Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
Hematokolpos berasal dari kata Yunani Hemato dan colpos yang artinya darah
dan vagina. Hematokolpos adalah suatu gejala klinis yang di sebabkan karena kondisi
obstruksi pada aliran darah mestruasi pada vagina yang di karenankan oleh himen
imperforata.
Hematokolpos yaitu terdapatnya kumpulan darah menstruasi akibat kegagalan
pembentukan lubang pada himen ketika masa embrional. Dalam masa pembentukan alat-alat
kelamin dapat mengalami beberapa gangguan. Kegagalan dalam pertumbuhan dan
perkembangan alat kelamin pada umumnya dan kelamin wanita pada khususnya dapat
mengalami berbagai bentuk kelainan bawaan, di antaranya tidak terdapatnya bibir kemaluan
(bibir besar dan kecil menyatu), hymen (selaput dara) dan tidak sagama (vagina), septum
vagina melintang, liang senggama dupleks (ganda).
Pengobatan pada pasien dengan selaput dara tidak berlubang tidak di lakukan bila di
ketahui pada masa sebelum menstruasi. Kadang tidak di sadari oleh orang tua, anak
mengeluhkan tidak pernah menstruasi, padahal teman sebayanya sudah mengalami
menstruasi secara teratur. Keluhan yang di ungkapkan oleh wanita adalah tidak pernah
menstruasi umur 17-18 tahun, di sertai nyeri perut setiap bulan. Untuk mengatasi keadaan ini
dokter melakukan insisi (sayatan) silang sehingga darah yang tertimbun dapat keluar dengan
sendirinya.

BABII
PEMBAHASAN
2.1 Embriologi Sistem Reproduksi Wanita
Dalam perkembangan embrio, pada hari kedua puluh satu setelah konsepsi akan
terbentuk genital ridge yang berasal dari proliferasi intermediate mesoderm. Genital
ridge ini terbentang dari kranial ke kaudal dari embrio yang merupakan asal dari
seluruh alat genital, kecuali vulva,uretra dan vagina bagian bawah.

Pada minggu ke-5 dan ke-6, terbentuk saluran Muller (Muller duct) atau saluran
paramesonefros yang berjalan kanan kiri yang berasal dari but Coelomic epithelium.
Pada minggu ke-7 dan 8 sampai minggu ke-12 terjadi penggabungan (fusi) dari kedua
saluran Muller pada bagian distalnya, sedangkan pada bagian proksimal masih tetap
terpisah. Bagian distal setelah berfusi, kemudian akan terjadi rekanalisasi sehingga
terbentuklah vagina dan uterus. Sedangkan bagian proksimal saluran Muller yang tidak
mengadakan fusi akan membentuk tuba fallopii. Vagina bagian bawah atau distal
dibentuk dari sinus urogenitalis. Pada tingkat permulaan sekali, kloaca akan terbagi dua
menjadi hindgut dan sinus urogenitalis karena terbentuknya septum urorektal yang
berasal dari mesoderm yang tumbuh ke bawah.
Pada waktu saluran Muller berfusi, ujung distalnya bersentuhan dengan sinus
urogenitalis, sehingga terjadi suatu invaginasi dari sinus urogenitalis dan disebut
Mullerian Tubercle. Dari daerah ini terjadi proliferasi dari sinus urogenitalis sehingga
terbentuk bilateral sino-vaginal bulbs. Kanalisasi dari sino-vaginal bulbs ini akan
membentuk vagina bagian bawah. Proses ini berlangsung sampai minggu ke 21. Bagian
sino-vaginal bulb yang pecah tidak sempurna akan menjadi selaput hymenalis.
Sedangkan bagian sinus urogenitalis yang berada di atas tuberkel akan menyempit

membentuk uretra, dan vestibulum vulva di mana uretra dan vagina bermuara (terbuka).
Beberapa penelitian terakhir mengatakan bahwa saluran vagina sebenarnya sudah
terbuka dan berhubungan pada uterus dan tuba bahkan pada kehidupan embrional awal.
Sebagian besar peneliti menyatakan bahwa vagina berkembang di bawah pengaruh
saluran Muller dan stimulasi estrogen. Secara umun disepakati bahwa vagina terbentuk
sebagian dari saluran Muller dan sebagian lagi dari sinus urogenital.

Gambar
2. Potongan sagital skematik yang memperlihatkan pembentukan uterus dan vagina
pada berbagai tingkat perkembangan

Gambar

3.

Gambar skematik yang memeperlihatkan pembentukan uterus dan vagina (A) Pada 9
minggu, (B) Pada akhir bulan ke-3, (C) Baru lahir
Jadi, bagian vagina atas (tiga perempat bagian) terbentuk dari saluran Muller dan
bagian distal dari sinus urogenital. Terjadinya gangguan dalam perkembangan kedua
jaringan (saluran) embrional ini akan menyebabkan timbulnya kelainan vagina, uterus
dan tuba follopii.

2.2 Anatomi Sistem Reproduksi Wanita

Genitalia eksterna

Mons pubis / mons veneris


Bagian yang menonjol dan terdiri dari jaringan lemak yang menutupi
bagian depan symphisis pubis, terbentuk dari tuberkel genital. Normalnya,
pada awal pubertas akan tumbuh rambut kasar berwarna hitam diatas mons
pubis. Selama masa reproduksi, rambut pubis sangat lebat, tetapi menjadi
jarang setelah menopause. Saraf-saraf sensorik mons pubis adalah nervus
ilioinguinal dan nervus genitofemoral.
Mons pubis mendapatkan aliran darah dari arteri dan vena pudenda
eksterna. Saluran limfe bergabung dengan saluran limfe dari bagian lain vulva
dan abdomen superfisial. Persilangan peredaran limfe labia di dalam mons
pubis sangat penting secara klinis karena memungkinkan terjadinya

penyebaran metastasis kanker dari satu sisi vulva ke kelenjar inguinal di sisi
yang berlawanan serta sisi yang terkena.
b

Labia mayora
Berupa dua buah lipatan jaringan lemak, berbentuk lonjong dan
menonjol yang berasal dari mons veneris dan berjalan kebawah dan ke
belakang yang mengelilingi labia minora. Homolog embriologik dengan
skrotum pada pria. Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia
mayora.
Terdiri dari 2 permukaan, yaitu bagian luar yang menyerupai kulit biasa
dan

ditumbuhi rambut,

lendir dan mengandung

dan
banyak

bagian dalam
kelenjar sebacea.

menyerupai

selaput

Kelenjar

sebasea

berhubungan dan bermuara ke dalam folikel rambut. Namun, pada labia minor
yang tidak berambut, kelenjar sebasea bermuara ke permukaan. Pada saat
pubertas, kelenjar ini menghasilkan cairan berminyak dengan sedikit berbau.
Cairan ini melumasi dan melindungi kulit dari iritasi oleh sekret vagina.
Labia mayora kiri dan kanan bersatu di bagian belakang dan batas depan
dari perinium disebut Commisura posterior/frenulum.
Dari korpus perineum, labia mayor kemudian meluas ke anterior
mengelilingi labia minor dan bergabung dengan mons pubis. Labia normalnya
tertutup pada wanita nulipara tetapi kemudian semakin lama akan semakin
terbuka karena persalinan per vaginam dan menjadi tipis serta atrofi dengan
rambut yang jarang pada usia lanjut.
Kelenjar keringat subkutan terdapat di seluruh tubuh kecuali dibawah
labia minor atau batas labia berwarna merah terang. Normalnya, sekresi cairan
kelenjar keringat kecil yang bergelung (ekrin) yang tidak mempunyai rambut,
tidak berbau. Kelenjar keringat besar yang bergelung (apokrin) yang bermuara
ke dalam folikel rambut ditemukan di seluruh mons, labia mayor dan perineum
serta aksila. Kelenjar ini yang mulai mengeluarkan cairan berbau pada saat

pubertas menjadi lebih aktif selama menstruasi dan kehamilan. Kelenjar


keringat dikontrol oleh sistem saraf simpatik.
Labia mayor mendapat suplai darah dari arteri pudenda interna (berasal
dari bagian parietal anterior arteri iliaka interna atau arteri hipogastrikia).
Drainase melalui vena pudenda interna dan eksterna.
Di bagian anterior, labia mayor dipersarafi oleh nervus ilioinguinal dan
nervus pudendus. Dibagian lateral dan posterior dipersarafi oleh nervus
kutaneus femoralis posterior.
c

Labia minora
Lipatan kulit yang memanjang, yang kecil, dan sempit, antara labia
mayor dan introitus vagina. Labia minor berasal dari lipatan kulit dibawah
klitoris yang berkembang. Pada nulipara, labia minor normalnya merapat,
menutupi introitus. Di posterior, labia minor menyatu pada fourchette. Labia
terpisah dari himen, suatu selaput yang menandai jalan masuk ke vagina atau
introitus. Di anterior, setiap labia bergabung di garis median dan bersatu
berbentuk frenulum klitoris, suatu lipatan posterior yang menjadi prepusium
klitoris. Labia minor tidak mempunyai folikel rambut ataupun kelenjar
keringat tetapi kaya akan kelenjar sebasea.
Ukurannya dapat membesar dengan stimulasi hormon dari ovarium.
Tanpa stimulasi estrogen labia nyaris tidak tampak. Persarafan labia minor
melalui nervus ilioinguinal, pudendus, dan hemoroidalis. Aliran darahnya
berasal dari arteri pudenda interna dan eksterna.

Clitoris
Berukuran 2-3 cm, ditemukan pada garis tengah, sedikit anterior meatus
uretra. Tersusun atas dua korpus kecil yang erektil, masing-masing melekat ke
periosteum simfisis pubis dan sebuah struktur yang lebih kecil (glans
klitoridis) yang banyak sekali mendapat persarafan sensoris. Glans sebagian
ditutupi oleh labia minor dan lebih sensitif dari pada badannya

. Klitoris mendapat persarafan dari nervus pudendus dan hipogastrik


serta saraf simpatis pelvis dan mendapat aliran darah dari arteri dan vena
pudenda interna.

Jumlah

pembuluh

darah dan

klitorissangat sensitif terhadap


tekanan. Fungsi utama

persyarafan yang

banyak

suhu, sentuhan

membuat
dan sensasi

klitoris adalah menstimulasi dan

meningkatkan kereganganseksual.
e

Vestibulum
Merupakan rongga dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet,
batas

lateral

labia

minora.

Berasal

dari

sinus

urogenital.

Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum, introitus


vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri.
Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.
Daerah segitiga di antara labia minor yang berada di anterior muara
uretra dan pada posterior dibatasi oleh orifisium vagina disebut vestibulum
vagina. Ditutupi oleh epitel skuamosa tipis yang berlapis. Meatus urinarius
terlihat sebagai celah anteroposterior atau huruf v terbalik. Ditutupi oleh epitel
transisional. Dipersarafi oleh nervus pudendus dan diperdarahi oleh arteri dan
vena pudenda interna.

Introitus / orificium vagina

Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan


tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.
Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi,
dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae.
Akibat coitus atau trauma lain, hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi
tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk fimbriae). Bentuk himen
postpartum disebut parous.
Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang
tampak pada wanita pernah melahirkan. Hymen yang abnormal, misalnya
primer tidak berlubang (hymen imperforata) menutup total lubang vagina,
dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna.

Kelenjar Bartholini dan Skene


Kelenjar yang penting didaerah vulva karena dapatmengeluarkan lendir
tetutama meningkat saat hubungan seks.
Tepat di dalam uretra, pada bagian posterolateral, terdapat dua lubang
kecil yang menuju duktus tubuler yang dangkal atau kelenjar skene yang
merupakan sisa duktus wolfii. Dilapisi oleh sel transisionil. Persarafan dan
suplai darah sama dengan vestibulum

Ostium Uretra
Walaupun

bukan

merupakan

sistem

reproduksi

sejati, namundimasukkan ke dalam bagianini karana letaknya menyatu dengan


vulva.Biasanya terletak sekitar2,5 cm dibawak klitoris.
i

Hymen
Berupa selaput tipis yang cukup elastis yang biasanya menutupi sebagian
kanalis vaginalis tetapi jarang menutupinya secara total. Persarafan dilalui oleh
nervus pudenda dan suplai darah dari vena pudenda dan hemoroidalis inferior.
Biasanya

hymenberlubang sebesar ujung

jari berbentukbulansabit atau sirkular sehingga darah


menstruasidapat keluar.Namun kadang kala
ada banyaklubangkecil(kribriformis),bercelah (septata), atau

berumbaitidakberaturan(fimbriata).Padatipe himen fimbriata,

pada

gadissulitmembedakannyadenganhimen yang sudah mengalami penetrasi saat


koitus.

Tepat diluar himen terdapat kelenjar paravagina, vulvovagina atau


kelenjar bartolini. Suatu saluran sempit berukuran 1-2 cm menghubungkan
setiap lubang kecil ini dengan kelenjar kecil, datar, dan menghasilkan mukus,
yang terletak antara labia minor dan dinding vagina.

Perineum

Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot
diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis
(m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra).Perineal body
adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina.
Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi)
untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.

Genitalia interna
a

Vagina
Vagina

adalah

liang

atau

saluran

muskulomembranosa

yang

menghubungkan vulva dengan rahim, berbentuk tabung mulai dari tepi cervix
uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral yang
terletak di antara kandung kencing dan rectum.
Ukuran panjang dinding depan vagina (= 9 cm) lebih pendek dari
belakang (= 11 cm). Pada dinding vagina terdapat lipatan-lipatan yang berjalan
sirkuler dan disebut: rugae, terutama pada bagian bawah vagina. Setelah

melahirkan, sebagian dari rugae akan menghilang. Walaupun disebut selapur


lender vagina, selaput ini tak mempunyai kelenjar-kelenjar sama sekali
sehingga tak dapat menghasilkan lender, mungkin lebih baik disebut kulit. Ke
dalam puncak vagina, menonjol ujung dari serviks yang menonjol ke dalam
dan disebut portio. Oleh portio ini, puncak vagina dibagi dalam 4 bagian ialah
fornix anterior, fornix posterior, fornix lateral kanan dan fornix lateral kiri.
Fungsi penting dari vagina ialah sebagai (a) saluran keluar dari uterus
untuk mengalirkan darah haid dan secret lain dari uterus, (b) alat untuk
bersenggama, (c) sebagai jalan lahir pada waktu partus. Sel-sel dari lapisan
atas epitel vagina mengandung glikogen. Glikogen ini menghasilkan asam
susu oleh karena adanya basil-basil Doderlein hingga vagina mempunyai
reaksi asam dengan pH = 4.5 dan ini memberi proteksi terhadap invasi kumankuman.
b

Uterus

Dalam keadaan tidak hamil terdapat dalam ruangan pelvis minor di


antara vesika urinaria dan rectum. Permukaan belakang sebagian besar tertutup
oleh peritoneum sedangkan permukaan depannya hanya di bagian atasnya saja.
Bagian bawah dari permukaan depan melekat pada dinding belakang vesika
urinaria. Uterus merupakan alat yang berongga dan berbentuk sebagai bola
lampu yang gepeng dan terdiri dari 2 bagian:
1

Corpus uteri berbentuk segitiga

Cervix uteri berbentuk silindris


Bentuk dan ukuran uterus sangat berbeda-beda tergantung usia dan
pernah melahirkan anak atau belum. Sebelum pubertas, panjangnya

bervariasi antara 2,5-3,5 cm. Uterus wanita nulipara dewasa panjangnya


antara 6-8 cm, sedangkan pada wanita multipara panjangnya 9-10 cm. Berat
uterus wanita yang belum dan sudah pernah melahirkan juga bervariasi
antara 50-70 g pada yang belum pernah melahirkan, dan 80 g atau lebih
pada yang sudah pernah. Hubungan antara panjang korpus uteri dan
panjang serviks juga sangat bervariasi. Pada anak perempuan pramenarke,
panjang korpus kurang lebih setengah panjang serviks. Pada wanita
nulipara, panjang keduanya kira-kira sama. Sedangkan pada wanita
multipara, serviks hanya sedikit lebih panjang dari sepertiga panjang total
organ ini.

Sebagian besar korpus uteri terdiri dari otot, tetapi tidak demikian halnya
dengan serviks. Permukaan dalsm dinding anterior dan posterior uterus
hamper bersentuhan, rongga di antaranya hanya merupakan celah sempit. Pada
penampang frontal, rongga korpus berbentuk segitiga. Kanalis servikalis
berbentuk fusiformis dengan lubang kecil pada kedua ujungnya, yaitu os
interna dan os eksterna. Pada wanita yang pernah melahirkan, tepi uterus
menjadi cekung bukannya cembung, dan karenanya bentuk segitiga rongga
uterus menjadi tidak jelas terlihat lagi.
Setelah menopause, ukuran uterus berkurang sebagai konsekuensi dari
atrofi miometrium dan endometrium. Anomali congenital pada fusi mullerian

menyebabkan sejumlah kelainan uterus yang dapat dideteksi dengan


hysterosalpingogram atau MRI.
Dinding rahim secarahistologik terdiri dari 3 lapisan:

Lapisan serosa (lapisan peritoneum), di luar


Meliputi dinding rahim bagian luar. Menutupi bagian luar uterus.
Merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat dan pembuluh darah limfe
dan urat syaraf. Peritoneum meliputi tuba dan mencapai dinding abdomen.

Lapisan otot (miometrium), di tengah, terdiri otot polos yang disusun


sedemikian rupa sehingga dapat mendorong isinya keluar pada persalinan.
Otot uterus terdiridari 3 lapisan:

Lapisan luar:
Lapisan seperti kap melengkung melalui funduns menuju ke arah ligament.
Lapisan dalam:
Merupakan serabut-serabut otot yang berfungsi sebagai sphincter terletak
pada ostium internum tubae da orificium uteri internum.
Lapisan tengah:
Terletak antara ke dua lapisan di atas, merupakan anyaman serabut otot
yang tebal ditembus oleh pembuluh-pembuluh darah, jadi dinding uterus
terutama dibentuk oleh lapisan tengah ini.Masing-masing serabut
mempunyai 2 lengkungan hingga keseluruhannya berbentuk angka 8,
dengan struktur seperti ini setelah persalinan serabut-serabut ini

berkonstriksi dan menekan pembuluh darah, jadi bekerja sebagai penjepit


pembuluh darah, dengan demikian pendarahan dapat terhenti.

Lapisan mukosa (endometrium), di dalam. Pada endometrium didapatkan


lubang-lubang kecil, merupakan muara-muara dari saluran-saluran kelenjar
uterus yang dapat menghasilkan sektret alkalis yang membasahi cavum
uteri. Epitel endometrium berbentuk silindris. Tebalnya, susunan dan
faalnya berubah secara siklis karena dipengaruhi oleh hormone-hormon
ovarium.

Ligamen-ligamen Uterus:
1

Ligamentum Latum (Broad Ligament)


Berupa lipatan peritoneum sebelah lateral ka. Ki. Dari uterus, meluas
sampai ke dinding panggul dan dasar panggul, sehingga seolah-olah
menggantung pada tubae.Ruangan antara kedua lembar dari lipatan ini terisi
oleh jaringan yang longgar, disebut parametrium, di mana berjalan arteria,
vena uterine, pembuluh lympha dan ureter.

Ligamentum Rotundum (lig. Teres uteri; Round ligament)

Terdapat di bagian atas lateral dari uterus, caudal dari insertie tuba,
keuda ligament ini melalui canalis inguinalis inguinalis ke bagian cranial
lab.majus.Terdiri dari jaringan otot polos (identik dengan myometrium) dan
jaringan ikat dan menahan uterus dalam anteflexie.Pada waktu kehamilan
mengalami hypertrophied an dapat diraba dengan pemeriksaan luar.

Ligamentum infundibulo pelvicum (lig. Suspensorium ovarii)


Dua buah kiri kanan dari infundibulum dan ovarium ke dinding
panggul. Ligamentum ini menggantungkan uterus pada dinding panggul.
Antara sudut tuba dan ovarium terdapat ligamentum ovarii proprium.

Ligamentum cardinal
Kiri kanan dari serviks setinggi ostium uteri internum ke dinding
panggul.

Menghalangi

pergerakan

kiri

atau

ke

kanan.

belakang

ke

sacrum

Ligamentum sacro uterinum


Kiri

kanan

dari

serviks

mengelilingirectum.

ke

Ligamentum vesico uterinum


Dari uterus ke kandung kencing.

Pembuluh darah uterus:

sebelah

a.uterine:
Berasal dari arteri hypogastrica (cabang utama arteria Iliaca Interna) yang
masuk uterus melalui ligamentum latum kira-kira setinggi ostium uteri
internum dan memberi darah pada uterus dan bagian atas vagina dan
mengadakan anastomose dengan a.ovarica. Uterina terbagi menjadi dua,
sebagian kecil menjadi arteria servicovaginalis kearah bawah, dan sebagian
besar berjalan kearah atas melalui dinding lateral uterus.

a.ovarica:

Cabang langsung dari Aorta yang memasuki ligamentum latum


melalui ligamentum infundibulopelvicum. Didaerah hillus ovarii, arteria
ovarica terbagi menjadi sejumlah cabang kecil yang masuk ovarium.
Cabang utama arteria ovarica selanjutnya berjalan sepanjang mesosalphynx
dan memberi darah pada ovarium, tuba, dan fundus uteri.
Darah dari uterus dialirkan melalui vena uterine dan vena ovarica
yang sejalan dengan arterinya hanya vena ovarica kiri tidak masuk langsung
ke dalam vena cava inferior, tapi melalui vena renalis kiri.
Pembuluh lympha dari cervix menuju lymphoglandulae hypogastricae
sedangkan dari corpus uteri sebagian ke lympho glandulae lumbales.

Serat-serat saraf uterus


Kontraksi dinding uterus adalah autonom, tidak memerlukan rangsang
dari susunan saraf pusat. Serat-serat saraf yang datang dari susunan saraf
pusat rupanya hanya untuk mengkoodinir kontraksi.Uterus dipengaruhi oleh
serat-serat saraf simpatis maupun parasimpatis yang menuju ke ganglion
servikal

dari

Frankenhauser

yang

terletak

di

pangkal

lig.sacro

uterinum.Rangsang pada ganglion ini misalnya berupa tekanan oleh kepala


anak dapat menguatkan his.
c

Ovarium
Ovarium merupakan bangunan oval di dan kiri uterus berukuran kirakra 5x3x1,5 cm pada masa reproduksi. Ovarium terletak di fossa ovarica
( fossa Waldeyer), yaitu suatu cekungan pada percabangan a. Iliaca ekserna
dan a. Hipogastrika. Vaskularisasi berasal dari a. Ovarica dan a.Uterina.
Ovarium diikat oleh dua ligamenta yaitu ligamentum ovarii proprium
yang menggantungkan ke uterus dan ligamentum suspensorium ovarii
(infundibulo-pelvicum) yang menggantungkan ke dinding lateral panggul.
Selain fungsi utama sebagai temat pematangan sel-sel germinal, ovarium
juga berfungsi sebagi sumber produksi hormon- hormon.
Pada ovarium dibedakan :

Permukaan medial yang menghadap kea rah cavum Douglasi dan


permukaan lateral.

Ujung atas yang berdekatan dengan tuba dan ujung bawah yang lebih dekat
dengan uterus (ekstremitas tubaria dan ekstremitas uterine).

Pinggir yang menghadap ke muka (margomesovaricus) melekat pada


lembar belakang lig.latum dengan perantaraan mesovarium dan pinggir
yang menghadap ke belakang (margo liber).

Ovarium terdiri dari bagian luar


(cortex) dan bagian dalam (medulla). Pada cortex terdapat folikel-folikel
primordial. Pada medulla terdapat pembuluh darah, urat saraf dan pembuluh
lympha.
2.3 Fisiologi alat reproduksi uvanita
Berdasarkan fungsinya alat reproduksi wanita mempunyai 3 fungsi, yaitu:
a

Fungsi Seksual
Alat yang berperan adalah vulva dan vagina. Kelenjar pada vulva yang dapat
mengeluarkan cairan, berguna sebagai pelumas pada saat sanggama. Selain itu vulva
dan vagina juga berfungsi sebagai jalan lahir.

Fungsi Hormonal
Yang disebut fungsi hormonal ialah peran indung telur dan rahim didalam
mempertahankan ciri kewanitaan dan pengaturan haid. Perubahan-perubahan fisik
dan psikis yang terjadi sepanjang kehidupan seorang wanita erat hubungannya
dengan fungsi indung telur yang menghasilkan hormon-harmon wanita yaitu
estrogen dan progesteron.
Dalam masa kanak-kanak indung telur belum menunaikan fungsinya dengan
baik. ketika indung telur mulai berfungsi, yaitu kurang lebih pada usia 9 tahun,
mulailah ia secara produktif menghasilkan GCan hormonh wanita. Hormon-hormon
ini mengadakan interaksi dengan hormon-hormon yang dihasilkan kelenjar-kelenjar
di otak. Akibatnya terjadilah perubahan-perubahan fisik pada Wanda. terjadi
pertumbuhan payudara, kemudian terjadi pertumbuhan rambut kemaluan disusul
rambut-rambut di ketiak. Selanjutnya terjadilah haid yang pertama kali, disebut
menarche, yaitu sekitar usia 10-16 tahun.

Menurunnya fungsi indung telur ini sering disertai gejala-gejala panas,


berkeringat, jantung berdebar, gangguan psikhis yaitu emosi yang labil. Pada saat ini
terjadi pengecilan alat-alat reproduksi dan kerapuhan tulang.
c

Fungsi reproduksi
Tugas reproduksi dilakukan oleh indung telur, saluran telur dan rahim. Sel
telur yang setiap bulannya dikeluarkan dari kantung telur pada saat masa subur akan
masuk kedalam saluran telur untuk kemudian bertemu dan menyatu dengan sel
benih pria ( spermatozoa ) membentuk organisme baru yang disebut Zygote, pada
saat inilah ditentukan jenis kelamin janin dan sifat -sifat genetiknya. Selanjutnya
zygote akan terus berjalan sepanjang saluran telur dan masuk kedalam rahim.
Biasanya pada bagian atas rahim zygote akan menanamkan diri dan berkembang
menjadi mudigah. Mudigah selanjutnya tumbuh dan berkembang sebagai Janin yang
kemudlan akan lahir pada umur kehamilan cukup bulan. Masa subur pada siklus
haid 28 hari, terjadi sekitar hari ke empatbelas dari hari pertama haid. Umur sel telur
sejak dikeluarkan dari indung telur hanya benumur 24 jam, sedangkan sel benih pria
berumur kurang lebih 3 hari.
HEMATOKOLPOS

Definisi
Hematokolpos berasal dari kata Yunani Hemato dan colpos yang artinya darah
dan vagina. Hematokolpos adalah suatu kondisi obstruksi pada aliran darah mestruasi pada
vagina yang di sebabkan oleh Himen Imperforata.
Hematokolpos merupakan suatu keadaan dimana darah terkumpul di dalam vagina
dan berangsur-angsur dapat bertambah banyak membentuk gumpalan yang mirip kista dan
biasanya di temukan pada penderita dengan Himen Imperforata yang merupakan kelainan
kongenital akibat atresia himen, yaitu selaput dara tanpa adanya hiatus himen.
Etiologi
Himen imperforata merupakan suatu malformasi kongenital. Himen Imperforata tanpa
mukokolpos yang berasal dari jaringan fibrous dan jaringan lunak antara labium minora sulit
di bedakan dengan tidak adanya vagina. Aplasia dan atresia vagina terjadi karena kegagalan
perkembangan duktus mullerian, sehingga vagina tidak terbentuk dan lubang vagina hanya
berupa lekukan kloaka.

Kelainan kongenital Himen Imperforata secara pasti belum jelas, akan tetapi beberapa
peneliti, ada yang menganggap karenaadanya gangguan pada gen autosomal resesif,
gangguan pada transmited sex-linked autosomal dominan. Penyebab lainnya mungkin
berhubungan dengan kegagalan apoptosis atau berkaitan dengan gangguan hormonal seperti
kurangnya reseptor esterogen, selain itu bisa pengaruh keluarga dan bahan teratogenik.
Patofisiologi
Darah menstruasi dari satu siklus menstruasi pertama atau kedua yang terkumpul di
vagina belum menyebabkan peregangan vagina dan belum menimbulkan gejala. Darah yang
terkumpul di dalam vagina (hematokolpos) menyebabkan himen tampak kebiruan dan
menonjol (himen buldging) akibat meregangnya mukosa himen.
Bila keadaan ini di biarkan berlanjut maka darah haid akan mengakibatkan over
distensi vagina dan kanalis serviks, sehingga terjadi dilatasi dan darah haid akan mengisi
kavum uteri (Hematometra). Tekanan intrauterin mengakibatkan darah dari kavum uteri juga
dapat memasuki tuba falopi dan menyebabkan hematosalping karena terbedntuknya adhesi
(perlekatan) pada fimbriae dan ujung tuba, sehingga darah tidak masuk atau hanya sedikit
yang dapat masuk ke kavum peritoneum membentuk hematoperitoneum bahkan dapat terjadi
iritasi yang dapat menyebabkan peritonitis.
Gambaran klinis
Tanda dan gejala dari kelainan ini sering di jumpai pada usia 11-15 tahun saat anak
perempuan tersebut sudah mulai mengalami menarke. Adanya bendungan darah pada cavum
vagina dan cavum uteri ini menyebabkan rasa nyeri yang hebat pada bagian bawah abdomen
yng di sebut juga molmina mestrualia.
Penderita dengan Hematokolpos menunjukan gejala amenorea. Gadis yang
bersangkutan mengalami keluhan nyeri berkala yang kurang jelas dan kadang di sertai sakit
perut menetap. Pada amenorea primer dengan keluhan yang tidak jelas, harus di pikirkan
kemungkinan atresia himen.
Keluhan khas, pada Himen Imperforata yaitu sekali sebulan selama beberapa hari
mengalami sakit perut. Biasanya gadis itu sendiri, ibunya, maupun dokter tidak memikirkan
kemungkinan haid bila belum pernah ada. Keluhan miksi mungkin berupa polakisuri
karena kapasitas buli-buli menjadi kecil, sedangkan keluhan defekasi umumnya tidak
menonjol.

Pada pemeriksaan perut, di dapatkan benjolan perut bagian bawah yang tidak jelas
asalnya,

yang

sebenarnya

merupakan

hematokolpos.

Kadang

hematometra,

atau

hematosalphing dapat di raba melalui palpasi perut. Pada ispeksi vulva, terlihat atresia himen
yang berwarna kebiruan dan biasanya menonjol. Pada pemeriksaan colok dubur dapat di
tentukan besar dan luasnya gumpalan darah di alat kelamin bawah. Hematometra sering sukar
di temukan pada pemeriksaan fisik karena kurang besar, demikian pula hematosalping.
Hematoperitoneum mungkin tidak bergejala.
Untuk menentukan ada dan luasnya perdarahan di uterus, tuba, dan rongga perut, di
lakukan pemeriksaan ultrasonografi.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding atresia himen antara lain kehamilan, retensi urin, peritonitis
tuberkulosa, kista ovarium, dan aplasia vagina. Untuk memastikan diagnosis di lakukan
anamnesis untuk mendapatkan riwayat amenorea primer serta inspeksi dan colok dubur.
Pada neonatus atau gadis kecil, vagina mungkin terisi oleh cairan lendir. Keadaan ini di
sebut hirokolpos.
Diagnosa
Ada beberapa pemeriksaan yang dapat mendiagnosa Himen Imperforata yaitu :
A. Anamnesa dan pemeriksaan fisik
Pada anamnesa dapat di ketahui bahwa pasien merupakan wanita usia pubertas,
namun belum pernah menarke. Selain itu pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah
setiap bulannya dan gangguan saat BAK dan BAB serta pasien tidak pernah di
diagnosa penyakit kista atau tumor. Pada pemeriksaan fisik dapat di jumpai adanya
hiatus himenalis, hematokolpos atau himen buldging serta hematometra yang di
tandai adanya masa yang teraba di suprapubik.
B. Pemeriksaan imaging
Pada USG dapat segera di diagnosa hematokolpos atau hematometra. Pada
hematometra terdapat gambaran hipoechoic di dalam cavum uteri. Sedangkan pada
hematokolpos dapat gambaran hipoechoic pada kanalis servikalis dan vagina. Apabila
dengan USG tidak jelas, di perlukan pemeriksaan MRI untuk mengetahui apakah ada
anomali kongenital traktus urinaria yang menyertai.
Tata laksana

Terapi Himen Imperforata ialah himenektomi. Sesudah pembedahan, penderita di


rawat dalam posisi setengah duduk Fowler selama 2-3 hari jika di temukan banyak gumpalan
darah tua kental.
Apabila himen imperforata di jumpai sebelum pubertas, membran himen di lakukan
insisi/ himenotomi dengan cara sederhana dengan melakukan insisi silang atau do lakukan
pada posisi 2, 4, 8 dan dan arah jarum jam di sebut insisi stellate.
Pendapat lain mengatakan, bila di jumpai himen imperforata pada anak kecil atau
balita tanpa menimbulkan gejala, maka keadaan di awasi sampai anak lebih besar dan
keadaan anatomi lebih jelas, dengan demikian dapat di ketahui apakah yang terjadi adalah
himen imperforata atau aplasia vagina.
Pada insisi silang, tdak di lakukan nsisi pada membrane himen, sementara pada insisi
stellate setelah insisi di lakukan eksisi pada kuadran himen dan pingir mukosa himen di
proksimasi dengan jahitan mempergunakan benang delayed-absorbable. Setelah di lakukan
insisi akan keluar darah berwarna merah tua kehitaman yang kental, tindakan insisi saja tanpa
di sertai eksisi dapat mengakibatkan membran himen menyatu kembali dan obstruksi
membran himen terjadi kembali.
Untuk mencegah terjadinya jaringan parut dan stenosis yang menyebabkan
dispareunia, eksisi jaringan jangan di lakukan terlalu dekat dengan mukosa vagina. Sebaiknya
sesudah tindakan penderita di baringkan dalam letak fowler. Selama 2-3 hari setelah
pembedhan darah tetap akan mengalir, di sertai dengan pengecilan vagina dan uterus.
Kemudian vagina di dilatasi dengan menggunakan Busi Hedgar. Selain itu pemberian
antibiotik profilaksis juga di perlukan.
Evaluasi vagina dan uterus perlu di lakukan sampai 4-6 paska pembedahan, bila
uterus tidak mengecil perlu di lakukan pemeriksaan inspeksi dan dilatasi serviks unuk
memastikan drainase uterus berjalan dengan lancar. Bila hematokolpos belum keluar,
instrumen intra uterin jangan di pergunakan karena bahaya perforasi dapat terjadi akibat
peregangan uterus yang berlebihan. Perdarahan, jaringan parut dan stenosis dari lubang
vagina adalah komplikasi utama dari prosedur ini.
Komplikasi
Penanganan dengan teknik operasi yang baik jarang menimbulkan komplikasi, namun
dapat juga terjadi komplikasi sebagai berikut :

Infertilitas

Nyeri pelvis
Endometriosis
Abses tuba ovarium

Prognosis
Prognosis secara klinis umumnya baik. Angka kesembuhan mencapai 90% kasus wanita
dengan himen imperforata dapat mengalami siklus menstruasi normal dan kehamilan seperti biasanya.

BAB III
KESIMPULAN
Jadi, hematokolpos merupakan suatu manifestasi klinis yang di timbulkan oleh
kelainan kongenital yang di sebabkan oleh Himen Imperforata. Definisi hematokolpos sendiri
merupakan adanya suatu kumpulan darah menstruasi pada vagina akibat tidak terdapatnya
saluran keluar atau tidak terbentuknya meatus himen ketika masa embrional. Hematokolpos
ini dapat menyebar sampai ke uterus atau yang di namakan hematometra dan bahkan sampai
ke tuba fallopi atau yang di sebut dengan hematosalping. Gejala klinis pada penderita dengan
adanya hematokolpos adalah terdapatnya nyeri yang periodik setiap bulannya dan himen juga
tampak kebiruan dan menonjol (Himen buldging).