Struktur Tanah


Pada bagian paper ini akan dijelaskan perbandingan pengukuran
pergerakan dari bangunan MAS dan Walsh menggunakan analisis Elemen Finit

2D serta 3D. Untuk mengobesrvasi kekuatan bangunan MAS dan Walsh yang
dibangun diatas terowongan 1 dan terowongan 2 dapat menggunakan analisis
Elemen Finit 2D. Dari analisis ini dapat diketahui bahwa terdapat pergerakan
transversal pada bangunan MAS yang berpengaruh pada kekuatan bangunan
terowongan 1 maupun 2 (terlihat pada analisis 3D). Sedangkan pada bangunan
Walsh, analisis pergerakan pada terowongan 1 dan 2 menunjukkan respon yang
fleksibel. Respon yang fleksiben ini sangat kontras dengan bangunan MAS
dikarenakan adanya perbedaan rasio panjang dan lebar dari bangunan Walsh.
Analisis 2D menunjukkan adanya pengaruh dari efek kekakuan bangunan
terhadap pergerakan tanah yang dapat disebabkan oleh pembangunan terowongan
pada lapisan-lapisan yang khusus. Prediksi ini menunjukkan adanya pengaruh dari
pergerakan transversal yang ditunjukkan oleh kalkulasi pergerakan Elemen Finit
tersebut. Oleh karena itu kehadiran dari bangunan sangat berpengaruh signifikan
terhadap efek pergerakan yang terjadi di bawah tanah tersebut.

Kesimpulan
Pada bangunan MAS yang diteliti, didapatkan nilai rasio transverse
sebesar 0,7, sedangkan bangunan Walsh didapatkan rasio transverse sebesar 1,9.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kehadiran dari struktur-struktur yang kaku
pada bangunan MAS berpengaruh pada hilangnya kestabilan tanah dibandingkan
jika tidak ada strukturut-struktur seperti ini. Baik analisis Plaxis 2D maupun 3D
menunjukkan bahwa adanya keterkaitan khusus antara pergerakan bangunan dan
struktur-struktur yang teramati di Perth. Oleh karena itu, walaupun pergerakan
areal bangunan akibat pembangunan terowongan tidak dapat dibuktikan secara
terperinci, namun analisis Elemen Finit mampu meyediakan informasi kualitatif
adanya efek interaksi dari struktur tanah tersebut.