Anda di halaman 1dari 18

Pengertian jamur juga merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat

heterotrof, tipe sel sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya terdiri
dari benang- benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang yang
disebut miselium. Pengertian jamur pada umumnya merupakan organisme multiseluler (bersel
banyak), eukariotik.
Fungi adalah mikroorganisme tidak berklorofil, berbentuk hifa atau sel tunggal, eukariotik,
berdinding sel dari kitin atau selulosa, bereproduksi seksual dan aseksual dalam dunia kehidupan
fungi merupakan kingdom tersendiri, karena cara mendapatkan makanannya berbeda dari
organisme eukariotik lainnya yaitu melalui absorbsi (Gandjar, 1999).
Sebagian besar tubuh fungi terdiri atas benang-benang yang disebut hifa yang saling
berhubungan berjalin semacam jala, yaitu miselium. Miselum dapat dibedakan atas miselium
vegetatif yang berfungsi menyerap nutrien dari lingkungan dan miselium fertil yang berfungsi
dalam reproduksi (Gandjar, 1999).
Reproduksi jamur berdasarkan pengertian jamurterbagi menjadi dua yaitu ada yang dengan cara
vegetatif ada pula dengan cara generatif. Selain memiliki berbagai macam cara untuk
berkembangbiak, jamur juga terdiri dari aneka macam jenis baik yang bermanfaat maupun yang
berbahaya/beracun. Saat ini sebagian besar jamur yang dibudidayakan masyarakat adalah jamur
yang bermanfaat, khususnya jamur konsumsi yang bisa dimakan atau dimanfaatkan sebagai obat.
Sebagai makhluk heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.
Cara hidup jamur lainnya adalah melakukan simbiosis mutualisme. Jamur yang hidup
bersimbiosis, selain menyerap makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang
bermanfaat bagi simbionnya.
Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada mikoriza, yaitu jamur yang
hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada liken. Jamur berhabitat pada bermacammacam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme. Meskipun kebanyakan hidup di
darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang
hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.

Dwidjoseputro, D.1994. Dasar Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan


Gandjar, Indrawati.1999. Pengenalan Kapang Tropik Umum. Jakarta : UI Press
Pelczar, Micheal. 2006. Dasar Dasar Mikrobiologi. Jakarta : UI Press
Waluyo, Lud.2007. Mikrobiologi Umum. Malang : UMM Press
3.KLASIFIKASI FUNGI ( JAMUR)
Klasifikasi jamur, berdasarkan cara reproduksi secara generative, jamur dapat dibagi
menjadi 4 kelas yaitu zygomycotina, ascomycotina, basidiomycotina, dan duotromycotina.
1.

Zygomycotina : Jamur kelompok ini namanya Zygomycotina karena dalam reproduksi


generatifnya menghasilkan zigot di dalam zigospora. Jamur Zygomycotina mempunyai cirri ciri
yaitu dinding selnya tersusun atas zat kitin, multiseluler, hifa tidak bersekat, mengandung inti
haploid, memiliki keturunan diploid lebih singkat, reproduksi generatife dengan konjugasi yang

2.

menghasilkan zigospora.
Ascomycotina : Jamur kelompok ini namanya Ascomycotina karena dalam reproduksi
generatifnya menghasilkan askuspora. Jamur ini termasuk kelas Ascomycotina mempunyai cirri
cirri yaitu dinding selnya tersusun atas zat kitin, uniseluler dan multiseluler, hifa bersekat,
membentuk badan buah yang disebut askospora, memiliki keturunan diploid lebih singkat,
reproduksi vegetatifnya dengan membentuk konidiospora, reproduksi generatifnya dengan

konjugasi yang menghasilkan askospora.


3. Basidiomycotina : Jmaur kelompok ini disebut Basidiomycotina karena dalam reproduksi
generatifnya menghasilkan basidiospora. Jamur yang termasuk kelas Basidiomycotina
mempunyai ciri ciri yaitu dinding selnya tersusun atas zat kitin, multiseluler, hifa, bersekat,
dibedakan hifa primer ( berinti satu ) dan sekunder ( berinti dua ), mengamdung inti haploid,
memiliki keturunan diploid lebih singkat, membentuk badan buah yang disebut basidikrop,
reproduksi vegetatife dengan menghasilkan basidiospra.
4.
Duotromycotina : Jamur kelompok ini disebut jamur imperfecti

( jamur tidak

sempurna ) atau Duotromycotina karena belum diketahui cara perkembangbiakan seksualnya.


Jamur yang termasuk Duotromycotina mempunyai ciri ciri yaitu dinding selnya tersusun atas
zat kitin, multiseluler, hifa bersekat, dibedakan tipe hifa lebih singkat, dan reproduksi
vegetatifnya dengan membentuk konidiospora ( Anonim A.2009 ).

Jamur diklasifikasikan berdasarkan cara reproduksi dan struktur tubuhnya. Dalam klasifikasi
dengan lima kingdom, jamur dibagi menjadi 4 divisi yaitu
1.Divisi Zygomycota
Tubuh Zygomycota terdiri dari benng hifa yang bersekat melintang, ada pula yang tidak bersekat
melintang. Hifa bercabang-cabang banyak dan dinding selnya mengandung kitin.
Contoh jamur ini adalah jamur yang tumbuh pada tempe, selain itu ada juga yang hidup secara
saprofit pada rotin, nasi, dan bahan makanan lainnya. Ada pula yang hidup secara parasit,
misalnya penyebab penyakit busuk pada ular jalar.
Jamur Zygomycota berkembangbiak secara aseksual dengan spora. Beberapa hifa akan tumbuh
ke atas dan ujungnya menggembung membentuk spoangium. Sporangium yang masuk berwarna
hitam. Spoangium kemudian pecah dan spora tersebar, spora jatuh di tempat yang sesuai akan
tumbuh membentuk benang baru.
Reproduksi secara seksual dilakukan sebagai berikut :
dua hifa yakni hifa betina (hifa -) dan hifa jantan (hifa +) betemu, kemudian inti jantan dan inti
betina melebu, terbentuk zigot yang berdinding tebal. Zigot menghasilkan kota spora yang
disebut zigosporangium dan sporanya disebut zygospora. Zygospora mengalamai dormansi
(istirahat) selama 1-3 bulan. Setelah itu zigospora akan berkecambah membentuk hifa. Hifa
jantan dan betina hanya istilah saja , dan disebut jantan, jika hifanya memberi isi sel, disebut
betina kalau menerima isi sel.
2.Divisi Ascomycota

Jamur Ascomycota

Ciri Khusus dari jamur Ascomycota adalah dapat menghasilkan spora askus (askospora), yaitu
spora hasil repoduksi seksual, berjumlah 8 spora yang tersimpan di dalam kotak spoa. Kotak
spora ini menyerupai kantong sehigngga disebut askus, untuk mengetahui bentuk dan stuktu
askus dibutuhkan pengamatan yang teliti.
a.Reproduksi secara sesksual
Reproduksi secara seksual dapat dijelaskansecara ingkas sebagai berikut. Hifa yang bercabangcabang ada yang berdifensiasi membentuk alat reproduksi betina yang ukurannya menjadi lebh
besar, yang disebut askogonium. Di dekatnya , dari ujung hifa lain terbentuk alat repoduksi
jantan yang disebut anteridium berinti haploid(n kromosom). Dari askogonium tumbuh saluran
yang menghubungkan antara askogonium dan anteridum. Saluran itu disebut trikogin. Melalui
saluran trikogin inilah inti sel dari anteidium pindah dan masuk ke dalam askogonium.
Selanjutnya, inti anteridium dan inti askogonium berpasanga. Setelah terbentuk pasangan inti,
dari askogonium tumbuh beberapa hifa. Hifa ini disebut sebagai hifa askogonium . Nah inin yang
berpasangan itu masuk ke dalam askogonium ,kemudian membelah secara mitosis, namun tetap
saja berpasangan. Setelah memasuki inti hifa askogonium teus tumbuh, membentuk sekat
melintang, dan bercabang-cabang banyak. Di ujung-ujung hifa askogonium ini terdapat dua int.
Ujung hifainilah yang kelak akan membentuk askus. Cabang-cabang hifa itu dibungkus oleh
miselium, bentuknya kompak,yang mudah menjadi tubuh buah atau askokarp.

Dua inti di dalam askus yang berasal dari ujung hifa itu membelah secara meiosis membentuk 8
buah spoa. Jadi, spoa tersebut terbentuk di dalam askus, karena itulah disebut spora askus. Spora
askus dapat tersebar kemana-mana karena angin. Jika jatuh di tempat yang sesuai spora askus
akan tumbuh menjadi benag hifa baru.
b.Reproduksi Secara Aseksual
Selain reproduksi secara seksual, jamur ini juga melakukan perkembangbiakkan secara aseksual
melalui pembentukan tunas, pembentukan konidia, fragmentas. Warna spora dan konidia
bemacam-macam. Ada yang hitam,coklat, bahkan kebiruan, dan juga ada yang merah oranye.
Ukuran tubuh Ascomycota ada yang mikroskopis (satu sel), ada yang makroskopis (dapat dilihat
dengan mata). Golongan jamur ini ada yang hidup saprofit, parasit dan ada pula yang
bersimbiosis.
Kesimpulan :Ascomycota
Hidup saprofit,parasit, ada yang bersimbiosis
Hifa bersekat melintang, bercabang-cabang
Reproduksi aseksual dengan tunas, fragmentasi, konidia
Reproduksi seksual dengan menghasilkan spora askus
3. Divisi Basidiomycota
Jamur Basidiomycota umumnya merupakan jamur makroskopik, dapat dilihat dengan mata
karena ukuannya yang besar. Pada musim penghujan dapat kita temukan pada pohon, misalnya
jamur kuping, jamur pohon, atau di tanah yang banyak mengandung bahan oganik, misalnya
jamur barat.
Bentuk tubuh buahnya kebanyakan mirip payung misalnya pada jamur merang yang kalian
amati. Basidiomycota ada yang dibudayakan misalnya jamur merang, jamur tiram, jamur
shiltake, dan lainnya, jamur-jamur tersebut merupakan makan yang bergizi tinggi.

Hifa Basidiomycota memiliki sekat melintang, berinti satu (monokaiotik) atau dua (dikariotik).
Miseliumnya berada pada substrat. Dari hifa dikariotik dapat muncul tubuh buah berbentuk
payung atau bentuk lain yang menjulang di atas substrat. Bagian tubuh buah inilah yang enak
dimakan. Tubuh buah atau basidiokarp merupakan tempat tumbuhnya basidium. Setiap basidium
menghasilkan 4 spora basidum.
Secara singkat daur hidup Basidiomycota :Hifa (+) bertemu hifa (-) inti dari hifa (+)pindah
ke hifa(-) hifa dikariotik tumbuh miselium muncul basidiokarpmembentuk
basidium spora basidium
Kesimpulan :Basidiomycota
Merupakan jamur makroskopik
Hifa bersekat melintang, monokariotik, atau dikariotik
Menghasilkan spora basidium dari reproduksi seksualnya
Reproduksi aseksual dengan Konidia
4.Divisi Deuteromycota
Deuteromycota atau jamur tak tentu. Jadi Deuteromycota bukanlah penggolongan yang sejati
atau bukan takson. Jika kemudian menurut penelitian ada jenis dari jamu ini yang diketahui
proses reproduksi seksualnya,maka akan dimasukkan ke dalam ascomycota atau Basidiomycota.
Sebagai cotnoh adalah jamur oncom yang mula-mula jamur ini berada di divisi deuteromycota
dengan nama Monilla Sithophila. Namun setelah diteliti ternyata jamur ini menghasilkan askus
sehingga dimasukkan ke dalam Ascomycota.
Jamur yang memiliki peranan yang menguntungkan diantaranya sebagai berikut (Pelczar, 1988):
Aspergillus niger. Jamur ini digunakan dalam pembuatan asam sitrat. Asam sitrat merupakan
salah satu asam organik yang banyak digunakan dalam bidang industri pangan misalnya pada
pembuatan permen dan minuman kemasan. Jamur ini sering mengontaminasi makanan misalnya
roti tawar.
2. Rhizopus oryzae. Jamur ini penting pada pembuatan tempe. Aktivitas jamur Rhizopus oryzae
menjadikan nutrisi pada tempe siap dikonsumsi manusia. Aktivitas enzim yang dihasilkan
menjadikan protein terlarut meningkat. Produk tempe kini juga telah dikembngkan menjadi
isoflavon yang penting bagi kesehatan.
1.

3.

Neurospora sitophila. Jamur ini merupakan sumber beta karoten pada fermentasi tradisional.
Produk oncom yang dikenal di Jawa Barat adalah hasil fermentasi yang dilakukan Neurospora
sitophila. Produksi spora untuk sumber beta karoten yang dapat disubstitusikan pada makanan
juga telah diteliti. Selain mampu memberikan asupan, beta karoten juga merupakan sumber
warna yang cukup menarik.
4. Monascus purpureus. Jamur ini dikalangan mikrobiolog jarang dikenal karena produk yang
dihasilkan. Mula pertama jamur ini ditemukan di Jawa namun menjadi produk utama Cina
dengan nama angkak. Angkak adalah fermentasi pada beras. Jamur ini menghasilkan pewarna
alami yang umumnya digunakan pada masakan Cina. Saat ini telah ditemukan adanya zat aktif
pada ngkak yang dapat membantu kesehatan dan telah dikemas dalam bentuk kapsul.
5. Penicillium sp. Jamur ini paling terkenal karena kemampuannya menghasilkan antibiotika yang
disebut pensilin. Sejak pertama kali dikenal terus digunakan sampai sekarang. Jamur pengasil
antibiotika saat ini telah banyak diketahui sehingga ragam antibiotik pun semakin banyak. Selain
itu pembuatan antibiotika, spesies yang lain juga digunakan dalam pembuatan keju khusus
KANDUNGAN JAMUR
Jamur telah digunakan selama ribuan tahun, baik sebagai makanan maupun bahan pengobatan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa jamur dapat meningkatkan produksi dan aktivitas sel-sel
darah putih, sehingga baik untuk melawan infeksi. Lalu apa saja kandungan nutrisi dalam jamur
yang membuatnya memiliki manfaat kesehatan yang begitu besar?

Protein. Jamur memiliki kandungan protein sebesar 2,2 gram dalam tiap 100 gram jamur
rebus atau memasok 4% kebutuhan protein dalam tubuh Anda.

Serat. Sebagai makanan yang masuk dalam kategori sayuran, jamur tentu juga kaya
serat. Dalam tiap 100 gram jamur rebus, terdapat 2,2 gram serat atau sekitar 9% dari
kebutuhan serat harian Anda.

Vitamin C. Tiap 100 gram jamur rebus akan memasok 4 mg vitamin C (7% kebutuhan
vitamin C harian). Vitamin ini sangat dibutuhkan untuk memelihara dan memperbaiki
sel-sel tubuh, juga mendukung penyembuhan luka.

Vitamin D. Vitamin D yang terkandung dalam 100 gram 100 gram jamur rebus mencapai
21 IU atau sekitar 5% dari kebutuhan tubuh. Vitamin D ini membantu penyerapan
kalsium di usus, di mana keduanya diperlukan untuk pertumbuhan tulang yang sehat.

Thiamin. Thiamin sangat berperan dalam metabolisme energi, terutama bagi sistem saraf
dan otot. Dan dalam 100 gram jamur rebus mengandung 0,1 mg thiamin (5% kebutuhan).

Riboflavin. Sebanyak 0,3 mg riboflavin terkandung dalam 100 gram jamur rebus. Ini
berarti dapat memasok 18% kebutuhan riboflavin atau vitamin B12 tubuh Anda. Vitamin

ini sangat penting bagi pembentukan sel darah merah, antibodi, pernafasan sel dan
sebagainya.

Niacin. Niacin atau vitamin B3 memiliki banyak fungsi dalam menghasilkan energi
dalam sel serta penting untuk sistem saraf dan otak Anda. Mengonsumsi 100 gram jamur
rebus akan memasok 4,5 mg niacin dalam tubuh Anda atau mencukupi 22% kebutuhan
niacin Anda.

Folat. Folat merupakan nutrisi yang penting untuk sintesa sel baru, sehingga ibu hamil
sangat perlu mencukupi folat dalam tubuhnya untuk menunjang pertumbuhan dan
perkembangan janin. Dan tiap 100 gram jamur rebus mengandung 18 mcg folat atau
memenuhi 5% kebutuhan harian folat Anda.

Asam Pantotenat. Tiap 100 gram jamur rebus memiliki kandungan 2,2 mg asam
pantotenat atau vitamin B5 (22% kebutuhan harian), yang sangat penting untuk
metabolisme karbohidrat dan lemak menjadi energi.

Bukan itu saja, selain mengandung protein dan vitamin yang penting bagi daya tahan tubuh,
jamur juga kaya mineral, seperti:

Tembaga. Tembaga merupakan mineral penting yang ikut berperan dalam pembentukan
sel darah merah atau hemoglobin. Dalam 100 gram jamur rebus mengandung 0,5 mg atau
memenuhi 25% kebutuhan tembaga tubuh Anda.

Besi. Zat besi juga merupakan salah satu mineral yang penting untuk sintesa sel darah
merah, juga merupakan komponen penting bagi berbagai fungsi tubuh. Dan dengan
mengonsumsi 100 gram jamur rebus, berarti Anda memasok 1,7 mg zat besi atau
memenuhi 10% kebutuhan zat besi harian Anda.

Potasium. Mencukupi kebutuhan potasium akan membantu tubuh terhindar dari stres
serta membantu fungsi sel-sel otot, saraf dan kelenjar dalam tubuh. Dan dalam 100 gram
jamur rebus mengandung 356 mg potassium (memenuhi 10% kebutuhan).

Fosfor. Fosfor pentingi untuk pembentukan tulang dan gigi. Dan dengan mengonsumsi
100 gram jamur rebus akan membantu mencukupi 9% kebutuhan fosfor Anda atau sekitar
87 mg.

Selenium. Selain bertindak sebagai antioksidan, trace mineral ini juga diyakini
memperbaiki sistem imunitas dan fungsi kelenjar tiroid. Dan tiap 100 gram jamur rebus
mengandung 11,9 mcg selenium atau memenuhi 17% kebutuhan selenium harian Anda.

MEDIA UNTUK MENUMBUHKAN JAMUR


PSA
Karena menggunakan sukrosa, rasanya nama media ini lebih baik diubah menjadi POTATO
SUCROSE AGAR alias PSA. Media PSA merupakan media umum yang kaya seperti halnya
PDA. Sejauh ini PSA bisa digunakan untuk menumbuhkan berbagai macam jamur/kapang atau
fungi, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Gonoderma sp, Pleurotus sp, Trichoderma sp,
Pholiota sp, Agraily sp, Phanerochaete chrysosporium, Murcor sp, Rhizopus sp, dan yeast.
APDA
Media APDA berfungsi untuk menumbuhkan dan menghitung jumlah khamir dan yeast yang terdapat
dalam suatu sampel. Khamir dan yeast akan tumbuh dengan optimal pada media yang sesuai. Adanya
asam tartarat dan pH rendah maka pertumbuhan bakteri terhambat. APDA dibuat dengan merebus
kentang selama 1 jam/45 menit, agar dilelehkan dalam 500 ml air. Campurkan ekstrak kentang dalam
agar lalu ditambahkan glukosa dan diaduk rata. Pada APDA jadi ini juga ditambah asam tartarat

Potato Dextrose Agar (PDA)


merupakan media yang sangat umum yang digunakan untuk mengembangbiakkan dan
menumbuhkan jamur dan khamir. Komposisi Potato Dextrose Agar ini terdiri dari bubuk
kentang, dextrose dan juga agar. Bubuk kentang dan juga dextrose merupakan sumber makanan
untuk jamur dan khamir.
Potato Dextrose Agar juga bisa digunakan untuk menghitung jumlah mikroorganisme
menggunakan metode Total Plate Count. Perindustrian seperti industri makanan, industri produk
susu dan juga kosmetik menggunakan PDA untuk menghitung jumlah mikroorganisme pada
sample mereka.
Karena fungsinya yang dapat mengembangbiakkan jamur, sekarang ini PDA juga banyak
digunakan oleh pembudidaya jamur seperti jamur tiram. Untuk memaksimalkan pertumbuhan

bibit jamur, biasanya pembudidaya mengatur kondisi pH yang rendah (sekitar 3,5) dan juga
menambahkan asam atau antibiotik untuk menghambat terjadinya pertumbuhan bakteri.
Medium PDB (Potato Dekstrosa Broth)
berdasarkan susunannya merupakan medium organik semi alamiah atau semi sintetis sebab
terdiri dari bahan alamiah yang ditambah dengan senyawa kimia; berdasarkan konsistensinya
merupakan medium cair karena tidak mengandung agar yang memadatkan medium; berdasarkan
kegunaannya merupakan medium umum yang dapat digunakan untuk pertumbuhan jamur.
Medium PDB terdiri dari kentang yang berfungsi sebagai sumber energi, nitrogen organik,
karbon dan vitamin, dekstrosa sebagai sumber karbon dan aquadest sebagai pelarut untuk
menghomogenkan medium dan sumber O2.
Medium TEA (Tauge Ekstrak Agar)
berdasarkan susunannya merupakan medium organik semi alamiah atau semi sintetis sebab
terdiri dari bahan alamiah yang ditambah dengan senyawa kimia; berdasarkan konsistensinya
merupakan medium padat karena mengandung agar yang memadatkan medium; berdasarkan
kegunaannya merupakan medium umum yang dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme secara
umum yang berfungsi untuk pertumbuhan bakteri dan jamur serta memiliki warna cream.
Medium TEA terdiri dari tauge yang berfungsi sebagai sumber energi, nitrogen organik, karbon
dan vitamin, sukrosa sebagai sumber karbon, agar sebagai bahan pemadat medium dan aquadest
sebagai pelarut untuk menghomogenkan medium dan sumber O2.Medium TEA digunakan untuk
menumbuhkan jamur (khamir dan kapang). Medium TEA ini, berdasarkan konsistensinya
termasuk dalam medium (solid medium). Berdasarkan fungsinya, TEA termasuk medium
penguji (assay medium), karena dapat digunakan untuk pengujian vitamin, asam-asam amino,
dan lain-lain. Melalui medium ini dapat diamati bentuk-bentuk koloni dan bentuk pertumbuhan
jamur
Komposisinya terdiri dari :
Tauge yang berfungsi sebagai sumber-sumber zat organik yang dibutuhkan oleh khamir.
Sukrosa merupakan sumber karbohidrat bagi khamir, dimana setelah mengalami fermentasi,
sukrosa akan berubah menjadi glukosa dan fruktosa yang juga dibutuhkan oleh khamir.
Bacto agar berfungsi memadatkan medium
Aquadest digunakan untuk melarutkan bahan pada medium tersebut.

Tauge Ekstrak Broth (TEB)


Medium Tauge Ekstrak Broth merupakan medium yang bersifat non sintetik. Sedangkan
berdasarkan konsistensinya, termasuk medium cair. Medium ini juga digunakan untuk
pertumbuhan dan pembiakan khamir. Komposisinya sama dengan medium TEA, hanya saja pada
medium ini, tidah ada penambahan agar untuk konsistensinya. oleh karena pada komposisinya
tidak terdapat agar sehingga medium ini disebut medium cair
PGYA
Media ini berfungsi untuk isolasi, enumerasi, dan menumbuhkan sel khamir. Dengan
adanyadekstrosa yang terkandung dalam media ini, PGYA dapat digunakan untuk
mengidentifikasi mikrobaterutama sel khamir. Untuk membuatnya, semua bahan dicampur
dengan ditambah CaCO3 terlebihdahulu sebanyak 0,5 g lalu dilarutkan dengan akuades.
Kemudian dimasukkan dalam erlenmeyer dandisumbat dengan kapas lalu disterilisasi pada suhu
121C selama 15 menit.
Media ini berfungsi untuk isolasi, enumerasi, dan menumbuhkan sel khamir. Dengan
adanya dekstrosa yang terkandung dalam media ini, PGYA dapat digunakan untuk
mengidentifikasi mikroba terutama sel khamir.

PEMBAHASAN

Siklus Hidup Jamur

Siklus Hidup Jamur melewati beberapa tahap atau fase. Kehidupan jamur berawal dari
spora (Basidiospora) yang kemudian akan berkecambah membentuk hifa yang berupa benangbenang halus. Hifa ini akan tumbuh ke seluruh bagian media tumbuh. Kemudian dari kumpulan
hifa atau miselium akan terbentuk gumpalan kecil seperti simpul benang yang menandakan
bahwa tubuh buah jamur mulai terbentuk. Simpul tersebut berbentuk bundar atau lonjong dan
dikenal dengan stadia kepala jarum (pinhead) atau primordia. Simpul ini akan membesar dan
disebut ilah kancing kecil (small button). Selanjutnya stadia kancing kecil akan terus membesar
mencapai stadia kancing (button) dan stadia telur (egg). Pada stadia ini yang tadinya tangkai dan
tudung yang tadinya tertutup selubung universal mulai membesar. Selubung tercabik, kemudian
diikuti stadia perpanjangan (elongation). Cawan (volva) pada stadia ini terpisah dengan tudung
(pillueus) karena perpanjangan tangkai (stalk). Stadia terakhir adalah stadia dewasa tubuh buah.
Pada stadia kancing yang telah membesar akan terbentuk bilah. Bilah yang matang akan
memproduksi basidia dan Basidiospora, kemudian tudung membesar. Pada waktu itu, selubung
universal yang semula membungkus seluruh tubuh buah akan tercabik. Tudung akan terangkat

keatas karena memanjangnya batang, sedangkan selubung universal yang sobek akan tertinggal
di bawah dan disebut cawan. Tipe perkembangan tubuh buah seperti ini disebut tipe angiocarpic.
Pada tipe perkembangan yang lain, yaitu gymnocarpic, lapisan universal tidak terbentuk. Sisi
dari pembesaran tudung dihubungkan dengan batang oleh selubung dalam. Pada waktu bilah
membesar, selubung dalam tercabik dan melekat melingkari batang membentuk cincin atau
anulus. Sebagai organisme yang tidak berklorofil, jamur tidak dapat melakukan proses
fotosintetis seperti halnya tumbuh-tubuhan. Dengan demikian jamur tidak adapat memanfaatkan
langsung energi matahari. Jamur mendapat makanan dalam bentuk jadi seperti selulosa, glukosa,
lignin, protein dan senyawa pati. Bahan makanan ini tidak akan diurai dengan bantuan enzim
yang diproduksi oleh hifa menjadi tumbuh senyawa yang dapat diserap dan dignakan untuk
tumbuh dan berkembang. Semua jamur yang edibel (dapat dimakan) bersifat saprofit, yaitu hidup
dari senyawa organik yang telah mati.
Jamur merupakan golongan fungi yang membentuk tubuh buah yang berdaging. Tubuh buah ini
umumnya berbentuk payung dan mempunyai akar semu (rhizoid), tangkai, tudung serta
terkadang disertai cincin dan cawan volva.
Ordo Agaricales dapat tumbuh dan menyebar luas pada berbagai habitat. Berdasarkan habitat
tumbuh dibedakan berbagai jamur yang termasuk spesies tropis atau spesies sub tropis. Beberapa
spesies menunjukkan kekhususan dalam memilih habitat tumbuh, misalnya menyukai area yang
terbuka dan cukup cahaya. Sementara spesies yang lain menyukai habitat yang terlindung dan
berkayu. Dalam satu habitat juga ada spesies yang menunjukkan lebih menyukai media tumbuh
atau substrat tertentu seperti substrat berkayu, daun-daun mati atau kotoran binatang
(coprophilous).
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN FUNGI
Pada umumnya pertumbuhan fungi dipengaruhi oleh faktor substrat, kelembapan, suhu, derajat
keasaman substrat (pH), dan senyawa-senyawa kimia dilingkungannya (Ganjar, 2006).
a.

Substrat

Substrat merupakan sumber nutrien utama bagi fungi. Nutrien-nutrien baru dapat dimanfaatkan
sesudah fungi mengekskresi enzim-enzim ekstraseluler yang dapat mengurai senyawa-senyawa
kompleks dari substrat tersebut menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. Fungi yang

tidak dapat menghasilkan enzim sesuai komposisi subtrat dengan sendirinya tidak dapat
memanfaatkan nutrien-nutrien dalam substrat tersebut.
b.

Kelembapan

Faktor ini sangat penting untuk pertumbuhan fungi. Pada umumnya fungi tingkat rendah
sepertiRhizopus atau Mucor memerlukan lingkungan dengan kelembapan nisbi 90%, sedangkan
kapang Aspergillus, Penicillium, Fusarium, banyak Hyphomycetes lainnya dapat hidup pada
kelembapan nisbi yang lebih rendah, yaitu 80%. Dengan mengetahui sifat-sifat fungi ini
penyimpanan bahan pangan dan materi lainnya dapat mencegah kerusakannya.
c.

Suhu

Berdasarkan kisaran suhu lingkungan yang baik untuk pertumbuhan, fungi dapat dikelompokkan
sebagai fungi psikrofil, mesofil, dan termofil. Secara umum pertumbuhan untuk kebanyakan
fungi adalah sekitar 25 30 0C. Beberapa jenis fungi bersifat psikrotrofik yakni dapat tumbuh
baik pada suhu lemari es dan ada fungi yang masih bisa tumbuh secara lambat pada suhu
dibawah suhu pembekuan, misalnya -5 0C sampai -10 0C. Selain itu, ada jamur yang bersifat
termofilik yakni mampu tumbuh pada suhu tinggi.km Mengetahui kisaran suhu pertumbuhan
suatu fungi adalah sangat penting, terutama bila isolat-isolat tertentu atau termotoleran dapat
memberikan produk yang optimal meskipun terjadi peningkatan suhu, karena metabolisme
funginya.
d.

Derajat keasaman (pH)

pH substrat sangat penting untuk pertumbuhan fungi , karena enzim-enzim tertentu hanya akan
mengurai suatu substrat sesuai dengan aktivitasnya pada pH tertentu. Umumnya fungi
menyenangi pH dibawah 7,0. Namun beberapa jenis khamir tertentu bahkan dapat tumbuh pada
pH yang cukup rendah, yaitu pH 4,5 5,5.
e.

Senyawa kimia

Selama pertumbuhannya fungi menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak diperlukannya lagi


dan dikeluarkan ke lingkungan. Senyawa-senyawa tersebut merupakan suatu pengamanan bagi
dirinya terhadap serangan oleh organisme lain termasuk terhadap sesama mikroorganisme.
f.

Waluyo (2005) menambahkan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fungi adalah

komponen penghambat. Beberapa jamur mengeluarkan komponen yang dapat menghambat


pertumbuhan organisme lain. Pertumbuhan jamur biasanya berjalan lambat dibandingkan dengan

pertumbuhan bakteri. Tetapi bila sesekali jamur bisa tumbuh, dimana pertumbuhannya ditandai
dengan misellium maka pertumbuhannya akan berlangsung sengan cepat.
Fungi berkembang biak baik secara aseksual misalnya dengan cara pembelahan, pembentukan
kuncup atau pembentukan spora maupun secara seksual yaitu dengan peleburan dari dua sel
induk (Ristiati, 2000). Faktor lingkungan sangat menetukan struktur reproduksi apa yang akan
dibentuk fungi dan untuk tujuan apakah struktur reproduksi seksual atau struktur reproduksi
aseksual (Gandjar et al.,2006). Sampai sekarang diketahui bahwa banyak spesies fungi yang
hanya bereproduksi secara aseksual (fase anamorf). Akan tetapi perkembangan ilmu pengetahuan
berhasil menemukan fase seksual (fase teleomof) pada sejumlah fungi sebelumnya.

FUNGSI ANIBIOTIK
Amoxicillin adalah antibiotika yang termasuk ke dalam golongan penisilin. Obat lain yang
termasuk ke dalam golongan ini antara lain Ampicillin, Piperacillin, Ticarcillin, dan lain lain.
Karena berada dalam satu golongan maka semua obat tersebut mempunyai mekanisme kerja
yang mirip. Obat ini tidak membunuh bakteri secara langsung tetapi dengan cara mencegah
bakteri membentuk semacam lapisan yang melekat disekujur tubuhnya. Lapisan ini bagi bakteri
berfungsi sangat vital yaitu untuk melindungi bakteri dari perubahan lingkungan dan menjaga
agar tubuh bakteri tidak tercerai berai. Bakteri tidak akan mampu bertahan hidup tanpa adanya
lapisan ini. Amoxicillin sangat efektif untuk beberapa bakteri seperti H. influenzae, N.
gonorrhoea, E. coli, Pneumococci, Streptococci, dan beberapa straindari Staphylococci.
Antibiotik adalah zat yang dihasilkan organisme hidup yang dalam konsentrasi rendah dapat
menghambat atau membunuh organisme lainnya.

Antibiotik yang digunakan untuk membasmi mikroba, khususnya penyebab infeksi pada
manusia, harus memiliki sifat toksisitas (racun) selektif yang setinggi mungkin. Artinya,
antibiotik tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk
inang/hospes.

Jamur Penyebab Penyakit Pada Ikan


Jamur adalah mikroorganisme yang sering terlihat seperti benang yang tumbuh di bagian dalam
atau luar tubuh ikan. Ada beberapa organisme jamur yang sering menimbulkan penyakit pada
ikan mas dan nila, yaitu Saprolegnea sp. yang menyebabkan penyakit Saprolegniasis, Achlya sp.,
Branchiomyces sp. Tapi yang paling akut dan ditakuti adalah Saprolegnea sp. dan
Branchiomyces sp, sebab Saprolegnea sp. selain menyerang organisme dewasa juga menyerang
telur-telur ikan. Sedangkan Branchiomyces sp. dapat menyebabkan kematian masal pada ikan
budidaya.
Jamur Saprolegnea sp. menyerang ikan disebabkan adanya infeksi sekunder oleh organisme lain
misalnya bakteri atau copepoda. Selain adanya luka juga juga dikarenakan suhu air menurun
sehingga ikan stress. Pada ikan yang terinfeksi akan terlihat adanya sekumpulan hypa (benangbenang halus menyerupai kapas). Biasanya hypa ditemukan di bagian kepala, tutup insang dan
sekitar sirip. Ikan-ikan ini biasanya menjadi kurus karena daya makan menurun dan sering
menggosok-gosokan tubuhnya pada benda-benda lain.
Pengendalian jamur ini dapat dilakukan dengan merendam ikan terinfeksi ke dalam larutan
Malachite Green atau Methylene Blue 1 ppm selama 1 jam. Atau untuk pencegahan dengan
merendam telur-telur ikan ke dalam larutan malachite green 1 : 15000 selama 30 detik. Atau
menggunakan antiseptik Betadine sebanyak 1% dengan merendam telur-telur tersebut selama 10
menit.
Branchiomyces sp. merupakan jamur yang sangat berbahaya bagi ikan, terdiri dari 2 spesies
yaitu B. sanguinis terdapat di saluran darah insang dan B. demigrans ditemukan di luar saluran
darah dan sering menyebabkan nekrosis di sekitar jaringan. Penyakit yang ditimbulkannya
disebut Branchiomycosis atau busuk ikan yang sering diikuti kematian masal. Pengendalian
penyakit ini belum banyak diketahui. Hanya saja untuk pencegahan sebaiknya menjaga
kebersihan kolam atau penebaran kapur sebanyak 150 - 200 kg/ha.
Medium pertumbuhan fungi
Nutrien atau makanan merupaka substansi dengan berat molekul rendah dan mudah laurt dalam
air. nutrien ini berasal dari degradasi nutrien dengan molekul kompleks. Suatu larutan

mengandung nutrien disebut medium kultur. Medium merupakan substrat yang berperan
menyediakan nutrisi yang diperlukan spora untuk berkecambah. Nutrisi yang dubutuhkan adalah
karbohidrat sebagai sumber energi, protein sebagai penyusuntubuh, dan mineral sebagai zat yang
dapat menunjang pertumbuhan spora (Juliadiningsih, 2007). Fungi dapat mengambil nutrien dari
lingkungannya dalam bentuk larutan, sehingga fungi sering disebut jasad osmotrof (Ristiati,
2000).
Media biakan merupakan suatu zat yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di
laboratorium. Fungsi dari suatu media biakan adalah memberikan tempat dan kondisiyang
mendukung pertumbuhan dan perkembangbiakan dari mikroorganisme yang ditumbuhkan. PDA
(Potato Dextrosa Agar) merupakan salah satu media yang banyak digunakan untuk membiakkan
suatu mikroorganisme, baik berupa fungi, bakteri maupun sel makhluk hidup.
Pembuatan kultur murni jamur menggunakan media PDA (Potato Dextrosa Agar). PDA terbuat
dari kentang, dextrosa dan agar dimana setiap komponen mengandung suatu zat tertentu yang
mampu menunjang pertumbuhan jamur, antara lain: (1) kentang (Potato) yang merupakan
sumber karbohidrat yang mengandung vitamin, dan mineral yang cukup tinggi. Fungsi kentang
dalam penyusunan PDA adalah mensuplai karbohidrat yang sangat diperlukan oleh jamur dalam
pertumbuhannya, (2) dekstrosa merupakan penyusun PDA yang sangat mempengaruhi
pertumbuhan jamur. Dekstrosa merupakan gugusan gula, baik monosakarida maupun
polisakarida. Dekstrosa umumnya menyediakan karbohidrat sebagai sumber energi dan unsurunsur N, Na, Ca, dan K yang berperan sebagai kofaktor enzim dalam pertumbuhan spora jamur
(Girindra, 1993),(3) agar yang diperoleh dari tumbuhan berumbi yang menghasilkan glukosa.
Agar merupakan polimer sulfat yang sebagian besar terdiri atas D-galactosa, 3,6-anhidro-Lgalactosa, dan asam D-glukoronik (Prescott, et al., 2003). Fungsi dari agar adalah untuk
mengentalkan media sehingga mempermudah dalam menumbuhkan dan mengisolasi jamur
mikroskopis dan bagian-bagian jamur yang lainnya.
SPREAD , SYREAK

Metode Cawan Gores (Streak Plate)


Prinsip metode ini yaitu mendapatkan koloni yang benar-benar terpisah dari koloni yang lain,
sehingga mempermudah proses isolasi. Cara ini dilakukan dengan membagi 3-4 cawan petri.
Ose steril yang telah disiapkan diletakkan pada sumber isolat , kemudian menggoreskan ose
tersebut pada cawan petri berisi media steril. Goresan dapat dilakukan 3-4 kali membentuk
garis horisontal disatu cawan. Ose disterilkan lagi dengan api bunsen. Setelah kering, ose

tersebut digunakan untuk menggores goresan sebelumnya pada sisi cawan ke dua. Langkah ini
dilanjutkan hingga keempat sisi cawan tergores.

Teknik ini lebih menguntungkan jika ditinjau dari sudut ekonomi dan waktu, tetapi
memerlukan ketrampilan-ketrampilan yang diperoleh dengan latihan.

Penggoresan yang sempurna akan menghasilkan koloni yang terpisah.

Inokulum digoreskan di permukaan media agar nutrien dalam cawaan petri dengan jarum
pindah (lup inokulasi).

Di antara garis-garis goresan akan terdapat sel-sel yang cukup terpisah sehingga dapat
tumbuh menjadi koloni

Cara penggarisan dilakukan pada medium pembiakan padat bentuk lempeng.

Bila dilakukan dengan baik teknik inilah yang paling praktis.

Dalam pengerjaannya terkadang berbeda pada masing-masing laboratorium tapi


tujuannya sama yaiitu untuk membuat goresan sebanyak mungkin pada lempeng medium
pembiakan

Metode Cawan Sebar (Spread Plate)


Teknik spread plate (cawan sebar) adalah suatu teknik di dalam menumbuhkan mikroorganisme
di dalam media agar dengan cara menuangkan stok kultur bakteri atau menghapuskannya di
atas media agar yang telah memadat, sedangkan pour plate kultur dicampurkan ketika media
masih cair (belom memadat). Kelebihan teknik ini adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat
tersebar merata pada bagian permukaan agar.

Teknik spread plate (cawan sebar) adalah suatu teknik di dalam menumbuhkan mikroorganisme di
dalam media agar dengan cara menuangkan stok kultur bakteri atau menghapuskannya di atas media
agar yang telah memadat

Dan perlu perhatian pour plate kultur dicampurkan ketika media masih cair (belom memadat).

Kelebihan teknik ini adalah mikroorganisme yang tumbuh dapat tersebar merata pada bagian
permukaan agar.