Anda di halaman 1dari 7

HUKUMAN KEBIRI BAGI FEDOFILIA

Dalam arti sempit, penyakit fedofilia adalah penyakit ketagihan


seksual pada anak dibawah umur. Dalam arti luas, fedofilia sering
didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja
yang telah mulai dewasa (pribadi dengan usia 16 atau lebih tua) biasanya
ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada
anak prapuber (umumnya usia 13 tahun atau lebih muda, walaupun
pubertas dapat bervariasi). Anak harus minimal lima tahun lebih muda
dalam kasus pedofilia baru dapat diklasifikasikan sebagai pedofilia.
Menurut Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM), pedofilia
adalah parafilia di mana seseorang memiliki hubungan yang kuat dan
berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi tentang anak-anak
prapuber dan di mana perasaan mereka memiliki salah satu peran atau
yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan interpersona. Orang yang
berpenyakit fedofilia ini seperti predator atau pembunuh berdarah dingin
karena tidak bisa terdeteksi oleh kasat mata.
Sumber hukumnya :
KUHP
Pasal KUHP yang mengatur mengenai pencabulan ada dalam pasal 289296.
Pasal 289 KUHP
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukannya perbuatan
cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kesusilaan,
dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.
Pasal 290 KUHP
Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun:

Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal


diketahui bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya;

Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang padahal


diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum
lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum
mampu dikawin

Barangsiapa membujuk seseorang yang diketahui atau sepatutnya


harus diduga bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau
umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin, untuk

melakukan atau membiarkan perbuatan cabul atau bersetubuh


diluar perkawinan dengan orang lain
Pasal 292 KUHP
Orang yang cukup umur yang melakukan perbuatan cabul dengan ornag
lain sama kelamin, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa
belum cukup umur, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun.
Pasal 293 KUHP

Barangsiapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang,


menyelahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan keadaaan,
atau dengan menyesatkan sengaja menggerakkan seseorang belum
cukup umur dan baik tingkah-lakunya, untuk melakukan atau
membiarkan dilakukannya perbuatan cabul dengan dia, padahal
tentang belum cukup umurnya itu diketahui atau selayaknya harus
diduga, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap


dirinya dilakukan kejahatan itu.

Tenggang tersebut dalam pasal 74, bagi pengaduan ini adalah


masing-masing 9 bulan dan 12 bulan.

Pasal 294 KUHP


Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak
tirinya, anak angkatnya, anak daibawah pengawasannya yang belum
cukup umur, atau dengan orang yang belum cukup umur yang
pemeliharaannya,
pendidikannya atau penjagaannya diserahkan
kepadanya, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:

Pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang


karena jabatan adalah bawahannya, atau dengan ornag yang
penjagaanya dipercayakan atau diserahkan kepadanya:

Seorang pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh


dalam penjara, tempat pekerjaan negara, tempat pemudikan,
rumah piatu, rumah sakit ingatan atau lembaga sosial yan
melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke
dalamnya.

Pasal 295 KUHP


Diancam:

Dengan penjara paling lama 5 tahun, barangsiapa dengan sengaja


menghubungkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul
oleh anaknya, anak tirinya, anak tirinya, anak angkatnya atau anak
yang dibwah pengawasannya yang belum cukup umur atau oleh
orang yang belum cukup umur pemeliharaannya, pendidikan atau
penjaaannya diserahkan kepadanya ataupun bujangnya atau
bawahannya yang belum cukup umur, dengan orang lain.

Dengan pidana penjara paling lama em[at tahun, barangsiapa


dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan
cabul kecuali tersebut ke-1 diatas yang dilakukan oleh orang yang
diketahui belum cukup umurnya atau yang sepatutnya harus diduga
demikian, dengan orang lain.

Jika yang bersalah, melakukan kejahatan itu sebagai pencaharian


atau kebiasaan, maka pidana dapat ditambah sepertiga.

Pasal 296 KUHP


Barangsiapa dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan
perbuatan cabul oleh orang lain dengan orang lain dan menjadikannya
sebagai pencaharian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara
paling lama satu tahun empat bulan, atau denda palig banyak seribu
rupiah.
UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Pada UU Perlindungan Anak yang mengatur mengenai pencabulan
terdapat pada pasal 82 dan 88.
Pasal 82
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman
kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan,
atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan
perbuatan cabul, dipidana dengan penjara paling lama 15 tahun dan
paling singkat 3 tahun dan denda paling banyak 300 juta rupiah dan
paling sedikit 60 juta rupiah.
Pasal 88
Setiap orang yang mengeksploitasi ekonomi atau seksual anak dengan
maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dipindana
dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan atau denda paling
banyak 200 juta rupiah.
UU No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam
Rumah Tangga (KDRT)

Pada UU anti KDRT, tidak ditemukan pasal khusus mengenai pencabulan,


namun pasal 46 dan 47 dapat dipakai, namun dalam hal ini bila telah
terjadi adanya kekerasan seksual dalam rumah tangga.
Pasal 46
Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan seksual sebagaimana
dimaksud pada pasal 8 huruf a (pemaksaan hubungan seksual dengan diri
sendiri) dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun
atau denda paling banyak Rp 36 juta.

PRO :
1. Seringkali kasus fedofilia hanya mendapat hukuman paling lama 5
tahun penjara, seperti yang terdapat dalam pasal 292 KUHPidana.
Padahal secara hukum pelaku fedofilia harus dikenai sanksi yang
tercantum dalam UU no 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Namun pada prakteknya hakim sering memberikan putusan hanya 5
tahun penjara dan selalu mengacu pada KUHPidana. Hal ini sangat
bertentangan dengan adanya asas lex specialis derogat legi
generalis. Dimana UU no 23 tahun 2002 merupakan peraturan yang
lebih khusus dibandingkan dengan pasal 292 KUHPidana. Tak jarang
pula pelaku fedofilia diberikan vonis bebas.
2. Namun, menurut pemerintah sanksi dalam KUHPidana maupun
dalam UU no 23 tahun 2002 itu belum cukup berat dan
menimbulkan efek jera dibandingkan dengan penderitaan seumur
hidup yang harus diderita korban. Tak hanya penderitaan fisik yang
susah untuk hilang, namun juga trauma yang bahkan bisa berefek
panjang. Hal ini disetujui juga oleh ketua umum Komnas
Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dan Persiden Susilo
Bambang Yudhoyono.
3. Agar dapat menimbulkan efek jera salah satunya dengan suntik
kebiri (kebiri kimia). kastrasi [kebiri] ini bukan dalam bentuk fisik
dipotong alat kelaminnya, tetapi diberikan hormon atau bahan kimia
lain, dengan pemberian hormon itu dampak terhadap yang
bersangkutan lama. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan
kastrasi kimia itu merupakan salah satu bentuk pengobatan yang
sudah dilakukan di sejumlah negara sebagai pencegahan bagi
pelaku kejahatan seksual. Untuk mencegah kejahatan seksual ini,
pelaku akan diperiksa secara psikologis dan medis untuk
mengendalikan libidonya.
4. Hukuman suntik kebiri ini telah diterapkan disejumlah negara
lainnya. antara lain Korea Selatan, Turki, Moldova dan Inggris,
Inggris telah menerapkan hukuman ini sejak lama. Karena fedofilia
termasuk kejahatan luar biasa.
5. Suntik kebiri tidak bisa menjamin 100 persen sang pelaku tidak
akan mengulangi kembali perilaku jahatnya. Namun, dengan adanya
hukuman suntik kebiri ini maka efek jera akan timbul. Pelaku akan

berfikir dua kali untuk kembali melakukan aksinya. Memang tidak


otomatis berhenti. Meski sudah dihukum kalau dorongan itu masih
sangat tinggi pasti dia akan mencoba melakukannya lagi. Tapi paling
tidak hukuman tersebut dapat menimbulkan efek jera.
6. Hukuman ini memang belum tercantum dalam Undang undang
namun dapat menjadi terobosan hukum oleh hakim, selama belum
ada revisi undang-undang. Atau jika dirasa mendesak, pemerintah
dapat menerbitkan peraturan pengganti undang-undang atau
perpu. Hakim juga dapat menggunakan hak yurisprudensinya untuk
menentukan hukuman kebiri ini bagi sang pelaku fedofilia.
7. Contoh kasus fedofilia :

Ahmad Sobadri alias Emon, 24 tahun, menyodomi 73 bocah


laki-laki di Sukabumi.

Pencabulan seorang bocah di Jakarta International School.

Pada 2001 seorang turis dari Italia, Mario Manara, mencabuli


12 bocah di Pantai Lovina, Buleleng, Bali.

8. Cara mencegah fedofilia salah satunya melalui Mabes Polri dengan


cara meminta masyarakat lebih proaktif dalam perlindungan anak.
Kepekaan masyarakat terhadap kondisi anak-anak dan orang di
sekitarnya akan membantu mencegah terjadinya kasus pedofilia.
"Bila sudah terjadi, sesegera mungkin melapor ke aparat setempat.

KONTRA :
1. Hukuman kebiri melanggar HAM. Karea untuk pemberian hukuman
kebiri bagi pelaku kejahatan seksual perlu memperhatikan persoalan
hak asasi. hukuman kebiri tidak sesuai dengan konteks Indonesia,
karena negara ini menganut Hak Asasi Manusia (HAM). hukuman
yang mencoba menghilangkan atau mengubah bagian tubuh
seorang, seperti kebiri adalah melanggar HAM. kembali lagi ke
kesepakatan pembuat hukum. Kalaupun mau membuat hukuman
harus memperhatikan perspektif HAM dan hukuman inklusif.
kejahatan seksual jangan dilihat dari hukuman namun ada variabel
lain seperti pencegahan. Hukuman yang berlaku saat ini bagi pelaku
kejahatan seksual sudah setimpal. Hukuman 15 tahun sudah
membuat orang jera. Tergantung dari keputusan Hakim yang seadil
adilnya karena lamanya hukuman penjara yang diberikan pada
pelaku fedofilia adalah kebijakan dari Hakin itu sendiri.

2. Hukuman kebiri tidak tertuang dalam Kitab Undang-Undang Hukum


Pidana di Indonesia. Dan tidak tercantum dalam UU no 23 tahun
2002.
3. Hukuman kebiri ini dapat mengakibatkan pelaku pedofilia itu bunuh
diri karena merasa frustrasi setelah dikebiri, pihak pembuat aturan
pun terancam jerat pidana. Kalau orang gantung diri karena dikebiri,
DPRD dan gubernur yang tanda tangan nanti bisa dihukum dalam
hukum pidana. Karena termasuk dalam perencanaan tindak pidana.
Memang hukuman ini tidak membunuh secara langsung namun
dapat menimbulkan efek frustasi dan hal itu tentunya sangat
menyiksa, karena kodratnya manusia mempunyai nafsu dalam
bahasa agamanya kasih eros. Bila hak untung mempunyai nafsu
salah seorang warga negaranya diatur oleh negara maka negara
secara langsung melanggar undang undang yaitu keadilan sosial.
Negara harusnya melindungin hak warga negaranya bukannya
malah membatasi hak warganya terlebih hak seksualitas sehingga
menimbulkan akibat bunuh diri karena perlakuan negara.
4. Pelaku fedofilia bisa disembuhkan. Sebabnya, penyakit atau
kelainan fedofilia sama dengan penyakit lainnya. Tuhan beri
penyakit pasti ada obatnya.
5. Pelaku fedofilia dapat dihukum lebih berat tanpa menerapkan
hukuman
kebiri.
Karena
hukuman
penjara,
penyuluhan,
pembangunan karakter dan pelatihan sosial oleh para ahli serta
bimbingan agama pasti dapat memperbaiki prilaku dari penderita
kelainan fedofilia tersebut. Karena setiap manusia pasti bisa
berubah dan mau bertobat. Alangkah baiknya kita memberikan
kesempatan bagi para fedofilia untuk bertobat dan memperbaiki
kesalahannya. Tanpa melihat dengan sebelah mata dan
mengucilkan bahkan merampas hak seksualitasnya. Karena kita
juga harus mengerti dan memahami terkebih dahulu alasan serta
sebab ia melakukan penyimpangan ini.
6. Bila hukuman kebiri bagi pelaku fedofilia dilakukan, pemerintah dan
parlemen perlu mengamendemen Undang-Undang. Pemerintah dan
parlemen pun perlu mengkaji dampak dari penerapan hukuam kebiri
tersebut.Kalau ada kajian yang komprehensif, hukuman kebiri itu
tidak ada salahnya. Tapi apakah hukuman kebiri itu akan berdampak
positif atau negatif, itu perlu kita kaji.
7. Polisi telah menindak pelaku kejahatan seksual, seperti yang terjadi
di TK Jakarta International School (JIS). Kementerian Pemberdayaan

Perempuan dan Perlindungan Anak juga telah melakukan langkahlangkah untuk membantu polisi terkait kasus ini. Oleh karena itu,
yang diperlukan sekarang ini adalah aksi nyata, bukan hukuman
kebiri.
8. Cara mencegah :

Pengawasan terhadap anak dilakukan secara seksama,


terutama di lingkungan keluarga. Tidak hanya itu, perlu ada
respons yang cepat terhadap pelaku kejahatan seksual
terhadap anak.

Melakukan gerakan nasional pencegahan dan pemberantasan


kejahatan seksual terhadap anak. Kepedulian anak harus jadi
gerakan, movement, bukan hanya sebuah kebijakan
pemerintah, tetapi di seluruh Tanah Air, di rumah tangga, RT,
RW, dusun, kelurahan, sekolah. Yang paling tahu mungkin
keluarga, sehingga kewaspadaan, kepedulian, pengawasan,
harus masuk pada komunitas paling kecil.